Author Note's I: Chapter yang lama update. Jika itu butuh kesan-kesan yang mendalam. Saya juga meminta rekan kerja saya untuk membantu saya. Selamat menikmati membaca cerita ini. Semoga kalian menyukainya! Tolong di review, saran, dan juga kritik (kalau flame? kalian akan saya sambut dengan tangan hangat)
Always
.
.
~ Sunny N. February ~
Disclaimer : Naruto © Kishimoto Masashi-sensei
Always © Sunny February
...
Chapter : Fun, Romantic, and Scary
Di langit nan jauh, ada seorang laki-laki separuh baya berlari di lorong berwarna putih menuju jalan ke dunia manusia secara tergesa-gesa bersama dengan partnernya yang ada di sampingnya. Dia terus berlari dan berlari. Sampai-sampai, dia tidak tahu ada seorang yang berjalan santai sambil membaca buku di belokan kanan.
BRUAKK!
Sang partner terlempar jauh gara-gara menabrak seorang laki-laki berambut putih dan memakai setengah topeng di sisi wajahnya. Mereka berdua jatuh terduduk dan memegang kepala masing-masing.
"Aduhhh...My head, man..." rintih laki-laki separuh baya tersebut.
"Kenapa Anda berlari-lari seperti itu, Bee-sama?" tanya laki-laki berambut putih tersebut yang sudah tersadar dari rasa sakitnya.
"Oh... Hai, Kakashi, my little brother! Aku ingin bertemu Naruto! Sekalian membantunya. Katanya sih, dia mau pergi ke taman hiburan, man. Jadi, aku pergi diam-diam agar tidak ketahuan oleh Big Brother." Laki-laki separuh baya tersebut bernama Killer Bee. Dia pun berdiri dan membersihkan debu dan kotoran yang ada di belakang-depannya. Bee juga membantu Kakashi yang telah ditabraknya tadi.
"Seharusnya Anda tidak pergi ke mana-mana, Bee-sama. Takutnya nanti Master Raikage akan marah. Bukannya Anda lagi menjalankan hukuman dari Rikuudo-sama?"
"Uuugh, little brother. Tenang saja, aku sudah memberikan obat tidur ke dalam tehnya. Mungkin sekarang dia sedang tidur dengan lelapnya." Bee mengkhayalkan bagaimana nasib sang petinggi langit sedang tertidur pulas sambil mendengkur.
Mata Kakashi melebar dan mulut juga terbuka sangat lebar (terlihat jelas saat kain yang menutup mulutnya melebar). "APA! Bee-sama, apa yang Anda lakukan? Kalau Anda melakukannya, Anda akan dihukum sangat berat."
"Aku orang yang punya nyali, tidak peduli pada hal yang begituan." Bee yang menyilangkan tangan penuh percaya diri. Bee berlari melewati Kakashi mengambil sang partner yang tidak jauh tempatnya jatuh. Bee sedikit melirik Kakashi, "Okey, man. Aku pergi dulu! Aku tidak mau ketinggalan petualangan Naruto dan Kiba di dunia manusia. Bye!"
"B-Bee-sama...!" Kakashi ingin memegang tangan Bee yang berwarna cokelat matang tetapi sudah terlambat karena Bee sudah melompat turun ke dunia manusia. Kakashi akhirnya mendesah napas kekecewaan. "Apa yang akan kukatakan pada lima Master Kage, termasuk Master Raikage-sama?"
...
Di dunia manusia, kedua sepasang kekasih sedang berduaan menunggu antrian permainan jet coaster. Pasangan tersebut adalah Sasuke dan Sakura, dan satunya lagi Sai dan Ino. Untuk ketiga orang yang belum memiliki pasangan hanya meratapi nasibnya yaitu bercanda pada Naruto dan Kiba.
"Apa kamu belum pernah naik jet coaster ini, Naruto, Kiba?" tanya Suigetsu yang menangis dalam hati karena dia tidak memilik pasangan melihat ke-romantisan Sasuke-Sakura dan Sai-Ino. Tidak tega, jadinya dia menanyakan sesuatu ke Naruto dan Kiba untuk menyenangkan hatinya.
Naruto menggeleng begitu juga Kiba.
"Seharusnya anak kecil seperti kalian berdua tidak boleh naik permainan sebesar ini," kata Juugo. Juugo melihat ke Neji, "bukankah di taman hiburan ini ada jet coaster yang kecil, Neji?"
"Kukira ada."
"Kalau begitu, kita ke sana saja." Juugo mengambil tangan Kiba dan Naruto bersisian. Dia melirik ke Suigetsu, "Suigetsu, kamu ikut denganku?" Juugo juga melihat ke Neji, "Neji, kamu di sini saja temani Sasuke, okey?"
Neji mengangguk pasrah.
Juugo mengajak Naruto dan Kiba ke permainan jet coaster yang kecil untuk permainan anak-anak bersama dengan Suigetsu. Sebelum pergi, Juugo meminta izin ke Sasuke dan Sakura untuk membawa Naruto dan Kiba. Sasuke dan Sakura mengangguk setuju.
"Kalau sudah selesai, kita food court. Okey?" kata Sai.
"Oke."
Juugo pergi mengambil tangan Naruto dan Kiba diikuti oleh Suigetsu.
Setelah beberapa menit kemudian, tibalah mereka berempat di permainan jet coaster untuk anak-anak. Mereka melihat semua yang merupakan anak-anak, ayah-anak, atau ibu-anak mengikuti permainan tersebut.
Mereka berempat antrian. Tetapi, Suigetsu mengurungkan niat untuk mengikuti permainan anak-anak tersebut. Sebelum pergi, pagar pembatas terbuka untuk Juugo dan kedua anak kecil tersebut yang telah didapatnya setelah dua keluarga di depannya. Juugo melihat Suigetsu ingin melarikan diri secara diam-diam malah menarik kerah bajunya untuk masuk ke permainan tersebut.
Suigetsu menjadi kaget. "A-apa yang kamu lakukan, Juugo? Lepaskan aku!"
"Kamu harus ikut masuk. Kasihan 'kan kalau tidak ada menemani salah seorang dari mereka di tempat duduk," kata Juugo yang tidak mempedulikan pemberontakan Suigetsu.
"Ta-tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian. Ayo, masuk. Kamu duduk di dekat Kiba. Aku di Naruto."
Juugo menarik kerah Suigetsu dan melemparkannya pelan ke tempat duduk jet coaster kecil di samping Kiba. Juugo berjalan ke depan mereka di mana Naruto sudah duduk dengan tenangnya.
"Apa kalian sudah siap, anak-anak?" tanya sang petugas permainan jet coaster kecil pada orang-orang yang sudah menempati tempat duduknya masing-masing.
"SIAP!"
"OKE." Sang petugas itu mengambil peluitnya di saku bajunya dan meniupnya.
PRIIITT
Kendaraan kecil mirip kereta api tetapi tidak memiliki atap tersebut bergerak. Dengan pelannya, kendaraan itu berjalan menyusuri rel. Kereta tersebut berjalan melewati gundukan kecil. Itulah membuat anak-anak dan para orang tua senang begitu juga dengan Naruto, Kiba, Akamaru dan Juugo. Tidak termasuk dengan Suigetsu yang memerah wajahnya karena malu.
Sampai-sampai perempuan-perempuan seusianya melihat ke arah Suigetsu dan tersenyum penuh candaan dan menggoda.
"Lihat, bukannya itu Suigetsu dan Juugo?" tanya anak perempuan yang ternyata teman sekelas Sasuke, Sai, Juugo, Suigetsu, Neji, Sakura, dan Ino yang berada di situ, di dekat pagar pembatas. Bersama dengan ketiga teman mereka yang lainnya.
"Wahh! Benar!"
"Apa yang dia lakukan di sini?"
"Pasti untuk menikmati permainan-lah."
"Bukan begitu, maksudku, apa yang dilakukan Suigetsu di sini?"
"Benar. Apa yang dilakukannya di sini? Kalau Juugo sih, tidak apa-apa mengikuti permainan ini. Karena dia menyukai anak-anak ketimbang Suigetsu yang amit-amit tidak menyukai anak-anak kecil."
