Minna, makasih ya masih mau ngikutin fic nggak jelas ini hehe.
Ini lanjutannya. Semoga kalian suka ya. Selamat membaca.
-
-
Chapter 9: Mr. Romance
4 bulan kemudian........
Deidara dibawa seorang sipir penjara menuju ke tempat pembebasannya. Pria berambut pirang itu tersenyum puas karena akhirnya dia bisa bebas dari tempat terkutuk itu. Dia dibebaskan karena tidak terbukti bersalah pada kejadian peledakan 2 tahun lalu itu. Ya walaupun dia harus tetap berada di penjara sampai persidangan selesai sih.
Diliriknya sel-sel penjara yang dilewatinya untuk terakhir kali, berharap dia tidak akan kembali lagi ke sana.
"Deidara, sudah sampai." kata sipir penjara yang mengantarnya. Menyadarkan pemuda berambut pirang itu dari lamunannya. "Kau bebas sekarang." Sipir penjara itu tersenyum tipis, menyelamati kebebasan Deidara.
"Terima kasih." Deidara sedikit membungkukkan badannya, berterima kasih pada sipir penjara yang mengantarnya itu.
-
-
"Deidaraaaaaa" seru Konan dari samping jalan. Gadis itu melambai-lambaikan tangannya ke arah Deidara. Di sana Itachi, Pein dan Sasori juga sedang menanti kedatangannya pada mereka.
Konan, Pein dan Sasori langsung memeluk Deidara, begitu dia sampai disana. Rasa rindu yang mereka pendam, seakan tercurahkan semuanya dalam pelukan hangat itu. Itachi hanya tersenyum senang melihat sahabat terbaiknya sudah kembali bersamanya.
Deidara segera melepaskan pelukannya saat sadar Itachi tidak memeluknya. "Itachi?"
"Selamat atas kebebasanmu, Deidara." Itachi tersenyum menyelamati kebebasan sahabat terbaiknya itu.
"Kok nggak dipeluk?" Deidara mengeluh sambil melirik Itachi penasaran.
Itachi hanya diam sambil melirik Deidara. Melihat Deidara sedang menunggu pelukannya, Itachi segera menghampiri sahabat baiknya itu. "Ya...ya. Aku mengerti." Langsung dipeluk sahabat baiknya itu. "Selamat datang." bisik Itachi. Deidara tersenyum mendengarnya.
-
-
__SURATAN TAKDIR__
Sesaat setelah mengencangkan pegangan pada sepeda kesayangannya, Naruto segera melirik ke belakang. Di sana ada seorang gadis cantik sedang duduk malu-malu sambil sesekali memegang erat tubuhnya. "Hinata, pegangan yang kuat ya!"
"Eh?" Belum sempat Hinata berpikir kenapa dia bilang seperti itu, Naruto sudah mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh untuk mengejar Sasuke dan Sakura yang sudah menjauh dari mereka. Gadis pemalu itu segera menguatkan pegangan pada Naruto agar tidak terjatuh.
Naruto terus mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh. Jalan yang mereka lewati memang jarang dilewati mobil. Kalau pun ada, mobil itu harus melaju pelan karena merupakan kawasan perumahan.
"Bye...bye Teme!" Naruto tersenyum bangga karena berhasil melewati Sasuke. "Sepertinya sekarang akulah pemenangnya!" pamernya sambil terus mengayuh sepedanya.
Sasuke hanya menatap bingung pada Naruto. Sejak kapan mereka bertanding siapa yang paling cepat sampai di rumah?
"Hmph...ternyata Naruto masih nggak mau kalah darimu." Sakura melirik Sasuke sambil menahan tawa.
"Hn." Tak ada tanggapan dari pemuda itu. Hanya gumaman kecil yang terdengar dari mulutnya.
Sasuke terus mengayun sepedanya pelan. Membiarkan Naruto berlalu dengan sepeda buntutnya.
Sesaat kemudian saat Naruto dan Hinata benar-benar sudah tidak terlihat lagi, Sakura melirik sekelilingnya yang benar-benar sepi. Tidak seorang pun terlihat di jalan itu. Diliriknya sebentar Sasuke yang sedang mengayuh sepeda. Dan sejenak kemudian, mata hijaunya langsung kembali memperhatikan sekelilingnya. Yang terdengar hanyalah nyanyian burung-burung kecil yang sedang berteduh di atas pohon-pohon besar yang berjajar di jalan itu.
