You Love Me ?
.
Chapter 9
.
.
KyuMin Gender Swich (GS)
.
Rate : T
Warning : Typo(s) dimana-mana dan tidak sesuai EYD.
Disclaimer : Cerita ini murni ide Saya dan Saya hanya meminjam nama mereka sebagai penyempurna Ff Saya ini. Ingat ini hanya Fiksi belakang. No Plagiat!
Autor Note : Ini adalah Ff kedua Saya yang publis disini. Disini Saya akan memasukan banyak tokoh pembantu dari Boy band lain sehingga saya tidak menuliskan siapa saja pemeran yang ada di FF ini. Mohon maaf jika ada banyak kesalahan di dalamnya. Kritik dan saran membangun sangat diperlukan.
.
.
Happy Reading...
.
.
.
|| Sungmin, besok aku berangkat ke Daegu untuk bekerja. Doakan aku supaya sukses dan mampu menghidupi keluarga kecil kita nanti ||
Sungmin tersenyum kecil membaca pesan yang baru saja Donghae kirim. Pria itu, benar-benar serius dengannya. Dengan semangat ia membalas pesan kekasihnya itu.
|| Kau harus selalu sehat di sana. Aku mencintaimu ||
Send!
Sungmin tersenyum malu melihat pesan yang ia kirim. Dengan perasaan bahagia, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Donghae..." Bisiknya pelan.
Tok.. Tok
"Sungmin, bisakah kau keluar, sayang?"
"Noona Noona... keluar!" Teriak Jungkook meniru ucapan Leeteuk.
Sungmin tersentak mendengar suara Ibunya. Dengan bingung ia bergegas untuk keluar kamar. "Eomma? Ada apa?" tanyanya bingung.
Leeteuk meraih bahu Sungmin sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan mungil Jungkook, lalu mengajaknya menuju ruang depan. Di sana sudah ada Kangin yang tersenyum melihatnya. Kakak dan adiknya juga ada.
"Ada apa?" tanya Sungmin bingung. Gadis kelinci tersebut duduk disamping Key.
"Kau masih ingat dengan cerita Appa beberapa hari yang lalu, kan?" tanya Kangin seraya menatap penuh kearah putrinya.
Sungmin tampak bingung. Kemudian ia teringat soal cerita Ayahnya yang begitu bangga pada anak sahabatnya. Ia mengangguk pelan.
"Appa bertemu dengannya tadi. Dia bilang akan datang dalam waktu dekat, Appa rasa dia benar-benar tidak sabaran." Ucapan Kangin yang begitu ambigu, membuat Sungmin makin pusing. Bukan hanya Sungmin tapi juga Key dan Taemin yang tidak tahu apapun.
"Maksud Appa? Lalu hubungannya denganku?" Sungmin menaikkan sebelah alisnya.
Leeteuk mengusap jemari tangan Sungmin. "Mereka melamarmu, sayang. Eomma dan Appa sudah setuju dan menerimanya. Akan sangat membahagiakan kalau kami berbesan dengan sahabat sendiri."
Key dan Taemin membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sungmin akan dinikahkan?
DEG!
Jantung Sungmin berdegub dengan cepat. Menatap tak percaya kearah kedua orang tuanya. "Tidak mungkin, aku sudah memiliki pilihanku sendiri." Ujarnya menolak.
Kangin menatap tajam kearah anaknya. "Siapa? Siapa pria yang sedang dekat denganmu itu?" tanyanya serius.
Tubuh Sungmin mendadak kaku mendengar ucapan Ayahnya. "Aku tidak mau di jodohkan, Appa. Kumohon." Bisiknya menahan tangis. Selama ini ia merahasiakan hubungannya dengan Donghae dari Appa dan Eomma nya.
"Ini sudah keputusan Appa dan Eomma. Dan kau tidak bisa menghentikannya, lagipula, pria pilihan Appa ini sangat hebat. Dia bisa memberimu kebahagiaan, percaya pada Appa." Kangin berusaha melembutkan suaranya.
Sungmin tetap menggeleng keras. "Aku tidak bisa, Appa." Ujarnya terisak. Leeteuk hanya bisa mengusap bahu Sungmin, tidak berani menyela.
"Sungmin! Jangan membantah lagi! Lebih baik segera putuskan hubunganmu dengan pria itu, karena dalam waktu dekat ini kau akan bertunangan dengannya." Kangin beranjak dari duduknya dengan kasar.
"Appa-"
"Diam Key." Kangin memotong ucapan putri pertamanya. Key diam mendengar bentakan Kangin.
"Taemin, bawa Jungkook kekamar mu." Perintah Kangin dengan wajah marah. Taemin langsung saja menggendong Jungkook yang mulai terisak takut melihat Appa nya berteriak marah dan Kakaknya Sungmin yang terisak diperlukan Leeteuk. Gadis tomboy tersebut setengah berlari.
Sedangkan Sungmin, ia menangis di pelukan Leeteuk. "Eomma, aku tidak mau menikah. Kenapa tidak Key Eonnie saja." Isaknya takut.
"Itu tidak mungkin. Karena anak teman Appa sudah memilih mu sebagai calon istrinya, bukan Key. Usia Key bahkan lebih tua dari anak itu. Dia cocok denganmu." Sahut Kangin dengan menahan emosi.
Leeteuk menghela nafas pelan, tidak mampu menjawab. Ia sedih melihat keadaan Sungmin. Tapi mau bagaimana lagi? Kangin juga tidak bisa di bantah sedikitpun. "Appa hanya ingin yang terbaik untukmu, Sayang." Bisiknya menenangkan.
Sungmin menggeleng pelan. "Hiks.."
Leeteuk semakin memeluk erat putri manisnya itu.
.
.
.
Entah kenapa waktu terasa begitu cepat bagi Sungmin. Selama beberapa hari ini, ia tidak menghubungi Donghae atau membalas pesan dan mengangkat telfon dari kekasihnya itu. Sungmin terpuruk, ia bahkan tidak mampu berpikir jernih karena perjodohan yang sudah di rencanakan oleh Ayahnya. Sungmin terus saja menangis dan enggan bertatap muka dengan Ayahnya. Bahkan Ibu, kakak dan adiknya tidak bisa berbuat apa-apa. Harus bagaimana sekarang?
"Sayang?" panggil Leeteuk pelan. Wanita paruh baya itu mendekati Sungmin yang meringkuk di atas ranjang.
Sungmin memilih memejamkan kedua matanya. Enggan menjawab panggilan sayang dari Leeteuk.
"Maafkan kami. Kami melakukan semua ini demi kebaikanmu. Appa dan Eomma hanya berharap kau bisa menerimanya, meskipun sulit pada awalnya. Tapi ini proses kehidupan, kau tahu sendiri, kan bagaimana watak Appa?" bisik Leeteuk sendu, mengusap surai rambut Sungmin.
Sungmin mengulum bibirnya. Kepalanya mulai pusing karena terus berpikir keras. "Tapi, Eomma."
