YAKUZA BLOODY LOVE

Chapter 9

Tahun 19xx,

Musim panas tahun itu cukup panas. Hampir seluruh chanel berita Televisi secara kompak meramalkan suhu meningkat hingga 30 celcius. Cuaca panas menyesakan itu akan berlangsung hingga dua bulan kedepan, untuk itu pemerintah memberikan larangan memakai air secara berlebih demi menjaga ketersediaan air kedepannya, setidaknya itu berita terakhir yang di dengar anak bermata hijau cemerlang dan rambut merah di depan televisi. Tangannya sudah pegal memencet remot guna mencari siaran menarik. Namun sayang hampir semua berita dengan seenak hati memotong acara kesukaannya hanya untuk berita tak penting ini. Siapa yang perduli kelangkahan air? Bukankah di laut begitu banyak air? Selama ada laut Amerika tak akan kekeringan.

Gaara adalah anak berumur 7 tahun. Ia tumbuh selayaknya anak-anak Amerika tumbuh. Meskipun ia lahir di Arab ketika orangtuanya sedang melakukan perjalanan bisnis disana, namun ia besar di Amerika hingga sekarang. Ia tipikal anak yang pendiam dan jarang bersosialisasi dengan teman sebayanya. Disaat teman-temannya menikmati libur musim panas dengan mengikuti kemah pramuka musim panas atau menjual lemon tea di depan rumah (seperti dua gadis cilik kalifornia di samping rumahnya. Mereka menjual es jeruk sambil membantu orangtua mereka menjual barang-barang bekas di depan halaman). Gaara tak butuh yang namanya teman atau apapun tetek bengek semacam itu. Selama ada TV, Gameboy, coklat, dan air minum dia tak akan mati bosan.

'membosankan...' Gaara menatap datar semua acara tv yang lewat. Ia terus mengganti chanel tanpa tahu apa yang ia mau tonton. Dibanding kartun Gaara lebih menyukai film semacam detektif yang memecahkan kasus-kasus pembunuhan sadis, film triller menegangkan dengan psikopat yang selalu muncul secara tak terduga dan memutilasi korbannya secara sadis. Di umur ke tujuhnya ini, untuk anak sekecil Gaara ia malah hobby mengumpulkan kaset film horror pembunuhan, triller. Jangan heran jika kau menemukan lemari di dalam kamarnya yang penuh dengan kaset Jiksaw all series, PSYCHO, RingO, Kanibal, dan lain sejenisnya, kau tak akan menemukan komik Donald bebek atau tiga tupai biang onar di sela bukunya.

Gaara pun punya catatan hitam ketika ia kelas 1 SD Morning Laketown, sekolah lamanya di Kansas. Karena sikap cuek Gaara dan tak acuh banyak anak yang berniat membullynya, namun Gaara tak perduli. Hingga suatu waktu ketika Gaara menunjukan bakatnya dibidang seni yang luar biasa, yaitu membuat boneka pinokio sendiri ia mendapat banyak pujian gurunya kala itu. Bahkan lukisannya memenangkan lomba melukis kelas umum se provinsi. Namun Gaara tak pernah mau berbagi cerita atau bergaul dengan teman laki-laki sebayanya, menimbulkan salah paham. Hal tersebut membuat malah ia makin di benci. Hingga muncul seorang bocah yang berkuasa kala itu, ia mengejek gaya Gaara yang suka boneka dan melukis persis perempuan, Gaara tak ambil pusing awalnya namun ketika anak bertubuh lebih besar lainnya menahan tangannya dan anak lainnya mencoba merusak boneka pinokionya disanalah kesadisan Gaara nampak seluruhnya. Ia mengigit dengan bringas kedua tangan anak yang mencegalnya hingga berdarah lalu mengambil pensil baru selsai ia runcingkan sebelumnya, kemudian berlari dan menusuk lubang telinga anak yang merusak bonekanya, belum puas Gaara kembali menusuk tangan anak lainnya. Sehingga ia total melukai 5 anak sendirian secara brutal. Hal ini menyebabkan ia dikeluarkan dari sekolah. Soal hukum? Gaara tetap dapat duduk manis dengan remot tv hingga sekarang, ia kebal hukum karena kuasa ayahnya. Tak ada orang yang berani mengadukan ke polisi ketika mengenal nama keluarganya. Keluarga korban memilih jalan aman dengan hanya meminta uang berobat.

"Gaara, kenapa siang-siang begini malah menonton TV?" Suara teguran seorang gadis remaja menghentikan kegiatannya mengganti-ganti channel.

Anak 7 tahun bernama Gaara itu mendongak, memasang tampang datar namun menakutkan seperti biasa. Jika anak seumurannya biasanya sedang dalam masa bermain yang aktif dengan teman sebayanya dan penuh tawa keusilan namun tidak untuk Gaara. Ia benci bersosialisasi dan Ia benci disapa.

" Aku bosan jadi aku menonton." Jawabnya datar.

Gadis remaja pirag berkuncir empat itu menarik nafas, menatap anak ini jengah. Ia nampak tak suka jawaban ketus itu.

