MY LIVE WITH YOU
Kehidupan Hinata, Naruto dan buah hati mereka. Asam manis cinta, dan rasa kekeluargaan yang mereka bertiga rasakan.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem
Rated T plus (buat jaga-jaga)
Genre : Romance, Family
Pair : NaruHina :D
Warning : Typo, OOC, OC, plus rada-rada gaje hihi~
.
.
.
.
Chapter 9 : Advice From Mother~
Manik Lavender Hinata menatap sebuah layar kecil di sampingnya, bibirnya tersungging lembut. Tangan wanita itu menyentuh perlahan perutnya yang terlihat masih datar. Sungguh hari ini membuat dirinya tidak bisa berhenti tersenyum,
"Anda lihat sendiri, karena kondisi kehamilan Hinata-san masih berjalan dua minggu. Jadi belum memperlihatkan tanda-tanda yang spesifik." Ucap seorang dokter berambut perak, Kabuto Yakushi.
"Oh! Lihat Hinata, biarpun kita belum bisa melihatnya dengan jelas, aku yakin sekali kalau anak kita pasti sehat dan ceria!" seru seorang laki-laki berambut pirang, matanya berbinar-binar, tangannya mengepal dengan semangat dan tak lupa sebuah cengiran rubah yang semakin mengembang di wajah tampannya.
Sedangkan Hinata mengangguk setuju, "Un, anak kita pasti akan ceria dan aktif seperti Hana dan Naruto-kun~" ujarnya senang.
Mendengar perkataan istrinya membuatnya tersentuh, tidak ingatkah wanita cantik ini kalau bayi dalam kandungan itu akan menjadi anaknya juga kelak? Naruto perlahan menghampiri Hinata yang masih terbaring di tempat pemeriksaan.
Sret, mengusap lembut puncak kepala istri cantiknya itu, serta mengecup keningnya, "Jangan lupa kalau dia perempuan, pasti akan secantik dan semanis dirimu Hinata~"
"E..eh?" tak ayal semburat merah muncul di kedua pipi Hinata, wanita itu tertunduk malu. Sampai akhirya mengangguk pelan. Menatap manik Saphire Naruto,
"Ya, dan kalau laki-laki, pasti tampan sepertimu Naruto-kun~" ucapnya kembali.
Perlahan tapi pasti, tangan Naruto perlahan turun, mengelus perut Hinata lembut. Dan segera menempelkan telinganya tepat di sana.
"Hai, putri atau pun putraku yang cantik dan tampan, Kau tahu seberapa senangnya Tousan saat tahu kalau Kaasanmu ini mengandung? Senang sekali, sampai-sampai Tousan tidak tahu harus berkata apa, biarpun saat ini kau masih belum mendengar perkataanku. Tapi tenang saja Tousan pasti akan menunggu sampai saat kau datang ke dunia dan menjadi keluarga kami. Jadi sehat-sehatlah di sana, jangan merepotkan Kaasanmu, oke~" bisiknya. Entah kenapa perkataan Naruto membuat Hinata tersentuh dan tak ayal setetes air mata jatuh di maniknya.
Wanita itu berusaha keras untuk menghapus air matanya tapi tidak bisa, lambat laun saat Naruto mengadah menatap istrinya tentu saja ia melihat jelas pipi Hinata yang basah. "Hi..Hinata kenapa menangis? Kau sakit? Dimana? Beritahu aku?!" seru Naruto sedikit panik. Sedangkan Hinata hanya menggeleng kecil.
"Bu..bukan Naruto-kun, aku hanya terharu saja. Tahu-tahu air mataku sampai turun~" ujarnya cepat.
"…"
"Benarkah? Kau yakin tidak ada yang sakit?" tanya Naruto kembali,
"Un, daijobu~"
Kabuto yang melihat sikap panik Naruto tertawa geli, terlihat sekali kalau sikap laki-laki pirang ini overprotektif pada istrinya. Wajar saja, dengan pelan ia menepuk pundak Naruto, berusaha menenangkannya.
"Tenanglah, Naruto-san, kondisi emosi Hinata-san memang tidak stabil kalau tengah mengandung. Jadi anda harus mempersiapkan diri dan sabar kalau-kalau nanti Hinata-san marah, senang, ataupun sedih tiba-tiba. Usahakan anda juga menuruti apapun permintaan Hinata-san, jangan biarkan dia terlalu lelah ataupun stress karena memikirkan banyak hal." Jelas Kabuto panjang lebar.
Mendengar perkataan dokter berambut perak di sampingnya, membuat Naruto ingat kembali saat-saat Hinata mengandung Hana. Kondisinya persis seperti sekarang ini. Dia jadi sedikit tenang.
"Osh, Arigatou Kabuto-san!"
"Nah, kalau begitu saya akan memberikan beberapa resep obat. Pastikan Hinata-san meminum semuanya, perbanyak isthirahat dan makan sayur-sayur, buah-buahan dan kalau bisa minum susu berkalsium." Laki-laki perak itu berjalan menuju mejanya, mengambil sebuah kertas menuliskan resep dan segera memberikannya pada Naruto.
Hinata mengusap air matanya, dan tersenyum kecil pada Kabuto, "A..arigatou Kabuto-san,"
"Ha'i, karena pemeriksaannya sudah selesai. Jadi anda bisa pulang dan beristhirahat di rumah." Ujar laki-laki itu lagi.
"Aa, ayo Hinata. Aku tidak sabar ingin memberikan kejutan pada putri kecil kita~" ucap Naruto, hendak mengamit dan membantu Hinata bangun dari tempat pemeriksaan. Tapi..
"Naruto-kun," panggilan Hinata menghentikan gerakannya.
"Ya?"
Dan entah kenapa, kedua tangan Hinata kini sudah terjulur padanya. Manik Lavender gadis itu terlihat membulat dan wajahnya terlihat memelas.
"Kenapa? Kau sakit?" tanyanya cepat.
Untuk yang kesekian kalinya Hinata menggeleng pelan, "Un, aku hanya ingin Naruto-kun menggendongku saja~" ucap wanita cantik itu polos.
"…." Beberapa detik ia terdiam.
"Gendong?" ulang Naruto ragu.
"Iya, supaya kita bisa cepat ke rumah Kaasan~" jawab Hinata cepat.