"Eomma, mohon. Pada awalnya akan terasa sulit. Tapi nanti, Eomma yakin kau pasti bisa bahagia. Jangan kecewakan kami, sayang. Eomma sedih melihatmu seperti ini." Sebelum keluar dari sana, Leeteuk menyempatkan untuk mengecup dahi Sungmin lama. "Selamat malam." Bisiknya.
Sungmin menggigit bibir bawahnya. Kembali ia menangis tanpa suara. Malam ini acara pertunangan antara dirinya dan pria yang belum ia ketahui itu di adakan. Acaranya tertutup, membuatnya semakin tak bisa berpikir jernih. Dengan lemah ia mengambil ponselnya, mengusap air matanya kasar.
"Maafkan aku, Hae." Bisiknya sedih. Dengan tangan bergetar ia mengirim pesan untuk Donghae. Hatinya bergetar karena sakit, ia tidak akan bisa lari dari masalah ini.
.
.
.
Blam!
Kyuhyun menutup pintu mobilnya, tersenyum saat melihat keluarga calon istrinya menyambutnya. Baik Hankyung maupun Heechul tersenyum senang melihat sahabat mereka.
"Kami senang sekali, akhirnya kita akan menjadi keluarga." Ujar Kangin seraya merangkul pundak Hankyung.
"Ya, kau tampak sehat, Kangin. Oh, dimana putri-putrimu?" Tanya Hankyung.
"Mereka ada di kamar, sedang mempersiapkan diri. Mari masuk." Ajak Leeteuk menyela.
"Appa!" Teriakan kecil keluar dari mulut Jungkook yang berlari dan langsung memeluk perut Kangin.
"Jagoan kecil Appa sudah datang." Kangin tersenyum.
Hankyung gemas dengan cara Jungkook datang. Bocah kecil itu begitu menggemaskan.
Jungkook menatap Hankyung, Heechul, dan Jun dengan wajah polosnya. Ia asing dengan mereka semua, Tapi...
"Hyung pelmen!" Teriaknya senang melihat sosok Kyuhyun yang kaget mendengar teriakan Jungkook.
Jun menatap kakaknya curiga. Dia berbisik pada Kyuhyun. "Hyung. Kau sudah mengenal bocah berisik itu?" Tanya Jun.
Kyuhyun tersenyum. "Iya. Dia imut kan." Jawabnya seadanya. Jun tidak berucap lagi, ia sibuk melihat dekorasi rumah calon istri Hyung nya yang sangat sederhana tapi nyaman.
"Hyung pelmen. masih ingat Kookie kan?" Tanyanya pada Kyuhyun.
"Eh... masih cadel." Bukan jawaban yang Kyuhyun ucapkan tapi keheranan. Jungkook yang mendengar kata 'cadel'. langsung cemberut lucu, yang membuat ia kesal adalah karena sudah banyak orang yang menyebut dia cadel.
Kyuhyun tersenyum kecil saat melihat sebuah pigura besar yang di pajang di atas meja. Foto Sungmin saat masih berseragam junior high school. "Manis." Gumamnya seraya mengusap foto itu.
"Kyuhyun, kemarilah." Panggil Heechul.
Kyuhyun mengangguk, segera saja ia mendekat kearah para orang tua. Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu-tunggu datang juga, bersama dengan kedua gadis yang berjalan dibelakang Sungmin. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Sungmin, membuat kadar sukanya semakin menimbun banyak. Wajah cantik itu selalu saja mengganggunya.
Sedangkan Sungmin, gadis itu tampak terkejut melihat siapa pria yang duduk tenang di sana. "Kyuhyun sunbae?" bisiknya tak percaya.
"Waahh cantik-cantik." Puji Heechul kepada Key, Sungmin dan Taemin.
Ketiga gadis tersebut tersenyum dan mengucapkan terimakasih bersamaan.
"Sungmin, ini Kyuhyun. Calon suamimu. Sebagai pendekatan awal, kalian akan bertunangan." Terang Kangin seraya tersenyum kearah Kyuhyun, meraih lengan putri keduanya untuk duduk di sebelahnya.
Sungmin menatap tampak tak percaya. Kedua matanya berkaca-kaca, kaget bercampur kebencian.
Kyuhyun sendiri, ia menatap penuh kearah Sungmin. Merasa puas melihat wajah terkejut gadis itu.
"Mari kita mulai." Ujar Hankyung bersemangat.
.
.
.
.
Sungmin mengusap wajahnya yang memerah dan basah. Menangis sendirian adalah hobinya sekarang. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau Kyuhyun berjalan mendekatinya. Pria itu mengusap pipi Sungmin, membuat gadis itu tersentak kaget. "Kau." Tunjuknya marah. Kedua mata Sungmin menajam.
"Hai. Akhirnya, kita bertemu lagi." Ujar Kyuhyun senang. "Jangan menangis." Bisiknya merasa bersalah.
"Apa kau sudah merencanakannya? Kenapa kau melakukannya?" tanya Sungmin parau. Air matanya kembali menetes.
Kyuhyun tersenyum sedih. "Karena aku mencintaimu. Kurang jelas?"
Sungmin menggeleng tak percaya. "Secepat itukah? Bahkan kau baru mengenalku! Kau pasti sedang merencanakan sesuatu." Tuduhnya.
"Kau benar, ini bahkan terlalu cepat. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Dan apa aku salah? Aku mencoba untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Cobalah untuk menerimaku, meski sulit." Ujar Kyuhyun penuh penekanan. Jemarinya mengusap wajah Sungmin, mendekatkan wajahnya dengan gadis itu. Berniat menciumnya.
"Hikss, menjauh dariku." Sungmin mendorong dada Kyuhyun kasar. "Kau jahat!" Serunya.
Kyuhyun mendesah kasar. Tapi tidak mencoba untuk membalas Sungmin, melihat gadis itu terus menangis sampai jatuh limbung kedalam pelukannya. Sungmin pingsan.
.
.
.
Kyuhyun menempelkan kain dingin yang sudah ia peras, di atas dahi Sungmin. Sungmin demam, kedua orang tuanya dan ketiga saudaranya masih di bawah saat ia ingin melihat keadaan Sungmin, jadi tidak ada yang tahu Sungmin pingsan. Pria itu menghela nafas pelan, di usapnya pipi gadis itu dengan lembut. Rasa penasaran akan gadis itu begitu kuat membebat hatinya, membuatnya jatuh begitu saja.
Akui saja, ia memang sangat egois. Tapi ia juga tidak bisa melihat Sungmin bersama dengan Donghae. Bukankah manusia itu memiliki sifat egois? Sifat yang begitu kental dan sulit untuk hilang. Kyuhyun mengakuinya.
Pip..Pip..
Ponsel Sungmin berdering pelan. Di raihnya ponselnya itu sebelum Sungmin terbangun, di bukanya pesan yang di kirim oleh Donghae. Kyuhyun tersenyum sinis melihat isi pesannya. "Dia sudah menjadi milikku." Gumamnya penuh arogansi. Lalu mematikan ponsel Sungmin dan meletakkannya di dalam laci.
Kedua matanya yang memerah karena efek demam sedikit terbuka. Mengerjab pelan untuk menyesuaikan silaunya lampu. Sungmin berusaha untuk menoleh dan mengernyit pelan saat kedua matanya menangkap siapa pria yang kini menungguinya. Kyuhyun.