" Apa kau sudah mengerjakan tugas libur musim panasmu?"

"Untuk apa? Kau bukan Guruku dan aku tak mau menjual cookies-cookies bodoh itu."

"Oh, jadi Mr. Jhon menyuruhmu menjual. Jika kau ingin menjual kau bisa bergabung anak tetangga sebelah. Kulihat mereka sedang menjual Es lemontea juga." Saran Temari.

"Anak-anak cewek bodoh itu? Tidak. Aku tak mau." Gaara mencibir sembari melempar tatapan kesembarang arah, asal tak menatap wajah si kakak, Temari.

"Oh, ayolah Gaara." Gadis itu mengangkat kedua tangannya, seakan sudah menyerah dan kehabisan akal bagaimana membuat bocah ini mau mengikuti meletakan tas sekolahnya di atas sofa putih ruangan itu dan mengambil posisi duduk nyaman di samping si bocah bersurai merah.

"Semua anak-anak asik menikmati libur musim panas. Kenapa kau masih disini?" Temari tersenyum lembut, mengelus rambut halus milik adik tampannya ini. Bagaimanapn juga ia tak pernah bisa menghilangkan rasa sayangnya pada Gaara. Temari tahu Gaara adalah orang yang paling kehilangan, dan menderita karena tak bisa merasakan kasih sayang ibu mereka. Sedangkan kakak dan ayah malah memperlakukannya sebagai tersangka atas meninggalnya ibu mereka. Bocah ini lahir tanpa tahu dosanya apa namun telah dimusuhi oleh kakak dan ayah sendiri oleh kematikan sang ibunda tercinta. Dan rasa sakit itu terlihat di cerminan mata hijau zamrud Gaara.

"Aku benci sekolah. Aku benci mereka. Mereka bukan temanku," Guman Gaara. Ia menunduk sehingga surai merah itu menutupi wajahnya. Menyembunyikan rasa terluka dan marah yang selama ia pendam. Temari adalah satu-satunya yang mampu memancing emosi Gaara. Memancing semua unek-unek yang ia pendam dengan rapih dilubuk hatinya.

"Hei! Bicara apa kamu?!huh!"Temari mencabit rambut Gaara gemas, seperti mencabut rumput. Sontak membuat Gaara meringis kesal.

" Meski tidak sekolah formal seharusnya kau menurut dengan Mr. Jhon. Ia dengan baik hati mau jadi guru home schooling-mu! Turuti semua yang ia tugaskan, anak tidak tahu diri! Bisa apa kau memang tanpa sekolah...dasaaar kurcaci ini."

Temari terus memainkan rambut Gaara, berharap pikiran kolot bocah itu sedikit terbuka. Gaara terlihat semakin jengkel dengan ulah kakaknya, mencoba melawat tangan usil si kakak kedua.

"berhenti bermain rambutku!"

" Sudah 2 bulan kamu berhenti sekolah. Menolak teman-teman klub senimu datang berkunjung dan sekarang kau meminta berhenti home schooling?Are You kidding me?!"Temari tetap asik mengerjai si adik. Ia bahkan menambahkan jurus menggelikan perut Gaara, membuat bocah itu menggelinjang kegelian sekaligus jengkel.

"Ahahaha...hentikan Temari-nee-chan!hahaha~"

"tidak akan anak kurcaci!" Temari tanpa ampun terus menggaruk pinggang Gaara, membuat keduanya tertawa bersama tanpa sadar.

Namun keasikan mereka harus terhenti ketika seorang pria dewasa memasuki ruang santai tersebut. Ekspresi wajah dingin langsung dilemparkan kepada si kecil Gaara. Pria itu adalah ayah Gaara.

" Gaara, apa ini yang kuajarkan? Menonton tv dan bercanda?" suara bariton yang keluar dari mulut sang ayah langsung menghentikan tawa dan kegiatan kedua bersaudara ini.

"Ayah sudah pulang," Cicit Temari. Wajah sang ayah tak berubah sedikit pun, matanya tetap terpaku pada wajah pucat dan ketakutan si bungsu.

" Aku menyekolahkan kalian untuk menjadi orang berguna bagi perusahaanku. Tapi lihat apa yang sekarang bocah tak berguna ini lakukan?" Guman sang ayah sinis. Nada bicaranya seperti biasa, begitu dingin dan menusuk ke ulu hati. Setiap kata-kata pria berkepala empat yang merangkak menjadi ayahnya ini sungguh penuh intimidasi, seakan dapat menjatuhkan mental Gaara satu kali. Dunia seakan tak meyediakan tempatnya untuk berlari. Nafasnya menjadi berat dan putus-putus. Kaki bocah tujuh tahun ini pun menjadi lemas sekan kehilangan semua tulang dan persendiannya. Ia butuh tempat berpegangan. Ia takut dengan orang ini.

