Disclaimer: Masashi Kishimoto, kalau fic ini murni punyaku.. !#posesif
Pair : SasufemNaru
Rate : T
Gendre: Romance,Drama, Hurt-comfort.
WARNING:STR AIGT,OOC,GAJE,ABAL,typos ,DLL
.
.
Berbaring lemas ditempat tidur king sizenya, Sasuke termenung gelisah. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, akan tetapi Sasuke tak berniat untuk sekedar mengganti baju seragamnya atau melepas sepatunya. Pemuda itu terlihat kacau dengan penampilannya sekarang. Rupanya, sang bungsu Uchiha itu sedang dalam keadaan yang namanya galau. Sekali lagi, GALAU.
"Outouto? Kenapa belum mengganti pakaianmu? Sekarang waktunya makan malam."
Bahkan kedatangan Itachipun sedikitpun ia tak sadari, sehingga suara Itachi barusan membuatnya sedikit terlonjak kaget. Hampir saja Itachi tertawa ketika melihat reaksi langka adiknya itu. Namun, segera ditahannya karena melihat ekspresi Sasuke yang terlihat kacau dan muram. Ia memutuskan untuk duduk disamping Sasuke.
"Kenapa?" tanyanya sedikit lembut, bagaimanpun sebagai kakak yang sangat menyayangi adiknya, tentu saja Itachi mengkhawatirkan Sasuke. Walaupun setiap harinya ia suka sekali menjahili adiknya itu.
Hening..
Menunggu beberapa menit, tak jua Sasuke mengeluarkan jawaban, bahkan sekedar gumanan atau deathglarenya. Itachi semakin khawatir karenanya.
"Sasuke?"
"..."
Itachi menghela napas panjang. Ia mengerti, mungkin Sasuke butuh waktu sendiri. Ia memilih beranjak dan membiarkan Sasuke menenangkan dirinya sendiri.
Tap!
"Naruto, pergi Aniki."
Itachi berhenti. Berbalik memandang terperangah kearah Sasuke. Saat ini adalah kali pertama ia mendengar adiknya yang arogan itu berkata begitu lirih menanggalkan semua semua keangkuhannya. Amazing! Sasuke adiknya mengadu kepadanya? Apa yang terjadi dengan Sasuke? pikirnya mengkerutkan dahinya sedikit.
Itachi tersenyum kecil, kemudian mendudukan kembali dirinya disamping Sasuke. "Apa maksudmu, Naruto pergi, outouto?" tanyanya dengan hati-hati, tidak mau menghancurkan suasana romantis ini dengan adiknya. Romantis? Oh jangan salah sangka!
Sasuke kemudian bangkit dan mendudukan dirinya. "Hn. Naruto pergi..."
Lalu, Sasukepun menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya kepada Itachi tanpa sungkan, tanpa jaim dan tanpa sifatnya yang arogan, Sasuke mencurahkan semuanya sebagai adik kepada seorang kakak. Dan Itachi tahu bahwa Sasuke benar-benar dalam keadaan yang kacau, karena sifat ini bukanlah sifat Sasuke. Sasuke yang sekarang terlihat rapuh dan aneh diwaktu bersamaan. Sedikitnya membuat Itachi speechless, antara senang dan tak percaya sekaligus.
'Benarkah ini adikku? Ataukah hantu?' batin Itachi eror mulai meragukan adiknya yang saat ini tengah curhat. Jangan salahkan Itachi kalau berpikir begitu, salahkan Sasuke yang bersikap aneh. Oh yeah.. Uchiha Sasuke curhat? Ayolah...
Flashback..
Dengan membawa sebuah penyesalan, setelah Sasuke mendengar semua kebenarannya tadi mengenai Naruto, pemuda itu bergegas pergi untuk menemui kekasihnya untuk meminta maaf. Sepanjang jalan Sasuke terus merutuki Sakura dan dirinya sendiri yang termakan oleh rasa cemburu yang keterlaluan.
Shit! Umpatnya kesal saat ia harus berhenti menyetir ketika lampu merah menyala. Ia sudah tak sabar untuk menemui kekasihnya yang dua hari ini ia begitu rindukan. Semoga Naruto memaafkannya, batinnya berharap.