Dengan lemah ia mencoba untuk menggerakkan badannya, berusaha untuk duduk. Sungmin menghela nafas lelah, tubuhnya terasa berat sekali. Efek demam memang sangat hebat.
"Kau sudah sadar." Kyuhyun berjalan mendekatinya dengan cemas.
Sungmin meringis pelan, ia berusaha untuk tidak menatap Kyuhyun.
Sedangkan Kyuhyun, ia masih berusaha untuk tidak mengeluarkan rasa sakit hatinya. "Minum dulu." Di ambilnya segelas air putih, membantu Sungmin untuk meneguknya.
Tanpa kata lagi, Sungmin meneguk segelas air putih sampai tandas. Ia kehausan, sangat. Kedua matanya juga terasa sakit, mungkin bengkak.
"Lebih baik kau makan, setelah itu minum obat." Ujar Kyuhyun. Mengambil semangkuk bubur dan bersiap menyuapi Sungmin.
Sungmin menatap lama kearah bubur di hadapannya. Kemudian menggeleng pelan.
"Bicaralah." Perintah Kyuhyun, jengah karena Sungmin terus bersikap acuh padanya. "Sebentar lagi kita akan menikah, aku ingin kau berusaha menerimaku apa adanya." Lanjutnya lagi. Tapi terkesan memaksakan kehendak.
Sungmin menggigit bibir bawahnya. "Apa yang harus aku katakan? Tidak ada." Ujarnya kesal.
"Apapun, tapi yang jelas, kau tidak akan bisa menghentikan perjodohan ini." Tekan Kyuhyun serius.
Air mata Sungmin merembes keluar lagi, nafasnya berubah memburu dan terasa sesak.
"Dan jangan bertemu lagi dengan pria itu." Lanjut Kyuhyun tak kalah egois.
Sungmin menatap Kyuhyun tajam, lebih dari kata benci untuk pria itu. "Aku tidak mau menikah denganmu dan kenapa kau terus memaksa?"
Kyuhyun meletakkan mangkuk dengan sedikit keras, membuat Sungmin berjengit karenanya. "Dan membiarkanmu bersama dengan pria lain? Tidak, Sungmin. Aku tidak bisa. Aku bahkan merasa diriku seperti iblis yang jahat karena melakukan ini padamu, memaksamu. Tapi percayalah, aku akan membahagiakanmu. Apapun akan aku berikan. Aku mencintaimu, apa semua itu belum cukup?" bisiknya gemetar.
Sungmin menggeleng pelan. "Mungkin yang kau rasakan padaku bukan cinta." Ujarnya pelan, mencoba membujuk.
Kyuhyun mengerutkan dahinya. Lalu terkekeh pelan. "Lebih baik kau makan."
"Kau... Kau mungkin hanya terobsessi padaku. Kau tidak mencintaiku dengan tulus." Sela Sungmin cepat, menghentikan pergerakan Kyuhyun yang ingin mengambil mangkuk bubur. Sedangkan Sungmin, terdiam seraya menunduk dalam. Kyuhyun terlihat marah.
"Akan aku buktikan nanti." Bisik Kyuhyun menahan amarahnya. Lalu mengambil mangkuk buburnya dan bersiap menyuapi Sungmin.
Sungmin menelan ludahnya kuat. Dengan terpaksa ia menerima suapan demi suapan yang Kyuhyun berikan padanya.
.
.
.
Waktu belum menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Donghae dengan cepat sudah berada di seoul. Setelah menempuh perjalanan dari Daegu. Pria itu sejak kemarin uring-uringan dan ingin kembali ke Seoul, awalnya ia merasa Sungmin ingin membuat kejutan untuknya dengan mengatakan kalau sebaiknya mereka berdua putus. Karena Sungmin akan bertunangan dengan pria lain. Awalnya, Donghae tidak terlalu menghiraukannya meski hatinya berkata lain.
Dan ini, sudah lima hari lebih Sungmin tidak menjawab panggilan atau bahkan membalas pesannya. Donghae bingung, ia juga merasa takut kalau benar adanya, Sungmin akan bertunangan dengan pria lain. Dan itu artinya, ia harus kehilangan Sungmin. Tidak! Ia harus menemui Sungmin sekarang juga.
.
.
.
.
"Tidak perlu keluar kalau belum merasa sehat, sayang." Bisik Leeteuk seraya meletakkan secangkir teh hangat untuk Sungmin dan Kyuhyun.
Di samping Sungmin, ada Kyuhyun yang menemaninya.
"Aku sudah lebih baik, Eomma. Key Eonnie dan Taemin kemana?" Bisik Sungmin kaku.
Leeteuk mengangguk pelan. "Key pergi kerja dan Taemin membawa Jungkook kerumah bibi Jaejong. Baiklah, ini beberapa contoh undangan pernikahan. Keluarga Kyuhyun membebaskanmu untuk memilih dan juga dekorasi pernikahannya." Jawab Leeteuk dengan senyumnya.
Kyuhyun tersenyum, mengambil buku di hadapannya. Menunjukkannya pada Sungmin. "Pilih mana saja yang kau sukai, aku akan menyetujuinya." Ujarnya lembut.
Sungmin tampak enggan, namun karena ada Kangin di sana yang juga tersenyum melihatnya. "Eumm, warna putih saja." Bisiknya pelan.
"Putih? Wah~ kupikir kau akan memilih warna merah muda." Ujar Kyuhyun setengah bercanda.
Kangin tertawa mendengarnya. "Itu berarti kau juga akan memakai warna perempuan itu."
Kyuhyun tersenyum. Begitu juga Leeteuk. Berbeda dengan Sungmin yang terus hanyut dalam pikirannya sendiri. Tentang hubungannya dengan Donghae. Bagaimana keadaan Donghae sekarang? Pikirnya sedih.
"Sungmin, jangan melamun, minum tehnya." Sentak Leeteuk lembut.
Sungmin mengangguk kecil, lalu mengambil secangkir teh hangatnya. Tanpa tahu kalau sejak tadi Kyuhyun memperhatikan gerak-geriknya. "Appa, Eomma, aku ijin ke kamar dulu." Ujarnya pelan. Langsung saja ia beranjak menuju kamarnya.
.
.
.
Sesampainya di kamar. Sungmin bergerak mengambil ponselnya, dan memang ada beberapa panggilan tak terjawab dari Donghae. Dan juga beberapa pesan. Langsung saja ia membuka satu persatu pesannya.
Donghae : Bisakah kita bertemu? Aku ingin bertemu denganmu. Aku membutuhkan penjelasan.
Rasanya Sungmin ingin menangis sekarang. Tapi ia berusaha menahannya. Kembali ia membuka pesan yang lebih lama.
Donghae : Aku tidak ingin kita berpisah! Jangan membuat lelucon konyol!
Sungmin semakin menggigit bibir bawahnya. Satu pesan lagi.
Donghae : Kau sangat merindukanku, ya? Sampai membuat lelucon seperti itu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Sungmin. Gadis itu menggenggam erat ponsel pintarnya keras. Ia juga tidak ingin semua ini terjadi, tapi ia bisa apa sekarang? Melawan kedua orang tuanya adalah hal terakhir yang ia pikirkan. "Maafkan aku." Bisiknya parau.
