Rated T
Disclaimer: Still, Mashasi Kishimoto, just gimme the copyright! #Plak!
Warning!: Bahasa sok puitis, typos, gajelas, crack pairing, OOC tingkat dewa dan segala sesuatu yang gaenak!-_-
GASUKA? SILAHKAN TEKAN TOMBOL BACK PADA LAYAR KOMPUTER ANDA! NO FLAME!
HANYA MENGHARAPKAN KRITIK "MEMBANGUN"
Couple words from author:
chappie delapan yayyayyayyy! Yak dichappie sebelumnya kayaknya aku kelewat jahat ya karena ngebikin para tetua Hyuuga tuh jahat gitu sampe ngusir panda kita #disiram aer panas sama pakde Hiashi #plak! haha, mohon maklum ya atas imajinasiku yang aneh ini hehe. oh iya, di chappie ini mulai keliatan dikit dikit GaaTen nya, dan perubahan perasaan Tenten gitu, eits selanjutnya baca aja sendiri aku gamau ngasih tau lebih dari ini #emang siapa yang mau dengerin lo, thor *nangis dipojokan. huu, yaudah aku bales reviews dulu yaa!
Moku-chan: Iyaa aku usahakan GaaTen moment nya lebih banyak di chappie ini, iyaa sesuai permintaan Moku-chan kan, semoga Moku-chan puas dengan chappie kemarin hehe, dan oh iya terimakasih atas reviewsnya dan kesetiaannya membaca fic sederhana akuu *nunduk-nunduk.
Plain Vanilla: Hi plain Vanilla! iya nih udah lama ga keliatan hehe, tapi gapapa kok hihi. iya aku ngerti soalnya aku juga suka begitu #plak! wkwk, yak! disini Gaara mulai menunjukan perhatian 'lebih'nya buat Tenten. semoga plain vanilla puas yaa dengan chappie ini, dan terimakasih atas reviews dan kesetiaannya buat ngikutin fic inii, dan juga terimakasih buat dukungannyaaa! hehe.
Yak! semua reviews sudah dibalas, aku bener-bener berterimakasih atas semua reviews dari para readers, dan juga buat para readers yang ga reviews gapapa kok aku tetap berterimakasih, semoga kalian semua bisa terhibur dengan fic ini hehe. baiklah langsung saja kita ke chappie delapan, here we goes!
Chapter 8
Kilatan petir menyambar langit, seperti membelah langit yang kelabu kala itu. Tetesan air hujan mulai turun, membasahi kaca jendela. Mata hazelku menyusuri tetesan air hujan di kaca itu, samar-samar aku bisa mencium bau tanah yang tersiram air hujan, sangat menyenangkan. Melihat hujan membuatku kembali teringat pada sosok itu, sosok laki-laki bermata lavender dan berambut brunatte yang sangat menyukai hujan, kadang ia bisa terdiam beberapa menit hanya untuk memperhatikan tetesan hujan yang turun membasahi bumi, ia seperti sangat menikmati saat-saat itu, saat satu tetes demi tetes jatuh dari langit.
"Selamat pagi, Tenten-chan." Aku segera mengalihkan pandanganku dari kaca jendela itu. bola mata hazelku langsung menangkap sosok gadis berambut bloosom yang berjalan mendekatiku. "Pagi Sakura." Sakura tersenyum simpul lalu memperhatikan wajahku sejenak sebelum akhirnya memeriksa keadaanku.
"Bagaimana keadaanku dan si kecil?" Tanyaku, Sakura tersenyum simpul lalu menatap mataku. "Kondisimu baik-baik saja tentunya sikecil pun begitu." Aku mengangguk kecil lalu kembali memandang jendela rumah sakit.
Perasaan takut kembali mencekam hatiku, ingin rasanya aku menjerit, menangis dan berlari kepelukan seseorang. Baru kali ini aku merasakan kesendirian yang amat dalam. Sakura yang sepertinya melihat ekspresiku langsung menyentuh tanganku. "Ada apa, Tenten?"
"Aku.. aku hanya sedikit deg-degan dengan proses persalinannya." Jawabku sambil tersenyum lemah.
"Tenang saja, semua akn baik-baik saja." Aku tersenyum getir, merasa senang karena masih memiliki sahabat yang bisa menenangkanku.