Tibalah Sasuke dikafe tempat Naruto bekerja, Kafe Hatake. Ia segera memarkirkan mobilnya kemudian menerobos begitu saja kedalam kafe. Mengedarkan pandangannya mencari siluet pirang kekasihnya kesetiap penjuru kafe. Namun, sayangnya hasilnya nihil. Sasuke mulai cemas karenanya. Lantas pemua itupun menanyakan kepada karyawan yang lain, apakah Naruto ada? Barangkali Naruto bersembunyi darinya. Akan tetapi apa yang dia dapatkan?
"Maaf Tuan, hari ini pelayan yang bernama Naruto memang tidak masuk," ucap manajer kafe yang diketahui namanya Iruka setelah Sasuke mengamuk kepada karyawan yang mengatakan Naruto tidak masuk bekerja, tapi dirinya tak percaya sehingga sang manajer turun tangan ketika melihat pekerjanya ketakutan dengan desakan sang Uchiha.
Sasukepun pergi dari kafe dengan membawa perasaan yang semakin memburuk. Setelahnya, ia pun berniat akan menemui Naruto kerumahnya. Akan tetapi, ketika ia hendak pergi ia melihat Hinata sedang berjalan berdua kearah kafe, Sasukepun memutuskan untuk bertanya dulu kepada gadis Hyuuga sahabat Naruto itu.
"Ma-af senpai, tapi tadi saat jam istirahat Na-ru-chan tiba-tiba pergi begitu saja tanpa pamit kepada-ku. Sepertinya ia sedang terburu-buru, ia juga membawa tasnya pulang. Dan ia tak ke-mbali la-gi, a-ku juga menghubunginya tak ada ja-waban," jelas Hinata sedikit tergagap saat Sasuke menanyakan Naruto.
Tak banyak kata lagi, Sasuke langsung saja pergi meninggalkan Hinata dan Kiba yang terbengong begitu saja. Melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata menuju rumah sederhana Naruto.
Tok! Tok! Tok!
Dor! Dor! Dor!
"Naru! Ini aku, buka pintunya!" Ujar pemuda Uchiha itu keras dengan panik menggedor pintu berwarna cokelat rumah Naruto dengan tak sopan ketika dari tadi ia tak mendapatkan jawaban.
"NARUTO! NARU! JAWAB AKU!" teriaknya semakin keras seraya terus menggedor pintu rumah itu dengan semakin keras.
Sasuke mulai putus asa ketika tak ada sahutan didalam sana, sampai-sampai ia berusaha mendobrak pintu rumah itu kalau saja tak ada seorang anak kecil yang memperkenalkan dirinya sebagai Konohamaru menghentikan aksi nekadnya.
"Nii-chan mencari Naru-neechan?" tanya anak kecil itu, "Sayangnya, Naru-neechan tadi siang sudah pergi," lanjutnya lagi membuat Sasuke melotot tak percaya dengan apa yang telah didengarnya barusan.
"Pergi kemana?!" desak Sasuke tak sabar dengan perasaan campur aduk.
Dan dunianya serasa hancur ketika anak kecil itu menjawab pertanyaannya dengan nada sendu yang tak rela. "Aku tidak tahu Nii-chan. Naru-neechan pergi dengan menggunakan mobil bersama paman Minato dan kakek tua kedalam mobil. Aku juga melihat Naru-neechan membawa beberapa koper. Kata ibu, Naru-neechan akan pindah rumah."
Deg!
Tubuh Sasuke menegang, mencelos ketika merasakan perasaan takut kehilangan kekasihnya. Ia tak pernah setakut ini sebelumnya, rasanya begitu berat saat membayangkan Naruto meninggalkannya sendiri. Naruto meninggalkannya?
Kuso!
"Naru..to," bisik Sasuke pahit, dengan perasaan hancur. Kemudian, Sasuke mengambil ponselnya dan menghubungi nomor kekasihnya dengan tangan sedikit bergetar.
Dan?
'Maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.'
"Naruto.. Dimana kau?!"
Flashback end...
"Kau tenang saja Outouto," hibur Itachi setelah mendengar curhatan luar biasa adiknya itu, "aku akan membantumu menemukan Naru-chan," lanjutnya menuai pandangan berharap adiknya dibalik wajah stoic itu.
"Hn," guman Sasuke sebagai balasan.