"Sasuke-kun." panggil Sakura pelan.
"Apa?" tanya Sasuke tanpa menatap Sakura yang sedang duduk di belakangnya. Pemuda itu masih saja mengayuh sepedanya dengan kecepatan standar.
"Suasananya.....romantis ya." Sakura berkata sambil tersenyum manis dan mengencangkan pegangannya pada tubuh Sasuke.
"Ngaco." kata Sasuke cuek. Dia hanya menoleh sebentar ke arah Sakura, lalu kembali mengayuh sepedanya.
"Hei! Bisakah kau sedikit romantis pada pacarmu ini?" Sakura terdengar mengeluh sambil menepuk bahu Sasuke pelan.
"Tidak bisa." Lagi-lagi hanya tanggapan singkat dan dingin yang keluar dari mulut Sasuke.
Sakura hanya bisa pasrah mendengar jawaban Sasuke. Ya itu memang sudah resikonya berpacaran dengan orang sedingin Sasuke. Gadis itu hanya bisa mengelus-ngelus dadanya sambil terus berkata "Sabar Sakura....Sabar." katanya berulang-ulang.
"Sakura." Panggil Sasuke, seperti biasa tanpa sedikit pun menoleh ke arah Sakura. Dia baru memulai kembali pembicaraan saat Sakura sudah mengalihkan perhatian menatapnya. "Aku memang bukan pria yang romantis. Tapi aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia." Kali ini Sasuke berkata sambil menatap Sakura, membiarkan wajah tampannya dilihat dengan jelas oleh kekasihnya itu.
Sakura senang mendengarnya. Ya inilah Sasuke yang dia kenal. Sasuke mungkin tampak begitu dingin, tapi sebenarnya Sasuke hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya. "Terima kasih, Sasuke-kun." Gadis itu berkata sambil tersenyum lembut.
-
-
__SURATAN TAKDIR__
Deidara memandang takjub rumah besar yang ada di hadapannya sekarang. Rumah itu terlihat begitu megah dengan warna hitam dan corak awan merah di bagian pintu dan pagarnya, serta tidak ketinggalan papan besar bertuliskan 'AKATSUKI' di depannya. "Be...benarkah aku boleh tinggal disini?" tanya pemuda itu antusias.
"Tentu saja." jawab Konan sambil tersenyum lebar. "Rumah ini dibelikan Pein untuk tempat tinggal kita semua!" serunya senang. Pein sedang tersenyum di sampingnya, membiarkan kekasihnya itu yang menceritakan semuanya.
"Tak kusangka, ternyata kau baik juga." Goda Sasori sambil melirik Pein yang sedang tersenyum bangga.
"Selain untuk tempat tinggal, rencananya tempat ini akan jadi tempat usaha kita juga." Pein berkata bangga sambil memperkenalkan rumah itu pada mereka.
Itachi tampak tidak begitu tertarik dengan rumah besar itu.
"Itachi, kau juga tinggal disini ya. Bersama Sasuke, Naruto dan Sakura juga." ajak Pein, didukung Sasori, Konan dan Deidara. Pasti bakalan seru sekali jika mereka bisa tinggal bareng.
"Maaf, tapi aku tidak bisa tinggal disini." tolak Itachi halus. Setelah melirik temannya satu persatu, pemuda itu melanjutkan ucapannya. "Aku yakin, mereka juga tidak bisa tinggal disini."
"Kenapa? Apa rumahnya kurang besar? Kurang bagus?" tanya Pein. Dia tampak kecewa banget sekarang, begitu juga dengan yang lain. Mereka sangat berharap Itachi dan yang lain bisa tinggal di rumah itu bersama mereka. "Kalau kau mau, kita bisa cari tempat tinggal yang lain." bujuknya.
"Bukan begitu, Pein." bantah Itachi cepat. "Masalahnya bukan terletak pada tempat tinggal kalian, tapi pada kami." Itachi berusaha menjelaskan alasannya menolak tawaran mereka. Jangan sampai teman-teman baiknya itu kecewa padanya. "Kami tidak bisa meninggalkan rumah yang telah membawa banyak kenangan itu. Rumah yang telah menemani kami melewati semua kepahitan yang terjadi dalam hidup kami."
