Prince Hadhi ESP

Present

A fanfiction

"60 Days"

.

.

.

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Hanya sebuah cinta yang sederhana yang ku punya, namun cintaku itu sempurna untukmu."

"

.

.

.

This

Is

A

Eighth Story

.

.

.

Enjoy the Story

.

.

.

Mentari pagi dipertengahan bulan november bersinar, sinar hangatnya menyapa setiap insan pagi ini begitu pun dengan Baekhyun yang sudah rapi dan bersiap untuk melakukan aktivitasnya seperti biasanya.

"Pagi, Yeol." Sapanya pada suaminya, saat suaminya baru saja keluar dari kamar.

"Pagi, sayang"

Baekhyun menghentikan aktivitas mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya ke rumah sakit. Dia menghampiri suaminya dirapihkannya surai berantakan itu.

"Aku sudah memasak, kau tinggal mengambilnya saja. maaf aku tidak bisa menemanimu makan, Yeol"

Netra Chanyeol memandangi wajah teduh itu, "Kenapa?"

Baekhyun tersenyum, "Ada yang sedang menungguku didepan daritadi, aku tak enak"

Chanyeol mengerutkan dahinya, "Siapa?sebegitu pentingkah sampai dia menunggumu sepagi ini?"

Baekhyun sedikit tertawa, "Dia penting untukku sekarang, Yeol"

Baekhyun berjalan menuju pintu keluar, sebelum memutar kenop pintu dia berhenti sejenak. Memutar tubuhnya, dipandangnya sejenak suaminya yang kini memandang dirinya dengan pandangan penuh dengan tanda tanya. "Dia kekasihku, Yeol"

Chanyeol membulatkan kedua bola matanya sempurna, "Apa? Kekasih? Apa kau sudah gila, Baek? Aku masih suamimu, Baek"

Baekhyun memberi senyuman sekilas pada suaminya lalu bergegas keluar rumah. Dia tersenyum pada sosok yang sedang bersandar pada mobil mewahnya. Sosok dengan stelan kemeja Baby Blue dan kacamata hitam yang bertengger diwajahnya.

—Tampan.

"Maaf lama, Kris"

Kris membuka kacamatanya, memberi senyuman termanis miliknya pada seseorang yang dicintainya itu, "Tidak, hanya lewat beberapa menit dari janji kita saja, Baek"

Baek mendekat kearah Kris, dipandanganya sosok pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kris yang melihat itu hanya bisa menautkan kedua alisnya, Bingung.

"Kau tampan, Kris"

Kris terkekeh, "Kau suka, Baek?"

Baekhyun mengangguk, "Aku suka, Chagi"

"Ben—Apa? Coba kau ulangi lagi, Baek"

Baekhyun tersenyum dia memeluk tubuh yang lebih tinggi dari tubuhnya itu, "Aku bilang, Chagi"

Kris tersenyum senang, dia mempererat pelukan Baekhyun, "Jadi kita—"

"—Jadian"

Baekhyun memotong cepat ucapan Kris, dia menyamankan dirinya dalam pelukan Kris menghirup aroma maskulin yang menguar ditubuh itu. katakan saja saat ini Baekhyun membuat dosa karena berselingkuh dari suaminya.

Namun, apa yang Baekhyun lakukan saat ini menurutnya impas, sebenarnya Baekhyun hanya ingin sedikit membalas apa yang dilakukan Chanyeol padanya. Agar Chanyeol bisa merasakan sakitnya diduakan. Entahlah cara ini berhasil atau tidak. Kalo boleh jujur Baekhyun tak ingin melakukan semua ini, dia amat mencintai Chanyeol.

"Ayo kita berangkat, Sayang"

Baekhyun melepaskan pelukannya, "Ayo sayang"

Kris membukakan pintu mobil mewah itu, mempersilahkan Baekhyun untuk masuk terlebih dahulu. Setelah pintu ditutup Kris memutar dan masuk kedalam mobil. Sedan metalik mewah itu pun melaju membelah pagi di kota Seoul.

"Kau masih milikku, Baek. Kau itu masih suamiku. Kau tidak boleh dimiliki siapa pun."

.

.

.

"40 Days"

.

.

.

"Akhir-akhir ini kau sering diantar dengan Kris, ada apa Baek?"

Baekhyun tersenyum kecil, dia menghentikan pekerjaannya sejenak. "Tidak ada apa-apa Kai"

Kai mengambil permen dari dalam toples yanga da diatas meja kerja Baekhyun, Baekhyun mempunyai kebiasaan membawa pemen dan menaruhnya didalam toples. Walaupun jarang dia makan. "Aku tidak percaya padamu, Baek"

Baek ikut mengambil permen, dia memilih rasa strawberry. "Apa yang kau harapkan, Kai?"

