Seorang wanita bertubuh pendek dan gempal dengan pakaian pink mencolok mengalihkan mata dari arah pintu. Bibirnya mengulas senyum palsu. Penuh rahasia. Niat manipulatif yang sayangnya terlalu kentara. Dolores Vroscham memang terkenal sebagai orang yang mudah dibaca.
Glideroy Vroscham atau yang dikenal dengan nama publiknya 'Mr. Lockhart' mengibaskan jubahnya dengan gaya narsis saat memasuki pintu yang terbuka lebar. Ia beberapa kali melakukan gerakan tak berguna dengan setangkai bunga mawar di tangannya. Tidak ada yang memedulikannya apalagi membalasnya salam berlebihan miliknya.
"Tidak menarik," gumamnya bersungut-sungut. Pria itu menghempaskan diri di sofa berlengan yang terletak tak jauh di depan perapian, dimana seorang gadis berambut keriting berdiri dalam keheningan.
"Selamat pagi!" salam serentak itu terdengar nyaring dan memeriahkan suasana. Daphne (kakak) dan Astoria (adik) memasuki ruangan dengan langkah seirama. Banyak yang mengira bahwa mereka kembar. Tidak seperti itu, kenyataannya mereka punya umur yang terpaut lumayan jauh. Bisa dikatakan bahwa Daphne awet muda hingga bisa menyamai wajah adiknya. Dan kini mereka mulai berperilaku seperti saudara kembar.
"Selamat pagi," jawab Mr. Lockhart dengan senyum lebar, "senang bisa melihat kalian berkumpul di sini."
Dolores menyatukan kedua tangannya, tersenyum senang. "Kalian pasti membawa kabar baik." Kedua matanya berkilat-kilat tidak sabar. Daphne dan Astoria saling melirik sebelum terkikik.
"Tentu saja! Ini kabar yang kita tunggu-tunggu!"
Daphne melirik gadis penyendiri di depan perapian, "Ini kabar yang kau tunggu-tunggu, Lavender."
Astoria melanjutkan dengan senyum gelap. "Tentang perempuan itu."
Lavender Vroscham memejamkan matanya, menutup pemandangan lukisan wajah seseorang yang ia tatap sedari tadi. Tawa kecil keluar bersama nafasnya. Kelopak matanya setengah terangkat. Sorot matanya tajam dan dingin.
"Hermione Granger," desisnya yakin, "aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi hakku."
Keheningan lantas merayap seperti ular yang menyergap dengan bisanya. Orang-orang yang berada di dalam ruangan menatap punggung gadis itu dalam kediaman yang misterius dan negatif.
Ada Vroscham di dalam darah mereka.
Dan jika itu Vroscham, apalagi menyangkut tentang buku dan cincin itu,
tidak ada yang bisa lari dari kata
'iri'
dan
'rakus'.
.
.
Roadside Angel
Rozen91
Harry Potter © J.K Rowling
Roadside Angel © Emura
Sheet 9 : Keluarga Vroscham
.
.
Hari yang terang. Matahari yang tinggi di langit itu seharusnya sudah menjelaskan kenapa histerianya tidak mendapatkan jawaban dari penjaganya. Akan tetapi, Hermione tidak berada dalam keadaan untuk berpikir sehat. Pikirannya kacau dan degup jantungnya yang kencang sama sekali tidak membantu. Keringat dingin meluncur bebas dari pelipisnya. Kedua matanya berkabut dan ia seolah kembali di suatu senja bersama Luna Lovegood.
Ada asap.
Ada asap!
DOOONNGG! !
Harry berseru kencang, "GEMPA! !"
"Semuanya keluar! !" paman Remus menarik Fleur untuk berdiri, sementara Theo dan Cedric berusaha membangunkan Hermione dan menariknya secara paksa keluar rumah. Zacharias entah sejak kapan sudah bersama ayah dan ibunya yang terlihat khawatir dan kebingungan seperti warga Hogsmeade lainnya.
"Jangan dekat-dekat sungai! !" seseorang berteriak dari jauh yang dilanjutkan oleh orang lainnya.
"Jangan dekat-dekat sungai! ! Airnya meluap!"
