Jangan Dibaca!


Disclaimer: aku mendisklaim kepemilikan dunia dan karakter di sini

Warning:

Chapter rate M

Jangan Dibaca! karena ini Chapter rate M (mungkin.. sepertinya.. lah?)
Maklum, karena masih belajar jadi mencoba-coba ngetik berbagai hal. Sekarang malah coba ngetik smut. Pas sudah sampai bagian yang terlalu memalukan untuk diketik langsung stuck.. macet total ga bisa jalan, akhirnya jadi.. jadi smut yang gagal dan hancur wkwkwk.. Ini memalukan.
Bener deh, gausah dibaca gapapa. Ga ada hal penting yang terjadi di sini.
Chapter ini isinya hanya tentang mereka membicarakan kehidupan seks mereka dan tentang kehidupan seks mereka (omg apa yg aku ketik, pake karakter Conan pula, hiks ampun..)
Jadi, jangan dibaca, oke? klik tombol back nya.


Kaito mendarat sekaligus menon-aktifkan hang glidernya dalam waktu bersamaan di balkon kamarnya. Balkon itu dihubungkan dengan dua panel jendela kaca setinggi dinding lantai kamarnya dan tidak terkunci. Dia menggeser salah satu panel jendela, lalu membawa Conan masuk kamar dengan cepat.

"Whew.. dingin," keluh Conan.

"Dingin? Bukannya tadi aku memelukmu sepanjang perjalanan?" kata Kaito sambil menutup jendela kamarnya.

"Anginnya masih mengenai mukaku,"

"Oh, maaf maaf.. aku sudah terbiasa, sih, jadi nggak sadar," kata Kaito sambil tersenyum dengan bersalah, melepas jubah, jas, dan dasinya, kemudian mengeluarkan permata hasil pencuriannya. Flower Drop. Sialnya dibingkai bersama hiasannya. Kaito harus mencongkel permatanya dulu baru bisa diperiksa dibawah sinar bulan. "Tidak bilang sih, kan aku bisa menciummu biar hangat." Dengan permata serta jubah dan jaketnya di kedua lengannya (dasi masih tersampir di lehernya, tapi tidak terikat lagi), Kaito berjalan menuju ruang rahasia KID.

"Tidak, terima kasih. Kita bisa nabrak kalau seperti itu," kata Conan sambil berjalan mengikuti Kaito masuk ke ruangan rahasia KID. Satu-satunya misteri di ruangan ini yang tidak bisa dijelaskan oleh Conan hanya keberadaan mobil antik itu. Bagaimana mobil itu bisa masuk ke sini? Kaito juga tidak tahu.

Kaito meletakkan permatanya di atas meja, kemudian melipat jubah, dan jasnya sambil berkata, "kalau begitu kan kamu bisa mengahadap ke arahku, lalu menyembunyikan mukamu ke leherku, misalnya," menyisihkan jubah, jas, dan dasi itu untuk dicuci besok, menarik dua kursi untuk dirinya sendiri dan untuk Conan.

"Tapi aku juga ingin melihat pemandangan malam di langit dan kota juga, tadi itu indah," kata Conan sambil duduk dan memperhatikan Kaito menarik laci, mengeluarkan beberapa perkakas dan menaruhnya di meja, lalu duduk. Tapi Kaito bukannya duduk menghadap meja justru menghadap Conan, membuat Conan bertanya, "ada apa?"

"Memeriksamu, takutnya kena demam karena terkena angin malam.." kata Kaito sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Conan. "Maaf, aku ceroboh. Lain kali aku akan lebih hati-hati. Padahal kamu gampang sakit.." Kaito tidak merasakan suhu tubuh Conan terlalu panas untuk disebut demam. Tapi dia berdiri untuk mengambil termometer. Agar lebih pasti. Dia tidak mau mengambil resiko.

Conan memutar matanya, "Jangan berlebihan.." kemudian dia memperhatikan peralatan di atas meja serta permata yang terbingkai hiasan. Conan jadi menyadari bahwa Kaito mau melepas batunya. Dia baru sadar bahwa dengan adanya hiasan itu maka tidak akan bisa diperiksa di bawah sinar bulan. "Hei.. jadi kamu belum memeriksa batu ini?"