"Kita adalah seorang Uchiha. Apapun akan menjadi mungkin untuk kita. Aku akan segera menemukannya sebelum pesta ulang tahun Kaa-san besok," kata Itachi berjanji dengan seringai Uchihanya yang angkuh. Untuk sekarang , seringaian yang biasanya terlihat menyebalkan itu, berasa berubah menjadi senyuman malaikat bagi Sasuke.
Lalu?
"Arigato," sahut Sasuke sedikit lebih tenang, ketika Itachi sang kakak yang terkenal jenius dan licik akan membantunya. Ia yakin Itachi akan berusaha membantunya, dan dirinya percaya dengan kemampuan sang kakak yang tidak pernah diragukan lagi. Bukankah sebelum ini dengan mudahnya Itachi mengetahui kekasihnya itu tanpa diberitahunya? Ya Sasuke percaya, karena ia cukup pintar untuk tidak bertindak sendiri. Sasuke sadar kondisi dirinya yang sekarang tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baik, jika ia dalam keadaan tak tenang dan emosi seperti ini.
Ya.. Itu adalah pilihan yang bijak.
.
.
AAAAAA
.
.
Menggeliat cantik dari tidur nyamannya, Naruto mulai mengerjapkan matanya_bangun. Lenguhan kecil terdengar saat Naruto bangkit dari tempat tidur barunya. Merasa aneh saat ia bangun dari tidurnya mendapati ruangan yang besar dan mewah, bukan ruangan sempit yang pengap lagi seperti biasa. Ia sedikti tersenyum karenanya. Jadi, semua ini bukan mimpi ya, batinnya berujar ketika ia masih merasa semua keajaiban yang ia terima adalah sebuah mimpi, bukan kenyataan.
"Jam 6," lirihnya serak membaca jam yang ia lihat. Lantas dengan sedikt malas gadis cantik itu membawa dirinya kekamar mandi bersiap untuk pergi kesekolah.
Setengah jam kemudian Naruto telah siap dengan seragamnya yang rapi, menghampiri ayah dan kakeknya yang telah siap duduk dimeja makan.
"Ohayou, Tou-san, Jii-chan!" sapa Naruto kepada ayah dan kakeknya dengan ceria, membawa kehangatan pagi hari dikediaman barunya.
"Ohayou, Naru-chan!" Kompak Jiraya dan Minato menyahut gadis kecil mereka tak kalah ceria. Minato memandang Naruto dengan tatapan herannya. "Kenapa kau memakai seragam Naru? Kau lupa hari ini adalah ulang tahun Kaa-sanmu?" tanya Minato kepada anaknya seraya menyeruput kopi susunya.
Naruto menepuk dahinya keras, kemudian terkikik pelan. "Naru lupa!" Serunya kelewat semangat, "hari ini kita kemakam Kaa-san kan? Hehe.. Naru mau beli bunga dulu kalau begitu,ttebayo!" lanjutnya menuai gelengan maklum dari ayahnya, sementara Jiraya hanya tersenyum geli.
Pagi itupun sarapan pagi keluarga Namikaze berjalan hangat dan khitmat (?). Membuat Naruto melupakan sesuatu yang penting. Bahwa, dirinya lupa untuk meminta izin kepada pihak sekolahnya untuk tidak masuk. Ia juga melupakan sahabat dan kekasihnya yang mungkin akan khawatir setengah mati karena tidak mendapatkan sedikitpun kabar darinya. Salahkan ponselnya yang tenggelam di kolam ikan kemarin sore.
Ah! Ingatkan Naruto untuk membeli ponsel lagi!
"Ngomong-ngomong, ko gak ada ramen sih?"
"Bahkan setelah 4 tahun tak bertemu, cucuku masih maniak ramen?"
"Pasti,ttebayo! Hehehe~"
Memakai terusan berwarna krem, dengan pita hitam dibagian pinggangnya, Naruto terlihat menawan dengan rambut yang ia kepang menyisi. Membuatnya tersipu, ketika sang ayah dan sang kakek kompak memujinya dengan rentetan kata cantik dan sebangsanya. Penampilannya memang terkesan sederhana, apalagi kaki jenjangnya hanya dibalut sepatu sendal berwarna hitam tanpa hak. Namun, tetap saja penampilan Naruto sekarang terlihat sangat berbeda, karena jika biasanya ia hanya menggunakan jeans dan kaus santai. Ternyata, baju-baju yang sengaja kakeknya belikan untuknya benar-benar cocok dan semakin membuatnya terlihat feminim.
