"Kau yakin tak apa-apa, Hinata?" tanya seorang lelaki berambut pirang menanyakan keadaannya sambil sibuk mengemudikan mobilnya.
Perempuan yang duduk di samping joknya pun mengangguk perlahan. Tidak, sebenarnya sesuatu sedang mencuri pikirannya.
"Baiklah. Aku tahu rautmu seperti memendam sesuatu. Tak apa kalau kau tidak mau memberitahuku," lelaki itu tersenyum ikhlas.
Sekali lagi, ia mengangguk. Hanya kebisuan yang merasuki mulutnya. Telinganya mendengar lagu Lady Gaga yang diputar di stereo mobil lelaki pirang itu, namun ia terlihat tidak menikmatinya. Ada berbagai pikiran yang begitu mengganjalnya sehingga tidak menganggukkan kepala—cara terbaik menikmati lagu-lagu yang upbeat. Padahal tidak biasanya ia seperti ini.
"Belum bisa beradaptasi, huh?" sindir lelaki itu lagi, sesekali mengklakson kucing yang menyebrangi jalan dengan lambannya.
"Bukan," ia menggeleng, "Aku hanya merasa janggal saja. Bukan janggal karena keheranan melihat tempat di sini, tapi…"
"Sasuke mengacuhkanmu?"
Hinata bingung. Bagaimana ia... ah, yang penting...
"Tepat." Sahut Hinata sambil tersenyum kecut. Meski begitu, senyumnya tetap saja terlihat kaku. Ah, sejak saat itu, ia hanya berdiam diri di kamar sampai menunggu waktu di mana ia akan memulai jenjang pendidikan SMA tahun keduanya di negeri matahari terbit ini. Menurutnya, Jepang—tepatnya Tokyo, sebab ia belum pernah menuju daerah lainnya—cukup mengasyikkan. Banyak sekali pusat perbelanjaan dengan jenis yang berbeda, sedangkan dirinya merasa cukup kontras di sini, sebab dirinya pribadi juga menyukai belanja. Selain itu, Jepang juga cukup glamour dengan lampu warna warni yang bertebaran di mana-mana. Jadi, kini tidak ada lagi terdengar keluhan dari mulutnya mengenai kota yang ia singgahi entah berapa lamanya ini. Yang penting, kini ia mengetahui tempat-tempat penting yang harus ia ketahui untuk kebutuhan hidupnya di sekitar lingkungannya.
"Sudahlah. Bukankah kau membencinya? Lebih baik jangan dipikirkan lagi." Saran Naruto.
"Tapi… bukankah sama sekali tak enak kalau sebuah keluarga tidak saling menyapa satu sama lain?" balas Hinata dengan wajah memelas.
Oh, ternyata begitu, gumam Narut dalam hatinya. Pertanyaannya tadi—secara Hinata sadar atau tidak—ternyata merupakan jebakan bagi Hinata. Naruto hanya ingin menguji Hinata bahwa apa yang dikatakan oleh Yakumo seminggu yang lalu itu benar. Dan… seperti yang kalian baca sendiri, kita dapat menyimpulkan bahwa Hinata masih menyayangi kakak kandungnya itu. Dan Naruto… hanya membenarkan pernyataan yang dilontarkan Yakumo itu. Yah, padahal ia berharap, setidaknya saja kalau Hinata lupa ingatan, ia bisa menarik hati Hinata dan lebih prefer bersamanya. Yeah, Naruto licik, bukan?
"Hei, jawab dong!" tanggap Hinata begitu melihat senyuman palsu yang dipajang di wajah Naruto saat membalas jawabannya.
"Kalau aku juga mengacuhkanmu, apa yang akan kau lakukan?" Naruto kembali menguji Hinata.
Yang ditanya hanya menghela napas. Bukan pertanyaan yang susah, gumamnya. "Oke. Sebelumnya, aku enggan bermusuhan denganmu. Tapi, kalau kau ingin berbuat begitu, perbuatlah. Terima kasih," jawabnya sambil tersenyum simpel.
Poor Naruto…
Setelah itu, suasana berubah menjadi sepi hingga mereka sampai di sekolah yang ingin dituju oleh Hinata—Miyagami Senior High.
Saat Hinata hendak membuka pintu mobil, Naruto berkata, "Tunggu sebentar."
Hinata pun berhenti, lalu menoleh. "Kenapa—"
Cup.
.
"E-Ekh?" gumam Hinata terkaget-kaget. Tepat saat itu juga, pipi kanan Hinata—tempat di mana bibir Naruto menempel pada kulitnya—memerah seketika.
Mata Naruto menatapnya dengan jahil. "Karena aku lupa cium Mama, jadinya aku cium kamu saja. Oh iya, satu lagi—karena tampaknya kau tak begitu tertarik padaku sih," jawabnya santai.
Dengan kesal Hinata membanting pintu mobil tersebut, lalu berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak-teriak tidak jelas di dalam hati.
Naruto hanya melanjutkan kemudinya dengan wajah yang tidak berdosa sama sekali. Hanya senyuman jahil karena berhasil merasakan kulit adiknya yang lembut itu.
—oOo—
Panggil Aku Kakak!
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Panggil Aku Kakak! © Cha2luvGaGa
Warning:
AU, OOC, etc.
—oOo—
CHAPTER 9: Turn My Swag On
"Apa-apaan dia? Berani sekali!" geram Hinata dalam hati sambil melanjutkan perjalanannya menuju sekolah yang sudah empat hari ia jalani. Perlahan-lahan dirinya mulai menyesuaikan diri terhadap tempat yang membuatnya merasa asing di sini.
Miyagami Senior High School, begitulah cara gedung sekolah itu mendeklarasikan namanya menggunakan kanji dan romaji di bawahnya dengan logo perisai di samping kirinya.
Langkahnya terhenti saat melihat dua orang berbeda kelamin—laki-laki dan perempuan—sedang berdiri berhadapan di depannya. Sang cowok terlihat tidak sabaran, sedangkan sang cewek malah merinding sambil menunduk malu.
Hinata menatap keduanya dengan pandangan bertanya-tanya. Apa yang sedang mereka lakukan?
"A-Ano, maaf telah lama membuatmu menunggu..." akhirnya mulut si cewek pun terbuka lebih dulu. Si cowok berambut pirang itu pun mendongak pada mukanya. Dan... bingo, wajah sang cewek pun memerah dengan otomatis.
Tangan kanannya yang ia masukkan ke dalam mantel sedari tadi saking gugupnya akhirnya ia keluarkan sambil menggengam sebuah barang berbentuk persegi panjang yang dibalut dengan kantung berwarna kuning menyolok dengan motif polkadot putih.
Dengan perlahan, kedua tangannya mengarahkan benda itu ke depan wajah si cowok. "Engg... ini kubuatkan cokelat valentine buatmu... maaf kalau rasanya agak hambar..." perlahan-lahan, air mukanya berubah menjadi merah semu.
Si cowok itu menatapnya kaget. Saat si cowok ingin membuka mulutnya, cewek itu kembali memulai percakapannya.
"Emmm... maafkan aku karena telah lama menggantung perasaanmu. Namun, sekarang, hatiku telah sungguh-sungguh memilihmu." wajahnya terlihat percaya diri saat menatap cowok itu face-to-face—juga tak lupa memberikan senyum terbaik yang pastinya membuat orang itu melting.
"Kagamine Len... jadilah pacarku." ujar cewek itu sambil memeluk si cowok dengan kuatnya.
Mata Hinata tak berhenti menyoroti drama korea antara dua pasangan yang bisa dikatakan mirip itu. Dan tanpa Hinata sadari, orang-orang banyak melihat mereka, dikarenakan mereka menyolok—juga lokasi yang agak strategis untuk menjadi pusat sorotan anak-anak; koridor depan sekolah.
