Julukan bajingan menjijikkan saja belum pantas untukku. Guanlin merenung sambil menatap Shuhua yang terbaring telanjang, tertidur pulas berbantalkan lengannya.

Obatnya mungkin sudah bereaksi, atau dia kelelahan gara-gara perbuatanmu dasar bajingan! Guanlin mengutuk dirinya sendiri. Tega-teganya dia memuaskan nafsunya atas tubuh Shuhua yang sedang sakit!

Tapi kelembutan Shuhua saat membisikkan kalimat "Tidak apa-apa." benar-benar membuatnya lepas kendali.

Guanlin menggertakkan giginya, dia tidak boleh lepas kendali lagi!

Dengan lembut diletakkannya kepala Shuhua di bantal, dan diselimutinya tubuh telanjang Shuhua dengan selimut tebal. Saat itulah bel apartemennya berbunyi, Guanlin mengernyit lalu meraih jubah tidurnya yang tersampir di kursi.

Ketika melihat dari lubang di atas pintu, dia melihat Yuqi dan Wooseok berdiri di sana, dengan enggan dia membuka pintu apartemennya dan berkacak pinggang di pintu yang terbuka. "Kenapa kalian bisa datang berdua disini?" tanyanya curiga.

Yuqi mengangkat alisnya, "Sungguh penyambutan tamu yang tidak sopan, kau kan yang meminta aku datang?"

Guanlin menatap Yuqi sekilas lalu menatap Wooseok yang sedang tersenyum. "Dan kau, hyung? Kenapa kemari?"

Wooseok hanya menunjukkan setumpuk berkas kepada Guanlin.

Sambil menarik napas panjang, Guanlin membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan masuk. "Silahkan masuk kalau begitu. Hyung, ijinkan aku berganti pakaian yang pantas sebelum melihat berkas-berkas itu. Oh ya, Jiejie. Shuhua masih tidur."

"Tidak hanya tidur kurasa." Yuqi memandang penampilan Guanlin yang acak-acakan dengan tatapan mencela.

Dan ketika Guanlin tidak membantah melainkan hanya tersenyum kecut, matanya membelalak tidak percaya. "Maksudmu… Kau..?" Yuqi kehilangan kata-kata. "Astaga Guanlin, tidak kusangka kau menjadi maniak seks separah itu sampai tega-teganya meminta gadis yang sedang sakit untuk melayanimu!!!" serunya blak-blakkan. "Mana dia? Aku harusnya merekomendasikan dia dirawat di rumah sakit, bukannya di sini. Kalau di sini bersamamu sepertinya dia bukannya sembuh, malahan tambah parah!!!"

Wooseok tampak tidak peduli dengan pertengkaran dua orang di depannya, dia sibuk melihat-lihat ruangan apartemen itu. "Wah, apartment yang bagus…Mungkin aku bisa beli satu disini," gumamnya santai.

Guanlin melotot ke arahnya, lalu dengan sebal melangkah ke kamar, Yuqi mengikutinya.

Shuhua sedang tertidur pulas saat Yuqi mendekat ke arahnya, dan menyentuh dahinya. "Panasnya seperti api, mungkin aku harus membawa sample darahnya ke lab untuk memastikan dia tidak terkena demam berdarah…."

Yuqi mengernyit menyadari Shuhua telanjang di balik selimutnya. "Aku masih tidak habis pikir kau menidurinya pada saat seperti ini.. Aku tak tahu dia siapamu, Guanlin. Setahuku kau masih berpacaran dengan artis cantik itu dan sekarang tiba-tiba kau sudah tinggal serumah dengan karyawanmu sendiri…."

"Tidak tinggal serumah, aku tinggal di rumahku sendiri. Apartment ini kubelikan untuknya."

Yuqi mengangkat alisnya. "Oh ya? Kalau begitu berapa malam kau di rumahmu sendiri dan berapa lama kau tidur disini?" Dengan cekatan, Yuqi memeriksa Kondisi Shuhua dan menyiapkan suntikan dari tas kerjanya untuk mengambil sample darah Shuhua.