"Ayo kita berangkat!" komando Minato seraya merangkul pundak kecil putri cantiknya.
"Yosh!" Dengan semangat dan senyum cerah akhirnya Naruto berangkat bersama ayahnya kemakam sang Kaa-san.
Selama perjalanan berlangsung, kedua ayah anak itu nampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Akan tetapi, sepertinya mereka sama-sama tengah mengenang masa indah bersama wanita yang begitu mereka cintai, Kushina Uzumaki. Rasanya, baru kemarin Naruto merengek kepada ibunya untuk dibuatkan ramen super jumbo, dan dengan sabarnya wanita cantik itu membuatkannya dengan penuh kasih sayang, membuat Naruto kecil kegirangan. Begitupula Minato, rasanya baru kemarin ia meminta istrinya itu untuk membuatkan Naruto adik baru, dan saat itu Minato masih teringat jelas, Kushina mencubitnya sangat keras tepat diperutnya karena ia mengucapkannya didepan umum.
Minato dan Naruto menghela napas berat bersamaan.
Dunia memang kejam. 3 tahun yang lalu kedua ayah anak itu harus menerima kenyataan bahwa Kushina harus pergi menghadap Kami-sama karena diam-diam selama ini Kushina memendam penyakit mematikannya sendiri, kanker otak.
"Naru, rindu Kaa-san, Tou-san..," lirihnya menahan suaranya agar tidak bergetar karena gadis itu tengah sekuat tenaga menahan tangisnya.
Minato melirik kearah putrinya sebentar sebelum kembali fokus pada kemudinya. "Kaa-sanmu pasti sudah bahagia disurga sana, jangan bersedih! Tersenyumlah untuknya sayang!" ujar Minato seraya tersenyum pahit. Bagaimanapun Minato sangat mencintai Kushina, sampai ketahap ia telah mematrikan dalam hidupnya bahwa takkan ada wanita lain yang berhak mendampingi hidupnya selain Kushina.
'Kushina, tunggulah aku disana. Aku merindukamu, cintaku'. Batinnya penuh kerinduan mencoba terlihat tegar dihadapan sang putri.
Naruto menghapus air matanya segera, ia kemudian tersenyum tulus, begitu tulus teruntuk ibunya seorang disurga sana. "Ayah benar, Kaa-san pasti bahagia disana."
Cengiran khas Namikazepun Minato berikan kepada sang anak. "Yosh! Kita sampai! Ayo turun!"
.
.
AAAAA
.
.
Sasuke hampir gila ketika pergi kekelas Naruto, ia tak mendapati wajah imut kekasihnya disana. Hinata lagi-lagi memberitahunya bahwa Naruto tidak masuk hari ini, bahkan sedikitpun Narutonya tak memberi kabar. Kalau saja ia tak ingat bahwa dirinya seorang Uchiha, saat ini Sasuke akan berteriak frustasi didepan umum. Beruntunglah, ia merupakan keturunan salah satu klan legendaris yang mempunyai pengendalian diri yang baik ketika didepan umum. Menampakan wajah datarnya, Sasuke hanya sedikit mengangguk ketika Hinata memberikannya jawaban. Sehingga, gadis Hyuuga itu tidak tahu apa yang sedang Sasuke pikirkan melihat wajah tanpa emosi pemuda tampan itu.
Ini mimpi buruk! Naruto meninggalkannya? Semuanya benar?
KEMANA KAU NARUTOOOOO?! Teriakan putus asa itu berasal dari sang bungsu Uchiha.
"Sasuke-senpai?" Kiba memanggil Sasuke yang hendak berlalu. Pemuda yang tengah dilanda galau tingkat sekarat (?) itu berbalik malas kepada kouhainya yang maniak anjing itu.
"Hn?"
"Ano.. Didepan sana sepertinya ada orang yang mirip sekali dengan senpai, mencari senpai. Katanya, ia menunggu senpai digerbang!" jelas Kiba seraya mengacungkan jempolnya dan mengarahkannya kebelakang tubuhnya bermaksud memberi penjelasan arah kepada Sasuke.
Menaikan sebelah alisnya bingung Sasuke kemudian mengangguk. Lantas, ia pun segera menemui orang yang sedang mencarinya tersebut yang sudah ia duga adalah kakaknya sendiri, Itachi.