"A-A-Ayahh..." isak Gaara, dadanya terasa sesak. Matanya berkaca-kaca namun ia tak berani menunjukan kepada ayahnya. Itu akan menimbulkan masalah lagi, ayahnya tak suka melihatnya menangis. Bibirnya bergetar hebat, seakan ingin meminta tolong diselamatkan dari situasi menakutkannya saat ini. Ia takut, sangat takut dengan orang ini. Orang ini pasti marah padanya, jika ia marah maka Gaara akan dihukum. Gaara takut hukuman. Ia benci dihukum.

"Kurasa aku terlalu lembut mendidik kalian hingga tak ada rasa hormat pada diri kalian. AKU MENINGGALKAN KALIAN 2 BULAN DAN KAU BERANI MELANGGAR PERINTAHKU?!" Geram pria bersurai ungu itu. Suara besarnya mengagetkan kedua anak itu satu kali. Sekali tarik ia mengangkat kerah baju Gaara di belakang dan melemparkan tubuh itu kelantai.

BRAAK

"KYAA...GAARA!" Jerit Temari ketakutan.

Gaara terlempar keras hingga menabrak rak kaset dekat tv. Beberapa sampul DVD dan kepingan CD jatuh dan mengenai Gaara. Gaara tak sempat melindungi diri hingga ia merasakan pening ketika kepalanya membentur badan lemari kaset.

"Ayah...ampuni Gaara, Gaara tidak bersalah. Ia lelah terus belajar seharian, biarkan ia bermain seben-" Temari berseru ketakutan, ia dapat melihat Gaara hanya duduk terdiam dengansetengah tubuhnya miring dan bersender di rak sangat terkejut hingga tak dapat menunjukan ekpresi lain. Matanya membola sempurna. Temari berharap Gaara masih kuat dan tak jatuh pingsan. Temari sangat tahu perangai ayah mereka ketika marah, ayahnya tak akan berhenti sampai salah satu dari mereka pingsan atau mati jika ia benar-benar marah.

" Ini bukan salah Gaara ayah. A-aku...aku lah yang mengajaknya menonton tv dan bermain," Bela Temari. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya setelah ini tapi ia yakin ayahnya tak akan segan-segan memberikan hukuman yang sangat menyakitkan lebih dari ini. Temari meraih tangan ayahnya dan merangkulnya erat, berharap sang ayah akan menghentikan semua ini.

" Lelah belajar katamu?" hardik sarkarme si ayah. Matanya mendelik galak ke bocah tak berdaya di hadapannya lalu ke sofa ruangan itu. Matanya menangkap sebuah boneka kayu kenang-kenangan Gaara, boneka pinokio buatan pertamanya yang sangat anak itu sayangi lalu berahli ke meja kaca di depan sofa yang penuh dengan buku gambar sketsa rancangan boneka lain dan beberapa coklat batang.

"apa ini yang disebut belajar?!HAH!" pria itu menyapu bersih semua barang diatas meja dengan tangan besarnya, menghamburnya ke lantai lalu melemparkan buku-buku itu di kaki Temari.

" APA YANG AKAN IA LAKUKAN DENGAN HOBBY TIDAK BERGUNANYA INI!"

Ayahnya membuka lembaran-lembaran buku sketsa Gaara kasar. Pinggir halamannya hingga kusut dibuatnya. Gaara menatap tak suka perlakuan ayanya pada buku setsanya. Seakan ayahnya menghina jati dirinya.

"hentikan..." guman Gaara pelan, nyaris tak terdengar.

" LIHAT GAMBAR-GAMBAR KONYOL INI!"

"Hentikan..."

" LIHAT SEMUA SAMPAH HASIL BELAJARNYA SELAMA INI!AKU MENYEKOLAHKAN MU BUKAN UNTUK MENJADI PENCIPTA BONEKA, ANAK SIALAN!"

Pria itu mengambil boneka kayu Gaara dan membantingnya, kemudian ia mengambil pemukul baseball lalu ia menghantam ke boneka itu tanpa ampun.

" KAU MAU JADI SEPERTI ORANG TAK BERGUNA ITU? AKU BISA MENGUSIRMU SEPERTI SASORI!"

.

.

'JANGAN...HENTIKAN DIA! ITU BONEKAKU! DIA AKAN MERUSAKNYA! LAKUKAN SESUATU, KUMOHON...!'

.

.

"HENTIKAN!"

Gaara berlari dengan luapan emosi tak terkendali. Tangannya meraih pena tinta runcing. Dengan membabi buka meyerang sang ayah dengan bermodal senjata pena tinta itu. Ia tak tahu apa-apa lagi. Tidak! Ia tidak perduli apapun lagi! Tak akan ia biarkan orang itu menghancurkan karya seninya! Karena boneka itu adalah barang berharga miliknya! Tidak ada seorang pun yang boleh merusak karya seninya.

BRUAKK

"Gaara!"

Lalu semua menjadi samar-samar. Ada banyak suara mengganggu. Suara bantingan. Tulang yang patah. Jeritan Temari. Hingga makian sang ayah.

