Halooo maaf ya kalau part ini kacau dan banyak typo hehe abisnya aku gak baca ulang T_T

Arigatouuuu yang sudah memberikan review untuk part kemarin. Semoga part ini juga masih ada yang mau ngasih review heheee

Gomen ne kalau gak bisa bales review part kemarenn. Aku update malem nih jadi ntar keburu makin malem (?) hehee tapi aku baca semua koookkk sekali lagi makasih reviewnyaaaa :3

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), OOC, Alur kecepetan,

Gaje, dll

Rate : M

.

.

To Be With Superstar

Chap 9

.

.

"Sialan! Apa-apaan kau!" teriak Sasuke emosi sambil mendorong Karin. Bagaimana tidak emosi jika saat terbangun tiba-tiba sudah ada karin yang duduk di pangkuannya sambil menciumnya!

Yah setelah mengobrol dengan Kakashi tentang izin pengurangan jadwal shootingnya, Sasuke pergi ke ruangannya. Ia langsung tertidur di sofa karena kelelahan. Dan ia terbangun karena merasakan ada yang menciumnya. Benar saja, saat Sasuke membuka matanya ia melihat karin yang sedang menciumnya bahkan menggesekkan dadanya ke tubuh Sasuke.

"Kau..." geram Sasuke benar-benar emosi melihat karin yang hanya tersenyum genit.

"Apa kau menyukainya, Sasuke-kun?" karin kembali mendekat dan mencoba meraih Sasuke tapi tentu Sasuke langsung menjauh.

"Jangan pernah menyentuhku lagi, sialan." kata Sasuke penuh penekanan. Sasuke langsung berjalan keluar ruangannya. Moodnya langsung buruk karena karin.

"Tunggu Sasuke-kun. Kau mau kemana? Bagaimana kalau kita ke apartemenku?" Karin ternyata masih belum menyerah dan malah mengejar Sasuke.

"Berhenti mengikutiku!" Sasuke menatap karin tajam berharap wanita itu mengerti kalau ia sedang menahan emosi.

Setelah itu Sasuke langsung pergi dari gedung management dan menuju ke rumahnya. Ia benar-benar berharap Sakura dan Temari sudah pulang dari jalan-jalan karena hanya Sakura yang mampu membuat moodnya bagus kembali.

Sasuke mendesah kecewa saat ia tidak melihat mobil Temari di halaman rumah. Itu berarti Temari dan Sakura belum pulang dari jalan-jalannya. Sasuke duduk di sofa ruang tamu dan bersandar nyaman. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan ke Sakura.

Sasuke U: Kau dimana, Saki?

Cukup lama Sakura tidak membalas membuat Sasuke akhirnya memilih untuk mengirim pesan ke Temari.

Sasuke U: Kalian dimana?

Berbeda dengan Sakura yang tak kunjung membalas, Temari langsung membalas pesan dari Sasuke itu.

Temari: Aku masih di ruangan Kakashi. Bukankah Sakura bersamamu?

Sasuke mengerutkan keningnya saat membaca balasan dari Temari. Sakura bersamanya? Sasuke pun memutuskan untuk menelpon Sakura tapi ternyata tidak tersambung. Sasuke akhirnya menelpon Temari.

"Dimana Sakura?" tanya Sasuke langsung begitu Temari mengangkat telpon.

"Tadi dia ke ruanganmu."

"Aku di rumah."

"Benarkah? Tapi tidak mungkin Sakura tersesat lama tanpa menelponku ataupun menelponmu."

"Kapan dia keruanganku?" tanya Sasuke tiba-tiba menjadi tegang. Tiba-tiba pikiran buruk terlintas dipikirannya.

"Sekitar setengah jam lalu." Sasuke benar-benar menegang mendengar jawaban Temari. Setengah jam lalu berarti bertepatan saat...

