BABY SCANDAL
Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
"Chanyeol dan Baekhyun berada dalam garis yang berbeda. Tapi satu saat, garis itu bersinggungan, dan bayi itu hadir, menjadi skandal besar, dan awal segalanya."
.
Chapter 7
.
Kamis, Chanyeol sudah melihat jadwalnya untuk ke sekian puluh kali sehingga ia yakin bahwa hari inilah syuting variety shownya bersama FSGarden akan kembali dilakukan. Untuk pertama kalinya, setelah tadi malam, ia mengalami fase tidur paling nyenyak setelah sekian lama. Untuk pertama kalinya, setelah ia bangun tidur, ia merasa bersemangat. Pertama kalinya ia ingin cepat-cepat selesai mandi dan berpakaian. Pertama kalinya ia benar-benar bisa menyenangi variety show ini. Tanpa tekanan. Tanpa rasa bersalah yang membuatnya berharap memiliki cincin Mordor seperti dalam Lord of The Ring yang memungkinkannya menghilang setiap waktu.
"Ada apa denganmu, Chanyeol-ah?" Jongin mengerutkan alis sewaktu mereka bermobil menuju lokasi syuting. Kebetulan, hari itu Jongin duduk di tengah, di antara Chanyeol dan Zitao.
Chanyeol hanya menoleh dan memasang tampang sok tidak tahu senatural mungkin, sambil otaknya berpikir keras untuk menemukan solusi bagaimana agar ia tidak tampak salah tingkah.
"Kemarin-kemarin kau tampak aneh, hyung" ujar Jongin lagi. "Kemarin-kemarin kau seperti orang linglung kebanyakan hutang. Tapi hari ini... kau lebih aneh. Kau tersenyum-senyum sendiri dari tadi."
Zitao mengangguk-angguk membenarkan, dan yang lain menjadi tertarik.
"A-anniya," tampik Chanyeol. Ah, ternyata ia begitu jelas?!
"Ah, itu benar!" Lay menimpali dengan semangat bicaranya yang, seperti biasa, menggebu-gebu. "Syuting sebelumnya wajahmu menunjukkan seolah ada seseorang yang akan membunuhmu di lokasi syuting. Aneh sekali, sebenarnya. Aku mau tanya soal itu, tapi selalu lupa. Tapi kenapa hari ini kau berubah?! Kemarin kau makan apa, huh?!"
"Woaaah, jangan-jangan ada yang kau sembunyikan, Chanyeol-ah?" Kris bahkan ikut antusias. Dan pertanyaannya jelas menusuk Chanyeol dengan begitu tepatnya.
"A-aku," Chanyeol meneguk ludah, berusaha memeras otak guna memikirkan jawaban terbaik untuk menyanggah semua tudingan para member. "Tidak! Mana mungkin aku seperti itu," tawanya, sumbang, aneh. Member lain justru semakin menaruh tatapan prasangka padanya.
"Aissh, sudahlah. Bisakah kalian tidak berisik sebentar saja? Aku sedang tidak dalam mood menyukai sesuatu yang ramai hari ini." Interupsi Sehun mendiamkan semuanya, si maknae itu menutup wajahnya kembali dengan topi dan seperti yang para fans bilang, maknae on top, tentu saja tidak ada yang berani mengusik Oh Sehun setelahnya. Dan secara tidak langsung, hal itu menyelamatkan kelangsungan hidup Chanyeol.
"Lagipula kalau memang Chanyeol menyembunyikan sesuatu, lama-lama kebenarannya juga akan terungkap. Tidak ada bangkai yang bisa disembunyikan," gumam Sehun lagi di balik topi, memadamkan segala harapan Chanyeol.
'ㅅ'
"Hari ini kita akan kedatangan bintang tamu lagi!" kata Seunggi. Jaesuk mengangguk. "Hari ini kita akan bertabur bintang tamu yang... kami berjanji, akan membuat kalian tidak bisa diam."
"Kira-kira siapa?" tanya Jaesuk. Jelas berusaha menggoda para member Sixey dan FSGarden yang berbisik-bisik penasaran. Bertanya-tanya apakah mereka kedatangan idol lagi? Siapa?
"Baiklah, kita hitung satu sampai tiga," kata Jaesuk, "dan kita sambut sama-sama..."
Bisa dibilang, semua orang menahan napas detik itu, ketika pintu di kamar mandi yang terletak persis di samping ruang tamu terbuka. Setiap kepala berspekulasi, ada yang dengan wajar, seperti Sehun dan Zitao yang saling berbisik, yang tidak terlalu menaruh perhatian, semacam Luhan dan utamanya Kyungsoo, sampai yang memiliki semangat membara.
