Maaf atas waktu yang lama untuk mengupload cerita ini. dan maaf juga beberapa chapter ke depan bukan chapter yang panjang dan bukan chapter-chapter favorit saya juga, maklum, ditulis di sela-sela kuliah yang sudah mulai menguras waktu -.-. tapi berharap bisa tetap membawa cerita ini di jalurnya. sangat amat butuh saran, kritik, yang pedas2 juga ga apa-apa, thanks.
Disclaimer: JK Rowling
1978
Regulus Black duduk di atas tempat tidurnya dengan setumpuk Daily Prophet di hadapannya. Dia merobek beberapa artikel pilihannya, artikel tentang Pangeran Kegelapan, untuk melengkapi klipingnya. Beberapa saat lalu Kreacher baru saja berDisapparate untuk menemui Pangeran Kegelapan dan melaksanakan tugas apapun yang diberikan. Regulus tersenyum kecil mengingat hal ini, peri rumah yang dipakai adalah suruhannya... Pangeran Kegelapan pasti akan memberikan pujian dan akan mengatakan bahwa Regulus adalah abdinya yang paling setia karena hal itu. Dengan pikiran seperti itu Regulus melanjutkan klipingnya sambil terus tersenyum.
Ketukan tiba-tiba di pintu membuat perhatian pemuda itu teralihkan. Terdengar ketukan tongkat sihir di gagang pintunya dan pintu berderit terbuka menampakkan Mr. Black di baliknya. Regulus seketika berdiri dari ranjangnya dan mempersilakan ayahnya masuk dengan membuka pintu lebih lebar.
"Terima kasih, Nak," ujar Mr. Black dengan suaranya yang tipis. Lelaki itu duduk di salah satu ujung tempat tidur Regulus sementara anaknya kembali ke kesibukan awalnya dengan koran-koran itu.
"Ada apa, Yah? Tumben Ayah mengunjungiku?" katanya sambil menatap Mr. Black dengan penasaran. Yang ditatap malah memandangi apa yang dilakukan anaknya.
"Kau tahu di mana Kreacher, Reg? Ayah cari kemana-mana dia tidak ada di rumah..." kata Mr. Black pelan sambil terus menatap koran-koran di tangan anaknya. Regulus justru tersenyum lebar mendengar pertanyaan ini. Dia menghentikan pekerjaannya dan mulai menjelaskan panjang lebar tentang kepergian Kreacher dan apa tujuannya. Dia yakin ayahnya pasti akan bangga dan senang mendengar hal ini.
"Dan Ayah tahu sendiri, sebentar lagi Pangeran Kegelapan pasti akan berkuasa atas dunia sihir. Ayah lihat semua berita tentangnya ini, semua ini bukan apa-apa, Yah. Bukan apa-apa dibandingkan bertemu dengannya dan mengabdi secara langsung kepadanya. Rezim baru akan segera dimulai, Yah, rezim di mana kita penyihir yang berkuasa. Sekarang mungkin Kreacher sedang membantu Pangeran Kegelapan mewujudkan hal ini. Peri rumah keluarga kita sedang membantunya! Ayah bisa bayangkan kedudukan apa yang akan kita peroleh nanti jika dia sudah benar-benar berkuasa penuh?" Regulus becerita dengan penuh semangat. Dari matanya memancar kekaguman akan orang yang diceritakannya itu. Sementara Mr. Black hanya diam dan mendengarkan ucapan anaknya dengan tidak menyela sama sekali.
Setelah Regulus selesai, dan dia terlihat sangat puas dengan apa yang baru saja dia katakan, Mr. Black menarik napas panjang dan menatap Regulus langsung di matanya yang hitam legam.
"Nak..." panggil Mr. Black.
"Ya?"
"Apa kau... pernah mendengar tentang... Horcrux?" ujar Mr. Black perlahan. Regulus tidak mengerti. Dia belum pernah mendengar kata itu. Maka Regulus hanya bisa memandangi ayahnya dengan keheranan dan penasaran.
"Horcrux?" tanyanya pada Mr. Black. "Apa... Dad?" Regulus menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti. Mr. Black meraih salah satu artikel diantara perkamen-perkamen yang bertebaran di situ dan mengambil suatu artikel tua yang bercerita tentang meninggalnya seorang penyihir wanita bernama Hepzibah Smith, seorang kolektor barang-barang berharga. Regulus semakin tidak mengerti. "Dad? Aku tidak—siapa Smith ini?"
"Mungkin sebaiknya kau mulai mencari tahu tentang Horcrux yang Ayah sebut tadi, jika kau memang tidak tahu..." Mr. Black berdiri dari ranjang dan berjalan menuju pintu. "Bahkan sihir yang paling hitam pun memiliki sisi yang lebih gelap lagi, Reg. Jangan sampai nurani mu yang baik menjadi redup karena kegelapannya," sambungnya sambil berjalan. Regulus terdiam, kebingungan akan perkataan ayahnya.
"Oh ya," Mr. Black seakan baru teringat sesuatu saat dia akan menutup pintu kamar anaknya. "Satu lagi. Aku akan memanggil Kreacher sekarang juga kalau aku jadi kau, Nak. Hanya sekedar saran, namun ada baiknya kau ikuti... sebelum terlambat," Mr. Black tersenyum kecil dan menutup pintu.
Regulus diam dengan pikiran-pikirannya sebelum tiba-tiba tersadar dari lamunan dan berteriak keras ke udara kosong, "KREACHER!"
