WHEN REVENGE BECOME LOVE

Chapter Nine

Oh, well. Ada dua review yang sangat membangkitkan semangatku ~ Oh yeah ~~~ JUST SMILE LIKE I NEVER BEEN HURT ! OMFG !

.

.

.

Let's begin ~

.

.

.

Tidak seperti hari-hari kemarin, Yunho bangun tidur selalu dengan perasaan bahagia, tentu saja itu semua karena istrinya yang telah berubah, sudah sebulan ini Yunho dan Jaejoong benar-benar layaknya seperti pasangan suami istri, tidak jarang juga mereka kencan bersama di hari minggu, hari favorit mereka sekarang, karena hanya di hari tersebut mereka bebas dari pekerjaan.

Yunjae's Apartement

Seperti malam ini,

"Oh..Yunho..Ah..." Jaejoong mengerang dan menjalankan kuku-kukunya dipunggung Yunho. Dan ia terengah-engah, sebuah erangan tercekik.

Yunho membenamkan kepalanya dileher Jaejoong, mencium, menghisap dan menggigit Jaejoong, menjelajahi hidungnya ke atas dagu Jaejoong, menciumnya, lidahnya melumat bibir Jaejoong. Tangannya kembali bergerak keseluruh tubuh Jaejoong, bibirnya bergerak semakin turun ke bawah, ke payudara Jaejoong.

"Jaejoong !" Yunho memanggil namanya, dia telah berada dipuncaknya, napasnya masih terengah-engah, terdengar sangat pendek.

"Gomawo Joongie." Yunho mengusap keringat yang membasahi wajah istrinya, mencium sekilas perut Jaejoong. "Aku titip benihku disini, semoga cepat berkembang."

Uh, perasaan sakit itu menghampiri Jaejoong, Yunho berharap terlalu besar kepadanya, bagaimana ia menjelaskannya ? Jaejoong menarik selimut menutupi hingga lehernya, membenamkan wajahnya dileher Yunho.

"Joongie ? Kenapa menangis eoh ?"

"Hiks..Mianhe Yunho-ah."

Yunho mencium puncak kepala Jaejoong bertubi-tubi, ia tidak mengerti dengan ucapan Jaejoong. Sesekali ia mengusap punggung Jaejoong.

"Tidurlah Joongie, kita bicarakan masalah ini besok saja." Yunho menghapus airmata Jaejoong, mendekapnya erat, membuat Jaejoong terasa nyaman. Ia tahu Jaejoong memiliki masalah yang belum ia ketahui, bila jujur, Yunho memang mengetahui tentang kehidupan istri cantiknya itu, tapi kali ini, Yunho sama sekali tidak mempunyai petunjuk.

.

.

.

Di pagi hari yang cerah, Jaejoong terlihat sangat rapi dengan baju kerjanya, tapi ia masih menyempatkan diri memakai apron bunga-bunga, membuat sarapan pagi.

CUP

Sebuah kecupan ringan mendarat dipipi putihnya, Jaejoong tersenyum, ia tahu siapa pelakunya, ia menerimanya, ia akan belajar menerimanya, tidak seperti dulu.

"Duduklah Yunnie, aku sedang menyiapkan bindaetteok (pancake kacang hijau, bombai dan kimchi)."

"Hm, baiklah." Kembali Yunho mengecup pipi Jaejoong, kemudian ia duduk di ruang makan, tidak berapa lama Jaejoong membawa sarapan mereka yang ditemani dengan secangkir saenggang cha (teh akar jahe).

"Selamat makan Yunho-ah."

"Selamat makan Joongie."

Tidak berapa lama mereka berdua pun menyelesaikan sarapan paginya, Jaejoong segera membersihkan meja makan mereka dan mencucinya, Yunho dengan setia menunggunya di ruang keluarga.

"Sudah selesai ?"

"Ne, Yunho-ah. Ayo kita pergi kerja."

"Duduklah dulu Joongie." Yunho menepuk-nepuk sofa disebelahnya, dan tidak lama Jaejoong telah duduk disampingnya, matanya melirik ke jam tangannya.