Kriett...
Sungmin terkesiap, buru-buru ia mengusap wajahnya. Takut kalau ibunya menyusul ke atas. Tapi yang ia lihat adalah sosok Kyuhyun yang berjalan mendekatinya. Ia sedikit mundur menjauh.
"Kenapa kau menangis?" tanya Kyuhyun. Meneliti setiap jengkal wajah Sungmin.
"Bukan urusanmu." Jawab Sungmin datar.
Kyuhyun tersenyum miris tanpa Sungmin tahu. "Sebenarnya, aku memiliki rencana untuk mengajakmu jalan-jalan. Berkencan, mungkin. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena kau sedang sakit." Terangnya lembut. Lalu duduk di samping Sungmin. Menatap gesture calon istrinya itu. "Jangan bermain ponsel, tidurlah." Ujarnya seraya merebut ponsel di tangan Sungmin.
Sungmin tersentak melihatnya. Lalu tanpa suara memutuskan untuk tidur saja, ia terlalu malas berbicara dengan Kyuhyun.
Melihat Sungmin yang mulai memejamkan kedua matanya. Kyuhyun memilih beranjak, namun sebelum itu melihat isi ponsel Sungmin. Dahinya mengerut kesal, dengan pelan ia meletakkan ponsel itu di atas meja, kemudian keluar dari sana.
Cklek
Sungmin membuka matanya dengan cepat. Kemudian ia mengambil ponselnya dan mengetikkan balasan untuk Donghae. Ia merasa harus menuntaskan masalah ini dengan mantan kekasihnya itu, atau kalau tidak masalah akan semakin berlarut-larut.
.
You Love Me?
.
"Appa, kapan pernikahanku di langsungkan?" tanya Kyuhyun ketika ia sampai di rumah.
Hangeng menutup majalahnya. "Satu bulan lagi." Ujarnya santai.
"Ganti. Aku mau pernikahanku di langsungkan satu minggu lagi." Pinta Kyuhyun geram. Duduk di depan ayahnya.
"Apa kau bilang?! Jangan suka mengatur jadwal sesuka hati, Kyuhyun." Ujar Hangeng tak percaya. Anak laki-lakinya ternyata sudah gila.
Kyuhyun memijit pelipisnya, pusing. "Appa, aku mohon. Besok kita bicarakan dengan keluarga Sungmin." Putusnya tanpa mau di bantah. Lalu ia beranjak menuju kamarnya.
.
.
.
Hari berganti, rasanya terlalu cepat. Pikir Sungmin. Gadis itu menatap wajahnya lewat pantulan kaca, kedua matanya sembab, memerah dan juga sayu. Sungmin menghela nafas pelan, hari ini ia memutuskan untuk bertemu dengan Donghae. Ia harus memberi pengertian pada pria itu, bahwa hubungan mereka sudah kandas. Bukan, bukan ia tidak mau memperjuangkan kisah cintanya bersama Donghae. Tapi keadaanya sekarang begitu sulit.
Bergegas, ia segera merapikan tatanan rambutnya dan keluar dari kamar. Untung pagi ini kedua orang tuanya keluar, entah ada urusan apa dan kedua saudara perempuannya yang sibuk, Jungkook pasti ikut dengan Appa dan Eomma. Yang jelas ia bisa keluar rumah dengan bebas tanpa harus di tanya macam-macam. Sungmin memanggil taksi dan segera masuk kedalam. Bahkan ia tidak tahu kalau dari kejauhan, sosok Kyuhyun mulai mengikutinya.
Hati Kyuhyun terasa panas. Amarah mulai menguasainya, ia begitu cemburu dengan Donghae. Kenapa tidak ia saja yang Sungmin cintai, kenapa harus pria itu! Sial! Ia akan memberi pelajaran dan peringatan pada Donghae, kalau Sungmin itu miliknya.
.
.
.
Donghae sedang memainkan kakinya saat melihat sosok Sungmin dari kejauhan. Pria itu tersenyum kecil melihat kekasih cantiknya itu. Tanpa kata lagi, ia langsung memeluk tubuh mungil Sungmin seerat mungkin. "Aku merindukanmu." Bisiknya parau.
Sedangkan Sungmin hanya bisa meringis sedih. Perlahan ia membalas pelukan Donghae, mungkin untuk yang terakhir kalinya. "Iya." Bisiknya.
"Bagaimana kabarmu? Kau terlihat pucat." Bisik Donghae seraya mengusap wajah Sungmin.
"Aku... baik-baik saja." Ujar Sungmin sendu. "Maaf." Lanjutnya sedih.
Donghae melihatnya. "Kenapa? Apa karena lelucon yang kau buat sejak kemarin? Kau meminta maaf karena sudah membohongiku." Tuntutnya penuh. Menatap lekat kedua mata Sungmin.
Perlahan, Sungmin melepaskan tangan Donghae dari wajahnya. Menatap lesu kearah Donghae. "Maaf, kuharap kau bisa menerima keputusanku. Aku akan menikah." Ujarnya di sela-sela isakan. Tubuhnya mulai bergetar karena tangis.
Donghae terkekeh pelan. "Sudahlah, hentikan leluconmu itu, Sungmin. Kau tahu, aku juga sangat merindukanmu..."
"Hentikan, Donghae. Aku akan menikah, aku tidak bisa menghentikannya. Hiks... Bahkan aku sudah bertunangan."
"Aku tidak mau, aku tidak bisa melepaskanmu..."
Sungmin mundur selangkah, merasa dirinya begitu kejam dengan pria yang begitu baik padanya selama ini. Pria yang begitu menyayanginya. "Maaf.. maaf."
"Aku tidak akan menyerah! Kau belum menikah dengan pria itu!" Seru Donghae marah, membuat Sungmin berjengit kaget.
BUGH!
Sungmin tersentak kaget melihat pemandangan di hadapannya. Kyuhyun! Kenapa Kyuhyun bisa ada di sini.
"Donghae!" Teriaknya panik saat melihat Kyuhyun kembali menghajar Donghae sampai babak belur. Bahkan tidak ada jeda sampai ia melihat wajah itu penuh darah. "Hentikan! Hentikan, Kyuhyun!" Serunya seraya menarik lengan Kyuhyun kasar.
Kyuhyun mendengus kasar. Ia melepaskan Donghae kesal, lalu meraih lengan Sungmin dengan kasar. "Sudah kubilang jangan bertemu dengannya!" Teriaknya marah.
"Lepaskan aku!" Sungmin memukul-mukul lengan Kyuhyun. "Aku membencimu, lepaskan!"
Kyuhyun dengan geram meraih kedua lengan Sungmin. Ada kemarahan dan kesedihan di wajah tampannya. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Lee Sungmin. Kenapa." Lirihnya.
PLAK!
Setelah mendorong bahu Kyuhyun, dan menamparnya. Sungmin bergegas menghampiri Donghae yang hampir kehilangan kesadarannya. Memeluk Donghae dengan tangis keras. "Hikss.. bangunlah." Bisiknya takut.