Pein, Sasori, Konan dan Deidara hanya diam mendengarkan penjelasan Itachi. Sesaat kemudian setelah Itachi selesai menjelaskan panjang lebar tentang alasannya menolak tawaran mereka, keempat teman Itachi itu langsung tertawa geli.
"Tidak perlu sampai seperti itu Itachi haha." kata Konan, masih sambil tertawa. "Kami ngerti kok." Lanjutnya diikuti anggukkan yang lain.
"Iya Itachi, benar kata Konan. Kau pikir kami ini siapa?" Pein berkata sambil merangkul bahu Itachi. "Jangan sungkan gitu ah."
Itachi tersenyum melihat perhatian sahabat-sahabatnya itu padanya. "Terima kasih semuanya." ucapnya tulus. Keempat temannya itu kompak menatapnya sambil tersenyum tulus.
"Oh iya." Sasori memulai pembicaraan, sepertinya dia baru ingat sesuatu. "Pein, katamu tadi ini juga akan jadi tempat usaha kita. Usaha apa sih? Kau mau bikin usaha apa?" tanya pemuda berambut merah itu penasaran.
Pein terdiam sejenak, sepertinya dia lagi mikirin ucapannya tadi. Karena kebanyakan tertawa, dia jadi lupa tadi udah ngomong apa. "Oh soal usaha itu ya?" tanyanya, diikuti anggukkan Sasori. "Nah itu juga yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Gimana? Ada ide nggak, kita bikin usaha apa?" tanyanya.
"Entahlah. Aku sih terserah kalian." kata Itachi yang sepertinya tidak tertarik dengan usaha apa yang akan mereka lakukan. Dia lebih tertarik menjalankan usaha daripada mencari ide.
"Aku ada ide." Deidara berseru sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mirip anak sekolahan yang sedang bersemangat menjawab pertanyaan dari guru. "Gimana kalau perusahaan petasan?" usulnya. Entah kenapa yang ide yang keluar dari mulutnya selalu saja petasan.
Sasori, Pein dan Konan terlihat syok mendengarnya. Setelah 4 tahun tidak bertemu dan 2 tahun dia masuk penjara ternyata belum mengubah kecintaan Deidara pada petasan. Itachi hanya cuek aja, dia udah biasa dengan sifat Deidara yang seperti ini.
"Petasan? Kau mau masuk penjara lagi ya?" tanya Sasori setelah sejak tadi diam.
Dan sekali lagi suara tawa mereka terdengar di tempat itu.
__SURATAN TAKDIR__
Sakura duduk di samping Sasuke yang sepertinya sedang ketagihan dengan film action yang ditontonnya. Mereka sedang nonton TV di ruang tamu. Gadis itu melirik kekasihnya diam-diam sambil tersenyum. "Ng....Sasuke-kun...."
"Hn?" Seperti biasa, hanya gumaman kecil yang keluar dari mulut Sasuke.
"Kamu tahu nggak besok lusa hari apa?" tanya Sakura penuh harap. Berharap kekasihnya itu akan ingat hari bersejarah mereka. Hari mereka jadian.
"Kamis." jawab Sasuke singkat.
"Bukan itu. Maksudku besok ada hari penting apa?" tanya gadis itu lagi.
"Tidak Ada."
Sekali lagi Sakura hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban kekasihnya itu. "Dasar." Gadis itu hanya tertawa kecil sambil melirik kekasihnya geli. Tidak lama kemudian, gadis itu sudah menatap pemuda di sampingnya itu dengan penuh kelembutan. Sasuke juga menatapnya dalam kelembutan. Mereka sedang berada di dunianya sendiri. Tunggu sedikit lagi dan kecupan pemuda itu akan mendarat di bibir sang gadis.
"Sakura-chan! Sasuke-teme!" seru Naruto tiba-tiba dari belakang Sasuke dan Sakura yang sedang berada di 'alam cinta' mereka.