"Ceritamu"

Baek membuka bungkus permen itu, memasukkannya kedalam mulut dan mulai menyesap rasanya. "Aku ... "

"Aku?"

"Aku jadian dengannya, Kai"

Kai menatap sahabatnya itu, Baekhyun pun juga menatap netra Kai yang menatapnya dalam.

"Aku tau ini salah, Kai"

Kai tersenyum sambil menepuk pundak Baekhyun, "Kau ingin apa dari itu, Baek?"

Baekhyun mengalihkan pandangannya keluar jendela yang tak jauh dari meja kerjanya, "Entahlah, Kai. Aku juga tidak tau."

"Kau aneh, Baek"

Baekhyun mengangguk tanpa melihat kearah Kai, "Memang, aku memang aneh, Kai"

"Kau mencintainya, Baek?"

Baekhyun melepas pandangannya dari jendela dan kini beralih melihat Kai, "Entahlah Kai, aku juga tidak tau."

"Kau aneh, Baek"

"Aku juga tidak tau apa yang aku rasakan padanya, entah cinta atau hanya sebatas membalas perasaannya saja. aku tidak tau, Kai"

Kai menghela nafasnya, "Kau jahat, Baek"

Baekhyun mengerutkan dahinya, "Jahat? Maksudmu, Kai?"

Kai tertawa, membuat Baekhyun bingung dibuatnya. "Kau tidak mencintainya tapi kau menjadikan dirinya kekasih, apa itu tidak jahat, Baek?"

"Tapi, Kai. aku—"

"—dan kau jadikan dia hanya untuk membalas semua perbuatan padamu selama ini kan?"

Baekhyun diam,

Apa yang dikatakan Kai semua benar, ya untuk apa Baekhyun melakukan semuanya kalau tidak mencintai Kris? Baekhyun hanya ingin membalas apa yang dilakukan Chanyeol saja, ya hanya itu saja. melakukan itu semua lewat hubungannya dengan Kris.

"Kenapa diam, Baek?"

"Aku takut, Kai"

Kai mengambil permen kembali, membukanya dan memakannya kembali. "Takut? Untuk?"

"Untuk segalanya, Kai"

"Sudah terlambat, Baek. Api yang buat sudah kau buat kini sudah makin membesar."

Baekhyun menghela nafasnya berat, "Kau benar Kai. Sudah terlambat untuk aku berhenti."

Kai tersenyum sambil menepuk pundak sahabatnya itu, "Semua berawal darimu dan kau sendiri yang harus mengakhirinya jika kau ingin mengakhirinya, Baek"

.

.

.

"Menunggu lama ya, Kris? Aku minta maaf."

Kris tersenyum, dibelainya lembut surai Baekhyun. "Tidak, sayang. Hanya menunggu beberapa menit saja."

Baekhyun menggenggam jemari Kris, "Maafkan aku."

Kris membalas genggaman tangan Baekhyun, "Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf seperti itu, Baek"

"Aku takut kau marah, Kris"

Kris menangkup kedua pipi Baekhyun, dikecupnya kening itu lembut. "Kau yang ku cinta, tidak mungkin aku marah hanya karena menunggumu saja, sayangku"

Baekhyun mengecup kilat puncuk hidung mancung Kris, "Terima kasih"

Kris langsung mendekap Baekhyun dalam pelukannya, dikecupnya puncak kepala Baekhyun. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, sayang"

"Untuk?"

"Untuk semua cinta yang kau berikan padaku selama ini, terima kasih"

"Aku juga berterima kasih, Kris. Sudah ada dan selalu ada disetiap waktu untukku."

"Mesranya."

Sebuah suara menginterupsi kegiatan Kris dan baekhyun, mereka berdua perlahan melepas pelukan dan menatap pada sumber suara.

"Chanyeol, ada apa?" tanya Kris, agak ketus.

Chanyeol tertawa, tangannya merengkuh pinggang Kyungsoo untuk merapat kearahnya.

"Bisa kan tidak bermesraan didepan umum seperti itu, emm?"

Baekhyun mendekat kearah Chanyeol, "Jika tidak boleh didepan umum, harusnya dimana jika ada sepasang kekasih bermesraan seperti itu, Tuan Park?"

Baekhyun menunjuk Chanyeol dan Kyungsoo yang saat ini sedang saling merangkul dan memeluk satu sama lainnya.

Kris tersenyum, Chanyol makin mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo.

