Responsible Love
.
Chapter 9. Family Dialogue
.
.
.
Pada pagi hari itu nampak Thorn dan Blaze sedang berdua saja di kamar khusus untuk resident senior. Keduanya baru saja selesai mandi dan berpakaian serapi mungkin. "Kamu sudah siap, Blaze?" Thorn bertanya sembari menggulung lengan kemeja putihnya yang panjang.
Blaze yang sudah berkemeja berwarna merah tua menarik napas panjang. "Siap ngga siap..." Berbagai macam pertanyaan yang hendak dilontarkan dan berbagai macam skenario yang mungkin terjadi berputar-putar didalam kepalanya.
"Setelah Family Dialogue ini mungkin kita hanya tinggal hitungan bulan saja, Blaze... Kita akan bebas." Ujar Thorn sembari tersenyum ceria. dan berusaha mengangkat semangat kakaknya.
Blaze meneguk ludahnya ketika matanya menatap Thorn yang tersenyum riang itu. 'Thorn... Andai saja kamu tahu yang sebenarnya' Lirih Blaze di dalam batinnya. "Ya... Kamu akan bebas, Thorn."
"Koq aku saja? Kita berdua lah!" Penuh dengan euforia, Thorn mengaitkan lengannya pada pundak kakaknya dan memeluknya.
Blaze berusaha tersenyum ketika melihat euforia adiknya itu. "Apa rencanamu setelah ini semua berlalu, Thorn?"
Thorn tidak pernah berpikir terlalu lama dan jawabannya ketika sedang euforia, sedang terlalu gembira, justru adalah jawabannya yang paling polos. "Tidur di ranjang sendiri... Mandi di kamar mandi sendiri... Ngga berbagi dengan belasan resident lain... Sekolah lagi, entah aku kangen dengan sekolah kita... Kamu sendiri?"
Keceriaan dan kegembiraan Thorn malah membuat Blaze semakin tertekan. "Ah.. Aku belum ada rencana... One Day At A Time saja, kuhadapi saja satu-persatu. Daripada membuat rencana muluk-muluk malah gagal terus bikin stress."
Thorn yang biasanya tidak menghiraukan keaadan dan orang-orang di sekitarnya kali ini menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan kakaknya. Pengalamannya selama menjalani rehabilitasi membuatnya menjadi sadar dan kritis terhadap segala sesuatu yang tidak pada tempatnya atau segala sesuatu yang tidak biasanya. "Blaze... Kamu kenapa? Kita sebentar lagi akan bebas... Tapi kamu kelihatan... Murung?... Eh bukan, apa ya? Pundung? Ngga juga... Ya pokoknya ngga beres deh."
"Nanti, Thorn... Semua akan kubuka di Family Dialogue kita... Tapi untuk sekarang... Simpan kata-kataku ini... Aku minta maaf kepadamu." Dengan senyuman yang sangat dipaksakan , Blaze mengucapkan kata-katanya. "Aku mohon, untuk kali ini... Jangan bicara padaku sampai Family Dialogue kita dimulai... Aku minta kita ex-com dulu."
Thorn meneguk ludahnya mendengar permintaan kakaknya itu. Selama didalam rehabilitasi itu belum pernah ada orang yang meminta ex-com secara sukarela. Ex-com atau ex-communicato itu adalah sangsi serius dimana yang terkena sangsi itu dilarang bicara kepada resident lain dan resident lain pun dilarang bicara kepadanya. Aneh bagi Thorn kalau Blaze sampai secara sukarela meminta ex-com dengan dirinya. "Baiklah, Blaze... Kita Ex-com."
Tanpa berbicara sepatah kata pun, bahkan seperti tidak mengenal satu sama lain, Blaze dan Thorn yang sudah rapi berpakaian beranjak keluar dari kamar mereka dan berjalan menuju sebuah ruangan khusus yang tertutup untuk menunggu kedatangan ketiga kakak mereka.
.
.
.
Taufan, Halilintar, dan Gempa baru saja tiba di panti rehabilitasi itu dan langsung disambut oleh konselor KoKoCi.
