.
.
.
Maaf lanjut nya lama banget huhuhu aku sedang menikmati liburan jadi lagi pengen nyantai maka nya ff lain juga masih banyak yang terbengkalai... Tapi ini lanjut kok! Di lanjut satu-satu ya ff nya~ terima kasih banyak untuk yang udah komen dan minta lanjut mulu karena berarti kalian suka sama ff nya hihihi~ maaf gabisa di bales satu satu. Kalo bingung mau panggil apa, panggil Nabol juga boleh~ anggap temen aja ya!
.
.
.
Akhir-akhir ini Seungkwan lebih menempel pada Joshua. Vernon tidak tau apa salahnya tapi Seungkwan benar-benar menjauhinya tanpa alasan yang jelas. Dan heran nya Woozi yang kita tau sebagai salah satu uke paling over-protective terhadap Joshua, dia tidak terlihat terganggu dengan kedekataan Joshua dan Seungkwan.
Kini Vernon harus diam melihat Seungkwan yang tidur di paha Joshua. Woozi diam saja bersender di pundak Joshua. Kini Joshua terlihat punya 2 istri! Vernon ingin sekali protes dan menarik Seungkwan untuk menjauh dari sana tapi ia tau konsekuensi nya, "Tidak tidur bersama selama 1 bulan" dan ia benci ancaman itu.
Mingyu datang lalu duduk di sebelah Vernon. Ia mengikuti arah pandang Vernon dan tertawa. "Yahhh ada yang ditinggal istri!" Mingyu mengejek Vernon. "Jika saja hyung tidak lebih tua dariku, aku sudah menjambakmu sampai botak." Ucap Vernon penuh penekanan. Mingyu kembali tertawa lalu menjawab. "Tapi kenyataannya aku lebih tua darimu jadi duduk manislah adik kecil,"
Namun pada akhirnya Vernon tetap menjambak Mingyu dan membekap wajah Mingyu dengan bantal sofa. Wonwoo datang lalu enatap mereka berdua dengan tatapan tidak percaya nya.
"Aku tidak masalah jika kau ingin membunuh Mingyu tapi tolong... Jangan di sofa kesayanganku. Pergi." Wonwoo mengusir Vernon dan Mingyu dari sofa kesayangan nya. Mingyu melepaskan diri dari kekangkan Vernon dan merengek pada Wonwoo. "Kenapa kau membiarkan Vernon menyiksaku~?" Mingyu merengek seperti anak kecil. Vernon jadi tertawa dan Wonwoo tetap memasang wajah emo nya.
"Pergi dari sofaku atau ku gugurkan kandungan ini." Wonwoo tetap bersikeras mengusir Mingyu dan Vernon dari sofa nya. Vernon dan Mingyu langsung duduk di lantai saat mendengar ancaman Wonwoo. Wonwoo tersenyum puas dan merebahkan diri di sofanya dengan santai. "Hoshi kemana?" Tanya Seungkwan.
"Dia pergi bersama Dino untuk membeli bahan-bahan dapur," Jawab Vernon selembut mungkin. "Oh," Jawab Seungkwan singkat, padat.
JDER!
Vernon hanya bisa mengusap dada nya bersabar.
.
.
Hoshi terbangun dari tidur nya pada pukul 11 malam. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil minum namun ia begitu terkejut saat melihat Wonwoo yang sudah terduduk di lantai dapur dengan darah yang berlumuran dimana-mana.
"Wonwoo-ah!" Hoshi langsung berjalan cepat ke arah Wonwoo dan menatapnya panik. "H-Hyung... S-sakit..." Wonwoo berkata lirih sambil terus mendesah menghela nafas pendek dan menarik nafas susah payah.
"Ya tuhan... Tolong jangan biarkan aku lemot di saat seperti ini!" Hoshi memukuli kepala nya sendiri. "Oh! Mingyu!" Hoshi berlari melupakan dirinya yang juga sedang hamil ke arah kamar Mingyu dan membangunkan si tiang tanpa ampun.