"Kau baik-baik saja, Tenten-chan?" Tanya Sakura yang menatapku penuh khawatir. Aku menggeleng lemah lalu menundukan kepalaku.
"Aku... aku hanya merasa... takut."
"Tenten, tenanglah semua akan baik-baik saja. Kau dan bayimu akan baik-baik saja, percayalah padaku." Ujar Sakura berusaha menenangkanku.
"Aku takut... aku merasa begitu sendirian..." Bisa kurasakan senyuman Sakura langsung luntur begitu mendengar kata-kataku. "Apa?"
"Aku... hanya merasa kesepian, disaat seperti ini semua orang yang kusayangi seolah tidak ada untuk menemaniku... tapi untungnya aku masih punya sahabat sepertimu, arigatou, Sakura-san." Jawabku sambil tersenyum.
"Tenten... jangan sekalipun kamu berpikir seperti itu. kamu masih punya teman-teman rookie sembilan yang akan mendukungmu. Aku yakin besok mereka semua akan datang untuk menyemangatimu, apalagi kalau ada Lee dan Naruto, pasti kau akan terhibur karena adanya mereka." Sakura benar, bodohnya aku. "I-iya, arigatou, Sakura-san." Sakura tersenyum lalu meninggalkanku. Tatapanku kembali tertuju ke awan kelabu.
'Neji, apa aku boleh berharap kalau kamu juga menyemangatiku disana?'
XXX
"AAAAAA!"
"AYO TENTEN! TERUS, JANGAN LUPA ATUR NAFAS!" Aku mengangguk lalu berusaha mengatur nafasku yang mulai tersengal-sengal lalu mencobanya sekali lagi. Rasa sakit kembali mendera tubuhku, membuatku kembali berteriak sambil memejamkan mataku. "TENTEN! AYO SEBENTAR LAGI!" Suara Sakura membuatku kembali mencoba 'mendorong' lagi. Kami-sama! Apakah sesakit ini? aku kembali mengatur nafasku dan mencoba sekali lagi. Rasa sakit yang amat sangat kembali membuat tubuhku lemas. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa lagi. "AYO TENTEN! KAMU PASTI BISA, SEBENTAR LAGI!"
"AKU TIDAK BISA SAKURA-SAN!" Pekikku frustasi, sudah hampir dua jam proses persalinanku berjalan, tapi tidak ada kemajuan, si bayi belum juga berhasil keluar. Semalam, Sakura bilang bahwa sepertinya aku tidak akan sanggup untuk menjalani persalinan. Tubuhku tidak akan kuat menjalaninya, dan Shizune menyarankanku untuk menggugurkan bayi ini. tapi aku menolak, sudah sembilan bulan aku mengandung bayi ini, menjaganya, mencintainya, tidak mungkin aku membunuhnya begitu saja.
Lagipula, bayi ini adalah satu-satunya alasan kenapa aku tetap hidup.
"Bukankah kamu sendiri yang mengotot untuk tetap melaksanakan persalinan ini?! ayolah Tenten!" Aku memejamkan mataku, Sakura benar, aku yang sudah mengotot untuk tetap melangsungkan proses ini harusnya aku bisa lebih kuat. "AAAAAA!" Aku berteriak seraya mencoba 'mendorong' lagi.
"Kepalanya mulai terlihat! Ambilkan aku kain!" Ujar Sakura kepada seorang shinobi medis yang ada disana. Aku memejamkan mataku, bulir air mata menetes dari mataku. rasanya sangat berat. Bayangkan, kau harus melakukan semua ini sendiri. Tanpa ibumu yang bisa menenangkanmu, ataupun suami yang setia menemanimu? Rasanya sangat sulit, sungguh.
Seumur hidup, aku tidak pernah membayangkan akan melakukan persalinan seorang diri, tanpa keluarga, tanpa suami. Suara keributan diluar ruang persalinan segera membuatku dan Sakura terdiam sejenak. Aku menatap lurus ke pintu ruang persalinan yang terbuat dari besi. Samar-samar aku bisa mendengar suara dari balik pintu itu.
"Hei! Apa yang kau lakukan?! Kau tidak boleh masuk!"
"Minggir, Lee!" Suara ini? suara ribut kembali terdengar dari balik pintu itu, langkah kaki terdengar semakin mendekat. "K-kau tidak boleh masuk!"