"…." Sebuah senyuman kecil kembali mengembang di wajah tan Naruto, yah sikap manja istrinya yang sudah lama tak ia lihat. Sekarang keluar lagi, dirinya malah senang~
Dan tanpa basa-basi lagi, "Yosh, dengan senang hati istriku yang cantik~" langsung saja Naruto mengangkat tubuh mungil Hinata ke dalam pelukannya. Menggendong istrinya dengan gaya bridal style, sedangkan Hinata hanya mengangguk senang dan merapatkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Menghirup aroma jeruk yang menguar dari sana. Benar-benar membuatnya tenang.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Kabuto-san. Arigatou sudah selalu membantu kami~" ucap Naruto terakhir kalinya. Yang di jawab senyuman kecil dokter perak itu.
"Senang bisa membantu Naruto-san, Hinata-san."
"Aaa~"
Kedua pasangan itu segera keluar dari ruangan, dengan acara gendong menggendong, membuat keduanya langsung menjadi pusat perhatian di sana. Sebagai pasangan yang romantis tentu saja~
.
.
.
.
.
Bibir Hinata tersenyum kecil saat melihat kalau jarak mobil mereka sudah hampir dekat, dia juga tidak ingin merepotkan Naruto. Jadi langsung saja, "Nee, Naruto-kun, mobilnya sudah dekat. Kau bisa menurunkanku~" ucapnya membuat Naruto mengernyit bingung, kerutan di alisnya memperlihatkan bagaimana laki-laki itu tidak mau menurunkan Hinata.
"Tapi, tinggal sedikit lagi Hinata."
"Un, tidak apa-apa, aku juga ingin berjalan sebentar." Tatapan membulat segera Hinata hadiahkan pada laki-laki yang menggendongnya itu. Sampai..
"Hah~ baiklah, hati-hati," saat menurunkan Hinata dari gendongannya, terlihat sekali genggaman tangan Naruto masih setia memegang lengan istrinya. Hinata hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah protektif suaminya ini.
"Ha'i, Ha'i Naruto-kun, aku sudah pernah seperti ini sebelumnya bukan. Daijobu~" ujarnya pelan. Perlahan berjalan memasuki mobil, setelah Naruto menghela napas dan membukakan pintu baginya.
"Biarpun begitu, kalau nanti ada batu di depanmu dan tersandung bagaimana? Kandunganmu masih lemah Hinata." Jelas laki-laki pirang itu cepat,
Hah~ Naruto kau berlebihan, padahal Hinata hanya ingin turun dari gendongannya saja. Dan jarak antara mobil dan posisi mereka kan tidak terlalu jauh.
Dan seolah tidak menghiraukan ucapan yang terus dikatakan Naruto berulang kali. Wanita itu menghela napas pelan, menepuk pipi suaminya itu lembut, "Ayo, Hana pasti sudah menunggu di rumah Kaasan." Ujarnya sebelum masuk sepenuhnya ke dalam mobil, tersenyum penuh arti pada laki-laki yang masih membeku di luar sana.
"….."
"Hah~ baik, baik," ujar Naruto seraya ikut masuk dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Melaju pergi dari tempat itu.
[OoOoOoOoOooOoOoOoO]
Tak butuh waktu lama buat mereka untuk sampai di rumah keluarga Naruto, laki-laki pirang itu memang sengaja mengambil hari libur sekarang, mengingat betapa tidak sabarnya ia ingin melihat bagaimana kondisi kandungan istrinya. Meski sebenarnya Hinata sudah melarang Naruto, dan mengajak untuk pemeriksaan saat hari libur saja. Tapi setelah mengatakan itu, raut cemberut segera keluar dari wajah suaminya. Yah, Naruto merajuk.
Dia kalah telak.
"Naruto-kun, apa benar tidak apa-apa kau mengambil libur hari ini?" tanya Hinata ragu, saat keduanya hendak keluar dari mobil.
Melihat raut wajah Hinata mau tak mau Naruto akui kalau wanita di depannya ini memiliki wajah termanis yang pernah ia lihat. "Tidak apa-apa, lagipula Kyuu-nii yang membantu pekerjaanku. Shion juga mengambil hari libur hari ini karena mengajak Kaede dan Aki jalan-jalan," Jawabnya cepat. Mengeluarkan cengiran rubahnya, dan tiba-tiba saja mendekati Hinata. Menarik wajah mungil istrinya, kemudian tanpa basa-basi lagi.
Cup, bibirnya meraup benda kenyal milik Hinata, lembut dan manis. Benar-benar membuatnya ketagihan, ciuman selamat pagi untuk hari ini. Sedangkan Hinata, wanita itu tersentak kaget, wajahnya yang tadi terlihat murung, perlahan memerah kembali,
"Jadi tenang saja~" ujarnya dan kembali melancarkan ciumannya.
"Na..Naruto, hmmph-" belum sempat ia memprotes suaminya, tangan tan Naruto langsung saja menarik lembut pinggang rampingnya. Membuat Hinata mau tak mau harus tertarik ke arah laki-laki itu dan…
Puk, terduduk di pangkuan Naruto, entah seberapa besar kekuatan yang di miliki suaminya, sampai-sampai bisa membuatnya terangkat dan kembali menenggelamkan bibirnya dalam raupan ciuman. Tangan Hinata yang masih bebas segera memukul pelan dada bidang Naruto,
"Naru..awas nanti..hmmph-" tak berhasil tentu saja.
Sepertinya suaminya ini terlalu larut dalam kegiatannya, sampai-sampai ia tak sadar kalau sekarang tangan tannya menyusup perlahan pada rambut indigo istrinya membuat ikatan yang tadi mengikat rambut Hinata tergerai, dan pelan-pelan menyembunyikan wajah keduanya.
"Naruto-kun, sudah,"
Saat kedua pasokan oksigen mereka hampir habis, dengan sedikit enggan Naruto melepaskan ciumannya. Hinata menghela napas lega karenanya,
Laki-laki pirang itu menatapnya intens, "Jangan pernah berwajah seperti itu, kalau tidak ingin kumakan~" bisiknya pelan.
Sukses membuat Hinata terkejut sekaligus mengangguk cepat, "I..iya, Na..Naruto-kun,"
"Hm?"
"Le..lepaskan pelukanmu, i..itu..aku tidak enak dengan posisi seperti ini," ucap Hinata gugup, kepalanya menunduk malu.
Sedangkan Naruto yang baru sadar, segera melihat posisi mereka. Astaga, tangan tannya melingkar di pinggang Hinata, tangan yang satunya menyentuh rambut istrinya dan yang lebih mengagetkan sejak kapan dirinya mengangkat wanita ini sampai ke pangkuannya.