Seketika Kreacher muncul terguling di hadapannya. Matanya nyalang, lengannya menggapai-gapai seakan dia tenggelam dan kehabisan napas. Regulus berjongkok di samping peri itu dan membalikkan badan Kreacher perlahan.
"Air... Air, Tuan... Kreacher ingin air..." suara Kreacher begitu lemah, Regulus ketakutan mendengarnya. Dia bergegas meraih gelas di meja samping tempat tidurnya dan mengisinya penuh-penuh dengan air. Kreacher minum air itu dalam sekejap dan Regulus kembali mengisinya dengan air lalu memberikannya lagi pada Kreacher. Setelah meminum bergelas-gelas air, napas Kreacher mulai teratur dan ekspresinya tidak lagi dipenuhi ketakutan. Regulus kemudian mendudukkannya di atas ranjang.
"Apa yang terjadi, Kreacher? Apa yang terjadi saat kau menemui Pangeran Kegelapan? Ceritakan semuanya padaku..." Regulus duduk di samping peri itu dan menatapnya ngeri.
"Pangeran Kegelapan membawa Kreacher pergi," jawab Kreacher dengan suara pelan.
"Pergi? Pergi ke mana?"
"Ke sebuah gua, Tuan. Gua besar di sebelah laut, di dalam gua ini ada danau hitam yang besar," Kreacher bercerita dengan suara parau dan dipenuhi nada kengerian.
"Apa yang kau dan Pangeran Kegelapan lakukan di gua itu?" tanya Regulus.
"Kami naik perahu yang membawa Kreacher dan Pangeran Kegelapan ke tengah danau hitam itu. Di tengah danau, ada pulau kecil. Di tengah pulau itu ada sebuah baskom berisi r-ramuan, Tuan," Kreacher tiba-tiba bergidik ketakutan dan menutupi kedua matanya dengan tangan. Regulus menggenggam tangan peri rumah yang kecil itu.
"Lanjutkan, Kreacher, apa yang terjadi selanjutnya? Kau tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja sekarang..."
"Pangeran Kegelapan menyuruh Kreacher meminum r-ramuan itu sampai habis. Kreacher tidak mau minum ramuan mengerikan itu lagi, Tuan. Kreacher melihat hal-hal yang sangat mengerikan saat Kreacher meminumnya. Lalu Pangeran Kegelapan mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin batu besar. Liontin itu diletakkannya di dasar baskom batu tadi lalu Pangeran Kegelapan mengisi baskom itu dengan ramuan yang sama..."
Kreacher gemetar saat melanjutkan ceritanya.
"Kreacher kesakitan. Ramuan itu seakan membakar semua organ tubuh Kreacher, Tuan. Kreacher butuh minum, tapi di sana tidak ada air selain air danau yang hitam itu. Saat Kreacher mau meminumnya, muncul banyak tangan yang menarik Kreacher masuk ke dalam kolam dan tidak bisa keluar lagi. Sampai akhirnya Tuan memanggil Kreacher..."
"Di mana Pangeran Kegelapan saat itu? Di mana dia saat kau hampir mati tenggelam?"
Kreacher tampak ketakutan. "Dia sudah pergi meninggalkan Kreacher, Tuan. Setelah menaruh liontin di baskom dan mengisinya dengan cairan, Pangeran Kegelapan langsung meninggalkan Kreacher..."
3 Desember 1978
Apa yang telah aku lakukan selama ini? Apa yang telah aku perbuat? Aku hampir saja membunuh Kreacher hari ini dengan menyuruhnya mendatangi Pangeran Kegelapan. Apa yang baru saja dia lakukan? Bahkan meskipun Kreacher hanyalah peri rumah, dia tidak layak untuk disiksa seperti itu ataupun dibuang begitu saja. Iblis macam apa yang selama ini kupuja? Aku telah mengambil jalan yang salah.
Ayah telah memperingatkanku hari ini. Semua perkataan yang tadi ayah sampaikan pasti merupakan peringatan tersirat bagiku untuk kembali ke jalan yang benar. Aku salah. Hidupku telah berpatokan pada sesuatu yang salah besar. Aku harus berubah, aku tidak bisa melanjutkan ini semua. Semua tindakan yang dilakukan Pangeran Kegelapan itu jahat, hampir sama jahatnya dengan pembunuhan dan aku tidak mau mengabdi kepada pembunuh.
Berarti selama ini Sirius benar. Aku telah terjerumus di pihak yang salah. Maafkan aku, Sirius. Maafkan aku karena tidak mempercayaimu, karena tidak mendengarkanmu. Kau tetap kakakku, selamanya.
Widiih... yang ini lebih susah lagi dari bab sebelumnya. Saya ga tau dari mana Reggy tau tentang Horcrux itu, sementara Dumbledore aja baru tau setelah ingatan Slughorn dikasihin ke dia kan. Jadi Reggy bisa tau dari manaaaa... Saya bingung, saya bingung... Seingetnya saya sih, Reggy kan anaknya penurut banget tuh ya sama ortunya, jadi menurut saya sih yang bisa nyadari Reggy ya ortunya lagi... Ngeliat karakter ibunya yang kayak gitu, saya rasa ga mungkin deh ibunya yang nyadarin. Sementara Mr. Black sendiri kan jarang banget dimention tuh sama JK Rowling. Yaa, saya pinjem aja deh karakternya, hihi. Sekali lagi maaf buat yang kurang setuju sama jalan cerita yang saya bikin ini. Tungguin chapter selanjutnya ya. Masih tetep loh ditunggu kripiknya. Hehehe.