Sasuke langsung berlari menuju kamarnya. Sasuke semakin panik saat ia tidak melihat barang-barang Sakura sama sekali. Koper Sakura pun tidak ada! Sasuke meremas rambutnya kasar. Tidak salah lagi, Sakura melihat kejadian di ruangannya tadi.

Sasuke mencoba menelpon Sakura sambil berjalan keluar menuju mobilnya. Tapi tetap saja tidak tersambung. Apa Sakura sengaja mematikan ponselnya?

Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Apakah tadi karin menciumnya cukup lama sampai Sakura sempat melihatnya? Lagipula kenapa bisa Sakura ke ruangannya tepat saat karin menciumnya! Pasti Sakura salah paham dengannya. Dan Sasuke pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata menuju Konoha.

.

.

~oOo~

.

.

setengah jam kemudian Sasuke sudah sampai di depan rumah Sakura. Sasuke berjalan masuk ke rumah Sakura dan bersyukur setidaknya tidak hanya kesialan yang ia terima hari ini. Rumah Sakura sedang sepi yang menandakan orangtua Sakura sedang tidak ada di rumah. Sasuke juga bersyukur saat pintu kamar Sakura tidak terkunci. Tapi Sasuke langsung sesak melihat Sakura yang berbaring memunggungi dirinya dengan badan gemetar, menangis terisak.

Sakura bukan tidak tau jika Sasuke ada dikamarnya. Sakura tentu mendengar saat Sasuke membuka pintu kamarnya. Sakura merutuki dirinya sendiri yang lupa mengunci pintu kamar bahkan pintu rumahnya. Lagipula ia tidak menyangka Sasuke akan secepat ini menyusulnya.

"Sakura..." Sasuke mengelus kepala Sakura lembut. Sakura tidak menjawab.

"Sakura, kita bicara baik-baik sayang..." Sasuke merasa ikut sesak melihat Sakura yang masih sesenggukan.

Sakura mencoba menenangkan dirinya dan menghentikan tangisnya. Saat ia merasa cukup tenang akhirnya ia bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Sasuke. Walaupun duduk berhadapan Sakura memilih untuk menunduk daripada menatap Sasuke. Ia yakin ia akan kembali menangis jika menatap lelaki didepannya itu karena mengingat apa yang telah Sasuke lakukan.

"Apa kau melihatnya?" tanya Sasuke langsung. Sakura mengangguk dengan lesu.

"Sakura, kau salah paham..." Sasuke menarik dagu Sakura agar menghadapnya. Ia tidak ingin Sakura salah paham.

"A-apapun alasannya, k-kau tetap menghianatiku." kata Sakura mencoba menahan tangis yang akan keluar lagi.

"Tidak. Aku tidak menghianatimu!"

"Bermesraan dengan wanita lain bukan menghianatiku, huh?! Kau keterlaluan Sasuke!" bentak Sakura kembali menangis.

"Tidak sayang... Sudah kubilang aku tidak menghianatimu. Kau salah paham." Sasuke mencoba menghapus airmata Sakura.

"Aku disana saja kau berani bermesraan dengan wanita lain, aku tidak bisa membayangkan jika kau disana dan aku disini!"

"Tenanglah Sakura... Dengarkan penjelasanku..."

"Pergilah. Aku tidak peduli apa yang ingin kau lakukan dengan wanita lain!"

"Apa maksudmu?!" Sasuke menatap Sakura waspada.

"Kita putus saja, Sasuke." kata Sakura akhirnya. Sasuke yang mendengarnya langsung membulatka mata. Ia tidak percaya Sakura mengucapkan kata-kata itu.

"Tidak. Dengar penjelasanku dulu, Saki. Aku..."

"Pergilah." kata Sakura bahkan sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya.

"Tidak, dengarlah dulu. Tadi aku..."

"Ayah dan ibuku sudah pulang. Pergilah." kata Sakura yang bersyukur mendengar suara mobil orangtuanya.

"Tadi aku tertidur saat..."