"Hoo~" bukannya terkejut atau segera memperbaiki posisinya.
"Ja..jadi Naruto-kun, bisakah…kyaa!" tubuhnya Hinata kembal tertarik, keningnya kini saling menyentuh dengan kening Naruto. Hembusan napas suaminya ini menerpa wajahnya, manik Saphirenya seolah-olah menyedot perhatiannya, membuat wanita itu terdiam.
"Tidak apa-apa kan~" perlahan kening Naruto menjauh, dan tanpa aba-aba bibir laki-laki itu mencium atau mungkin menjilat lembut cuping telinga Hinata.
"Kyaa, Naruto-kun, ja..jangan hyaa~" tak tahu harus berkata apa, lenguhan geli terdengar dari bibir Hinata. Wanita itu bergerak tak nyaman. Berusaha melepaskan ciuman iseng suaminya ini.
"Baik, baik~" sepertinya perkataan dan perbuatan Naruto berbanding terbalik, buktinya lidah laki-laki pirang itu semakin gencar menjilat cuping Hinata, sampai berjalan turun mencium leher jenjang wanita cantik di pangkuannya.
'Menyenangkan sekali~' batinnya, dan kalau saja tidak ada yang mengganggunya saat ini bisa saja dia melakukan hal-hal lebih di sini sekarang juga. Menutup semua tirai yang terpasang di kaca. Dan yah, selanjutnya bisa kalian bayangkan sendiri~
Tapi sepertinya..
"…"
Merasa tidak tahan dan masa depan janinnya terancam (?) langsung saja dengan kekuatan wanita hamil!
Buaghh! Satu pukulan sukses Hinata tujukan pada perut Naruto, membuat laki-laki pirang yang masih gencar menciumnya itu terdorong ke belakang, dan menatap Hinata kaget.
"Bukannya sudah kubilang jangan sekarang, Naruto-kun Baka! Nanti bagaimana kalau terjadi apa-apa sama anak kita!" serunya keras. Bibirnya kini sudah memanyun kesal,
"Anak?" dan seakan tersadar kembali.
"Argg! Aku lupa! Gomen, gomen, gomen, junior! Tousan lupa kalau ada kau di dalam sini!" tangan tan Naruto segera mengelus pelan perut Hinata, mengucapkan kata maaf berkali-kali. Dan entah kenapa ia memanggilnya dengan junior, padahal kan mereka belum tahu bayi itu perempuan atau laki-laki.
"…"
Melihat sikap Naruto, membuat kemarahan yang tadi menyerangnya perlahan-lahan memudar. Lengkungan tipis di bibirnya pun terlihat, dan pukulan yang ingin ia lancarkan pada suaminya itu sepertinya harus di tunda dulu.
Hinata sedikit maklum karena beberapa hari ini, sejak pesta pemberitahuan kehamilan Hinata waktu itu. Naruto memang sengaja menahan dirinya untuk tidak menyentuh ataupun melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan. Takut kalau terjadi apa-apa,
'Hah~' Hinata mendesah dalam hati, dan dengan pelan mengangkat tangannya, menarik lembut kepala Naruto. Menenggelamkan wajah laki-laki pirang itu di dalam dadanya.
"Hinata?" Naruto tentu saja kaget dengan perbuatan istrinya.
"Ha'i, Ha'i kalau nanti anak kita sudah lahir. Aku tidak akan marah kalau Naruto-kun melakukan hal tadi, jadi bersabarlah~" ucapnya lembut, menepuk rambut pirang Naruto. Dan memeluk laki-laki itu erat,
"Benar, walaupun di tempat seperti ini?"
Oke, Hinata merasa sedikit salah sudah berjanji seperti itu. Apa maksudnya di tempat seperti ini?
"E..eng…Ya..ya," jawabnya gugup.
"Kau jangan marah ya?"
"Ya..ya,"
Merasa senang dengan ucapan Hinata, tak segan-segan lagi Naruto mempererat pelukannya menyelipkan lengannya pada pinggang ramping istrinya sekali lagi.
"Yosh!"
"…."
"…." Keduanya sepertinya tidak sadar berada di mana sekarang, saat..
Tok, tok, tok, suara ketukan dari jendela menginterupsi kegiatan mereka. Membuat keduanya sontak menoleh ke sumber suara itu bersamaan. Sampai akhirnya,
Seorang wanita berambut merah panjang kini tengah menunduk pelan, melambai-lambai dari luar sana dengan senyum lebar di wajahnya. Dan tak lupa membawa seorang gadis kecil bersamanya,
"Ohayo, Naruto-kun, Hinata-chan, senang bisa melihat kalian semesra ini pagi-pagi~" ujar Kushina, meski di dalam mobil suaranya tidak terdengar jelas, tapi yang pasti kemunculan wanita cantik itu membuat baik Hinata dan Naruto..
"….."
"Kyaa! Kaasan!"
"Hoaa! Kaasan, sejak kapan di sana!" mereka berteriak kompak, Hinata yang berusaha menjauh dari pangkuan Naruto, merapikan kembali rambutnya yang berantakan. Dan Naruto yang merapikan jasnya dan berdeham menyembunyikan semburat di wajahnya.
Yap, pertama kalinya wanita cantik itu menangkap basah mereka, di tambah menggendong Hana bersamanya. Naruto benar-benar berharap kalau Hana tidak melihat sikap mereka tadi,
"…"
Ckleck, pintu mobil terbuka perlahan, Hinata keluar dari sana dengan wajah menunduk menahan malu, sedangkan Naruto yang tersenyum garing seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dan tak lupa,
"E..e sejak kapan Kaasan ada di luar sana?" tanya laki-laki pirang itu gugup.
"Oh,"
Seolah menunggu jawaban Kaasannya,
"Tenang saja Kaasan baru di sini saat kau menarik Hinata ke dalam pangkuanmu. Kaasan juga sudah berusaha menutup mata Hana-chan~" jawab Kushina entah polos atau tidak, tapi yang pasti..
"….."
Naruto dan Hinata yang mendengar itu,
'Itu artinya,'
'Kaasan melihat semuanya dari awal kan.' Batin keduanya, sweatdrop.
.
.
.
.
.
Melihat kalau Hinata dan Naruto tidak melakukan hal-hal yang bisa menodai cucu perempuan manisnya lagi. Dengan pelan ia melepaskan satu tangannya yang sejak tadi masih setia menutup manik Hana. Untung saja cucu manisnya ini tidak rewel dan merengek, jadi dia bisa tenang.