"Ada apa Yunho-ah ? Nanti kita terlambat kerja."

"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang memarahi kita Joongie. Ini soal semalam, kenapa menangis eoh ? Apa aku melakukannya dengan kasar tadi malam ?"

Jaejoong mendadak menegang, jarinya meremas pinggiran sofa, matanya perlahan menatap ke bawah, menghindari tatapan Yunho untuk saat ini.

"Joongie ? Kenapa ? Katakanlah ?"

"A...aku..Ck, bagaimana aku harus mengatakan ini eoh ?" Jaejoong menyenderkan kepalanya di sofa, matanya menatap ke langit-langit, berusaha menahan airmata yang akan segera jatuh lagi.

"Hm ? Kenapa Jaejoongie ? Apa kamu mempercayaiku sebagai suamimu ?"

Jaejoong mengangguk, matanya mulai berani menatap mata musang itu, tangannya perlahan mengenggam tangan Yunho, menatapnya lembut, berusaha menahan airmatanya. Jaejoong menarik napas sejenak, "Ada suatu hal penting yang ingin aku katakan Yunho-ah, tapi aku sendiri tidak tahu harus mengatakannya bagaimana. Aku rasa aku belum siap untuk saat ini. Bahkan orangtua angkatku belum mengetahui hal ini, hal yang selama ini aku simpan sendiri."

"Jaejoongie...aku suamimu, masalahmu sekarang merupakan masalahku juga, separuh dirimu adalah diriku. Jadi beritahu aku, aku tidak ingin kamu menyimpannya seorang diri lagi. Aku percaya kepadamu Jaejoongie."

"Yun..ho.."

Jaejoong tidak mampu lagi menahan airmatanya, Yunho memeluknya dengan erat, menenangkan Jaejoong dalam pelukannya.

"Jangan menangis ne ? Sebaiknya kita tidak usah turun kerja dulu hari ini eoh ?"

"Hiks..mianhe.."

"Ssstt...hal apa yang tidak kuketahui Jaejoongie ?"

"Aku...aku tidak bisa mempunyai anak Yunho-ah."

DEG

Tubuh Yunho membeku seketika, tangannya yang mengusap punggung Jaejoong berhenti seketika, Jaejoong menyadarinya, ia melepaskan pelukan Yunho, melihat wajah Yunho yang kaku tanpa ekspresi.

"Yunho-ah." Lirih Jaejoong

"Aaa...apa maksudnya Joongie ? Aku tidak mengerti." Yunho menetralkan dirinya kembali, ia tidak ingin melihat Jaejoong kecewa, ia akan tetap bersama Jaejoong, melewati semuanya bersama-sama, ia telah terikat oleh janji setia itu. Yang ia tahu, ia harus tegar menghadapi ini semua. Walau besar keinginannya untuk mempunyai anak.

"Aku..saat itu aku berumur 20 tahun, di usiaku itu seharusnya aku mendapat haid secara teratur setiap bulan, tapi aku sangat jarang haid hingga berbulan-bulan. Aku memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan seorang diri, seorang dokter bernama Ahn Min Rin memeriksaku." Jaejoong berhenti sejenak, dia melihat wajah suaminya yang terlihat serius mendengar setiap perkataannya.

"Lanjutkan Joongie, aku tidak apa-apa."

"Lalu, dokter Ahn memberiku obat, ia menyuruhku meminumnya setiap hari, lalu tidak berapa lama aku mendapat haid secara teratur. Aku pikir aku telah sembuh saat itu, tapi beberapa bulan kemudian kejadian itu kembali lagi, lalu aku mengunjungi dokter Ahn lagi dan ia pun kembali memeriksaku. Dan aku sendiri terkejut dengan yang dikatakan dokter Ahn saat itu."

"Jaejoong-ah, mianhe. Tapi saya harus memberitahukan hal ini."

"Apa itu dokter Ahn ?"

"Setelah saya periksa kembali, ternyata rahim anda tidak mampu menghasilkan ovum, hal itulah yang membuat anda jarang haid."

