Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
Warning : AU, omegaverse, OOC, yaoi
…
AN : Seminar done! *joget gurita* Dan karena semester depan saya sudah nggak ada kuliah, akan ada banyak waktu luang buat nulis. Semoga.
…
Part 9 – Secret
"Aku akan membuatmu jadi milikku, Arthur Kirkland!"
Pemuda bermata emerald itu menoleh ke samping, pada beban yang tersandar di bahunya. Kepala bersurai pirang gelap. Arthur membenarkan posisi duduknya, bahunya terasa sedikit pegal. Aksinya tersebut sempat membuat pemuda yang tertidur di sampingnya tergugah pelan, tapi tidak cukup untuk membangunkannya. Kemudian sepasang tangan melingkari pinggangnya erat. Arthur hanya menghela nafas dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Tentu saja dia kelelahan setelah pertandingan football tadi.
Arthur tidak akan menyalahkan Alfred yang jatuh tertidur dengan bersandar pada pundaknya dan membuat bahunya pegal-pegal. Dia malah sedikit bersyukur karena ini artinya mereka tidak perlu melalui kecanggungan pasca pernyataan Alfred tadi. Apalagi dari Madison hingga kembali ke kota mereka bisa memakan waktu hingga 3 jam. Tentu Arthur tidak mau duduk di dalam bus selama 3 jam dengan suasana yang begitu canggung di sebelah Alfred.
Mungkin tidak apa-apa kalau dia membiarkan Alfred bersikap sedemikian egois. Dia tidak pernah meminta Alfred untuk mengakhiri hubungannya dengan Kiku, kan? Apalagi memaksanya. Hell, bahkan belum ada satu minggu dia bertemu lagi dengan Alfred sejak kejadian itu. Kenapa tiba-tiba jatuh cinta padanya? Tidak logis memang. Bahkan, bagaimana mungkin kau jatuh cinta pada orang yang sudah menodaimu dengan paksa?
Arthur mengerutkan alis tebalnya.
Ada yang salah dengan dirinya akhir-akhir ini. Mungkin dia memang begitu putus asa. Mungkin dia membutuhkan seorang alfa untuk mengisi kekosongan dalam dirinya. Mungkin juga karena sepasang mata warna biru langit itu terus menariknya lebih dalam dan enggan melepasnya pergi. Mungkin karena senyuman lebar itu telah memenjarakan hatinya. Mungkin-
"Art?"
Arthur menoleh dan bertemu pandang dengan sepasang mata biru yang setengah terpejam. Alfred mengangkat kepalanya, melepas kacamatanya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Tangannya mengusap ujung hidungnya yang memerah.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Alismu berkerut dalam,"
Arthur membuka mulutnya, menutupnya lagi. Lalu ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar.
"Tidak ada."
Alfred mengerjapkan matanya perlahan, terlihat begitu berat. Jelas-jelas pemuda itu setengah tersadar, belum sepenuhnya pulih dari mimpi.
"Jangan. Kau terlihat tua dengan alis seperti itu."
Sebelum Arthur dapat mengutarakan kata-kata balasan, tiba-tiba Alfred mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman singkat yang hanya berlangsung dua detik. Kemudian pemuda Amerika itu kembali menjatuhkan kepalanya pada pundak Arthur, mendengkur pelan.
Arthur hanya diam dan menghela nafas, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Mukanya terasa panas.
Gerimis menyambut mereka saat keduanya turun di halte. Alfred, yang sudah terbangun lima menit sebelum pemberhentian, langsung melepas jaket favoritnya dan memakaikannya pada pundak Arthur. Omega itu mengangkat kepalanya dan membuka mulutnya untuk protes. Karena, hei, dia sudah menuruti perintah ibunya untuk memakai baju tebal. Kemeja hijau dirangkap dengan sweater warna krem, kemudian dilapisi lagi dengan jaket dan ditambah gulungan syal. Tapi Alfred tidak mau tahu, dia melingkarkan lengannya pada pundak Arthur dan menahan jaketnya tetap di sana, lalu memboyong Arthur berlari menembus gerimis.
Arthur tidak suka sensasi rintik-rintik air mengenai kepalanya. Memang tidak deras seperti dihujani oleh paku, Arthur hanya tidak suka bulir-bulir air yang menetes turun dari ujung-ujung rambutnya, tidak suka ide berbasah-basahan saat ia mengenakan pakaian lengkap. Sedikit mengingatkannya pada saat Allistor marah besar dan menghujaninya tanpa ampun. Arthur bergidik mengenangnya.