"Kalian bertiga sudah siapkah?" Tanya Konselor KoKoci setelah menerima ketiganya dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam bangunan panti rehabilitasi itu.
Taufan yang pertama menjawab. "Siap, Bang KoKoCi. Aku kangen dengan mereka berdua... Rumah kita terasa sepi tanpa mereka." Terlihat dari gerak-gerik bahasa tubuhnya kalau ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua adik-adiknya.
Halilintar yang mendengar jawaban Taufan langsung memutar bola matanya. "Sepi tapi damai, Fan... Hampir enam bulan ini rumah ngga seperti kapal pecah. Kecuali kamu yang suka mengigau tengah malam."
"Yah namanya kakak wajar kalau kepikiran adik, ya kan, Fan?" Kali ini Gempa yang bertanya dan berusaha menengahi Taufan dan Halilintar.
Memang sejak Blaze dan Thorn tidak ada dirumah, Taufan jadi lebih sering menjahili Halilintar sebagai bentuk pelampiasan rasa kehilangan yang dialaminya. Kalau tidak sedang menjahili Halilintar, Taufan biasanya lebih suka berada di kedai, ia tidak tahan dengan suasana rumah yang sepi tanpa kehadiran kedua adiknya.
"Bagus kalau kalian bertiga sudah siap." Ujar Konselor KoKoci sembari mengantarkan ketiga kakak-beradik itu mendekati sebuah ruangan yang tertutup. "Seperti yang aku beritahu. Biarkan mereka dulu yang bicara sampai selesai. Jangan potong ucapan mereka. Dengarkan saja. Kita berdialog, bukan berdebat."
"KAKAK!" Pekik Blaze ketika ia melihat Taufan memasuki ruangan itu. Tanpa ragu-ragu ia berlari menghampiri kakaknya itu dan memeluknya erat-erat. "Aku kangen Kak Taufan... Aku... minta maaf, kak..." Isaknya selagi air matanya menetes tanpa terbendung lagi.
Begitu pula dengan Thorn yang hampir melompat menerjang Taufan sebelum memeluk kakaknya itu sekuat tenaga. "Aku minta maaf kak... Kami kangen Kak Taufan."
Taufan terbengong sesaat ketika dirinya dipeluk erat-erat seakan tidak ada hari esok oleh kedua adiknya yang sudah berbulan-bulan berpisah dengannya. "B... Blaze? Thorn?" Bibir Taufan bergetar ketika menyebut nama adik-adiknya itu. Suara kedua adik-adiknya itu langsung bagaikan lagu yang sangat merdu di telinganya. "Aku.. Rindu.. Kalian..." Dibenamkan wajahnya yang sendu pada kepala kedua adiknya itu.
Gempa yang melihat pemandangan itu langsung menitikkan air matanya. Kedua adik-adiknya itu terlihat sangat berbeda, jauh lebih dewasa dibandingkan ketika pertama kali melangkahkan kaki ke dalam panti rehabilitasi itu. "Thorn..." Bisiknya dan langsung memeluk adiknya itu setelah Thorn melepaskan pelukannya pada Taufan. "Aku... Kangen... Padamu, Thorn" Ucap Gempa ditengah-tengah sesegukannya yang tak kunjung reda.
Seperti biasa, Halilintar mendengus dan menarik napas panjang melihat pemandangan yang mengharukan di hadapannya. "Blaze... Thorn... Aku... Minta maaf..." Ujarnya dengan suara yang tercekat. "Aku minta maaf... Aku sudah... Menggampar kalian berdua... Balaslah kalau kalian mau..."
Blaze tersenyum dan memeluk kakaknya yang tertua itu. "Kak Hali ngga salah... Kita berdua yang memang salah... Aku minta maaf, kak."
Thorn dengan senyumannya yang polos kini memeluk Halilintar. "Ya, kita berdua salah kak... Aku minta maaf... Tapi jangan gampar lagi ya... Sakit". Ujarnya dengan menggerutu.