"Tentu saja belum," Kaito kembali dan memasukkan ujung termometer digital ke mulut Conan, membuat Conan jadi berhenti berbicara dan hanya melihat Kaito bekerja melepaskan batunya. "Dan jangan khawatir tentang taruhannya. Itu hanya ide yang muncul mendadak agar kamu serius menggagalkanku, agar lebih seru," Kaito menjulurkan lidahnya ke arah Conan, sementara Conan mendelik ke arahnya. "Lagipula sejak awal taruhan yang seperti itu tidak bisa berlaku. Karena.. yang menang bisa minta apapun pada yang kalah? Kamu minta apapun kapanpun juga pasti aku turuti, selama aku bisa."

Termometernya berbunyi, Conan melepaskannya dan melihat angka yang tertera. "Kamu benar-benar memberikan seluruh hati dan pikiranmu kepadaku ya.." kata Conan dengan senang.

"Iya, dan senang bisa membuatmu terhibur," Kaito menggelengkan kepalanya dengan senyum yang penuh rasa sayang sambil memandang Conan, "Berapa angkanya?"

"37.3 C"

"Hmm.. belum termasuk demam.." Kaito berdiri sambil membawa batu permata yang telah lepas menuju jendela dengan sinar bulan.

"Uum.. Kaito?"

"Yah?" bukan pandora. Kaito berjalan kembali menuju mejanya.

"Apa kamu percaya kalau pandora benar-benar ada?" kata Conan, lalu dia menggeser kursinya mendekat pada kursi Kaito, ingin bersandar pada Kaito. Karena ukuran tubuhnya yang kecil jadi dia pikir itu tidak akan terlalu membebani Kaito. Tapi begitu dia akan duduk kembali, Kaito justru kembali duduk sambil mengangkatnya ke pangkuannya. Memeluknya seperti itu sambil membuka laptop.

"He.. tidak percaya ya?"

Conan melihat foto dirinya sendiri tersenyum lebar sedang bermain dengan detektif cilik di layar laptop Kaito. "Nah, kamu sudah berada dalam masalah ini jauh lebih lama, dan kamu tidak bodoh. Aku akan mempercayai pendapatmu."

"Hmm.." Kaito membuka program buatannya yang berisi berbagai batu berharga yang sudah dikategorikan berdasarkan tipe, warna, bentuk, berat, ukuran, kadar kemurnian, dan tempat asal dengan satu tangan. "Sejujurnya, aku belum pernah melihatnya, jadi tidak 100% yakin.. tapi berhubung penyihir benar-benar ada, mungkin pandora juga benar-benar ada." Kaito memilih Rubellite Tourmaline untuk tipe gem, violet dan purple untuk warna gem, pear dan briolette untuk bentuk gem, Tanzania sebagai tempat asal gem, dan mengabaikan berat, ukuran, dan kadar kemurnian. Nama gem bisa berubah-ubah tergantung pemiliknya, jadi dia tidak memakai sistem itu. Lagipula dengan kategori seperti ini jadi lebih mudah mencari gem yang mungkin merupakan Pandora jika suatu saat dia menemukan ciri-ciri Pandora.

"Penyihir? Berarti kamu pernah melihatnya?" Conan melihat Kaito mensetting hasil pencarian berdasarkan size – largest to smallest dan kemudian menemukan Flower Drop dengan mudah.

"Yup, ada penyihir di kelasku," Kaito menandai Flower Drop sebagai checked dan not Pandora. "Percaya? Dia mungkin bisa menyihirmu kembali menjadi Shinichi lho~" Kaito hanya berniat menggoda Conan, tapi dia justru mendapatkan reaksi yang di luar dugaan.

"Sungguh? Dia benar-benar bisa melakukan itu?" kata Conan setelah memutar kepalanya menghadap Kaito. Pandangannya terlihat tertarik, dan.. berharap.