"Pergilah!" jerit Sakura saat Sasuke terus saja ingin bicara. Sakura benar-benar tidak ingin melihat Sasuke saat ini. Berbeda dengan Sasuke yang ingin menjelaskan agar masalah ini segera selesai.

"Sakura?" terdengar suara Mebuki dari lantai bawah. Mungkin Mebuki mendengar suara teriakan Sakura.

Sasuke menghela napas, ia sungguh berharap orangtua Sakura datang lebih lama lagi agad ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Sakura terlebih dahulu.

"Baiklah aku pergi dulu. Dan ingat, kita tidak putus. Besok aku akan menemuimu." kata Sasuke akhirnya. Ia berpikir mungkin Sakura juga butuh waktu untuk menenangkan diri. Ia sadar kalau ia memang menyakiti hati Sakura dengan Sakura melihat apa yang dilakukan karin kepadanya tadi.

Sakura hanya diam tidak menjawab bahkan menoleh ke Sasuke yang berjalan keluar dari apa kata lelaki itu. Yang pasti Sakura menganggap hubungan mereka telah berakhir.

"Ah, Sasuke? Dimana Sakura? Kalian sudah kembai? Bukankah kalian kembali dari Tokyo beberapa hari lagi?" tanya Mebuki begitu melihat Sasuke turun dari tangga.

"Kami pulang lebih awal, bibi. Dan Sakura sedang tidur dikamarnya." kata Sasuke.

"Pasti Sakura kelelahan. Yasudah aku tidak akan menggangunya. Lalu kau mau kemana?"

"Aku akan pulang ke rumah. Besok aku akan kesini lagi."

"Baiklah. Terimakasih sudah menjaga dan mengajak Sakura jalan-jalan."

"Sama-sama, bi." kata Sasuke tersenyum lesu. Menjaga? Ia bahkan membuat Sakura menangis. Sasuke pun akhirnya pulang ke rumah orangtuanya yang ada tepat disamping rumah keluarga Haruno.

.

.

~oOo~

.

.

Ino menatap sahabat pinknya dengan penasaran. Dari pagi Sakura sudah terlihat lesu. Lagipula Ino kira Sakura tidak akan masuk sekolah hari ini karena masih di Tokyo.

"Masih belum mau cerita?" tanya Ino. Sakura dari pagi belum ingin cerita ke Ino. Bahkan untuk sekedar bicara pun Sakura tidak berniat sama sekali. Jadinha dari pagi sampai sekarang pulang sekolah Sakura hanya diam sambil mencoret-coret buku catatannya.

"Aku putus..." lirih Sakura dengan wajah semakin muram.

"Apa kau bilang? Putus? Dengan Sasuke?!" tanya Ino kaget.

"Ya."

"Oh my god! Kenapa bisa?!"

Sakura melihat seluruh isi kelas yang kebetulan sudah sepi karena bel tanda pulanv sudah berbunyi beberapa menit lalu.

"Dia selingkuh, Ino..." kata Sakura menutup wajahnya dengan kedua tanganya.

"A...apa?! Selingkuh?! Dengan siapa?"

"Karin..."

"Karin? Uzumaki Karin?" Sakura hanya mengangguk untuk menjawabnya.

"Ya tuhan, aku tidak menyangka Sasuke tega melakukannya! Dasar Uzumaki Karin, aku sudah mengira dia bukan wanita baik. Dia memang tipe wanita penggoda. Lihat saja dadanya yang besar itu!" Ino terus mengoceh karena kesal. Sedangkan Sakura hanya diam.

"Hai Sakura, Ino." Sakura dan Ino pun sontak menoleh dimana Sasori sudah berdiri di depan bangku mereka.

"Ada apa? Kau kenapa, Sakura?" tanya Sasori begitu melihat wajah Sakura yang memerah karena menahan tangis.

"Sakura sedang tidak enak badan. Lalu kau sendiri ada apa kesini, saosori?" Ino yang menjawab pertanyaan Sasori.