Konselor KoKoCi mendehem. "Silahkan duduk semua... Sudah saatnya kita buka semua permasalahan kalian. Ingatlah bahwa narkotika ini adalah masalah keluarga. Yang kena mungkin satu orang, tapi semua anggota keluarga akan merasakan akibatnya."
Kelima kakak-beradik itu terdiam, seakan tidak ada yang mau memulai untuk bicara lebih dahulu. Mereka semua saling berpandangan seakan mengisyaratkan salah satu dari mereka untuk mulai bicara.
"Halilintar, Taufan, Gempa? Ada yang ingin kalian katakan?" Konselor KoKoci memecah keheningan.
Gempa membenamkan wajahnya dalam telapak tangannya untuk beberapa detik sebelum akhirnya mulai bicara. "Thorn, Blaze... Mengapa kalian bisa begini?"
"Apa maksudmu dengan mereka jadi begini?" Sambung Konselor KoKoci yang memfasilitasi pertemuan keluarga itu.
"Ya, konselor... Perhatianku pada mereka berdua sudah sangat besar... Didikan kami bertiga ngga ada yang menyimpang... Kalau salah pasti kami bilang salah, kalau benar juga begitu... Apa yang salah dengan kami? atau dengan mereka?".
Thorn menarik napas panjang sebelum menjawab. "Kakak semua ngga salah koq... Kami yang salah-"
"Aku yang salah!" Ujar Blaze dengan tiba-tiba, memotong perkataan Thorn.
"Blaze, biarkan-"
"Ngga, konselor... Sudah terlalu lama kupendam." Bahkan Blaze berani memotong perkataan konselornya itu. "Aku sumber masalah keluarga kita... Aku ngga bisa menerima kalau Thorn lebih disayang, terutama oleh Kak Gempa..."
Thorn tersentak kaget mendengar pengakuan Blaze. Jelaslah sudah baginya mengapa tadi pagi Blaze menginginkan Ex-com dengan dirinya. Tak disangka oleh Thorn kalau selama ini Blaze mempunyai perasaan iri yang terpendam dengannya. "B... Blaze, aku... Ngga-"
Blaze memberikan isyarat tangan supaya Thorn tidak berbicara dulu "Aku belum selesai, Thorn, jangan potong omonganku, dengarkan aku dulu..."
Halilintar, Taufan, Thorn, Konselor KoKoCi dan Gempa yang terlihat mengepalkan tangannya langsung terdiam. Mereka menunggu dan membiarkan Blaze menumpahkan semua isi hatinya.
"Ya, aku tidak terima dengan Kak Gempa dan Kak Hali yang selalu membandingkan aku dengan Thorn... Thorn bisa ini, bisa itu... Aku cuma bisa jahil, bandel, urakan... Apa kata-kata Kak Gempa waktu itu? Waktu kak Gempa marah, lalu menggamparku waktu aku masih SD... Ah ya, setan kecil!". Dengan tatapan mata yang tajam, Blaze menatap Gempa yang terduduk lemas di bangkunya. "Begitu kan, kak? Kamu sebut aku ini setan kecil?! Kak Hali juga, waktu aku mengadu karena digampar Kak Gempa, Kak Hali malah bilang aku ini memang setan?. Yah aku memang setan... Kalian kira mengapa aku menyeret Thorn sampai ikutan memakai narkotika begini?"
Thorn memucat mendengar pengakuan Blaze "Blaze... Kamu...?"
"Ya! aku mau kamu hancur, Thorn! Siapa tahu kalau kamu hancur, mereka berdua..." Blaze menunjuk ke arah Halilintar dan Gempa. "Mereka berdua akan membencimu, sama seperti mereka membenciku!... Selama bertahun-tahun, sejak kita masih SMP, Thorn, aku sudah muak denganmu!".
"Ta.. Tapi, aku-".