"Lalu ?"

"Kemungkinan besar anda tidak bisa memiliki keturunan apabila rahim anda sendiri tidak menghasilkan ovum. Maka tidak ada proses pembuahan."

"Aku sangat terpukul saat itu Yunho-ah, aku takut suatu saat aku harus memiliki anak, dan aku sangat takut ketika hal itu terjadi. Hiks..."

"Joongie...jangan menangis, sst...tenanglah. Aku tidak apa-apa hanya ada kita berdua. Jangan menangis ne ?"

"Ta..tapi Appa Jung menginginkan seorang cucu, bagaimana bisa aku memberikannya eoh ?"

"Sudahlah, suatu saat keajaiban pasti akan ada, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."

Jaejoong semakin menenggelamkan kepalanya dipelukan Yunho, setidaknya ia bersyukur Yunho memahaminya, tapi bagaimana dengan keluarganya ?

"Hei, apa kamu ingin mengunjungi orangtuamu eoh ?"

"Iya, aku mau. Aku merindukan mereka dan adik kecilku."

"Adik kecil ? Changmin sudah dewasa Joongie."

"Tetap saja ia adik kecil bagiku, hehe." Jaejoong sedikit merasa terhibur saat ini.

.

.

.

Shim's Apartement

"Noona ! Aku sangat merindukanmu !"

"Uh, sesak Minnie. Dimana Appa dan Umma ?"

"Appa sedang berkerja dan Umma sedang ke pasar. Yunho hyung apa kabar ?"

"Aku baik-baik saja Changmin-ah."

"Baguslah, apa kalian tidak berkerja eoh ?"

"Tidak, kami masih ingin menghabiskan waktu bersama Changmin-ah."

"Bersama ?"

"Ne, pekerjaan kami membuat kami jarang bertemu."

"Ya ! Minnie-ah, tidak usah bertanya lagi ! Kenapa kamu tidak kuliah ?"

"Aku sudah lulus noona, aku sudah ujian tesis dan nilainya sangat memuaskan."

"Benarkah ? Selamat Changmin-ah, apa masih berminat berkerja di Nissan ?"

"Terserah noona saja."

"Okey, aku ingin membuat minuman dulu."

Lalu Jaejoong menuju dapur apartement lamanya, sedikit rasa rindu menghampirinya.

"Yunho hyung, apa aku benar-benar bisa berkerja di Nissan ?"

"Tentu saja Changmin-ah, apa kamu ingin menggantikan posisi Jaejoongie eoh ?"

"Mwo ? Sebagai direktur cabang ? Aku belum siap hyung. Kenapa dengan Jaejoong noona ?"

"Tidak ada, aku hanya ingin ia menjadi ibu rumah tangga saja, hehe."

"Hm ? Tapi sepertinya noona menikmati pekerjaannya."

"Ne, tapi itu sangat menyiksaku, aku sangat jarang bertemu dengannya, bila aku pulang kerja hingga malam, ia pasti sudah tertidur duluan."

"Oh, aku mengerti maksud hyung, hahaha."

"Apa yang kamu pikirkan eoh ?"

"Hyung pasti ingin menghabiskan malam dengan bercinta bukan ?"

"Ya ! Shim Changmin ! Aku dapat mendengar apa yang kamu bicarakan ! seru Jaejoong memotong pembicaraan kalian.

"Jangan berteriak Joongie."

Jaejoong datang dari arah dapur membawa minuman, oh ternyata ia membuat coklat panas. Ditaruhnya perlahan cangkir tersebut, lalu ia membawa satu buah cangkir.

"Mau kemana eoh ?"

"Aku mau ke kamar lamaku Yunho-ah."

"Aku ikut ne ?"

"Andwe !"

Kemudian Jaejoong meninggalkan Yunho berdua dengan Changmin di ruang keluarga, entah pembicaraan apalagi yang mereka perbincangkan.