"Ah aku sebenarnya ingin mengajak Sakura jalan-jalan. Tapi karena Sakura tidak enak badan jadi mungkin lain kali saja. Lebih baik Sakura segera pulang dan beristirahat." kata Sasori.

"Ya sepertinya Sakura harus segera pulang untuk beristirahat."

"Apa sudah ada yang menjemputmu, Sakura? Atau aku saja yang mengantarmu?" tanya Sasori.

"Tidak perlu repot, Sasori. Aku bisa menunggu taksi didepan."

"Tidak, tidak repot sama sekali. Kalau begitu ayo aku antar." kata Sasori yang berinisiatif untuk membawakan tas Sakura.

"Sasori, sungguh kau tidak perlu repot begini..." kata Sakura tidak enak.

"Tidak apa Sakura. Kau bisa menunggu di depan sambil duduk bersama Ino. Biar aku mengambil mobilku di parkiran. Apa kau tidak keberatan menemani Sakura sebentar, Ino?"

"Tentu aku akan menemani Sakura. Ayo Sakura!" Ino pun menggandeng Sakura keluar. Begitu juga Sasori yang langsung menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Tidak lama kemudian ia sudah berada di depan gerbang dimana Sakura dan Ino sudah menunggu.

Ino tersenyum begitu melihat mobil Sasori melaju setelah Sakura masuk kedalam mobil. Ino memang kecewa dengan Sasuke yang ternyata menduakan Sakura. Tapi Ino juga senang melihat Sasori begitu perhatian dengan Sakura. Ino pikir Sakura mungkin akan lebih bahagia jika berpacaran dengan Sasori. Lagipula Sasori juga tidak kalah tampan dengan Sasuke.

Beberapa menit kemudian mobil Sasori berhenti tepat didepan rumah Sakura. Sasori membantu Sakura turun dari mobil dan tentu masih membawakan tas Sakura.

"Kau mau masuk dulu? Biar aku buatkan minum." kata Sakura.

"Boleh. Aku juga ingin mengantarmu masuk rumah dengan selamat." Sakura tersenyum geli mendengar Sasori yang sedikit berlebihan.

"Kau berlebihan, Sasori. Baiklah ayo masuk " Mereka pun masuk ke rumah Sakura. Sakura mempersilahkan Sasori untuk duduk dan ia pergi ke dapur untuk membuatkan minum.

"Silahkan diminum." kata Sakura meletakkan minuman dan makanan kecil di meja.

"Terimakasih, Sakura."

"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu sudah mengantarkan aku pulang."

"Sama-sama. Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa pusing?" tanya Sasori terlihat khawatir. Sakura jadi tidak enak karena Sasori percaya kata-kata Ino. Padahal Sakura tidak Sakit.

"Aku baik-baik saja, Sasori."

"Syukurlah."

Keheningan pun terjadi. Sakura maupun Sasori hanya berdiam diri dengan pikiran mereka masing-masing. Tapi keheningan itu terpecah karena Sasori yang berdehem untuk mencairkan suasana.

"Em, Sakura."

"Ya?"

"Em, apakah benar yang dikatakan teman-teman kalau kau sudah mempunyai... kekasih?" tanya Sasori.

"Ha? I..itu... tidak." kata Sakura ragu. Tapi toh ia dan Sasuke sudah putus.

"Tidak? Jadi itu tidak benar?"

"Ya." Sasori langsung bernapas lega mendengar jawaban Sakura. Senyum pun terukir di bibirnya.

"Kalau begitu, apakah aku bisa menjadi kekasihmu?" Sakura langsung menatap Sasori dengan ekspresi terkejut.

"Apa?" Sakura merasa pendengarannya kurang baik tadi. Tapi sekarang Sasori malah menarik kedua tangan Sakura dan menggenggamnya lembut. Tidak lupa dengan mata Sasori yang menatap mata Sakura lembut dan serius.

