Disclaimer : Masashi Kishimoto

(Fic ini adalah asli buatan Author Akecchin, mohon jangan plagiat. jika ingin mengcopy atau izin republish, pm aja.)

.

.

.

.

.

Inspired from Best Seller Mystery Novel

"Ten Little Niggers/Ten Little Indians/And Then There Were None"

By

Agatha Christie

(This fic is not the same one, there's some changed plot or chara / death chara)

Enjoy it

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Haruno Sakura menjerit. Menjerit-dengan suara kengerian yang teramat sangat. Teriakan liar sarat akan meminta pertolongan.

Ia tidak mendengar apa yang terjadi di bawah, suara kursi terbalik, pintu yang terbanting, dan langkah-langkah kaki laki-laki yang berlari di tangga. Ia hanya bisa merasakan ngeri. Lalu Ia sadar, cahaya lilin-lilin itu mendekat ke arahnya.

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

Wanita muda itu hanya menggigil, melangkah maju, kemudian jatuh ke lantai. Ia hanya setengah sadar jika seseorang tengah membungkuk di atasnya, seseorang yang menekan kepalanya ke bawah di antara lututnya.

"Astaga! Lihat itu!"

Seketika Ia mengikuti arah cahaya lilin yang diacungkan oleh laki-laki itu. Seutas ganggang yang cukup tebal dan basah terjerai dari langit-langit. Itulah yang menyentuh lehernya tadi. Benda yang Ia kira sebuah tangan basah, tangan si mati yang tenggelam, tangan yang akan merenggut hidupnya.

Ia mulai tersenyum miris. Ya, ganggang itulah tadi yang Ia kira, dan baunya seperti...

Kemudian Ia merasakan pening kembali melanda kepalanya. Lalu, seseorang menawarkan minuman padanya, segelas brandy. Bau minuman itulah yang masih dapat Ia cium disela-sela pandangannya yang mulai mengabur.

Ia hampir saja meneguk minuman itu andai saja Ia tidak teringat sesuatu. Dengan tiba-tiba Ia terbangun, duduk tegak, mendorong gelas di hadapannya.

"Dari mana minuman ini?", desisnya tajam.

"Saya tidak akan meminumnya.", lanjutnya lagi dengan raut wajah curiga.

Sunyi sejenak, kemudian Uzumaki Naruto tertawa. Dan seolah-olah memuji, Ia berkata.

"Bagus sekali, Nona Haruno. Anda memang hebat meskipun baru saja ketakutan setengah mati. Saya akan mengambil sebuah botol baru yang belum dibuka."

Pria pirang itu bergegas keluar.

"Saya akan minum air saja.", ujar wanita muda itu.

Sabaku Gaara menopang tubuhnya ketika Ia akan berdiri, Ia berjalan ke arah wastafel dengan terhuyung-huyung seraya mencengkeram tangan Dokter Sabaku. Ia membiarkan air mengalir dari kran kemudian mengisi gelasnya.

"Brandy itu tidak apa-apa.", tukas Shimura Sai dengan nada sengit.

"Bagaimana Anda tahu?", selidik Dokter Sabaku.

"Saya tidak menaruh apa-apa di dalamnya, jika itu yang Anda maksud.", jawab pria bersurai hitam itu.

"Saya tidak bermaksud demikian, tapi mungkin saja Anda atau orang lain yang melakukannya.", ujar Dokter Sabaku.

Uzumaki Naruto kembali dengan cepat ke dalam ruangan itu. Ia membawa sebotol brandy yang masih baru dan sebuah pembuka botol. Ia menyodorkan botol itu ke arah Haruno Sakura.

"Anda tidak perlu mencurigainya, bukan?", cibirnya.

Kemudian Ia membuka kertas timah botol itu seraya melanjutkan ucapannya.

"Persediaan minum di sini sangat banyak. Tuan Owen memang baik.", tukasnya.