Sementara itu, Guanlin kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Yuqi.

"Kau benar, Jie." Guanlin mengangkat bahu. "Sejak tidur bersamanya, pertama kali, aku tidak pernah membiarkannya tidur sendirian lagi tiap malam."

"Bagaimana ceritanya kalian bisa menjalin hubungan? Seingatku tingkat peluang pertemuan antara sang CEO dan staff biasa sangat kecil. Sebenarnya sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya, Guanlin. Wooseok oppa juga tidak mau menjelaskan apapun, kukira……"

"Bukan urusanmu, Jie. Tidak ada yang aneh dalam hubungan ini, dua orang setuju untuk saling memenuhi kebutuhan itu saja, dan aku menolak menjawab apapun kepadamu." Guanlin menjawab dengan tajam.

Yuqi mengangkat bahu lalu melanjutkan memeriksa Shuhua, lalu menuliskan resep.

"Diagnosa awal hanya flu biasa, tapi lebih lanjut menunggu hasil tes darah. Aku akan menuliskan resep obat dan antibiotiknya. Tiga hari sekali Guanlin, dan ingat, dia harus istirahat. Tahan nafsumu, jika kau tidak bisa menahannya, cari perempuan lain."

~J~

Shuhua terbangun dengan rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya. Ketika dia membuka matanya, dia melihat perempuan yang sangat familiar duduk di ranjang sebelahnya.

"Dokter Yuqi?"

Yuqi tersenyum. "Yah, Guanlin memintaku datang memeriksamu. Dia dan Wooseok oppa, para lelaki sedang membicarakan masalah bisnis di ruang depan dan aku memutuskan menunggumu sadar di sini. Bagaimana kondisimu?"

Shuhua berusaha keras mengeluarkan suaranya. "Mual…. Pa…nas.." gumamnya serak.

Yuqi memegang dahi Shuhua, panasnya seperti api. "Kemari, aku akan membantumu meminum obat."

Dengan cekatan, Yuqi membantu Shuhua meminumkan obatnya, lalu membaringkan Shuhua lagi dan merapikan selimutnya. Keduanya menyadari bahwa Shuhua telanjang di balik selimutnya. Wajah Shuhua langsung merah padam.

Yuqi menatap Shuhua penuh pengertian.

"Dia memang kadang kadang sangat egois, kau tahu, terbiasa menjadi bos sejak dia lahir. Dia bisa dibilang masih keturunan aristokrat dari keluarga berpengaruh di Taiwan, sejak dulu dia sudah terbiasa keinginannya dipenuhi…." Yuqi mengedipkan sebelah matanya. "Kau tahu, saat pertama mengenalnya aku sangat tidak menyukainya."

Shuhua tersenyum malu-malu. "Saya juga.." jawabnya pelan.

Yuqi tertawa mendengarnya. "Tapi walaupun begitu kau tidak boleh menuruti kemauannya seperti itu, kau berhak menolak, kau tahu itu, 'kan?"

Sebelum Shuhua sempat menjawab, Guanlin, yang entah kapan sudah berada di ruangan itu berdehem keras, dengan sengaja.

"Jiejie, bukannya kau harus segera membawa sample darah itu ke lab?" gumam Guanlin datar, tapi matanya memperingatkan.

Yuqi tersenyum miring, lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Shuhua. "Sepertinya dokter sudah diusir, obatnya ada di meja Guanlin beserta cara pakai, kutinggalkan resep kalau-kalau obatnya habis. Besok aku akan mengabarimu tentang hasil labnya."

Yuqi mengangguk pada Shuhua, mengangkat tasnya dan berjalan pergi. Pada saat berhadapan dengan Guanlin di pintu keluar, dia menatap tajam. "Ingat Guanlin, dia harus istirahat kalau mau sembuh," gumamnya tegas sebelum melangkah pergi.