"Itu betul sekali," kata perempuan di sampingnya dengan rambut berwarna cokelat.
"Bagaiman kalau kita memotret Suigetsu? Buat kenang-kenangan."
Ketiga temannya mengangguk setuju dan mengambil ponselnya masing-masing, lalu mengambil foto Suigetsu yang mengendarai jet coaster kecil tersebut.
JPREET JPREET JPREET JPREET
Merasa di sesuatu yang aneh, Suigetsu memperhatikan sekelilingnya. Suigetsu terkejut. Ternyata yang memperhatikan Suigetsu adalah teman sekelasnya. Dia ingin berteriak, tapi karena banyak anak-anak dan orang tua anak tersebut di belakang dan depannya, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk berteriak.
Akhirnya dia menundukkan wajahnya malu. Suigetsu tidak menyadari kalau anak-anak yang menunggu dan berkeliaran di luar halaman jet coaster tersebut sedang memperhatikan dan mengejeknya.
"Lihat, kakak itu lucu, ya?"
"Mukanya lucu!"
"Seperti hiu yang mau memakan mangsanya."
"Tapi, kakak itu imut banget, kalau tersipu."
Semua perkataan yang mengejek dan menggoda membuat Suigetsu tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Juugo, tidak memperhatikan kejengkelan Suigetsu itu. Juugo hanya terus memperhatikan Naruto dan Kiba. (begitulah kalau Juugo suka pada anak-anak)
...
Di tempat di mana Sasuke dan kawan-kawan, Neji yang gelisah karena hanya dia-lah yang tidak memiliki pasangan. Sedangkan para pengunjung antrian jet coaster besar, semuanya memiliki pasangan.
"Seharusnya, aku ikut sama Juugo dan Suigetsu. Kenapa hanya aku yang tidak memiliki pasangan? Coba aku membawa Hinata, pasti aku tidak akan sendirian seperti ini... Menyebalkan!" gumam Neji yang terus menyendiri di belakang Sasuke.
Saat petugas membuka pintunya di depan Sasuke dan teman-temannya termasuk kekasihnya. Sasuke, Sakura, Sai, Ino, dan Neji masuk ke dalam untuk naik kereta besar bernama jet coaster. Itu juga merupakan keberuntungan bagi tim Akatsuki yang mengikuti mereka.
Di jet coaster tersebut, Sasuke dan Sakura berada di paling depan, kedua Sai dan Ino, ketiga Neji dan Deidara, keempat Hidan dan Pein (Kakuzu), kelima Orochimaru dan Kabuto (Kisame), dan terakhir Konan dan Sasori (Zetsu).
Yang memiliki tanda kurung itu adalah sebuah boneka.
Jadi, saat sang petugas menyuruh mereka untuk memasang sabuk pengaman, mereka (Sasuke, dkk dan tim Akatsuki) memasang sabuk pengaman mereka. Sakura yang sedang kesulitan membuat Sasuke membantunya untuk memasang sabuk pengaman.
"Terima kasih, Sasuke," kata Sakura tersenyum malu menatap Sasuke yang sudah selesai memasang sabuknya.
"Hmmm..." balas Sasuke sambil tersenyum menatap Sakura lekat-lekat. Sasuke dan Sakura terus bertatapan mesra, merasa dunia milik mereka berdua. Seakan-akan mereka tidak mendengar suara petugas untuk meniupkan peluit tanda jalan.
"Kalian romantis sekali." Untungnya Ino menyudahi tatapan mesra mereka, membuat Sasuke dan Sakura menatap Ino ke belakangnya. Ino menyilangkan tangan di depan dada sambil menggoda. "Kalau kalian ingin melanjutkan romantisan kalian, lebih baik saat kalian menyelesaikan permainan ini. Iya, 'kan, sayang?"
Ino menatap Sai, sang kekasihnya. Dia melihat Sai gugup tidak karuan. "Kamu tidak apa-apa, sayang?" Ino memegang bahunya. Ino merasakan tubuh yang gemetarnya, Ino juga melihat wajahnya yang dipenuhi oleh keringat dingin. "Sayang..."
PRIIIITTT
Bunyi peluit menghentikan ucapan Ino kepada Sai. Jet coster itu bergerak pelan. Dan pada saat mau turunan. Sasuke dan Sakura berpegangan tangan erat-erat dan sisi tangan lainnya memegang besi di depannya. Di belakang, Ino memegang erat besi yang ada di hadapannya agar tidak jatuh, sedangkan di sebelah Ino, yaitu Sai, dia malah ketakutan. Jantungnya berdetak sangat kencang sehingga dia lupa memegang pegangan besinya.
Di bagian kelompok belakang, Neji hanya acuh tak acuh, itu karena di sampingnya ada cewek cantik berambut kuning keemasan yang diikat ekor kuda. Sehingga dia tidak merasakan kegugupan yang dialaminya.
"Sebelahku ada cewek cantik. Suigetsu pasti akan iri padaku. He he he he..." bisik Neji dalam hati yang menyeringai licik. Sedangkan di luarnya melipat kedua tangannya di depan dada sambil menutup matanya acuh tak acuh.
Begitu juga di belakang Neji dan Deidara. Wajah mereka tidak berekspresi, tapi, itu tidak berpengaruh pada Zetsu, Kakuzu, dan Kisame. Biarpun mereka pemberani, tetapi mereka takut yang namanya ketinggian. (Kasihan sekali kamu bertiga!)
Jet Coaster sudah mencapai turunan. Semuanya menjadi...
KYAAAA
Berteriak sekencang-kencangnya.
Saat jet coaster mendapatkan putaran 180 derajat. Kisame yang ada di pinggang milik Kabuto terlepas. Akhirnya Kisame jatuh dan terbang dengan ringannya menuju mesin pengambil boneka. Dia jatuh di samping mesin pengambi boneka. Kisame ingin kabur, tapi keberuntungan menjadi tertunda karena sang petugas yang ada di situ mengambil Kisame dan membawanya ke mesin pengambil boneka. Petugas itu membuka penutup di atasnya dan menaruh Kisame ke dalam berkumpul bersama boneka yang tidak memiliki nyawa.
Kisame ingin bergerak untuk keluar dari situ, petugas tersebut menutup kap pengambil boneka dan pergi meninggalkan Kisame bersama dengan boneka-boneka yang tidak memiliki nyawa. Alhasil, Kisame ketakutan pada boneka hewan-hewan, apalagi boneka perempuan yang tersenyum aneh.
Begitu juga dengan Kakuzu, pada saat turunan yang menajam. Dia terlepas dari gendongan Pein, itu karena Pein mengangkat tangannya gembira saat turunan menajam. Sehingga Kakuzu yang memiliki tubuh ringan (tubuh boneka) terlempar di bawa angin yang kencang. Kakuzu pun hilang entah ke mana.
Keberuntungan untuk Zetsu, itu karena Sasori mengikat Zetsu ke boneka manusia kayu miliknya yang talinya tersambung di jari telunjuknya Sasori. Agar Zetsu tidak jatuh atau diterbangkan oleh angin.
Semuanya yang mengikuti permainan itu gembira. Sai tidak. Sasuke dan Sakura mengeratkan tangannya di sebelahnya agar mereka tidak berpisah.
...
Setelah 15 menit berlalu, Sasuke turun dari jet coaster tersebut. Sasuke melihat Sakura berusaha turun. Sasuke mengulurkan telapak tangannya untuk Sakura. Sakura berhenti dan menatap Sasuke. Wajahnya menjadi merah muda. Melihat Sasuke tersenyum, Sakura membalas telapak tangan Sasuke dan menaruhnya.
"Kyaaa! Lihat mereka seperti Pangeran yang menjemput tuan putri di kereta Kudanya. Romantisnya!"
"Aku mau seperti perempuan itu!"
"Manisnya!"
"Aku melihat seorang pangeran dan putri!"
Teriakan histeris para gadis yang cemburu dan iri membuat Sakura tersipu malu, sehingga dia tidak melihat jalan. Akhirnya kakinya menendang pembatas keluar-masuk jet coasteri tersebut. Sakura jatuh. Untungnya Sasuke mengambil pinggang Sakura dan meletakkan wajah cantik Sakura ke dada kekar Sasuke.