Cowok itu pun tak terlihat ragu lagi. Ia mengusap lembut rambut si cewek itu sambil berkata, "Aku juga menyukaimu, Rin."
Sontak semua orang yang berada di sekitar itu memuji kehebatan mereka berdua melakukan PDA di sekolah. Banyak di antara mereka—kaum hawa—mulai memberanikan diri melakukan hal yang serupa pada pujaan hatinya, sementara sisanya mereka meminta pajak jadian pada kedua sejoli yang baru saja menjalin hubungan itu. Kecuali Hinata yang hanya tersenyum nostalgia; seperti mengenang sesuatu.
Ya. Dulu ia juga pernah merasakan hal ini. Dua tahun yang lalu, ia sempat naksir dengan seorang pemuda yang mengikuti klub basket. Hampir setiap hari, ia menguntit cowok tersebut hingga ia selesai kegiatan klub. Lalu, pada hari Valentine, Hinata memberikannya cokelat lalu menyatakan cinta padanya, namun mereka berdua...
"Hinata!"
Bayangan kenangan Hinata pupus sudah saat mendengar suara perempuan yang nyaring dari belakangnya. Wajahnya menyiratkan keterkejutan saat melihat sumber suara—yang ternyata berasal dari teman barunya itu—sesaat setelah membalikkan tubuh.
"Sakura-san..." tegurnya. "Tumben sekali kau berdandan tidak biasanya seperti ini."
Dandanan Sakura bisa dikatakan lebih dari sekadar penampilan biasa siswi-siswi yang hanya bermodalkan bedak dan lipgloss. Kini ia menambahkan eye shadow berwarna serupa dengan warna rambutnya, mascara super tebal, rambut yang digelung dan menghasilkan efek gelombang yang sedang digeluti saat ini.
"Hehehe, iya..." ia hanya menyunggingkan cengiran tak bersalah. "Aku... mau menyatakan cinta."
"Eh? Ke siapa?" Hinata tampak antusias.
Sakura senyum-senyum sendiri. "Hihihi, pokoknya ada saja deh..."
"Dasar tidak jelas," keluh Hinata dalam hati.
Tunggu, sebelum ia mengomentari hal-hal yang tidak penting, ia bertanya-tanya tentang hari ini. Sekarang tanggal berapa? Kenapa murid-murid banyak membawa bungkusan batangan seperti itu? Dan lagi... banyak yang pacaran di sekitar sini! Apa hari ini...
Tidak percaya, Hinata mengecek HP-nya yang sedari tadi tersimpan di saku roknya, menatap terpaku pada kalendar dan waktu.
Astaga, padahal sedari dulu ia sangat menantikan dan memuja hari ini. Hari yang sangat sakral baginya... hari yang selalu ditandainya dengan rutin di kalendar HP maupun kalendar rumah...
...Valentine.
—oOo—
"Hinata... mau temani aku ke kelas XII-B?" tawar Sakura pada Hinata yang sedang menyantap bekal buatan Mikoto, sang Mama tercinta. Di dalam kotak bekal lavender yang berukuran sedang ini terdapat nasi berbalut telur dadar yang digulung, beef bacon, dan sayuran rebus yang tertata rapi.
"Mmm... memangnya mau apa?" tanya Hinata sambil mengunyah makanannya di mulut dengan pelan.
Raut muka Sakura berubah merona. "Emm... menyerahkan cokelat."
"Mmm... baiklah," dengan pasrah Hinata merelakan makan siangnya demi teman barunya ini, sebab ia tidak punya pilihan lain. Lagipula ia takut kalau ia menolaknya, ia akan dijauhi oleh teman satu-satunya itu.
.
"Permisi," sapa Sakura sambil menggeser pintu kelas yang ditujunya. "Apa Akasuna no Sasori ada?"
Murid-murid yang berada di kelas itu diam menatapnya dengan pandangan yang susah ditafsirkan. Salah satu murid yang sedang berjalan di depan kelas itu pun berkata, "Ya, kenapa Sakura-chan?" tanyanya dengan ramah. Hinata menerka-nerka bahwa hubungan mereka berdua pasti sahabat saking akrabnya seperti ini.
Sakura jadi gelagapan sendiri. Hinata bingung apa yang harus ia lakukan—sedangkan ia hanya menjalani tugasnya sebagai bodyguard sementara temannya itu. Jadi ia hanya bisa diam menatap dua insan itu berdiam diri di depan pintu kelas.
"Eh... emm..." Sakura berusaha menghilangkan kegugupannya dengan memjamkan matanya erat-erat. Tangannya yang ia sembunyikan di bokongnya sedari tadi pun ia keluarkan sambil menggenggam cokelat yang ingin diberikan pada sang pujaan hati. Anak-anak pun sontak menganga kaget melihat adegan yang sering digambarkan di manga-manga kini telah ada dalam bentuk realita.
"Terimalah cokelat ini!" jeritnya memutuskan urat malunya.
Perlahan ia membuka matanya takut-takut. Matanya terbelalak saat melihat cokelat itu tidak ada lagi di genggamannya, melainkan berpindah tangan ke... Sasori.
"Terima kasih," senyumnya terulum lebar. "Akan kuterima dengan senang hati."
Pikiran Sakura sudah lebih dulu fly. Saking dalamnya imajinasi yang ia keluarkan, ia merasa telah keluar dari jiwanya dan beterbangan ke langit hingga bertemu dengan Romeo dan Juliet, sang senior cinta. Dan yang lebih parahnya lagi, tubuhnya nyaris tak seimbang. Untunglah sang pangeran hatinya—Sasori—menopangnya. Hinata hanya berdecak kagum melihat cowok yang ia kira tidak punya rasa sama sekali terhadap Sakura, dan hanya asal menerima pemberian dari Sakura dan dimakannya untuk tujuan 'memadamkan kelaparan'.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasori khawatir.
"Yaaah..." suaranya mulai lembut dan sedikit mendesah. "Aku... tidak apa-apa..."
"Dasar kau ini," Sasori tertawa, "Kau begitu menyukaiku sampai sebegitunya?" lalu ia memeluk tubuh sahabatnya itu dengan dalam.
Anak-anak perempuan memekik iri pada mereka. Sedangkan yang lainnya hanya bersiul meramaikan suasana.
"Aku juga menyukaimu, Sakura Haruno," Sakura tidak mendengarnya lagi setelah itu. Ia hanya memejamkan matanya sambil tersenyum lebar; menikmati indahnya hidup di utopia kehidupannya.
"Sasori-kun..." Hinata hanya meneguk ludah saat melihat dua pasangan yang kini menjadi sorotan orang-orang yang melewati koridor kelas mereka.
"Ah, maaf," Sakura buru-buru melepas pelukan mereka begitu tahu dirinya terlihat begitu mencolok. "Mmm, Hinata, ayo kita ke kantin."
Pada saat itu juga, Hinata mengangguk cepat-cepat, sebab perhatian orang lain teralihkan menuju dirinya dan Sakura. Tenang, Hinata, tenang... kau dilarang mengeksploitasikan dirimu untuk berlagak famous di sekolahmu yang baru ini!
"Tunggu!"
Suara Sasori memanggil dua gadis yang buru-buru berbalik badan itu. "Ya?" sahut Sakura.
"Bukan, maksudku... temanmu." seru Sasori sambil menunjuk pada arah hidung Hinata.
Nah lo! Kenapa Hinata yang dipanggil?
"Hinata?" Sakura mendorong Hinata yang wajahnya terlihat kebingungan. Jangan-jangan mau dilabrak lagi!