"WAH!!!" seru Sakura kaget. Dia segera menjauh dari Sasuke saking paniknya. Gadis itu memalingkan badan untuk menutupi wajahnya yang sangat memerah.
Naruto melirik Sasuke dan Sakura bergantian. Sasuke sedang menatap kesal ke arahnya dan Sakura sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dan hal itu cukup untuk menyadarkan Naruto kalau sudah mengganggu mereka. "Aku mengganggu ya?" tanyanya pasrah.
"Sangat." jawab Sasuke singkat. Jawaban yang benar-benar tepat sasaran itu, makin membuat Naruto merasa tak enak. Sakura sendiri hanya tertawa kecil sambil menutupi wajahnya yang masih memerah.
"Maaf deh kalau mengganggu." kata Naruto. "Tapi aku hanya mau memberikan ini pada kalian." Diserahkannya formulir pengisian tentang cita-cita yang didapatnya dari sekolah.
"Cita-cita?" tanya Sasuke sambil membaca isi formulir itu dengan seksama.
Naruto mengangguk mengiyakan. "Ke sana sedikit, Teme." pintanya. Setelah Sasuke pindah ke tengah, dia segera duduk di samping Sasuke. "Jadi apa cita-cita kalian kalau lulus nanti?" tanyanya sambil melirik Sakura dan Sasuke bergantian.
Sasuke tampak tak tertarik dengan formulir itu. Berbeda dengan Sakura yang kelihatannya cukup penasaran dengan formulir yang diberikan Naruto.
"Mulai dari aku dulu ya." Naruto memulai pembicaraan karena sepertinya kedua sahabatnya masih sibuk sendiri. "Aku mau buka restoran dengan mie ramen terenak sedunia!" serunya antusias.
Sasuke menatap Naruto sebentar lalu berkata "Mudah-mudahan tidak ada yang mati." katanya cuek.
"Apaan sih, Teme!" Naruto menatap Sasuke kesal. Bukannya didukung, dia malah berkata begitu. Nggak heran Naruto jadi sangat kesal pada sahabatnya itu. "Kau meragukan kemampuanku ya?" tantangnya.
"Memang." jawab Sasuke singkat, membuat Naruto makin kesal dengannya.
"Sudah dong." Potong Sakura, sebelum Naruto melempar Sasuke dengan mie ramen khayalannya.
Setelah menatap Sasuke dengan pandangan 'nantiku balas kau teme', Naruto segera bertanya pada Sakura."Kalau Sakura-chan? Apa cita-citamu?"
"Ng…..aku mau jadi dokter!" seru Sakura sambil tersenyum. "Aku juga ingin punya rumah sakit yang khusus melayani orang miskin."
Naruto dan Sasuke tersenyum mendengar ucapan Sakura barusan. 'Mulia banget impiannya.' batin mereka kompak.
"Kalau kamu?" tanya Naruto pada Sasuke dengan pandangan sinis. Masih kesal karena kejadian tadi.
"Hn?..... Entahlah." jawab Sasuke malas.
"Semua orang harus punya impian Teme!" Naruto langsung mengeluh mendengar pernyataan Sasuke barusan. Tampaknya Naruto memang harus banyak bersabar dengan Uchiha yang satu ini. Kalau mau jujur, Naruto juga heran kenapa bisa tahan tinggal bersama Sasuke selama 2 tahun lebih. Tapi bagaimana pun juga, Naruto tahu kalau persahabatan mereka tidak bisa ditukar dengan apapun.
__SURATAN TAKDIR__
Sehari kemudian........
Sasuke keluar dari toko perhiasan sambil membawa bungkusan kecil. Tidak lama kemudian, dia membuka bungkusan kecil itu dan mengambil kotak kecil yang ada di dalam bungkusan itu. Dibukanya kotak kecil itu dengan hati-hati. Setelah kotak kecil itu terbuka, cincin putih yang ada di dalamnya terlihat begitu menyilaukan.
Mungkin cincin itu memang tidak mewah. Tapi dia yakin, gadis itu pasti akan sangat senang menerimanya. Menerima cincin pertunangan yang akan dia lingkarkan di jari manis gadis itu tepat pada peringatan hari jadian mereka. Sudah lama dia menabung diam-diam hanya untuk membeli cincin pertunangan itu. 'Bodoh! Mana mungkin aku lupa hari penting kita.' Batinnya geli.