Guanlin menatap pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Shuhua. "Kadang-kadang aku merasa dia masih membenciku sampai sekarang."

Shuhua tersenyum lemah pada Guanlin yang menuang segelas air dari teko di meja samping ranjang.

"Apakah kau haus? Ayo, aku akan membantumu minum."

Dengan cekatan, Guanlin membantu Shuhua duduk. Beberapa kali selimut melorot dari dada Shuhua, hingga Shuhua harus mencengkeramnya, tapi Guanlin mengabaikannya, sama sekali tidak melirik ketelanjangan Shuhua. Rupanya laki-laki itu bertekad untuk membiarkan Shuhua beristirahat.

Setelah membantunya minum, Guanlin menyentuh dahi Shuhua dengan lembut, dan mengernyit karena badannya sangat panas.

"Maaf." Shuhua tiba-tiba merasa bersalah, dia jarang sakit, tapi kali ini sekalinya sakit sangat parah sehingga harus bergantung pada belas kasihan Guanlin.

Wajah Guanlin melembut. "Minta maaf karena sakit?" Guanlin menarik napas. "Kau benar-benar gadis aneh." Guanlin tersenyum miris. "Oke, obat itu akan membuatmu mengantuk, aku akan memesan makanan, jadi begitu bangun kau bisa makan."

Shuhua mengernyit mendengar kata makan karena dia merasa sangat mual.

Guanlin menatap Shuhua dengan tatapan tegas seperti seorang ayah memarahi anaknya. "Kau harus makan," gumamnya tegas. "Tidurlah." Lalu lelaki itu berbalik dan melangkah keluar kamar.

Shuhua meringkuk di balik selimut, obat itu membuatnya nyaman dan mengantuk, sangat mengantuk.

~J~

Guanlin duduk di tepi ranjang, dan mengamati Shuhua. Panasnya sudah agak turun dan gadis itu tidur seperti bayi, entah kenapa dan sejak kapan dia merasa kalau gadis kecil ini menjadi begitu penting baginya. Mungkin karena kedekatan mereka selama ini, Guanlin tidak pernah membiarkan orang lain sedekat ini dengan dirinya.

Tiba-tiba bunyi getaran disamping ranjang mengejutkan Guanlin. Ponsel kecil itu bergetar dan Guanlin mengernyitkan keningnya, ponsel milik Shuhua? Dia baru pertama melihatnya, karena Shuhua tidak pernah menggunakannya di depannya.

Dan yang terlintas pertama kali di otak Guanlin ketika melihat ponsel itu adalah, dia harus membelikan Shuhua ponsel yang lebih baik.

Ponsel itu terus bergetar, rupanya penelpon di seberang sana tidak mau menyerah. Guanlin meraih ponsel itu karena tidak mau getarannya mengganggu Shuhua yang sedang tertidur lelap.

Suster Hyuna? Guanlin mengernyit membaca nama penelpon di ponsel itu, sebelum mengangkatnya.

"Shuhua?" Suara diseberang telepon langung menyahut cemas. "Maafkan aku karena menelepon, aku cemas karena kau sudah dua hari tidak kemari dan tidak ada kabar sama sekali darimu, padahal kau tidak pernah melewatkan satu hari pun, apakah kau baik baik saja?"

Jeda sejenak, Guanlin ragu untuk bersuara, tetapi kemudian dia bersuara.

"Maaf, Shuhua sedang tidur." Ketika Guanlin bersuara, dia mendengar suara terkesiap diseberang sana. Sepertinya lawan bicaranya sangat terkejut mendengar dia yang menyahut.

"Oh… Maaf…." Suster Hyuna tampak kehilangan kata-kata.

"Shuhua sedang sakit, dua hari ini dia demam tinggi, mungkin besok saya akan memberitahunya kalau Anda menelepon," lanjut Guanlin tenang dan tanpa memperkenalkan dirinya, tentu saja dia tidak berniat memperkenalkan dirinya.

"Oh, baiklah, terimakasih." Suara di seberang terdengar sangat gugup, lalu telepon ditutup dengan begitu cepat sehingga Guanlin mengernyit.