Cengiran jahil segera ia hadiahkan pada pasangan malu-malu di depannya sekarang, "Kalian sudah selesai kan? Atau mau lanjut lagi, di dalam kamar misalnya?" ujarnya iseng, sukses membuat Naruto dan Hinata kompak berblushing ria.
"Eh! Ka..Kaasan, su..sudahlah, jangan mengungkit hal tadi. Anggap saja Kaasan tidak melihat apa-apa!" Naruto berseru panik, keringat dingin sudah mengucur dari keningnya.
Sedangkan Hinata hanya bisa meringis pelan, dan segera melihat putrinya, syukurlah tadi Kaasannya ini menutup manik Hana, jadi dia tidak perlu khawatir pikiran polos putrinya tercemari (?) Ya, Ia memang agak takut kalau-kalau Hana melihat sikap mereka yang tergolong mainstream tadi, pertanyaan-pertanyaan aneh akan keluar dari bibir mungil putrinya.
"Tadi Kaachan sama Touchan cedang ngapain cih?"
"Itu cium-cium di dalam mobil, Hana juga mau!"
Atau yang lebih parahnya lagi, "Ajarin Hana cupaya bica cepelti Kaachan dan Touchan, cium-cium, telus Kaachan duduk di pangkuan Touchan, kyahaha!"
Hinata bisa berteriak histeris kalau mendengar pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari bibir Hana!
"E..e, ba..bagaimana Hana dengan Baasan??" Ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan, menunduk pelan agar bisa sejajar dengan putrinya. Hana yang melihat Kaasannya tanpa aba-aba lagi, tangan mungilnya segera terjulur ke arah wanita cantik di depannya.
"Kenapa Kaachan dan Touchan lama cekali? Untung caja ada Kuchina-baachan jadi Hana tidak bocan~" gadis kecil itu merengek kecil, masih tetap meminta gendongan dari Kaasannya.
"Gomenne tadi Kaasan ada sedikit urusan penting, tapi nanti Kaasan akan memberikan kejutan pada Hana. Jadi jangan cemberut lagi, sayang~" Hinata segera menggendong tubuh Hana dari pelukan Kushina, menjawil pelan hidung putrinya.
"Huaaah, kejutan?! Apa, apa Kaachan?!" binar-binar mulai terlihat di manik Lavender Hana, tangan mungil gadis itu yang menarik pelan baju Hinata terus menerus.
Plok, sebuah tepukan lembut menyentuh puncak kepala Hana, membuatnya mengadahkan wajah sekilas. "Touchan,"
Ia melihat jelas cengiran rubah Tousannya, "Bukan kejutan namanya kalau Kaasan dan Tousan memberitahumu sekarang~" ujar Naruto pelan, memang sejak dirinya tahu tentang kehamilan Hinata, mereka semua termasuk keluarga serta teman-temannya belum memberitahu gadis kecil ini.
"Mou~ Kaachan dan Touchan cama caja! Kaci tahu Hana~" Hana kembali merengek, kedua pasangan itu sukses kelabakan melihat sikap manja putri mereka.
Kushina tersenyum geli melihat keluarga kecil di depannya tampak bahagia, syukurlah putranya itu memilih wanita yang tepat. Untuk sekali ini saja ia ingin membantu kedua pasangan itu, sekaligus memberitahu bagaimana cara menghadapi gadis kecil yang manja seperti Hana~
"Ara, ara, Hana-chan, tadi lupa ya kalau Baasan membuat kue di rumah, ayo kita lihat sekarang~" wanita merah itu menghampiri Hinata dan Naruto, menepuk puncak kepala Hana.
"Ohh! Iya, hampil caja Hana lupa, kuenya pasti cudah matang!" tanpa aba-aba lagi Hana segera turun dari gendongan Hinata, Ia berlari kecil masuk ke dalam rumah sambil tak lupa menarik tangan Baasannya.
"Ayo, Baachan, nanti kuenya kebulu gocong!" serunya senang, cemberut serta rengekannya sudah menghilang entah kemana.
"Ha'i, Ha'i, Naruto-kun, Hinata-chan juga masuklah~" ujar Kushina seraya mengedipkan sebelah matanya sekilas.
Membuat perasaan lega menjalari kedua pasangan di sana, "Hah~ Arigatou Kaasan~" desah keduanya bersamaan.
[OoOoOoOoOoOoOoOoOoO]
Tidak ingin berlama-lama lagi, Hinata dan Naruto juga segera masuk ke dalam rumah, dan saat pintu terbuka, aroma kue buatan Kushina langsung menguar.
"Aku yakin kue buatan Kaasan pasti enak," ujar Hinata, Ia tersenyum kecil menatap suami di sampingnya.
"Hm, tentu saja. Sekarang lebih baik, kita segera ke ruang tamu. Tidak baik membiarkanmu berdiri terus menerus." Tutur Naruto cepat, menggenggam tangan Hinata, dan berjalan menuju ruang tamu. Sebelum Hinata sendiri sempat memprotes laki-laki pirang itu. Dia kan ingin melihat keadaan di dapur.
"Tapi Naruto-kun, aku ingin membantu Kaasan di da-" perkataannya terhenti seketika saat melihat Naruto berbalik dan menatapnya dengan pandangan memohon. Ah~ dia tidak bisa menolak pandangan itu.
"Ba..baik, baik," mendengar jawaban Hinata, senyum kemenangan langsung terpampang di wajah Naruto dengan cepat. Taktiknya memang jitu!
"Nah, kalau seperti itu kan aku tidak perlu khawatir," ucapnya senang.
Hah, sepertinya Hinata harus merasakan sikap hyper protektif suaminya ini sekali lagi, yang pertama tentu saja saat mengandung Hana. Tapi untunglah tidak berlebihan seperti dulu, jangankan pergi kemana-mana, jalan sendiri pun dia tidak boleh. Memasak atau membersihkan sesuatu juga dilarang, terlalu bukan?
Ia benar-benar berharap di masa kehamilan keduanya ini, sikap Naruto tidak berlebihan seperti dulu. Ya, dia benar-benar mengharapkan seperti itu.
[OoOoOoOOoOoOoOoO]
Ruang Tamu~
"Nah, sekarang kau duduk yang manis di sini, menonton tv saja. Aku akan menyusul Kaasan." Ucap Naruto, tangannya mengelus puncak kepala istrinya yang terlihat sedikit cemberut karena tidak di perbolehkan berjalan kemana-mana.