"Ya, Hina... —ah! Namamu Hinata?" tanya Sasori tidak percaya.
"Ya..." lantun Hinata parau.
Sasori mulai menggaruk-garuk kepalanya. "Rasanya... aku begitu familiar denganmu. Apa kita pernah bertemu?"
"Benarkah itu, Hinata?" mimik Sakura terlihat terkejut saat mendengar pernyataan Sasori. Ia maju selangkah, merangkuli Hinata.
Hinata—masih dengan wajah innocent-nya—mulai berpikir keras. "Kurasa tidak. Memang kenapa?"
"Apa iya?" yakin Sasori memutar-mutar pikirannya. "Pokoknya... entah mengapa aku merasa familiar sekali. Ck, sudahlah." kemudian Sasori berbalik menuju kelasnya lagi.
Hinata masih terdiam mematung di depannya, berusaha menemukan jawaban yang paling tepat dari sarafnya. Ah, makin dipikir, rasanya makin pusing saja...
Eit, tunggu sebentar. Apa Sasori memang kenangan indah masa lalunya yang sempat pupus ditelan aspal di New York? Lelaki yang begitu akrab padanya ketika tahun pertama SMA? Yang begitu ia cintai dan... arrgh! Makin ngawur saja!
"Sudahlah, Hinata," ujar Sakura menenangkan, "Sasori-kun memang begitu. Selalu saja memiliki fantasi yang melayang sampai ke lubang hidung Abraham Lincoln yang sekarang entah dimana..."
Tidak. Ini bukan fantasi sado atau semacamnya, tapi menyangkut masa lalunya. Ayolah, Hinata. Berusahalah menghapal kekasihmu yang telah kau tinggalkan dua tahun yang lalu itu!
Sambil berjalan menuju kantin, Hinata bertanya pada Sakura. "Sakura, apa sebelumnya Sasori pernah tinggal di luar negeri?"
"Hmm... kurasa ia belum pernah ke luar negeri. Ia selalu di Jepang, kok. Memangnya ada apa?" pandangannya beredar di langit-langit koridor.
"Oh, begitu ya..." nada yang dikeluarkan Hinata tampak begitu kecewa. Padahal ia pikir ia telah menemukan lelaki yang selama ini dicarinya, namun...
"Hei. Jangan-jangan kau punya mantan yang mirip dengan Sasori?" tanya Sakura mendadak.
Jantung Hinata berdetak sekali dengan kencangnya. Kenapa pas sekali dengan apa yang dipikirkannya, ya?
"Kurasa begitu..." jawab Hinata ragu-ragu.
Sakura tersenyum tulus. "Benarkah? Ceritakan padaku nanti, ya. Sekarang lebih baik makan dulu. Perutku lapar sekali..."
—oOo—
Hinata bingung apa yang ingin ia lakukan setelah pulang sekolah ini. Padahal biasanya ia akan dijemput, namun entah mengapa jemputan tak kunjung datang. Jadi, yang bisa ia lakukan hanyalah berjalan pelan menunggu di halte depan sekolah sendirian sambil menunggu jemputan datang.
Sambil menggerakkan kakinya mengikuti irama lagu yang sedang didengarnya di headset dengan volume sedang, ia kembali menjalankan rutinitasnya sebagai seorang penduduk baru—bertingkah komparatif. Matanya yang secerah bulan itu sibuk menelusuri lekuk-lekuk biotik dan abiotik yang berada di sekitarnya. Suasana tidak begitu sumpek, banyak orang berjalan di trotoar, banyak kedai di sekitarnya, dan di antaranya ada yang sangat menarik hatinya, yakni sebuah kedai teh.
Ampun! Sudah beratus-ratus kali semenjak kepulangannya ke—ehem—kampung halamannya ia selalu mengalami rasa yang sama dengan Beyoncé—deja vu. Apa ini nasib seseorang yang telah mendapatkan karma akibat terlalu menyayangi mantannya hingga tak bisa move on selama dua tahun? Ah, tidak penting. Pokoknya, kini ia merasakan debaran yang begitu hebat saat melihat toko yang terlihat tenang dan sejuk dari luar itu.
Penasaran akan isinya, Hinata memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Debaran itu makin kuat saat Hinata menghirup atmosfir antara aromatherapy dengan daun teh yang harum.
.
Tempat di mana ia pertama kalinya mendapatkan ucapan terima kasih dari orang yang disayangi...
.
"Akh!" rintih Hinata memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut tidak karuan. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya dan berjalan pelan. Apa maksud kata-kata tadi? terkanya. Tidak, tidak. Sekarang lebih baik cari tempat duduk. Tempat duduk... tempat duduk...
"Kau tidak apa-apa, Nona Hinata?"
.
Suara paruh baya itu membuat Hinata memalingkan kepalanya menuju sumbe suara. Siapa dia? Kenapa dia tahu namanya?
Wanita itu menatapnya dengan kaget bercampur girang. Heran, ekspresinya sama seperti Sasuke, Naruto, Yakumo, dan Sakura saat pertama kali bertemu dengannya. Ada apa sebenarnya?
"Nona Hinata!" teriak orang itu dengan gembira. Saking gembiranya, ia menepuk pundak Hinata dengan kencang. "Anda sudah kembali? Astaga, aku rindu padamu! Bagaimana kabarmu...?"
Inginnya Hinata memekik kencang dan berkata 'what—the—hell—are—you—doing', namun karena takut tidak sopan, akhirnya ia membalas apa yang harus ia jawab. "Ya... baik-baik saja..." katanya dengan parau.
Wanita ini memerhatikan detail-detail wajah Hinata yang membandingkannya dengan yang sekarang. "Nona, kau... makin cantik saja. Dua tahun yang lalu, wajahmu bulat sekali. Sekarang berubah oval! Kau betul-betul anggun!" pujinya.
"Te... Terima..."
"Ah, tempat dudukmu! Kau duduk saja di depan sini. Akan kulayani kau dengan baik. Dan teh spesialmu akan segera datang!" ujarnya ala pelayan café sambil berlari menuju kasir.
Sebelum ia pergi mencari tempat duduk, ia memerhatikan dengan seksama name tag yang dikenakan wanita itu. Tulisannya... Mikawa Sanada.
"Mikawa-san, aku pesan satu lagi, bawa pulang, aroma melati!"
DEG!
"A... Apalagi itu... arrgh..." dengan langkah cepat ia duduk di tempat yang kosong, lalu mencari sesuatu di dalam tasnya sesekali memegangi kepalanya.
Diambilnya sebuah kantung plastik ber-klip berisi kaplet hisap yang dibelikan oleh Minato di rumah sakit minggu lalu karena mendengar pengaduan dari anaknya yang terus merasakan cenat-cenut di hati dan otaknya. Diambilnya dua kaplet dari plastik tersebut, dan dihisapnya dalam-dalam, merasakan rasa manis bercampur pahit di lidahnya—sesekali memegangi kepalanya yang sudah agak mendingan.
Kring kring!
Hinata tidak menghiraukan bunyi bel yang berasal dari pintu kedai teh tersebut, karena memang tidak penting bagi dirinya—betul bukan?
Kembali ia memijat-mijat kepalanya dengan menjepit kedua keningnya memakai jari tengahnya dan ibu jarinya. Sikunya menumpu pada meja. Mulutnya tak henti-hentinya merintih kesakitan akibat setiap denyutan yang ia rasakan.
Ada apa denganku...? Kepalaku... serasa bagai dihantam batu.
"Hinata?"
Oke, siapa lagi yang memanggilnya lagi? Hinata hanya memalingkan wajahnya pada arah jam empat—juga masih memijat-mijat keningnya tentunya.