Donghae hanya mengerjab pelan dengan nafas terengah.
Kyuhyun yang melihat pemandangan di hadapannya merasa sakit hati. Dengan cepat ia menghampiri Sungmin dan menarik lengan gadis itu. "Ikut aku." Ujarnya tegas.
"Hikss, tidak mau. Lepaskan, Kyuhyun. Donghae terluka." Seru Sungmin kekeuh.
Tapi Kyuhyun dengan kasar menggendongnya, tanpa peduli teriakan Sungmin yang memilukan. Sampai Kyuhyun membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan Donghae, ia menangis lirih. Jadi pria itu, calon suami Sungmin. Kedua tangannya terkepal kuat. Brengsek! Umpatnya dalam hati.
.
.
.
Ketika sampai di rumah Sungmin, baik Key, Kangin dan Leeteuk mengernyit melihat kondisi Sungmin. Begitu pucat dan lesu.
"Sungmin." Ucap Key dengan suara lirih.
"Apa yang terjadi?" tanya Leeteuk cemas. Begitu juga Kangin.
Sungmin hanya diam membeku di tempat. Tangannya masih di genggam erat oleh Kyuhyun.
"Dia bertemu dengan pria lain. Jadi aku menyusulnya kesana dan memaksanya untuk pulang." Jelas Kyuhyun masih menahan amarahnya.
Kangin menatap Sungmin tajam. "Benar begitu?" tanyanya tajam.
Sungmin hanya memejamkan kedua matanya dan tidak mampu menjawab pertanyaan ayahnya, ia takut.
"Sudah, lebih baik istirahat saja. Sungmin masih sakit." Sela Leeteuk cepat, ia meraih lengan Sungmin, keduanya berjalan menuju kamar. Sedangkan Key cepat-cegat menuju dapur ia akan membuat minuman untuk Sungmin.
Kyuhyun mendesah kasar. Pernikahannya memang harus segera di langsungkan. Ia tidak mau kalau Donghae berbuat nekad nantinya.
.
.
.
Sungmin masih menangis ketika sampai di dalam kamarnya. Bersamaan dengan Leeteuk yang menatapnya sedih. Wanita setengah baya itu memeluk tubuh ringkih anaknya, berusaha meredakan isak tangis yang begitu menyakiti hatinya.
"Eomma, aku tidak mau menikah.. hikss.. Eomma tolong aku." Bisik Sungmin parau.
Leeteuk memejamkan kedua matanya pedih. "Kau harus bersabar, sayang. Semua ini demi kebaikanmu. Kyuhyun adalah pria yang tepat untukmu. Kau pasti akan mencintainya." Bisiknya lembut.
Tapi Sungmin memilih menangis dengan keras dalam pelukan Leeteuk.
.
.
.
Mencoba menerima keadaan, walau terasa sulit dan menyakitkan.
Sungmin menghela nafas pelan, pandangan matanya begitu pilu bercampur kesedihan. Rasanya ia seperti kehilangan semangat hidup dan membenci dirinya sendiri. Kenapa ia harus selemah ini? Kenapa alur hidupnya harus seperti ini?
Pip..pip
Sungmin mengerutkan dahinya saat dering ponsel menyentak lamunannya. "Halo?" jawabnya pelan.
"Sungmin, aku hanya ingin mengabarkan padamu. Kalau Donghae masuk rumah sakit, tapi kau tenang saja. Lukanya tidak terlalu parah. Apa kau akan datang kerumah sakit?"
Sungmin menggigit bibir bawahnya. "Tidak. Katakan saja padanya, kalau aku minta maaf karena membuatnya masuk rumah sakit."
"Baiklah. Sungmin, apa benar kau akan menikah? Bagaimana dengan Donghae? Hubungan kalian?"
Air mata kembali meluncur dari pelupuk matanya. "Aku akan menikah. A-apa kau bisa menjaga Donghae untukku?"
"Donghae hanya mau denganmu. Kenapa kalian tidak mencoba berjuang?"
"Karena kita tidak bisa. Katakan padanya, semoga cepat sembuh."
Flip!
Sungmin mematikan dengan cepat sambungan telfonnya. Kembali, ia menangis lirih dengan wajah yang penuh beban. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk tidur karena lelah.
.
You Love Me?
.
.
Kyuhyun menutup pintu mobilnya, pagi ini ia sudah sampai di depan rumah Sungmin. Apapun akan ia lakukan untuk membuktikan bahwa dia tidak hanya terobsesi pada gadis itu. Tapi benar-benar jatuh hati, sampai pikirannya tidak waras karena di selimuti oleh kecemburuan melihat kebersamaan Sungmin dan Donghae. Ada perasaan tidak rela yang menyelubungi hatinya, apa ia salah? Ia hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Egois? Ia akui itu.
"Kyuhyun? Pagi-pagi sekali kau berkunjung." Leeteuk yang sedang menyirami bunga, menyapa calon menantunya itu.
Kyuhyun membungkuk sopan. "Ingin melihat Sungmin, Eomma. Apa dia sudah bangun?" tanyanya.
"Dia sudah bangun, tadi dia ke dapur. Mungkin membuat sesuatu. Eomma harus menyiram tanaman dulu." Ujar Leeteuk.
Kyuhyun tersenyum kecil. Kemudian memasuki rumah sederhana milik keluarga Sungmin. Kedua matanya menelusuri setiap sudut rumah, mencari keberadaan Sungmin. Sampai pada akhirnya ia melihat gadia itu keluar dari dapur seraya membawa makanan. Perlahan ia mendekatinya.
Sedangkan Sungmin, ia sedikit terkejut melihat sosok Kyuhyun di sana.
"Hai~ sedang apa?" tanya Kyuhyun perhatian.
"Aku mau makan." Jawab Sungmin singkat. Meletakkan camilan di atas meja.
Kyuhyun mengangguk. "Sungmin?" panggilnya.
Sungmin hanya meliriknya sebentar, ia jadi tidak selera untuk makan lagi. Karena keberadaan Kyuhyun di dekatnya.
"Maaf soal kemarin. Apa kau takut padaku?" Ujar Kyuhyun yang menatap penuh kearah Sungmin.
Tapi Sungmin hanya diam membisu saja. Tidak berniat menanggapi pertanyaan Kyuhyun. Sampai sebuah tangan menggenggam jemarinya. Gadis itu menahan nafas pelan sebelum menatap kearah Kyuhyun.
"Jangan takut padaku. Aku tidak mungkin menyakitimu." Bisik Kyuhyun serius. Tersenyum lembut seraya menepuk-nepuk punggung tangan Sungmin. "Apa demammu sudah turun?" tanyanya.
Sungmin mengangguk pelan. "Ya." Jawabnya singkat. Ia begitu canggung dan kaku dengan Kyuhyun, entahlah.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, sesuai janjiku kemarin. Kita butuh pendekatan supaya kau nyaman denganku sebelum kita menikah." Jelas Kyuhyun, ia duduk dekat sekali dengan Sungmin, lalu mencomot camilan yang Sungmin buat tadi. "Ini enak sekali. Kau membuatnya sendiri?"