"Dan kau tidak berhak untuk mengaturku, hokage!" Langkah kaki itu semakin mendekat hingga akhirnya. BRAK! Pintu besi itu terbuka, aku hanya bisa termanggu melihat sosok kepala merah berdiri disana.
"Gaara! Apa yang kau lakukan disini?!" Pekik Sakura, seolah tidak memperdulikan Sakura, Gaara menyambar jubah dan masker lalu berdiri disampingku, Jade bertemu hazel.
"Ap-apa yang kau lakukan?" Tanyaku yang masih menatap mata jade itu.
"Sudah kubilang kan? Aku akan datang saat kau lelah menjadi kuat." aku terhenyak, masih tidak percaya dengan kata-kata kazekage itu. laki-laki berambut merah itu menggenggam tanganku. "Kau bisa meremasnya sekuat yang kau mau." Ujar laki-laki itu. belum sempat aku membalas kata-kata Gaara, rasa nyeri kembali mendera tubuhku. "AAAAA!" Aku kembali berteriak.
"TENTEN! TETAP ATUR NAFASMU! GAARA, BISAKAH KAU MEMBERITAHU TENTEN UNTUK TETAP BERNAFAS?" ujar Sakura. Gaara mengangguk. aku mencengkram tangan Gaara, membuat laki-laki itu meringis kesakitan, tapi segera ia membuang ekspresi itu.
"AYO TENTEN! SEBENTAR LAGI!" Ujar Sakura. Aku kembali 'mendorong' si bayi untuk segera keluar, aku yakin bayi itu pasti sudah tidak tahan berada didalam sana selama hampir dua jam. Gaara mendekatkan kepalanya ke telingaku lalu berbisik. "Tetap atur nafasmu, aku tahu kau cukup kuat untuk melewati ini." aku memejamkan mataku, meremas tangan Gaara lebih kuat lalu berteriak sekencang-kencangnya. Tubuhku seperti ditusuk beribu shuriken, bahkan mungkin lebih sakit daripada itu. aku kembali mengatur nafasku, air mata mulai berjatuhan sebisa mungkin aku menahan rasa sakit itu.
Hingga akhirnya, rasa sakit itu seolah lenyap ketika suara tangisan bayi memasuki gendang telingaku. Aku tersenyum lemah, sambil menatap sesosok perempuan berambut merah muda tengah menggendong seorang bayi dan menyodorkannya padaku. Baru saja aku ingin merentangkan tanganku untuk membawa bayi itu kedalam pelukanku, ketika akhirnya tubuhku terasa seperti diterpa angin yang sangat kencang. Terakhir yang kudengar adalah suara Sakura yang memanggil namaku.
XXX
Suara nyanyian burung tertangkap oleh telingaku, kulitku terasa dingin ketika diterpa angin yang sedikit lembab. Gelap, aku tidak bisa melihat. Bahkan setelah aku membuka mataku, seperti ada sesuatu yang menutupi mataku. aku meraba benda aneh yang menghalangi tatapanku. Kain. Aku berani jamin kalau ini adalah kain. Jari jemariku menyusuri kain itu untuk membuka ikatannya, setelah berhasil menemukan simpul di belakang kepalaku, aku langsung melepaskannya. Srang, sinar matahari berkerumun menyerang mataku. butuh beberapa detik bagiku untuk menyesuaikan mataku. setelah mengerjapkan mata beberapa kali, akhirnya aku bisa melihat dengan baik. Dihadapanku, terbentang bunga lily putih yang terlihat sangat cantik lalu beberapa meter di depan kumpulan bunga itu, terdapat air terjun yang lumayan besar disana dan juga sebuah pohon mapple yang berada tak jauh dari air terjun itu.
Aku mengalami de javu saat itu, sepertinya aku pernah datang kesini. Bukan, sepertinya aku pernah melihat air terjun dan pohon itu. Aku melangkahkan kakiku untuk mendekat ke kerumunan bunga lily itu. Tangan mungilku meraba kelopak bunga itu, melihat bunga lily putih membuat perasaanku menjadi tak karuan. Bunga itu mengingatkanku pada kejadian yang paling pahit yang pernah terjadi di hidupku. Bunga yang identik dengan, pemakaman, pemakaman orang yang paling kusayangi.
