"Jadi sebagai gantinya, aku ingin kau menjadi milikku" ucapnya serius."B-bukankah aku memang milik-"

"Bukan itu-" Kris membawa wajahnya mendekat kembali "Kau pasti tau yang ku maksud Baek" mencium sekali telinga si mungil.Baekhyun, sebenarnya ia tahu dengan jelas arah pembicaraan kekasihnya.

Baekhyun paham sepenuhnya, hanya saja yang menjadi masalah adalah karena ia telah menikah saat ini.

Jika ia melakukannya dengan Kris bukankah itu berarti ia menghianati pernikahannya.Ia akan menghianati Chanyeol. Suaminya pasti akan kecewa padanya. Ia belum siap menerima perubahan sikap Chanyeol jika suaminya itu tahu apa yang ia dan Kris lakukan.

'Baekhyun bodoh! Kau fikir Chanyeol akan peduli? Dan apakah kau fikir suamimu itu tidak pernah melakukannya dengan Luhan?!'

DEG

Benar.Chanyeol mana mungkin akan peduli padanya.D-Dan mereka pasti pernah melakukannya. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari sepasang kekasih yang saling jatuh cinta dalam ruangan yang sama dalam jangka waktu lama.

Tidak ada yang bisa diharapkan.Kau hanya memikirkan hal yang sia-sia Baekhyun.

"Baek-" Kris memanggil, menarik Baekhyun sepenuhnya dari lamunan.

"Jadi?" .

.

.

.

.

.

SEMBILAN

.

.

.

.

.

.

"Oke!"

Pemuda dengan kulit pucat itu tersenyum puas saat minuman dengan warna biru berhasil ia racik dengan sempurna. Selanjutnya menyerahkan kepada seorang pelayan yang dari beberapa saat lalu telah menunggu.

"Jadi, apa yang membawamu kemari setelah sekian lama, Tuan Park" kedua mata tajamnya menatap lurus. Rahang dengan pahatan sempurna itu ia tumpukan pada sebelah telapak tangan. Menunggu jawaban dari orang beberapa tahun lebih tua darinya.

TAK!

Gelas kaca dengan permukaan meja beradu. Bibirnya mendesis saat cairan alkohol melewati tenggorokannya. Serasa seperti terbakar tetapi tetap membuat ketagihan.

"Berlebihan!" jawaban singkatlah yang keluar dari mulutnya.

Ck!

Pemuda berkulit pucat tadi –Sehun berdecak sebal. Memandang malas orang yang selama ini ia anggap sebagai Hyung.

"Biar ku tebak. Pasti masalah rumah tangga" ucapnya santai. Mengambil sebuah kursi dengan bentuk bundar dengan perpaduan warna cokelat-hitam gelap lalu menariknya mendekat ke arah meja bar.

"Daripada bartender kau lebih cocok menjadi cenayang sekarang" ucap yang lebih tua.

"Eits! Jangan salah, aku sudah naik level. Aku bos di sini asal kau tahu Hyung" ucapnya bangga.

Di tempatnya Chanyeol mengerutkan alis "Bos?"

"Hmm! Aku telah membeli tempat ini"

"Apa ayahmu tahu?"

"Tentu saja tidak!"

Gila! Hanya itu yang ada dalam pikiran Chanyeol saat ini.

Namanya Oh Sehun. Anak kedua dari pemilik Wind Group, perusahaan yang terkenal teknologi yang dikembangkannya dengan sektor perdagangan terbesar di China. Perusahaan yang sukses apalagi beberapa tahun terakhir anak pertama Wind Group ikut turun tangan, membuat perusahaan itu semakin berjaya.

Tapi lihatlah anak keduanya, bekerja di bar.

Chanyeol menggeleng tidak habis pikir.

Ini bukan seperti keluarga Oh yang tidak menganggap Sehun, tidak! bukan seperti itu. Justru sebaliknya, keluarga Oh menaruh harapan besar pada anak itu hanya saja Sehun benar-benar bebal. Lihatlah diusianya yang menginjak ke dua puluh empat anak itu masih saja tidak serius dalam hidupnya.

Membeli bar? Ia yakin jika Tuan Oh tahu Sehun hanya akan menjadi potongan daging saat ia bertemu lagi dengannya.