Jaejoong telah berada di kamar lamanya, sebuah kamar yang menemani hari-harinya, susunannya tidak ada yang berubah, kamar tersebut masih sama seperti ketika ia tinggalkan, ia meminum coklat panasnya sambil berjalan ke arah jendela. Ia tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian itu, Jaejoong yang memakai underwear dan Yunho melihatnya dari seberang sana.

Joongie ?"

"Hm ?"

"Appa baru saja meneleponku, sepertinya Appa sedang sakit, ia menyuruh kita ke rumahnya."

"Baiklah."

Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi Appa Jung yang tengah sakit, sayang bagi Jaejoong belum sempat bertemu dengan kedua orang tuanya yang masih saja menyibukkan diri mereka di hari-hari tuanya.

.

.

.

Jung's House

"Appa sakit apa ?"

"Hanya sakit biasa saja Yunho-ah, apa kamu sendirian ?"

"Tidak Appa, aku bersama Jaejoong. Dia sedang di dapur membuatkan bubur untuk Appa."

"Oh, apa dia tidak membencimu lagi Yunho-ah ?"

"Ne Appa, aku sangat menyayanginya. Ada apa Appa memanggil kami ?"

Appa Jung membetulkan posisi duduknya, menyenderkan badannya di kepala ranjang itu.

"Sepertinya Appa akan pensiun Yunho-ah, Appa sudah lelah untuk berkerja. Kamu harus menggantikan posisi Appa, Yunho-ah. Apa kamu sudah siap ?"

"Ne Appa, aku siap."

"Baguslah, Appa ingin menghabiskan hari tua Appa bersama cucu Appa, ah..membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan."

Yunho tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan Appa-nya itu, begitu juga dengan Jaejoong yang berada di depan pintu. Perasaan bersalah menghampirinya.

"Appa, ini aku buatkan bubur. Silahkan makan."

"Gomawo Jaejoong-ah, akan Appa makan. Apa kamu sehat-sehat saja Jaejoong-ah ?"

"Ne Appa."

Lalu Appa Jung memakan bubur buatan Jaejoong tadi, Yunho dan Jaejoong masih setia berada di kamar itu.

"Yunho-ah, besok mari kita urus pengangkatanmu. Appa sudah memberitahu Hyunjoong, asisten Appa."

"Ne Appa."

"Jangan lupa dengan permintaan Appa ne ? Satu orang cucu saja sudah cukup bagi Appa."

Lagi-lagi hal itu yang diungkit, Yunho belum siap untuk memberitahu kebenaran akan Jaejoong saat ini. Ia tidak ingin membuat Appa-nya menjadi down.

"Ne Appa, akan kami berikan cucu yang lucu untuk Appa." Kata Jaejoong.

"Wah, Appa tidak sabar menunggunya."

Appa Jung terlihat berbinar-binar, seorang cucu yang lucu sangat berarti baginya yang hidup seorang diri di rumah besar itu.

Yunjae's Apartement

Malam yang indah ini kembali dihabiskan oleh Yunho dan Jaejoong bersama, mereka sepakat untuk melupakan sejenak perihal permintaan Appa Jung. Yunho memeluk Jaejoong yang terlelap dipelukannya. Ia tahu istrinya pasti sangat terpukul saat ini, disaat orangtua mereka menanyakan perihal keturunan mereka selanjutnya.

Terdengar bel apartement mereka berbunyi, Yunho yang hampir tertidur menatap sekilas jam dindingnya.

"Siapa bertamu malam-malam begini eoh ?" gumamnya.

"Yunho-ah ada tamu." Gumam Jaejoong.

"Hm, aku akan menngeceknya." Yunho beranjak dari ranjang itu, membenarkan jubah tidurnya, lalu dengan setengah malas menuju ruang tamunya, Yunho langsung saja membuka pintu tersebut.

"Yu...yuri ?"

"Oppa..hiks..bantu aku...kumohon.."

Ternyata tamu tersebut adalah Kwon Yuri yang menangis tersedu-sedu di depan pintu itu, Jaejoong yang samar-samar mendengar suara tangisan itu pun segera menuju ruang tamunya.

"Siapa Yunho-ah ?"

"Dia Yuri. Ah, ayo masuk dulu Yuri-ah."

