A Romantic Story About Jaehwan
(Remake by chronossoul)
Casts:
VIXX Ken (GS)
VIXX Ravi
EXO Kai
BTOB Hyunsik
~ Chapter 09 ~
Ruangan itu gelap.
Gelap dan sunyi, hingga bunyi klik ketika Jaehwan menutup pintu terdengar begitu keras.
Dengan gugup Jaehwan menelan ludah. Kenapa sepi? Kemana Ravi?
Apa Ravi mungkin pulang ke rumahnya? Apa mungkin dia tidak tahu kalau Jaehwan belum pulang? Syukurlah kalau begitu kejadiannya.
Jaehwan berusaha menenangkan dirinya, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya menghadapi apa yang akan terjadi, seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.
Dan bom itu memang meledak.
Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka, tidak, bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya, lampu-lampu menyala.
Ravi tampak begitu menakutkan, matanya menyala-nyala, rambutnya acak-acakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu elegan dan rapi tampak kusut masai. Yang pasti, lelaki itu kelihatan begitu murka mendapati Jaehwan berdiri di ruang tamu apartemen itu, hanya menatapnya.
Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Jaehwan dan mengguncangnya begitu keras sampai Jaehwan merasa pusing.
"Kemana saja KAU?!" teriak Ravi, lepas kendali.
Jaehwan berusaha menjawab, tetapi kepalanya terasa pusing karena Ravi masih mengguncangnya.
"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau tahu?!" Ravi masih berteriak. "Semua rumah sakit bersalin di kota ini aku datangi satu persatu, tapi tidak ada kamu! Kemana saja KAU?"
"Ravi, kalau kau terus mengguncangnya seperti itu, dia akan muntah sebentar lagi." sebuah suara tenang terdengar di belakang Ravi, membuat lelaki itu terpaku, seolah-olah baru menyadari kehadiran sosok di belakangnya.
Jongin berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, sepertinya menikmati pemandangan Jaehwan yang didamprat oleh Ravi.
Ravi menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha mengontrol emosinya.
Sialan benar Jaehwan! Sialan benar gadis ini! Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai malam Jaehwan tidak juga pulang? Tak tahukah dia betapa hati Ravi dicengkeram ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Jaehwan dan menemukan bahwa ponselnya mati?
Beribu pikiran buruk tadi berkecamuk di dalam benak Ravi, bagaimana kalau Jaehwan kecelakaan? Atau dia menjadi korban kejahatan?! Bagaimana kalau gadis itu terluka parah dan tidak dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan?
Dan sekarang, menemukan gadis itu berdiri di ruang tamu apartemennya, tanpa kekurangan suatu apapun, membuat Ravi dibanjiri perasaan lega yang amat sangat, lega sekaligus murka, murka karena gadis itu telah membuatnya kacau balau, murka karena gadis itu telah membuatnya berubah dari Ravi yang tenang menjadi Ravi yang kacau, murka karena gadis itu telah menumbuhkan sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Pro... Proses melahirkan temanku bermasalah... Dia... Dia eh... Harus... Dioperasi..." Jaehwan masih berusaha mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat pandangannya berkunang-kunang.
Tangan Ravi yang masih berada di pundaknya mencengkeramnya kuat.
"Kalau begitu, apa susahnya meneleponku?! Kenapa kau matikan ponselmu hah?!"
Jaehwan mengerjapkan matanya gugup. "Baterai ponselku... Habis..."
"Memangnya tidak ada cara lain buat menghubungiku?! Aku hampir gila memikirkan kau ada dimana! Apa kau pikir aku tidak mencemaskanmu? Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi!"
"Ravi, sudahlah, toh dia sudah pulang dengan selamat." Jongin menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Ravi.
Dengan tajam Ravi menoleh kepada sahabatnya itu,
"Cukup Jongin, kau boleh pulang, terima kasih sudah menemaniku tadi."
Jongin hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran halus itu, dia menepuk- nepuk kemejanya yang juga kusut, lalu melangkah keluar pintu.
"Kau harus menenangkan otakmu, kalau kau seperti ini, makin lama aku makin tidak mengenalmu." kata-kata Jongin ditujukan kepada Ravi, tapi matanya menatap tajam ke arah Jaehwan, menyalahkan.
"Dan kau, Tuan Putri, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab!" sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Jongin. Ravi diam.
Dan Jaehwan juga diam, menilai emosi Ravi, takut salah berbicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Ravi semakin parah.
Setelah mengamati dengan hati-hati, Jaehwan menarik kesimpulan kalau kemarahan Ravi sudah mulai mereda, matanya sudah tidak menyala lagi seperti api, dan napasnya sudah teratur, hanya tatapan tajam dan bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.
"Maafkan aku," bisik Jaehwan pelan, takut-takut.
Sejenak Ravi tampak akan mendampratnya lagi, tetapi lelaki itu menarik napas panjang, berusaha menahan diri.