"Iya. Aku membuatnya sendiri." Jawab Sungmin seadanya. Sesekali ia menatap risih kearah Kyuhyun.
"Dimana appa?" tanya Kyuhyun lagi.
"Appa sudah berangkat bekerja tadi pagi." Jawabnya kembali apa adanya.
Kyuhyun mengangguk sebentar sebelum kembali menatap kearah Sungmin. "Ah, aku tidak sabar ingin segera menikahimu." Ujarnya seraya terkekeh malu.
Sungmin menggigit bibir bawahnya, kenapa pria itu mudah sekali mengatakannya. Seperti tidak memikirkan perasaannya saja.
"Segeralah bersiap-siap, pagi ini sangat cocok untuk jalan-jalan." Kyuhyun tersenyum lagi.
Sungmin hanya mengangguk pelan dan segera berjalan kearah kamarnya.
.
.
.
"Ohh, Kyuhyun. Kau ada di sini?" Suara Kangin menginterupsi lamunan Kyuhyun.
Kyuhyun segera berdiri dan membungkuk sopan pada calon mertuanya itu. "Appa, aku ingin mengajak Sungmin jalan-jalan. Bolehkah?" tanyanya.
Kangin tersenyum. "Tentu saja, lagipula sebentar lagi kalian akan menikah." Ujarnya. "Jaga dia untuk kami." Pesannya.
"Itu pasti." Jawab Kyuhyun lugas dan cepat.
"Aku tidak salah memilihmu, terima kasih karena sudah mencintai putriku." Kangin menepuk-nepuk pundak Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum cerah. "Benar, aku sangat mencintainya."
"Dimana Sungmin? Aku pulang untuk mengambil sesuatu yang tertinggal." Kangin mengusap tengkuknya pelan.
"Dia sedang bersiap-siap. Mungkin sedang mandi." Ujar Kyuhyun.
"Appa tinggal dulu." Ujar Kangin, kemudian berlalu dari sana.
Kyuhyun sendiri, ia bersendekap seraya menatap keatas kamar Sungmin. Tanpa ragu ia berjalan melewati anak tangga, di tinggal sebentar saja membuatnya rindu. Gila. Perlahan ia mengetuk pintu kamar Sungmin, lama sampai ia sendiri berniat masuk tanpa persetujuan. Jemarinya memutar knop pintu dan masuk kedalam kamar Sungmin yang begitu girly, pria itu tersenyum kecil.
Kriet..
Kyuhyun berdiri di tempatnya saat melihat pemandangan tak jauh darinya. Pria itu menelan ludahnya kuat tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok indah di sana.
"Kenapa kau masuk kemari!" Seru Sungmin kaget. Lalu kembali memasuki kamar mandi.
Kyuhyun segera keluar dari kamar. Menahan degub jantungnya yang tiba-tiba bergetar hebat. Wajahnya memerah, ia menggosok rambutnya dengan kasar. Berusaha mengurangi gairah yang beberapa saat lalu timbul karena Sungmin. "Aku sudah gila." Umpatnya kecil.
.
.
.
Sungmin masih marah. Ia menatap garang kearah Kyuhyun yang dengan santainya duduk di atas sofa. Gadis itu melengos tanpa peduli kalau Kyuhyun juga menatapnya.
"Kalian jadi pergi sekarang?" tanya Leeteuk yang tengah membersihkan meja.
Sungmin hanya diam saja. Sedangkan Kyuhyun tersenyum menanggapi. "Kami pergi dulu, Eomma." Ujar Kyuhyun lembut, lalu menggandeng Sungmin keluar rumah.
Sesampainya di halaman depan. Kyuhyun membuka pintu mobil untuknya, dengan bergegas Sungmin masuk. Begitu juga Kyuhyun, ia tahu pasti Sungmin marah sekali karena kejadian tadi.
.
.
.
"Suasananya sangat mendukung, kan? Kau suka?" tanya Kyuhyun saat memandang hamparan bunga di taman.
Sungmin mengangguk kecil.
"Apa kau tidak mau mencoba, menerimaku dan melupakan pria itu." Entah kenapa Kyuhyun ingin menanyakan hal itu. Meskipun dalam hatinya ia tahu pasti jawaban Sungmin.
"Aku tidak tahu. Bahkan di saat terakhirpun aku pasti akan terus bertanya-tanya." Ujar Sungmin. Mencoba untuk membuka perasaannya, walau bayangan wajah Donghae terus saja menghantuinya.
Kyuhyun tersenyum miris. "Aku cemburu." Ujarnya sedikit kesal.
Sungmin melirik kearah Kyuhyun, lama sebelum kembalu menatap kearah lain. "Aku tidak yakin, kau benar-benar mencintaiku."
"Kau meragukanku? Apa aku terlihat seperti orang gila? Yang memisahkanmu dengan kekasihmu itu?" Kyuhyun bertanya bertubi-tubi. Seraya menatap tajam kearah Sungmin.
Sungmin menahan nafasnya sejenak. "Aku yakin kau itu hanya terobsesi padaku." Tekannya. "Tidak ada cinta yang memaksa, kau terlalu memaksaku. Kau pikir aku tidak punya hati?" lirihnya sedih.
Dengan lembut, Kyuhyun mengusap wajah Sungmin yang basah. "Kau benar, aku memang pria egois yang akan terus memaksakan kehendakku padamu. Tapi yang perlu kau tahu, Sungmin. Aku benar-benar serius denganmu." Bisiknya miris. "Kau lihat saja nanti."
Sungmin melepas kasar kedua lengan Kyuhyun di wajahnya. "Aku ingin pulang saja." Ujarnya seraya mengusap wajahnya. Kemudian berlalu dari sana.
"Hah!" Kyuhyun berteriak kesal. Berkacak pinggang dan menatap kembali hamparan bunga. Kemudian ia segera beranjak menyusul Sungmin.
.
.
.
"Lebih baik kau istirahat. Dokter belum mengijinkanmu untuk pulang." Ujar Eunhyuk memperingati.
Donghae mendesah kasar. "Aku ingin bertemu dengan Sungmin. Aku tidak terima dia menikah dengan pria itu."
Eunhyuk menahan nafasnya, sekaligus menahan rasa sakit di hatinya. Tapi ia mencoba untuk tetap tegar dan tersenyum di hadapan Donghae. "Kau.. tidak sedang berusaha menggagalkan pernikahan merekan, kan?" tanyanya serak.
"Kalau aku bisa, aku pasti akan melakukannya. Apapun akan aku lakukan, sekalipun membawanya kabur." Ucap Donghae geram, sekaligus menahan rasa sakit hatinya.
Eunhyuk mengangguk kaku. Menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang dengan lancangnya jatuh. "Membawa Sungmin kabur, sama saja kau membunuh Sungmin. Aku harus pergi, semoga cepat sembuh." Ujarnya tanpa menatap Donghae sedikitpun. Keluar dari ruang inap dengan air mata yang terus saja mengalir deras.
Donghae memejamkan kedua matanya erat, benar apa kata Eunhyuk. Kalau ia nekad membawa Sungmin kabur, sama saja ia membunuh Sungmin. Kedua orang tuanya juga pasti akan membunuhnya.