Benar saja. Seperti air bah, gelombangnya bahkan melewati jembatan, membuat para warga berseru kaget. Tidak ada yang tidak menyadari bahwa gelombang besar itu membawa pasir. Ada yang aneh. Orang-orang dewasa berbicara dengan nada serius dengan tangan menunjuk-nunjuk air sungai yang kini habis. Kosong.
Hermione mengangkat wajah, mendongak ke arah langit biru dan matahari di musim dingin. Nafasnya mengepul ke udara. Sorot matanya lelah.
Kahlua...
Di saat-saat seperti ini Kahlua tidak bisa berada di sisinya. Tidak mengetahui apa yang terjadi.
Hermione tersenyum miris.
Luna...apa kau ingat apa yang terjadi di senja itu?
Ada asap... gempa...saluran air yang mendadak kering... dan selanjutnya adalah—
"HWAAAAAAA! !"
api.
Orang-orang berkuda itu menembakkan anak panah api ke atap-atap rumah penduduk.
Luna...apa kau tahu? Hari itu terulang lagi di hari yang dingin ini...
"TOLOONG! !"
"Api! ! Rumahku terbakar!"
"Kenapa! ? Apa yang terjadi dengan sungainya! !"
Suara-suara memilukan itu menyakiti telinganya. Hermione sudah tidak peduli lagi. Tidak ada yang bahagia. Percuma saja. Dia tidak akan bahagia dimana pun. Keluarga sialan itu... mereka sudah merebut semuanya! !
"Se—sebaiknya kita segera pergi dari sini!" Cedric berbisik penuh paksaan. Fleur berpikir keras.
"Mereka mengincar Hermione, bukankah begitu?" sergah Harry serius, "kalau mereka tahu dia tidak ada di sini, mungkin mereka akan segera pergi!"
"Tidak ada yang menjamin—"
"Diam, Theo!" Cedric setengah membentak. Theo langsung bungkam.
Remus Lupin segera mengusulkan. "Jalan rahasia di bawah jembatan."
Keluarga Ark mengangguk setuju.
xxx
Mr. Lockhart menarik kekang kudanya yang meringkik dan nyaris menginjak seorang kakek tua yang membungkuk rendah di tanah. Dolores menatap dengan dagu tinggi dari kuda coklatnya. Kedua matanya memerhatikan wajah-wajah ketakutan para warga yang dikumpulkan di lapangan luas di sekolah akrobat yang terletak di sebelah timur.
"Tidak ada anak perempuan seperti yang Anda cari di sini." Albus Dumbledore mengulang kembali ucapannya. Mr. Lockhart tersenyum penuh humor.
"Jangan bercanda, Dumbledore," tukas Mr. Lockhart, "kami menyebarkan selebaran itu ke banyak daerah, dan hanya desa ini yang memberi laporan. Apa kau sedang mempermainkan kami, eh?"
"Saya yakin pasti ada kesalahan."
Sudut bibir Dolores terangkat seperti ia sedang melihat lalat. "Jadi, Anda mau bilang kalau perjalanan kami ini sia-sia? Jangan seperti itu, Mr. Dumbledore."
Astoria menimpali, "kami dengar dari burung kecil—"
Daphne tersenyum, "—kalau kalian menyimpan perempuan itu di desa ini."
Nafas tertahan.
Mata jeli Dolores mengejang puas. Reaksi bagus dari orang-orang desa yang memucat.
Mr. Lockhart menyeringai. "Kalian sudah menunda informasi dan berniat menampung penjahat kelas berat; Hermione Granger! !"
"Serahkan Hermione Granger! !"
Severus Snape, kepala sekolah khusus akrobat lantas angkat bicara, geram saat menyaksikan kepala desa yang ia hormati harus menundukkan kepala di hadapan anggota keluarga Vroscham. Yang biarpun dihormati karena relasinya dengan keluarga kerajaan, juga punya sisi gelap dan sifat yang rendah.
"Anda bisa mengecek seluruh warga yang sudah berkumpul di sini. Desa ini sama sekali tidak menampung penjahat."
Mr. Lockhart tersenyum palsu. "Hoo."
Dolores menghela nafas dengan gestur seperti melihat kelakuan anak nakal, kemudian tersenyum lagi.
Daphne dan Astoria merentangkan tangan.
"Memberikan informasi palsu!"