Itu membuat teriakan para gadis menjadi-jadi.
Ino melihat keromantisan Sasuke dan Sakura, meminta Sai yang sudah turun duluan untuk ikut seperti Sasuke. Tidak mengerti hal tersebut, Sai hanya mengerutkan keningnya. Padahal Sai baru saja gembira dari kecelakaan mautnya.
Merasa terhina, Ino memberikan punggung tangannya agar Sai membalasnya. Agar seperti cerita Pangeran dan Putri di cerita dongeng, seperti yang dilakukan oleh Sasuke dan Sakura tadi.
"Apa maksudmu, Ino, memberikan tanganmu seperti itu?" tanya Sai bingung.
Ino tidak menjawab.
"Tanganmu gatal, ya?"
Ino merasa hatinya dipermalukan. 'Sialan kamu, Sai!' bisik Ino dalam hati.
"Hoi, kalian, kita harus ke food court. Mungkin sekarang Suigetsu, Juugo, Naruto, dan Kiba sudah berada di sana. Takutnya mereka sudah menunggu."
Neji menghentikan kebingungan Sai pada Ino. Membuat Sai berjalan ke Neji dan meninggalkan Ino yang masih memberikan punggung tangannya.
Sasuke menurunkan Sakura. Kaki Sakura sudah mencapai tanah. Sakura masih tersipu. Inilah membuat Sasuke merasa khawatir dan menanyakannya.
"Kamu tidak apa-apa, Sakura?"
Sakura melihat kekasihnya khawatir akan dirinya merasa bersalah. Untuk menghentikan kekhawatiran Sasuke, Sakura tersenyum lembut.
"Aku tidak apa-apa, Sasuke. Terima kasih telah menolongku."
Sasuke balas tersenyum lembut, "itu sudah seharusnya, karena kamu adalah kekasihku, calon istriku di masa depan."
Sakura tersipu dan berlari ke Ino untuk menutupi wajah merahnya seperti kepiting rebus. Sakura sudah berada di hadapan Ino yang telah berdiri kaku. Penasaran, Sakura pun menanyakannya.
"Ada apa denganmu, Ino? Tanganmu kenapa?"
Merasa kekecewaan yang sangat besar, Ino menangis dalam hati. Dia pun menarik tangannya yang sudah kaku dan turun dari jet coaster. Ino tersenyum miris ke Sakura.
"Aku tidak apa-apa, Sakura. Ayo, kita ke food court."
"Iya."
"Loh, Ino kenapa? Kamu kelihatannya jengkel sekali?" tanya Neji mengkhawatirkan keadaan Ino.
Ino jengkel dan tersenyum palsu. Neji tersentak begitu juga Sai. Sasuke dan Sakura melihat Ino hanya kebingungan menatap kejengkelan Ino.
'Ini 'kan, gara-gara kamu, Neji Idiot!' katanya dalam hati dengan penuh kemarahan.
Neji dan Sai mundur ke belakang saat Ino maju dengan aura menakutkan melewati mereka dan menuju ke food court. Mereka berempat yang ada di belakang melihat Ino berjalan yang penuh aura menakutkan, sehingga para pengunjung juga mundur karena aura mematikannya. Mereka berempat menatap masing-masing teman-teman mereka hanya bingung dan heran dengan tanda tanya di kepala mereka masing-masing. Akhirnya mereka mengikuti Ino dari belakang.
...
Saat Sasuke dan kawan-kawan sudah tidak terlihat lagi. Kabuto dan Pein merasa kehilangan sesuatu. Mereka berdua mengecek sesuatu di tubuh mereka. Kabuto dan Pein berteriak seperti anak-anak yang kehilangan boneka.
"KISAME DAN KAKUZU HILANG!"
Orochimaru, Deidara, Nagato, Konan, Hidan, dan Sasori (Zetsu) menatap Kabuto dan Pein berteriak histeris.
"Ada apa, Kabuto, Pein?" tanya Hidan.
"Mereka berdua hilang!" teriak Kabuto menjadi-jadi.
"Tenang. Siapa yang hilang?"
"Kisame dan Kakuzu..." kata Kabuto pelan.
"Sudah kuduga akan begini jadinya."
Kabuto, Pein, Kabuto dan tim Akatsuki lainnya melihat Sasori yang memiliki wajah tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu, Sasori?" tanya Kabuto.
"Aku tahu akan begini jadinya, kalau kalian terlalu senang." Sasori mengangkat jari telunjuknya. Mereka (tim Akatsuki) melihat jari telunjuk, tali, dan sebuah boneka kayu. Di sana mereka juga melihat Zetsu dipeluk oleh boneka kayu manusia. "Aku melakukan begini, supaya Zetsu tidak terbang."
"Anak yang cerdik." Orochimaru menggeleng-geleng tidak percaya.
"Bagaimana dengan Kisame dan Kakuzu?" tanya Kabuto lagi.
"Tinggalkan saja mereka. Prioritas utama kita adalah untuk menculik Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura."
Kabuto dan tim Akatsuki yang tersisa melihat ke ketua mereka, Pein. Kabuto terkejut. Pein tahu apa maksud kekhawatiran Kabuto.
"Tenang saja, jika misi ini selesai, kita akan menjemput mereka."
Kabuto mengangguk patuh pada ketuanya. Semuanya juga begitu.
GROOOOKKK
Suara aneh dan keras membuat Kabuto dan Pein melihat Deidara memegang perutnya.
"Maaf, aku kelaparan." Deidara hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sambil meminta maaf.
"Hhh... Baiklah, kita makan dulu. Baru kita memulai misi kita." Pein menghela napas pada ulah kelaparan Deidara. Dia menatap Deidara sambil menyeringai, "aku tidak menyangka kalau wanita secantik kamu, kalau kelaparan bunyi seperti itu. Wah, wah." Pein menggeleng-geleng dan berjalan pergi diikuti oleh yang lainnya.
"Wanita... Cantik...?" Deidara kebingungan, memiringkan kepalanya dan ada tanda tanya di kepalanya. Merasa diperhatikan, Deidara melihat para kaum lelaki menatapnya penuh intens dan cabul. Perasaan Deidara melihat ini sama dengan saat dia mau masuk ke dalam taman bermain.
Akhirnya Deidara lari ke teman-teman mereka karena takut pada pandangan mengerikan dari para kaum perempuan dan pandangan cabul dari para kaum lelaki.
...
Di food court, Sasuke bertemu dengan Juugo, Suigetsu, Naruto dan Kiba. Naruto yang melihat Sasuke kembali, berlari ke arahnya dan melompat ke dalam pelukan Sasuke.
"Papa Syasyuke!"
"Naruto, kamu baik-baik saja, 'kan sama kakak Juugo dan kakak Suigetsu?"
"Iya, Papa. Mereka syangat baik. Iya, 'kan, Kiba?" Naruto mengangguk pada Sasuke, lalu melihat Kiba yang juga mengangguk.
Sakura mendekati Kiba dan mengusap kepalanya penuh kasih sayang, "kamu sudah menjaga Naruto dengan baik, Kiba. Aku salut padamu."
"Terima kasih, kak Sakura," kata Kiba memeluk Sakura.
Sakura tersenyum.
Sasuke berjalan ke meja di mana mereka duduk dan menaruh Naruto di kursi diantara Juugo dan Sasuke. Sasuke mengambil kursi untuk Sakura dan mempersilahkan Sakura untuk duduk. Sakura duduk dan berterima kasih pada Sasuke. Sasuke membalasnya dengan senyuman, juga ikut duduk di sebelah kiri Sakura.
Ino duduk di sebelah kanan Kiba, disusul Sai, Neji di samping kanannya.
Jadi meja bundar besar itu, diduduki oleh sepuluh orang. Delapan orang dewasa atau remaja. Dua orang anak kecil termasuk anjingnya.
Di seberang meja lainnya, Tim Akatsuki juga duduk untuk makan sambil mengamati gerak-gerik Sasuke.