"Tenten?" Aku segera menolehkan wajahku kesumber suara, tidak ada siapapun disana, hanya ada hamparan bunga lily. "Tenten." Aku kembali menolehkan kepalaku, berusaha mencari pemilik suara itu. hingga akhirnya aku merasakan suara tepat dibelakangku. "Aku disini Tenten." Aku segera membalikan tubuhku. Mataku terbelalak kaget ketika bibir lembut nan hangat menyentuh keningku. Yang bisa kulihat hanyalah dada bidang berlapis baju berwarna putih dan sekelebat rambut berwarna coklat panjang. Air mata kembali menyembul dari kedua mataku, Kami-sama apa aku sudah benar-benar gila?
Orang itu menjauhkan tubuhnya dariku, agar aku bisa melihat wajahnya. Aku hampir saja pingsan ketika melihat mata itu, mata lavender yang sudah berbulan-bulan tidak kulihat, bibir lurus itu yang sangat kurindukan.
"Halo, Tenten." Suara bariton yang lembut bak beledu merasuki otakku, membuatku hanya bisa diam terpaku. "Ne-Neji-kun?" Neji tersenyum kecil kearahku. Tanpa aba-aba aku langsung memeluk tubuh Neji, nyata! Aku kira saat aku memeluk tubuh itu, tubuh itu akan hilang bak hologram. Ternyata tidak! Aku bisa merasakannya, merasakan kepalaku menyentuh dada bidang yang hangat itu, merasakan dekapannya yang membawaku semakin dalam kedalam pelukannya dan dagunya yang bertopang di pundakku.
"A-aku... aku sangat-"
"Ssstt, aku sudah tahu semuanya, Tenten." Air mata bercucuran di pipiku, aku tidak bisa menahan gejolak bahagia dan sedih secara bersamaan.
"Aku...aku sangat.. sa-sangat merindukanmu, Neji-kun."
"Begitupun aku, Hime." Neji menjauhkan tubuhku dari pelukannya, menatap mata hazelku sebentar lalu menggenggam tanganku. "Bagaimana kalau kita berbicara sebentar." Ujar Neji sambil tersenyum simpul, aneh! Jarang-jarang Neji bisa tersenyum seperti itu, aku hanya mengangguk. beberapa menit kemudian, kami sudah duduk menghadap kearah air terjun dibawah pohon mapple.
"Neji... kenapa.. kenapa aku bisa bertemu denganmu?"
"Aku sendiri tidak tahu bagaimana kamu bisa berada disini, Tenten." Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. "A-apa aku sudah mati?" Tanyaku, Neji tertawa renyah lalu membelai kepalaku. "Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi." Aku segera menjauhkan kepalaku dari bahunya dan menatap tajam suamiku itu.
"Kenapa? A-aku ingin segera mati dan bersama denganmu lagi." Neji tersenyum getir lalu membelai wajahku. "Apa yang kau katakan? Kita selalu bersama, Hime. Tidakkah kau tahu kalau aku selalu berada disisimu?"
"Aku tidak pernah merasakan itu." Neji diam sejenak lalu menaruh kembali kepalaku dibahunya. "Aku tidak bisa lagi... aku tidak bisa menjalani semua ini, Neji. Rasanya sulit, sangat sulit untuk menjalani semua ini sendirian... sekuat apapun aku berusaha, aku tidak bisa." Air mata kembali mengalir ketika aku mengingat kejadian saat para tetua mengusirku dari klan, saat aku tinggal sendirian di apartemen bobrok dan saat aku menjalani persalinan seorang diri.
"Kamu bukan seperti Tenten yang kukenal dulu." Ujar Neji, suaranya datar tapi serasa menusuk jantungku. "Aku tidak mau kembali kekehidupan itu."
"Tapi, anak kita membutuhkanmu, Tenten. Kamu belum melihat anak kita bukan?" Aku melirik ke wajah Neji. "Ya, aku belum melihatnya."
"Maka dari itu kau harus kembali." Aku menjauhkan tubuhku dari Neji. Tidakkah ia mengerti apa yang kurasakan?!
"Aku tidak bisa Neji, aku tidak mau kembali tanpamu. Aku tidak mau sendirian lagi." Tangan Neji menangkup wajahku dan menghapus air mata yang mengalir di pipiku. "Kamu tidak pernah sendirian, Tenten. Buka lah matamu dan kamu pasti akan melihat orang-orang yang menyayangimu akan selalu berada disekelilingmu."
