Summary
Seoul, tahun 0049
. Bersama dengan sekelompok jenius pemberontak, Jaejoong dan orang-orang yang senasib dengannya berjuang menembus ke HeadQuarter terdalam Virtual Paradise untuk mencari separuh hati mereka yang hilang.

"Mereka bilang Yunho sudah pergi. Tapi aku tak akan mempercayainya begitu saja. Yunho tak akan mungkin meninggalkanku—tidak tanpa pamit terlebih dahulu."

Characters
Yunho, Jaejoong, DBSK, WINNER, iKON, Hongseok, Jinhyung, EXO, VIXX and many more…


Codename: RCL

Aku sedang mengetuk-ngetuk mejaku menggunakan ujung pulpen dengan bosan saat telepon tanpa kabel di belakangku berdering. Tak sampai dua kali dering aku sudah memutar mejaku dan mengangkat gagangnya.

"Yeoboseyo?" ucapku dengan suara ramah sesuai prosedur kerja. Suara bariton khas atasanku menjawabnya dari seberang, "Rachel bisa ke ruanganku sebentar?"

Aku memutar mata dan melayangkan pandanganku pada jam digital di pinggir kiri meja—02:48, aku bertanya dalam hati apa yang diinginkannya dariku siang-siang begini? Mengiyakan permintaannya, aku segera menutup telepon untuk bergegas menuju ruangannya yang terletak di ujung koridor.

Seperti biasa kuketuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam tanpa menunggunya menjawab—karena ia telah secara langsung memanggilku dan logikanya, Kris-sajangnim pasti telah menungguku.

Tubuhnya yang berbalut setelan berwarna coklat tua menyambut mataku saat aku menutup pintu ruangan dan berbalik menghadapnya.

"Selamat siang, sajangnim."

Ia sedang duduk bersandar di kursi hitamnya dengan nyaman dan membelakangiku. Matanya memandang lekat pada benda persegi panjang berwarna perak yang kelihatan seperti ponsel miliknya. Sejumlah kertas-kertas putih yang ditulisi tinta hitam berserakan di mejanya tanpa peduli. Jendela kaca besar yang menjadi satu-satunya pemisah antara dunia luar dan dunianya dibiarkan naik tirainya, membuat sinar kemerahan matahari kami masuk dan menyinari ruangannya.

Aku mengerenyitkan dahiku heran. Kris-sajangnim memang suka menaikkan tirai jendelanya saat baru tiba di kantor untuk mencegah benda-benda di ruangannya menjadi lembab dan berjamur, namun seingatku, paling lambat setelah makan siang ia akan memintaku, atau salah seorang office boy, atau dirinya sendiri untuk menurunkan tirainya. Sekarang… sudah hampir jam 3 kan?

"Sajangnim?"

Ia tak bergeming sedikitpun dari posisinya bahkan ketika aku menyapa untuk yang kedua kalinya.

"Sajangnim, apa ada yang bisa saya bantu?" Baru ketika aku sedikit mengeraskan suaraku, ia berjengit, kaget kurasa? dan menolehkan kepalanya ke belakang, "Oh, Rachel kau sudah datang?" sebelum akhirnya menurunkan kakinya dari kursi kecil—bagus, pantas aku tak tersandung benda itu seperti biasanya tadi, lalu memutar kursinya ke arahku berdiri.

"Aku tak mendengarmu masuk tadi. Maafkan aku membuatmu menunggu," ucapnya. Fokus matanya masih berada di layar ponselnya. Aku mengangguk dan tersenyum maklum kepadanya.

"Apa yang anda butuhkan, sajangnim?" Ia mengangguk dan meletakkan ponselnya di atas kertas-kertas berserakan di mejanya.

"Sangat ada. Dan hanya kau yang bisa melakukannya." Aku menaikkan alisku terkejut. Apa lagi selain Baekhyun yang hanya bisa dilakukan olehku?

"Sudah pasti ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, aku yakin kau bisa menebaknya karena mana mungkin aku memanggil tanpa menyuruhmu membawa apapun, kan? Sini, Rachel," Ia melanjutnya bicaranya dan memintaku berpindah untuk berdiri di samping kursinya. Otakku memberikan peringatan Siaga 1. Pasti ada apa-apanya. Namun aku menurut saja dan berjalan ke sampingnya. Hak sepatuku berketuk lima kali.

Ia mengangkat kembali ponsel berwana peraknya dan menunjukkan layarnya yang terbuka padaku.

"Aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang ini," ucapnya dengan santai. Di depan mataku, tepat di layar ponsel Kris-sajangnim terpampang seuntai gelang yang tak bisa kuduga terbuat dari bahan logam mulia jenis apa. Yang membuatku takjub atas desain perhiasan yang gambarnya ada di depanku ini adalah, kelihatan sekali bahwa kawat-kawat kecil logam tersebut dirangkai dalam sebuah pola jalinan rumit dan aku bersumpah pernah melihat pola seperti itu di buku manual Kiddy Loom milik anak tetanggaku. Dan perlu kalian ketahui, buku manual itu adalah panduan untuk merangkai dengan pola-pola tertentu menjadi sebuah ya... gelang-gelang juga, namun, yang dirangkai adalah karet warna-warni bukan kawat-kawat logam seperti ini. Entah dengan teknologi macam apa gelang yang ditunjukkan Kris-sajangnim tersebut dibuat.

Pada bagian tengahnya terdapat satu pola lain yang kali ini aku yakin sebagai pola Crossed Hexagon atau Segi-6 Bersilang—anak tetanggaku pernah merengek padaku minta dibuatkan cincin dengan pola tersebut, dan ada sebuah batu mulia berwarna hitam di tengahnya. Harga yang tercantum di pojok kanan bawah halamanpun sangat fantastis. Hampir 20 juta won. Aku tulis 20 juta karena aku tak yakin bisa menulis angka nol dalam jumlah yang benar. Kim Rachel juga kadang-kadang bisa bodoh kau tahu?

"Aku sering melihat kalian berdua di kafetaria saat jam makan siang dan dari gestur kalian, aku bisa meyakini kalau kalian berdua memang akrab, jadi aku akan menyimpulkan bahwa kau pasti tahu apa saja kesukaannya," lanjut atasanku. Langsung siaga 3, Rachel, otakku berusaha mengingatkan. Aku berusaha untuk tetap terlihat biasa saja meski aku sudah bisa mengendus kemana arah pembicaraannya.

"So, tell me, Rachel, apakah ia akan menyukainya jika aku berikan kalung ini?" tanyanya lugas, matanya tepat ke manik mataku.

Berpura-pura belum mengerti, aku menelengkan kepalaku sedikit dan bertanya, "Maksud sajangnim, Baekhyun?" Retorikal.

"Siapa lagi, Rachel-ah?" balasnya sambil mendesah, tubuhnya dihempaskan ke sandaran kursi. Aku menunduk dan membungkuk satu kali, meminta maaf. Ia menggeleng dan menegakkan kembali tubuhnya, "Tidak apa-apa. Sekarang, bagaimana menurutmu?"

"Saya rasa, ia akan… menyukainya karena warnanya cenderung gelap. Dan ya, saya baru ingat, beberapa hari yang lalu ia juga sempat bercerita kalau ia sedang mencari aksesoris untuk ia gunakan di Gala minggu depan," jelasku panjang lebar.

Wajah Kris-sajangnim langsung terlihat cerah mendengar penjelasanku, "Benarkah? Kebetulan sekali kalau begitu." Ia tertawa pelan dan memutar kembali kursinya, matanya menatap ke deretan perbukitan yang jauh ada di balik jendela kacanya sana.

"Tapi sajangnim, maaf bila saya harus menanyakan hal ini kepada anda. Bukankah Xi-sajangnim akan tahu kalau sajangnim membeli benda seperti ini? Xi-sajangnim masih memonitor kartu kredit sajangnim juga, bukan?" tanyaku jujur. Ya, meskipun pada dasarnya aku tidak peduli apakah ia akan bertengkar, bercerai atau apapunlah dengan istrinya itu kalau sampai ketahuan membeli gelang tersebut, tapi kan ada Baekhyun juga yang terlibat disini dan gelang mahal itu Kris-sajangnim beli untuknya. Diberikan sebagai hadiah entah dalam rangka apa.

Terlebih, Baekhyun adalah temanku. Kim Rachel adalah sahabatnya. Aku hanya tak ingin hal-hal buruk terjadi padanya karena satu tahun lebih menjadi karyawan disini sudah cukup untukku melihat apa saja yang bisa Xi-sajangnim lakukan pada orang-orang yang menurutnya mengganggu pandangan.