Merasa sesuatu yang aneh, Kiba dan Naruto melihat sekitarnya. Mereka berdua melihat satu keluarga di belakang mereka yang tidak jauh dari tempat mereka duduk, hanya terhalang oleh dua meja bundar.
Naruto merasakan itu adalah Akatsuki. Dia pun menutup matanya dan berbicara dengan Kiba lewat telepati.
"Kiba, kamu merasakan itu adalah mereka, bukan?"
"Iya. Itu benar, Naruto. Itu adalah mereka."
"Kita harus bagaimana, Kiba?"
"Kita tunggu saja apa yang akan mereka lakukan selanjutnya."
"Oke."
Naruto membuka matanya begitu juga dengan Kiba. Mereka berdua mengangguk.
"Hei, bagaimana sesudah ini, kita ke Haunted House?" tanya Suigetsu pada teman-temannya.
"Ide bagus."
"Good." Suigetsu melihat Sasuke, "bagaimana denganmu, Sasuke?"
"Terserah saja."
"Cih... tidak asyik." Suigetsu melihat Sakura. Sakura juga melihat Suigetsu. Suigetsu pun menyeringai dan kembali menatap Sasuke, "bilang saja kalau kamu ingin berdua dengan Sakura." Suigetsu menepuk bahu Sasuke, "tenang saja, saat semua wahana bermain kita selesai. Aku, Juugo, Sai, Ino, Naruto, dan Kiba ditambah Akamaru akan meninggalkanmu di ferris wheel. Setuju semua!?" Suigetsu menatap teman-temannya yang di sebelah kirinya.
"SETUJU!" seru mereka serempak.
"Bagus."
"Terserah," kata Sasuke tidak mempermasalahkannya, padahal di dalam hatinya, dia merasa gembira.
Begitu juga dengan Sakura yang sudah tersipu malu.
...
Di tempat yang tidak jauh dari Sasuke dan kawan-kawan, ada seorang laki-laki separuh baya memiliki kulit cokelat matang, memakai kacamata dan memiliki kumis putih. Dia adalah Killer Bee. Dia berdiri di atas tempat salah satu ferris wheel yang berjalan. Ini tidak disadari oleh manusia yang berada di dalam tempat berbentuk bundar itu.
Di bawah ferris wheel, ada hewan setengah kerbau setengah gurita berwarna cokelat tua. Dia menghela napas terlalu kesal melihat keras kepalaan Bee yang ingin pergi ke dunia manusia.
"Dia benar-benar tidak ada kapoknya."
"Hei, Gyuuki!"
Gyuuki nama hewan tersebut dipanggil oleh teman lama yang baru kemarin dia temui. Gyuuki melihat Kurama menyapa sambil mendekatinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Seharusnya kamu berada di langit atau jangan-jangan..." Kurama yang penasaran apa yang terjadi. Itulah yang membuat Gyuuki mendesah napas lagi.
Gyuuki mengangkat jari telunjuknya ke atas di atas ferris wheel, Kurama bingung dan melihat arah yang ditunjukkan temannya. Kurama menyipitkan matanya, hanya menggeleng. Dia menurunkan kepalanya dan menutup matanya.
"Kita tunggu saja hukuman untuk si Idiot di atas itu. Untung-untungan bisa membantu Naruto-Kiba melawan Akatsuki," ucap Kurama.
"Aku setuju saja."
"Akhirnya sampai juga! Hello dunia manusia yang keren! I'm come back! Yohooo!" teriak Bee meregangkan tangan gembira.
"Dasar kakek tua!" kata Kurama dan Gyuuki serempak sambil menghela napas lelah.
...
Setelah selesai makan dan membayar makanan, Sasuke dan kawan-kawan beranjak dari tempatnya duduk langsung pergi menuju Haunted House.
"Akhirnya sampai juga! Hello dunia manusia yang keren! I'm come back! Yohooo!" teriak seseorang di jalur yang sangat jauh tapi mampu didengar oleh Naruto dan Kiba, apalagi Akamaru.
Pendengaran mereka membuat bulu kuduk naik, Naruto dan Kiba merinding setengah mati, ini juga berlaku untuk Akamaru yang bisa merasakan sesuatu yang mengerikan nantinya. Hal inilah membuat Naruto dan Kiba (menggendong Akamaru) menghentikan langkahnya.
Sasuke dan Sakura merasakan kalau Naruto dan Kiba-Akamaru tidak di sampingnya saat berjalan. Mereka berdua menoleh ke belakang di mana mereka menundukkan wajahnya sambil gemetaran. Hal ini membuat Sasuke dan Sakura berjalan mendekati mereka dan menanyakan apa yang terjadi.
"Kalian berdua tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir.
"Apa kalian sakit?" tanya Sasuke juga khawatir sama seperti Sakura.
Naruto dan Kiba menggeleng.
Merasa perasaan yang khawatir, akhirnya Sasuke menggendong Kiba ke dalam pelukannya. Sakura melihat Sasuke menggendong Kiba juga melakukan hal yang sama. Sakura mengangkat Naruto dan menggendongnya ke dalam pelukan hangatnya.
Naruto dan Kiba terkejut, dan menatap orang yang menggendongnya.
"Mama Syakula...?"
"Kak Sasuke...?"
Sasuke mendekati Naruto yang ada di gendongan Sakura, membelai rambut kuningnya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, Naruto. Papa ada di sini bersama Mama."
Begitu juga berlaku untuk Sakura membelai rambut cokelat Kiba dengan penuh kasih sayang, "kamu juga sama Kiba. Kami ada di sini bersamamu."
Naruto dan Kiba akhirnya menangis terharu, membenamkan wajah mereka ke pelukan Sasuke dan Sakura.
Ino, Sai, Juugo, Suigetsu, dan Neji melihat pemandangan penuh haru yang dibuat oleh dua orang sahabatnya yang baru menjadi kekasih kemarin. Mereka menangis dalam diam dan tidak harus berkata apalagi.
Akhirnya untuk membuat kenangan menjadi dikenang dalam hidup mereka, Suigetsu dan kawan-kawan tersebut (Ino, Neji, Juugo, dan Sai) mengambil ponsel mereka di saku celana, baju dan tas. Mereka memotret keluarga yang bahagia di depan mereka.
"Ini akan menjadi momen yang indah untukku."
"Ya, kamu benar, Ino. Kedua sahabat kita akan menjadi pasangan yang bahagia."
"Kita akan melindungi cinta mereka. Bagaimana? Setuju teman-teman?" tanya Suigetsu menatap mereka.
"SETUJU!" seru mereka serempak sambil mengangkat tangan mereka ke atas.
"Woi, apa yang dimaksud dengan 'setuju'?" tanya Sasuke menghampiri mereka berlima yang sudah menurunkan tangan dan tertawa cekikikan.
Mereka melihat Sasuke dan Sakura masih menggendong Kiba dan Naruto ala gendongan anak balita. Mereka tersenyum. Suigetsu dan Ino pun berlari ke belakang mereka dan mendorongnya ke jalur tempat di mana Haunted House berada.
Sasuke dan Sakura terlihat bingung, menatap masing-masing ingin tahu. Akhirnya mereka mengangkat bahi bersamaan kalau mereka berdua tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabat mereka yang aneh ini.
"Ayo, kalian jalanlah," kata Ino terus mendorong Sakura.
"Iya, nanti siang jadi habis, loh. Dan antrian nanti juga bakal panjang," kata Suigetsu juga sama mendorong Sasuke.
Sai mengambil Naruto di gendongan Sakura, "biar aku yang menggendongnya. Sakura lebih baik bersama Sasuke." Sai mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura dan berbisik, "soalnya dia akan kesepian jika kamu menjauh darinya. Dan dia juga akan marah apabila ada seorang cowok menganggumu."
Sasuke melihat Sai mendekatnya bibirnya ke telinga Sakura. Inilah membuat Sasuke geram. Tapi, sebelum hal tersebut terjadi, Juugo mengambil Kiba di gendongan Sasuke.
"Biar aku menjaga Kiba. Lebih baik kamu menjauhkan Sakura dari Sai, oke, Sasuke." Juugo berbalik dan berjalan meninggalkan Sasuke marah melihat Sai masih mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura.