Ada yang aneh, wanita di seberang itu memang kaget mendengar suaranya, tetapi tidak ada kesan bertanya-tanya mendengar suara Guanlin yang menjawab telepon. Apakah wanita di seberang itu mengetahui siapa Guanlin? Dan apa yang dimaksud dengan datang setiap hari dan tidak pernah melewatkan satu hari pun? Datang kemana? Untuk apa?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Guanlin dan membuatnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang Shuhua.

~J~

Yuqi sedang duduk di bar bersama dengan Wooseok, lalu mengernyit.

"Menurutmu, apakah bos kita itu sudah main hati?"

Wooseok menyesap minumannya. "Apa maksudmu?"

"Gadis kecil itu, Shuhua.."

Hening sejenak dan Wooseok menyesap minumannya lagi. "Menurutku Guanlin sudah gila," gumamnya dengan nada tidak setuju. "Dia sudah bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut gadis itu."

Yuqi menolehkan kepalanya ke Wooseok dengan penuh rasa ingin tahu. "Sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan mereka, menurutku Guanlin menyimpan perasaan yang dalam…."

"Ralat, nafsu yang dalam," sela Wooseok. "Guanlin sudah merasakan nafsu yang dalam ketika melihat gadis itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan gadis itu, Shuhua, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Guanlin," gumamnya jijik.

Yuqi mengernyit lagi. "Shuhua tidak kelihatan seperti gadis yang sengaja menjual dirinya."

"Dia menjual dirinya seharga tiga ratus juta. Aku sendiri yang membuatkan kontrak perjanjian jual beli yang konyol itu. Setelah itu Guanlin masih membelikan apartment untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi hutang gadis itu yang hampir 40 juta di perusahaan. Aku sudah menasehatinya kalau dia mulai berlebihan, tapi Guanlin tidak peduli," gumam Wooseok frustasi.

Yuqi merenung dengan serius. Tiga ratus juta? Itu uang yang tidak sedikit untuk perempuan seumuran Shuhua. Dan gadis itu juga berhutang 40 juta di perusahaan, sungguh pengeluaran fantastis untuk gadis dengan penampilan sederhana seperti Shuhua.

"Menurutmu untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin, gadis itu tinggal di tempat kost sederhana, pakaian dan barang-barangnya tidak ada yang bermerk, dia juga selalu naik kendaraan umum ke kantor," gumam Yuqi pelan.

Wooseok menoleh dan mengangkat alisnya. "Untuk seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak."

Yuqi tertawa pelan. "Tentu saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Wooseok oppa, tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Shuhua." Yuqi berubah serius, "Guanlin bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela."

"Dia mabuk kepayang, lelaki yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Shuhua," gumam Wooseok dengan penuh tekat.

Yuqi diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Wooseok dan Guanlin, dan betapa Wooseok sangat ingin menjaga sahabatnya itu.

Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Shuhua. Gadis itu terasa familiar tetapi Yuqi tidak bisa mengingatnya, kapan? Dimana?

~J~

Shuhua mulai sembuh, meskipun dia belum bekerja, Guanlin tidak mengijinkannya. Laki-laki itu bersikeras bahwa Shuhua belum boleh bekerja, dan dia memerintahkan Dokter Yuqi menghubungi langsung atasan Shuhua sehingga tidak masuknya Shuhua selama empat hari ini tidak akan menjadi masalah.

Well, besok dia harus masuk, dia sudah sehat, itu hanya flu biasa dan dengan perawatan Guanlin yang sengat intensif disertai dengan obat dari Dokter Yuqi yang sangat manjur, dia sudah merasa cukup kuat hari ini.

Dan Shuhua merindukan Seonho. Sudah empat hari dia tidak ke rumah sakit, kemarin tubuhnya masih terlalu lemah, tetapi sekarang dia sudah agak kuat dan tidak sabar ingin segera melihat Seonho.