.
.
.
Sungmin menunduk dalam di tengah langkahnya. Bahkan ia tidak sadar kalau langkahnya begitu berat sampai tidak tahu bahaya yang tengah mengancamnya.
Srettt!
"Akh!" Sungmin tersentak kaget begitu tahu-tahu berada dalam pelukan Kyuhyun. Gadis itu menelan ludahnya kuat menahan perasaan aneh di tubuhnya. Kemudian ia melihat Kyuhyun berlari kencang dan menghajar pengendara motor yang tadi hampir saja menabrak Sungmin.
"Apa kau tidak punya mata, huh! Kau hampir saja menabrak istriku!" Umpat Kyuhyun pada pemuda tadi.
"M-maaf.. maaf." Pemuda tadi hanya memandang takut kearah Kyuhyun yang melotot kearahnya.
Sungmin yang melihatnya langsung menarik lengan Kyuhyun. "Aku tidak apa, lepaskan dia." Pintanya memohon.
Kyuhyun melepas kasar pemuda tadi. Lalu meraih pundak Sungmin. "Lain kali, bawa motormu dengan benar." Tekannya. Kemudian membawa Sungmin pergi dari sana.
.
.
.
Sesampainya di rumah. Sungmin bergegas untuk menuju kamarnya, ia butuh sendiri sekarang. Setelah perdebatan kecilnya dengan Kyuhyun. Namun sayang sekali, Kangin memanggilnya.
"Sungmin, kemarilah." Panggil Kangin.
Sungmin mengerutkan dahinya. "Kenapa, appa?" tanyanya heran. Karena wajah Kangin begitu serius.
Kangin menghela Sungmin untuk duduk. "Sayang, appa harap kau bisa bahagia nanti. Appa dan Eomma tidak mungkin menjerumuskanmu dengan pria yang salah. Kau memang baru mengenal dia. Tapi dia benar-benar serius denganmu."
Sungmin menunduk kecil mendengarnya. Tapi tidak berani menyela.
"Appa mengenal keluarganya, jadi, ketika Kyuhyun berencana melamarmu, appa sangat senang sekali. Itu berarti kami tidak akan cemas dengan siapa kau bersanding. Dan, appa ingin memberikan kabar. Kalau pernikahanmu akan di langsungkan satu minggu lagi."
DEG!
"Di percepat?" tanya Sungmin kaget. Menatap tak percaya kearah Kangin.
Kangin mengangguk mantap. "Jadi persiapkan dirimu baik-baik. Appa dan Eomma serta orang tua Kyuhyun juga sudah membicarakannya. Hanya tinggal menyiapkan baju pengantin." Jemarinya mengusap surai rambut putrinya.
Tetapi Sungmin tampak kebingungan dan cemas sendiri. Pernikahannya akan di langsungkan seminggu lagi, dan itu artinya ia tidak akan bisa mengelak lebih lama lagi.
.
You Love Me?
.
.
Kebebasannya sebentar lagi akan di renggut paksa oleh sebuah pernikahan tanpa cinta. Sungmin menghela nafas pelan ketika menatap langit-langit kamar. Merasa sedih dan tidak berharga, menjadi gadis lemah yang tidak mampu melawan. Tapi apa gunanya melawan? Toh Ayahnya juga pasti akan terus memaksanya tanpa henti.
Donghae. Bahkan ia masih sangat mencintai pria manis itu, bagaimana bisa ia menjalani pernikahan tanpa cinta ini, sedangkan hatinya masih utuh bersama dengan Donghae. Ia merindukan pria itu, ia ingin bertemu kembali dengan pria itu. Bisakah? Atau Kyuhyun akan memukulnya lagi seperti kemarin.
"Hahh! Aku harus bagaimana?" gumamnya bingung. Dengan lelah ia mencoba untuk tidur malam ini. Sebentar lagi ia akan menjadi istri Kyuhyun.
.
.
.
"Kita akan kebutik pagi ini, sayang. Key dan Taemin, mereka akan menyusul nanti. Kyuhyun sudah menunggu di luar." Ujar Leeteuk sumringah.
Sungmin hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Ibunya.
"Ayo.." Leeteuk menggandeng lengannya. Kedua wanita cantik berbeda generasi itu turun dari atas tangga. Mendekati Kyuhyun dan juga Heechul di sana.
Kyuhyun tersenyum menatap kearah Sungmin yang terus saja menunduk. "Kita berangkat sekarang?" ujarnya.
"Kita berangkat!" Ujar Heechul senang. Menggandeng lengan Sungmin juga.
Mereka berempat segera keluar, perjalanan menuju butik membutuhkan waktu setengah jam. Karena jaraknya cukup jauh. Sesampainya di sana, mereka di sambut oleh beberapa karyawati.
"Gaun putih akan sangat cantik di tubuh Sungmin." Ujar Heechul seraya memilah gaun yang tepat untuk pasangan yang tengah duduk di atas sofa.
Leeteuk mengangguk. "Putih juga lambang suci dan sakral." Lanjutnya.
"Kau benar." Senyum Heechul.
Berbeda dengan Kyuhyun dan Sungmin yang tengah terdiam di tempat duduknya. Sebenarnya hanya Sungmin yang tidak ingin bersuara.
"Kuharap aku bisa membahagiakanmu nanti. Meski pada awalnya kau belum menerimaku." Ujar Kyuhyun lembut. Tersenyum begitu tampan hanya untuk calon istrinya.
Sungmin mengerjab pelan. Ia hanya mengangguk kaku, apakah suatu hari nanti ia bisa menerima pria di sampingnya ini? Sedangkan hatinya jelas-jelas masih terpaut oleh Donghae.
"Jangan sering melamun. Tidak baik." Nasehat Kyuhyun. Pria itu mengambil botol minuman yang tersedia di sana, membukanya dan menyerahkannya pada Sungmin. "Minumlah."
Sungmin mengangguk kecil, mengambil botol minum itu dan meneguknya perlahan. Kyuhyun tahu saja kalau ia gugup.
"Sayang, cobalah gaun ini. Tidak lebar memang, tapi sangat cantik." Heechul menunjukkan sebuah gaun putih dengan hiasan mutiara melingkar membentuk bunga.
"Itu cantik sekali, Eomma." Puji Kyuhyun, refleks ia menarik lengan Sungmin mendekati Ibunya.
"Ya, sangat cantik." Ujar Sungmin tak kalah kagum. Menyentuh gaun itu dengan penuh kekaguman.
"Cobalah. Kyuhyun tuxedo milikmu juga sudah siap. Sana, kalian ganti baju. Eomma jadi tidak sabar." Heechul merangkul pundak Leeteuk yang juga tersenyum haru melihat keduanya.
.
.
.
Donghae tersenyum kecil kearah Eunhyuk ketika mereka berdua sampai di depan rumah pria itu. "Terima kasih, Eunhyuk-ah." Ujarnya tulus.
Kedua pipi Eunhyuk bersemu merah kala melihat senyuman manis Donghae. "Sama-sama."
"Mau masuk dulu?" tawar Donghae.