"Sakura..." kali ini ia pasrah. Kalau sudah bertemu seperti ini, pasti Sakura akan menempati mejanya—jumlah kursi di meja Hinata ada dua, dan bukan berhadapan, melainkan berdekatan satu sama lain—dan Sakura akan bercerocos menggosip membiarkan dirinya meringis kesakitan seperti ini.
Oh, ternyata dugaannya salah besar. Sakura malah langsung mendekatinya dan menanyakan keadaannya dengan khawatir.
"Sssh... iya... padahal sudah minum obat, tapi belum hilang-hilang..." jawab sekaligus keluh Hinata sembari menunduk dan membenamkan wajah saking pusingnya.
Sakura mengambil tempat duduknya di samping Hinata, mengambil sebuah botol kecil berwarna bening dan di dalamnya terdapat sebuah cairan yang berwarna bening dan agak cair.
"Hiruplah ini. Aromatherapy dengan aroma mint. Kuharap ini bisa menyembuhkanmu," jelasnya sambil memberikannya pada Hinata. Beberapa detik kemudian, ia pun membuka tutup botolnya, memejamkan matanya, membiarkan wangi dari botol itu menguar ke dalam rongga hidungnya, lalu menjalar ke tiap-tiap saraf.
"Ah..." desah Hinata, merasa agak mendingan dari sebelumnya. Itu terbukti dari senyumnya yang mulai mengembang cerah.
Sakura yang mengetahui gelagat Hinata pun tersenyum lega. Pada saat ia ingin mengatakan sesuatu, wanita tadi datang mengantarkan pesanan Hinata (walau sebenarnya Hinata tak mengatakan apapun sih).
"Eh, ada Sakura juga," sambut wanita itu dengan wajah sumringahnya. "Kau juga sama? Earl grey?"
Sakura mengangguk mantap. "Ya, aku pesan satu."
"Baik!" kemudian Mikawa berlari lagi dengan nampannya. Pandangan Sakura kembali terfokuskan pada Hinata yang kebingungan menatap teh beraroma earl grey itu.
"Kenapa? Apa di New York tidak ada teh?" canda Sakura sekaligus diselingi tawa olehnya.
Tetapi bagi Hinata, itu bukanlah lelucon yang pantas untuk ditertawakan. Ia menggeleng menanggapinya. "Bukan begitu. Hanya saja... kenapa pelayan tadi tahu kalau aku menyukai teh ini?"
Sakura kali ini menatapnya dengan bingung. "He? Kau tidak memesan teh ini?" ulangnya meyakinkan.
"Ya. Dia sendiri yang mengantarkan padaku—padahal aku tidak bilang apa-apa," cerita Hinata menegakkan duduknya yang sempat bungkuk akibat tidur meja karena pusing barusan. "Katakan padaku—apa dia bisa membaca pikiran seseorang?"
"Kyahahahaha~!" tawa Sakura membahana di sekitar kedai itu. "Ya enggaklah. Hanya saja kau mirip dengan seseorang." tuturnya.
"Seseorang? Maksudnya...?" tanya Hinata meninggalkan tanda tanya yang begitu besar. Memang sudah ilmiahnya bahwa Hinata merupakan orang yang memiliki rasa penasaran yang amat besar dan akan memaksa orang itu agar memberitahu apa yang diinginkannya.
Kalau sudah seperti ini, sesuai dengan perintah Naruto yang diberikan padanya, Sakura terpaksa mengarang naskah opera sabunnya. "Kau tahu? Ada seorang murid Miyagami. Ia sangat mirip sepertimu. Ia juga aktif dalam klub drama, hingga ia juga termasuk dalam kategori anak terkenal di sini. Aku juga teman dekatnya. Ah, bahkan aku tahu alasannya ia ikut drama. Karena ia kurang pandai berbicara di depan orang banyak, juga karena ia agak pemalu." Oow, kenapa ceritanya makin mirip ke Hinata yang dulu? Sudahlah, toh Hinata tidak menyadarinya.
Hinata menyeruput tehnya tanpa memalingkan wajahnya dari muka Sakura. "Terus?"
"Lucunya, ia juga sering minum teh di sini. Ia sangat akrab dengan para pegawai di sini. Contohnya Mikawa-san tadi," terangnya dengan jelas.
Penasaran Hinata belum surut. Ia masih butuh penjelasan, namun tiba-tiba Sakura berdiri dari bangkunya. Sakura menatap lurus menuju luar jendela toko teh—yang ternyata merupakan bus itu.
"Maaf Hinata," ucap Sakura seraya melirik arlojinya, "Aku tidak bisa berlama-lama. Ibuku menunggu di rumah karena ada suatu acara. Daah!" serunya sambil berlari dan mengambil teh yang dipesannya dari nampan Mikawa—padahal Mikawa ingin mengantarkannya—lalu membayarnya langsung di kasir. Lalu ia buru-buru pergi dan mengejar keterlambatannya menaiki bus tersebut.
Sedangkan Hinata hanya melototi meja yang sama sekali tidak bersalah itu dengan pandangan shock.
"Kenapa... cerita anak itu mirip sekali dengan ceritaku?"
.
.
.
—oOo—
Memang aneh, namun ia begitu menatap jalanan aspal yang tengah ditapakinya dengan langkah legato sambil menjinjing laptop dan ranselnya dengan tatapan yang begitu melekat. Memangnya Yakumo ada di aspal, Sasuke?
Ah, sudahlah. Intinya, ia sedang frustasi, lantaran mulai besok magangnya akan diberlakukan lembur. Siapa yang tidak berkedut alisnya kalau mendengar kabar buruk—meski bagus untuk kas juga sih—seperti itu? Makanya, ia memutuskan untuk pulang secepatnya dan... tunggu dulu! Kalau ia pulang duluan, bagaimana dengan Hinata? Sudahlah, toh Naruto pasti akan menjemputnya. Lagipula hubungannya dengan Hinata masih saja berantakan. Ia sendiri juga bingung, sejak seminggu yang lalu—sepulang dari Shibuya—Hinata selalu tutup mulut dan bersikap acuh tak acuh padanya. Oh, jangan lupakan juga salah satu penyebab Sasuke akhir-akhir ini kurang konsen pada pelajarannya: Hinata bergerak menjauhinya.
Yah, kalau sudah memikirkan itu, semangat Sasuke menjalani hari hilang sudah. Bahkan minuman penyuplai energi akan sama saja terasa seperti minum obat kantuk baginya jikalau pikiran itu terlintas lagi. Nah, pasalnya, pikiran itu tak pernah berhenti menghampirinya. Bagaimana tidak fokus?
Dengan isengnya ia menendang-nendang kerikil-kerikil besar yang memenuhi area parkir tempat magangnya hingga terpelanting jauh. Saking kesalnya dicueki adik ya, Sasuke? Hukum karma sih. Bukankah dulu ia juga memperlakukan Hinata seperti itu—bahkan pakai acara kekerasan segala. Untunglah Hinata tidak berani melaporkannya ke komisi perlindungan perempuan terdekat.
Saat membuka pintu mobil depan, nada pesan Sherlock dari SHINee dari HP-nya membuatnya geram. Siapa sih yang rajin mengiriminya SMS di sore-sore yang jelas-jelas bikin capek ini?
From: Motherf*cker
Sasuke, di Osaka ada pengambilan nilai musik jam 5. Sensei memintamu untuk datang. Kalau tidak datang, kau akan di-DO.
"Brengsek." Sasuke membanting pintu mobilnya. "Pakai mengancam segala. Dasar rendahan!"