Haruno Sakura bergetar hebat. Sabaku Gaara memegang gelas, sedangkan Uzumaki Naruto menuangkan brandy ke dalamnya.

"Sebaiknya Anda segera meminumnya, Nona Haruno. Anda mengalami shock berat.", tawar pria pirang itu dengan segelas brandy di tangannya.

Ia meminumnya sedikit, wajah pucatnya mulai berwarna secara perlahan. Uzumaki Naruto tersenyum melihatnya.

"Keh, ini pembunuhan yang tidak sesuai dengan rencana."

"M-maksud Anda?", tanya Haruno Sakura.

"Pembunuh itu menginginkan Anda mati karena ketakutan. Ini bisa terjadi bukan, Dokter?", tanya Uzumaki Naruto seraya menyeringai.

"Hm, sulit mengatakannya. Calon korban yang masih muda dan tidak menderita lemah jantung. Tidak mungkin. Sebaliknya-"

Dokter Sabaku itu menghentikan ucapannya dan memperhatikan gelas brandy yang dibawa oleh Shimura Sai. Ia mengambilnya, kemudian mencelupkan kedua jarinya untuk mencicipinya. Roman wajahnya tidak berubah.

"Hm, ini tidak apa-apa.", ujarnya datar.

"Ck, jika Anda mengatakan Saya memasukkan sesuatu ke dalamnya. Akan Saya pukul wajah Anda itu.", ujar Shimura Sai dingin.

Haruno Sakura yang telah tersadar berusaha untuk mengalihkan perhatian kedua pria yang tengah bergulat kecil itu.

"Dimana Tuan Uchiha?"

Ketiganya saling memandang.

"Aneh, Saya kira dia ikut bersama kita.", ujar Shimura Sai.

"Saya juga. Bagaimana, Dokter? Anda di belakang Saya tadi.", sahut Uzumaki Naruto.

"Saya kira dia mengikuti dari belakang. Saya tidak memperhatikannya.", jawab Sabaku Gaara.

Mereka berpandangan lagi.

"Ini aneh.", tukas Uzumaki Naruto.

"Kita harus mencarinya.", ujar Shimura Sai setengah berteriak.

Ia melangkah ke arah pintu, yang lain mengikutinya, Haruno Sakura berada di urutan paling belakang. Ketika mereka menuruni tangga, Dokter Sabaku menoleh ke belakang.

"Mungkin Tuan Uchiha masih di ruang tamu."

Mereka mendekati ruangan besar itu, dari lorong Sabaku Gaara memanggil mantan hakim Uchiha dengan setengah berteriak.

"Tuan Uchiha! Apa Anda di dalam?"

Tidak ada jawaban, kesunyian memenuhi rumah itu. Kecuali suara gemericik air hujan. Di pintu masuk ruang tamu, Sabaku Gaara berdiri dengan tertegun. Yang lain bergerombol di belakangnya.

Seseorang berteriak.

Uchiha Sasuke duduk di kursi yang bersandaran tinggi di tengah ruangan. Dua buah lilin menyala di kedua sisinya. Semuanya terkejut melihat sosok itu duduk berselimut merah dengan kepala tertutup wig hakim.

Sabaku Gaara memberi isyarat pada yang lain untuk tidak mendekat. Ia sendiri mendekat ke arah tubuh yang diam dengan mata setengah terbuka. Langkah kakinya sedikit terhuyung. Ia membungkuk, memperhatikan wajah yang kaku. Lalu dengan cepat Ia menarik wig dari atas kepala sosok itu. Benda itu jatuh ke lantai, menunjukkan poni bersurai hitam berantakan yang bercampur cairan kental warna merah dari sebuah lubang dalam dari tengah dahinya yang mulai mengering.

Dokter Sabaku mengangkat tangan yang telah dingin dan memeriksa nadinya, kemudian Ia menoleh ke arah yang lainnya seraya berkata dengan suara parau.