Dan semua hal-hal baik yang aku lakukan untuk Kris-sajangnim, memang mulanya kulakukan demi misi kelompokku semata; menyusup, mempelajari cara kerja petinggi-petinggi di departemen Pertahanan Virtual Paradise ini, dan mendapatkan satu file yang sampai detik ini belum aku dapatkan nomor-nomor serialnya—hanya warna mapnya saja, sampai akhirnya Kris-sajangnim mengakui hubungan gelapnya dan memintaku untuk membantunya melindungi Baekhyun. Yang cerobohnya kusanggupi dalam hitungan detik dan belakangan baru kusadari bahwa taruhannya adalah jabatanku sebagai sekertaris dan agen untuk kelompokku kalau sampai mereka dan peranku dalam menyembunyikan hubungan dua orang ini selama 8 bulan terakhir terekspos dan sampai ke telinga Xi-sajangnim.

"Makanya tadi aku bilang aku sangat membutuhkanmu, Rachel, karena kaulah my one hell of a secretary," ucapannya dengan jelas. One hell of a secretary. Aku mendengus dalam hati mendengar pujiannya. Lebih cocok disebut one hell of an infiltrator, sajangnim, karena secara spesifik aku tak pernah melamar pekerjaan disini. Xi-sajangnim yang membawaku—ya Tuhan betapa ironisnya, melalui salah satu hyung kami di kelompokku, WIN, yang juga merupakan seorang peneliti di departemen Riset dan Pengembangan untuk dijadikan, 'Sekertaris yang tahu adat dan beradab. Yang tidak sembarang mengangkat roknya hanya untuk menggoda suamiku.' Tolong aku sangat ingin tertawa.

"Aku hanya akan meminjam kartu kreditmu dan kau yang akan memberikan hadiah ini ke Baekhyun." Aku mengangguk paham dan baru akan membuka mulutku saat ia bertanya lagi entah untuk yang keberapa kalinya, "Rekeningmu ada uangnya kan?"

Aku meyakinkankannya dengan anggukan, "Ada, sajangnim. Cukup kalau untuk membayar itu."

Ia tersenyum lebar dengan lebar, "Nah, itu lebih bagus lagi karena," tangannya menarik sesuatu dari dalam laci mejanya, "aku bisa menggantinya detik ini juga dan tunai." Amplop berwarna coklat yang isinya sudah pasti uang. Memang mau amplop bercoklat isi apalagi kalau bukan uang?

"Aku kan juga tak mungkin mengirimkan uang sebanyak itu ke rekening tabunganmu. Bisa-bisa aku dianggap ada affair dengan 'sekertarisku yang ternyata juga tak tahu adat dan tak beradab. Yang ternyata sembarangan mengangkat roknya hanya untuk menggodaku'," ia terkekeh pada ucapannya sendiri. Jadi ia tahu ucapan Xi-sajangnim waktu itu. "Bisa kupastikan Luhan pasti akan langsung memecatmu sore ini, Rachel, kalau sampai itu terjadi. Aku tak mau kau kena sial gara-gara kami."

Kris-sajangnim mendorong amplop itu ke arahku, "Silahkan, kau ambil uangnya dan terimakasih banyak Rachel. Aku sungguh berhutang budi banyak padamu." Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih padanya sebelum mengulurkan tanganku untuk mengambil amplop tersebut. Kemudian keluar dari ruangannya dengan wajah masam yang tak bisa ia lihat karena posisiku yang membelakanginya.

o-o

Setelah melemparkan—iya melempar, ada masalah?, amplop berisi uang kertas ke dalam handbag coklatku, aku bergegas menuju toilet, ke satu-satunya tempat untukku mengumpat saat aku sedang kesal. Aku terus berjalan menelusuri koridor panjang tempat kamar mandi itu berada di ujung dekat jendela sana dengan alis bertaut dan kepala merunduk. Tak menyadari ada seseorang berjalan ke arahku sampai aku menabrak dengan keras dan menghempaskannya ke belakang. Aku juga terjatuh sampai terduduk di atas karpet tebal berwarna abu-abu yang melapisi lantai di koridor tersebut. Saking syoknya, aku sampai memejamkan mataku.

Saat aku membuka mata, wajah seorang sajangnim dari lantai 9 menyambutku dengan tatapan khawatirnya. Aku berusaha untuk bangkit namun tak bisa.

"Park-sajangnim maafkan saya!"

Tangan kanannya diulurkan kepadaku, menawarkan untuk membantuku berdiri. Aku meraihnya tanpa ragu setelah berpikir tak akan bisa bangun tanpa melepas sepatu hak tinggiku dulu.