Gaara tak ingat banyak. Yang ia tahu ketika itu adalah telinganya berdengung keras. Tubuhnya mati rasa. Ia terjatuh menambrak lantai dingin seperti papan yang roboh. Seakan rasa sakit itu mendadak hilang seketika. Ia mati rasa. Tubuhnya menolak perintahnya bergerak. Bibirnya bungkam seribu bahasa, padahal ada begitu banyak kata yang ingin diucapkan. Ia ingin memaki apapun yang ia tahu tapi ia tak mampu mengemukakannya selain ringisan.

.

.

.

KLONTANGG

Suara kayu pemukul baseball dilepas sembarang oleh si pemegang setelah puas memukul tubuh tak terbujur kaku itu.

" Apa yang kau harapkan dari benda mati itu? Kesabaranku sudah habis. Aku akan mendidikmu langsung." Ujar pria itu dengan suara berat. Wajah tampak tak merasa bersalah setelah menghajar anaknya dengan pemukul baseball karena berani menyerangnya. Ia langsung secara naluri menghajar Gaara tanpa ia masih cukup waras untuk menahannya agar si anak tidak mati. Setidaknya belum saat ini. Ia tak inginmembuat istriya di akhirat sana mengutuknya sampai mati.

" Anak durhaka ini akan ku bawa ke Itali besok. Siapkan semua barangnya." Kata pria itu, sembari melap tangannya dengan sapu tangan. Tangan sedikit berkeringat karena perang kecil keluarganya ini. Ia meminta langsung beberapa pelayan lain mengangkat tubuh mungil Gaara yang tak berdaya dan menyurh yang lain membersihkan kekacauan disana.

Mata hitam kelam itu menatap anak gadis satu-satunya diruangan itu. Temari menatapnya dengan ekpresi terluka namun ia tak berani membantah sang ayah.

" Aku melakukan ini demi keluarga kita,Temari. Ku harap lain kali kau tahu apa yang terbaik untuk adik-adikmu." Ujarnya dingin, sebelum akhirnya ia meninggalkan Temari sendirian dalam kesunyian.

.

.

.

"Aku benci boneka. Buang semua boneka kayu itu!" Jerit Gaara pada pagi harinya. Entah menapa anak ini terbangun dengan perban di beberapa tubuhnya langsung melompat dari kasur dan membuang semua boneka kayu di dalam kamarnya. Semua adalah karyanya.

Para pelayan ketakutan dan tak berani melagkah lebih dari depan pintu karena Gaara akan membuang semua boneka kayu itu kepada siapapun yang mendekat. Boneka itu mengenai apa saja. Tak jarang mengenai kaca lemari hingga retak, vas bunga atau rak buku. Tak ada yang berani menghentikan Gaara. Hingga munculah orang itu.

"Ada apa ini?" Tanya pria muda bernama Yasahamaru. Ia datang ketika mendengar suara ribut-ribut dari kamar Gaara. Pertanyaannya terjawab ketika melihat Gaara berdiri diatas tempat tidur, masih lengkap dengan piayama miky mouse birunya, dengan wajah penuh amarah. Rambutnya sedikit lepek karena keringat. Gaara sedang mengamuk.

Yashamaru datang dan menghampiri si kecil Gaara dengan tenang sembari tersenyum penuh kehangatan, seakan senyumannya itu adalah senjata terbaik menenangkan Gaara. Gaara tak bergeming. Mata hijaunya menatap nyalang ketika Yashamaru mendektinya berlahan kemudian berjalan kesisi tempat tidur. Gaara entah mengapa tak bisa menyakiti orang ini. Ia merasakan senyuman itu hanya ada untuk mengejeknya, meremehkan dirinya yang cengeng dan lepas emosi hanya karena sebuah boneka. Tapi ia tak akan menghilangkan rasa kesalnya. Tatapan Gaara seakan ia anak anjing yang siap mengigit kapan saja. Tapi di mata Yashamaru ia hanya anak anjing yang banyak terluka dihatinya. Ia butuh kasih sayang dan dekapan hangat.

" Hei, hei tenanglah jagoan. Tenangkan dirimu. Setelah itu aku berjanji akan membuang semuanya." Yasahamaru naik keatas kasur berantakan itu, lalu meraih tangan Gaara yang masih mencengkram boneka kayu terakhir. Yashamaru menggenggamnya dengan penuh sayang, menyalurkan rasa cintanya lewat sentuhan dan usapan lembut.

Gaara tak berkutik. Ia ingin menepis sentuhan itu dan mendorong pemuda itu, apapun asal ia bisa menghindar dari tatapan teduh miliknya, namun bibirnya tak bisa mengeluarkan makian apa-apa. Tangannya mendadak lemas sehingga berlahan boneka kayu itu jatuh tak berdaya di samping kakinya. Dan tanpa diminta, air mata memalukan harga diri Gaara itu akhirnya luluh. Aliran air mata menetes di pipi bayi Gaara. Bocah itu mencoba menyangkal rasa sakit hatinya dengan menahan isakannya keluar jadi ia mengigit bibirnya tapi ia malah membuat dirinya kesakitan. Bocah rindu kasih sayang itu menangis.

Orang yang sangat mirip mendiam ibunya memeluknya erat, memaksa tangan Gaara terkurung dalam pelukannya sehingga ia tak bisa meraih benda lain.