"Sakura, sudah lama aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"

Sakura sampai membulatkan mulutnya mendengar kata-kata Sasori. Benarkah Sasori baru saja menyatakan cinta? Sakura sungguh tidak menyangka. Apalagi Sasori menyatakannya tepat setelah ia dan Sasuke putus membuat Sakura semakin bingung.

Bugg!

Sakura semakin membulatkan matanya saat tiba-tiba Sasori terlempar jauh. Tidak lama seorang lelaki sudah menduduki Sasori yang terbaring sambil menyentuh pipinya yang lebam.

"Brengsek! Berani sekali kau menyentuh Sakura!"

Bug!

"Kau kira kau siapa, serangga merah!"

Bug!

Sakura menutup mulutnya shock melihat pemandangan yang menakutkan didepannya. Ya Sasuke kini sedang memukuli Sasori tanpa membiarkan Sasori untuk membalas.

"Sasuke! Apa yang kau lakukan?! Berhentiii!" Sakura berteriak dan menarik Sasuke agar berhenti setelah Sakura sadar dari keterkejutannya.

"Tidak! Aku harus memberinya pelajaran!"

"Tidak! Berhenti sekarang, Sasuke!" Sakura memeluk lengan Sasuke kuat agar Sasuke berhenti memukuli Sasori. Akhirnya Sasuke pun berhenti dan berdiri.

Sakura menoleh ke Sasori dan langsung menghampiri Sasori.

"Sasori? Bangunlah..." lirih Sakura tidak tega melihat wajah Sasori yang kini penuh luka lebam karena tinjuan Sasuke.

"Aku tidak apa-apa, Sakura." kata Sasori mencoba tersenyum lalu mulai bangkit.

"Sakura, kemari!" kata Sasuke tidak suka melihat Sakura yang merangkul Sasori. Sakura pun menoleh ke Sasuke dan menatap Sasuke tajam.

"Kenapa kau melakukan ini, Sasuke?!" tanya Sakura penuh kekesalan.

"Kenapa? Tentu saja karena serangga merah ini berani menyentuhmu! Dan kau kira aku tidak mendengar dia menyatakan cinta padamu, huh? Aku hanya ingin memberitahunya kalau kau adalah milikku!"

"Jangan bergurau! Aku bukan siapa-siapamu! Lebih baik kau pergi dari sini!" Sasuke menatap Sakura tidak percaya. Bagaimana bisa Sakura malah mengusirnya? Dan Sakura kini malah merangkul Sasori untuk duduk di sofa.

"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kompres." kata Sakura lalu berlari untuk mengambil kompresan. Tidak lama Sakura kembali dengan sebaskom air dan handuk kecil.

"Kenapa kau masih disini?!" Sakura melirik Sasuke sinis. Ia pun mulai mengompres wajah Sasori yang penuh luka.

"Saki... kau harus mendengar penjelasanku. Kau tau aku tidak mungkin melakukannya." Sasuke mencoba menjelaskan.

"Aku bahkan melihatnya secara langsung! Tidak ada penjelasan lagi, Sasuke! Pergilah."

"Tidak. Kau salah paham. Aku bahkan tidak sadar di melakukannya."

"Tidak sadar?! Mana mungkin kau tidak sadar saat dia ada diatasmu! Berhentilah membuat alasan murahan!"

Sasori yang dikompres Sakura hanya menatap kedua orang didepannya bingung. Sasori hanya bisa mendengar perdebatan mereka tanpa tau apa masalahnya. Ia memang tau kalau lelaki yang ada didepannya adalah aktor terkenal, Uchiha Sasuke. Tapi Sasori masih tidak mengerti kenapa aktor seperti Sasuke ada disini bahkan memukulinya.