Kaito langsung menghentikan jawaban otomatis untuk menggoda Conan yang hampir keluar. Menutup mulutnya, untuk sesaat dia memikirkan apa yang akan dikatakannya. "Shinichi, jangan menjual jiwamu pada penyihir. Kita masih punya solusi lain."

"Tapi.. itu masih sangat lama.." protes Conan.

Kaito menutup laptopnya dan menyisihkannya, mendudukkan Conan di meja agar mereka bisa berhadapan dengan mudah., lalu menggeser kursinya lebih mendekat ke meja. "Kalaupun dia benar-benar bisa mengembalikan wujudmu, lalu apa? Organisasi masih berdiri dengan kokoh di luar sana. Apa yang akan terjadi kalau mereka tahu Shinichi kembali? Atau kamu mau hidup dengan bersembunyi siang malam sepenuhnya?"

"Aku hanya ingin kembali menjadi Shinichi secepatnya.." sekarang Conan jadi terlihat agak sedih.

"Kenapa, sayangku.. kan tidak perlu terburu-buru begitu?" Kaito membelai wajah Conan sambil mengamati gerak-geriknya. Kaito bisa menduga isi hati dan pikiran orang lain melalui bahasa tubuh mereka. Tapi itu sama sekali tidak berlaku kepada Conan, karena perasaannya juga terlibat. Kalau dia melihat hal yang baik, bisa jadi dia hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Kalau dia melihat hal buruk, bisa jadi itu karena dia sedang pesimis. Mustahil mendeduksi pikiran dan hati orang yang dicintai dengan objektif. "Jangan bilang bahwa.. keputusanmu itu adalah karena aku? Ingin secepatnya kembali menjadi 'Shinichi' demi aku?" Sekarang tergantung pada jawaban Conan, Kaito akan langsung tahu bahwa dia jujur atau bohong. Karena tanda-tanda orang yang berbohong tidak ambigu.

Conan mengalihkan pandangannya dan berkata, "Puncak gairah tertinggi dalam tahapan kehidupan seks laki-laki terjadi di usia 17 atau 18 tahun. Di usia ini mereka hanya membutuhkan sedikit stimulasi atau bahkan sama sekali tidak untuk membangkitkan gairahnya, dan sulit menahan ereksi. Gairahnya timbul seperti orang kelaparan karena pengaruh dari tingginya hormon testosteron."

Kaito jadi ingin tertawa. Dengan tersenyum geli, dia mengatakan, "Kenapa malah jadi membicarakan sains?"

"Karena, kamu juga pasti begitu.. Aku tidak ingin kamu memuaskan diri sendiri dengan tangan sendiri dengan bantuan video, atau manga, atau foto, atau cerita hentai.. padahal kamu punya aku,"

Kaito tidak perlu semua bantuan yag disebutkan Conan. Hanya dengan membayangkan ketika dia dulu menyatu dengan Shinichi itu sudah sangat cukup. Tapi memikirkan ini membuat jantung Kaito menjadi berdetak dengan lebih cepat. "Kamu mau aku melampiaskan gairahku hanya padamu?" Tidak bisa tidak, pembicaraan ini membuat Kaito jadi mulai bergairah. Meski Conan tidak menyadari sedikit perubahan pada nada suara dan ekspresi Kaito. Kaito masih bisa mengontrol emosinya.

Conan mengangguk, "Sejujurnya, aku juga punya kekhawatiran. Dengan tubuh seperti ini, dan kamu yang sedang berada di umur dengan puncak gairah tertinggi.. aku takut kamu akan jadi frustasi dan meninggalkanku.. Kita juga jarang bertemu.."

"Itu mustahil, Shinichi. Aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kalau kamu yang menginginkan itu.. mmh, tapi mungkin juga aku tetap tidak akan meninggalkanmu, tidak akan sanggup," Kaito mulai mengendusi batang leher Conan. "Kita sama-sama mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, huh? Tapi aku sudah percaya padamu. Jadi lebih percayalah padaku." Conan mengangguk, menundukkan kepala untuk mencium Kaito. Untuk sesaat mereka berciuman hingga kehilangan nafas. Tanpa sadar, posisi Kaito menjadi berdiri di depan Conan. Conan masih duduk di meja. "Jadi, kamu mau kita bertemu tiap hari?"