Kuharap ini adalah SISTAR, atau SNSD, atau A-PINK. Oh, siapapun lah, asalkan mereka cantik. Hati Lay berharap-harap cemas, pikiran serupa bisa terbaca di benak Jongin yang memasang tampang polos dengan mulut sedikit terbuka meihat ke tirai.
Junmyeon (mungkin satu-satunya yang) bersemangat sekali menanti Seo In Guk atau pria-pria tampan semacamnya. Oh, So Ji Sub juga tidak apa-apa. Bahkan cowok-cowok imut semacam idol rookie seperti Daniel dan Guanlin juga tidak masalah sama sekali!
Namun semua orang, tidak pernah memikirkan kemungkinan tamu yang satu ini. FSGarden dan Sixey sama-sama melongo sesaat sebelum tertawa menyambut tamu mereka. Anak-anak kecil berumur rata-rata balita itu berlarian keluar pada mereka, tidak hanya satu-dua anak, tapi totalnya sembilan. Ada sembilan anak balita, laki-laki dan perempuan tanpa orang tua.
"Apa maksudnya ini?" tanya Kyungsoo, ia berhasil menunjukkan wajah bingung meski dengan tampang datarnya.
"Iya, kenapa ada banyak sekali anak-anak?" Kris menimpali.
Seketika komentar-komentar meluncur, dan kebanyakan adalah komentar positif semacam "betapa lucunya," dan "imutnyaaa...".
Ada tiga lingkaran besar hulahup dengan berbagai warna; pink, biru dan kuning di tengah-tengah ruangan. Seunggi membawa anak-anak itu bersamanya di sisi kiri ruangan sementara Jaesuk maju untuk memberikan aba-aba. Anak-anak itu diminta untuk berdiri di lingkaran hulahup yang diinginkannya. Setiap hulahup hanya muat untuk tiga orang, jadi yang tidak mendapat tempat harus pindah ke tempat yang kosong sehingga didapatkan tiga anak di setiap hulahup.
"Kalian pasti sudah bisa menebak misi kali ini," kata Yoo Jaesuk di tengah anak-anak yang berteriak ribut dan gumam setiap anggota. "Kita memiliki sembilan orang anak yang sudah terbagi menjadi tiga kelompok; kuning untuk kelompok kuning, pink untuk kelompok merah, dan biru untuk kelompok biru. Selama beberapa jam selanjutnya, kalian akan mengurus anak-anak ini. Kelompok yang mengerjakan tugas paling baik dan paling disenangi anak-anak ini adalah pemenangnya. Dan yang kalah...," Jaesuk melirik Seunggi yang segera menyambung ucapannya. "Untuk tim yang kalah, kami juga telah menyediakan popok ukuran dewasa dan dot besar. Kalian semua harus bersiap-siap karena di akhir acara akan ada salah satu tim yang akan mengenakannya dan naik bus ke Apgujeong untuk membeli susu dan popok lebih banyak."
"APA?!" Hampir semuanya terkesiap. Popok dan dot? Yang benar saja! Bahkan orang gila tidak akan memakainya. Lama-lama acara ini makin dirasa menyeramkan saja. Semua orang membulatkan tekad untuk menang. Terutama ketika Seunggi mengiming-imingi mereka.
"Oh ya. Akan ada keuntungan besar untuk pemenangnya nanti."
Jaesuk menimpali. "Keuntungan yang sangat besar. Yaitu waktu tambahan untuk misi berikutnya, dan—" ia melemparkannya pada Seunggi.
"Dan kelompok yang menang bisa menukar salah satu anggota timnya dengan anggota tim yang lain."
Semua orang, secara otomatis menyorakkan 'woaaa' dan bertepuk tangan.
"Berarti aku bisa menukar anak tidak berguna ini?" kata Jongin dengan nada candaan, menunjuk persis ke hidung Luhan, gadis itu mendelik marah padanya.
"Yak! Siapa yang kau sebut tidak berguna?" tawa Yoo Jaesuk. "Kau bisa menukarnya, tapi kau harus menang dulu."
"—awas saja kalau kau berniat menukarku," Jongin berbisik pada Sehun di sela kedua MC yang mencoba menjelaskan misi mereka seolah ia dapat membaca pikiran pria itu.
"Nah, kajja, kita masuk ke tugas pertama!" kata Seunggi sambil tidak bisa menahan senyumnya. "Tugas pertama kalian adalah—"
Di saat bersamaan segera beberapa orang berlari terburu-buru ke tengah ruangan dan menumpuk beberapa selimut tebal di sana.
"—Bayi-bayi ini suka ngompol," kata Seunggi lagi. "Tugas kalian adalah membersihkan selimut-selimut kotor ini, dan harus kering sebelum mereka semua pergi tidur siang."