Dan benar saja!
Itachi tampak sedang menyender disamping mobil sport hitamnya, disampingnya Sasuke dapat melihat pemuda lain yang berambut pirang panjang tengah berpose melipat tangannya didepan dada. Deidara? Pikirnya. Dengan segera, Sasuke menghampiri kakaknya tersebut. Ia yakin, Itachi membawa sesuatu yang penting sehingga kakaknya itu mau repot-repot kesekolahnya.
"Kau lama,un!" Deidara langsung menyerang Sasuke dengan tampang cemberut ala Uke-nya, membuat Sasuke memutar matanya bosan. Dan, kekasih anikinya tersebut semakin geram atas reaksi adik iparnya tersebut. "Anak ayam sialan, un!" kesalnya memaki Sasuke, yang sukses melancarkan deathglare legendarisnya.
"Urusai!" timpal Sasuke sengit.
"Kau menghancurkan kencanku dengan Tachi-kun, un! Cepat selesaikan urusan kalian, un!" semburnya lagi tak terpengaruh dengan tatapan tajam Sasuke, karena ia sudah biasa mendapatkannya.
'Pantas saja, makhluk aneh ini sensitif!' pikir Sasuke paham dengan sikap Deidara yang tiba-tiba marah-marah itu.
Itachi hanya medengus malas mendapati adegan sengit SasuDei tersebut. Ia sudah biasa melihatnya. Kadang ia selalu berpikir, kapan mereka bisa akur? Bagaimanapun mereka akan menjadi keluargakan? Pikir Itachi. Ah! Kenapa ia harus memikirkan itu sekarang sih?
"Sasuke, kenapa aku tak bisa menghubungimu?" tanya Itachi datar, menginterupsi adu deathglare adik dan kekasihnya. "Dei-chan, hentikan itu!" lanjutnya menuai wajah cemberut kekasihnya.
Sasuke menoleh dengan wajah heran, kemudian ia meraba-raba saku celananya dan ia tidak mendapati ponselnya disana. Itachi yang melihatnya mendesah, lantas pemuda sulung Uchiha itupun mengangkat tangannya dan memperlihatkan sesuatu kepada adiknya.
"Hn, sudah kuduga. Dari tadi aku menghubungimu tak ada jawaban. See? Kau melupakan benda sepenting ini dikamarmu. "Dengus Itachi tidak habis pikir dengan kecerobohan adiknya. Sasuke hanya ber'Hn' ria saja sebagai jawaban, sedikit malu atas kecerobohannya sendiri. Pantas saja dari tadi ia menunggu kabar Itachi tapi tak kunjung datang, toh bagaimana ia bisa tahu ponselnya saja ketinggalan? Oh my! Sasuke tanpa Naruto sepertinya mulai labil. Lantas iapun segera mengambil smartphonenya dari tangan sang kakak.
"Jadi?" beo Sasuke tidak sabar menantikan kabar dari sang kakak yang telah ia repotkan itu. Lagi-lagi Itachi hanya bisa mendesah melihat kelakuan adiknya yang dingin dan angkuh itu, bahkan kata maaf untuk sang kakakpun tak ia terima.
"Kau pergi saja kealamat ini!" Suruh Itachi kepada adiknya, "itu adalah alamat baru rumah Naru-chan," lanjutnya ketika melihat raut bingung adiknya.
Sasuke tepaku sebentar, sebelum menyambar kertas yang diberikan Itachi padanya dengan cepat. Mengangkat sudut bibirnya keatas, Sasuke tidak menolak saat kakaknya mengacak rambutnya gemas.
"Pergilah Outoto!" Ujar Itachi tersenyum lembut, ia tahu itulah cara Sasuke berterima kasih padanya ketika adiknya itu tak menolak saat ia mengacak rambutnya. Biasanya? Oh.. Mungkin baru disentuh ujung rambutnya saja Sasuke lebih dulu mengelaknya, plus tatapan maut yang ia terima.
Lalu?
Itachipun pergi bersama Deidara, meninggalkan Sasuke yang diam-diam tersenyum lega. Ah! Ia memang tak salah mengandalkan kakaknya itu. Itachi memang hebat.
.
.
AAAAA
.
.