Ia menghela napas pelan, "Hinata, kau masih mengingat perkataanku di mobil tadi kan~" dan mendengar perkataan Naruto, tubuh Hinata seketika menegang.
"Jangan pernah berwajah seperti itu, kalau tidak ingin kumakan~"
"Ah! I..iya, iya aku paham Naruto-kun, sudah sana susul Kaasan ke dapur!" tangannya segera mendorong punggung Naruto menjauh dari sana. Wajah wanita itu sudah memerah lagi,
"Oh, ternyata masih ingat rupanya~" goda Naruto, masih tidak mau pergi dari sana. Membuat Hinata semakin malu, bercampur kesal.
"Mou! Na..Naruto-kun, aku kan sudah mau diam di sini!" gerutu Hinata cepat. Senyuman kecil tercipta di wajah tan Naruto, menggoda istrinya ini memang menyenangkan.
"Ha'i, Ha'i~" sampai akhirnya ia berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Hinata yang masih memanas di sana.
.
.
.
.
.
Naruto melangkahkan kakinya ke arah dapur, dapat ia dengar suara kikikan kecil dari putrinya.
"Kyahaha, lihat Baachan, kuenya enak cekali, Kaachan cama Touchan pasti cenang!" seru gadis kecil itu riang.
Dan saat sampai di sana, senyuman mengembang di wajah Naruto. Melihat Hana yang berjalan pelan-pelan sambil membawa piring berisikan kue-kue, binar-binar yang keluar dari manik putrinya membuatnya berjalan menghampiri gadis kecil itu.
"Wuah, jangan-jangan Hana yang buat kue ini ya?" tanyanya pada Hana,
Hana menoleh menatap Tousannya, dengan senyuman lebar khas Uzumaki, gadis itu mengangguk semangat. "Ya! Cekalang aku ingin bawa kuenya ke luang tamu, Touchan juga ayo ke cana!" serunya kecil,
"Tousan nanti saja ya, sekarang pasti Kaasan sudah menunggu di ruang tamu. Jadi Hana ke sana dulu, oke~" ucap Naruto pelan. Alis mungil Hana sedikit mengernyit bingung, tapi sepertinya gadis itu tidak terlalu memikirkannya sampai akhirnya ia mengangguk.
"Ohh, Oke, jangan lama-lama Touchan!" gadis kecil itu segera berlari pelan ke ruang tamu, menjaga agar kuenya tidak jatuh.
[….]
Sekarang tinggal Kushina dan Naruto yang berada di dapur, Kushina yang tengah sibuk membuat teh hangat, dan Naruto yang duduk di kursi, mengetuk-ngetukan jemarinya di meja makan.
"Kaasan, Arigatou, tadi sudah mengalihkan perhatian Hana~" Naruto memulai pembicaraan, sedangkan wanita merah yang mendengar itu tersenyum lembut.
"Aa, Kaasan hanya tidak ingin Hana terserang penyakit isengmu itu." Jawabnya cepat.
Naruto sweatdrop sesaat, "Ya, dan sepertinya ada yang lupa siapa orang yang mengajariku seperti itu, sampai-sampai jadi kebiasaan sampai sekarang~" ujar laki-laki itu setengah geli.
Sukses, membuat Kushina terkejut, berbalik menatap putranya. Dan segera mengeluarkan cengiran rubahnya, "Siapa ya?"
"Tentu saja Kaasan sendiri, bukan hanya padaku. Kaasan juga mengajari Kyuu-nii, dan lihatlah sekarang. Seberapa sering Niisan menjahili Shion~"
"Ahaha, baik, baik Kaasan mengaku. Mana mungkin Tousanmu yang mengajari iseng pada kalian berdua." Ucap Kushina diikuti gelak tawanya pelan.
Wanita merah itu perlahan menghampiri putranya, setelah selesai berkutat dengan kegiatannya tadi. Ikut duduk di samping Naruto. Memberikan secangkir teh hangat padanya.
"Jadi, bagaimana keadaan Hinata?" tanyanya mencari topik baru.
Naruto mendesah pelan, "Usia kandungannya baru berjalan dua minggu, jadi belum ada tanda-tanda yang berarti. Aku juga belum bisa memastikan janinnya perempuan atau laki-laki. Tapi syukurlah Hinata sehat-sehat saja," jelasnya.
Kushina tersenyum kecil, "Memangnya kau ingin perempuan atau laki-laki?" tanya wanita itu.
Mendengar pertanyaan Kaasannya, tanpa sadar Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal. "Yah, aku inginnya sih laki-laki supaya nanti kalau dia sudah besar bisa melindungi kakaknya dan Hinata kalau-kalau nanti aku tidak ada di rumah. Tapi semua terserah pada Kami-sama saja, perempuan atau laki-laki tidaklah penting, yang terpenting itu dia bisa lahir dengan sehat dan ceria seperti Hana~" jawab Naruto mantap. Matanya menatap teh hangat dalam cangkir di depannya.
"…." Sedangkan Kushina tertegun mendengar jawaban putranya itu. Laki-laki yang dulu selalu rewel dan selalu iseng ini sekarang sudah dewasa, jalan pikirannya pun sudah berubah. Dulu ia yakin sekali, kalau menanyakan hal ini saat Naruto masih remaja. Jawaban laki-laki itu pasti tidak lain dan tidak bukan,
"Hoo! Tentu saja aku ingin anak laki-laki, supaya bisa kuat dan tampan sepertiku, Kaasan! Aku bisa mengajarinya apapun yang kubisa padanya! Ahaha!"
Dan sekarang, semuanya sudah berubah. Perasaan bangga menjalari hatinya, Ia tidak bisa berhenti tersenyum, tangannya yang sejak tadi berada di atas meja langsung saja tanpa aba-aba,
Sret, "Ahahaa, putraku yang dulu manja sekarang sudah dewasa seperti ini! Kaasan bangga padamu!" seru Kushina, seraya mengacak-acak rambut pirang Naruto. Membuat laki-laki pirang itu mengerucutkan bibirnya.
"Ka..Kaasan, jangan mengacak rambutku!" serunya kecil,
"Hoo, kau marah pada Kaasan, aah~ Kaasan jadi sedih~" manik Kushina sedikit meredup, tangannya yang tadi mengacak rambut Naruto perlahan turun.