"Sai, apa yang kamu lakukan!?" geram Sasuke ingin langsung menerkam Sai.
Sebelum kena imbas, Sai tersenyum ke Sakura, "seperti itu. Aku duluan, ya!" Sai berlari meninggalkan Sasuke yang marah dan Sakura yang tersipu malu dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus.
"Sai! Kembali kamu!" teriak Sasuke masih marah.
"Kami juga duluan, ya!" Suigetsu dan Ino berlari mengejar Sai dan Juugo meninggalkan Sasuke, Sakura dan Neji.
Neji tidak mau kena getah dari kemarahan Sasuke, ikut berlari ke teman-temannya menuju ke Haunted House. "Tunggu aku, teman-teman!"
"Mereka benar-benar..." Sasuke ingin mengejar mereka, tapi dihalau oleh Sakura yang memegang kepalan tangan Sasuke. Sasuke berhenti dari marahnya dan melihat Sakura yang menundukkan wajahnya.
"Sasuke, apakah itu benar?" tanya Sakura.
"Apa maksudmu, Sakura?" tanya Sasuke bingung.
"Apa yang dibilang Sai?"
"Apa yang dikatakannya padamu?" Sasuke masih bertanya ingin tahu. Sakura bisa merasakan nada suara Sasuke yang tenang, tapi penuh dengan amarah.
"Katanya kamu akan kesepian bila aku tidak ada? Katanya, kamu akan marah apabila ada seorang laki-laki yang mengangguku?" Sakura mengangkat kepalanya menatap kedua bola mata Onyx Sasuke. "Apakah itu benar, Sasuke?"
Sasuke terpana dengan kalimat yang dibuat oeh Sai untuk Sakura, meminta jawaban dari pertanyaan itu. Sasuke tersipu dan membalikkan badannya untuk menatap Sakura. Sekarang mereka saling berhadapan sambil menatap mata masing-masing. Onyx bertemu Emerald.
Sasuke tersenyum, memgang kedua tangan Sakura dengan lembutnya. "Jika itu benar, bagaimana?"
"Sasuke..."
"Aku akan kesepian bila kamu tidak ada. Aku juga akan marah apabila ada seorang laki-laki atau apalah yang menganggumu dan menyakitimu." Sasuke mengeratkan pegangan tangan Sakura. "Itu karena aku mencintaimu. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku. Aku juga akan melindungimu sampai mati. Aku tidak akan mem-"
"Husssh..." Sakura meletakkan jarinya ke bibir Sasuke untuk menghentikan kalimatnya. Sakura tersenyum, hangat. "Aku mengerti, Sasuke. Aku juga sangat mencintaimu sepenuh hatiku. Aku juga akan melindungimu dan menjagamu untuk selamanya."
"Sakura..."
"Aku janji, Sasuke. Aku janji."
Sasuke gembira mendengar pengucapan Sakura. Hatinya penuh kegembiraan dan kesenangan. Beruntung sekali dia hidup di dunia ini bersama dengan orang yang dicintainya. Padahal dulu, dia ingin sekali lari dari kesendiriannya. Orang tuanya sibuk bekerja dan jarang pulang. Kakaknya yang sulung, selalu pergi pagi-pagi saat Sasuke bangun dan pulang malam saat Sasuke sudah tidur. Itu yang membuat Sasuke malas di rumah yang besar itu. Itulah membuat dia menginap di rumah Juugo, Suigetsu atau Sai. Kalau untuk Neji, dia tidak mau karena keluarga Hyuuga adalah keluarga sahabat Uchiha. Takutnya keluarga Neji akan memberitahukan ke keluarga Sasuke keberadaanya.
Sasuke segera memeluk Sakura dan meletakkan kepala Sakura ke dada bidang Sasuke. Sasuke mencium ujung kepala Sasuke dan membelai rambut panjang berwarna merah muda dengan lembutnya.
"Terima kasih, Sakura. Terima kasih."
Sakura tersenyum pada kata 'terima kasih' dari Sasuke. Sakura mengencangkan pelukannya.
Sasuke melepaskan pelukannya, membungkuk perlahan agar wajah Sasuke dan Sakura sejajar. Sasuke pun mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura dan menciumnya.
Mereka berciuman sangat mesra. Sehingga pengunjung taman bermain Konoha Wonderlands melihat mereka berdua dengan wajah merah, malu, dan tersipu. Sasuke dan Sakura tidak peduli dengan perhatian orang-orang. Yang mereka perhatikan adalah di dunia ini hanya ada Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura.
"Mereka benar-benar manis sekali. Mereka berciuman! Kyaa!" Ino berteriak kegirangan sambil memotret momen indah itu.
Ino, Sai, Juugo, Neji, dan Suigetsu ditambah Naruto dan Kiba-Akamaru bersembunyi di balik tembok tidak jauh dari pemandangan romantis Sasuke dan Sakura.
"Mereka benar-benar berani. Hebat." Sai menggeleng.
"Hei, kamu juga harus seromantis itu tahu!" Ino menyikut Sai yang di bawahnya.
"Bukankah aku sudah memberikan hal romantis kepadamu?" tanya Sai marah pada Ino.
"Apanya yang romantis!?" Ino melepaskan pandangan romantis itu berbalik ke Sai sambil menyilangkan tangannya. "Kamu hanya mengantarku pulang! Kamu juga hanya mentraktirku saja! Kamu hanya memberikanku cokelat bukan bunga yang kusukai!"
"Memangnya kamu ingin apa!?" Sai juga menyilangkan tangan sambil marah-marah menatap Ino.
"Aku juga ingin seperti yang dilakukan Sasuke, tahu!" Ino marah dan melemparkan ponselnya ke Sai. Sai menjerit kesakitan dan mengambil ponsel yang jatuh. Ino memukul punggung Sai. "Aku benci padamu, bodoh!"
"Aduhhh! Sakit, Ino!" jerita Sai kesakitan.
"Hoi, hoi, hoi... hentikan itu..." Suigetsu ingin melerai pertengkaran mereka, tapi tidak berhasil. Ino masih memukul punggung Sai yang terus menjerit kesakitan.
Sai yang marah, berdiri tegak dan mengambil tangan Ino sebelum memukul lagi. Sai menarik tangan Ino dan mencium sama seperti yang dilakukan oleh Sasuke tadi.
Ino yang tadi marah, melemah dan pasrah pada ciuman Sai yang meluluhkan hatinya. Sai menaruh kedua tangan Ino ke leher jenjangnya, dan kembali tangan Sai ke pinggang Ino untuk mengeratkan pelukannya.
Ini membuat Juugo, Suigetsu dan Neji membuka mulut selebar mungkin. Mereka langsung sweetdropped melihat pemandangan romantis itu. Mereka bertiga meninggalkan Sai dan Ino yang masih berciuman. Saat mereka keluar dari dinding tadi dimana mereka sembunyi, mereka bertiga juga melihat Sasuke masih mencium Sakura. Mereka membuka mata lebar-lebar dan terkejut, ternyata Sasuke sudah memasukkan lidah ke dalam mulut Sakura. Mereka berdua saling bergulat lidah.
"Aduhhh..; kapan, ya, kita akan mempunya pacar?" kata Suigetsu lemah melihat dua pemandangan yang sama.
"Kita akan mendapatkannya nanti. Sabar saja, Suigetsu." Neji menepuk bahu Suigetsu, menghiburnya.
"Lho, kemana Naruto dan Kiba-Akamaru?" tanya Juugo tidak peduli dengan kegelisahan Suigetsu.
Suigetsu merasa kalau temannya yang satu ini tidak mempedulikan keterpurukannya hanya mengkhawatirkan dua bocah yang hilang entah kemana. Tunggu. Hilang? Hal ini membuat Suigetsu sadar seratus persen.
"Kemana mereka?" tanya Suigetsu mencari di kanan-kiri.
"Padahal tadi mereka ada di sini? Saat Sai dan Ino bertengkar. Kok hilang?" Neji mencari sekitarnya.
"Kami di sini, kakak!"