Suster Hyuna menelepon dan menceritakan perihal Guanlin yang mengangkat teleponnya pada waktu Shuhua tertidur, sekaligus meminta maaf jika dia sudah hampir membuka rahasia Shuhua.

Setelah itu, Shuhua bersikap hati-hati kepada Guanlin, menunggu lelaki itu bertanya kepadanya. Tetapi Guanlin besikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jadi Shuhua berpikir Guanlin tidak menganggap telepon dari Suster Hyuna itu sebagai sesuatu yang serius.

Shuhua sudah berpakaian rapi, saat itu jam lima sore, Guanlin masih akan pulang jam sembilan malam, jadi dia masih punya waktu lebih dari cukup untuk menengok Seonho.

Dengan riang karena akhirnya bisa berkunjung lagi ke rumah sakit, Shuhua berjalan dan membuka pintu keluar apartemennya, hanya untuk berhadapan dengan sosok Guanlin yang akan membuka pintu untuk masuk. Guanlin mengamati Shuhua yang berpenampilan rapi.

"Mau kemana?" tanyanya langsung.

Sejenak Shuhua terperangah tak menyangka akan berhadapan dengan Guanlin, matanya mengerjap gugup.

"Shuhua?" Guanlin mengulang pertanyaannya dalam matanya.

"Eh, aku…" Shuhua mengerjap lagi. "Aku mau membeli bahan makanan di supermarket," gumamnya, mengucapkan hal pertama yang terpikir di dalam benaknya.

Guanlin mengernyit. "Kau masih sakit, tidak boleh keluar-keluar, kau bisa membeli bahan makanan itu besok, lagipula aku sudah membawa makanan." Guanlin menunjukkan kantong kertas di tangannya dan melangkah masuk lalu menutup pintu apartemen, ketika dirasakannya Shuhua masih terpaku.

Dia menoleh dan mengangkat kantong makanan itu. "Kau tidak mau menatanya di piring sementara aku mandi?" tanyanya lembut.

Shuhua tergeragap, dan mengangguk, lalu menerima kantong itu dari Guanlin.

Ketika Guanlin melangkah ke kamar dan mandi, Shuhua menata makanan di dapur dengan frustasi. Kenapa Guanlin sudah pulang sore-sore begini? Kenapa waktunya begitu tidak tepat?

Shuhua menyempatkan diri menghubungi Suster Hyuna dan menjelaskan perihal batalnya kunjungannya ke rumah sakit, untunglah Suster Hyuna mengerti lalu menjelaskan secara singkat kondisi Seonho yang stabil sehingga kemungkinan operasi ginjalnya bisa dilakukan beberapa hari lagi. Shuhua merasa sangat lega mendengarnya, dengan cepat dipanjatkannya doa permohonan untuk Seonho lalu melanjutkan menata makanan itu.

Semua masakan yang dibeli Guanlin tampak hangat dan menggiurkan sehingga mau tak mau menggugah selera Shuhua.

"Kau pasti menyukainya, itu menu andalan dari restaurant favoritku." Guanlin masuk ke dapur dengan mengenakan pakaian santai, dia sudah bertransformasi dari pebisinis yang dingin ke lelaki yang lebih mudah didekati.

"Mana kopiku?" gumamnya disebelah Shuhua.

Guanlin berdiri begitu dekat hingga membuat Shuhua gugup, dengan ceroboh dia hampir melompat menjauh dari Guanlin, membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Shuhua.

"A…. Akan kubuatkan," gumam Shuhua dengan pipi merah padam.

"Tidak, nanti saja akan kubuat sendiri, kemarilah aku belum memeriksamu sejak tadi." Guanlin merentangkan tangannya sambil bersandar di meja dapur.

Shuhua memandang ragu-ragu ke tangan Guanlin yang terentang, lalu beralih ke mata Guanlin yang menyiratkan perintah tanpa kata-kata.

Dengan ragu, dia melangkah mendekat ke arah Guanlin. Lelaki itu langsung merengkuhnya ke dalam pelukannya.