"Sudahlah," gumamnya, melangkah melewati Jaehwan memasuki kamar. Dengan gugup Jaehwan berusaha mengejar langkah Ravi yang begitu cepat. "Maafkan aku, aku tidak berpikir kamu akan secemas itu." tersengal Jaehwan berusaha menjajari langkah Ravi menuju kamar. "Aku... aku terlalu terfokus pada operasi temanku lalu aku... Ravi!" Jaehwan setengah berseru karena lelaki itu berjalan terus tanpa memperhatikannya.
Ravi berhenti melangkah, menatap Jaehwan, tampak begitu dingin.
"Yang penting kau sudah pulang dengan selamat," jawabnya datar.
"Ravi...?"
Jaehwan merasa ragu mendengar nada dingin di dalam suara Ravi.
"Sudah! Aku mau tidur!" geram Ravi marah sambil melangkah ke arah ranjang.
~ A Romantic Story About Jaehwan ~
Lelaki itu marah, marah besar padanya.
Jaehwan bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.
Semalaman Jaehwan tidak bisa tidur, dan Jaehwan yakin Ravi juga tidak tidur, karena lelaki itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam.
Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.
Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Ravi meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.
Lelaki itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kita berangkat bersama," desis Ravi setelah membanting serbet makannya ke meja.
Tangan Jaehwan yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah. "Apa?"
"Kita berangkat bersama-sama," ulang Ravi datar.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi Jaehwan," sela Ravi kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu, "Ayo cepat!"
Dengan gusar lelaki itu membukakan pintu mobil buat Jaehwan, dan membantingnya ketika Jaehwan sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.
Sepanjang jalan, lelaki itu menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Jaehwan hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Ravi.
"Nanti kau pulang denganku! Kau dengar itu? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!" gumam Ravi tanpa mau dibantah ketika menurunkan Jaehwan di lobi kantor.
~ A Romantic Story About Jaehwan ~
Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Jaehwan, perasaannya tidak enak, sampai kapan Ravi akan marah padanya? Sampai kapan Ravi akan bersikap seperti ini kepadanya?
Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Ravi?
Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.
Sebenarnya Jaehwan tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah sakit menengok Hyunsik, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Ravi pada waktu perjanjian awal mereka.
Tapi dengan ancaman Ravi tadi pagi, Jaehwan tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Ravi untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja.
Meja sekertaris Ravi sudah kosong, dengan pelan Jaehwan melangkah ke pintu besar ruangan Ravi, mengetuknya pelan.
"Masuk."
Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Jaehwan masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia terpaku.
Bukan Ravi yang ada di sana, tetapi Jongin, lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Jaehwan dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.
"Mr. Ravi menyuruh saya kesini jam pulang kantor." jelas Jaehwan terbata. Jongin tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.
"Aku tahu, Ravi menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Perancis di ruang pertemuan."
"Oh."
Jaehwan tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Jaehwan memang tidak kenal dekat dengan Jongin, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Jongin.
"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja," gumam Jaehwan cepat- cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana rasanya?"
Pertanyaan tiba-tiba Jaehwan itu menghentikan gerakan tangan Jaehwan membuka pegangan pintu.
"Apa?"
"Bagaimana rasanya menjadi wanita simpanan taipan kaya seperti Ravi?" Jaehwan bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Jaehwan.
Jaehwan tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Jongin, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar," Jaehwan berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Jongin mendorong pintu itu tertutup lagi.
"Aku bertanya padamu Tuan Putri," ulang Jongin sinis. Jaehwan menatap Jongin tajam.
"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya," desisnya pelan. Ucapan itu membuat Jongin tertawa, penuh penghinaan.
"Merendahkan katamu? Bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Ravi?" ejeknya kasar, lalu mencekal lengan Jaehwan tak kalah kasar, tak peduli Jaehwan mulai meronta-ronta.
"Kau adalah wanita paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Ravi dengan tubuhmu," Jongin menyeringai sinis, "Tak kusangka Ravi bisa bertekuk lutut pada perempuan sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Ravi terbiasa dikelilingi perempuan-perempuan dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."
"Anda salah! Saya tidak begitu," Jaehwan berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Jongin, tapi genggaman lelaki itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.
"Kau tidak bisa membohongiku pelacur cilik!" Jongin menggeram pelan, "Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga ratus juta yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Ravi untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!"
"Anda salah paham!" Jaehwan setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Jongin yang sangat keras.
"Kau pelacur cilik yang menjual tubuhmu seharga tiga ratus juta," Jongin mulai merapat ke tubuh Jaehwan.
"Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu?"
"Tidaaak! Lepaskan saya!" Jaehwan mulai berteriak membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Jongin yang semakin gelap mata.
Lelaki itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar. Jaehwan meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau disentuh Jongin, dia tidak mau!
Ravi! Ravi! Tolong aku!
~To Be Continued~
Maaf jika ada typo yang bertebaran. :)
Terimakasih sudah menyempatkan baca ff ini, sudah comment, fav & follow. Terimakasih juga selalu menyemangati dan mengingatkan saya untuk update, hihihi. Silahkan ditunggu chapter selanjutnya ^^
Arigatou gozaimasu~ Thank you very Gamsa~ :*