Bagaimana ia bisa berfikir demikian? Ya, karena ia sangat mengenal Sehun.

Dulu sebelum ia pindah ke rumah yang ia tempati sekarang Sehun adalah tetangganya. Keluarga Oh pindah saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pertama kali melihat Sehun yang ada dalam pikirannya adalah bahwa anak itu polos dan penurut.

Tetapi pikiran itu segera tergantikan saat melihat sendiri bagaimana Sehun memecahkan kaca rumahnya dengan sengaja hanya karena sang ayah lupa membelikan apa yang dia inginkan.

Ia tidak ingat jelas apa itu, yang jelas dari sana ia tahu bahwa Sehun anak yang bebal.

"Yah! Jangan melamun! Kalau kau kerasukan aku tidak tanggung jawab"

Chanyeol memutar bola matanya malas "Bukankah paman Oh menyuruhmu mulai bekerja di kantornya? Kenapa justru membeli bar?"

"Kenapa yaaa, mungkin karena aku ingin" jawabnya tidak serius.

"Kau akan mati jika dia tau!"

"Makanya Hyung jangan memberi tahu Appa!"

Chanyeol menggeleng pelan lalu meneguk sekali wine miliknya "Kapan kau akan berubah, kau sudah bukan anak kecil lagi"

"Ya ya ya aku tahu tuan dewasa. Sudah jangan mengurusiku! Lebih baik jawab pertanyaanku yang tadi, apa yang membawamu kemari?"

"Bukankah aku memang sering datang ke sini?" Chanyeol menjawabnya dengan pertanyaan pula.

"Ya, tapi itu dulu sebelum kau menikah"

Chanyeol tidak mengelak. Benar apa yang Sehun katakan, semenjak ia menikah ia tidak pernah ke bar lagi. Padahal dulu ia sering datang dan Sehun yang akan menjadi temannya, entah itu karena ada masalah atau hanya sekedar bersenang-senang saja. Dan bar yang sekarang di beli Sehun adalah tempat favorit mereka berdua.

Tetapi semenjak ia menikah ia tidak pernah melakukannya lagi. Tentu saja! Itu karena ada orang yang selalu menunggunya di rumah. Ia tidak bisa seenaknya, ia harus menjaga perasaan Baekhyun.

"Jadi ini karena siapa? Is-Suamimu atau Kekasihmu?" anak itu menginterogasi.

Selain ia dan Baekhyun, Sehun adalah orang lain yang mengetahui masalah ini.

Chanyeol menghembuskan nafas panjang "Kami bertengkar dan dia pergi dari rumah" mata bulatnya menutup. Ingatannya terlempar kembali saat pertengkaran terakhir mereka.

"Jadi karena suamimu" Sehun menyimpulkan "Kalau dia pergi ya tinggal ajak dia kembali"

Chanyeol mendengus kasar. Jika semudah itu ia dan Baekhyun sudah berpelukan mesra atau bahkan melakukan sesuatu yang panas .

"Jika aku bisa akan aku lakukan"

Sehun memajukan tubuhnya "Kenapa tidak bisa?" kentara sekali jika anak itu sangat penasaran.

Yang lebih tua mendengus lagi. Ujung-ujungnya ia harus bercerita kepada Sehun.

"Sebelum ini aku telah mengikatnya. Berusaha semampuku agar dia bisa menerimaku tapi sepertinya itu tidak berhasil. Dan aku bisa apa? Aku tidak mungkin memaksanya, lagi" jelasnya.

Sehun menarik tubuhnya kembali, mimik wajahnya serius "Biar ku tebak lagi, ini pasti karena masalah hati. Salah satu dari kalian pasti cemburu dan BAM!! Kalian bertengkar" kedua tangannya ia lipat di dada lalu punggung lebarnya ia nyamankan pada kursi.

Sedangkan di tempatnya Chanyeol menatap tak percaya. Sehun benar-benar sudah menjadi cenayang sepertinya.

Tapi selanjutnya ia hanya mengedikkan bahu acuh sebagai jawaban.

"Salahmu juga Hyung. Sudah tahu menikah tetapi masih saja berhubungan dengan kekasihmu" katanya sok bijak.