"Kamu selalu jadi adik emas, terutama Kak Gempa... Apapun yang kamu bisa lakukkan, aku bisa perbuat juga, bahkan lebih baik tapi kenapa kamu lebih disayang? Apakah kak Gempa suka dengan sifatmu yang polos, yang gampang diatur sesuka hati? Atau benci dengan sifatku yang bandel, ngga pernah nurut? Aku ngga tahu..." Blaze menarik napasnya, mencoba untuk tetap tenang, walaupun luar biasa sulitnya. "Tapi kamu masih beruntung Thorn... Ada yang mencegah aku berbuat nekat padamu... Kak Taufan masih sayang padaku apa adanya. Sebandel-bandelnya aku, ngga pernah kak Taufan memanggilku setan."
Blaze meneguk segelas air yang tersedia di ruangan itu, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Aku tahu apa itu heroin, aku tahu apa akibatnya, dan aku memang sengaja menggodamu untuk mencoba... Tapi perhitunganku salah. Aku ngga sangka kalau kita malah sakau berdua...Nah, sekarang kamu tahu mengapa kamu bisa terjerumus, Thorn... Kalau kau mau menghajarku, melampiaskan padaku, inilah saatnya..."
Thorn semakin pucat seusai mendengar pengakuan Blaze yang begitu menyakitkan didengarnya. Kalau semuanya itu benar, maka seharusnya ia tidak perlu menghabiskan hidup dan waktunya menjadi pecandu, bahkan sampai harus berurusan dengan polisi dan masuk ke rehabilitasi itu. "Jadi... Begitu... Blaze?" Ujar Thorn ditengah-tengah napasnya yang semakin berat. Belum pernah ia merasakan sakit hati sedalam itu. "Kamu... Menyeret aku... Karena dendammu dengan Kak Gempa dan Kak Hali?"
Blaze menganggukkan kepalanya. "Ya... Karena kamu adik emas kesayangan mereka."
"KAU BODOH! TOLOL! BEGO!... Blaze..." Thorn langsung membentak Blaze dengan emosinya yang meluap. "Kamu pikir aku suka dengan semua itu? HAH!?"
Blaze kini terbengong mendengar bentakan keras penuh amarah dari Thorn yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Kalau kamu mau tahu, aku sudah muak dengan semua puji-pujian itu... Kamu tahu beratnya memenuhi harapan mereka berdua? Kamu tahu betapa beruntungnya kamu yang ngga perlu repot-repot dengan harus bermanis-manis didepan Kak Gempa, Kak Hali?".
"Thorn?... Aku-"
"EGOIS! Itulah kamu, Blaze!... Hanya dirimu yang kau pikirkan... Dan asal kamu tahu, Blaze. Aku ngga sepolos yang orang pikirkan... Kamu pikir kenapa aku mudah mengikut kamu memakai narkotika itu? Karena aku sudah lelah bermanis-manis muka didepan mereka... Aku butuh jalan keluar... Kamu menawarkan... Cocok!"
Blaze tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini ia menganggap bahwa Thorn selalu mendapat kemudahan karena ia adik kesayangan kedua kakaknya.
Thorn menghela napasnya setelah mengeluarkan semua uneg-uneg yang berkecamuk dalam dirinya selama ini. "Aku tahu apa itu narkotika, Blaze... Aku tahu apa itu heroin... Aku tahu apa itu sakau... Tapi aku ngga tahu kalau sakau itu datang dengan cepat. Aku pikir, aku bisa memakai heroin itu kalau aku sedang lelah menghadapi Kak Gempa saja... Tapi pikiranku salah... Aku terlanjur sakau... Yang aku ngga sangka kalau kamu sengaja meracuni aku... Kakakku sendiri..."
"Sekaranglah saatnya, Thorn, kalau kamu mau melampiaskan..." Blaze menatap Thorn tanpa berkedip dan membiarkan kedua tangannya terkulai lemah. Ia bersiap dan berpasrah diri menerima apapun yang akan diterimanya dari adiknya. "Hajarlah, pukul aku, apapun aku terima..."