"Eh, bukan.. aku tidak ingin membuatmu repot begitu,"

"Tidak masalah, aku juga ingin.." Kaito mencium Conan lagi sambil menggendongnya. Membawa mereka berdua kembali ke kamarnya. Dia membaringkan Conan di tempat tidurnya, lalu berjalan mengunci jendela kamarnya, menutup gorden jendelanya, berjalan kembali ke tempat tidurnya sambil melepas kemeja yang dipakai, dan mendarat di atas Conan. Menggunakan kedua siku dan lutut untuk bertumpu agar tidak menggencet Conan, Kaito mulai menghisap leher Conan, bagian yang terdekat dengan telinga kanannya.

"Kaito, tunggu. Jangan di situ. Di situ akan terlihat jelas!"

"Mmh, aku biasa memamerkan tanda yang kamu buat padaku."

"Aku sekolah dengan anak kelas 1 SD."

"Tutupi saja dengan concealer."

"Aku tidak bisa memakai make-up."

"Nanti akan aku ajari."

"Kaito.."

"Baiklah baiklah,"

Hisapan Kaito turun ke dekat sudut pertemuan leher Conan dengan bahunya, tapi masih di leher. Sepertinya Kaito suka sekali dengan leher Conan. Setelah ini, Conan akan perlu menggunakan atasan berkerah. Daripada diam merasakan Kaito yang sedang menandainya, Conan mencoba menggerakkan kakinya dengan sengaja, berusaha menyenggol organ privat Kaito. Berusaha memberikan sebanyak mungkin gesekan. Perubahan nafas Kaito menunjukkan bahwa usahanya sukses. Kaito juga menggerakkan pinggulnya untuk mengimbangi gerakan Conan.

"Nakal, yah.. chiisana meitantei~" Kaito melepaskan leher Conan untuk berganti mencium rongga mulut Conan, tapi disambut oleh lidah Conan. Dengan lidah yang saling membelit, selama beberapa saat terjadi perebutan posisi yang lebih dominan. Akhirnya Kaito membiarkan lidah Conan menginvasi rongga mulutnya, sementara dia berusaha membuka kancing dan resleting celana yang terasa semakin tidak nyaman dan mengganggunya. Kemudian membuka seluruh kancing kemeja Conan. Ada yang terasa sensual dari melihat Conan bertelanjang dada dengan kemeja yang terbuka dan kusut di kedua sisi tubuhnya, terutama di atas tempat tidurnya seperti ini. Karena itulah baju ganti untuk Conan yang dibeli Kaito yang dia siapkan di rumahnya semuanya berupa kemeja.

Menyadari salah satu tangan Conan berhenti mencengkeram helai rambut di kepalanya (sejak kapan tangan itu di situ?), hendak meraih batang seksnya, Kaito melengkungkan tulang punggungnya agar jarak yang ditempuh tangan itu menjadi lebih dekat. Agar Conan memiliki lebih banyak ruang gerak untuk menggerakkan tangannya. Kaito memiliki tulang punggung yang cukup lentur untuk melakukan itu. Konsentrasi Conan pada gerakan lidahnya jadi berkurang, lebih fokus pada menggerakkan tangannya. Kaito mengambil kesempatan itu untuk menguasai rongga mulut Conan. Tapi hanya sebentar, karena kemudian mereka sama-sama kehabisan nafas.

Sayangnya, gerakan tangan Conan juga ikut berhenti. Kaito ingin protes, tapi malu juga. Akhirnya dia menggeser tubuhnya lebih ke atas, memposisikan batangnya untuk menepuk-nepuk tangan Conan, sambil merasakan mukanya memerah. Conan justru menarik tangannya, meludah di telapak tangannya lebih dulu sebelum memompa Kaito agar Kaito merasa lebih nyaman. Kaito bukan hanya merasa lebih nyaman, tapi juga lebih nikmat. Ditambah lagi dengan mulut Conan yang mempermainkan putingnya, dan tangan kiri Conan di punggungnya. Posisi itu terjadi hingga beberapa saat sampai Kaito tidak tahan lagi dan langsung membalikkan posisi mereka tanpa peringatan sebelum dia sempat keluar. Dia tidak ingin mengakhiri sesi ini dulu, karena ada yang ingin dia coba.