Chanyeol tersenyum miring. Benar juga, tapi mau bagaimana lagi.

TAK!!

Keduanya sontak menoleh saat seorang pelayan meletakkan nampan dengan gelas-gelas kosong di atasnya dengan kasar.

"Sial sekali!! Orang tua mesum, sudah meremas-remas pantatku seenaknya tetapi tidak memberi tip sama sekali. Dasar pelit!" ucapnya bersungut-sungut. Pakaian pelayannya terlihat berantakan dan wajahnya memerah marah.

"Yah! Tao, kau bisa memecahkannya!" Sehun berkacak pinggang "Kau mau membuatku rugi? Sudah bagus aku memaafkanmu karena kau cuti tanpa ijin dan sekarang sudah berbuat ulah. Mau ku pecat?" acamnya.

Yang dipanggil Tao tadi sontak melebarkan matanya "S-Sehun Hyung? K-kau di sini?"

"Tentu saja. Kau ini buta atau apa?!"

"Yah maaf! Tempat ini sedikit gelap wajar saja kalau aku tidak melihatmu" Tao membela diri.

"Ck, ternyata begini kerjamu, kau tidak serius. Katakan saja kalau kau sudah bosan berkerja di sini?!"

"B-bukan seperti itu" ucapnya gagap "A-aku hanya kesal. Orang tua tadi tidak memberikan uang sama sekali padahal dia sudah meremas pantatku. Aku tentu tidak terima, itu pelecehan namanya"

"Pelecehan heh?"

"Iya!" Tao mengangguk semangat.

Chanyeol yang berada diantara keduanya hanya menjadi penonton. Ia tidak tahu letak permasalahannya dan selain itu ia juga tidak mau ikut campur.

"Bukankah itu yang biasa kau lakukan, kenapa baru sekarang kau mengatakan pelecehan?" tanya Sehun tanpa minat. Ia tahu Tao sering membiarkan orang lain menyentuh tubuhnya walaupun sebenarnya tidak sampai tahap serius. Ia juga sudah melarang berkali-kali tapi anak itu memang dasarnya keras kepala dan berakhir ia yang menghela nafas lelah.

Pernah sekali ia bertanya alasan Tao melakukan hal itu dan jawaban yang ia terima membuatnya menggelengkan kepala.

'Uang tipnya lumayan banyak Hyung' ucapnya tanpa dosa.

"Itu berbeda. Kalau memberi uang namanya pelayanan tapi kalau tidak namanya pelecehan" Tao menjelaskan.

Lagi-lagi Sehun menghela nafas lelah. Bicara dengan Tao tidak ada gunanya, yang ada nanti justru kepalanya berdenyut-denyut.

"Ck, terserah kau saja, asal jangan berbuat lebih aneh dari ini" Sehun memperingati "Sana kembalilah berkerja!"

"Siap Bos!" Tao membuat pose hormat "Eh, berarti Hyung memaafkanku?"

Sehun berdecak kesal "Iya!"

"Hyung memang yang terbaik!"

"Iya, sana kembali bekerja!!"

"Oke! Eh tapi bisakah aku berkenalan terlebih dahulu dengan tuan tampan ini?" yang dimaksud-Chanyeol menaikkan sebelah alisnya sebagai respon.

"Halo, tuan nam-"

"Tao, kalau kau tidak pergi sekarang aku benar-benar akan memecatmu!!"

"Eh, O-oke" Tao berjalan mundur, sesekali matanya masih memandang ke arah Chanyeol "Bye tampan!!" ucapnya singkat lalu berlari menjauh.

"Astaga anak itu benar-benar tidak ada takutnya denganku? Dan bisa-bisanya dia genit padamu sedangkan aku tepat di depan matanya!!"

Chanyeol mengalihkan kembali atensinya, mendengarkan gerutuan Sehun sambil sesekali menyeruput kembali wine miliknya.

"Siapa dia?" Chanyeol membuka dengan pertanyaan.

"Tao"

"Ck, aku tahu kalau yang itu. Kau menyebutnya berkali-kali kau pikir aku tuli apa"

"Pelayan baru" Sehun menjawab dengan dengusan sebal.