Tapi cengkeraman tangan Alfred pada pundaknya menenangkannya. Pemuda Amerika itu membawanya berlari sambil tertawa riang. Arthur merasa kembali menjadi anak-anak berusia 7 tahun. Ia tidak tahu bagaimana rasanya berlari di bawah hujan sebagai anak-anak, karena ibunya tak pernah memperbolehkannya keluar rumah saat hujan; tapi rasanya pasti seperti ini. Dingin di luar, namun terasa hangat di dalam. Hujan yang semakin deras membuat air dapat menembus lapisan-lapisan bahan yang melindunginya, mengenai kulitnya dan meninggalkan sensasi dingin yang membuatnya menggigil.
Tapi ada Alfred di sana.
Alfred seperti memancarkan kehangatan yang membuatnya melupakan rasa dingin yang menusuk tulang. Ia bahkan tidak menyadari saat dirinya mulai ikut tertawa bersama dengan Alfred. Seperti orang gila. Menembus derasnya hujan dengan tawa. Arthur yakin sekali ada yang salah dengan dirinya, tapi dia memutuskan untuk tidak peduli.
Setidaknya dia bahagia. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Kalau hal sesederhana ini bisa membuatnya tertawa, dia ingin tahu apa lagi yang bisa dilakukan Alfred untuk membuatnya lebih gila. Memang benar jatuh cinta bisa mengubah segalanya. Tidak ada hujan yang dingin, ini adalah kebahagiaan; berlari di bawah guyuran hujan dengan orang yang kau sukai.
Apa lagi yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Ah, itu rumahmu, kan? Sebentar lagi kita sampai, Art. Kau masih kuat berlari?" Alfred mengatakannya dengan sedikit berteriak. Hujan yang tadinya hanya gerimis kini benar-benar bermetamorfosis menjadi hujan paku yang menusuk-nusuk kepala. "Atau perlu aku menggendongmu?"
Arthur membalasnya dengan sikuan pada perut Alfred. Pemuda itu hanya tertawa.
Hingga akhirnya mereka berdua berdiri di teras rumah bercat krem lembut. Alfred memamerkan senyuman khasnya, tapi jelas sekali ia terlihat menggigil, menahan gemeletuk giginya karena kedinginan.
"Ah, k-kita sudah sampai. Aku- aku pulang dulu, ya?" Dia mengatakannya dengan deretan gigi yang mengatup rapat.
Arthur mengerutkan keningnya. Alfred akan pulang menerobos hujan lagi? Padahal jarak rumah mereka cukup jauh dan hujan masih begitu deras. Lagipula, sama seperti dirinya, pemuda itu basah kuyup. Bagaimana kalau ia tumbang di tengah jalan karena kedinginan?
"Al―"
Pintu depan rumahnya terbuka. Saat itu Alfred baru mau membalikkan badannya.
"Oh, kukira ada gelandangan yang memutuskan untuk berteduh."
Allistor menyandarkan punggungnya pada bingkai pintu, kedua tangannya disilangkan di depan dada. Ia menyeringai seperti biasa.
"Kalian menikmatinya? Romantis sekali, berlarian di bawah guyuran hujan." Pemuda berambut merah itu terkekeh.
"Allistor, siapa yang―"
Tiba-tiba Mrs. Kirkland muncul dari balik Allistor.
"Oh, Tuhan! Arthur! Kau kehujanan? Cepat masuk dan mandi! Ibu tidak mau kau sakit lagi, Nak!" Wanita itu tampak panik, menempatkan tangannya pada punggung Arthur, bermaksud menggiringnya masuk ke dalam rumah.
"Tunggu― Alfred! Masuklah." Sepasang mata emeraldnya bertemu dengan manik biru langit, memohon
"Siapa―?" Mrs. Kirkland memandangi Arthur dan Alfred secara bergantian, kemudian sepasang matanya membulat. "Oh, dear! Apa yang mau kau lakukan di tengah hujan deras dengan kondisi basah kuyup begitu? Masuklah, Nak!"
"Ah, tidak us―"
"Kau ini tuli atau bodoh, Jones? Ah, pasti keduanya!" Allistor berdecak kesal. Ia menegakkan badannya dan mencengkeram lengan Alfred, sengaja memberikan tekanan lebih dari yang diperlukan, dan menyeret pemuda itu masuk ke dalam rumah. Arthur sudah menghilang terlebih dulu, digiring oleh ibunya menuju kamar mandi.