"Mwo?" Lay menyela. "Tapi itu kan artinya kita hanya punya beberapa jam sebelum tidur siang? dan selimut itu tebal-tebal."
"Itu tugas kalian," Jaesuk menjawab. "Bagaimanapun caranya, selimut itu harus kering sebelum jam satu siang, saat anak-anak pergi tidur."
"Ne. Tugas pertama, mencuci selimut," Seunggi menambahkan dan Jaesuk segera bergabung, di antara gumam protes para peserta Home sweet Home, bersamaan mereka meneriakkan, "DIMULAI!"
Lalu terdengar bunyi alarm yang keras yang menghitung mundur lima jam lamanya, waktu akan berakhir sekitar pukul satu siang. Masing-masing kelompok segera bekerja sama mengangkut selimut bagian mereka sambil mencari masing-masing tempat mencuci yang telah di sediakan dengan lambang HSH, dan letak mereka cukup tersembunyi itu, beberapa saat sebelum setiap tim memutuskan mengirim satu utusan. Kedua MC juga sudah menerangkan bahwa di masing-masing tempat, nantinya akan ada satu pancuran air, dua buah baskom besar, dan deterjen, namun tidak ada jemuran.
"Jaesuk hyung!" Jongin mengangkat tangannya ingin bertanya, seolah ia sedang berada di sekolah.
Yoo Jaesuk mendekat. "Ya?"
"Di sini tidak ada jemuran, bagaimana kami akan menjemurnya?"
Pertanyaan yang kemudian disadari semua orang.
"Itulah tantangannya. Kalian harus berlomba lebih dulu mencari tempat mencuci dan mencuci secepat mungkin hingga bersih agar bisa segera menjalankan tugas berikutnya yaitu mencari tempat terbaik untuk menjemur. Kalian harus berebut tempat untuk menjemur karena tidak banyak yang tersedia."
"Apa?" Kris dan Jongin terperanjat bersamaan, Chanyeol hanya memasang tampang bodoh.
"Jadi cepatlah!"
Detik itu juga terjadi kepanikan besar. Para peserta berlari ke sana kemari, berbaur dengana anak-anak yang juga berlarian bersama teman-temannya, mengejar bola-bola mainan dan entah apa lagi. Ada bahan tertawaan ketika Lay tidak sengaja menginjak salah satu bola mainan dan tergelincir, jatuh berdebam di lantai dengan tidak elitnya hingga membuat seluruh kru terbahak. Sialnya lagi, adegan itu sempat terekam kamera sehingga hampir bisa dipastikan akan ada ekslusif tayangan itu di tivi nantinya, dengan efek slow motion yang super dramatis. Ada juga ketika seorang anak berusia tiga tahun di kelompok Jongin, Zitao, Luhan dan Sehun merengek ingin buang air besar. Masalahnya tidak ada satupun yang tahu cara mengurus balita di kelompok itu, bahkan tidak juga satu-satunya anggota perempuan, Luhan yang lebih suka menyebut dirinya manly. Maka dengan alasan bahwa ia sedang sangat sibuk mencuci dan tidak ingin konsentrasi mencucinya pecah, Luhan menolak mentah-mentah ide mengurus anak itu dan dengan kurang ajar melimpahkan semuanya pada Jongin, begitu pun dengan Sehun yang dari awal tidak tampak begitu bersahabat pada Jongin—mereka mungkin bertengkar lagi semalam, bahkan Zitao yang tampak paling tidak sibuk (pekerjaan Zitao dari tadi hanya menonton air bersih mengalir dari keran saja) juga menyerahkannya pada Jongin. Keempat orang itu melakukan gunting-batu-kertas dan segala macam cara untuk saling melemparkan beban. Namun pada akhirnya mereka melakukannya bersama-sama, meskipun paling banyak Jongin yang terpaksa bekerja. Mereka melakukannya dengan benar, untungnya, walau tidak bisa mencegah diri memperlihatkan tampak jijik luar biasa saat kamera merekamnya.
'ㅅ'
Kelompok merah menemukan pancuran air berlabel acara Home Sweet Home di luar gedung apartemen mereka, sekitar sepuluh meter jauhnya. Cuaca di luar cukup dingin kala itu, dan sedikit berangin, membuat Baekhyun harus merapatkan selimut-selimut dalam pelukannya agar lebih hangat. Chanyeol mengekor di belakangnya tanpa suara, sementara Lay kelelahan sendiri membawa ember-ember yang berhasil mereka rebut dari kelompok kuning.
"Yak! Kau tidak membantu hyung sama sekali?!" Omel Lay padanya.