"Kecuali kamu, aku tidak bisa melihatmu disaat aku membuka mataku nanti"
Neji tidak menggubris perkataanku, ia menarik kembali tangannya dari wajahku dan menatap lurus keair terjun.
"Akan ada laki-laki lain yang akan menggantikanku." Ucap Neji tanpa menoleh kearahku, aku langsung menatap tajam kearah laki-laki bermata lavender itu. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah berusaha menggantikanmu Neji, apa kamu tidak tahu bagaimana sakitnya aku yang selalu merindukanmu? Aku mencintaimu, sangat. Tidak pernah aku mencintai orang lain lebih daripada kamu-"
"Iya Tenten, aku mengerti."
"Lalu kenapa kamu berkata begitu?" Tanyaku, Neji menoleh kearahku lalu tersenyum lemah. "Kamu akan mengerti saat kamu membuka mata nanti."
"Tapi aku tidak mau kembali sekarang aku masih ingin berada disini bersamamu." Neji menarikku kedalam pelukannya.
"Selamat tinggal, Tenten." Pyash! Sinar putih yang amat terang menyerbu mataku, tubuh Neji yang tadi kupeluk mulai menipis dan menipis bersamaan dengan makin terangnya cahaya itu. Kami-sama! Aku mohon jangan! Aku belum siap kembali ke dunia nyata yang dingin dan kosong! Cahaya yang amat terang kembali menyerang mataku hingga akhirnya memaksaku untuk memejamkan mata.
XXX
"Aduh! Geser sedikit dong!"
"Hei! Apa yang lakukan jangan berisik, baka!"
"Kiba, Naruto! Bisakah kalian diam! Kalian akan membangunkan Tenten-chan!"
"Kau sendiri berisik! Rambut mangkuk."
"Apa katamu?!"
"Sudahlah kalian jangan ribut!"
Perlahan aku membuka mataku, suara ribut itu membuatku tersadar dari mimpiku dan sinar terang tadi. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk bisa beradaptasi dengan penerangan disana.
"Aaah! Dia bangun!" Setelah beberapa detik mengerjapkan mata, akhirnya aku bisa melihat dengan baik. "SELAMAT ATAS PERSALINANNYA, TENTEN-CHAN!" Aku terbelalak kaget ketika melihat rekan-rekan rookie 9 berkumpul disana. Naruto dan Kiba dengan semangatnya membentangkan sebuah spanduk bertuliskan "SELAMAT ATAS KELAHIRANNYA TENTEN-CHAN" yang dirambahkan dengan gambar panda yang tengah memakan bambu disana.
Aku tak sanggup menahan tawa ketika melihat spanduk itu. "Arigatou ne minna san." Ujarku sambil mengipas-ngipas wajahku dengan tangan.
"Syukurlah, Tenten-chan segera sadar." Ujar Naruto sambil mengelap air mata kasat matanya. "Kami sangat mengkhawatirkanmu, Tenten." Tambah Ino sambil mencubit pipiku. "Syu-syukurlah T-Tenten-nee-chan ba-baik-baik saja." Tambah Hinata yang tengah menggendong seorang anak laki-laki berambut pirang terang. Aku tersenyum kecil ketika melihat anak itu.
"Wah, itu pasti Yugao-chan ya?" Tanyaku, Hinata tersenyum malu.
"Iya! Itu Yugao-chan, lihat betapa tampannya anakku itu." ujar Naruto sambil merangkul Hinata. "Berterima kasihlah pada Kami-sama karena mempertemukanmu dengan Hinata, berkat Hinata anakmu jadi lucu begitu." Timpal Shikamaru santai.
"Ap-apa kau bilang?! Kepala nanas?" Aku tertawa geli ketika melihat pertengkaran kecil antara Naruto dan Shikamaru, dan tanpa sadar menitikan air mata. "Eh? Kamu kenapa, Tenten-chan?" Tanya Lee yang kelihatan khawatir, aku buru-buru menggelengkan kepalaku.
"A-aku hanya.. aku hanya merasa sangat senang karena kalian datang menjengukku, Arigatougozaimasu rookie 9." Ucapku diantara sesegukan.
"Aah, Tenten-chan. Kita kan teman satu angkatan, harus saling peduli, bukan begitu Sai?" Tanya Ino sambil melirik suaminya itu.
"Tentu saja begitu." Ujar Sai sambil tersenyum polos seperti biasa.