Tapi, namanya juga mantan Uchiha, luarnya saja terlihat menentang—padahal aslinya takut juga akan ancaman dari yang bersangkutan. Tak mau cari ribut lagi, ia mulai menyalakan mesin dan langsung mengendarai mobil layaknya dikendarai vampir—seratus kilometer. Biasalah, badboy.
Ia tak menyadari bahwa seseorang telah mengiriminya SMS yang berbunyi sebagai berikut.
From: Naruto Dobe
Teme, bisa jemput Hinata? Aku harus part-time ekstra mulai sekarang, menggantikan temanku yang cuti seminggu. Tolong, ya?
—oOo—
"Kenapa... lama sekali?" gerutu Hinata sambil menghabiskan cup plastik berisi teh. Jika dihitung-hitung, sudah lima gelas yang ia habiskan demi menunggu sang jemputan tercinta. Wahai jemputan, kuberikan kecupan manis kalau kalian menjemputku lima menit kemudian! ujarnya memelas. Habisnya mau ngapain lagi. Telepon? Boro-boro. Meski ia punya—bahkan iPhone sekalipun—tetapi ia tidak punya nomor Sasuke maupun Naruto. Padahal mereka sudah serumah kurang dari dua minggu. Yah, memang biasa saja sih—tapi kan kebangetan kalau kita serumah dalam kurun waktu dua minggu kita tidak punya nomornya? Lalu bagaimana kalau Hinata clubbing sampai larut malam, lalu ingin pulang, namun pagar rumah terkunci dan tak seorangpun menyadari keberadaannya yang menunggu di luar dalam keadaan mabuk? Wah, bahaya. Meski sejauh ini ia sering clubbing, namun tidak pernah berpikir dan memiliki kejaadian seperti itu. Apa? Hinata hobi clubbing?
Kalau bagi kalian asing, namun baginya itu buukanlah hal yang tabu. Secara ia awalnya hidup di New York—di kota yang begitu bebas membuka kesempatan—ia sering clubbing akibat ajakan teman-teman seklubnya. Namun ia tidak pernah terlibat dalam kejadian... yah, kalian tahu sendirilah. Intinya, Hinata memang tidak asing lagi dengan lampu disko, lagu-lagu dance yang sedang bertengger di billboard, spotlight, jenis-jenis bir dan lain-lain.
Coba saja jika Sasuke dan Naruto mengetahuinya, mereka pasti akan menyesali—apa bahkan menangisi?— kepergian sang adik ke luar negeri dua tahun yang lalu untuk pengobatan. Bagaimana bisa percaya bahwa Hinata yang begitu imut seimut Kusumi Koharu nan alim, baik, pemalu, dan suka menabung itu berubah menjadi Hinata yang sudah hapal lokasi disko yang bagus dan strategis—di New York tentunya—dan menjadi naughty girl seperti di video klip lagu-lagu barat ber-genre Dance yang bersetting di pub house atau diskotik?
Bosan, akhirnya ia keluar dari toko teh—tentu saja ia sudah membayar semua teh-nya!—lalu dengan bermodalkan ilmu kepo yang berasal dari teman-temannya di negeri adidaya itu, ia mulai menaiki bus yang ia perhatikan sedari tadi berlalu-lalang tanpa menunggu lama. Yah, gampang saja. Kalau kesasar, GPS tersedia. Kurang apa coba?
.
.
.
Hinata's POV
"Hosh! Hosh! Akhirnya ketemu!" seru seseorang.
Aku menengok ke arah kiri—arah dimana aku mendengar suara tadi.
Aku melihat dua orang laki-laki yang sangat familiar dan sering kulihat seminggu belakangan ini. Mereka terlihat basah kuyup dengan blazer hitam dan kemeja putih, lengkap dengan dasi merah marun.
"Hinata! Hosh, hosh! Untung kau ada di sini! Kalau tidak, pasti kami akan dimarahi Papa karena tidak menjaga adiknya!" seru yang berambut pirang sambil bernapas dengan terengah-engah.
Deg.
Sudah dari dulu aku mengimpikan seorang kakak berbicara seperti itu. Kupikir, kalau seorang kakak berbicara seperti itu, sudah pasti ia memiliki rasa protektif dan rasa tanggung jawab yang besar pada adiknya. Dan aku sangat suka sekali diperlakukan seperti itu.
Mereka... sudah menganggapku adik kakak, padahal aku saja belum siap memanggil mereka kakak.
Dan...
Setitik air mataku pun turun dan menganak sungai di pipiku.
Dan mataku kembali membuat air mata lagi, sampai hampir membasahi semua pipiku.
"Hinata? Kenapa?" tanya si pirang sambil berlutut dan memandangi wajahku.
"Ah, tidak apa-apa," ujarku sambil mengelap mataku. Berusaha menampilkan wajah senyum. Aku tidak ingin terlihat cengeng!
"Cih, merepotkan." kata seorang lagi berambut biru tua.
"Hoi Teme! Jangan berkata seperti itu padanya! Hati perempuan itu sensitif, lho!" serunya sambil mengelap mataku menggunakan saputangan yang diambil dari saku celananya.
"Biar. Aku selalu memperlakukan wanita sama seperti lelaki." ujarnya dingin. Eh... rasanya, ia mengingatkanku pada... ah, tidak mungkin! Tapi suaranya sangat mirip dengan seseorang...
"Sudah ya! Hinata, jangan dengarkan omongan kakakmu yang gila itu!"
Apa? Dia juga kakakku? Kukira ia... hanya teman si pirang yang begitu dewasa ini—sampai hatiku dibuat luluh olehnya.
"Nah, ayo pulang!" ajak si pirang lagi sambil mengulurkan tangannya, dan langsung saja menggandeng tanganku.
Aku pun kaget mendapat perlakuan seperti itu. "Te-Terima kasih..." ucapku sopan pada mereka berdua.
"Kamu ini ngomong apa sih? Ini kan kewajiban seorang kakak!" katanya dengan lembut.
Sial, kenapa ucapannya membuatku ingin menangis sih?
.
"Permisi!"
.
"Kyaaaa!" aku terbangun dari alam sadarku, begitu sadar ada yang membangunkanku. Suaranya terdengar seperti bapak-bapak... yang ternyata memang bapak-bapak setelah kuamati wajahnya dengan baik.
"Ini sudah malam, dan bus ini sudah berkeliling rute sampai lima kali." aku melirik arloji digitalku. Astaga, benar juga! Sudah jam tujuh lewat! Ya ampun, apa yang harus kulakukan?
"Ma-Maaf..." mohonku. Lagian kenapa aku bisa tertidur sih? Padahal biasanya mataku ini ahli begadang sampai jam tiga malam. Apa ada yang memasukkan obat tidur ke mulutku? Hih, gila saja!
"Tak perlu meminta maaf," ujar si lelaki yang ternyata adalah petugas bus tersebut. "Yang jelas, cepatlah pulang. Orangtuamu sudah menunggu,"
Akhirnya aku cepat-cepat keluar dari bus tersebut dengan membawa perasaan malu yang berkecamuk di otakku dan mendatangkan berbagai masalah di wajahku—sebut saja si merah legendaris yang selalu melekat di wajah orang-orang yang pemalu.
Ini... di mana? Aku belum pernah ke sini. Mana tempatnya gelap banget lagi. Maksudnya nggak terlalu gelap sih, tapi... entah mengapa semua pemukiman di tempat ini terlihat gelap. Hanya lampu jalanan saja yang menyala. Mana sepi pula.
Ck, sudahlah. Kuputuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang trotoar. Kalau tersesat kan ada HP, juga akalku yang bisa mengira-ngira dengan tepat. Bukankah begitu? Yeah, yo soy Americano!