Suigetsu, Juugo, dan Neji melihat ke mana suara tersebut. Mereka melihat Kiba melambaikan tangannya ke atas. Ternyata mereka berada di jalan menuju Haunted House. Mereka bertiga juga melihat Naruto berlari dengan kaki mungilnya menuju ke Sasuke dan Sakura.
"Papa, Mama! Katanya mau pelgi ke Haunted House!?" teriak Naruto menarik baju Sakura dan Sasuke. Mereka berdua menghentikan ciuman dan gulat lidah yang penuh mesra. Sasuke menyadari kalau Naruto ada di sini, mengangkatnya dan masuk ke dalam pelukan Sasuke.
"Oke, Naruto, kita pergi."
"Asyiiiikkk!" Naruto bersorak gembira.
Kiba juga tidak mau kalah. Kiba berlari ke Sai dan Ino yang ada di balik dinding tersebut sambil berciuman sama mesranya dengan ciuman Sasuke-Sakura tadi. Kiba menarik baju yang dikenakan Ino dan Sai.
"Kakak! Katanya mau pergi ke Haunted House?"
Sai melepaskan ciumannya, membuat Ino lemah. Untungnya Sai memegang pinggangnya kuat agar tidak jatuh. Sai melirik ke Kiba dan menepuk kepalanya, "oke, kita pergi!"
"YEAY!" sorak Kiba.
Mereka bertiga tidak menyangka, kedua anak kecil bisa tidak menyadari apa yang dilakukan oleh orang dewasa apalagi remaja seperti mereka-mereka ini. Mereka berpikir, otak kedua bocah yang pintar, tapi tidak mengerti keadaan yang ada.
Merasa terhina dengan pikiran teman-teman Sasuke yang tidak memiliki pasangan, Naruto dan Kiba memang sengaja untuk menghentikan ciuman mereka supaya Akatsuki tidak menculik Sasuke dan Sakura di saat mereka berdua sedang lengah.
Kejadian itu bermula 10 menit yang lalu, saat Naruto dan Kiba-Akamaru tidak mempedulikan pertengkaran Sai dan Ino. Mereka hanya memperhatikan Sasuke dan Sakura.
Flashback: 10 menit yang lalu.
"Mereka benar-benar romantis. Benar, 'kan, Kiba?" Naruto melirik Kiba yang juga mengangguk gembira.
Walaupun mereka cerdas dan usianya jauh lebih tua daripada Sasuke dan kawan-kawan. Mereka menganggap ciuman, pelukan atau apalah itu adalah sebuah keharusan yang dimiliki manusia biasa untuk mendapatkan cinta. Jadi, mereka menganggapnya biasa-biasa saja.
"Aku tidak menyangka kalau kamu adalah pelindung mereka berdua," kata Kiba tidak melirik Naruto.
"Tentu saja."
Naruto dan Kiba masih mengamati Sasuke dan Sakura sampai-sampai tidak melihat anggota Akatsuki yang berada di balik persembunyian tidak jauh dari pemanadangan mesra Sasuke dan Sakura. Untungnya Akamaru bisa mengatasinya dengan bau yang menyengat.
"Guk!"
"Ada apa, Akamaru?" tanya Kiba memandang Akamaru di pelukannya.
"Guk!"
Akamaru terus menggonggong ke arah Akatsuki. Naruto dan Kiba melihat apa yang ditunjukkan gonggongan Akamaru. Mereka berdua terkejut, ada delapan anggota Akatsuki terus mengamati Sasuke dan Sakura.
"Mereka? Apa meleka lakukan di syitu?" tanya Naruto bisik-bisik ke Kiba.
"Lebih baik kita putar jalur dan mengamati gerak-gerik mereka, Naruto,"usul Kiba mengajak Naruto ke jalan yang lain agar bisa mencapai tim Akatsuki yang ada di belakang.
Saat mereka berdua mencapainya, mereka melihat tim Akatsuki bersembunyi sambil memakai teropong. Kiba bersiul pelan-pelan, membuat para anjing-anjing di sekitar taman hiburan mendengar siulan Kiba. Anjing-anjing berbondong-bondong berkumpul di hadapan Kiba dan Kiba menyuruh mereka untuk membasmi Akatsuki yang tidak jauh dari persembunyian Naruto dan Kiba.
Anjing-anjing itu berlari ke Akatsuki. Naruto melihat para Akatsuki yang beranggotakan delapan orang lari terbirit-birit dikarenakan dikejar oleh lebih dari 50 ekor anjing. Sampai-sampai laki-laki kecil berambut merah berpisah dari gengnya.
"Kamu hebat, Kiba!" teriak Naruto tidak sampai membesarkan suara.
"Tentu. Siapa dulu... Kiba," kata Kiba penuh percaya diri.
"Dasyar narsyisy." Naruto menggerutu sebal.
"Lebih baik kita kembali. Takutnya nanti kita akan membuat panik Sasuke dan teman-temannya." Kiba mengusulkan pergi kembali ke tempat di mana Sasuke dan kawan-kawan berada bersama Naruto.
Naruto dan Kiba-Akamaru kembali ke tempat Sasuke dan kawan-kawan. Dua bocah kecil itu melihat Suigetsu, Juugo, dan Neji terus mencari mereka. Untuk membuat mereka tidak khawatir lagi, Kiba melambaikan tangannya dan berteriak.
"Kami di sini, kakak!"
End Flashback
Itulah dimaksud mengapa mereka berdua pergi tanpa bilang-bilang sama teman-teman Sasuke dan Sakura. Mereka juga sengaja menghentikan pemandangan ciuman di antara Sasuke-Sakura dan Sai-Ino agar Akatsuki tidak kembali menculik mereka saat mereka lengah. Itu juga karena Naruto dan Kiba ingin pergi ke Haunted House.
Sasuke, Sakura, Sai, Ino, Juugo, Suigetsu, Neji, Naruto, dan Kiba-Akamaru pergi ke Haunted House, tujuan mereka selanjutnya.
Tentu saja, Naruto dan Kiba-Akamaru yang tidak tahu apa yang dimaksud dengan Haunted House. Haunted House ternyata adalah rumah di mana para hantu gentayangan. Padahal mereka berdua sangat takut yang namanya hantu, tapi ini tidak berlaku untuk Akatsuki yang suka sekali mengoleksi manusia hantu, biarpun itu berupa patung dan pernak-perniknya.
...
Kembali ke Akatsuki yang masih terus dikejar oleh anjing-anjing liar. Mereka juga tidak menyadari kalau Sasori tidak ada di samping mereka. Mereka hanya terus berlari dan berlari. Akatsuki berhenti berlari karena mereka sudah di jalan buntu. Dengan napas masi tersendat-sendat, mau tidak mau mereka (anggota-anggota Akatsuki) harus menghadapi anjing-anjing liar.
"Hhh... Bagaimana anjing-anjing ini bisa mengejar kita... Hhh...?" tanya Hidan masih terengah-engah.
"Aku tidak... tahu... hhh..;" balas Pein.
"Lebih baik kita menghadapi anjing-anjing gila ini," kata Konan membuat tulang anjing dari kertas. Dia membuat sebanyak mungkin dan memberikannya kepada anjing-anjing liar itu.
Anjing-anjing gila itu mengambil tulang berbentuk kertas dan mengejarnya karena tulang itu terbang ditiup leh angin. Konan menyeringai kemenangan. Dia mengibaskan rambutnya dengan penuh pesona kepahlawanan.
"Wah! Kamu hebat, Konan!" kata Nagato mengagumi apa yang dilakukan Konan tadi.
"Sunggu perempuan yang sangat hebat," Orochimaru menyeringai.
"Untung ada senior Konan! Kalau tidak, bagaimana jadinya kita?" Kabuto juga mengagumi hasil kerja Konan mengusir anjing-anjing kiriman Kiba itu.
"Tch. Kenapa harus dia, sih?" gumam Hidan dengan penuh kejengkelan melihat teman-temannya mengagumi Konan.
"Sepertinya kita kehilangan seseorang." Pein menghentikan semuanya dengan menanyakan kalau mereka kehilangan anggotanya.
