hatimu, dalam tangan ini

disclaimer: mobile legends: bang-bang (c) moonton.

chapter 9: abstinence; argus/rafaela [canon-verse, pre-fall argus.] – 9 maret 2018.

sinopsis: di tangannya adalah benih kehancuran. rafaela menutupi cacatnya dengan perban dan ucapan cinta.

note: diperkenankan untuk request, boleh segala macam pair (lebih baik lagi kalo ada prompt-nya!).

note2: rafargus ver senang (sesenang apa yang bisa saya tulis). pair ini terlalu tragis sampai-sampai sulit untuk dibayangkan mereka bahagia (atau mungkin karena saya cinta mati sama tragedi.)

.


.

Jauh sebelum ia tergoda untuk berdansa dalam euforia dosa daging, ada sebuah cerita.

Rafaela, tubuhnya berbalut putih, aksesoris keemasan menghiasi rupanya yang menawan. Argus ingat betul, malaikat itu memanggil-manggil namanya dengan suaranya yang lemah lembut, berusaha menarik perhatiannya dari apapun itu yang ada di benaknya.

Senyumnya ramah.

Ia diajak untuk pergi ke bumi manusia; bermain di taman manusia, dimana hidup mulai, berjalan, dan berakhir. Rafaela selalu tertarik dalam aspek hidup yang berputar untuk berhenti dalam sentakan—karena seluruh hidupnya didedikasikan untuk membinasakan penderitaan orang-orang, dan penderitaan terbesar bagi manusia adalah kematian.

Wanita itu adalah kehidupan; Argus membawakan kehancuran untuk menciptakan keseimbangan.

Di tangannya adalah sebatang bunga yang ia petik di sembarang belukar. Kelopak bunga itu perlahan-lahan jatuh dan mengering, tak kuasa menahan kematian dari ujung jemari Argus. Ia menginjak bekasnya saat Rafaela menghampirinya—wanita itu memperlihatkannya sesuatu.

"Mahkota bunga." Terangnya. Argus tak perlu diberitahu, ia tahu. Senyumnya lebar, ia meraih kepala Argus, hendak melingkari mahkota bunga itu di puncak kepalanya. Tapi malaikat dengan sayap putih bersih itu mencegahnya.

"Mereka akan mati bila bersentuhan denganku."

"Ah." bisik wanita itu. Ia berjongkok perlahan-lahan, meletakkan karya kecilnya di atas rumput, dan mengumandangkan doa di antara tarikan napasnya. Kemudian cahaya meliputinya untuk sesaat; dan di tangannya segera ada satu gulungan yang nampak seperti perban. Rafaela menyentuh pundaknya dan memintanya untuk bungkuk sedikit.

Kepalanya dengan mahkota keemasan dilingkari perban oleh Rafaela, menjaga bagian yang tertutupi agar tak bersentuhan dengan kehidupan. Kemudian malaikat dengan sayap keemasan mengambil mahkota bunga buatannya, dan pelan-pelan memosisikannya di puncak kepala malaikat yang lain.

Argus menahan dirinya untuk menyentuh mahkota itu—tapi Rafaela adalah malaikat serba tahu; tangannya meraih Argus, dan segera juga kulitnya dilapisi perban itu. Ada keragu-raguan dalam Rafaela sesaat sebelum ia mulai menggulung. "Hei, Argus," panggilnya. "Meskipun kau melakukan hal-hal yang menyengsarakan manusia, ketahuilah itu bukan salahmu; kau melakukannya untuk kebaikan mereka, dan atas perintah-Nya."

Tangannya ia tautkan bersama dengan jemari Argus—Rafaela menatapnya tepat di mata: lihat, tidak apa-apa; aku baik-baik saja. Kau tidak menghancurkan segala hal yang kau sentuh. "Kau hanya menjalankan tugas."

Ia menelan rasa gugup yang mengumpul di lehernya selagi Rafaela melapisi permukaan kulitnya dengan perban itu. Saat telah selesai, ia memerlihatkan hasil kerjanya; sebuah perban putih bersih melapisi kulitnya yang berwarna pekat, dari pergelangan tangannya, hingga ujung jemarinya. "Tidak ada kejahatan dalammu, Argus."

Rafaela menuntun tangannya untuk bersentuhan dengan lehernya; hangat, dengan kehidupan mengalir di sana. Jari-jarinya naik, menelusuri bagian lain, dan berhenti saat ia menyentuh pipi wanita itu. Pergelangan tangannya disentuh, dituntun agar ia tak setengah-setengah mendaratkan sentuhannya.

Bagaimana kalau wanita ini menghilang karena sentuhannya?

Pikiran yang terbersit segera menghilang, saat ia merasakan hangat yang meradiasi dari malaikat itu. Senyumnya riang, punggung tangannya diraba lembut. "Suatu hari nanti, kau tidak akan takut pada dirimu sendiri."

Kata-katanya beriuh di dalam Argus.

Untuk sekarang, kedua tangan mereka bertaut, Rafaela memandangnya dengan konstelasi bintang di riak matanya, di kepalanya adalah mahkota bunga yang sama seperti milik Argus. "Aku tidak memiliki cincin." Katanya, tawanya menghipnotis. "Manusia memiliki budaya untuk… memberikan cincin sebagai pernyataan kasih sayang; meskipun hanya dengan mahkota yang melingkar di kepalamu, kuharap kasih sayangku untukmu tetap tersampaikan."

Argus balas menyentuh jemari Rafaela yang bertaut bersamanya, jari-jari mereka bersilangan.

Perasaannya kuat untuk melindungi wanita malaikat ini.

Malaikatnya.

Ia tergagap. "Aku… aku juga menyayangimu."

Wanita itu tertawa, ia berbalik dan—betapa mungil punggungnya, betapa tidak berdaya wanita itu, tanpa peduli keburukan dan kebusukan dunia yang terbentang ini. Ia melihat jemarinya, dan sadar, kalau ia tak memiliki kuasa yang cukup untuk menghentikan apa yang digemari Rafaela; manusia, dan segala keserakahannya. Suatu hari nanti, Rafaela akan melihat.

Suatu hari nanti terlalu terlambat bagi Rafaela untuk mengetahui.

Jadi, sebelum itu semua terjadi—ia akan menjadi lebih kuat; ia akan menjadi layak untuk melindungi malaikat ini. Ia akan menjadi seperti apa yang Rafaela katakan padanya; tidak takut pada dirinya sendiri, dan kuat—cukup kuat untuk melindungi Rafaela.

Tapi sebelum itu, perang di sisi utara mengharuskannya untuk bekerja sesuai kehendak-Nya.

Dalam nama surgawi, ia berdoa, semoga mereka tidak disesatkan.

.


.

[end.]

(berakhir dengan kejatuhan)