Tapi... satu pikiran terbesit di otakku. Tak adakah seorangpun dari mereka berdua ingin menjemputku? Aneh, sih. Tapi bagaimana ya. Bukannya mengharapkan, tapi tak adakah terbesit sedikit kepedulian kalian atau kekhawatiran kalian pada—
"—sedang apa di sini?"
Duh, entah kenapa nasibku sial sekali hari ini. Kenapa saking nge-fans-nya denganku sampai-sampai beratus-ratus orang menyapaku?
Tenang, Hinata. Keep calm, seperti yang telah dikatakan anak-anak dunia maya di bio social networking-nya. Aku membalikkan badanku, menatap dengan kaget seorang perempuan cantik yang badannya lebih pendek lima sentimeter dariku dan mengenakan gaun hitam bernuansa gothic lolita—komplit dengan stoking jaring-jaring bermotif bunga yang tidak jelas asal-usulnya itu.
Dan yang membuatku lebih terkejut lagi... wajahnya nyaris mirip denganku. Matanya juga lavender, demikian pula dengan rambutnya yang indigo sepertiku. Aku mengernyitkan dahi. Jangan-jangan dia itu sebenarnya bunglon yang mengikuti gayaku?
"Kau siapa?" aku melototinya, was-was terhadap bahaya.
Ia hanya tertawa pelan, kemudian wajahnya berubah tegas. "Tak usah bersikap waspada begitu. Aku tak akan membunuhmu," ujarnya dingin.
Meski badannya seperti anak-anak, namun sikapnya begitu dewasa seperti ini. Siapa dia? Penyihir-kah?
"Oh iya. Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada di sini? Ini sudah malam, cepatlah pulang." nasihatnya sok perhatian.
"A-Aku—"
"—tak tahu jalan pulang, hm?" ia tersenyum menyeringai. Tuhan, makhluk dari mana ini? Sudah pakai baju gothic, perangainya juga gothic—tua maksudnya—pula!
Kali ini matanya yang begitu tajam dan menusuk itu menatapku yang ragu-ragu. "Kau mau mampir ke tokoku?"
"Toko? Memangnya kau punya toko?" aku ragu untuk menerima tawarannya. Jangan-jangan toko yang menjual anatomi manusia lagi!
Ia mengangguk. "Iya. Masuklah. Tokoku ada di sini," ujarnya sambil menunjuk sebuah toko bercatkan cokelat dan terang benderang dengan lampu hias yang mewah. Di atasnya tertulis: Chocolat Noir.
Chocolat noir... artinya cokelat hitam kan? Ah! Pasti ia yang punya toko cokelat ini, sebab toko-toko di sampingnya bercahaya redup alias telah tutup.
Kali ini aku mulai agak percaya padanya. Meski ia bertampang begitu, pastilah ia memiliki sisi yang baik. Seperti tadi, mengajakku berteduh di tokonya.
Dan, voila. Nggak cuman dirinya yang bergaya gothic, bahkan tokonya pun turut dikemas secara gothic pula. Hiasan berupa pita dan bunga pun banyak dijumpai di tiap-tiap sudut toko ini. Bau cokelat dan karamel begitu tersebar di ruangan ini. Oh, dan toko ini juga sangat sepi.
Heran, padahal ini hari Valentine. Kenapa toko ini sepi?
"Hei—"
"—kenapa tokoku sepi, hm?" perempuan itu berbalik menatapku.
Kenapa ia bisa membaca pikiranku?
"Tentu saja karena ini sudah malam. Kalau kau lihat tadi, banyak sekali anak perempuan berkeliaran di sini. Membeli cokelatku, tentunya," ujarnya sambil menyuruhku duduk di tempat duduk yang telah disediakan. Sofa yang empuk dan bermotif royal.
"Tunggu sebentar di sini. Akan kusiapkan sesuatu untukmu," ujarnya sambil berjalan menuju ke belakang. Tiba-tiba saja tubuhnya berbalik ke arahku, mengenalkan diri. "Oh, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Sora, chocolatier sekaligus pemilik toko cokelat ini. Kita akan bicara lagi nanti."
Kemudian ia berjalan sampai aku melihat sosok bayangannya menghilang ke belakang. Sambil menunggunya, aku melihat-lihat sekelilingku yang dipenuhi cokelat yang di-display dengan gaya yang berbeda. Di depan display-nya juga ada nama-nama dari tiap cokelat-cokelat tersebut menggunakan name tag yang digantung di depan pajangan. Tertarik, aku berdiri mengamati tiap-tiap cokelat yang dipajang dan didesain lucu itu. Apakah dia yang membuat semua mahakarya mewah ini?
Dan rasa ketidak percayaanku akan toko ini adalah kelengkapan semua jenis cokelat yang ada di sini. Ada truffle, white chocolate... bahkan yang jarang-jarang pun ada, seperti orangette. Astaga, bahkan ada cokelat isi—
"Melihat-lihat, huh?"
Orang ini... selalu saja membuatku kaget. Juga menyebalkan. Padahal aku masih ingin lihat-lihat lagi.
Tak ingin bersikap kurang ajar—apalagi di negeri orang asing—aku duduk kembali ke tempatku semula dan tak lupa melantunkan kata maaf padanya.
"Kubuatkan kau cokelat hangat. Silahkan minum," ia menaruh nampan berisi teko berbahan keramik dan dua gelas kosong berbahan serupa yang pastinya akan membutuhkan biaya yang tak sedikit. Kemudian ia menuangkan ke dua gelas tersebut.
"Terima kasih..." aku meminum salah satu dari gelas tersebut. Ah, sudah lama aku tidak minum ini. Cokelat memang dapat membuat mood membaik—iya kan? Campuran dari susu murni yang hangat dan 72% dark chocolate ini membuat perasaan menjadi tenang. Coba saja sendiri.
"Omong-omong," Sora mendudukkan dirinya di kursi yang tepat berada di depanku, "Kau terlihat seperti ada masalah besar."
Apa sudah banyak orang Jepang yang sudah bisa membaca pikiran atau memang diriku yang saat ini telah menjadi topik pembicaraan seantero Jepang? "Ya. Sebenarnya, aku dan... urgh—kakakku—sedang bertengkar—lebih tepatnya sih diacuhkan, sebab sudah seminggu ini ia menyuekiku. Padahal biasanya ia selalu menyapaku."
Ia memejamkan matanya sambil tersenyum. "Biar kutebak... kau membencinya, bukan? Karena ia begitu lancang memelukmu saat pertama kali kalian bertemu?"
Astaga! Apa makhluk ini betul-betul manusia?
"Kau... tahu dari mana?" tanyaku, merasa heran mengapa ia begitu tahu banyak tentangku.
Matanya terbuka kembali, lalu menyorotiku dengan tajam. "Kau akan tahu nanti," ujarnya sambil menyeruput cokelat panas dengan pelan. "Dan... oh, kau pula sedang merasa deja vu—betul begitu?"
Aku menenggak ludahku hingga tak bersisa. "Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?" gerutuku pelan.
Lagi-lagi hanya senyuman penuh balutan lipgloss pink itu yang ia tunjukkan. "Aku hanya menguji kejujuranmu. Kau pasti sering curhat."
Well, yeah. Tak ada satupun yang kurahasiakan kalau sedang curcol pada siapapun yang ingin kutumpahi dengan beratus ribu omong kosongku itu. Tapi biasanya aku akan curhat ke orang yang kukenal akrab saja—hei, kok malah ngelantur ya?
"Begitu..." ia menghela napas, lalu berdiri dan menuntunku mengitari tokonya yang luasnya lebih dari lima puluh kaki itu. Banyak sekali cokelat, pastry dan cake yang diolah dari biji kokoa asli—aku mengetahuinya karena warnanya sendiri memang dark. Ada berbagai jenisnya juga di tiap-tiap counter—percayalah, di tiap jenis cokelatpun juga ada counter-nya—seperti couverture, plain chocolate, milk chocolate, white chocolate, dark chocolate, bahkan untuk minuman dan kembang gula saja ada!