Untuk sesaat, Conan terkejut menyadari dirinya tiba-tiba berada di posisi atas, terdiam tidak tahu harus melakukan apa. Lalu Kaito memasukkan jemarinya ke mulut Conan. Conan menurut saja dan mengulum jemari Kaito. Ternyata enak, terasa geli di jari-jari Kaito. Kaito sampai tidak ingin melepaskan jarinya. Tapi dilepaskannya juga. Lalu dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Menurunkan celana pendek Conan. Membawa jarinya ke anus Conan. Membuat Conan kaget sekaligus takut.

"Kaito, idiot! Aku tidak mungkin bisa."

"Sssh.. tenang, tenang. Aku hanya akan menggunakan jariku."

"Hanya jari?"

"Iya, aku hanya ingin kamu merasakannya. Rasa ketika ada sesuatu di dalammu yang bergerak keluar masuk.. boleh?"

"…hmph. Baiklah," putus Conan kemudian menggigit bibir bawahnya dengan antisipasi.

Tapi rupanya Kaito terlalu meremehkan 'kecil'nya Conan. Sulit sekali masuknya. Atau mungkin meski hanya jari, Kaito harus menggunakan lubricant? Atau Conan terlalu tegang? Atau dia memang harus mencari sesuatu yang lebih kecil? Nah, yang terakhir itu adalah pilihan terakhir. Kalau ada sesuatu yang akan memasuki Conan untuk pertama kali itu harus Kaito, bahkan meski hanya jari Kaito. Mainan baru boleh setelah Kaito.

Kaito menurunkan Conan agar dia menindih Kaito. Sungguh, berat Conan sama sekali bukan apa-apa untuk Kaito. Menggunakan tangan kirinya untuk meraih lubricant di laci sebelah tempat tidurnya, Kaito menuangkan lubricant di kedua tangannya sambil menggeser posisi punggungnya hingga setengah duduk bersandarkan bantal sambil tetap menahan Conan agar tetap menempel padanya. Posisi Conan menjadi setengah duduk di pangkuan Kaito.

"Sekarang rileks, Shinichi, oke?" Kaito tidak memberikan kesempatan untuk Conan menjawab, dan langsung menciumnya, toh Conan tidak protes.

Conan kembali menggunakan dua tangannya untuk menahan tubuhnya agar bisa bertemu dengan mulut Kaito dengan lebih mudah. Kaito memanfaatkan hal ini untuk mengelus kemaluan Conan dengan tangan kirinya. Kaito tidak benar-benar mengerti bagaimana sistem tubuh 17 tahun yang kembali ke ukuran 7 tahun. Tapi dari reaksinya sepertinya Conan merasa enak, atau mungkin hanya nyaman atas apa yang dia lakukan. Lalu Conan memutuskan untuk melepaskan kemeja dan celana pendeknya sekalian, mungkin karena merasa terganggu dengan baju yang menggantung di tubuhnya. Ini juga tidak masalah untuk Kaito, dia hanya menyukai efek helaian kemeja yang membingkai tubuh Conan ketika Conan terbaring di tempat tidurnya.

Kaito menunggu hingga Conan 'lupa diri' dan tenggelam dalam ciumannya, lalu diam-diam kembali berusaha menusukkan jari kelingking tangan kanannya. Kali ini lebih mudah. Jadi Kaito mencoba ganti dengan jari tengah, karena akan lebih mudah untuk mengendalikan gerakan jarinya, selain itu juga lebih panjang. Kaito mengubah gerakan bergantian antara menarik-menusuk dan memutar. Senang mengetahui bahwa apa yang dilakukannya mempengaruhi Conan tanpa membuatnya sakit. Nafas Conan menjadi lebih memburu setiap kali Kaito melakukan gerakan menusuk dan menarik. Tubuh Conan menggelinjang setiap kali Kaito memutar jarinya. Sebagai gantinya, Conan menggenggam tangan kiri Kaito, berusaha mengambil sebagian lubricant di tangan itu, dan memompa Kaito. Conan bahkan juga berusaha menandai bahunya, tapi Kaito memindahkannya ke lehernya, agar bisa terlihat orang lain.