" Yashamaru,hik..hik...ayah membenciku karena aku membuat boneka bodoh itu. Hik..hhik...karena boneka itu aku dibenci teman-teman. Tapi aku kan..aku..."

"sst...ssst,aku tahu. Aku tahu." Hibur si Yashamaru. Tangannya terus mengusap helaian surai merah Gaara. Lilitan perbann di kepalanya membuat anak ini makin terlihat menyedihkan. Sebenarnya apa yang keluarga ini benci dari anak ini sehingga bukan kasih sayang yang bocah ini terima melainkan pukulan, makian, tekanan dan luka di hati. Bahkan anak ini belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.

"Gaara tak bisa meninggalkan boneka kayu karena itu hal yang Gaara mampu dibanding yang lain. Ibu Gaara dulu juga pintar membuat boneka dan ia mengajarkannya ke pada kankuro. Jika tak percaya tanyakan padanya." Hiburnya.

Gaara berlahan bisa menguasaiisakan tangisnya, terasa sedikit sakit dihatinya namun ia terkejut dengan ucapan pengasuhnya ini.

"Be-benarkah? Tapi kenapa ayah tidak marah padanya?" mata hijau Gaara berkedip lucu,

"karena kankuro menggunakan boneka itu untuk sesuatu yang lebih menguntungkan. Ini hanya rahasia kita, tapi kankuro biasa menyeledupkan senjata di dalam boneka untuk mengalahkan lawan ayah. Boneka kankuro berguna sehingga ayahmu tak melarang."

"jadi...aku harus membuat boneka senjata yang berguna juga?"

"tidak harus. Gaara lah yang akan membuat sesuatu yang dapat membuat Gaara senang juga ayah bisa bangga padamu."

" apa aku haus membuat boneka yang berguna juga?"

"ya...coba pikirkan ide apa yang ingin kamu buat?"

"mmm...aku ingin membuat boneka hidup! Agar dia bisa menemaniku dan melindungiku!"

"hahaha..sepertinya itu ide yang luar biasa. Gaara memang hebat,ya."

"be..benarkah?"

"hm!" yasahamaru mengangguk mantap.

'Ya, ayahmu memang sudah berhasil membuat banyak orang tunduk padanya layaknya boneka sejak menjadi mafia. Suatu saat kau akan melampaui kekuatannya. Membalas kekejaman ayahmu, keluargamu dan dunia. Membuat dunia ini tuduk padamu Dan aku yang akan membantumu mewujudkannya dari sekrang'.

"sekarang bantu aku membereskan bajumu. Kau akan ikut ayahmu ke Italia."

"kenapa? Aku tidak mau pergi. Aku mau bersama Yashamaru saja disini."

" Kita akan sering bertemu nanti, asal kau sekolah dulu disana. Supaya kamu bisa membuat boneka yang keren. Kamu butuh belajar membuatnya bukan?"

"tapi, Yashamaru..."

"Aku tak akan pergi jauh, karena aku ada disini."kata Yashamaru sembari menunjuk dada kiri Gaara." Disini. Aku akan selalu ada dihatimu sebagai malaikat pelindungmu."


Dua minggu di italia,

Gaara telah mencoba menjadi anak baik bagi ayahnya, ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Ajaibnya rasa untuk membuat boneka berlahan memudar diganti rasa benci ketika melihat ayahnya. Dua minggu di italia ayahnya langsung memasukannya ke sekolah swasta mahal di Italia. Sekolah yang memiliki kelas minat bakat terbanyak untuk SD umumnya. Tentu saja ayahnya memberikannya perintah untuk mengikuti kelas yang tidak berhubungan dengan seni, apapun itu. Entah mengapa seni bagi ayahnya seperti kotoran sapi. ayahnya menyarankan mengikuti klub robotik. Merakit tak berkata apa-apa, tapi itu lebih baik dan berguna.

Ayahnya pun tak berarti akan tinggal dan menemani Gaara sekolah. Tidak, bahkan ayahnya langsung pulang kembali ke amerika setelah menyerahkan daftar tanggung jawab kepada seorang pria tua, berketurunan jepang, bernama Tanaka untuk mengurus mension mewah mereka beserta Gaara di dalamnya. Ayahnya memastikan akan menceknya setahun sekali apa ia masih hidup atau tidak. Itu saja, dan jika sedang tidak beruntung seperti ada kunjungan bisnis di italia dan terpaksa menginap di sana ia akan menyempatkan diri 'mencek' Gaara.

Ayahnya pergi begitu saja setelah tanaka menerima kunci dan kartu kredit uang belanja Gaara. Bocah itu hanya berdiri diatas tangga. Ayahnya pergi tanpa kecupan atau apapun itu. Ia akan memulai hidupnya yang semakin spi. Terisolasi dari dunia luar di negeri orang.

Warna indah daun-daun musim gugur menjadi pemandangan utama jalan menuju sekolah swasta ES. Louise Marria. Anak-anak harus memakai syal atau sweeter untuk menangkal suhu roma yang turun menjadi 19 derajat. Suhu dingin menusuk ketika memasuki bulan oktober.