"Wow... lengkap sekali..." pujiku sambil menegok ke kiri dan ke kanan. Keren sekali, tiap olahan cokelat dipajang dengan cara berbeda. Belum pernah aku melihat toko cokelat sebagus ini.
Selintas pertanyaan basa-basi muncul di pikiranku. "Ngg... Sora-san... apa kau yang membangun semua yang ada di sini?"
Sebenarnya yang ingin kutanyakan adalah: 'berapa jumlah yang kaukeluarkan untuk membangun semua ini?', namun dikarenakan suatu alasan maka pertanyaan itu kumodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bagus dan sopan seperti tadi.
Ia terus diam sampai kami memasuki counter dark chocolate dan terdiam pada sebuah cokelat berwarna hitam pekat dan berbentuk hari seukuran jengkal tangan orang dewasa. Tanpa hiasan sama sekali.
"Oke. Aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku tahu betul kau sedang sangat penasaran," ia tertawa. "Aku adalah penyihir—tepatnya chocolatier penyihir. Namun yang membuatku berbeda dengan penyihir lainnya adalah aku penyihir yang ahli di bidang pembuatan cokelat—dengan kata lain aku dapat membuat cokelat sesuai dengan keinginan hati pelangganku. Namun, sama dengan penyihir lainnya, aku juga menerapkan sistem tak ada yang mustahil. Jadi, percaya atau tidak, aku yang membangun semua ini. Oh, aku juga bisa membaca pikiran orang lain agar dapat mengetahui apa keinginan mereka sesungguhnya. Sebab, yang di otak berbeda dengan yang di hati,"
Ya, aku termasuk orang yang tidak percaya akan ceritanya. Dapat dari mana modal untuk membangunnya? Kalau aku, mungkin akan bisa membangunnya seratus tahun lagi—meski jadi artis sekalipun. Lagipula gila saja kalau ia yang membuat semua olahan coklat yang belum tentu laku. Mungkin hari ini banyak pembelinya karena sedang Valentine, tapi kalau besok?
"Oke, langsung to the point saja. Ini adalah Big Heart Dark Chocolate. Cokelat yang paling ampuh untuk menyatakan cinta ataupun menyatakan perdamaian, karena dibuat dengan penuh esensi perasaan manusia yang memiliki sisi terang. Kupilihkan ini untuk kakakmu, karena kakakmu laki-laki, dan laki-laki tidak suka yang manis-manis. Lagipula, ia akan terlihat gentle dengan cokelat jenis ini," jelasnya yang hanya kubalas dengan sekali angguk.
Ia mengambil boks putih berukuran sedang dan berbentuk balok. Ia mengambil dua keping cokelat tersebut dan membungkusnya dengan pita berwarna emas, lalu diberikannya boks itu padaku.
"Tak usah bayar. Semua cokelatku gratis, asalkan kau punya keinginan yang tulus dari hatimu. Dan ingat satu hal lagi: jangan berharap banyak dari sihirku akan cokelat ini. Keberhasilan dari sihir ini adalah tergantung dari kau sendiri. Sihirku akan bersifat sementara, tetapi niat dan usaha lebih kuat dibanding segalanya. Paham?" Aku mengangguk lagi—meski tak paham sedikit. Untunglah ia tak membaca pikiranku—karena yang dibaca hati, kan?
"Baiklah. Terima kasih!" ucapku sambil menunduk. Dalam hati kudoakan agar bisnisnya sukses. Yah, lumayan juga kalau aku sering-sering ke sini, dapat cokelat gratis.
Sambil melangkah keluar, aku mendapati sebuah mobil melintasi jalanan sepi itu. Ah, pasti taksi!
Aku melambai-lambai dengan semangat. Syukurlah, bala bantuan datang! Tapi, bukannya taksi itu berjalan makin cepat ke tempatku, ia malah memperlambat kecepatannya dan menyalakan lampu sein dengan terangnya yang bisa saja membuat mata buta dalam sekejap.
Aku memejamkan mata karena silau, dan tiba-tiba taksi sialan itu berjalan cepat ke arahku dan membuka kaca pintu jok kiri mobil yang diberi film itu lebar-lebar.
"Hinata?"
.
Hei? Siap—
"Betul, kan? Kau sedang apa di sini? Bukannya sudah pulang?"
—Sasuke!
.
.
.
Aku menatapnya bola matanya yang hitam itu dengan lekat. Sasuke... astaga! Padahal aku setengah mati tidak mau ketemu dengannya—inginnya sih ketemu di rumah, tapi kenapa harus sekarang sih?
"...justru harusnya aku yang harus tanya! Kenapa kau bisa—"
"—lebih baik cepatlah masuk! Di luar dingin!" serunya.
Yah—seperti yang kalian ketahui, karena masih bulan Februari, salju masih saja membekukan teritorial kami. Akhirnya aku masuk sambil terbatuk-batuk ke dalam mobil Sasuke yang tak kalah dinginnya.
"Sasuke..." aku merinding kedinginan. "Kenapa kaunyalakan AC di mobil? Dingin sekali!"
"Hn, kedinginan ya? Maaf, sudah terbiasa." ia mematikan AC mobil tersebut.
"Dasar makhluk Megalitikum, tahan terhadap segala cuaca!" ledekku asal. Ia hanya tersenyum kecil tak berdosa. Cih! Jangan kaukira senyumanmu itu mirip Mona Lisa yang sok misterius itu!
"Ngomong-ngomong..." Sasuke akhirnya angkat bicara sambil mengemudikan kemudinya, "...kenapa kau bisa sampai Osaka? Ini jauh sekali dari Konoha,"
Aku menggigit bibir, memikirkan jawaban yang masuk akal. Tidak mungkin kalau aku mengatakan bahwa aku naik bus lalu tertidur sampai ngiler hingga kehilangan rute dan berakhir dengan tersesat.
"Emmm..." jawabku, memberi ancang-ancang sebelum anak kuliahan berambut bokong ayam itu menebak yang tidak-tidak.
Ia tersenyum lagi. "Aku tahu kalau kau—dengan ilmu sok tahu-mu itu—pergi menaiki bus hingga tersasar sampai sini."
Mampus! "Ta-Tahu dari mana kau?" tanyaku kasar.
"Insting." balasnya dengan menggenggam kebanggaan yang begitu berlimpah. Cih, berlebihan!
"Kalau dipikir-pikir, sudah seminggu ya kita tidak seakrab ini lagi." seru Sasuke tanpa memalingkan wajahnya sekalipun dari jalanan yang ia tempuh dengan kecepatan maksimal di jalan tol.
"Ah... benar juga." aku tersenyum menerawang wajahku ke atas... tunggu! Bukan saatnya memandang bintang gemerlapan di atas sana! Ya, Hinata, utarakanlah tujuan sebenarnya.
"Emm... Sasuke..." aku memejamkan mata, pasrah yang akan kulakukan selanjutnya. "Aku... ingin minta maaf apa yang kulakukan minggu kemarin—baik kau sadar atau tidak—aku mengatakan bahwa aku membencimu, sehingga kau menjauhiku. Tapi jangan berlebihan dulu! Aku meminta maaf karena tak ingin berhubungan kaku seperti kemarin! A-Aku... hanya ingin coba akrab denganmu. Percayalah, yang kukatakan itu cuma bercanda..."
Ya, bercanda yang keterlaluan, gumamku.
Lama ia terdiam sambil berpikir keras—mengingat-ingat kejadian itu. Setelah itu... otaknya baru connect pada topik yang kumaksud. "Aa, yang saat sarapan itu, bukan?"