"Cincin?!" Seorang pemuda berambut pirang yang acak-acakan tiba-tiba sudah berdiri di samping Sasuke sekarang. Pemuda usil yang sangat dikenal Sasuke.
"Ngapain kau disini, Dobe?" tanyanya kesal. Dengan segera langsung dimasukan kembali cincin itu ke kotaknya.
"Itu tidak penting. Yang paling penting, untuk apa cincin itu?" tanya pemuda berambut pirang itu sambil melirik kotak cincin yang dipegang Sasuke.
Sasuke hanya diam seribu bahasa. Dia terlalu malas dan tak ingin menjelaskannya pada Naruto. Sasuke membalikan badannya untuk menutupi wajahnya yang sedikit memerah, membayangkan wajah ceria gadis yang akan menggunakan cincin pertunangan darinya itu.
Setelah melirik Sasuke dan cincin itu sejenak, Naruto mendapat sebuah kesimpulan. "Teme, jangan-jangan kamu....." Naruto berhenti sejenak. Dia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "...mau melamarku ya?"
"Apa!" Sasuke hampir saja pingsan mendengar ucapan Naruto barusan. Ingin rasanya melempar sesuatu ke wajah bodoh sahabatnya itu. "Baka! Apa aku terlihat sedang menjalin hubungan denganmu sekarang?!"
"Hehe maaf deh. Bercanda kok." Naruto tertawa kecil melihat Sasuke yang sedang menatap kesal ke arahnya. "Jadi, kau mau melamar Sakura-chan?" Kali ini wajahnya sudah terlihat siap memulai pembicaraan serius dengan sahabatnya itu.
Sasuke hanya mengangguk mengiyakan. Dia terlihat sedang menggenggam erat kotak cincin yang berada di tangannya itu. Seakan tidak ingin melepaskan gadis yang akan menggunakan cincin darinya itu.
"Selamat untuk kalian berdua ya. Sakura-chan pasti senang sekali." ucapan selamat yang tulus dari lubuk hatinya yang terdalam, diucapkan Naruto dengan diikuti senyuman hangatnya.
Sasuke juga membalas senyuman Naruto. Tanpa adanya persahabatan seperti ini, mungkin mereka tidak akan bisa melewati tahun-tahun yang sangat sulit dalam kehidupan mereka.
Sesaat kemudian, Sasuke tampak sibuk memperhatikan cincin pertunangan yang akan dia berikan pada Sakura. Naruto juga terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
'Apapun reaksinya nanti, aku harus tetap mengatakannya. Aku tidak boleh membohonginya terus!' batin Naruto. Pemuda itu ingin sekali mengungkapkan semuanya sekarang, semua perasaan yang pernah dia pendam selama bertahun-tahun. "Ng...Teme, ada yang ingin aku katakan padamu. Aku tidak ingin membohongimu seumur hidupku." Naruto terlihat benar-benar serius sekarang. "Aku mohon, kamu jangan marah ya." Pintanya sebelum melanjutkan ucapannya. Sasuke hanya menatapnya penuh tanya. "Itu terjadi cukup lama. Tapi sekarang benar-benar sudah tidak ada apa-apa."
"Sebenarnya apa yang mau kau katakan, Dobe." Sasuke terlihat sangat tidak sabaran sekarang.
Setelah menarik nafas panjang dan mengeluarkan segenap tenaganya. Naruto melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya aku......"
__SURATAN TAKDIR__
Itachi sedang duduk di ruang tamu. Walaupun TV di depannya sedang menyiarkan acara favoritenya, pemuda itu terus saja menatap jam dinding di ruangan itu. Dia sedang menunggu Sasuke dan Naruto yang belum pulang juga dari tadi. 'Mereka kemana sih?'Batinnya gusar.
Tok…tok….tok….
Suara ketukkan pintu, membangunkan Itachi dari lamunannya. Tapi sebelum dia sampai di depan pintu, Sakura sudah berlari melewatinya.
"Biar aku saja Itachi nii-san! Itu pasti Sasuke-kun dan Naruto." seru Sakura semangat. Dia berlari dengan kecepatan penuh ke pintu.