Gaara hanya memandang bosan hamparan gundukan daun mati yang dikumpulakan tukang bersih-bersih sekolah di sekitar lapangan bola. Tak ada anak gila yang bermain bola di suhu dingin yang membuat mengantuk ini. Dari tempat duduknya yang terletak didekat jendela di lantai dua memudahkannya melirik pemandangan di halaman sekolah jika ia sedang jenuh dengan gurunya.

Sekarang Gaara dapat melihat tukang sapu itu mengangkat sapunya, terlihat sedang marah-marah dan memaki anak-anak kelas 3 SD yang dengan isengnya menendang hasil jerih payah si tukang menyapu. Daun-daun itu kembali berserakan, Mereka tertawa senang menjahili si tukang bergaji kecil. Gaara mendengus, anak-anak itu belum tahu rasanya menjadi pekerja seperti orang tua itu. Jika menjadi tukang itu, ia tak segan menyeret anak-anak itu ke kolam ikan dan mencuci kepala bodoh mereka itu.

saking asiknya melamun, Gaara tak menyadari ketua kelasnya , Menma Namikaze memanggilnya beberapa kali.

"... , Gaara."

Gaara mendongak kepada si pemanggil. Menma adalah ketua kelasnya, umurnya lebih mudah sedikit darinya. Mereka sama-sama meloncat kelas karena jenius. Gaara dan Menma duduk di kelas 4 A. Kelas favorit. Tahun ini Gaara genap 8 tahun. Namun ia tumbuh dengan cepat ketika musim semi kemarin. Tingginya sudah setinggi anak kelas 3, meski ia dan Menma yang paling kecil di kelasnya.

"what?" Jawab si rambut merah dingin. Gaara tetap menggunakan bahasa ibunya. Ia tak mau repot-repot menggunakan bahasa italia. Meskipun ia cepat pandai menguasainya setahun lalu (terutama istilah bar-bar yang diajarkan Tanaka).

Anak berambut pirang seperti lemon itu menyerahkan amplok emas di atas mejanya.

Mata Gaara melempar tatapan 'apaan ini,nyet?'

"Aku dengan senang hati mengundangmu ke acara ulang tahun ke-7 ku minggu ini, jika kau ada waktu tentu saja." Ujar Menma dengan lancar, seakan ia telah membacanya didepan presiden. Gaara rasa Menma orangtua yang terjebak ditubuh anak-anak.

Gaara tak ada niat untuk menyentuh atau membuka dan membacanya undangan itu barang sedikit.

"Akan ada banyak yang kuundang. Termaksud wali kelas dan guru-guru lain. Semua teman di kelas sudah ku undang. Datanglah," pinta Menma formal. Setelah itu Menma langsung memohon diri dan meninggalkan Gaara sendiri. Kelas sudah bubar sejak tadi ternyata.

Gaara cukup tahu alasan Menma mengundangnya, sejak lama mereka dijuluki 2 jenius di sekolah tentu saja Menma ingin membuat rumor kalau mereka akrab disela peperangat sengit menjadi anak terjenius. Mereka selalu bergantian meraih penghargaan di akademik maupun non academik. Menma tipe anak tak mau kalah dan penjilat, itu menurut Gaara. Tak ada yang memaksanya berteman dengan anak lemon itu.

Namun nyatanya Gaara menghadiri juga pesta ulang tahun bocah itu dua hati kemudian.

Gaara baru mengetahui betapa sempurnanya hidup bocah bernama Menma itu. Rumahnya sangat besar, lebih persis istana dengan seni tinggi. Orangtuanya lengkap dan hadir diacara ulang tahun meriah Menma. Kemudian Gaara melihat dua orang pemuda, seumuran kakaknya memberikannya kado dan pelukan. Kedua pemuda itu pasti kakak-kakak Menma. Entah mengapa membuat Gaara muak. Keluarga Menma terlalu sempurnatanpa cela. Ia juga mendengar desas-desus kalau ayahnya seorang calon perdana menteri dan pengusaha besar. Ibunya memiliki rambut merah sepertnya,ia wanita cantik dan enerjik.

Acara sangat meriah dan mewah, Gaara sangat jenuh. Banyak seniornya menyapanya sesama klub robotic namun Gaara memilih diam seribu bahasa. Ia lalu pergi keluar dari aula acara. Gaara terus berjalan tanpa tujuan yang jelas, melewati lorong kolidor manor. Sangat luas dan meyeramkan. Gaara kadan mendapati pintu dengan tembok kosong didalamnya. Rumah ini penuh jebakan untuk membingungkan penyusup, pikir Gaara. Lalu acara inti mulai terdengar sayup0sayup dari tempat pesta tadi. Mereka sedang menyanyikan lagu happy birthday dengan bahasa italia yang nyaring. Gaara tak berniat kembali. Ia ingin terus meliat tiap kamar jebakan ini.

'selamat...ulang...tahun...,"

Gaara terhenti tiba-tiba. Baru saja ia mendengar suara seseorang bernyayi mengikuti potongan lagu. Suaranya pelan dan serak tapi ia yakin itu bukan salah dengar. Sangat jelas barusan itu.