Diluar dugaan Thorn hanya menggelengkan kepalanya. "Buat apa, Blaze? Aku menghajarmu juga ngga akan mengembalikan waktu berbulan-bulan, bahkan hampir setahun kita memakai narkotika dan berada di tempat ini..."
Blaze meneguk ludahnya, ia sebetulnya lebih suka kalau Thorn menghajarnya saat itu juga dan memberikan apa yang layak ia dapatkan. "Thorn... Aku minta maaf padamu... meskipun aku ngga yakin kalau kamu akan memaafkan aku... Aku sudah terlanjur menyeretmu sampai sejauh ini" Lirihnya dengan suara yang gemetaran. Blaze sadar sepenuhnya betapa berat kesalahannya itu.
Thorn tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Blaze sekuat tenaga. "Jangan minta maaf padaku... Maafkan dirimu sendiri." Bisiknya langsung ke dalam telinga kakaknya itu.
Gempa yang menyaksikan kedua adiknya saling melampiaskan isi hatinya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ungkapkan karena sekarang ia menyadari bahwa sumber masalah dalam keluarganya tidak lain adalah dirinya sendiri.
"Blaze, Thorn..." Taufan memanggil kedua adiknya dengan suara lembut. "Aku hanya bisa bilang...Harusnya kalian bisa cerita padaku... Tidak perlu sampai berurusan dengan narkotik begini. Pernahkah aku membuka rahasia kalian kepada Gempa? Atau Halilintar?"
Taufan menoleh kearah Gempa yang masih tertunduk tanpa bersuara. "Gem, tahukah kamu berapa kali Blaze atau Thorn bolos absen waktu masih sekolah terakhir itu?"
"Dua kali?"
"Nah, maaf ya Blaze, kali ini kubocorkan. Blaze absen enam kali, Thorn absen empat kali... Dan, maaf ya, Gem... Tanda tanganmu kupalsukan untuk surat keterangan absen mereka."
Pengakuan Taufan membuat Gempa mendelik dan langsung menatap tajam ke arahnya. "Apa? Kenapa kamu ngga bilang, Fan?"
"Kurasa inilah masalah yang terjadi dalam keluarga kalian." Konselor KoKoCi menengahi. "Komunikasi antara kalian sangat kurang... Thorn atau Blaze tidak bisa mengutarakan pikiran dan perasaan mereka karena tekanan yang mereka rasakan."
"Aku sudah tahu dari dulu, Gem, Hali... Masalahnya sama koq... Kalian ngga pernah mau dengar... Aku saja yang seumuran ngga kalian dengar, apalagi mereka yang lebih kecil. Untungnya aku ngga ikut-ikutan masalah narkotik begini. Pelampiasanku hanya main-main sepuasku." Bergantian Taufan menatap ke arah Halilintar yang sedari tadi hanya diam saja dan Gempa yang mulai menyadari kesalahannya. "Bisakah kalian bayangkan kalau aku juga terjerumus narkotika? Harus kuakui, aku tergoda... Tapi aku tahu itu bukan jalan keluar."
"Aku minta maaf, Fan... Aku memang terlalu sibuk urusan sendiri." Kali ini Halilintar yang berbicara. "Blaze... Seharusnya aku tidak menepismu begitu saja... Maaf. Kalau aku tahu ujungnya bakal seperti ini..."
"Kak Hali, ngga ada yang tahu kalau kita berdua akan jadi begini..."
Gempa memandangi semua saudara-saudaranya satu-persatu. Untuk pertama kalinya ia merasa lemah, tidak seperti Gempa yang biasanya selalu terlihat kuat, tangguh, dan bertanggung jawab atas mereka semua "Aku yang paling bersalah..." Desahnya dengan suara yang lembut. "Seharusnya aku bisa lebih bijaksana... Tapi semua tanggung jawab kuambil sendiri. Aku hanya ingin kalian semua hidup senang, tanpa beban."
"Itulah gunanya kami, Gem... Kamu punya aku, Hali, Thorn, Blaze... Kami semua mampu bertanggung jawab... Coba setelah ini kita bagi tugas, jangan kamu ambil semua" Taufan langsung menarik Gempa kedalam rangkulannya. "Kami semua sayang kamu, Gem... Kamu tahu itu."