Ino memandang khawatir Sakura yang sedari tadi diam tak mengatakan sepatah katapun, gadis itu sepanjang pelajaran pertama berlangsung hanya menampakan wajah murung. Ino mengerti, sangat mengerti malah. Ketika semua orang memandangnya mencemooh, menyakitkan. Sementara, Sakura adalah gadis yang terbiasa dengan pandangan memuja orang-orang, terkhusus pria. Sekarang? Yang tersisa hanyalah sebuah rasa malu yang teramat.
Uchiha, Sabaku, Hyuuga? Sakura memang terlalu berani untuk bermain api dengan raja Iblis seperti mereka.
Greeekk!
Suara dorongan kursi sedikit menganggetkan Ino. Gadis itu menoleh kearah Sakura yang sepertinya akan beranjak pergi. Ino pun segera mengikutinya, namun niatnya ia urung kan ketika Sakura mencegahnya.
"Aku ingin sendiri," katanya tanpa menoleh kearah Ino, dan pergi begitu saja.
Ah! Sakura benar-benar kena getahnya.
Ino mendesah_ berat. Ia pun kembali duduk dengan khawatir. Hingga, sebuah tepukan pada bahunya mengalihkan gadis itu kepada pemuda yang terkenal jenius. "Shika?"
"Mendokusai.. Aku harus makan. Kau berniat menemaniku?" Kata Shikamaru tersenyum sedikit kepada kekasihnya.
Ino membalas senyuman kekasihnya dengan wajah merona, ketika tangan Shikamaru menggenggam tangannya dengan lembut. "Huum!" gumamnya senang.
'Perasaanku saja atau memang hari ini Shikamaru terlihat lebih tampan?' batinnya terpesona.
Shikamaru memesan Takoyaki sedangkan Ino lebih memilih puding cokelat kesukaannya saat mereka duduk dideretan meja kantin. Menikmati makanan dalam keheningan, hingga perhatian Ino teralihkan pada sepasang pemuda dan gadis yang sedang makan berdua di meja seberang sebelah kirinya.
"Bukankah itu Yukata-senpai dan Gaara-senpai? Apa mereka sepasang kekasih?" tanyanya lebih kepada diri sendiri saat melihat bagaimana Gaara, menerima suapan yang diberi Yukata. Mesra sekali. Rupanya, bukan hanya Ino yang memerhatikannya, seluruh penghuni kantin sepertinya juga mempunyai pemikiran yang sama dengan gadis itu.
Gosip baru nih!
"Lebih baik kau habiskan makananmu dulu, dari pada mengusrusi orang lain seperti itu," ujar Shikamaru membuat kekasihnya itu sedikit cemberut.
"Aku tidak mengusrusi urusan orang lain, nanas! Aku Cuma melihat, adegan langka itu! Ayolah seorang Sabaku Gaara, bermesraan didepan umum? Oh keajaiban apa lagi ini!" sahut Ino seraya memasukan potongan puding dengan gemas.
Shikamaru menyeringai. "Bilang saja, kau iri dengan mereka ya kan?" goda Shikamaru sehingga membuat Ino melotot seraya mencubit pinggang pemuda itu.
"Tidak sama sekali!" pekiknya menyembunyikan rona merahnya dengan wajah kesal. Shikamaru hanya terkekeh menaggapinya, walaupun ada sedikit sisa-sisa linu dipingganggnya akibat sentuhan sang kekasih.
"Ah lihat, ada keajaiban yang lain!" Seru Ino lagi heboh, "Neji berjalan dengan Ten-Ten? Wow!"
.
.
AAAAA
.
.
Tanpa meminta izin kepada wali kelasnya atau memberitahu sahabatnya, Shikamaru, Sasuke segera pergi menuju alamat rumah baru Dobenya. Ia begitu tidak sabar, dan tidak mau menunggu lebih lama lagi. Melajukan mobil sport biru dongkernya dengan kecepatan cepat, bahkan sampai pemuda itu tak menyadari klakson-klakson yang ditujukan untuknya karena terganggu dengan cara mengemudikannya.
Butuh waktu satu setengah jam untuk Sasuke menemukan alamat kediaman sang Namikaze itu. menghentikan mobilnya dibalik pagar yang menjulang tiga meter berwarna keemasan itu.
Dan?