Gaara berjalan perlahan ke sumber suara yang semakin keras menyanyikan lagu ulang tahun.

Disana, di ujung ruangan redup ia melihat seorang anak terduduk didepan tembok polos. Tak ada ruangan apa-apa di sana. Hanya anak berambut pirang panjang acak-acakan seperti tak pernah menyisir rambut selama setahun. Baju kemeja lengan panjangnya kotor seperti ia habis bermain digudang dalam rumahnya. Kotor dan penuh debu. Apa ia hantu? Atau anak pembantu?

Anak itu seperti menikmati menyanyikan lagu dengan sumbang, kadang ia mengguman tak jelas jika ia lupa liriknya. Lalu ia tertawa ketika mendengar suara tepuk tangan riuh-riuh terdengar dari jauh. Seakan ia yang berulang tahun saat itu. Gaara sangat penasaran dengan anak ini.

"Hei, siapa kamu?" tanya Gaara.

Anak itu seakan tersambar listrik, ia berhenti tertawa dan diam membeku. Apa Gaara mengejutkannya?

Tanpa diduga anak itu mendongak. Ia menatap Gaara penuh rasa terkejut, takut, namun penasaran. Gaara kemudian memberanikan diri mendekat, menatap anak yang terduduk manis di lantai.

Mata shapire bertemu hijau daun. Sangat indah. Pikir keduanya. Kedua terpaku ditempat, saling mengagumi iris bola mata masing-masing.

"Aku Gaara, temanku mengundangku ke acara ini. Kenapa kau ada disini? Siapa kamu?"

Gaara bertanya datar namun terkesan haus keingin tahuan.

Anak itu menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum lebar,"Nalu..aku naluto."

"naluto?"

Anak itu menggeleng dan lucu dan mengibaskan kedua tangannya seperti mengusir lalat," bukan!naluto..! pakai rrlll~"

Dia sepertinya kesulitan menyebut R karena cadel. Gaara mengangguk mengerti.

"Baiklah, namamu Naruto, ya?"

"YA!YA!"

Anak itu mengangguk semangat, sampai Gaara takut jika kepalanya terlepas kapan saja.

"Naruto suka lagunya. Naru nau lihat Menma ulang tahun tapi papa larang naru keluar." Kata anak itu, ada nada sedikit sedih namun ia terlihat seperti sudah biasa. Ada tekat kuat tersembuyi dan rasa ingin tahu di sinar matanya.

"apa kamu anak pelayan?"

"bukan, naru anak papa minato dan mama kushina!"

" Lalu kenapa kamu disini dan bajumu kotor sekali!"

Anak itu terlihat semakin sedih. Ia mencengkram ujung kemejanya.

" Papa bilang naru nakal, makanya naru harus tinggal dikamar, tidak boleh keluar malam ini." Ujarnya polos. Entah mengapa Gaara seperti melihat anak ini bernasib sama dengannya. Atau lebih buruk lagi. Terlihat dengan kondisi anak ini. Ada banyak luka-luka sayatan kecil di lengannya entah karena apa. Yang jelas ia diperlakukan tidak baik.

"mana kamarmu? Biar aku antar kamu kalau begitu." Sikap heroik Gaara mendadak muncul. Ia sendiri tak sadar mengatakan itu.

"disini." Anak itu melangkah menjauh dan menunjutk tempat duduknya barusan. Sebuah pintu kayu menuju ruang bawah tanah?

"Berapa umurmu?"

"sama dengan Menma. Enam,eh, tujuh...segitu deh..hehehe"

Kedua anak itu sedang duduk dikamar yang serba pink. Semua jauh dari bayangan Gaara, sempat ia mengira bahwa Naruto tinggal di dalam sel yang mirip sel tahanan penjajahan jaman dulu. Nyatanya Naruto memang memiliki kamar yang sangat nyaman dan girly.

Ia makin terkejut mengetahui Menma dan Naruto adalah saudara kembar. Namun dilihat apa yang terjadi Naruto seperti dunia lain bagi Menma. Naruto bahkan lebih kurus, pucat, kotor dan tak mengurungnya seperti hewan ternak. Rasanya sulit dipercaya. Begitu banyak teka-teki tentang rumah dan anak ini. Gaara menduga sementara ia anak yang disembunyikan dan rumah ini didesain agar tak ada yang mudah menemukannya. Sangat berelian.

Tak terasa waktu sudah 20 menit sejak ia menghilang. Gaara harus segera kembali. Ia beranjak hendak berpisah dengan Naruto, namun anak itu seakan tak rela Gaara pergi sesenti saja dengannya. Tangan mungilnya mencengkram ujung tuxedo coklat Gaara.

"mau kemana?"

"Maaf aku harus pulang. Menma akan mencariku. Dan kau akan dalam masalah."

"tapi..."