"Antar dia ke kamar mandi di atas, Allistor! Dan carikan handuk bersih untuknya! Ibu akan mengurusi adikmu dulu!"
Allistor memutar bola matanya dengan tidak tertarik. "Ya ya ya."
Pemuda berambut merah itu tidak mengatakan apa-apa kepada Alfred, hanya menyeretnya ke atas dan mendorongnya hingga ia hampir menubruk pintu.
"Cepat mandi. Ibuku akan mencarikan baju ganti untukmu."
Allistor mendengus dan membalikkan badannya untuk pergi. Kemudian ada sesuatu yang menghentikannya, membuatnya menolehkan kepalanya kepada Alfred dan memicingkan mata.
"Jangan sentuh shampo yang botol merah. Awas kau!"
Alfred sedang melilitkan handuk tebal mengelilingi pinggangnya saat pintu diketuk pelan. Ia sedikit terkejut, khawatir kalau-kalau itu adalah Allistor dan pemuda itu akan mendobrak pintu masuk begitu saja.
"Dear, apakah kau sudah selesai?"
Suara Allistor tidak mungkin terdengar sefeminim itu.
"Ah, iya, ma'am."
Kemudian pintu dibuka pelan. Alfred membalikkan badannya dan disambut oleh senyuman hangat wanita yang rambut pirangnya digelung cantik. Sepasang mata emerald itu memancarkan kehangatan. Warna yang indah, sama seperti mata Arthur. Hanya lebih hangat. Terlihat jauh lebih hangat dan tenang, serta keibuan.
"Pakai ini. Punya Allistor. Tadinya dia sama sekali tidak membiarkanku membuka lemari pakaiannya, tapi ukuran Arthur tentu tidak akan muat untukmu, kan?" Mrs. Kirkland menawarkan senyuman hangat.
"Ah, terima kasih, ma'am." Alfred menerima pakaian yang disodorkan ibu Arthur kepadanya. Kemeja merah marun dengan motif kotak-kotak, sweater abu-abu, celana panjang, dan― ah, Alfred pikir ia harus going commando*. Baik sekali Allistor padanya. Mukanya sedikit memerah, ia tersenyum segan pada Mrs. Kirkland.
"Baiklah, cepat ganti baju, kami akan menunggumu di bawah." Mrs. Kirkland tersenyum lagi, kemudian pergi meninggalkan Alfred, menutup pintu dengan hati-hati.
Wanita itu tersenyum setiap saat, pikir Alfred. Coba kalau Arthur seperti ibunya...
Alfred menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut. Kalau pun ada hal yang membuat Arthur tidak sering-sering tersenyum seperti ibunya, Alfred adalah salah satu faktor penyebabnya. Tapi ia masih punya kesempatan untuk mengubahnya, kan? Buktinya ia bisa membuat Arthur tertawa. Jadi dia pasti dapat mengembangkan senyuman Arthur juga. Dia hanya perlu waktu, dan kesempatan, kalau Arthur mau memberikan.
Alfred mengancingkan manik terakhir sweater abu-abu yang membalut tubuhnya, kemudian memperhatikan pantulan dirinya di kaca. Ia belum pernah terlihat begitu― British. Satu-satunya celana panjang yang ia miliki hanya celana sekolahnya. Dan warna merah ini benar-benar merepresentasikan Allistor. Pemuda itu benar-benar menghayati julukannya sebagai setan merah kalau sampai baju dan shamponya juga merah.
Alfred menghela nafas, membenarkan kerah kemejanya dan keluar dari kamar mandi. Mereka sudah menunggunya di bawah, kan?
Hal pertama yang dikenali oleh indera Alfred saat ia menuruni anak tangga adalah aroma manis scone dan wangi teh yang menenangkan. Ia berhenti sebentar untuk mengendusnya, mengenalinya sebagai wangi yang selalu tercium dari Arthur. Alfred tersenyum dan meneruskan langkahnya.
Ia bertemu dengan Allistor di ujung tangga. Pemuda berambut merah itu hanya mendengus dan terus melangkah. Alfred memutuskan untuk mengikutinya, berjalan beberapa langkah di belakangnya. Saat mereka berdua memasuki ruang makan, Arthur terlihat sudah duduk di salah satu kursi dan sedang menikmati makan malam di hadapannya.
Arrhur mengangkat kepalanya, bertemu pandang dengan sepasang mata biru langit Alfred sejenak, kemudian kembali menundukkan kepalanya. Mrs. Kirkland muncul dari arah dapur dengan membawa tray berisi scone yang wanginya menggoda.