"Dia ditembak."

"Sial! Pistol itu.", pekik Shimura Sai.

"Tertembak di kepala, tewas seketika.", ujar Dokter Sabaku menurut pemeriksaannya.

Haruno Sakura membungkuk melihat wol yang jatuh, seketika Ia tertegun.

"I-ini... Benang wol milik Nona Hyuuga."

"Dan juga tirai merah dari kamar mandi.", sahut Shimura Sai.

"Jadi pembunuh itu mengambilnya untuk ini?", tanya Haruno Sakura.

Tiba-tiba suara tawa sinis yang tidak wajar keluar dari bibir Uzumaki Naruto.

"Lima anak negro ke kedutaan, seorang ke pengadilan, tinggal empat. Itulah akhir dari Uchiha Sasuke sang Penumpah Darah! Tidak ada lagi penjatuhan hukuman, tidak ada lagi permainan topi hitam! Keh, disinilah Ia berakhir, di kursi hakim. Tidak ada lagi orang tak berdosa yang dikirim pada kematian! Danzo pasti akan tertawa melihat ini!"

Ledakan suaranya mengejutkan semua orang.

"Bukankah Anda tadi mengatakan bahwa dialah orangnya?", sahut Haruno Sakura.

Air muka pria pirang itu berubah menjadi tenang, Ia berkata dengan nada rendah.

"Benar. Ya, dugaan Saya salah. Seorang lagi dari kita lolos, terlambat."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mereka telah mengangkat jasad Uchiha Sasuke ke atas dan membaringkannya di ranjang kamarnya. Lalu, mereka turun dan saling berpandangan.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?", tanya Shimura Sai.

"Kita akan makan.", jawab Uzumaki Naruto dengan cepat.

Sekali lagi mereka masuk ke dalam dapur, membuka beberapa kaleng lidah dan memakannya. Mereka makan dengan cepat, hampir tidak merasakannya.

"Saya tidak akan memakannya lagi.", ujar Haruno Sakura setelah meletakkan kalengnya.

Mereka segera menyelesaikan acara makan yang dapat dikatakan tidak bisa dinikmati itu. Keempatnya saling berpandangan, lagi.

"Hanya ada empat orang sekarang, siapa selanjutnya?", ucap Shimura Sai agak lirih.

"Kita hanya harus lebih waspada.", sahut Sabaku Gaara.

"Itulah yang dikatakannya, dan sekarang Ia mati.", jawab Shimura Sai.

"Bagaimana hal itu terjadi?"

Uzumaki Naruto menyahut, "Pancingan yang licik sekali, dasar tolol! Cerita ganggang yang digantung di kamar Nona Haruno itu memang sesuai rencana. Setiap orang berlari karena mengira dia akan dibunuh, lalu dalam suasana panik seseorang membunuh laki-laki itu."

"Mengapa tidak ada yang mendengar suara tembakan?", selidik Shimura Sai.

"Nona Haruno menjerit, angin menderu, kita berlari dan setengah berteriak. Suara tembakan itu tidak akan terdengar!", jawab pria pirang itu.

Ia berhenti sejenak. "Tapi tipuan itu tidak akan bekerja lagi. Pembunuh ini pasti akan mencoba sesuatu yang lain."

"Mungkin.", sahut Shimura Sai sekenanya.

Ada nada keraguan dalam ucapannya, kedua laki-laki itu saling memandang.

"Pelakunya adalah salah satu dari kita berempat. Dan Saya tidak tahu siapa.", gumam Sabaku Gaara.

"Saya tahu.", sahut Shimura Sai.

"Saya juga tidak ragu sedikit pun.", sahut Haruno Sakura.

"Saya rasa, kini Saya sudah tahu.", ujar Sabaku Gaara.

"Saya memiliki pendapat yang baik.", timpal Uzumaki Naruto.