Dan mereka bertiga duduk bersama di ruang tamu, terlihat Yuri yang berusaha mengelap airmatanya yang sedari tadi tidak berhenti.

"Ada apa Yuri-ah ? Kenapa malam-malam begini ke apartementku ?"

"Bantu aku Oppa..Kumohon.."

"Ne, apa yang bisa kami bantu eoh ? Aku sudah sangat mengantuk Yuri-ssi ! Apa pantas bertamu malam-malam !" bentak Jaejoong.

"Jangan begitu Joongie. Ayo ceritakan Yuri-ah, apa yang bisa kami bantu ?"

"Aku..aku hamil oppa."

"MWO !" Yunho dan Jaejoong bersama-sama terkejut, terlebih lagi Jaejoong."

"Anak siapa itu Yuri-ssi ? Apa itu anak Yunho ?"

Yuri menggelengkan kepalanya, ada perasaan lega saat itu bagi Jaejoong. Bila itu anaknya Yunho, entah apa yang akan terjadi dengan rumah tangga mereka yang belum setahun ini.

"Lalu itu anak siapa Yuri-ah ?"

"Baiklah, aku akan menceritakannya."

"Ne, cepatlah."

"Oppa aku tahu kamu tidak ingat malam di bar itu, oppa meneleponku dan menyuruhku mendatangi oppa, ternyata oppa mabuk, lalu aku membawa oppa ke sebuah hotel. Ketika aku hendak pergi, oppa menahanku. Aku sangat takut saat itu, apalagi oppa telah menikah. Lalu oppa tiba-tiba menggumamkan nama nona Jaejoong dan tidak berapa lama oppa tertidur. Aku pun pergi dari hotel itu, diperjalanan aku pulang aku diikuti oleh seorang pria, dan dia..diaa memperkosaku.."

Yuri tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, terlambat baginya untuk menyesal, andaikan malam itu dia tidak mendatangi Yunho.

"Aa..pa.." Jaejoong terkejut akan penuturan Yuri, dia telah mengetahui jawaban kenapa malam itu Yunho tidak pulang. Ada sedikit perasaan sakit dihatinya, namun ia masih bersyukur Yunho dan Yuri tidak terjadi apa-apa.

"Aku...ingin menggugurkan bayi ini Oppa.."

"Ya ! Apa kamu sudah gila Yuri-ah !"

"Itu yang terbaik untukku, orangtuaku belum mengetahui perihal ini. Aku tidak ingin nama keluargaku menjadi buruk karena aku."

"Ya gugurkan saja Yuri-ssi, kenapa Yunho harus membantumu eoh ?" tanya Jaejoong yang terdengar dingin.

"Aku..tidak memiliki biaya..."

"Ck, jadi masalah uang ? Berapa yang kamu inginkan ? Aku akan memberikanmu."

"Kim Jaejoong !"

Jaejoong tersentak kaget, ini pertama kalinya Yunho membentaknya. Apa yang salah ?

"Jangan gugurkan bayi itu, biar aku yang mengambilnya, seharusnya kamu bersyukur Yuri-ah karena bisa memiliki keturunan. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan wanita yang tidak bisa memiliki keturunan eoh ?!"

"Andwe ! Aku tidak mau anak dia !"

Jaejoong membalas bentakan Yunho kemudian, dia mengira Yunho hanya kasihan kepadanya yang tidak bisa memiliki keturunan. Jaejoong merasa harga dirinya terinjak saat ini.

Yunho berhenti sejenak, mengatur napasnya, bukankah bagus bila ia mengambil anak itu ? Tapi mengapa Jaejoong menolaknya ? Sepertinya pikiran pasangan suami istri ini tidak menjadi satu.

"Aku tidak mau anak Kwon Yuri ! Aku tidak mau anak haram itu !" seru Jaejoong lagi, lalu dia meninggalkan Yunho dan Yuri, membanting dengan kasar pintu kamarnya dan menguncinya.

To be continued

Give me some review ~

Balikpapan, 12 Juni 2013

ZE.