"Hmmmm kau harum seperti aroma bayi," gumam Guanlin tenggelam disela-sela rambut Shuhua.

Guanlin juga harum, pikir Shuhua dalam hati. Aroma sabun dan aftershave, aroma yang sudah familiar dengannya dan mau tak mau Shuhua merasa nyaman ada di dalam pelukan Guanlin.

Mereka berdiri sambil berpelukan beberapa lama, tanpa suara tanpa kata-kata.

Ketika akhirnya Guanlin mengangkat kepalanya dan menatap Shuhua, matanya tampak membara. "Kau sudah tidak demam lagi." Suaranya terdengar serak, dan Shuhua mengerti artinya. Guanlin sudah terlalu lama menahan diri, lelaki itu tidak menyentuhnya selama tiga malam, dan mengingat besarnya gairah Guanlin kepadanya, sepertinya itu sudah hampir mencapai batas maksimal pengorbanan Guanlin. Shuhua sangat mengerti.

"Iya, aku sudah tidak demam lagi," balas Shuhua lembut.

Guanlin mengerang lalu menekankan tubuhnya makin rapat pada tubuh Shuhua, hingga kejantanannya yang sudah mengeras menekan Shuhua, membuat pipi Shuhua memerah. Dengan lembut, Guanlin mengusap pipi Shuhua.

"Begitu liar di ranjang, tapi masih bisa memerah pipinya ketika kugoda." Dengan lembut Guanlin meniupkan napas panas di telinga Shuhua, membuat tubuh Shuhua menggelenyar. "Apakah aku juga bisa membuat yang di bawah sana merona ketika kugoda?"

Tangan Guanlin menyentuh Shuhua dengan lembut, membuat napas Shuhua terengah, jemari yang kuat itu menelusup ke dalam, menyentuh Shuhua dan menggodanya, membuatnya basah.

Guanlin mendorong Shuhua ke atas meja dapur membuka pahanya, lalu dengan cepat membuka celananya dan menyatukan dirinya dengan Shuhua. Kerinduannya begitu dalam sehingga kenikmatan yang terasa begitu menyengat seakan-akan jiwanya dipukul dengan tabuhan percikan orgasme tanpa ampun.

Entah hati mereka saling berseberangan, tetapi ternyata tubuh mereka saling membutuhkan. Shuhua setengah terbaring di atas meja dapur dengan tubuh Guanlin melingkupinya. Lelaki itu membutuhkannya dan Shuhua dengan caranya sendiri membutuhkan Guanlin. Ketika paha mungil Shuhua melingkupi pinggang Guanlin, Guanlin menekankan dirinya kuat-kuat, menggoda batas pertahanan Shuhua.

"Guanlin…" Shuhua merintih, tanpa sadar mengucapkan nama Guanlin, dan ucapan itu bagaikan musik hangat di telinga Guanlin.

"Ya manis, katakan manis, kau ingin aku berbuat apa?" bisik Guanlin parau di sela tubuhnya yang bergolak untuk memuaskan Shuhua, di sela napasnya yang tersengal yang terpacu cepat. "Kau ingin aku memuaskanmu, ya? Aku akan memuaskanmu, manis. Aku akan memuaskanmu sampai kau tidak akan pernah bisa menemukan kepuasan yang sama dari siapapun." Dengan posesif Guanlin menekan Shuhua menyatakan kepemilikannya.

"Kau tidak akan pernah menemukan lelaki lain…" Suara Guanlin tercekat ketika hantaman orgasme melandanya, membawa Shuhua ikut dalam pusaran puncak kenikmatannya.

Dan akhirnya, mereka baru menyantap makan malam hampir lewat tengah malam.

.

.

.

Yaampun makasih banyak buat sarannya Byeongarisarang hehe. Aku juga udah kepikiran buat update di wattpad sih cuma... Aku udah lama ngga aktifin akun wattpadku TT nanti deh aku pikir pikir lagii.. makasih ya sarannyaaa