"Setelah dari kantor Kakashi aku langsung ke ruanganku. Tiba-tiba aku merasa mengatuk karena semalaman bercinta denganmu. Aku pikir lebih baik tidur sebenta disana karena kau dan Temari masih jalan-jalan. Saat aku bangun tiba-tiba aku melihat Karin sudah ada diatasku dan menciumku. Sungguh demi kami-sama aku langsung mendorongnya menjauh. Tapi sialnya kau melihatnya disaat aku masih tertidur." Sasuke menjelaskan panjang lebar. Sakura yang mendengarnya hanya diam. Ia sungguh dilema. Sedangkan Sasori yang mendengar kata 'bercinta' langsung shock. Ia berharap ia salah dengar. Hatinya begitu Sakit kalau yang baru saja ia dengar adalah kenyataan.

"Percayalah, Saki. Aku tidak pernah berbohong padamu. Aku sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Aku tidak mungkin melakukan hal konyol untuk menduakanmu." Sasuke mendekat ke Sakura dan memegang kedua pipi Sakura. Perlahan air mata Sakura pun terjatuh.

"Aku tidak tau. Aku terlalu Sakit hati melihat kau dan karin." kata Sakura dengan sesenggukan.

"Maafkan aku. Tapi sungguh aku tidak melakukannya dengan sengaja. Maafkan aku... Aku mencintaimu..."

"Aku juga. Aku juga mencintaimu, Sasuke..." lirih Sakura tapi cukup untuk didengar oleh Sasuke maupun Sasori. Sasuke yang mendengarnya tentu sangat lega dan langsung memeluk Sakura erat. Sedangkan Sasori yang ada di samping mereka merasa tidak dianggap dan tentu sangat Sakit hati mendengar kata-kata Sakura.

"Aku sangaaat mencintaimu! Aku hampir mati saat kau mengatakan putus." kata Sasuke.

"Aku juga merasakannya saat kau berciuman dengan karin didepanku!"

"Maaf..."

"Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Aku akan memegang ucapanmu. Kalau saja kau melakukannya lagi aku benar-benar akan memutuskanmu!"

"Ya kau bisa memegang ucapanku. Aku tidak akan membiarkan kejadian kemarin terulang lagi." Sasuke melepas pelukannya dan menatap Sakura. Kekasihnya itu terlihat menggemaskan dengan wajah merah karena menangis. Sasuke pun langsung mencium Sakura ganas apalagi beberapa hari tidak mencium wanitanya itu.

"Ehm." Sasori berdehem agar membuat dua orang itu sadar masih ada dirinya disana. Sakura pun langsung mendorong Sasuke begitu ingat ada Sasori di samping mereka.

"Ah, gomen ne Sasori..." kata Sakura dengan wajah merah karena malu juga tidak enak. Apalagi mengingat kalau beberapa menit lalu Sasori baru saja mengungkapkan cintanya.

"Kalau begitu aku pamit pulang." kata Sasori mencoba tersenyum.

"Tapi lukamu..."

"Tidak apa. Aku akan mengobatinya nanti. Sampai jumpa, Sakura." Sasori pun pergi dengan patah hati.

"Berhentilah menatapnya seperti itu." kata Sasuke menyadarkan Sakura yang masih menatap kepergian Sasori.

"Aku hanya tidak enak dengan Sasori."

"Tidak enak karena menolaknya?" Sakura mengangguk menjawabnya.

"Apalagi kau sudah memukulinya."

"Salahnya sendiri berani menyentuh tanganmu."

"Kau berlebihan, Sasuke."

"Sudahlah jangan membahas serangga merah itu. Lebih baik kita keatas. Aku sangat merindukanmu!" kata Sasuke yang menggandeng Sakura menuju kamar Sakura.

"A-aku juga merindukanmu..." kata Sakura dengan wajah merah. Sasuke yang mendengarnya langsung menyeringai dan menggendong Sakura sampai rebahan di kasur.

"Siap-siap tidak bisa berjalan setelah ini, Saki..."

.

.

-oOo-

.

.

TBC