Naruto yang melihat sikap aneh Kaasannya langsung kelabakan, "Ah! Ka..Kaasan jangan cemberut seperti itu. Gomen! Baik, baik, silakan acak saja rambutku sesuka Kaasan, sampai lepas juga tidak apa-apa, jadi jangan sedih dulu!" serunya panik, menurunkan kepalanya, seolah-olah memberikan akses untuk wanita merah itu mengacak rambutnya lebih leluasa.
"…" tidak ada suara dari Kushina, membuat Naruto bertambah panik. "Kaasan, Gomenne~"
Sampai sedetik kemudian, "Hmmph, Ahaha~ Kaasan hanya bercanda kok," suara gelak tawa Kushina terdengar kembali, wanita merah itu menepuk puncak kepala putranya.
"…."
"Ah! Kaasan, jangan membuatku jantungan!"
"Ahaha, Gomen, gomen ternyata kau memang mudah sekali Kaasan jahili~" kikik Kushina, mengusap air mata yang membendung di pelupuknya karena terlalu banya tertawa.
Helaan napas keluar dari bibir Naruto, laki-laki itu lega kalau ternyata Kaasannya ini hanya bercanda. Benar-benar tidak baik buat jantung,
"Pokoknya, apapun yang terjadi. Kau harus menjaga Hinata-chan, mengerti~" ujar wanita itu kembali, menepuk pundak Naruto.
"Aa, tentu saja Kaasan!"
"Dan satu hal lagi Naruto," perlahan ia membenarkan posisi duduknya, sedikit memperlihatkan raut serius pada putra di sampingnya itu.
"Ya?" Naruto ikut heran.
"Kaasan masih ingat sikapmu yang selalu menjaga sesuatu dengan berlebihan sejak kecil. Ingat, sifat protektif juga ada batasnya Naruto. Jangan sampai karena kau terlalu menjaga ketat Hinata-chan, sampai-sampai tidak memperbolehkannya melakukan apa-apa, dia jadi stress. Ibu hamil juga butuh berolahraga yang teratur untuk menstabilkan diri agar kondisi janinnya sehat dan siap pada saatnya melahirkan nanti." Jelas Kushina.
"Ee~ Tapi bagaimana kalau nanti Hinata terjatuh saat olahraga, kalau dia pusing, atau kalau dia nanti-"
Plok, sebuah pukulan kecil menghampiri kepala Naruto, membuat si empunya mengaduh sakit. "Kaasan?"
"Tidak ada bantahan, jangan sampai sikapmu sama seperti waktu Hinata-chan mengandung Hana dulu. Hyper over protektif, saat melahirkan dulu, dia jadi sedikit susah karena laranganmu yang tidak memperbolehkannya berolahraga walaupun hanya sedikit saja, tubuhnya jadi kaku. Kaasan hanya ingin memperingatimu saja, mengerti Naruto?" ujar wanita itu sekali lagi, membuat Naruto menunduk pelan.
Ya, sikapnya tadi memang sedikit berlebihan. Bahkan melihat Hinata berjalan sedikit saja dia takut setengah mati.
"Akan kucoba." Jawabnya pelan.
Tepukan lembut segera Kushina hadiahkan pada putranya itu, "Ingat Naruto, cobalah kau pikirkan perasaan Hinata. Bagaimana kalau seandainya tempat kalian di tukar, kau tidak di perbolehkan untuk melakukan apapun. Padahal di lain pihak, hal itu hanya membuat tubuhmu terasa terbebani sampai-sampai membuat dirimu stress."
"…." Naruto terdiam, memang memikirkan tidak bisa melakukan apa-apa selama sehari saja sudah bosannya minta ampun. Apalagi kalau selama Sembilan bulan?
"Hah, Kaasan benar. Hal yang kulakukan pada Hinata hanya membuatnya semakin tertekan saja." Ujar Naruto.
"Baguslah kau sudah mengerti, nanti akan Kaasan berikan alasan lain kenapa kau tidak boleh terlalu over protektif pada wanita seenaknya~" pernyataan Kaasannya sukses membuat alis Naruto terangkat sebelah.
"Maksud Kaasan apa?" tanyanya bingung.
Kushina hanya mengendikkan bahunya sekilas, "Lihat saja nanti sore~" jawabnya singkat, seraya bangkit dari tempat duduknya, membawa teh hangat yang dibuatnya tadi ke ruang tamu.
"Ayo, Hana dan Hinata-chan pasti menunggu," ucap wanita itu. Sampai akhirnya menghilang di balik dinding.
"…"
Meninggalkan Naruto yang masih kebingungan, "Alasan lain?" gumamnya kecil.
.
.
.
.
.
Tak terasa Hinata, Naruto, serta Hana berada di rumah itu berjam-jam. Mereka mencoba mencicipi kue buatan Kushina dan tentu saja memuji masakan wanita cantik itu. Waktu kini sudah menunjukkan pukul lima sore,
Hinata dan Kushina masih bermain bersama Hana, sedangkan Naruto yang menonton tv. Menunggu kepulangan Kyuubi, Minato, serta Shion.
Sampai..
Ting, tong, suara bel berbunyi menginterupsi mereka semua, "Ah, itu pasti Shion dan Kyuu-nii!" Naruto segera bangkit dari sofa, dan berjalan menuju teras rumah.
"Ah, Kaasan ikut," tiba-tiba saja suara Kushina menghentikan gerakan Naruto, laki-laki itu memandang heran Kaasannya.
"Kaasan tunggu saja di sini, biar aku yang membukakan pintu." Ujarnya.
Wanita itu menggeleng pelan, "Kau masih ingat perkataan Kaasan tadi kan, sekarang akan Kaasan tunjukan padamu." Perkataan Kushina membuat perasaan bingung Naruto kembali lagi, mau tak mau ia hanya bisa mengangguk kecil.
Meninggalkan Hana dan Hinata (lagi) di sana.
[…]
"Sebenarnya Kaasan ingin melakukan apa?" tanya Naruto heran.
"Lihat saja~"
"Kaasan!" suara Kyuubi samar-samar terdengar dari luar,
"Ha'i Ha'i, tunggu sebentar~!"
Dan dengan cepat, Kushina memutar kenop pintu, membukanya pelan. Memperlihatkan Kyuubi yang tengah menggendong Kaede serta Aki dalam pelukannya dan Shion yang tengah membawa barang belanjaan.