"Kami biasa saja, tidak sevulgar kalian." Elak Chanyeol

"Kau cemburu, Baek? Bilang saja jika kau emmang cemburu dengan kemesraan kami." Kyungsoo mengecup pipi Chanyeol tepat didepan mata Baekhyun.

Baekhyun hanya diam saja melihat itu, Kris mulai melangkah maju. Kedua tangannya menutup kedua mata Baekhyun. Mencoba untuk menghalangi kedua mata indah itu melihat pemandangan yang seharusnya tak dilihatnya.

Baekhyun perlahan menurunkan tangan Kris dari matanya,

"Tak perlu kau tutup, Kris"

"Tapi kau tak perlu melihat itu, Baek"

Baekhyun melihat kearah suami dan sahabatnya itu, "Aku sudah biasa melihatnya, Kris"

"Oh ya?"

Netra Baekhyun tak lepas dari Chanyeol dan Kyungsoo, yang saat ini bibir Chanyeol mengecup kening Kyungsoo.

"Bahkan yang lebih sakit dari ini aku sudah melihatnya."

"Baek"

"Aku mau pulang, Kris"

"Ayo kita pulang."

Kris menggenggam tangan Baekhyun dan membawanya menuju tempat mobil milik Kris diparkir.

"Kau baik-baik saja, Baek?" tanya Kris saat mereka berdua sudah berada didalam mobil.

Baekhyun memandang Kris, "Aku tidak apa-apa, Sayang."

Kris membelai rambut Baekhyun, "Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja, Sayang"

"Percaya padaku"

Kris mengangguk, "Oke."

.

.

"35 Days"

.

.

Hari demi hari berlalu, bahkan 60 hari itu berlalu begitu saja tanpa arti sama sekali. Baekhyun maupun Chanyeol masih tetap menjalani semuanya seperti biasa.

"Kau sudah ingin pergi, Baek?"

Baekhyun merapikan seragamnya didepan cermin besar dikamar mereka berdua, "Iya, Yeol. Kau mandi dan sarapan"

"Kau masak apa, Baek?"

"Kau mau makan apa, Yeol?"

Chanyeol membetulkan posisinya menjadi duduk diatas tempat tidur, "Terserah kau saja, Baek. Apapun yang kau masak aku suka."

Baekhyun melihat kearah arloji miliknya, "Tapi aku tidak punya banyak waktu, Yeol. Kau beli saja diluar ya, aku berangkat dulu."

"Baek"

"Atau kau bisa bilang Kyungsoo untuk datang memasak untukmu sarapan"

"Baek"

"Aku pergi dulu, Yeol—Awww"

Chanyeol menarik lengan Baekhyun, mendorong Baekhyun ketembok dan mengurungnya disana.

"Kau itu kenapa, Baek?"

"Kenapa? Kenapa apanya maksudmu, Yeol?"

"Kau itu kenapa aku tanya, Baek? HAH? KENAPA?"

Baekhyun menautkan kedua alisnya, dia benar-benar bingung dengan apa yang dikatakan suaminya sekarang.

"Yeol, coba kau jelaskan dengan tenang, jangan emosi seperti ini."

"ARRGGGHHH"

Chanyeol memukul tembol yang ada dibelakang Baekhyun, dia berjalan meninggalkan Baekhyun keluar dari dalam kamar. Terlihat ada bercak darah bekas Chanyeol memukul keras tembok itu, Baekhyun mengambil perlengkapan perawatan Luka dan bergegas keluar dari dalam kamar.

Baekhyun mencari suaminya itu, ternyata dia sedang duduk dimeja makan dengan tangan penuh darah. Baekhyun mendekati suaminya itu. ditariknya tangan yang luka tersembut, dengan telaten Baekhyun memebersihkan luka itu. Chanyeol hanya diam saja saat tangannya diobati suaminya.

"Baek"

"Seharusnya kau tidak perlu meninju dinding sampai kau terluka seperti ini, Yeol. Kau itu bukan superman"

"Baek"

"Hmmm..."

Chanyeol menghela nafas sekaligus menahan peris saat Baekhyun menekan luka yang ada ditangannya, "Apa harus pria itu yang kau pilih?"

Baekhyun berhenti sejenak, "Kenapa kau tanya itu, Yeol?"

"Aku tidak rela kau menjadi miliknya, Baek"

Baekhyun tersenyum, dia melanjutkan mengobati tangan suaminya. "Kau tidak rela, Yeol?"

Chanyeol mengangguk walau tidak dilihat Baekhyun, karena mata Baekhyun berkonsentrasi penuh pada luka suaminya itu. "Iya"

"Apa kau bertanya pada hatiku, Yeol?"