"Eh!? Sasori dan Zetsu mana!?" Nagato yang duluan menyadari kalau anggotanya yang hilang adalah Sasori dan Zetsu membuat teman-teman se-anggotanya juga kebingungan.
"Benar. Dimana dua orang itu?" tanya Orochimaru yang hanya cuek saja.
"Mungkin berpisah. Saat kita semua dikejar anjing-anjing sialan itu." Deidara akhirnya angkat bicara.
Itulah yang membuat mereka bulu kuduknya naik karena mendengar alunan melodi yaitu suara Deidara. Deidara kebingungan kenapa mereka gemetaran. Mereka hanya senyam senyum saja. Mereka berpikir Deidara harus tahu, tapi itu tidak mereka lakukan karena prioritas utama mereka (anggota Akatsuki) adalah Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura.
Mereka juga tidak mempedulikan Sasori dan Zetsu yang hilang entah ke mana. Yang mereka lanjutkan adalah mengejar Sasuke dan Sakura di mana pun mereka berada.
"Sekarang mereka ada di mana?" tanya Pein berlari mengejar Sasuke dan teman-temannya.
"Mereka menuju ke Haunted House," balas Deidara menjaab pertanyaan Pein dengan menggunakan seninya yaitu burung bom.
Pein dan teman-teman merinding setengah mati. Mereka merasakan kalau suara Deidara sama seperti suara setan lewat. Membuat mereka berlari sekencang mungkin ke Haunted House di mana Sasuke dan teman-temannya sekarang.
"Hei, kalian! Tunggu aku!" teriak Deidara penuh alunan melodi mengejar mereka agar tidak ketinggalan.
Mereka tidak menghiraukan perkataan Deidara. Yang mereka lakukan adalah lari dari suara malaikat yang membuat telinga mereka berdarah.
Anggota Akatsuki yang tersisa main kejar-kejaran bersama dengan Deidara yang di belakang mereka. Ini sih, seperti masih dikejar anjing-anjing gila tadi. Dasar payah.
...
Sasuke dan teman-temannya sekaligus Naruto, Kiba, dan Akamaru berada di depan sebuah rumah yang sangat mengerikan sekali. Mereka melihat kelelawar-kelelawar terbang di atas berbentuk rumah tersebut. Sebenarnya sih itu bukan seperti rumah yang biasa, tapi sebuah kastil yang sangat besar dengan penuh suara misterius di dalamnya.
Inilah membuat Naruto dan Kiba bulu kuduknya menjadi naik. Padahal mereka berpikir kalau Haunted House adalah tempat yang sangat menyenangkan dan penuh kegembiraan. Ternyata yang dimaksud Haunted House adalah ini.
"Kiba, kamu belani masyuk ke dalam, tidak?" tanya Naruto mendekati Kiba dan berbisik ke telinganya.
Kiba tidak bisa mengatakan apa-apa, dia menelan salivanya terus, otaknya juga tidak bekerja karena saking gemetaran melihat kastil yang besar di hadapannya dengan suara aneh di dalamnya.
"Hei, lebih baik kita masuk. Anak-anak juga bisa masuk kalau ditemani oleh orang dewasa. Jadi, Naruto dan Kiba bisa masuk, deh." Suigetsu menatap Naruto dan Kiba. Suigetsu tidak melihat kegugupan dua bocah tersebut.
"I-iya..." pasrah Naruto menanggapi perkataan Suigetsu.
Kiba hanya mengangguk.
"Kalau begitu aku bersama Naruto dan..." Sakura ingin memegang Naruto, tapi Suigetsu mengambil langsung tangan kecil berambut kuning itu.
"Naruto dan Kiba lebih baik bersama aku, Juugo, dan Neji. Sakura bersama Sasuke saja, ya." Suigetsu menatap ke Sai dan Ino sambil tersenyum harap. "Kalian juga. Lebih baik kalian masuk berdua saja. Kami tidak mau mengganggu kalian."
Juugo mengambil tangan Sasuke dan Sakura untuk di rekatkan (berpegangan tangan), dan menarik tangan Sasuke ke Haunted House. Di sana sudah ada penjaga Haunted House yang berpenampilan Frankenstein.
"Silahkan masuk dan selamat menikmati." Frankenstein itu mempersilahkan Sasuke dan Sakura yang saling berpegangan tangan menyuruh mereka berdua masuk.
Pintu kayu jeruji terbuka. Sasuke dan Sakura masuk ke dalam. Saat Sasuke dan Sakura masuk ke dalam, pintu jeruji tertutup.
Juugo melirik ke Sai dan Ino yang juga ikut masuk ke dalam. Tinggal dirinya, Neji, Suigetsu, Naruto, Kiba-Akamaru. Saat Neji mengambil tangan Naruto, Suigetsu mengambil tangan Kiba. Frankenstein menghalangi mereka.
"Hanya 2-3 orang yang bisa masuk ke dalam, tuan."
"Yahh, tidak bisa masuk karena kelebihan orang," Suigetsu menghela napas kekecewaan.
"Jadi, bagaimana?" tanya Neji memandang Juugo dan Suigetsu.
'Semoga kami tidak masuk. Semoga... semoga..." Kiba terus berdoa di dalam hati agar tidak masuk ke dalam Haunted House. Tapi, doa-nya tidak pernah akan dikabulkan karena ada seorang laki-laki separuh baya mengajukan diri untuk menemani dua bocah itu.
"Biarkan aku yang menemani mereka," kata laki-laki separuh baya berkulit cokelat matang memakai kacamata.
Seakan-akan di hipnotis, mereka hanya mengangguk dan berbalik masuk ke Haunted House.
Naruto dan Kiba melihat ke laki-laki yang mengajukan diri untuk menemani mereka berdua. Dua bocah itu sangat terkejut, ternyata laki-laki adalah Killer Bee.
"BEE...!" teriak dua bocah laki-laki bersamaan.
"Yo, little brother. Aku di sini," kata Bee menyapa mereka.
"Kami juga ada, lho." Naruto dan Kiba melihat dua hewan setengah kerbau dan setengah gurita yang berekor delapan, dan hewan seekor rubah merah jingga yang berekor sembilan.
"Kurama! Gyuuki!" teriak lagi bersamaan. "Kenapa kalian di sini?"
"Itu karena Bee penasaran dengan yang namanya Haunted House." Gyuuki menjelaskan apa arti mereka bertiga di depan Haunted House.
"Lebih baik jangan Bee. Kamu akan menyesal nantinya." Kiba menghalangi jalan Bee.
"Tidak apa-apa, little brother. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Oke, man." Bee mengedipkan satu matanya sambil menunjukkan jempolnya kepada Kiba.
"Baik. Kami ikut. Tapi, kami tidak akan ikut-ikutan apabila kamu mengacaukan sesuatu di dalam." Kiba lalu menatap Naruto dan menggenggam tangannya, "ayo, Naruto. Tinggalkan saja orang saraf ini. Pusing lihatnya."
"Ngh." Naruto hanya mengangguk.
"Hei, tunggu aku. Kalian berdua kejam, little brother!" Bee mengejar Naruto dan Kiba yang sudah masuk ke dalam.
"Bee itu pasti akan melakukannya." Gyuuki yang melihat Bee mengejar Naruto dan Kiba yang sudah masuk ke dalam Haunted House.
"Aku merasakan sesuatu yang tidak enak, nih. Bagaimana denganmu, Akamaru." Kurama melihat ke Akamaru yang mengangguk dan ikut mengejar Naruto cs. Kurama menghela napas lelah dan menyuruh Gyuuki mengikuti mereka.
Saat tim Akatsuki sudah datang. Kurama dan Gyuuki sudah berada di dalam Haunted House. Tim Akatsuki ini melihat kastil yang sangat seram membuat mata Orochimaru, Hidan, dan Kabuto berkelap-kelip penuh bintang.
"Kereennn!"
"Wow! Kastil yang sungguh menakjubkan!"
"Pasti ada sesuatu yang luar biasa di dalamnya! Aku mau masuk!"
Kabuto, Orochimaru dan Hidan masuk ke dalam. Sang Frankenstein mempersilahkan mereka masuk dan membuka pintu jeruji kayu itu, dan pintu pun ditutup.