"Iya..." Lirih Gempa yang mulai sesegukan dalam pelukan Taufan. "Aku sayang kalian semua... Masihkah... Kalian... Percaya padaku?".
Halilintar meletakkan tangannya pada pundak Gempa dan menggenggamnya dengan erat. "Aku masih percaya padamu, Gem... Setelah mereka pulang, kita coba jadi kakak yang lebih baik untuk mereka."
Konselor KoKoci menarik napas panjang dan sebuah senyuman terulas di wajahnya yang terlihat sangat puas. "Tugasku selesai sudah... Masa pembantaran dua anak ini sudah berakhir sejak bulan lalu sebetulnya... Tinggal kalian bawa pulang saja!".
Thorn dan Blaze yang mendengar itu hanya terbengong.
"Apa? Jadi... Kami sudah bebas dari bulan lalu?"
"Ya... Aku hanya menahanmu sedikit lebih lama karena aku perlu bantuan menangani beberapa resident."
"Astaga! Satu bulan umurku terbuang percuma!" Jerit Thorn yang terlihat sangat kesal.
"Tunggu apalagi, kemasi barang-barangmu dan pulanglah... Masa rehabilitasi kalian sudah selesai."
"Kita... KITA BEBAS, BLAZE!" Thorn langsung memeluk kakaknya dengan berlinang air mata kebahagiaan.
Namun Blaze tidak terlihat senang. Ia hanya memandangi semua saudara-saudaranya. "Maaf... Aku ngga ikut bersama kalian."
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut mendengar perktaan Blaze. Bahkan Thorn langsung melepaskan pelukannya. "Apa?!"
"Aku ngga ikut pulang... Aku belum bisa memaafkan diriku yang sudah merusak Thorn... Aku akan tetap disini."
"Ta.. Tapi, kamu sudah bebas, Blaze!. Pulanglah." Konselor KoKoCi tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Belum pernah ada resident-nya yang menolak untuk pulang dengan sukarela dan atas pendirian sendiri. "Kamu sudah bukan resident, Blaze... Aku tidak bisa membiarkanmu disini." Bahkan sang konselor mendesak supaya Blaze untuk pulang secepatnya.
"Bisa, konselor." Blaze merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat rapi. Sebuah surat pernyataan dan permohonan yang dibubuhi tanda tangan hampir semua staff di rehabilitasi itu. "Bila Konselor KoKoCi mengijinkan... Aku berminat menjadi staff disini.. Paling tidak sampai aku berdamai dengan diriku sendiri."
"Astaga, Blaze... Kamu jadi resident saja hampir pecah rehabilitasiku kamu acak-acak, apalagi jadi staff?"
"Yang kudengar ada staff yang mengundurkan diri, EjoJo, dia mau pergi keluar negeri... Kau butuh staff baru, konselor..."
"Tidak!... Jangan!... Jangan kau... Mimpi buruk!"
Sebuah seringaian jahil melintas di wajah Blaze. "Begitu? kukira, kita ngga boleh menolak orang yang butuh bantuan... Yah aku perlu bantuan."
Konselor KoKoci akhirnya menyerah. "Ba.. Baiklah... Kamu kuangkat menjadi staff... Kita memang perlu konselor baru untuk resident junior..."
.
.
.
"Jaga dirimu baik-baik, Blaze" Taufan memeluk adiknya yang memutuskan untuk tetap berada di rehabilitasi itu.
"Jangan buat rusuh ya," Gempa memeluk dan mengusap-ngusap kepala Blaze yang terlihat cengengesan saja, seperti dirinya yang dulu.
"Aku bangga padamu, Blaze." Halilintar memeluk adiknya dan menepuk-nepuk punggungnya. "Aku iri dengan pahala yang akan kamu dapatkan dari menolong orang... Mungkin menyelamatkan hidup mereka."
"Kamu yakin, Blaze?" Tanya Thorn. "Kamu ngga kangen rumah?".