Pasukan yang mengawal tiba-tiba bergerak maju. Albus dan Severus terkejut bukan main. Tidak ada yang percaya dengan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Tidak akan dimaafkan! !"
Keluarga bermatabat itu membantai tanpa belas kasih.
"AAAAHHHH! !"
Teriakan.
Tangisan.
Ancaman.
Semuanya pecah di pagi yang dingin.
xxx
Apakah itu karena jiwa-jiwa pendendam yang tak tenang?
Hermione Granger (Ark?) menoleh dengan wajah berderai air mata. Lututnya lemas dan gemetar. Buku yang diselamatkan Harry itu didekap erat di dadanya. Ia masih bisa mendengar suara patahan bangunan dan mencium bau asap dari bawah jembatan. Keluarga Ark menyuruhnya untuk lari lurus hingga ia menemukan ujung yang terhubung langsung ke hutan di luar desa. Setelah itu, mereka pergi untuk bergabung dengan warga desa yang ditangkap. Hermione ketakutan dan tak bisa mengeluarkan suara. Tapi, Fleur berkata, "Kami akan baik-baik saja."
Cedric dan Harry serta Theo pun menambahkan, "Jangan khawatir! Cepat pergi!"
Paman Remus memegang erat kedua bahunya. "Kuatkan dirimu, nak."
Sama seperti kedua orangtuanya dulu...
Hermione tercekat. Apa yang sedag ia lakukan? Lari dan bertingkah seperti pengecut? Bukankah buku ini...bukankah buku ini punya kekuatan! ? Dia bisa melakukan sesuatu!
Gadis itu langsung berbalik dan mencari celah di antara jembatan di atas kepalanya yang bisa ia lewati. Hermione pun memanjati batu-bata yang menyusun dinding aliran sungai itu.
Dan membisu.
Apakah itu karena jiwa-jiwa pendendam yang tak tenang? Jari-jari dingin yang meraba punggungnya hingga ia menggigil? Hingga ia harus berbalik dan mendapati tatapan menuduh dari orang-orang yang mati karenanya?
Hermione tidak tahu ia ada dimana. Tapi, ketika ia menuruni bebatuan licin dan timbunan salju, ia melihat banyak darah dan tubuh yang bergelimpangan hingga ia tidak bisa mengenali siapa pun. Kemudian, matanya menangkap seseorang tengah berjalan ke arah tubuh-tubuh yang berserakan dengan gerakan yang tidak seimbang.
Dia mandi darah. Ada luka menganga di punggungnya, namun ia tetap memaksa untuk bangkit.
permata hazel melebar.
"Parkinson!"
Pansy memutar kepalanya dengan gerakan kaku. Matanya terbuka lebar dan air mata menganak sungai di wajahnya.
"Apa.. yang kau la..kukan di sini...Ark?" tanyanya lemah dengan suara parau. "Me...reka datang...dan membunuh...semua...orang..."
Tubuhnya terjatuh ke depan saat Hermione sudah setengah jalan. Gadis berambut coklat itu menangkapnya. Darah hangat yang basah merembes ke bajunya. Pansy lantas menelengkan kepala di bahunya. Menangis seperti anak kecil.
"Ayah..ku..Ark...kakakku...semua..kakakku...mati," suaranya tertahan sebentar, "mer..ka...menyuruhku...lari...t..pi...orang...orang...bersenjata itu mend..patkanku..."
Hermione lagi-lagi membisu seperti patung. Membeku dan kembali di masa lalu. Kematian yang berulang-ulang.
"Ma...ti...keluarga..ku..."
Tubuh Pansy tiba-tiba tidak bertenaga dan Hermione pun duduk merosot ke tanah bersama tubuh itu. Tubuh yang tak lagi memiliki jantung yang berdetak karena kehabisan darah.
Lovegood.
Parkinson.
Ark.
Fleur... Cedric... Harry...Theo...paman Remus...semuanya—
"Hermione Granger."
Tap.
Ketukan sepatu kuda yang berhenti.
Srrkk.
Angin yang menghembus jubah seseorang yang duduk di atas pelana.
Rambut coklat keriting yang nyaris serupa.
Iris hazel bergulir dalam kemurkaan.
Iris hazel lainnya bergelung dalam kepuasan.
"How do you do, —?"
_bersambung_