Sekali lagi, mereka saling berpandangan. Tiba-tiba Haruno Sakura berdiri seraya berkata.

"Tiba-tiba Saya merasa tidak enak badan. Saya akan tidur."

"Aa, Saya juga.", sahut Uzumaki Naruto.

"Hm. Saya tidak keberatan.", jawab Shimura Sai.

"Itulah hal terbaik yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini, meskipun Saya tidak yakin bisa. Tidur.", gumam Sabaku Gaara.

Mereka berjalan ke arah pintu. Shimura Sai berkata, "Saya ingin tahu dimana pistol itu sekarang."

Ini semua seperti lelucon, mereka naik ke lantai atas. Masing-masing keempat tangan memegang handel pintu dan bergerak masuk. Kemudian secara serentak, terdengar suara pintu yang terkunci dan digerendel. Dan juga suara derit meja dan kursi yang disandarkan di baliknya.

Empat orang yang ketakutan mempertahankan diri hingga pagi tiba.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uzumaki Naruto menghela napas lega setelah mengganjalkan kursi di balik pintunya. Ia melangkah ke arah meja dengan memperhatikan pantulan cermin di hadapannya. Kemudian, Ia berbicara pada dirinya sendiri dalam cahaya lilin yang meremang.

"Ya, masalah ini membuatmu terkoyak."

Senyum buas menghiasi wajahnya. Ia mulai membuka bajunya. Kemudian Ia melepaskan arlojinya dan melangkah ke arah meja dekat ranjang, meletakkannya di atas. Lalu Ia membuka laci meja itu.

Ia berdiri tertegun, memandang pistol yang ada di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Haruno Sakura berbaring pada ranjangnya, dengan cahaya lilin yang ada di atas meja tepat di samping ranjang. Ia tak punya keberanian untuk mematikannya, terlalu takut akan kegelapan.

Ia berusaha menguatkan dirinya, 'Aku akan selamat sampai pagi nanti. Tidak ada apa-apa semalam, tidak ada apa-apa nanti malam, tidak ada apa-apa. Tidak akan ada yang datang kemari.'

Dan tiba-tiba Ia berkata pada dirinya sendiri, dengan nada bergetar dan histeris yang sedikit berteriak.

"Tentu saja Aku bisa tinggal di sini! Terkunci, tidak perlu makan! Aku bisa bertahan di sini sampai pertolongan datang! Walau pun sehari atau dua hari..."

Tapi, bisakah Ia tinggal di sini? Berjam-jam tanpa teman bicara, tanpa melakukan apa pun kecuali berpikir.

Ia mulai berpikir tentang Cornwall, tentang Sasori, tentang apa yang dikatakannya pada Mirai saat itu. Anak kecil yang manja, cengeng, dan selalu merengek padanya.

"Haruno-sensei, mengapa Saya tidak boleh berenang ke karang? Saya bisa, Saya pasti bisa."

Apakah suaranya yang berbicara?

"Tentu saja, Mirai-chan. Saya percaya kamu pasti bisa."

"Kalau begitu, bolehkah Saya ke sana, Haruno-sensei?"

"Tapi ibumu akan khawatir. Coba dengarkan, besok Mirai-chan boleh berenang ke karang. Saya akan berbincang dengan ibumu di pantai agar Ia tidak memperhatikanmu. Kemudian setelah Ia mulai mencarimu, Mirai-chan sudah ada di atas karang melambaikan tangan padanya. Ini pasti sebuah kejutan baginya.", usul Haruno Sakura dengan seringai licik di dalam hatinya.

"Terima kasih, Haruno-sensei! Ini menyenangkan sekali."

Ia mengatakannya hari itu, dan esok paginya Sasori akan pergi ke Newquay. Jika laki-laki itu datang, semuanya akan beres.

Ya, tapi jika gagal? Mirai mungkin bisa diselamatkan tepat pada waktunya, dan kemudian mungkin Ia akan berkata.