Gaara jadi kasihan. Lalu ia teringat sesuatu. Buru-buru ia keluarkan kotak kado yang ia simpan di balik jasnya. Sebuah kubus kado tak terlalu besar. Sebenarnya Gaara hendak memberikan kado ini ke Menma, isinya kotak musik yang biasa di kamar anak cewek. Ya ia hanya ingin mengerjai Menma dengan memberikan hadiah perempuan. Namun terlintas ide membrikan kepada anak itu karena ia menolak berpisah. Berharap anak itu akan tak sedih dan kesepian lagi.

"ini kado untukmu."

"Untukku?" Naruto nampak terpanah." Kurama dan pain suka memberikan kado juga. Apa ini sama?"

"tidak. Kalau orang yang memberikanmu dihari ulang tahunmu, maka ini kado ulang tahunmu." Gaara berseru. Ia tersenyum tipis. Kebahagian Naruto turut menular pada Gaara ternyata. Ia tak tahu kado tak seberapa harganya itu mampu membuat anak itu senang bukan main. Setelah puas tersenyum dan mengucapkan terima kasih Naruto memeluk Gaara erat. Gaara mencoba menghiraukan debu yang bisa saja menempel di jaz mahalnya.

"Gaara datang lagi ya?" mohon anak itu.

Gaara terdiam sejenak lalu menjawab," ya, mungkin."

Suatu kata yang biasa namun dianggap sangat berarti bagi teman pertama Gaara sekaligus Naruto. Kenangan manis yang tak pernah dilupakan seorang psycopat bernama Gaara.

Karena tawa seorang anak kumuh yang terkurung dalam sangkar emas. Karena senyum dari bocah yang tak pernah melihat matahari. Karena pelukan seorang anak yang selalu disiksa di bawah tanah. Dan demi permohonan si kecil yang terlupakan, Gaara bertahan dan menentang arus dunia. Menghimpun kekuatannya sendiri Sehingga suatu saat ia dapat menepati janjinya. Membawa anak itu keluar untuk selamanya dari sangkar emasnya itu.

Entah berapa kali Naruto memutar kotak musik itu, namun ia tak tahu kapan tuhan akan mengijinkan ia bertemu kembali dengan anak berambut merah itu. Namun Naruto tak pernah lelah menunggu. Karena ia yakin anak laki-laki itu akan menepati waktunya.

BACKSONG:

SIMFONY HITAM-SERINA

Malam sunyi kuimpikanmu

Kulukiskan cita bersama

Namun s'lalu aku bertanya

Adakah aku di mimpimu
Di hatiku terukir namamu

Cinta rindu beradu satu

Namun s'lalu aku bertanya

Adakah aku di hatimu

T'lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

Bila saja kau di sisiku
'Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu

Back to Reff

Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….

Back to Reff

T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

END GAARA'S FLASHBACK

TBC


A/N:

Terima kasih banyak yang sudah membaca cerita abal ini. Saya tahu banyak kekurangan dan mengecewakan para reader semua. Mulai sekarang eri gak mau buat cerita yang terlalu parah. Berhubung kuliah sudah aktif sekali lagi , makin banyak waktu tersisih buat kampus dan tugas. Eri sebenarnya anti soal juga sih, gak terlau hangout kemana2 yg gak penting tapi tugas eri makin menumpuk (halo aljabar linear, kalkulus dan peranak lainnya, go to hell!)

Abaikan typo diatas. Eri gak sempat perbaiki beruhubung ini di ketik di tengah malam dan kamar gelap gulita, aku sulit perbaiki (dasar pemalas!). yang penting publish. Setidaknya satu bulan satu kalilah. Yang penting bertanggung jawab toh. Eri gak mau kamu gentayangi eri karena mati penasaran. Hehehe

Terima kasih yang sudah meriview, baik yang dukung dan terus menulis kata lanjuttt thor! Dll terimakasih banyak. Baca review kalian kaya lihat oasis di padang pasir kampus. Sekali lagi, saya gak sempet bales tapi semua pesan kalian sudah tersampai dihati daku.

Kemarin ada juga yang memberikan eri sebuah nasehat/review dari kisah nabi Luth. Pas baca itu hati eri jadi gunda gulana durgam merana. Eri jadi mikir kalo eri kaya istri nabi luth yg fujoshi jaman jahilia. Sebelumnya juga eri udah berhenti dari semua club2 fujoshi,yaoi apapun itu namanya di f**ebook (tolong jgn mencibir). Munkin eri sudah merasa dewasa dan tua...eri mau berhenti jadi fujoshi secara berlahan. Eri tahu eri udah kaya istri nabi luth sekrang dan eri gak mau indonesia di hancurkan dari langit (okey, imajinasi eri terlalu ekstrim). Meski masih susah berhenti, eri mulai jarang baca manga yaoi kecuali ada kesempatan. Atas dasar itu juga yg membuat YAKUZA BLOODY LOVE macet di tengah aajalan.

BUT, DONT WORRY, eri akan selesaikan ceritanya tanpa memaksakan straight. Ini fic sudah YAOI saya rubah ke BL saja untuk amannya. Semoga kalian gak menyesal. Terima ksih atas dukungan dan pengertiannya selama ini. Saya senang kalian suka baca fic NISTA ini. Hehehe

Pis,lop en gaul.