"Oh, pantas aku tidak pernah melihatnya" gelasnya yang telah kosong ia letakkan kembali ke meja bar "Jadi, dia kenapa?" yang lebih tua bertanya lagi.

Di tempatnya Sehun tersenyum miring "Bukankah kau sudah mendengarnya. Apa sekarang kau tuli?" ia bangga karena telah berhasil membalas Chanyeol.

"Ck, bukan itu. Di wajahnya ada bekas memar-memar, apa kau memukulinya?"

"Bertanyalah yang jelas Hyung jangan membuatku pusing. Dan aku tidak seanarkis itu sampai memukulinya?"

"Terus, wajahnya?" Chanyeol masih penasaran.

"Aku tidak tahu pasti, mungkin dia habis bertengkar lagi dengan ayahnya. Memar itu didapat setelah ia cuti tanpa ijin" Sehun mengedikkan bahunya. Ia benar-benar tidak tahu pasti dari mana Tao mendapat memar-memar itu. Tetapi dari yang ia dengar Tao memang sering berselisih dengan ayahnya.

"Dia mempunyai masalah seperti itu?"

"Aku hanya mendengar dari orang, tidak tahu pasti. Tapi sepertinya itu benar. Saat pertama kali ke sini dia juga datang dengan wajah yang penuh memar. Dia bilang butuh uang dan bahkan rela menjadi pria bayaran. Gila kan?"

"Kelurganya yang lain?"

"Tao itu tertutup jika mengenai masalah pribadinya terakhir dia mengatakan padaku ibunya sudah meninggal dan tahun kemarin terpaksa ia putus sekolah. Kasihan sekali"

"Jadi dia masih sekolah. Kau memperkerjakan orang dibawah umur untuk pekerjaan seperti itu?"

"Seperti itu apa maksudmu Hyung? Walaupun begini, aku tidak cukup bodoh membawa diriku ke sel penjara hanya karena memperkerjakan anak di bawah umur dengan pekerjaan yang kau maksud" Sehun bersungut-sungut di hadapan Chanyeol.

"Aku masih muda dan belum menikah, sayang sekali jika harus mendekam di penjara. Dan-" Sehun menatap lurus ke arah Chanyeol "Suami yang kau nikahi juga masih di bawah umur jika kau lupa"

Chanyeol berdecak pelan. Sehun sengaja mengingatkannya pada Baekhyun.

"Tidak usah memulai" Chanyeol memutar bola matanya malas, sedangkan Sehun-anak itu terkikik tanpa dosa.

"Oh ya bagaimana hubunganmu dengan 'dia'?" yang lebih tua mengalihkan pembicaraan.

Sehun mengerutkan alis. Ia kurang paham dengan pertanyaan Chanyeol.

"Tidak usah sok polos. Kau pasti tahu maksudku"

"Oh" Sehun mengangguk-angguk "Tidak bagaimana-bagaimana"

"Kalian masih sering bersama?"

Anak itu mengangguk lagi "Ya, kami masih sering bertemu bahkan tadi ia mengajakku pergi, tapi aku menolak" Sehun mulai menuangkan wine dalam botol ke dalam gelasnya.

"Kenapa? Bukankah kau menyukainya?"

Gerakan tangannya terhenti dan secara otomatis cairan wine dalam botol bening itu juga turut berhenti mengalir. Ada jeda sejenak, Sehun menghembuskan napas pelan selanjutnya kembali menuangkan wine miliknya.

"Jika aku mengatakan iya, apa aku mendapatkan pukulan yang sama?" dengan keberanian penuh Sehun menengadahkan kepala. Tepat di hadapannya Chanyeol menatapnya tajam dengan kedua mata bulatnya.

"Apa kau menginginkan itu?"

TAK!!

Botol tadi ia letakkan kasar.

"NO!" Jawabnya dramatis "Yang dulu saja sampai sekarang masih terasa dan teganya kau mau menambahnya lagi. Rahangku bahkan rasanya hampir patah" Sehun merengek dan Chanyeol seketika bergidik ngeri.