Segera, Chanyeol mengambil ember-ember itu dan berlari mendahului Baekhyun. Ia mengelarkan ember-ember bersusun menghadap satu-satunya pancuran air di sana sebelum membantu Baekhyun menumpuk cucian di salah satu baskom. Chanyeol merasa bodoh karena tidak tahu harus melakukan apa, ia tidak pernah mencuci sebelumnya. Akhirnya ketika Baekhyun mulai menginjak-injak selimut di baskom, Chanyeol bergerak.
"Biar aku yang melakukannya, kau keluarlah." Ada kepanikan dalam suaranya.
"Tidak apa. Aku saja."
Chanyeol tidak beranjak pergi. Justru, ia segera masuk ke baskom besar itu, mengambil celah dan merapatkan diri bersama Baekhyun di dalam sana. Gadis itu membiarkan Chanyeol sambil menatap cucian-cucian di bawah kakinya, menyembunyikan senyum aneh dan semburat di pipinya. Ia terlalu fokus mencuci, atau sebenarnya, menyibukkan diri sampai-sampai nyaris terpeleset oleh kakinya sendiri. Untungnya, Chanyeol ada di sana, memegangi lengannya dan menahannya dalam posisi itu dalam waktu yang sedikit lebih panjang dari yang diperlukan.
"Hati-hati. Kau harus menjaga dirimu dan bayi ki—"
"Hei, apa yang kalian lakukan?!" sela Lay. Membuat kedua orang itu kaget dan refleks saling menjauhkan diri.
"Anni," Chanyeol memutar otak, mencoba memikirkan satu alasan masuk akal. "Aku... tidak tahu cara mencuci selimut yang benar."
Lay memukul kepalanya dan mencibir. "Memangnya apa yang kau tahu dengan benar? Memasak ramen saja sudah membuat kami keracunan!"
"Hyung!"
"Apa?!" Lay menatapnya galak. "Cepat selesaikan saja pekerjaanmu agar kita bisa menang dan aku bisa menukarmu dengan Kim Junmyeon!"
"HYUNG!"
'ㅅ'
"Oppa."
Lay barusaja naik ke atap bangunan dengan keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Ia segera menaruh bak cucian di lantai dan meluruskan tubuh. Rasanya tulang punggungnya akan patah membawa satu baskom penuh selimut-selimut berat itu. Chanyeol benar-benar tidak bisa di andalkan, anak itu meminta istirahat sebentar karena sudah kelelahan setelah mencari dan menemukan tempat jemuran tersembunyi ini. Ia berjanji akan membawa baskom kedua berisi selimut-selimut lainnya segera setelah sepuluh menit. Entahlah. Anak itu memang payah karena pekerjaannya hanya bermain game saja.
Tadinya sampai di atap sudah membuat semangatnya kembali. Setidaknya, tangga yang menyiksa sudah ia lalui dan hanya tinggal menjemur saja. Namun sekarang ia harus menerima fakta pahit bahwa jemuran yang susah payah ia dapatkan itu sudah dikuasai oleh Kyungsoo. Tidak banyak tempat tersisa. Dan gadis itu sekarang hanya perlu menjemur selimut terakhirnya dan kelompoknya akan menang. Astaga, padahal ia sudah benar-benar berusaha keras sejak tadi!
"Oppa!" serunya lagi, sekarang berlari menuju Lay, meninggalkan jemurannya.
"Haaah. Aku sudah tahu kalian akan menang. Biarkan aku istirahat sebentar," ujar Lay seraya duduk berselonjor di lantai. Pasrah.
"Belum," jawab Kyungsoo. Sekarang ia mengulurkan tangannya untuk Lay dan melirik VJ yang tidak bosan-bosannya mengikuti mereka. "Masih ada sisa tempat. Kau bisa menjemur selimutmu di ruang kosong di sampingku."
Kyungsoo berjongkok di samping Lay, sengaja mendekatkan diri saat ia berbisik dalam suara rendah. "Oppa, apa kau ingin menang? Aku bisa membantumu dengan satu syarat."
"A..apa itu?"
Kyungsoo tersenyum miring.
'ㅅ'
A/N: I feel bad, like really. Tadinya aku post cerita ini karena sayang, kan. Udah aku edit dan sekian lama terpendam di laptop nggak ada yang baca. Tapi ternyata, ya begitulah. FFnya cringe banget. Dan aku nggak punya waktu buat edit banyak-banyak.
Tapi, aku akan tetep post sampai akhir! Semoga ini cukup menghibur untuk kalian ya. Kritik dan saran selalu diharapkan.
Komentarnya! Kalian ceritanya jadi pemirsa abis nontonin episode kali ini ya, wkwk
Selamat hari libur!