"Kami pulang,"
"Okaeri~"
Kyuubi menatap bukan hanya Kaasannya saja yang berada di sana, tapi juga adiknya. "Oh! Naruto, kau sudah selesai check up dengan Hinata?" tanyanya.
"Ya, sudah selesai sejak tadi."
Laki-laki orange itu segera melepaskan sepatunya, menurunkan kedua putrinya. Yang langsung saja berlari kecil menuju ruang tamu, saat mendengar suara Hana.
"Kalau begitu aku menaruh barang-barang dulu," Shion juga segera berjalan menuju dapur setelah tersenyum lebar melihat Naruto.
"….."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kyuubi sekali lagi.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, janinnya sehat, tapi-" kata-kata Naruto yang terhenti membuat Kyuubi merasa heran. Ada yang tidak beres, manik adiknya itu menatap bingung pada Kaasan di sampingnya.
"Tapi apa?"
"Yah, tadi ada yang membuatku sedikit bingung," ujar laki-laki pirang itu ragu.
"Hah? Kau yang membuat Niisan bingung? Jelaskan ada apa?"
"Kaasan," Naruto tiba-tiba memanggil wanita di sampingnya ini. Perasaan aneh merayapi Kyuubi, sebenarnya apa yang ingin di lakukan adik dan Kaasannya.
Kushina mengangguk kecil, dan entah apa yang membuat wanita itu berjalan menghampirinya. Membuat alisnya mengernyit bingung,
"Ada apa Kaasan?" tanya Kyuubi.
Plok, sebuah tepukan Kushina berikan pada putranya itu, "Dengarkan Kaasan baik-baik," oke, wajah Kaasannya terlihat serius. Membuat laki-laki itu meneguk ludah tanpa sadar.
"I..iya?"
Sedangkan Naruto juga ikut-ikutan bingung, 'Sebenarnya Kaasan ingin melakukan apa?' batinnya.
"Sebenarnya,"
"Ya?"
"Tadi Kaasan menemukan sebuah testpack di kamar mandi, dan Kaasan yakin itu pasti punya Shion."
"….."
"…"
Doengg! Kyuubi dan Naruto nyaris terjungkal karena perkataan Kaasan mereka, laki-laki orange itu menatap ragu wanita di depannya.
"Kaasan yakin?"
"Um, yakin seratus persen, dan hasilnya positif. Jadi kau tahu kan artinya, tadi Shion membawa barang belanjaan seberat itu, apa tidak apa-apa?" tanya Kushina.
'Hah! Setahuku tadi saat ke kamar mandi aku tidak melihat benda putih itu?' batin Naruto bingung.
'A..atau jangan-jangan, maksud Kaasan berkata seperti itu-" belum sempat menyelesaikan pikirannya.
"Kenapa Kaasan baru bilang?! Tahu seperti itu, aku tidak akan membiarkannya membawa barang-barang berat!" Kyuubi secara cepat bangun dari posisinya, berlari menuju dapur, dan meninggalkan Naruto dan Kushina di sana.
"….."
"Eng, Kaasan, tadi-" perkataan Naruto terhenti saat melihat senyuman penuh arti dari Kaasannya. Ada yang tidak beres.
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga~"
"Kyaa! Kyuubi a..apa-apaan ini!" suara melengking Shion segera menyentakkan gerakan Naruto. Membuatnya sukses berlari ke arah teriakan itu begitu juga dengan Kushina.
"Kenapa kau tidak bilang kalau sedang mengandung?! Lebih baik sekarang duduk dan jangan melakukan apa-apa!" seru Kyuubi.
Manik Naruto terbelalak tak percaya, melihat sikap Niisannya. Persis seperti dirinya tadi, "Kyuu-nii?"
"Hah? Mengandung? Apa maksudmu Kyuubi?! Tu..turunkan aku, Naruto dan Kaasan melihat kita?!" pekik Shion malu.
"Tidak, jangan banyak bicara. Kau harus beristhirahat yang banyak!" ujar Kyuubi.
"Eh?! Kyuubi turunkan aku!"
"Tidak!"
"…."
Naruto menatap ragu Kaasan di sampingnya ini, "A…ano Kaasan, maksudnya apa berbicara seperti itu pada Kyuu-nii?" tanyanya.
"Lihat saja, sekarang. Alasan lain kau tidak boleh over protektif pada wanita dengan seenaknya~"
Dan detik berikutnya juga,
"Sudah kubilang turunkan aku, Kyuubi Baka!"
Buagh! Satu pukulan keras melayang tepat di perut Kyuubi, membuat laki-laki orang itu reflek menurunkan Shion dan memegang perutnya yang terasa sakit.
"Shi..Shion? Kenapa kau malah memukulku?!" serunya kesal.
Wanita berambut pirang pucat itu mengerucutkan bibirnya kesal, "Kau bilang kenapa? Jelas-jelas aku yang harus bertanya, kenapa tiba-tiba menggendongku seperti tadi?! Kyuubi Baka!" selagi berkacak pinggang. Shion berjalan keluar dari dapur, membiarkan suaminya itu meringkuk memegang perutnya.
"…"
"…"
"…."
Tubuh Naruto membeku, sepertinya kejadian tadi terasa dejavu baginya. Baru kali ini ia melihat Shion memukuli perut Niisannya seperti itu?!
"Ka..Kaasan ini-"
"Sekarang kau sudah tahu kan, alasan lain kenapa kau tidak boleh mengekang wanita seperti itu~" ucap Kushina, seraya berjalan mendekati Kyuubi. Berusaha membangunkan putranya itu, tak lupa mengucapkan maaf karena sudah menggunakannya sebagai kelinci percobaan (?)
"….."
Buaghh! "Bukannya sudah kubilang jangan sekarang, Naruto-kun Baka! Nanti bagaimana kalau terjadi apa-apa sama anak kita!" serunya keras. Bibirnya kini sudah memanyun kesal,
"…"
Sepertinya kata-kata Kaasannya itu ada benarnya juga.
"…."
"A..ahaha, lebih baik aku tidak membuat Hinata marah untuk beberapa bulan ini," ucapnya seraya tertawa gugup pada dirinya sendiri.
Ternyata wanita yang lemah lembut itu bisa menyeramkan juga~
"Ya, lebih baik seperti itu.." Naruto langsung terdiam membeku.
.
.
.
.
.