"Berlebihan"

"Eiy, Aku hanya menjaga keselamatan wajahku. Aku tidak mau hal itu terulang lagi"

"Aku memukulmu juga karena kau yang salah"

"Yah! Bukan salahku sepenuhnya. Aku tidak tahu yang kau maksud itu 'dia', salahmu juga tidak memberi tahuku sebelumnya"

Chanyeol mengibaskan tangannya "Ck sudahlah tidak perlu diungkit. Aku juga sudah tidak memikirkannya"

"Serius kau sudah tidak memikirkannya?" Sehun mencondongkan tubuhnya ke arah Chanyeol

"Hmm" tangannya terulur hendak mengisi kembali gelasnya yang kosong.

"Berarti kau bisa memilih antara suamimu dan 'dia'?"

Pertanyaan Sehun membuat genggaman pada gelasnya mengerat. Lalu menghembuskan nafas kasar.

"Kau bisa memilikinya jika kau mau!"

.

.

.

.

Empat

Bibir penuhnya bergumam. Nafasnya naik turun memburu. Situasi sekarang membuat rasa marahnya semakin tersulut.

"Hoek! Hoek! Hoek!"

Kali ini menghembuskan napas pelan. Ia berusaha dengan benar untuk mengontrol emosinya.

"Hoek! Hoek! Uhhuk!"

"Ck, apa ku bilang" mendengus kesal "Inilah akibatnya jika kau tidak mendengarkanku. Teruslah melewatkan sarapanmu dan aku akan tertawa saat melihatmu jatuh sakit"

Pagi ini adalah yang ke empat.

Keempat kalinya ia menemani sahabatnya yang keras kepala di toilet hanya untuk melihat Baekhyun memuntahkan seluruh isi perutnya. Sumpah serapah benar-benar sudah di ujung lidah. Ia sangat ingin memaki-maki Baekhyun saat ini tapi apa daya, ketika melihat wajah manis anak itu berubah pucat pasi seperti sekarang yang keluar justru hanya helaan nafas.

"A-ku tak apa" napasnya tersengal-sengal. Muntahannya sebenarnya bukan berupa makanan melainkan hanya cairan bening tapi entah kenapa hal itu membuat seluruh tubuhnya terasa lemas dan kepalanya berdenyut pusing.

Kyungsoo sesekali meringis. Melihat wajah Baekhyun di penuhi keringat dingin dan terus mengelurkan isi perutnya membuat perasaannya seketika bercampur aduk. Ia sangat marah dan bahkan ingin memukul Baekhyun agar sahabat sipitnya itu berhenti keras kepala tapi untunglah perasaan kasihan dan sayang lebih mendominasi. Berakhir memijat tengguk Baekhyun dengan sesekali menepuk punggungnya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya.

"Kau juga pasti tidak makan dengan baikkan?" Kyungsoo menuduh. Tanggannya terulur meraih beberapa lembar tisu lalu menyerahkannya pada Baekhyun.

"Aku makan teratur, kau tena-"

Sreet!!

Kyungsoo dengan cepat menyangga tubuh Baekhyun saat anak itu hendak jatuh ke lantai. Tubuhnya yang tidak lebih besar membuatnya sulit menjaga keseimbangan.

Mata bulatnya berotasi, ia jengah "Masih berbohong lagi? Asal kau tahu gara-gara kau, aku lagi-lagi melewatkan kelas pertama"

Yakinlah perkataan Kyungsoo tadi hanya omong kosong belaka. Baekhyun tahu benar jika Kyungsoo tidak dengan serius mengatakan hal tadi jadi ia tidak mengambil hati perkataan sahabat yang lebih pendek beberapa senti darinya.

"Ayo ke UKS, biarkan perawat Song memeriksamu" Baekhyun hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Dengan bantuan Kyungsoo kedua kakinya yang lemas ia paksakan berjalan.

Setiap mengambil langkah tubuhnya gemetar dan semakin lama semakin menjadi, belum lagi pandangannya berkunang-kunang. Semua perkataan Kyungsoo berubah menjadi dengungan di telinganya.

"Pasti lambungmu bermasalah" yang lebih pendek mengeratkan tangannya pada pinggang Baekhyun "Jika sampai besok belum lebih baik pergilah ke rumah sakit" Baekhyun mengabaikan sepenuhnya nasehat Kyungsoo pasalnya saat ini kepalanya terasa begitu pusing "Jangan menunda-nunda lagi. Aku tidak mau sakitmu semakin parah jadi berhentilah keras kepala-"

Bruk!