"Haruno-sensei bilang Saya pasti bisa." Bagaimana? Setiap hal pasti akan beresiko. Dan saat itu tiba, mungkin Ia akan mengelak.

"Mengapa kamu berbohong, Mirai-chan? Tentu saja Saya tidak pernah berkata seperti itu." Dan semua orang akan percaya padanya. Mirai sering berkata yang tidak-tidak, Ia anak yang suka berbohong. Tentu saja anak itu akan tahu, tapi Ia sendiri akan aman. Ia akan berpura-pura menyelamatkan anak itu, tapi Ia akan datang terlambat. Tak seorang pun akan mengetahuinya.

Apakah Sasori mencurigainya? Apakah itu sebabnya Ia memandangnya dengan tatapan menerawang dan aneh? Dan apakah... Sasori tahu? Itukah sebabnya lelaki itu segera pergi setelah pemeriksaan? Sasori belum menjawab surat yang dikirimkan darinya.

Sasori...

Haruno Sakura berbolak-balik gelisah di atas ranjangnya. Ia tidak seharusnya mengingat Sasori, itu hanya masa lalu. Ia harus melupakannya.

Kemudian Ia memandangi langit-langit, tepatnya lengkungan logam hitam yang berada di tengah-tengahnya. Ia belum pernah melihat benda itu sebelumnya. Ganggang itu digantungkan di sana.

Tiba-tiba Ia merasa merinding ketika mengingat ganggang basah itu menyentuh lehernya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Shimura Sai duduk termenung di tepi ranjangnya. Mata sipitnya yang hitam kelam memandang dengan waspada, Ia terlihat seperti hewan liar yang tengah menanti mangsanya.

Ia merasa tidak ingin tidur. Kejahatan itu semakin mendekat, enam dari sepuluh orang telah terbunuh. Apa yang dikatakan mantan hakim itu? Kita harus waspada? Cih, munafik. Ia duduk seperti di ruang pengadilan, seolah-olah bertindak sebagai Tuhan. Dan sekarang Ia terbunuh, menyisakan keempat orang yang akan menjadi korban selanjutnya.

Sebentar lagi seorang akan pergi, tapi itu bukan Shimura Sai. Ia akan berusaha menjaga dirinya. Kening pria pucat itu mengernyit ketika Ia memikirkan tentang pistol itu.

Dalam keheningan, Ia mendengar suara jam berdentang dari lantai bawah. Ini sudah tengah malam, Ia mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Meraba-raba meja di sampingnya, mematikan lilin yang masih menyala. Anehnya, Ia tidak bisa memejamkan matanya begitu saja. Ada sejuta rasa khawatir dan ketakutan, wajah-wajah itu melayang menguasai pikirannya. Wajah Inuzuka Kiba yang membiru, wajah Nyonya Ayame yang dingin dan kaku, wajah Uchiha Sasuke yang berlumuran darah mengenakan jubah merahnya.

Semakin bingung Ia memikirkan hal ini, semakin Ia tidak mengerti mengenai permasalahan pistol itu. Seseorang di rumah ini sedang menyimpan pistol itu, pikirnya. Jam di bawah berdentang satu kali. Pikiran Shimura Sai tiba-tiba terputus. Tiba-tiba Ia terduduk di atas ranjangnya, Ia mendengar suara-suara yang sangat pelan dari luar kamar.

'Ada seseorang yang berjalan di lorong.', pikirnya.

Keringat meleleh dari dahinya, siapa orang yang berjalan dengan hati-hati di sepanjang lorong malam-malam begini? Ia yakin orang tersebut memiliki maksud buruk.

Dengan hati-hati, Ia beranjak dari ranjangnya, tanpa menimbulkan suara mencurigakan. Kemudian mendekat ke arah pintu, dan mendengarkan. Tapi suara itu tidak terdengar lagi, Ia yakin Ia tidak salah dengar!