Tidak kalah dengan itu, Konan dan Nagato juga ikut masuk mengejar mereka. Jadi, tinggalah Pein dan Deidara.
"Apa kita juga akan masuk, ketua?" tanya Deidara lembut namun kasar.
Pein gemetaran setengah mati. Dia tidak menyangka kalau sang ketua Akatsuki berambut jingga ini harus berjalan berdampingan. Ini adalah merupakan kesialan baginya. Jika saja Deidara tidak mengganggu Raja Iblis, pasti tidak akan begini jadinya. Pasti Deidara kembali menjadi cowok normal dan bukan perempuan kemayuan seperti ini.
"Lebih baik kita juga masuk ke dalam." Pein berjalan cepat menuju Haunted House meninggalkan Deidara di belakang.
"Tunggu aku!"
Deidara dan Pein masuk ke dalam. Deidara merasakan kalau Frankenstein terus mengamati dia instens dan penuh pikiran kotor. Merasa perasaan yang tidak enak, Deidara cepat-cepat menyusul ketua Akatsuki itu untuk menghindari tatapan menjijikkan tersebut.
...
Di dalam Haunted House, Sakura-Sasuke berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan. Sebelum ini belum ada yang terjadi karena hantu-hantu itu belum menampakkan dirinya. Tapi, saat sudah di tengah jalan, Sakura merasa ada yang memegang kakinya. Melirik pelan-pelan ke bawah, Sakura melihat seorang nenek yang tidak memiliki mata sebelah karena jatuh, memakai baju putih, wajah keriput, dan mulutnya terbuka lebar membuat Sakura menjerit histeris.
Sakura berlari sambil menggenggam erat tangan Sasuke. Sasuke kebingungan itu berhenti langkahnya dan menarik tangan Sakura. Sakura merasa tangannya ditarik oleh Sasuke, menabrak tubuh Sasuke hingga tubuh keduanya tidak seimbang dan jatuh ke dalam peti milik Mummy.
Di dalam peti itu ternyata adalah lubang menuju bawah tanah, di mana hantu-hantu itu bergentayangan di situ.
Sakura jatuh bersamaan dengan Sasuke. Gara-gara kejatuhan mereka, Sakura menindih tubuh Sasuke yang telah melindunginya dari lantai semen yang sangat keras. Sakura menatap wajah Sasuke yang mengeryit kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa, Sasuke?" tanya Sakura cemas.
"Hn."
"Lebih baik aku berdiri." Sakura berusaha berdiri, tapi tangan ditarik oleh Sasuke.
"Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Apalagi ini bukan lantai semen melainkan sebuah tempat tidur besar," kata Sasuke.
"Eh!?" Sakura terkejut apa yang dikatakan Sasuke. Dia melihat sekelilingnya dan menyadari kalau mereka berada di sebuah ruangan besar yang sangat gelap.
"Sepertinya waktu yang cocok untuk melanjutkan yang tadi." Sasuke mengatakan sampai menyeringai.
"Maksudnya?" tanya Sakura bingung.
"Maksudnya seperti ini." Sasuke mendorong tubuh Sakura ke tempat tidur. Punggung belakang Sakura sudah kena tempat tidur berukuran king size. Posisi mereka tadi, Sakura di atas Sasuke. Dan sekarang Sasuke berada di atas Sakura.
"Sa-Sasuke...?" Sakura merasakan sesuatu romantis yang akan datang dari Sasuke.
"Kita lanjutkan yang tadi, ya, sayang," goda Sasuke pada Sakura. Sampai-sampai Sakura tersipu di buatnya.
Sakura hanya mengangguk setuju.
Sasuke menyeringai dan mencium Sakura. Mereka berciuman sangat, sangat mesra. Sehingga Sasuke menggigit bibir bawah Sakura agar lidah Sasuke di biarkan masuk ke dalam rongga mulutnya. Sakura memberikan semuanya. Memberikan untuk Sasuke, sang kekasih yang paling dicintainya.
Tangan Sasuke tidak ketinggalan. Dia meraba paha Sakura yang mulus dan putih. Yah, pakaian Sakura sekarang hanya baju biasa dengan rok sebatas paha. Pantas saja banyak pengunjung meliriknya sampai-sampai membuat Sasuke jengkel.
Sasuke menghentikan ciumannya untuk mendapatkan oksigen. Dia menatap Sakura dan mengelus-elus pipi yang halus dengan jari-jarinya dengan penuh rasa sayang.
"Sa-Sasuke..."
"Sakura..; bolehkah?" tanya Sasuke berharap.
Sakura mengangguk, memasrahkan semuanya.
"Tenang saja, aku akan melakukannya dengan lembut."
Sakura mengangguk sambil mengeluarkan air mata di pelupuk mata Emeraldnya. Dia memeluk leher Sasuke dan mencium kening Sasuke tanda setuju.
Akhirnya Sasuke menjamah tubuh Sakura dengan penuh kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang. Sehingga hantu-hantu yang berada di situ mulut dan mata terbuka lebar melihat pemandangan luar biasa. (Oh, no!) Mereka tidak berani menganggu pemandangan yang sangat panas alias hot. Karena mereka merasakan kalau laki-laki berambut hitam itu memiliki aura yang sangat menakutkan apabila dibuat marah.
Seharusnya mereka para hantu-hantu di kastil ini menakuti Sasuke dan Sakura. Kenapa mereka sang para hantu-hantu yang ditakuti oleh Sasuke. Dan juga pemandangan erotis dan suara-suara desahan membuat mereka para hantu-hantu harus menutup telinga dan bersembunyi.
"Kenapa kami yang harus mendapatkan pengunjung yang seperti ini?" Para hantu-hantu menangis mengeluarkan air mata sebanyak-banyaknya. Mereka menatap pada pembaca dan meminta pertolongan, "Tolong kami!"
Wajah-wajah mereka yang menangis membuat wajah mereka menjadi lebih mengerikan. Darah-darah yang berupa cat merah saja langsung berair. Dan akhirnya mereka semua meleleh menjadi cairan kental dan kenyal. Ugh, menjijikan.
Biarkanlah Sasuke dan Sakura menjamah tubuh masing-masing dan melupakan semua teman-teman yang sedang berjuang melawan hantu-hantu mengerikan di atas sana. Heh, benar-benar melelahkan.
To Be Continued...
...
Author Note's II: Saya kira chapter ini pendek ternyata panjang sekali. Sampai saya harus menulis 7000 kata lebih. Baru kali ini saya menulis panjang chapter ini, biasanya 3000 atau 4000. Sepertinya saya menulis ini kebanyakan Sasu-Saku daripada Naruto. Ah, lupakan saja.
Btw, yang menulis keromantisan mereka bukan saya. Tapi, teman saja yang ahli dalam membuat cerita cinta yang sangat panas. Bak seperti dongeng-dongeng dan kehidupan di manga Jepang. Dia memberikan saya catatan tentang itu semua, membacanya baik-baik dan mengetik ke komputer. Saya langsung memerah membacanya. (Saya tidak tahan)
Untuk humor itu memang saya, karena semua kertas-kertas para penulis di dalam kebanyakan humor yang sangat lucu (aku tidak menjiplaknya lho. Hanya mencari sesuatu yang bagus dan memasukkan ke dalam bagian cerita). Menulis di kertas dan mengetik komputer sampai saya lupa waktu makan siang ataupun pulang ke rumah. Untungnya rekan kerja saya memberikan alarm di jam weker, jam pulang dan jam makan siang (hahahaha... saya aneh, ya)
So, saya juga berterima kasih pada Umagoncute, NgalorNgidol12, , dan Andromeda no Rei yang meminta saya untuk UPDATE cepat.
Oke, terima kasih semuanya! Di chapter selanjutnya, saya sedang tahap pengerjaan bersamaan dengan Join The Gang. Mungkin awal atau pertengahan saya akan meng-Update-nya.
Terima kasih lagi dan sampai jumpa di chapter 9.
Hug and Love
From Me,
Sunny Narcieq February
Date of completion: 08/28/2012
Publish Date: 08/31/2012