Keduanya sontak jatuh ke lantai. Kyungsoo yang memang sejak awal tidak begitu kuat menahan Baekhyun hilang keseimbangan saat sahabatnya itu tidak sadarkan diri.

"Yah! Baekhyun!! Sadarlah!!" ia panik, sesekali mengguncang tubuh Baekhyun berharap anak itu hanya bergurau dan segera bangun.

"Jangan membuatku takut, bodoh!! Bangunlah!" Kyungsoo semakin panik, Baekhyun sepertinya benar-benar pingsan. Jika begini bagaimana caranya ia membawa Baekhyun sampai ke UKS? Ia benar-benar merutuki otaknya yang tidak bisa bekerja dengan benar di saat seperti ini.

Kyungsoo mengguncang kedua bahu Baekhyun lagi, di telapak tangannya tubuh anak itu terasa dingin. Bibir tipisnya yang semula merah kini berubah pucat.

"Yah Baekhyun, bangunlah agar aku bisa membawamu ke UKS" yang dipanggil sama sekali memerikan respon "Baek-"

Klek!

Kyungsoo mendongakkan kepalanya.

Di sana tepat pada ambang pintu seorang dengan kaki jenjang dan kulit eksotis menatap ke arah mereka. Wajahnya menggambarkan keterkejutan walaupun tak begitu kentara.

"Ups! Maaf mengganggu kalian" ucapnya lalu hendak menutup pintu kembali.

Di tempatnya Kyungsoo menganga tak percaya. Mengganggu katanya? Dia itu mempunyai masalah pengelihatan atau bodoh. Sudah jelas-jelas di lihat dari manapun situasinya sekarang sedang genting, orang pintar harusnya langsung membatu menolong bukan justru berkata seperti tadi.

Ia benar-benar ingin memaki tapi saat ini ia membutuhkan tenaga bantuan.

"Yak! J-jongin tunggu!" eh, benarkan namanya Jongin? Ia masih ingat, pemuda tadi adalah orang yang sama dengan yang pernah ia tampar beberapa waktu lalu.

"Kim Jongin!" Kyungsoo berteriak. Dan berhasil. Jongin kembali membuka pintunya.

"Kau memanggilku?" tanya tidak minat. Sebelah tangannya ia tumpukan pada gagang pintu sedangkan sebelahnya lagi mengosok-gosok telinganya dengan bentuk kepalan. Seperti menggenggam sesuatu tapi entah apa dan ia juga tidak peduli.

Yang ia pikirkan sekarang adalah cara membawa Baekhyun ke UKS dan Jongin yang paling bisa membantu saat ini.

"Bisakah kau membantu membawa temanku ke UKS? Dia sedang sakit dan sekarang pingsan"

"Eh, kau meminta tolong padaku?" Jongin menunjuk dirinya "Asal kau tahu saja, aku masih belum melupakan saat kau menamparku di hadapan banyak orang. Kau menjatuhkan harga diriku dan kau pikir aku akan dengan mudah memberi bantuan?" tanyanya mengejek "Aku sedang sibuk!"

Kyungsoo mengepalkan tangan. Jika ada orang lain lagi di sini tidak mungkin ia meminta bantuan kepada berandal seperti dia.

"Maaf, aku tidak bermaksud. Tapi ku mohon bantulah temanku. Sakitnya bisa bertambah parah" benar, mengalah adalah tindakan yang paling tepat sekarang.

"Mmmm, baiklah. Tapi dengan syarat kau harus mau pergi denganku" Jongin menampilkan seringai liciknya.

"Mana bisa begitu!"

"Ya sudah kalau tidak mau-"

"Oke!" mau bagaimana lagi. Baekhyun adalah prioritasnya saat ini.

"Oke, deal" Jongin mendekat hendak mengangkat tubuh Baekhyun, hanya saja sebelum itu "Tolong pegangkan benda berhargaku!" katanya.

"Tubuh ringan begini tapi kau tidak kuat. Dasar lemah!"

Kyungsoo tidak segera menanggapi. Ia sibuk memperhatikan benda kuning seperti karet dalam genggamannya. Ini adalah pertama kali ia melihatnya.

"Cepat! Mau sampai kapan kau di situ?"