"Duduklah, dear. Kau belum makan, kan?" Mrs. Kirkland menepuk pundak Alfred pelan.
"Ah, iya."
Alfred terdiam sejenak, kemudian dia memutuskan untuk duduk di seberang Arthur. Dia sempat menyadari bagaimana bahu Arthur menegang.
Mrs. Kirkland mengambil seiris daging dan meletakkannya di atas piring di hadapan Alfred. "Kuharap kau tidak keberatan dengan sajian sederhana ini, err―"
"Alfred, ma'am. Alfred F. Jones."
"Alfred. Nama yang bagus. Makanlah, kuharap rasanya sesuai dengan seleramu." Lagi-lagi Mrs. Kirkland tersenyum. Alfred mulai merasa bahwa mungkin saja wanita ini tidak pernah merasa sedih. Lalu apakah Mrs. Kirkland tidak tahu bagaimana kehidupan putranya di sekolah? Apakah wanita ini akan tetap bersikap baik padanya jika dia tahu bahwa Alfred-lah yang sudah melukai putranya?
Alfred mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan pelan. Memang benar ia lapar, dan dalam kondisi normal ia pasti akan melahap makanan apa pun yang ada di hadapannya dengan rakus. Tapi ia berada di tengah-tengah keluarga orang lain; keluarga Kirkland. Bahkan ia tidak ingat kapan terakhir kali makan bersama-sama dengan keluarganya. Rasanya sudah lama sekali, sejak ia memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal di kota ini sendiri.
Ia bisa merasakan Allistor beberapa kali melemparkan tatapan tajam kepadanya, membuatnya kesulitan menelan makanannya.
Harus Alfred akui ia khawatir untuk bertemu lagi dengan pemuda berambut merah itu setelah kejadian siang tadi di Madison. Ia tidak tahu apa yang tadi dibicarakan oleh Arthur dan kakaknya, tapi pasti ada hubungannya dengan dirinya. Lihat saja bagaimana pemuda itu memandang tajam ke arahnya tiap kali mereka bertemu mata. Baik Arthur maupun Allistor sama sekali tidak terlihat ramah seperti ibu mereka. Ada yang salah dengan dua anak laki-laki keluarga ini. Kalau bukan karena mata warna emerald yang identik, Alfred tidak akan tahu kalau Mrs. Kirkland adalah ibu dua orang itu.
Terdengar bunyi dentingan garpu dengan pinggiran piring porselen yang memecahan kesunyian. Arthur berdehem dan meletakkan alat makannya, menarik napkin dan mengusap sudut mulutnya.
"Aku sudah kenyang." Omega itu mengangkat cangkir tehnya, menyeruput sedikit isinya, lalu meletakkannya kembali dan bersiap untuk beranjak dari kursi.
Terdengar lagi suara dentingan alat makan. Kali ini disebabkan oleh Allistor yang menghujam potongan steak di piringnya dengan sedikit berlebihan."Hei, habiskan makananmu."
"Arthur," Nada bicara yang digunakan Mrs. Kirkland membuat Alfred diam juga, menghentikan gerak gerahamnya. "setidaknya tinggallah untuk makanan penutup. Kita punya tamu di sini, jaga sikapmu."
Arthur mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal. Ia terlihat seperti akan membantah, tapi menahan diri. Ia memutuskan untuk melingkupi cangkir porselennya, mengusap mulut cangkir dengan ibu jari.
"Jadi, Alfred, kau satu kelas dengan Arthur di kelas barunya, kan?" Mrs. Kirkland mengalihkan perhatiannya kepada Alfred, tersenyum hangat. "Arthur tidak mau mengatakan alasan mengapa dia dipindah ke kelasnya yang sekarang. Allistor juga sama saja. Katakan, apa kau tahu sesuatu? Apa karena nilai ujiannya turun?"
Alfred mengerjapkan sepasang mata biru langitnya.
Jadi Arthur tidak menceritakan hal itu pada ibunya. Allistor juga tidak mengatakan apa-apa. Hebat, ia kira omega seperti Arthur akan mengadu kepada ibunya begitu ia disakiti. Ibunya terlihat seperti seorang wanita yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Mengapa Arthur tidak bercerita padanya? Apakah ia tidak ingin membuat ibunya khawatir? Apakah dia tidak dekat dengan ibunya?
"Ibu." Kirkland termuda itu mengerutkan kedua alis tebalnya, memandangi ibunya dengan tatapan lelah.
"Apa yang kau sembunyikan dari Ibu, Nak?"