Melihat Conan bereaksi seperti itu di atasnya, untuk sekejap Kaito berharap bahwa Shinichi lah yang berada di sini, bukan Conan. Lalu segera membuang pikiran jahat itu jauh-jauh. Di antara semua orang, Conan lah yang paling menderita, dan paling ingin segera mengembalikan Shinichi, sampai sama sekali tidak ragu untuk menggunakan penyihir sebagai solusi.. Tapi Kaito tidak terlalu ingin membawa Conan kehadapan Akako. Akako tidak jahat. Tidak, dia baik. Meskipun dia pernah mencoba membunuh Kaito, tapi Kaito sekarang masih hidup bukan karena Akako gagal, melainkan karena penyihir itu sendiri yang menghentikan usahanya, karena dia tidak tega membunuh Kaito, karena dia masih memiliki hati yang baik. Hanya saja, bagaimana mengatakannya? Singkatnya, Akako agak.. gila..

Selain itu, tanpa adanya Conan, Shinichi tidak akan menjadi pribadi seperti sekarang. Dan tanpa adanya Conan, Shinichi tidak mungkin menjadi miliknya, dia mungkin akan menjadi milik Ran. Karena itu, Kaito berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan menolak Conan. Dia juga tidak akan menghina Conan dengan memperlakukannya seperti anak kecil, bahkan dihadapan orang lain, terutama ketika mereka hanya berdua. Kecuali mungkin ketika akting benar-benar dibutuhkan, selain itu tidak. Dia akan memperlakukan Conan sama seperti dia memperlakukan Shinichi, kecuali dalam batasan mustahil secara fisik seperti sekarang. Kalau Shinichi yang berada di hadapannya, dia akan melakukan yang lebih dari ini. Hanya itu. Tidak ada perbedaan perasaan. Tidak ada rasa kecewa karena bukan Shinichi. Tidak boleh.

Conan merasakan Kaito sudah 'dekat', jadi dia memutuskan untuk melepaskan diri dari jari Kaito, turun untuk memberi Kaito blow job, membuat Kaito kehilangan seluruh daya berpikirnya dan hanya mendesahkan nama Shinichi hingga dia keluar. Conan juga berusaha menelan seluruh sperma Kaito, meskipun gagal, ada yang meleleh dan menetes keluar dari sudut mulutnya. Conan mengusapnya dengan punggung tangannya dan menjilatnya. Padahal dia ingin menelan semuanya. Yah, tidak masalah, dengan latihan maka suatu saat pasti bisa.

"Shinichi.." Kaito memanggil dengan mata yang tidak fokus, dan belum bisa berpikir. Dia bangun terduduk dan mencium Conan yang masih berada di pangkuannya, membuatnya bisa merasakan spermanya sendiri. "Mmh.. mau bersih-bersih ke kamar mandi dan sikat gigi dulu sebelum tidur?"

Conan menggeleng, "Besok saja.."

Membuat Kaito tersenyum, "Ingin merasakan spermaku lebih lama lagi, hmm?" Kaito mengambil tisu untuk membersihkan sisa sperma di wajah Conan dan yang jatuh di tempat tidurnya.

"Tidak.."

"Aku tahu kamu bohong~" Kaito melempar tisu yang dipegangnya ke tempat sampah.

Conan tidak menghadiahi Kaito dengan jawaban, dia hanya cemberut, membiarkan Kaito membuat mereka berdua terbaring dan menyelimuti mereka berdua. Lalu berpelukan, tepatnya hanya Kaito yang memeluk Conan. Apa boleh buat, Conan tidak bisa membalas pelukan Kaito, karena tangannya terlalu kecil untuk melingkari tubuh Kaito. Dia bisa mencoba, tapi malah terasa tidak nyaman nanti.