Godaan baru menyerangnya, Ia ingin keluar dan menyelidiki. Seandainya saja Ia bisa melihat siapa yang sedang mencari mangsa dalam kegelapan. Tapi membuka pintu itu berarti perbuatan bodoh, dan mungkin hal itulah yang diharapkan orang itu. Memancingnya keluar dengan suara itu.

Dan sekarang Ia mendengarnya lagi, suara tangga yang terinjak, desau, bisikan-bisikan misterius, tapi otaknya tersadar bahwa itu imajinasinya sendiri.

Selanjutnya, Ia mendengar suara langkah kaki yang halus, sangat halus, sangat hati-hati, namun masih dapat didengar oleh orang semacam Shimura Sai.

Langkah-langkah itu terdengar halus sepanjang lorong, tanpa ragu langkah-langkah itu melewati kamarnya. Saat itulah Shimura Sai membuat keputusan, Ia akan keluar untuk mengetahui siapa orang itu! Langkah itu terdengar bergerak menuju tangga.

Dengan cahaya lilin yang Ia nyalakan lagi, Ia menggeser kursi dari balik pintu secara hati-hati, kemudian membuka kunci perlahan sebelum mengendap keluar mengikuti asal suara langkah kaki itu. Sesaat setelahnya, dalam sekejap sebuah bayangan melewati pintu depan kamarnya.

Ketika Ia sedang menuruni tangga untuk mengejar, tiba-tiba Ia berhenti. Sekali lagi, hampir saja Ia berbuat hal tolol. Bisa saja ini sebuah perangkat untuk memancingnya keluar. Tapi yang tidak disadari oleh orang itu adalah, Ia yang akan jatuh di tangan seseorang seperti Shimura Sai.

Dari ketiga kamar di lantai atas, salah satunya pasti kosong. Yang harus dilakukan adalah mencari kamar yang mana. Perlahan, Shimura Sai kembali ke lorong. Pertama-tama Ia mengetuk pintu kamar Sabaku Gaara. Tidak ada jawaban. Ia menunggu sebentar, kemudian beralih ke kamar Uzumaki Naruto. Dari sini Ia mendapat jawaban.

"Siapa itu?", tanya suara dari dalam kamar.

"Shimura Sai. Saya kira Tuan Sabaku tidak ada di kamarnya, tunggu sebentar.", jawab Shimura Sai.

Ia menuju ujung lorong dan mengetuk kamar itu seraya memanggil nama Haruno Sakura. Dengan suara terkejut, wanita muda itu menjawab dari dalam.

"Siapa itu?!"

"A-ah, tidak apa-apa Nona Haruno. Tunggu sebentar, Saya akan kembali."

Ia kembali menuju kamar Uzumaki Naruto. Pintu itu terbuka, menampakkan sosok pria pirang yang tengah berdiri memegang lilin dengan tangan kiri, mengenakan celana piyama, dan tangan kanan yang memegang saku jaketnya.

"Ada apa?", tanyanya tajam.

Shimura Sai menjelaskan dengan cepat mengenai apa yang Ia alami di tangga tadi.

"Sabaku Gaara, eh? Jadi dia?", ujar Uzumaki Naruto dengan nada setengah terkejut.

Kemudian pria pirang itu berbalik menuju pintu Sabaku Gaara seraya berkata, "Maaf, Tuan Shimura. Saya tidak akan percaya begitu saja."

Ia mengetuk pintu itu berkali-kali dengan keras.

"Dokter Sabaku! Oi, Dokter!"

Tidak ada jawaban. Shimura Sai membungkuk dan mengintip dari lubang kunci, Ia memasukkan kelingking ke dalamnya.

"Kuncinya tidak ada di dalam. Itu berarti, Ia mengunci pintunya dari luar dan membawanya.", ujarnya.