Aku mengangguk tanpa membuka mataku. Yah, lebih baik menanggung malu daripada selamanya bertengkar seperti ini.
"Ya ampun! Astaga!" ia tertawa keras yang membuatku kaget setengah mati. Inikah hasilnya perjuanganku meminta maaf padanya—ditertawakan?
"Hei! Aku sudah berusaha, lho!" belaku terhadap diriku sendiri. Duh, malunya!
"Astaga... aku benar-benar tidak percaya kau menghindariku karena hal semacam itu!" entah mengapa pipiku merasa panas saat ia tersenyum sambil menoleh ke arahku.
"Saat itu... mungkin karena suara berita itu, aku tak begitu mendengar suaramu dengan jelas. Dan setelah itu, saat kupaksa kau pulang, kau begitu terkejut melihat perubahan sikapku yang begitu drastis—bukankah begitu?" ringkas Sasuke yang kubalas dengan sekali anggukan.
Ia memperlambat kecepatan mobil itu perlahan, sebab lampu merah sudah berada di depan kami. "Maafkan aku. Waktu itu aku memang sedang dalam keadaan badmood. Tapi sungguh, aku tak bermaksud membencimu."
Oh, entah mengapa suasananya seperti sepasang kekasih yang berdamai akibat kesalahpahaman yang cukup menguras otak. Hanya kurang suasana puitisnya. Ah, apa sih yang kupikirkan?
"Ngg... boleh aku tahu kenapa kau begitu terkejut saat melihat berita yang tersiar pagi itu? Kalau tidak salah tentang enterpreneur keturunan Uchiha itu, kan?" alihku.
Entah kenapa Sasuke terlihat shock saat aku menyebutkan kata 'Uchiha'. Ada apa sebenarnya?
"Fugaku Uchiha itu... ayahku."
.
"Apa?" ulangku tak percaya. "Tak mungkin! Kalian tak..."
Emm, tunggu dulu. Kalau dipikir-pikir, mereka berdua nyaris mirip. Baik dari rambut, mata... pokoknya nyaris.
Segera aku meralat kalimatku. "Kalian berdua mirip," aku menghela napas. "Tapi... bagaimana bisa...?"
"Hn... aku tidak ahli dalam bercerita tentang hal itu. Mungkin kau bisa bertanya pada Naruto sepulang nanti. Ia tahu cara menjelaskannya dengan baik,"
Aku mengelak. "Tapi aku ingin dengar cerita darimu!"
Kali ini ia menarik napas dalam-dalam. "Maaf, Hinata."
Lagi-lagi seutas maaf yang diucapkannya.
"Kalau bersama gadis itu, dan ia meminta menceritakannya... akankah kau mau menjelaskannya?" dengan lancangnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Entah mengapa akhir-akhir ini tubuhku kurang bisa diajak kompromi.
"Gadis?" tanya Sasuke.
"Iya. Malaikat yang membawamu ke jalan yang benar itu, Sasuke. Akankah kau menjelaskannya jikalau ia memintanya padamu?" aku menyeringai sambil menunduk. Tanpa sadar aku mengujinya.
Rautnya berubah memerah. Cukup lama ia tidak menjawabnya.
"Sudah kuduga Sasuke... kau harus mempertimbangkannya saat pembicaraan kita sudah menjurus pada bidadari tak bercela itu. Benar, kan?" putusku.
Kulemparkan bungkusan berisi cokelat yang diberikan Sora tadi ke arah wajah tirusnya dengan keras. Tak kupedulikan seberapa sakitnya lemparan itu.
"Kau bukannya tak mengerti, Sasuke—tapi tak memikirkan seberapa tidak sukanya aku pada malaikat itu! Andai saja malaikat itu aku!"
Ya, perasaan ini tak dapat kusembunyikan lagi. Aku selalu menutupinya karena mustahil. Aku tahu kalau ini salah, namun banyak orang mengatakan rasa ini adalah anugerah.
Benarkah begitu? Baiklah, akan kucoba.
"Sasuke..." air mataku mulai turun saat ia memandangku penuh kekhawatiran. "...sebenarnya aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu!"
.
.
.
Aku tahu kalau ini terlarang. Tapi... untuk pertama kalinya aku menyukai kakakku sendiri... sebagai laki-laki.
Tapi kebanyakan orang mengatakan bahwa memiliki rasa suka itu adalah anugerah.
Apa benar ini anugerah? Kalau anugerah, mengapa rasa suka itu kutorehkan pada orang yang tidak seharusnya?
To Be Continued
—oOo—
Bacotan Gajelas Author:
Hai hai hai~ *kedip-kedip* #buagh Maaf lama banget, mana hasilnya gak max lagi. Ini ide dadakan setelah bikin rombakan dari versi sebelumnya. Sumpah, aku udah ngetik naskah ini sebulan yang lalu. Namun, karena enggak puas, aku rombak dan jadilah seperti ini—baca: hasil galauan teman-teman atas perpisahan.
Sebelumnya, aku pengen minta maaf. Sebenernya chap 9 udah kupublish, tapi karena gapuas akhirnya aku edit dikit dan ku-upload lagi. Maaf ya, minna... *pundung*
Hiks, silahkan cincang dakuw! Aku memang bukan author yang pro, tapi aku pengeen sekali aja bikin orang gembira sekalipun dengan karyaku yang acak adul. Maaf, ya~ Bagi yang nanya selesai di chapter berapa, awalnya aku pengen selesain sampe chapter 12—6 pas masa SMA, 6-nya lagi pas kuliah. Namun karena percepatan, jadi 11 kayaknya. Nggak pasti kapan updatenya, tapi gak akan lebih dari tiga bulan kok!
Ini balesan reviewnya ^.^:
Nabilabila: Hiyaa, makasih ya. Enjo kosei itu... Engg... semacam s*ks bebas gitu deh #plak kalo pengen tau lebih banyak silahkan search aja di youtube. Jujur, aku emang tau segitu aja. Bahkan videonya aja gaberani nontonnya! X( Emm... Yang itu gimana ya... Yah, pokoknya liat ajading #buagh
Mikky-sama: Aaaa silahkan marahi sayaa XO saya telat update, maaf... Semoga tetep nunggu kelanjutannya #ditimpuk
cherry kuchiki: Ini udah update—meski lama. Gomenne *bungkuk*
n: Haha makasih, reviewmu membuatku bisa bernapas lega #dijotos ini update, maaf lama...
hyuuchiha prinka: Udah update. Maaf gapake kilat #disangrai
Haiiro-Sora: Makasih *menangis terharu* RnR lagi yaa... #ditinju
Guest: Emm... Makasih. Sebenernya itu ide dadakan. Awalnya aku mau bikin mereka baikan, eh malah dirusuhin lagi #authormasokis Abisnya kalo gapake konflik jadi gaseru hahaha #plak
Valeria Lucifer: Hahaha ngakak jirr. Elo kali yang menjijikkan hohoho LMAO #frontal Yaterus kenapa deh. Fic fic gue, masalah buat lo? #plak
Tsukiyomi Aori Hotori: Oh...Sosweet #ganyambung timeline? Emm... Nanti deh dicek lagi. Semoga yang ini gak eror deh. Hehehe... RnR lagi yaaph :)
ve Degirl: Ini udah update—re-upload maksudnya hehe :B
Unperfect girl: Incest gak yaa... BD #buagh mungkin akan ada adegannya (cuman sedikit), tapi tetep gaakan incest. Budayakan hidup normal! (-_-)/ #dibunuhIncestLovers
Kurasa itu dulu deh. Papayy~
Cha2luvGaGa