"Shinichi.. aku bisa menemuimu setiap hari, tapi aku tidak bisa janji bahwa ini akan terjadi setiap hari."

"..aku hanya ingin bahwa hanya aku yang bisa membuatmu bergairah.. tapi aku tahu juga, ini sama sekali bukan salahmu," pikiran Conan mulai menyalahkan diri sendiri.

"Bodoh, kalau hanya itu, keinginanmu sudah terpenuhi. Aku tidak pernah menggunakan video, gambar, ataupun cerita tentang orang lain. Itu malah mengangguku. Hanya kamu yang bisa membuatku bergairah."

"Eh? Kalau begitu, hanya.. hanya dengan imajinasi?"

"Yup, dan.. dibantu dengan mainan," tambah Kaito dengan malu.. "kalau itu, tidak apa-apa?"

Conan ternganga, sama sekali tidak menyangka, jadi tidak menjawab untuk sesaat, lalu, "ah.. tidak. Tidak apa-apa.. asal beritahu aku setiap kali kamu melakukan hal itu."

"Kenapa?"

"Aku.. ingin membantumu.. dengan chat seks? Atau itu malah akan merepotkan?"

Tawaran Conan malah membuat Kaito senang tidak terkira. "Tentu saja tidak merepotkan, itu benar-benar akan membantu." Tiba-tiba Kaito memeluknya lebih erat. "Kamu tahu? Aku menggunakan mainan itu karena aku suka rasanya saat kamu di dalamku waktu itu.. Aku jadi ingin membuatmu segera merasakannya juga.."

"Jadi karena itu kamu tadi tiba-tiba.. err.. melakukan itu.."

"Yup.. bagaimana rasanya? Kapan-kapan mau merasakan lagi?"

"Rasanya.. terlihat jelas dari reaksiku, kan.. dan.. boleh.."

"Mmh.. sebenarnya, bukan hanya aku yang memberikan seluruh pikiran dan perasaanku padamu, kan. Tapi kamu juga, sudah memberikan seluruh pikiran dan perasaanmu padaku.. Sungguh, terima kasih.. Shinichi.."

"Apapun untukmu.." jawab Conan. Conan merasa bahwa seluruh tingkah laku Kaito benar-benar menunjukkan bahwa dia segalanya bagi Kaito. Selama ini ukuran tubuhnya diam-diam membuatnya merasa tidak aman dalam hubungan ini. Tapi kelihatannya itu benar-benar kekhawatiran yang tidak perlu.. Kaito tidak akan pernah meninggalkannya. Dia tidak akan sanggup. Mulai sekarang, Conan (Shinichi) akan mempercayai Kaito sepenuhnya.

Sementara Kaito semakin merasa senang mendengar Conan meniru kalimat yang biasa dia ucapkan. Ketika mencintai seseorang, dia akan mulai meniru kebiasaan, bahkan juga ikut menyukai hal-hal yang menjadi favorit orang yang dicintai. Mungkin saat Shinichi sudah kembali nanti, Kaito bisa membujuknya untuk iseng sesekali menjadi KID?


Author's Note:

Uups, kelihatannya, author jauh lebih fokus pada karakter Kaito daripada Conan?
Kalau terasa 'iya', maaf kalau begitu, author jauh lebih suka Kaito kemana-mana daripada Conan sih. Meskipun peringkat Conan/Shinichi berada di nomor dua tepat setelah Kaito di hati author..

Btw, setiap kali aku denger suara Yamaguchi Kappei, aku pasti bakal langsung histeris dan mikir 'kyaaaa itu suara Kaito!' ga peduli meski waktu itu Kappei sedang ngomong biasa atau sedang akting sebagai karakter lain mana pun. Range suara Kaito sangat luas sih, jadi berbagai suara Kappei tetep terasa seperti itu suara Kaito! kyaaa~
(Kecuali L, karena karakter suara L sangat beda jauh dari Kaito..)

Dan.. oi! udah dibilang jangan dibaca, malah masih dibaca sampai sini, bandel ya.. ckck..