Blaze hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya. "Aku kan bukan resident lagi, sudah staff. Aku bisa pulang kapan saja."
Thorn terlihat kurang senang dengan keputusan kakaknya itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah pendirian Blaze yang sudah mantap. "Iya sih... Tapi kalau ngga ada kamu, ngga ada trio troublemaker..."
"Yah, kamu kan sudah jadi troublemaker betulan, Thorn...Sampai masuk rehabilitasi pula, kurang apa coba?" Sindir Blaze dengan seringaian jahil khasnya.
"Ish... Suram ah..." Sindiran Blaze membuat Thorn bergidik. "Yah, kalau begitu, sampai ketemu di rumah ya Blaze... Entah kapan sih... Ingat, Act as if... Jangan kebanyakan Space Cadet... Nanti di blast sama Konselor KoKoci..."
Blaze hanya terkekeh saja dengan pesan Thorn. "Tenang, aku pasti Act as if." Kembali dipandanginya semua saudara-saudaranya yang akan masuk kedalam sebuah Toyota JZX berwarna ungu, yang sudah pasti milik Fang. "Sampai ketemu lagi, ya, Kak Fang, aku titip Thorn ya, kirim dia kesini lagi kalau nakal!".
Dengan tangan terlipat dan senyuman terpampang, Blaze memandangi semua saudara-saudaranya yang berada di dalam mobil yang dikemudikan Fang meninggalkan panti rehabilitasi itu. "Jaga dirimu, Thorn... Kelak kita bertemu lagi... Dan semoga aku sudah bisa memaafkan diriku sendiri yang merusakmu..." Bisiknya seorang diri.
"Kau tahu, Blaze... Belum ada di sejarah rehabilitasi ini ada resident yang menolak untuk dipulangkan dan terpaksa kuangkat jadi staff.." Ujar Konselor KoKoCi yang berdiri dibelakang Blaze. "Kamu yang pertama... Mengapa? Dan jangan jawab karena urusan Thorn lagi."
Blaze mendesah panjang. "Aku masih belum yakin dengan recovery-ku, konselor... Aku juga belum yakin dengan Kak Gempa... Aku lebih memilih menunggu dan melihat apa dia bisa memegang komitmennya atau tidak. Tapi aku ngga bisa bilang begitu di depan mereka semua ketika Family Dialogue tadi. Aku berbuat begini untuk Thorn juga... Aku yang sudah merusaknya. Mungkin dengan aku berada disini aku bisa mengurangi beban moralku kepadanya."
"Dengan kata lain, kamu lari dari kenyataan..."
Blaze melirik kearah konselornya itu. "Kuakui, ya... Thorn belum memaafkan aku. Mungkin tidak akan pernah...Dan kemana lagi aku harus lari kalau bukan tempat ini... Satu-satunya tempatku berlindung."
"Yah, aku lebih suka kalau kamu menghadapi kenyataan, tapi kalau itu beresiko membuatmu jatuh lagi, memang lebih baik kamu disini, Blaze... Ayo, masuk... Resident-mu sudah menunggu konselor baru mereka.".
.
.
.
Bersambung.
Author note:
Hanya sedikit penjelasan mengenai istilah-istilah yang tertulis di chapter ini.
"Act as if" Sebuah filosofi rehabilitasi yany bisa diartikan "berlaku sewajarnya". Maknanya bisa dijelaskan jika ada yang misalnya berkata "Act as if sebagai kakak", berlaku sewajarnya sebagai kakak, jangan menyakiti adik.
"Space Cadet" Istilah yang hanya ada di dalam dunia rehabilitasi yang artinya "pura-pura bego" atau "Berlagak bego". Semisal, sudah tahu kalau main api bisa melepuh begitu sudah melepuh dan ditanya kenapa main api, jawabanya "Ngga tahu bakal melepuh."
"Blast." Istilah rehabilitasi yang artinya teriakan. Di-blast artinya diteriaki. Nge-blast artinya meneriaki.