Suasana menjadi semakin canggung. Alfred sadar ia terjebak di tengah-tengah perbincangan pribadi keluarga Kirkland. Lebih parahnya lagi, ia adalah masalah utama dari pembicaraan ini. Kalau sampai Arthur buka mulut, Alfred pasti akan ditendang keluar dari kediaman Kirkland di tengah hujan deras seperti ini. Tidak. Bukan tidak mungkin Mrs. Kirkland akan menelepon kantor polisi dan membuatnya dijebloskan ke dalam penjara saat itu juga.
Karena harusnya Alfred berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menyakiti seorang omega hanya demi 2900 dollar. Sejak awal dia tahu kalau targetnya adalah seorang Kirkland. Bahkan mendengar nama Allistor Kirkland pun sudah cukup membuat kaki gemetaran. Kenapa dia begiu ceroboh? Tidak bisakah dia bertemu Arthur dengan cara baik-baik, dengan menjadi pahlawan baginya, misalnya. Kenapa dia memutuskan untuk muncul ke dalam kehidupan Arthur sebagai seorang penjahat?
"Heh, mungkin sudah saatnya kau memberitahu Ibu apa yang sebenarnya terjadi, Art." Allistor memamerkan seringaian jahatnya, kemudian melirik ke arah Alfred. Hal itu membuat Alfred menelan ludahnya dengan berat. Cepat atau lambat ibu Arthur memang harus tahu.
Mrs. Kirkland melihat kepada kedua putranya secara bergantian. Kebingungan jelas-jelas terlukis pada paras cantiknya.
"Arthur?"
Si empunya nama hanya menundukkan pandangannya, merasa bahwa cangkir warna gading dalam genggaman tangannya terlihat jauh lebih menarik daripada sepasang mata emerald ibunya.
"Atau― Ibu bisa bertanya lagi pada Jones. Dia juga tahu sesuatu."
Saat itu Alfred bertemu pandang dengan manik emerald Allistor yang berkilauan. Seringaian jahat masih terukir pada wajahnya. Kalau mungkin malah semakin melebar.
"Alfred? Lalu kenapa bukan kau sendiri yang memberitahu Ibu, Allistor? Kau juga tahu tentang hal ini, kan?" Mrs. Kirkland mempertanyakan.
Allistor hanya tersenyum miring, menyeruput tehnya dengan tenang.
"Aku memang tahu, Ibu. Tapi aku tidak berhak mengatakannya. Dua orang ini― hanya mereka yang boleh membuka rahasia kecil mereka." Ia terkekeh. "Ah, aku baru ingat ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku pergi, Bu. Jangan khawatirkan aku, aku akan menginap di rumah Oxen malam ini."
Dengan itu Allistor pergi, setelah bicara seenaknya dan meninggalkan ruang makan dalam atmosfer yang tidak menyenangkan.
Mrs. Kirkland menggumamkan selamat jalan, berpesan agar Allistor berhati-hati mengingat hujan yang masih mengguyur deras. Kemudian suasana kembali sunyi, hanya terdengar suara hujan di luar, desiran angin yang menggoyangkan ranting-ranting pohon, mengetuk-ketuk kaca jendela.
Arthur masih tidak mau mengangkat kepalanya. Alfred juga menundukkan pandangannya begitu Mrs. Kirkland melihat ke arahnya. Memang benar ia adalah seorang alfa, dan alfa tidak mungkin merasa takut pada omega. Tapi omega di hadapannya ini adalah ibu Arthur. Ada lebih dari cukup alasan bagi Alfred untuk merasa bersalah pada wanita ini, hingga tak sanggup melihat kedua matanya. Rasanya begitu berbeda dari Arthur. Tentu saja ia juga merasa bersalah pada omega berambut pirang itu, tapi rasa bersalahnya pada ibu Arthur adalah sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Alfred sudah membuat putra wanita ini menderita. Dia tersangka utama.
"Arthur, Alfred, katakan, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua?"
Alfred belum pernah merasa gelisah seperti ini.
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.
Allistor tidak mengerti mengapa Arthur bersikeras tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada ibu. Kalau pun alasannya karena ia tidak mau membuat ibu khawatir, caranya tidak demikian! Harusnya ia berakting dengan lebih baik kalau ingin meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja. Tentu saja wanita itu tetap khawatir, lihat saja bagaimana kondisi Arthur yang semakin hari semakin menyedihkan. Arthur tidak akan bisa menipu ibu dengan sepasang mata emerald suram itu!