"Eh, O-oke!"

.

.

.

.

Ckit!

Mobil mewah dengan warga hitam metalik terparkir apik. Si roda empat dengan jenis Rolls-Royce Phantom membuat siswa-siswa yang berada di luar ruangan menganga sempurna. Body mewah ditambah harga yang mencekik leher membuat mereka tak henti bergumam kagum.

Si pemilik, menatap lurus ke depan. Tubuh tinggi dengan balutan kemeja mahal, wajah dengan rahang terpahat sempurna adalah hal berikutnya yang menyita perhatian. Jeritan kagum para siswi padanya ia hiraukan begitu saja karena saat ini hanya satu tujuannya.

.

.

.

.

"Jadi, bagaimana keadaannya?"

Kening Baekhyun mengernyit, kesadarannya telah kembali hanya saja untuk membuka mata masih begitu berat. Pening di kepalanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.

"Lambungnya bermasalah dan Baekhyun demam. Apa dia tidak makan dengan teratur?" perawat Song. Baekhyun jelas mengenal suara lembut perawat cantik yang bekerja di sekolahnya. Perawat yang berusia di akhir 20an yang mempunyai senyum manis serta sikap ramah. Ia pernah beberapa kali mengobrol dengannya.

"Iya, benar. Si keras kepala itu selalu melewatkan sarapannya akhir-akhir ini. Aku yakin ia juga tidak makan dengan benar saat di rumah. Padahal aku sudah sering menasehati hanya saja dia tidak pernah mau mendengar" Baekhyun tebak yang mengomel panjang lebar pasti Kyungsoo si mata bulat.

"Jadi, apakah perlu Baekhyun di bawa keruma sakit?" Kris? kekasihnya ada di sini juga.

"Untuk pemeriksaan lebih lanjut kau bisa membawanya ke sana"

Untuk selanjutnya Baekhyun tidak begitu mengingat jelas. Yang ia tahu tubuhnya di angkat oleh seseorang dan ia fikir itu adalah Kris. Ia ingat betul aroma parfum kekasihnya. Hanya saja-

Sret!

-ada yang aneh.

.

.

.

.

Baekhyun bisa merasakan angin menerpa tubuhnya dengan bebas. Pikirnya, ia pasti sedang di luar ruangan. Tubuhnya juga berayun, seseorang menyangga punggung dan belakang lututnya. Ia sedang berada dalam gendongan seseorang. Apakah Kris?

Tapi aroma ini-

Cup!

Kecupan lembut di pucuk kepalanya.

"Tidurlah"

Kedua sipitnya ia paksakan untuk terbuka. Dagu dan aroma ini bukan milik Kris.

"Tidurlah lagi, Baekhyun"

Chanyeol?!

Apa ia sedang bermimpi? Chanyeol sedang di sini?

Butuh beberapa saat hingga Baekhyun dapat meyakinkan dirinya. Suara baritone yang diam-diam ia kagumi hanya suaminya yang memiliki.

Entah kekuatan dari mana tanpa sadar Baekhyun mengulurkan kedua tangannya. Dari dada bidang kokoh tersebut hingga kebelakang leher jenjang lelaki yang berstatus suaminya. Memeluk erat dengan sisa energi yang ia miliki. Menghirup aroma yang telah lama meninggalkan indera penciumannya.

"Merindukanku?"

Baekhyun membeku. Ia bingung, apakah ia merindukan Chanyeol? Tapi kenapa hanya dengan memeluk dan menghirup aroma ini ia merasa sangat bahagia. Dadanya terasa bergitu sesak, bahkan hingga ia dengan mudahnya meneteskan air mata.

"Eung!" mungkin benar, ia memang merindukan Chanyeol.

"Aku juga merindukanmu"

.

.

.

.

TBC

.

.

maaf aku up ulang?? sekarang udah bisa baca chap 9 belum???

kenapa ya, kok bisa gitu???

oh yaa, ls jgn lupa vote exo di soompi app. waktunya kurang dri 4 hari lagiiii.

bagi kalian kalian yg belum atau vote 1,2,3 akun, ayoo sekarang bikin min 1 org 10 akun (email/fb)

pasti bisa. 1 no hp = 10 akub gmail.