"Bolehkah?" tanya Eunhyuk kaget. Ini pertama kalinya ia memasuki rumah Donghae.
Donghae mengangguk. "Tentu saja, aku tidak mungkin mengusirmu begitu saja. Masuklah." Ajaknya.
"Baiklah." Eunhyuk meneliti setiap sudut rumah Donghae. Sederhana dan juga minimalis. Terlihat nyaman bila nanti ia bisa tinggal di sini. Astaga! Pipinya kembali bersemu merah.
"Di sini sepi, kedua orang tuaku sedang keluar kota. Temani aku sebentar, kau tidak keberatan, kan?" tanya Donghae seraya meletakkan minuman di atas meja.
"Oh? T-tidak.. tentu tidak." Eunhyuk tersenyum canggung. Menatap Donghae sedikit-sedikit.
"Eunhyuk?"
"Ya?"
Donghae tampak terdiam sejenak. Membuat Eunhyuk heran. "Apa kau bertemu dengan Sungmin?" tanyanya penasaran.
DEG!
"Belum." Jawab Eunhyuk seraya mengambil minuman, lalu menyesapnya.
"Aku ingin bertemu dengannya lagi, tapi tidak mungkin." Gumam Donghae resah. Bercampur kekecewaan yang besar.
Eunhyuk menghela nafas pelan. "Apa.. apa kau akan datang ke acara pernikahan Sungmin?" tanyanya hati-hati.
Donghae hanya diam saja. Sampai ia tersenyum miris. "Aku akan datang." Ujarnya mantap.
.
.
.
Kyuhyun menyerahkan sebuah bunga mawar merah muda untuk Sungmin. Tersenyum begitu lembut kearah calon istrinya itu. Dengan pelan, Sungmin menerimanya dan balas tersenyum kearah Kyuhyun yang ia akui memang sangat tampan dengan tuxedo putih di tubuhnya.
"Aku benar-benar tidak sabar setelah melihatmu memakai gaun indah dan sexy itu. Kau sangat cantik." Rayunya dengan senyum memikat.
Sungmin menunduk pelan. "Biasa saja." Selanya canggung.
"Hey, jangan menunduk begitu. Kau terlihat cantik kalau menunjukkan wajahmu." Kyuhyun meraih dagu Sungmin, kembali mengulas senyum tipis.
"Kyuhyun, aku malu di lihat orang." Bisik Sungmin hati-hati. Sesekali melirik kearah lain.
"Malu? Kau ini polos sekali, eoh? Apa perlu aku memarahi orang-orang yang sekarang melihat kita?" tawarnya dengan nada geli.
Sungmin mengerucutkan bibirnya, menatap garang kearah Kyuhyun. Walau bagi Kyuhyun wajah itu terlihat sangat manis sekali. Bahkan sangat manis.
"Kau senang menggodaku ternyata. Lihat saja nanti." Bisiknya mengancam. Membuat Sungmin tidak mengerti maksudnya.
"Kyuhyun, Sungmin kemari. Kita mulai proses pra-weddingnya." Teriak Heechul dari arah pintu.
Kyuhyun mengangguk kearah Ibunya. Lalu menatap Sungmin. "Ayo, sayang." Bisiknya lembut.
.
.
.
"Sampai jumpa nanti, aku harus pergi keluar kota. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan kabur. Aku pastikan akan menikahimu enam hari lagi." Bisik Kyuhyun saat mereka sudah sampai di halaman rumah Sungmin. Senyumannya begitu aneh.
Sampai membuat Sungmin takut melihatnya. "Ya." Jawabnya kaku.
Kyuhyun tersenyum lembut, sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk mencium pipi chubby Sungmin. Lama, dengan bisikan kata cinta yang ia selipkan. "Sampai jumpa, calon istriku."
Mendadak, tubuh Sungmin terasa kaku karena perbuatan Kyuhyun. Pria itu sangat menyebalkan, bahkan ia ingin menamparnya kembali. Tapi tidak bisa karena Kyuhyun sudah berlalu dari hadapannya. Perlahan ia menyentuh pipinya sendiri dan segera memasuki rumahnya.
Saat masuk kedalam rumah, Sungmin terus menunduk dengan wajah memerah. Ia bahkan tidak melihat kedepan dimana Key sedang membolak-balikkan halaman buku novel nya sambil berjalan.
BUKKK
"Akh..." Pekik Key kaget.
"Eonnie. Maafkan aku. Aku tidak sengaja." Ujar Sungmin merasa bersalah.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Minnie? Sampai wajahmu memerah begitu. Kau sakit?" Tanya Key khawatir.
Sungmin menggeleng kasar. "Tidak. A-aku baik-baik saja." jawabnya.
Key memicingkan matanya curiga. Sungmin merasa risih dengan tahapan Key. "Eonnie. Aku mau kekamar dulu." Pamit nya. Gadis manis itu cepat-cegat pergi dari hadapan Key, takut jika kakaknya bertanya lebih banyak lagi.
.
.
.
Sesampainya didalam kamar, Sungmin menbaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, ia mengambil ponsel yang berada disamping bantal, lalu membuka satu pesan yang masuk.
Donghae : Sungmin. Aku ingin bertemu denganmu. Kumohon.
Sungmin mendadak terdiam melihat pesan yang Donghae kirim untuknya. Ia menggeleng pelan, untuk sekarang ia tidak mau bertemu dengan Donghae.
Sungmin : Maafkan aku, Hae. Lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi.
Send!
Sungmin menggigit bibir bawahnya. Ini yang terbaik untuk hubungannya dengan Donghae.
.
.
.
To Be Contiune
.
.
.
Annyeong...^^
Hai hai... Chapter 9 update^^.
Waahh sebelumnya saya disini mau menjelaskan tentang kesamaan Ff saya dengan salah satu Autor Ffn yaitu Kang Dongjae. Iya sebenarnya ff ini adalah ff lanjutan dari ff Stars Appear. Tidak ada yang tahu jika Ff tersebut adalah kolaborasi dari pemikiran kami berdua. Dikarenakan Ff Stars Appear tidak dilanjutkan jadi saya yang melanjutkannya dan memperjelas cerita yang sesungguhnya dengan sedikit perubahan didalam cerita. Jadi mohon maaf karena tidak memberitahukan sebelumnya. :-)
Aahh~ satu lagi jika kalian tidak percaya dengan penjelasan Saya yang diatas silahkan tanya langsung pada Senior sekaligus kakak saya, Kang Dongjae. Perlu diingat jika Ff Stars Appear masih milik saya dan milik Kakak Kang Dongjae. ;-)
Mianhae jika di Ff ini masih banyak kekurangannya. Saya masih mencoba dan terus mencoba mengembangkan tulisan Saya ini agar menjadi karya yang baik.
Terimakasih untuk para readers sekalian yang masih mau men review FF ini, Saya juga akan menjawab pertanyaan kalian walau mungkin ada yang tertinggal atau terlewat. Saran membangun serta keritik selalu Saya terima dan Saya berusaha untuk memperbaikinya, untuk kalian semua jangan sungkan, terutama Typo, silahkan koreksi bila perlu.
See U... :-)