Allistor tidak jahat. Dia juga tidak membongkar rahasia umum Arthur dan Jones kepada ibu. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya memberi petunjuk pada ibu. Secercah cahaya di ujung terowongan. Dia tidak ingin membiarkan ibunya terlalu lama berada dalam kegelapan. Bagaimana pun juga wanita itu berhak untuk tahu.
Dia ingin memberi sedikit pelajaran pada dua orang bodoh itu. Arthur sudah menghinanya siang tadi, dia tidak suka. Jones juga sangat menyebalkan, Allistor benar-benar tidak menyukai pemuda Amerika berisik itu. Apa yang ada dalam pikirannya, bukankah dia mempunyai pasangan, kenapa masih mengganggu adiknya? Tapi kalau si maniak junk food itu benar-benar akan melindungi adiknya, apa yang bisa ia lakukan? Bukankah ia sendiri yang menyuruh Arthur segera menemukan alfanya? Dan siapa pun itu, bukankah masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali? Atau, daripada diklaim oleh kakaknya sendiri?
Allistor menghela nafas dan memandangi pintu di hadapannya dengan tidak tertarik.
Untuk saat ini dia akan membiarkan keduanya bebas. Dia bukan baby sitter dan Arthur bukan bayi. Ia tidak perlu mengawasi Arthur setiap saat dan memanjakannya. Bukankah dia pernah mengatakan tidak akan menolong Arthur?
Tangannya terulur untuk menekan bel.
Kalau suatu hari nanti Arthur berteriak memanggil namanya dengan suara yang parau dan menyedihkan, ia baru akan datang.
Pintu dibuka dan dari baliknya muncullah Berwald yang terlihat sudah bersiap untuk tidur, dalam balutan piyama warna biru tua. "Kirk? Kau membutuhkan sesuatu?"
Tapi selama si yankee itu serius untuk menjaga adiknya, dia tidak perlu khawatir, kan?
"Aku ingin menginap semalam di sini. Kau tidak keberatan, kan?"
Karena nama yang akan Arthur panggil saat ia kesulitan bukan namanya.
"Heeeh? Kenapa? Kau kabur dari rumah?"
Orang yang akan memeluk dan menenangkan Arthur bukan dirinya.
"Bodoh, apa aku terlihat konyol seperti itu? Aku sudah mengantuk. Minggir, aku mau masuk."
Dan yang akan mengklaim Arthur jelas bukan kakaknya.
"Ah, baiklah. Tapi kau tidur di sofa."
Dia akan memiliki kehidupannya sendiri suatu saat nanti.
"Memangnya siapa yang mau tidur seranjang denganmu? Huh."
Bukan dengan Allistor, tapi dengan alfa lain yang akan membuatnya bahagia. Bisa jadi dengan bocah Amerika kapten tim football sekolah itu.
"Mungkin harusnya aku membiarkanmu tetap di luar, Kirk. Selamat malam."
Dengan Alfred Fucking Jones.
"Jadi bukan karena nilai ujianmu turun?"
Arthur menggelengkan kepalanya.
"Baik kelas A maupun kelas F sama saja, Bu. Aku tetap menempati peringkat pertama."
Mrs. Kirkland mengerutkan alisnya.
"Tapi― hanya karena hal sederhana seperti itu?"
Arthur menghela nafas.
"Bagi alfa tidak sesederhana itu, Bu." Arthur melirik ke arah Alfred yang dari tadi hanya terdiam.
Tadinya ia ingin menghindar dari interogasi ibu seperti yang sudah-sudah. Arthur tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya pada ibu. Selain karena tidak ingin membuat wanita itu khawatir, ada bagian kecil dari dirinya yang mengatakan padanya untuk melindungi Alfred. Dia tidak ingin ibunya membenci Alfred, karena alfa itu adalah satu-satunya orang yang peduli padanya. Arthur tidak ingin membuat semuanya menjadi lebih rumit, tapi ia iuga tidak bisa berbohong pada ibu.
Jadi ia mengatakan sebagian kebenaran yang ia sembunyikan. Bahwa ia dipindahkan ke kelas F karena Alfred. Karena ia adalah pasangan Alfred. Arthur tidak menceritakan tentang kejadian di klinik sekolah. Dia tidak mungkin membiarkan ibunya tahu. Ia mengatakan pada ibunya bahwa teman-teman sekelasnya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia merupakan pasangan dari alfa kelas lain. Dan selama itu Alfred hanya diam mendengarkan, sebagaimana ibunya. Arthur yakin pemuda itu khawatir perbuatannya akan terbongkar. Ia terlihat terkesima dengan versi cerita Arthur. Ibunya juga terlihat percaya.