"Kami pasti selalu menolong sebisa kami! Jadi jangan sungkan-sungkan kalau membutuhkan sesuatu, ya Tenten-chan?" Ujar Lee sambil menepuk kepalaku. "Arigatou Lee, dan semuanya." Balasku.
"Baiklah! Jam besuk sudah habis! Mari kita biarkan si ibu baru untuk istirahat sejenak." Ujar Sakura yang tengah menepukan tangannya diambang pintu. "Yaaah! Baiklah sampai jumpa Tenten-chan!" Seru Naruto semangat, diikuti dengan anggukan yang lain sebelum akhirnya mereka menghambur keluar. "Benar-benar deh mereka itu, sudah kubilang untuk menjenguk besok tapi tetap saja." Gerutu Sakura yang langsung duduk di pinggir tempat tidur rumah sakit. Aku tertawa kecil. "Tidak apa-apa Sakura-san, aku malah senang dengan kehadiran mereka semua." Ucapku.
"Aku akan meminta tolong Lee untuk mengantar semua kado itu ke apartemenmu." Ucap Sakura sambil melirik ke tumpukan kotak berlapis kertas kado warna-warni. "Tidak usah repot-repot, Sakura-san." Ucapku lirih.
"Jangan bicara seperti itu, tentu saja tidak merepotkan sama sekali." Ucap Sakura yang mencubit pipiku, kami sama-sama tertawa lalu suasana kembali hening. "Sakura-san?"
"Ya, Tenten-chan?"
"Boleh aku melihat anakku sekarang?" Tanyaku sambil menoleh kearah gadis berambut merah muda yang duduk dihadapanku.
"Tentu saja, Tenten-chan. Sebentar ya." Sakura beranjak dari tempatnya lalu menghambur keluar. Seperti apa ya anakku? Kuharap ia sehat-sehat saja. Tak lama Sakura sudah kembali dengan seorang bayi yang dililit kain berwarna putih. "Ini dia anakmu, Tenten." Ucap Sakura sambil menyodorkan seenggok bayi mungil yang sepertinya tengah tertidur. Dengan hati-hati aku membawa bayi itu kedalam dekapanku. Aku masih tidak percaya bahwa bayi mungil ini adalah anakku. "Selamat ya, anak pertamamu laki-laki." Ujar Sakura sambil duduk di pinggir tempat tidurku. Mataku tak bisa lepas dari wajah anak itu, anak itu tertidur, wajahnya terlihat sangat damai. Aku jadi teringat dengan wajah Neji kalau sedang tertidur, mereka mirip sekali.
"Dia.. mirip sekali dengan Neji-kun." Bisikku, tanganku dengan hati-hati membelai wajah bayi itu. mulai dari pelipis hingga pipi chubbynya, hei itu pipiku! Syukurlah masih ada unsur wajahku disana.
"Aku masih bisa melihat pipi chubby mu dibayi itu, Tenten-chan." Ujar Sakura yang diakhiri dengan tawa geli. Aku terkekeh, lalu mengangguk menyetujui kata-kata Sakura. "Andai Neji-kun masih disini." Sakura segera menyentuh tanganku yang melingkar di tubuh bayi itu.
"Tenten-chan, aku yakin Neji-san pasti melihat bayi ini dari atas sana." Ucap Sakura sambil tersenyum kecil, berusaha menenangkanku. Air mata kembali meluncur di pelupuk mataku. dengan sigap, Sakura segera beranjak dari tempatnya dan merangkulku dari samping.
"Sudahlah, Tenten-chan. Aku tahu rasanya pasti sangat sulit bagimu, karena kita sama-sama pernah kehilangan." Aku menolehkan wajahku untuk menatap wajah cantik Sakura, perempuan bermata emerland itu hanya tersenyum getir kearahku. Ya aku dan Sakura memang pernah sama-sama kehilangan orang yang paling disayangi. Sakura menarik kursi besi dan duduk disana. "Kau tahu? saat kematian Sasuke-kun, aku benar-benar sangat frustasi, ingin rasanya bunuh diri untuk menyusul Sasuke, tapi... aku berfikir rasanya sangat mubasir jika harus membuang-buang hidupku begitu saja." Sakura kembali tersenyum lalu menepuk kepalaku.