Itachi menghentikan langkahnya sambil tersenyum. 'Ah…gadis ini memang selalu bersemangat kalau sudah menyangkut kedua sahabatnya itu.' Batin Itachi geli.
Begitu pintu terbuka, Sasuke segera melesat masuk ke dalam. Naruto terlihat sedang mengejar di belakangnya. "Teme, tunggu! Dengarkan aku dulu!"
Sakura dan Itachi hanya menatap penasaran dengan pemandangan yang sedang terjadi di hadapan mereka sekarang.
Sasuke menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam kamarnya. "Membohongiku selama bertahun-tahun, apa kau pikir itu masih bisa disebut sahabat!" Naruto terdiam mendengarnya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Padahal dia hanya berusaha untuk jujur pada sahabatnya itu. Bantingan keras Sasuke pada pintu kamarnya, menunjukkan kalau Sasuke benar-benar sangat marah sekarang.
Itachi dan Sakura segera langsung mendekati Naruto karena penasaran. Selama bertahun-tahun, Sasuke tidak pernah semarah ini pada Naruto.
"Naruto, ada apa sebenarnya? Kenapa Sasuke-kun terlihat sangat marah padamu?" tanya Sakura penasaran. Tidak pernah dilihatnya Sasuke semarah ini pada Naruto.
Naruto melirik Sakura sejenak, membiarkan gadis itu terlihat makin penasaran padanya. "Karena aku mengatakan padanya kalau aku……aku……" ucapannya terhenti. Dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada gadis di hadapannya sekarang.
"Aku apa Naruto? Apa yang kau katakan padanya?" Sakura tampak tidak sabaran. Itachi juga menatap Naruto penasaran.
"Kalau aku pernah mencintaimu."
-
-
TBC
-----------------------
=REVIEW REPLY=
Kakkoi-chan males log in XD.....Haha bukan hanya kamu kok yang lupa ama ceritanya. Aku juga lupa haha. *contoh author tidak bertanggung jawab*
Iya nih. Kok Hinata baik banget ya. Btw makasih ya hehe.
bebek-Goren9 bosen login.....Iya nih akhirnya bisa ku update juga hehe. Tenang aja, pasti aku tamatin kok. Ini udah diupdate lagi kok. Hehe makasih ya.
uchibi-nara.....Makasih ya hehe. Iya, ini udah diupdate kok.
Lawra-chan.....Ini udah ada SasuSakunya. Makasih ya hehe.
timeh(dot)oni.....Hehe lama banget ya. Maaf ya, habisnya aku juga nggak tahu kenapa semangat membuat ficku bisa hilang entah kemana. Iya, ini udah diupdate kok. Makasih ya hehe.
Uchiha Yuki-chan.....Hehe makasih ya. Iya ya, Kiba kasihan sekali. Huf...sebenarnya aku lebih pingin jadi KibaHina, tapi entah kenapa malah NaruHina haha. Ekspresi NaruSasu biasa aja waktu suap-suapan, mungkin karena mereka udah biasa kali kayak gitu wakakakak. *alasan yang ngaco* Soal Oro, mungkin karena dia sudah keriput jadi cepat pasrah deh haha. *dibikin sate* Maaf banget ya, udah kehabisan ide sih hehe.
Uchiha cesa......Hehe makasih ya. Nggak apa-apa kok say. *sok akrab MODE ON* Hm...ok aku akan berusaha agar SasuSaku tambah mesra. Perasaan banyak yang minta gitu juga deh haha. Btw senang banget ternyata ada lagi fansnya SasuSaku hehe. Met kenal ya.
MinatsukySaya......Hehe makasih ya. Sama dong, aku juga suka banget sama KibaHina. Bahkan sebenarnya, aku lebih suka KibaHina daripada NaruHina loh haha. Kok banyak banget ya yang pingin SasuSaku mesra. OK deh, aku usahain ya hehe.
M4yura.....Hehe makasih ya. Iya nih udah diupdate kok.
------------------
Maaf ya kalau updatenya lama banget. Hiks...hiks....padahal aku sudah berusaha banget loh.
Huf...mudah-mudahan masih ada yang mau membaca dan mereview fic ini....
Review?