"Ah, Ibu tidak mengerti dengan sikap alfa-alfa itu." Ibunya mengerutkan kening. "Tapi, kau akan menjaga Arthur kan, Alfred? Kau akan melindunginya, kan?" Suaranya terdengar begitu lembut dan penuh perasaan, tersenyum hangat pada Alfred.
Pemuda bermata biru itu terdiam, kemudian senyumannya mengembang dan ia menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Tentu saja, ma'am. Aku akan menjaga putramu baik-baik."
"Kau tahu, aku lega mendengarnya. Kupikir Arthur diganggu oleh alfa-alfa yang jauh lebih kuat darinya. Tapi aku tidak khawatir lagi karena ada kau, Alfred." Ibunya menggenggam tangan Alfred dan mengusap-usap punggung tangannya pelan. "Tapi kuharap kau tidak perlu mengklaim Arthur dulu. Dia masih sangat muda. Kalian berdua masih sangat muda."
"Aku tahu omega-omega lain bahkan sudah memiliki anak saat seusia Arthur, tapi aku harap kau mengerti, Alfred. Arthur masih ingin bersekolah." Ibu beralih pada Arthur, mengacak rambutnya penuh kasih sayang.
Alfred terdiam.
"Bermalamlah di sini, Alfred. Arthur, tolong tunjukkan kamar tamunya kepada Alfred."
Tanpa mengatakan apa-apa, Arthur beranjak dari kursinya. Alfred mengikuti. Mereka berdua berjalan dalam diam, tidak ada yang berbicara. Arthur akan memberi waktu kepada pemuda Amerika itu untuk memikirkan kata-kata ibunya tadi.
Apakah dia bisa mengerti?
Arthur memang belum diklaim oleh Alfred, tapi apa yang dilakukan pemuda berkacamata itu bahkan jauh lebih buruk dari sekedar klaim. Arthur tidak bisa terus-terusan menyalahkan Alfred, tapi ada waktu di mana ia ingin pemuda itu melakukan introspeksi diri. Bahkan alfa arogan seperti dirinya pun bisa membuat kesalahan besar. Coba kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya pada ibunya, Alfred sudah pasti diusir pergi dari rumahnya.
"Arthur?"
Mereka berdua berhenti di depan sebuah kamar.
Arthur tidak membalikkan badannya, pura-pura tidak mendengar bisikan lirih Alfred memanggil namanya. Sejak kapan pemuda itu terdengar begitu menyedihkan?
Ia memutar gagang pintu terbuka, disambut oleh kegelapan. Tangan Arthur meraba dinding, menekan tombol lampu dan seketika kamar ini menjadi terang. Tidak ada yang istimewa di sini, hanya ada tempat tidur, meja, kursi dan lemari besar dengan cermin sepanjang badan. Mereka jarang kedatangan tamu yang sampai bermalam, sehingga kamar ini tidak pernah digunakan. Meskipun demikian, ibunya selalu memastikan kamar ini layak digunakan. Tidak ada sedikitpun debu yang menutupi permukaan meja dengan vas yang berisi rangkaian bunga mawar. Mawar merah yang dipetik dari kebun belakang rumah mereka.
Arthur melangkah masuk dan berdiri di dekat meja. Ia mengulurkan tangannya untuk meraba kelopak mawar warna merah darah.
Alfred menutup pintu di belakangnya, menyandarkan badannya pada kusen pintu.
"Arthur?" Kali ini suaranya lebih keras.
Dia menarik setangkai mawar dari vas bunga, memutar tangkainya yang tak lagi berduri. Ibu selalu menghilangkan duri dari tiap tangkai mawar yang akan mengisi vas-vas di dalam rumah. Wanita itu belajar dari kejadian masa lalu, saat Arthur masih belum lancar berjalan. Arthur kecil pernah merangkak dan mengulurkan tangannya meraih vas di atas meja, tanpa berpikir panjang menarik segenggam mawar merah dengan semangat. Tangannya terluka, duri-duri itu menusuk-nusuk telapak tangannya dan membuatnya berdarah. Tapi tidak ada yang membuat ibunya lebih histeris lagi selain melihat mulut putranya juga berdarah-darah karena balita bodohnya memutuskan untuk menggigiti rangkaian mawar merah. Sejak saat itu tidak ada lagi mawar berduri di dalam rumah ini. Hanya tangan ibunya yang penuh dengan luka gores lama.