"Hingga akhirnya aku bertemu Lee, dia selalu menyemangatiku berusaha membuatku bangkit, awalnya memang aku sedikit terganggu dengan kehadiran Lee, tapi lama kelamaan... aku malah merasa aneh kalau engga bersama dia." Ucap Sakura sambil tertawa renyah. Aku terhenyak sebentar lalu kembali memandangi wajah damai anakku.
"Dan sepertinya, aku sudah bisa melihat sosok se versi Lee di kehidupanmu, Tenten-chan." Kali ini aku hampir saja berteriak, tapi aku ingat kalau anakku sedang tertidur di pelukanku, jadi kuurungkan niatku untuk berteriak. "Ap-apa maksudmu, Sakura-san?"
"Kau tahu? semalaman Gaara-san menunggumu sadar disini." Aku kembali hampir berteriak kaget, Gaara? Seorang Sabaku no Gaara menungguku sampai aku sadar? "Ap-apa? lalu kemana dia sekarang?"
"Tadi aku menyuruhnya untuk pulang, karena sepertinya ia terlihat sangat kelelahan, awalnya dia tidak mau pulang, tapi setelah Temari-san membujuknya akhirnya dia mau pulang."
"Pulang? Pulang ke Suna?" Tanyaku, entah kenapa aku merasa tidak ingin Gaara kembali ke Suna, aku sendiri tidak tahu kenapa.
"Kalau soal itu aku kurang tahu, Tenten-chan." Ucap Sakura sambil tersenyum jail, aku hanya bisa mendengus kesal.
"Oh iya, kamu belum memberi nama bayi lucu ini, Tenten-chan?" Kalau sedang tidang menggendong bayi ini, aku pasti sudah menepuk jidatku sendiri. Bagaimana aku bisa lupa untuk memberikan nama pada anakku sendiri?
"Kami-sama! Hampir saja aku lupa, pantas saja seperti ada yang kurang." Sakura tertawa geli. "Yasudah, berikanlah sekarang." Aku terdiam sejenak, mencari nama yang pas untuk anakku ini.
"Bagaimana kalau... Daichi?" Gumamku sambil melirik kearah Sakura.
"Daichi?" Aku mengangguk mantap. "Daichi artinya bumi, karena namaku Tenten yang berarti langit, aku ingin bayi ini menjadi bumi yang selalu berpasangan denganku, langit dan bumi." Ujarku sambil tersenyum getir.
"Uwaa, betul juga, namanya lucu juga, Daichi-chan." Aku tersenyum tipis.
"Daichi Hyuuga." Gumamku, apakah klan Hyuuga mau menerima bayi ini menyandang nama Hyuuga? Apa mereka setuju?
"Ada apa, Tenten-chan?" Tanya Sakura yang kelihatannya tahu apa yang kupikirkan. "Aku hanya bingung, nama belakang apa yang harus kusandangkan untuk Daichi, apa klan Hyuuga terima jika aku memakai nama Hyuuga untuk anak ini?"
"Tentu saja, karena Daichi kan anakmu dan Neji-san." Ucap Sakura. Aku tersenyum samar. "Kuharap begitu, mungkin kalau anak ini mewarisi mata Neji, mereka akan menerimanya." Gumamku.
"Semoga saja, baiklah Tenten bisa aku mengembalikan Daichi-chan? Aku ingin kamu dan Daichi-chan beristirahat hari ini." ucap Sakura sambil membentangkan tangannya, dengan berat hati aku menyerahkan bayi laki-laki itu ke pelukan Sakura. Setelah sosok perempuan berambut merah muda itu menghilang aku merebahkan tubuhku di tempat tidur.
Yak! chappie delapan sudah selesai! huwaa, anaknya Tenten dan Neji udah lahir, pasti lucu deh. jadi ngebayangin kalo seandainya beneran Neji dan Tenten nikah terus punya anak (tapi gamungkin karena om kishi udah bikin Neji mati :"() #dicekek om kishi. jauh dilubuk hati terdalam masih ga rela kalo tuan ganteng Neji meninggal :( tapi yasudahlah itu sudah kehendak om kishi :') disini GaaTen nya kurang banyak ya? huwaa mohon dimaklum ya belum dapat pencerahan nih soalnya otak mampet banget :'( yaudah segini dulu deh bacotan dari author yang sangat bawel binti gajelas. oh iya terimakasih sudah membaca fic ini dan review yaa! hehe