Sasuke terpana dengan apa yang ia lihat sekarang. Setengah tak percaya kemudian ia melihat kembali alamat rumah yang diberikan Itachi. Membandingkannya dengan alamat yang tertera pagar tersebut. Dan? Sama. Bangunan dihadapannya sangat mewah. Sebentar.. Itu rumahnya Naruto?
Tin Tin Tin!
Suara klakson mengalihkan Sasuke, pemuda itupun segera menoleh kebelakang dan mendapati mobil Mercedes berwarna silver yang sepertinya akan memasuki halaman rumah itu, namun terhalang olehnya. Tak lama, jendela mobil itu terbuka menampakan pria tampan berambut pirang tengah tersenyum kearahnya. Sasuke yakin ia begitu familiar dengan wajah itu.
"Hai anak muda! Sedang apa kau disana? Mencari sesuatu?" tanya yang ternyata Minato itu. Sasuke segera tersadar, ia sedikit menganggukan kepalanya.
"Maaf apa benar ini alamat rumah Naruto?" tanya Sasuke begitu sopan. Entah kenapa, biasanya pemuda itu selalu bersikap dingin kepada semua orang itu, ingin bersikap lebih sopan kepada pria yang saat ini sudah berdiri dihadapannya.
Minato mengkerutkan dahinya sedikit saat pemuda yang lumayan tampan_menurutnya, karena ia tak mau kalah tampan_ menanyakan putrinya. Darimana pemuda ini tahu alamat ini? bukankah baru kemarin mereka pindah? Apakah Naruto memberitahukan alamat ini kepada pemuda ini? Jadi, Siapa pemuda ini? Minato bertanya-tanya dalam pikirannya.
"Kamu siapa? Untuk apa mencari putriku?" selidik Minato sedikit memincingkan matanya_ curiga.
Oh! Ini ternyata ini adalah ayahnya Naruto. Berarti calon mertuanya dong? Pantas saja mereka mirip. Untunglah, tadi Sasuke bersikap sopan.
"Sasuke. Uchiha Sasuke. Em.. Ke-Kekasihnya Naruto," jawab Sasuke memperkenalkannya dirinya dan memberitahu Minato bahwa ia kekasih Naruto dengan sedikit gugup, namun berani.
What the?
Minato terbelalak mendengarnya. 'Ke-kekasih Naru-chan?! Anak itu tidak pernah memberi tahuku! Awaskau Naru-chan!' batin Minato kesal karena Naruto merahasiakan hal sepenting ini. Lantas iapun memperhatikan Sasuke dari atas kebawah berulang-ulang, sedikit mempuat Sasuke risih karenanya. 'Pilihan yang bagus. Uchiha ya? Tampan dan sepertinya lumayan baik'. Nilai Minato kepada Sasuke. Lantas, ayah Naruto itupun mengangguk seraya tersenyum ramah. Sepertinya, Sasuke berhasil mendapatkan restu dari ayah sang kekasih. Dan Sasuke yang tidak menerima gelagat penolakan dari sang camerpun ikut tersenyum, tersenyum lega.
"Naru-chan, tadi tidak ikut pulang setelah mengunjungi makam ibunya. Katanya ia akan pergi kesuatu tempat dulu," Minato menjelaskan kepada Sasuke. "Mau menunggu didalam?" tawarnya ramah kepada calon menantu yang sempurna itu.
"Hn, Terimakasih paman. Apakah paman tahu, kemana Naruto pergi?" tanya Sasuke setelah menggeleng halus menolak ajakan Minato.
"Hmmm," gumam Minato berpikir, kemudian menggeleng, "Naru-chan tidak menyebutkan ia mau kemana, tetapi ia bilang akan pergi kesuatu tempat yang indah," jelasnya.
"Hn, baiklah. Aku permisi paman," pamit Sasuke benar-benar membuat Minato terkesan dengan sikap sopannya. Minato hanya mengangguk sebagai balasan.
Sasukepun hendak memasuki mobilnya, tapi..
"Tunggu!" seru Minato membatalkan niatnya, kemudian sang Uchiha pun menoleh kearahnya.
"Setelah kau menemui Naru-chan. Segera bawa pulang kemari, bersamamu!"
Sasuke mengangguk, namun ia sedikit mendapati kejanggalan dengan senyuman aneh sang calon mertua. Iapun memasuki mobil, dan segera mencari dimana Naruto, tanpa memikirkan lebih jauh mengenai kejanggalan itu.