Tapi bukankah keberadaan duri-duri ini untuk melindungi bunga mawar yang cantik dari tangan-tangan jahat? Bagaimana jadinya kalau mereka benar-benar tumbuh tanpa perlindungan? Apa yang akan terjadi jika sejak awal mereka selalu sebotak ini?
"Arthur, kau mendengarku? Hei!"
"Aku mendengarmu dari tadi, git." Ia menyelipkan kembali bunga itu ke dalam vas, kemudian membalikkan badannya menghadap Alfred. "Apa yang ingin kau katakan?"
Dua pasang mata mereka bertemu.
"Kau― tidak memberitahu ibumu?"
Arthur mengerutkan keningnya. "Kau ingin ibuku kena serangan jantung?"
Alfred mengganti tumpuan kakinya, menghela nafas. "Maaf."
Kata-kata ibunya tadi pasti sudah merasuki pikiran Alfred. Ia terdengar seperti anjing yang telah dimarahi majikannya. Arthur hampir bisa membayangkan sepasang telinga di antara rambut pirang Alfred terkulai ke bawah.
"Apa sekarang kau berubah pikiran?"
Alfred mengangkat kepalanya, "Ha?"
"Kau berubah pikiran? Apa kau akan meninggalkanku sendiri? Kau tidak akan mengklaimku seperti katamu tadi siang?"
Alfred terlihat tidak mengerti, sepasang alisnya berkerut dalam. Kemudian mata birunya membulat, "Tapi tadi ibumu bilang―"
"Apa kau meminta izin pada ibuku waktu itu?" Arthur melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau bahkan tidak memikirkan apa akibatnya untuk diriku nanti, kenapa sekarang kau mendengarkan kata-kata ibuku?"
Setelah mendengar permintaan ibunya, apakah Alfred akan mundur dan pergi meninggalkannya? Bagaimana dengan janji-janji yang sudah ia buat? Apa semuanya hanya kebohongan belaka?
"Tapi kupikir―"
Arthur menghampiri Alfred dengan langkah gusar, berdiri di hadapannya, kemudian menampar pipinya dengan keras. Sepasang mata emeraldnya terlihat basah. Tangannya terasa panas, dan warna merah samar mulai terbentuk pada pipi kiri Alfred. Pemuda berkacamata itu memandanginya dengan alis yang berkerut dalam.
"Brengsek, harusnya aku tahu kau hanya mempermainkanku…" Tangan kanannya yang ia gunakan untuk menampar Alfred ia kepalkan, sedikit gemetar.
"Art―"
"Arrghh! Kenapa kau tidak meninggalkanku sejak awal?! Kenapa kau memberiku harapan?! Kenapa―"
Alfred memeluknya, bagian depan bajunya meredam teriakan frustasi Arthur. Dia berontak, mencoba melepaskan diri. Tapi Alfred jelas lebih kuat darinya dan pemuda itu tidak mau melepasnya pergi. Arthur mencengkeram bagian belakang baju Alfred, menariknya, memukulnya, melakukan apa pun untuk membuat sang kapten football melepasnya. Tapi hasilnya nihil. Bahkan Alfred memeluknya lebih erat, menariknya lebih dekat; membuatnya sesak.
"Bodoh, aku tidak akan meninggalkanmu." Alfred berbisik pada telinganya.
Ada getar yang menjalari ruas-ruas tulang punggungnya, melemahkan otot-ototnya. Arthur menghela nafas gemetar, tangannya ia kepalkan, mencengkeram bagian belakang pakaian Alfred. Memeluknya.
"Kau tidak bohong?"
"Aku tidak mungkin berbohong padamu, da."
"Kau yakin tidak salah lihat?"
"Pemuda berambut pirang dengan cowlick aneh, bermata biru, berkacamata; apa ada orang lain dengan ciri-ciri seperti itu yang memakai jaket bernomor 50?"
"Dan yang satunya lagi? Berambut pirang juga?"
"Ya, dengan alis yang tebal seperti ulat bulu. Konyol sekali, da." Pemuda bermata ungu itu terkekeh pelan.
"Arthur Kirkland. Omega jalang itu…"
"Hmm, kau ingin aku melakukan sesuatu? Boleh aku bermain-main dengannya, da?"
Pemuda yang lebih pendek menyeringai.
"Tentu, Braginsky. Si alis tebal itu milikmu."
*going commando : tidak memakai celana dalam, pfft