Chanyeol diam, dia bingung.

Baekhyun mengangkat wajahnya, netranya menatap dalam kedua bola mata suaminya itu. "Apa kau tidak tau, betapa tidak relanya diriku saat kau dimiliki orang lain. Yeol?"

Chanyeol masih diam, matanya tak lepas dari mata Baekhyun yang masih setia menatapnya.

"Dan sekarang kau bilang tidak rela jika aku bersama yang lain? Apa kau merasakan setiap luka yang kurasakan saat kau bermesraan dengan yang lain? Apa kau merasakan setiap air mata yang keluar hanya untuk memintamu kembali padaku? Kau benar-benar egois, Yeol"

"Maafkan aku, Baek"

Baekhyun tertawa, "Sudah lama aku memaafkan semua yang kau lakukan padaku, Yeol. Tak perlu meminta maaf."

"Tapi, Baek ... "

"Aku sudah merelakanmu dengan sahabatku, jadi sekarang aku minta kau juga merelakan aku dengan yang lain, Yeol"

Chanyeol menarik tangan Baekhyun, mendekap tubuh itu dalam pelukanya. Baekhyun hanya diam saja.

"Kau masih milikku, Baek. Kau masih milikku."

Baekhyun tersenyum dalam pelukan Chanyeol, "Tapi hatimu bukan lagi milikku, Yeol"

"Maafkan aku."

"Upss, sepertinya aku mengganggu kalian berdua."

Sebuah suara menginterupsi Baekhyun dan Chanyeol, Baekhyun melepas pelukan Chanyeol.

"Eh, tidak, Soo. Kau ingin memasak, Soo?"

Kyungsoo mengangguk, "Seperti biasanya, Baek. Tanganmu kenapa sayang?"

Kyungsoo menggangkat tangan Chanyeol yang terbalut kapas itu.

"Tidak apa-apa sayang, hanya kecelakaan kecil saja"

Baekhyun mundur, saat Kyungsoo mulai memeluk tubuh suaminya dan dibalas oleh Chanyeol dengan senang hati.

"Aku berangkat dulu, Soo jaga Chanyeol ya. Jangan biarkan dia kerja dulu hari ini, dia masih terluka."

"Oh, tenang saja, Baek. Akan ku jaga kekasihku ini baik-baik. Hati-hati ya dijalan."

Baekhyun tersenyum, "Aku percaya padamu, aku pergi dulu."

Baekhyun berjalan menuju keluar Appartemennya, namun ketika pintu Appartemen dibuka ada dua sosok perempuan paruh baya berdiri didepan Appartemen miliknya.

"Eomma?"

"Kenapa kau ganti pin Appartemenmu, sayang? Kami jadi tidak bisa masuk" protes salah satu wanita yang terlihat masih cantik diumurnya itu—Eomma Baekhyun.

"Kau sudah mau pergi kerja, sayang?" tanya wanita disebelahnya—Eomma Chanyeol.

"Iya, Eommoni"

"Mana Chanyeol? Kenapa dia tidak mengantarmu kerja? Aisshh anak itu." Eomma Chanyeol beranjak masuk kedalam Appartemen.

"Dia sedang sakit Eomma jadi tidak bisa mengantarku." Tukas Baekhyun yang membuat Eomma-nya berhenti melangkah masuk kedalam Appartemen

"Baby, ayo kita berangkat" sapa Kris diseberang sana.

Wanita yang belum masuk kedalam Appartemen Baekhyun itu membulatkan kedua matanya, "Baby?"

Kris melangkah maju, Annyeonghaseyeo, Aku Kris, aku kekasih Baekhyn. Anda pasti Eomma Baekhyun, salam kenal."

"Eomma"

"Kau harus menjelaskan semua ini, Baekhyun-ah"

"Chanyeol, apa yang kau lakukan, eoh? Apa kau sudah gila?" teriak Eomma Chanyeol dari dalam. Eomma Baekhyun bergegas masuk kedalam Appartemen diikuti Baekhyun dan Kris.

"Kau, apa yang kau lakukan, eoh?"

"Maafkan aku Eomma."

"Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Jelaskan pada kami"

Baekhyun dan Chanyeol saling bertukar pandang, kedua Eomma mereka silih berganti melihat dua anak mereka itu.

"Coba kalian jelaskan pada kami"

Baekhyun menarik nafasnya, "Maafkan kami, Eomma"

"Kami tidak butuh maaf kalian, kami hanya butuh penjelasan kalian. Ada apa ini sebenarnya?"

"kami ... kami ingin bercerai Eomma"

"APA?!"

.

.

.

TO BE CONTINUED