Sepertinya, Sasuke tidak tahu ya, kalau ayah dari kekasihnya itu mempunyai sifat overprotektif?
...
Naruto duduk disebuah bangku kayu ditaman Konoha. Ini adalah tempat kenangannya bersama Sasuke. Ditempat ini, Sasuke menyatakan cintanya, ditempat ini juga ia dulu resmi menjadi kekasih dari sang Uchiha bungsu itu. Gadis itu termenung dengan kenangan manisnya dengan sang kekasih.
Apa kabarnya Sasuke?
Apakah Sasuke masih marah?
"Apa Yukata-nee sudah melakukannya? Apakah Sasuke sudah memaafkanku? Haah.." tanya gadis itu entah kepada siapa seraya mendesah. Lantas, gadis itu menyenderkan tubuhnya pada bangku itu, sedikit merileksan tubuhnya seraya memandang danau buatan didepannya.
"Aku merindukanmu, Teme..,"
.
.
"Aku juga merindukanmu, Dobe.."
Deg!
Tubuh Naruto menegang saat ada tangan kekar memeluk pundaknya dari belakang. Secepat kilat ia berbalik kebelakang. Dengan pandangan tebelalak dan tak percaya Naruto memandang wajah tersenyum kekasihnya.
"Sa-suke..?"
.
.
Tbc..
Huuuft! Selesai juga.. Haduh, kirain ga bisa nepatin janji. Hehe.. Apdet dalam 4 hari kan? Errr.. apa lima hari ya?
Ah masa bodo! Yang penting Kira tepatin janji.. nyehehe...
HOREE! AKHIRNYA, 1 CHAP LAGI FIC INI AKAN TAMAT! #Nari Uler (Readers tepar)
Gimana nih? Kesel ya ma chap ini yang menggantung? Sengaja ko.. #ditabok
Uuh! Yang penting Endingnya aja ya kagak gantung. Nyehehe..
Oia, gimana nih ultah jeng Mikoto entar? Pastilah reader juga bisa nyimpulin tuh gimana akhirnya.
Kenapa gak ketemu aja pas dipesta aja sih biar greget gitu ya? Sasuke galau, trus tiba-tiba Naru dateng di pesta barang Minato or Jiraya. Dan blablabla... (Sebenernya Ini untuk jawab pertanyaan Akira) err.. kaya manggil sendiri.. -_-
Ah.. Gomen.. Sepertinya itu terlalu sinetronisme.. khukhukhu.. Rasanya umum sekali.. Dari pada begitu, mending bikin alur yang sedikit berbeda. Nyehehe.. Yaah.. Walaupun gak keren sih.. #mewek
Ah.. Udah deh capcusnya, mendingan entar liat aja deh chapter endingnya.. Mudah-mudahan si Kira bisa apdet cepet! Amin!
Balas singkat review:
SasuNaru bakal damai? Pasti dongs! Heheh..
Naru rubah menampilan ga? Err.. menurut reader gimana? :3
Sakura kena batunya tuh? Huum.. pastinya, coz yang jahat kudu dapet ganjaran. Kagak boleh enak sendiri..
Sasu disiksa ya? Dikit, hehe.. Die dibikin rada galau.. Noh diatas jawabannya. #nunjuk Fic
Happy endingkan? Yang pasti kagak ada sad ending disini.. kalo garing ending mungkin iya.. #ragu.. Liat entar deh.. nyehehe..#ketawaCanggung
Untuk Aicinta dan Nabila.. Baiklah.. Kira akan bikinin requestan kalian.. ^^, ditunggu aja key?
Spesial thanks to:
Naru si Ichi, narunaru, Hina chan, Aicinta, Guest1, kiha, Sasu-chan si Uke Naru, yuto, devilojoshi, Dee chan- tik, Miyamoto Arufina, Arum Junnie, Earl Louisia vi Duivel, Nabila Chan BTL, , Akira No Sikhigawa, hanazawa kay, Hanako-chan45, Kazehaya Naozumi Laurenfrost, fajar jabrik, AkemyYamato, kirei-neko, Uzumaki prince Dobe-Nii.
Peluk reader n silent reader atu-atu..
Makasih!
Jangan lupa reviewnya!
Jaa ne! ^^, selamat jumpa in End chapter!