"Kau baik-baik saja, kan?" Tanya Park Yoochun-sajangnim dengan wajah khawatir. Aku tersenyum, berusaha untuk tidak meringis saat menjejakkan kakiku dan berpegangan pada tembok di kananku walau Park-sajangnim masih memegangi lengan kiriku.

"Tentu, Park-sajangnim. Saya yang harusnya menanyakan hal tersebut. Maafkan saya, sajangnim."

Ia tersenyum lebar dan membuat matanya menghilang sesaat sebelum menepuk lenganku, "Sudahlah Rachel, tidak apa-apa. Oh, ngomong-ngomong, apa Kris ada di dalam ruangannya?"

Aku mengangguk sambil menahan sakit yang berasal dari punggung kaki kiriku. "Ada, sajangnim. Saya baru saja dari ruangannya."

"Baiklah, aku akan kesana menemuinya," ucapnya sambil melepaskan tangannya dari lenganku. Tiba-tiba, kurasakan telapak tanganku digenggam oleh… aku merunduk merasakan tangannya menyelipkan sesuatu ke dalam genggamanku. Tak berani mengangkat kepala, ia melewatiku sambil menepuk-nepuk pundakku dan tersenyum lebar.

"Berhati-hatilah. Jinwoo." Aku membelalakkan mata tak percaya mendengar nama asliku diucapkan oleh Park-sajangnim dalam satu bisikan. Aku tak berani menoleh kepala kepadanya yang semakin menjauh karena otakku terus-terusan mengingatkan ucapan leaderku 'bahkan musuh bisa terlihat seperti teman kalau mereka telah mengetahui rahasia-rahasiamu' sebelum aku memulai debutku sebagai Kim Rachel disini.

Cuma ada dua kemungkinan; kedokku sebagai seorang penyusup telah terbongkar atau—tiba-tiba aku teringat ucapan Changmin-hyung saat aku berkunjung ke rumahnya dua hari yang lalu. Apa yang dimaksudnya waktu itu adalah seorang sajangnim juga disini? Sajangnim yang juga seorang agen WIN sepertiku?

Berusaha untuk mengenyahan segala pikiran baik-buruk yang sedang berperang di kepalaku, aku teruskan perjalananku mencapai kamar mandi meski dengan kaki pincang. Tujuanku bukan untuk memukul-mukul pintu bilik kamar mandi lagi. Tanganku menggenggam erat kertas kecil yang diselipkan di tanganku tadi. Sesampainya disana dan menutup pintu bilik yang terletak paling ujung dari dalam, aku membuka genggamanku dan menemukan robekan kertas kecil bertuliskan,

AX15, hitam.

Aku tertawa senang mengetahui bahwa tugas ini akhirnya diberikan padaku bukan pada Taehyun. Park-sajangnim—tidak, tidak, aku harus mulai membiasakan memanggilnya dengan sebutan Yoochun-hyung, juga agen sepertiku dan penyamaranku belum terbongkar! Aku bangun untuk melompat-lompat kegirangan sebelum akhirnya mengerangan kesakitan saat reseptor rasa sakitku mengingatkan bahwa kakiku, tolong, sedang terkilir.

"Sialan!"

—₰—

Hallo~ Maaf baru update karena minggu kemaren saya mulai magang *derita mahasiswa semester 5* dan lagi ada yang ngingetin untuk jangan buru-buru jadi ya… Tapi baik kan saya langsung update banyak, 3,285 words! Ampe ledes nih telunjuk kanan saya hahaha

Chapter depan langsung ke tanggal dimulainya Yunho bertugas dan Bagian 1. Permulaan ini sisa tinggal 5-6 cerita lagi jadi mungkin akan kelar sebelum akhir tahun~

Fyi, pov Someone itu bisa sama ataupun beda orang dari yang sebelum2nya pernah di post. Karakter yang di ch 8 ini udah pasti beda ama yang di ch 4 waktu itu. Dan tadinya pov si Someone ch 8 itu gak mau ditulis, cuma saya selalu bayang-bayangin selama nyusun draft ff ini nulis adegan yang ada dede bayinya gitu (tadinya ini ff kan mau mpreg, heol), jadi saya harus tulistulistulis walaupun jadi banyak pelanggaran prinsip saya pas mau mulai nulis ini =3=

Reviews are loved~