"Mingyu! Cepat bangun! Wonwoo itu... Terpeleset, eh! Jatuh! Lalu darah dimana-mana... Kesakitan juga! Shh! Kenapa aku jadi susah berbicara begini sih ah!" Hoshi masih panik. Mingyu hanya mengerang merasa tidur nya terganggu.
Hoshi berniat membangunkan Mingyu namun yang terbangun sekarang malah Jeonghan. Memang yah naluri ibu hamil (?).
"Waeyo Soonyoung-ah?" Tanya Jeonghan dengan mata setengah terpejam. "Ehehe... Itu anu... Wonwoo... Darah nya dimana-mana dan kesakitan di dapur hyung... Tolong bantu aku... Bangunkan yang lain juga karena sungguh Wonwoo sedang kesakitan sekarang..." Hoshi sudah menangis akibat panik dan khawatir.
"MWO!? WONWOO!?" Jeonghan langsung bangun dan mencabut bulu kaki Mingyu agar sang empu terbangun. "WONWOO KESAKITAN BODOH! SUAMI MACAM APA KAU HAH!? CEPAT BANGUN ATAU KU CABUTI SEMUA BULU KAKIMU!" Jeonghan berteriak sekencang mungkin. Teriakan nya membangunkan Seungcheol dan kamar-kamar lain, daebak.
.
.
.
Wonwoo dilarikan ke rumah sakit karena ia sudah pingsan di dapur, terlalu lama menahan sakit dan darah yang terlalu banyak hilang dari tubuh nya.
Mingyu terus saja duduk menatap Wonwoo yang belum sadarkan diri. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga Wonwoo dengan baik. Ia tau resiko nya dan ia siap akan kehilangan anak yang dikandung Wonwoo, tapi Wonwoo? Ia belum tentu bisa menerima kenyataan pahit yang dikatakan oleh dokter bahwa ia keguguran.
Mingyu terus berpikir keras bagaimana ia menjelaskan nya pada Wonwoo saat Wonwoo sadar nanti. DK, Seungcheol dan Joshua menemani Mingyu di rumah sakit sedangkan Jeonghan dan Seungkwan mengurusi administrasi rumah sakit bersama sang manager. Sisanya diam di rumah.
"Beri Wonwoo 2 hari sebelum kau memberitahu keadaan kandungan nya Ming... Aku yakin jika kau langsung memberi tahu nya saat ia sadar, keadaan nya akan turun drastis dan sulit untuk membaik..." Saran Seungcheol. Mingyu menunduk dan mengangguk pelan.
"Everything's gonna be fine~" Ucap Joshua menenangkan sambil mengusap punggung Mingyu dan menepuk-nepuk nya guna menenangkan Mingyu. Mingyu hanya bisa tersenyum paksa dan kembali bergelut dengan pikiran nya.
Tiba-tiba telepon Seungcheol berdering.
"Yeoboseyo?"
"S-Seungcheol-ah... Hiks... A-aku... Oh my god..."
Seungcheol panik mendengar Jeonghan menangis sesegukan.
"Easy... Easy... Tarik nafasmu. Lalu ceritakan ada apa secara perlahan," Seungcheol memilih untuk menenangkan Jeonghan dan mengesampingkan pikiran negatif nya.
"Hah... S-Seungkwan jatuh di toilet rumah sakit... Hiks... Dia ada di UGD sekarang... Hiks... Ya tuhan Seungcheol tolong aku... Cepat ke UGD... Aku tidak tau harus apa..." Seungcheol membelalakan mata nya dan menatap Vernon yang kini juga menatapnya.
"Shit! Seungkwan!" Vernon langsung berlari keluar ruang inap Wonwoo dan berlari menuju UGD bersama Seungcheol dan DK.
.
.
.
.
.
TBC