"Keh, tindakan pencegahan biasa. Kali ini kita akan menangkapnya, Tuan Shimura. Pasti. Tunggu sebentar.",ujar Uzumaki Naruto seraya berlari menuju kamar Haruno Sakura.

"Nona Haruno!"

"Ya?"

"Kami akan memburu Sabaku Gaara. Dia keluar dari kamarnya. Jangan mencoba membuka pintu, oke?"

"Ya, baiklah."

"Jika Sabaku Gaara datang dan mengatakan bahwa Saya atau Tuan Shimura terbunuh, jangan percaya, oke? Anda bisa membuka pintunya jika Saya atau Tuan Shimura yang berbicara."

Dengan sedikit menghela napas dari dalam, wanita itu menjawab, "Ya. Dan Saya bukan orang tolol."

"Bagus."

Uzumaki Naruto mendekat ke arah Shimura Sai.

"Sekarang, ayo kita kejar dia! Pemburuan dimulai!", ujarnya seraya menyeringai.

"Sebaiknya kita hati-hati. Dia menyimpan pistolnya.", ujar Shimura Sai mengingatkan.

Sambil mendecih kecil, pria pirang itu menuruni anak tangga. Tanpa menoleh ke arah lawan bicara, Ia menanggapi.

"Anda salah.", tukasnya.

Ia membuka gembok pada pintu depan sebelum mereka berdua menutupnya lagi. "Tolong gembok kembali agar dia tidak bisa masuk.", pintanya pada pria pucat itu.

Kemudian Ia melanjutkan, "Sayalah yang membawa pistolnya." Ia menunjukkan pistol itu dari balik sakunya. "Saya menemukannya lagi di laci."

Shimura Sai berhenti, roman wajahnya berubah. Uzumaki Naruto menatap ke arahnya.

"Cih, jangan tolol! Saya tidak akan menembak Anda, Tuan Shimura. Kembalilah jika Anda mau, Saya akan memburu Sabaku Gaara sendirian."

Ia terus melangkah dalam cahaya rembulan. Dengan ragu-ragu, Shimura Sai mengikutinya. Ia berpikir, 'Saya kira, Sayalah yang memulainya. Bagamana pun juga-'

Bagaimana pun Ia sering menangani penjahat-penjahat semacam Uzumaki Naruto, penjahat bersenjata api, Ia tidak takut. Tidak ada yang kurang pada dirinya. Ia tidak takut pada bahaya dalam ruang terbuka, tapi yang Ia takuti adalah bahaya yang tidak pasti dan diwarnai oleh hal-hal misterius.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sambil menunggu kedua lelaki itu, Haruno Sakura segera bangun dan berpakaian. Sesekali Ia melihat ke arah pintu, masih aman. Terkunci dengan rapat dan sebuah kursi yang menyangga. Pintu itu tidak bisa dibuka dengan paksa, apalagi oleh laki-laki macam Sabaku Gaara yang memiliki fisik tak sebegitu kuat.

Seandainya Sabaku Gaaralah pelakunya, tentu Ia akan menggunakan kekuatan akal untuk membunuh, bukan fisik. Haruno Sakura membayangkan kira-kira senjata apa yang akan digunakan oleh Sabaku Gaara. Seperti yang dikhawatirkan Uzumaki Naruto, mungkin saja lelaki bersurai merah itu akan mengetuk pintu dan mengatakan bahwa baik pria pirang maupun pria pucat itu telah mati. Atau, dia akan berpura-pura terluka dan mengetuk pintunya.

Ada kemungkinan-kemungkinan lain, bisa saja dia mengatakan bahwa rumah ini terbakar, atau lebih jauh lagi, dialah yang akan membakar rumah ini. Ya, itu memang suatu kemungkinan. Dia bisa saja memancing kedua lelaki itu keluar karena sebelumnya mengguyur rumah ini dengan minyak, dan karena wanita itu begitu tolol Ia akan terus bersembunyi hingga rumah itu termakan api.