Dan saat Naruto mendapatkan pelajaran kalau tidak boleh meremehkan kemarahan wanita, apalagi kalau dalam kondisi mengandung. Jangan sampai dirinya tidak bisa bangun karena pukulan dari Hinata yang datang bertubi-tubi hanya gara-gara ingin melarang istrinya itu untuk tidak melakukan apa-apa.
…..
Malamnya, di kediaman Uzumaki, tepatnya saat kedatangan Minato. Suara teriakan-teriakan kecil terdengar dari sana. Yah, seperti yang kita tahu, saat Hinata dan Naruto memberitahukan kalau Hana akan mempunyai adik baru.
Gadis kecil itu langsung berteriak senang, berlari-lari, dan menyentuh perut Kaasannya terus menerus.
"Kyahaha! Akhilnya, akhilnya Hana punya adik balu cepelti Haluki!" serunya senang.
Nah, sampai di situ dulu cerita kali ini. Saat-saat dimana Hana akhirnya mendapatkan apa yang dia mau, dan Naruto yang mendapatkan pengalaman saat melihat aksi pemukulan (?) Shion terhadap Niisannya.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
TO BE CONTINUED~
A/N :
Yuhuuu~ Mushi balik lagi, sekarang yang di muncul di chapter ini adalah Kushina Uzumaki #peluk cium calon mertua#dilempar# Advice dari seorang Ibu tentang bagaimana berbahayanya wanita kalau terlalu over menjaganya. Nyahaha! XD
Tenang aja, fic ini masih berlanjut kok. Kalau udah terpampang tulisan complete baru selese, ahaha XD
Huuaa, dan Arigatou! Karena sudah mau memikirkan nama-nama yang cocok untuk adik Hana,
Polling aja deh yaa, Mushi agak bingung milihnya coz semuanya pada bagus-bagus :3 #kalo bleh di pake semua, Mushi udah langsung tulisin semuanya nyahaha #digampar#
Uzumaki Raito?
Uzumaki Hiruto?
Uzumaki Haruto?
Uzumaki Mamoru?
Uzumaki Ichiro?
Uzumaki Hikaru?
Pilih ya, kalau ada waktu ehehe XD
[…]
Answer :
Semua pada lega karena konfliknya udah berakhir, syukurlah kalau begitu #ngelap keringet#
Moegi memang seumuran dengan Konohamaru, bisa di lihat di 'MDWY' Chap 'Trouble Cousin is Coming' *bener ga ya?* ._.v
Di chap sebelumnya Mushi ada salah ketik, "Se..sepertinya Hana akan punya adik baru lagi.." (dikiranya Hana udah punya adik sebelumnya) itu salah ketik sumvah!#alah boong#digampar# Arigatou atas concritnya #peluk cium#dilempar sandal#
Yang menanyakan pernikahan Gaara? Di chap depan yaa, soalnya di chap ini bahas kehamilan Hinata dulu. Biar nggak loncat-loncat ceritanya.
Apa chap ini sudah cukup romancenya? #berharap iya# ._.a
Gomen buat yang sudah menunggu fic ini lama sekali, Asli, Mushi harus konsentrasi buat Uan yang tinggal satu bulan lagi datang, ;;A;;
Tapi Mushi tetep usahain buat apdet sebelum Uan dimulai dengan mengambil sisa-sisa waktu luang walaupun hanya sedikit. Jadi buat yang menunggu fic Mushi, sekali lagi Mushi ucapkan maaf sebesar-besarnya :( mohon pengertiannya. Dan makasih buat semangatnya #jadi terharu#nangis#ngambil tisu# :')
LOVE YOU ALL! *BIG HUG*
[…]
BIG THANKS TOO :
Akira no Rinnegan, Black market , Momo yamanaka, Bubble bee, Ymd, bala-san dewa, hime-chan1301, Zeri Nomi, Devil Clown, Audhitaputri, Guest, JeastTheNinja, Manguni, viii-chan, zoccshan, NH lovers, Guest 1, Guest 2, MORPH, wafihidayatulloh, Alyads, Guest 3, imink-chan, Chimunk, Bunshin Anugrah ET, neko chan, Guest 4, naruhina naruhina 35, ujhethejamers, hanako shizuka, Ilysm Hime bye Waone, Inoue Kazeka, ZF-Kun, lavender for orange, tsukihime4869, AnnisaIP, Mr. Xavier, Namikaze Anwar, Ryn NaruHina, seiichi hikaru, Tantei Fath, Wim are, mihae-chan, Hikaru Reisa, Audhitaputri, eureka eklesius, eliza halianson, Akane Uzumaki, Guest 5, zielavenaz96, diella, Misti Chan, akbar123, Mara15, fujisawa suzuchan, Kyuubi no Baka, Alyads, Restyviolet, pranawuland, Durara, Nyuga totong, zielavienaz96, kurama no yokay,Niizuma Eiji , randa saptian 1, Setsuna f seie ,DarkYami Kugamawa, Namikaze archiles, Alyads, Kiren Nia, hinata hiyuga34, Muthenaru97gmail com, ansya32, Ichikawa soma, Namikaze Uzumaki Hendrix Ngawi, Hyuuga Divaa Lavender-Hime, ayudiadinda dewi, sahwachan, Uzumaki Akkie, JihanFitrina-chan, andypraze, alip c skyhunterz, fahtur D Dargneel, dha pan 9, sahwachan, Detektif Kadal, sakuranatsu90, Hani chan1, Joice Ananda Ezra, REDCAS, Wind Hyperion, inukagome9193, Hyuuga Divaa Atarashii, sendi uzumaki, Beetha, keyzo, aiska hime-chan, Anyone, Maryam-san, Virgo24, NaraGirlz, meong chan, rachman fatur 161, rienaldisjah, reyvanrifqi, betmenpengangguran, uzumaki zhufar, hqhqhq, Zuuki, aaira, Naru-kun93, Mocha Mochi-chan, Inoue Kazeka, NaruHina-lover, Uzumaki rizaldy, Takkun, 7th Chocolava, Ore no Hana, oni, NaruHinaLoveLov, ayudiadinda dewi, nakashima ayumu, uzumakihikari64, hime namikaze, Khula chiiNH lover's, YUUNA AIKO, Yuuna Hikaru, Rhe Muliya Young, shiro19uzumaki, HimeAkai11, MinA-chan 773, Lyan-chan, Natsumi Kyoko, and all silent readers~ (Gomen kalau ada yang tidak tertulis)
Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi
Kalau begitu Akhir kata kembali
SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7
JAA~