Membuyarkan pikirannya, Ia melangkah ke arah jendela yang tidak terlalu tinggi. Ia bisa melarikan diri dari jendela itu. Itu berarti Ia harus meloncat turun, tapi ada banyak rumpun bunga di bawah. Kemudian Ia duduk dan menulis sesuatu di buku catatannya, Ia harus memanfaatkan waktu yang tersisa.

Tiba-tiba Ia berhenti, Ia mendengar sesuatu seperti suara kaca yang pecah. Dan suara itu datang dari bawah. Wanita itu berusaha untuk mendengarkan lebih jauh lagi, tapi tidak ada suara selanjutnya.

Ia mendengar lagi, suara langkah kaki yang halus dari tangga menuju lorong atas. Dan juga suara gemerisik baju, entah Ia benar-benar mendengarnya atau hanya imajinasinya saja?

Tapi kemudian Ia mendengar suara langkah kaki yang lebih jelas, berasal dari lantai bawah. Dan juga suara orang berbisik-bisik. Seseorang seperti menaiki anak tangga menuju loteng atas. Suara itu telah tiba di depan pintu kamarnya.

"Nona Haruno, Anda baik-baik saja?", itu suara Uzumaki Naruto.

"Ya, ada apa?", sahutnya dari dalam.

"Boleh kami masuk?", tanya Shimura Sai.

Haruno Sakura melangkah ke pintu, mengangkat kursinya, kemudian membuka kunci pada pintu. Setelah membukanya, Ia melihat kedua lelaki itu dalam kondisi terengah-engah, kaki dan bagian bawah mereka basah.

"Apa yang terjadi?", tanya Haruno Sakura.

"Sabaku Gaara menghilang.", jawab Uzumaki Naruto.

"Apa?!"

"Ya, lenyap dari pulau ini.", jelas pria pirang itu lagi.

"Ini tidak masuk akal, pasti dia bersembunyi.", elak wanita itu tak mau kalah.

"Tidak. Tidak ada tempat bersembunyi di pulau ini, ini adalah pulau tandus seperti tangan. Di luar, bulan bersinar cukup terang, tapi dia tetap tidak ditemukan.", sahut Shimura Sai.

"Mungkin... Dia telah kembali ke rumah ini?", duga Haruno Sakura.

"Kami tadi juga berpikir begitu, kami sudah menggeledah rumah ini. Anda pasti sudah tahu, dia tidak ada di sini, benar-benar lenyap.", ujar Shimura Sai.

"Saya tidak percaya.", tukas wanita itu dingin.

"Tapi itu benar, Nona.", sahut Uzumaki Naruto.

Tiba-tiba raut wajah pria pirang itu mengeras, Ia tertegun.

"Ada satu fakta lagi. Kaca jendela ruang makan pecah, dan di meja hanya ada tiga boneka negro."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 9 completed. Uchiha Sasuke was eliminated. Boneka negronya tinggal tiga? Sabaku Gaara mati? *smirk* mungkin sejauh ini banyak yg menduga pembunuh sekaligus UN Owen adalah Uzumaki Naruto, setuju? Banyak adegan yang menjurus bahwa dia pelakunya. But, is it true?

Oh, ya. Author baru saja membuat akun wordpress. Reader mungkin tertarik buat baca2 fict dan random post, hehehe. Just visit : .com And, I need more reviews, more critics, more suggestions. I want to fix the way I wrote my stories. It would be better then. Sankyuu :)

Okay, time to reply the review :

Shannarooo19 : Sankyuu atas reviewnya. Selanjutnya, bs dibaca di chap ini. Kira2 12-13

Agastya : Sankyuu atas reviewnya. Novelnya emg bagus, recommended :)

Ra'Razani : Sankyuu atas reviewnya. Selamat membaca hingga akhir :)

Kritik dan saran yg membangun sangat ditunggu. Any question? Just pm.

.

.

.

.

.

Just one word : Review :)