BROTHER AND SISTER
Chapter 9
Author: ByunniePark
Genre: Family, Romance
Rate: T
Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, LuHan (Park Luhan), Oh Sehun
Other Cast: Kim Jongin (Byun Jongin), Wu Yi Fan (Kris Wu), dll.
Pair: Baekyeol, Hunhan, Taoris, Kaisoo, Sulay, Chenmin
Slight: Krishan
Disclaimer: Semua member EXO milik Tuhan (maunya sih milik saya) #abaikan, ff ini murni dari imajinasi saya.
Warning: OOC, GS, typo (dimana-mana)/ gaje/ ngebosenin/ don't like, don't read.
Summary: Dua saudara kandung yang mempunyai marga berbeda (summary berantakan)
Author is back #harlem shake bareng EXO...author bawa chap 9 yang berisi tentang jawaban soal UAN #plaaaak... jawaban pertanyaan dari readers semua kamsudnya hehe... dan lagi-lagi durasinya panjaaaaaaaaaaang #kemasukan laler... author saranin siapin insto ato obat tetes mata lainnya, soalnya baca chap 9 ini bikin mata perih saking panjaaaaaaang nya #plaaaak #author mulai lebeey #berharap chap ini tidak mengecewakan #mendadak otak author blank #surem... oke deh bacot author kepanjangan juga, so...
LET'S START
HAPPY READING
AUTHOR POV.
"my angels, baby deer and baby beef?" tanya Baekhyun bingung pada dirinya sendiri, sungguh ia tidak tau siapa balita yang ada di foto itu. Dan apakah mungkin itu fotonya saat masih bayi?
Tapi tunggu... ia ingat sesuatu, beef adalah panggilan dari eomma nya waktu Baekhyun masih kecil. Berarti benar salah satu dari balita ini adalah dirinya. Tapi siapa balita yang satunya?
Baekhyun terus saja menatap bingung foto itu, sampai tiba-tiba foto itu direbut oleh seseorang dari tangannya. Baekhyun pun terlonjak kaget saat mengetahui ternyata eomma nya sudah terbangun dari tidurnya.
"B-Baekhyun-ah se-sedang apa disini, kau belum tidur?" tanya sang eomma dengan nada gugup.
"ani eomma...tadi mendadak perut ku lapar jadinya aku ingin mengambil buah didapur dan saat melewati ruang TV aku melihat eomma tertidur disini, lalu aku membereskan majalah yang berserakan dan tidak sengaja melihat foto itu...eumm kalau boleh tau itu foto bayi siapa eomma?" tanya Baekhyun.
DEG
Soobin terlihat semakin gugup, ia bingung apa yang harus dikatakan pada Baekhyun. Terlihat ia sedang berpikir untuk mencari alasan yang tepat.
"aahh ini... i-ini foto mu dengan anak sahabat eomma"
"benarkah? Siapa eomma? " tanya Baekhyun sambil menyipitkan matanya, sebenarnya ia masih ragu dengan jawaban eomma nya.
"itu sudah lama sekali chagi, eomma lupa siapa namanya...sudah kamu tidur sana sudah malam, eomma kekamar dulu ne, good night chagi" ucap Soobin sambil mencium pucuk kepala anaknya dan secepat kilat menuju kamarnya.
Dan tinggallah Baekhyun sendiri dengan berbagai pertanyaan yang muncul di otak nya.
'benarkah itu anak sahabat eomma? tapi kenapa kelihatannya dekat sekali, apa jangan-jangan eomma masih mempunyai anak lagi selain aku dan Jongin?... pasti ada yang eomma sembunyikan dari ku, aku harus cari tau semuanya, ini hidupku, aku harus tau semuanya, aku tidak mau terus menerus hidup dengan segala rahasia yang selalu eomma sembunyikan dari ku' batin Baekhyun. Ia urungkan niatnya mengambil buah dan melangkahkan kaki nya menuju kamarnya.
#
Sesampainya dikamar, Soobin segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Sejenak ia masih diam terpaku di depan pintu, tubuhnya perlahan merosot ke lantai. Ia tatap kembali foto itu dengan tubuhnya yang mulai bergetar dan mata nya yang mulai berkaca-kaca.
"mianhae Baekhyun-ah mianhae, eomma belum bisa memberitaumu, aku memang ibu yang buruk untuk kalian, tapi eomma janji suatu saat eomma akan mengatakan semuanya padamu dan eomma akan mencari kakak mu, eomma janji" kata Soobin lirih dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"Luhan... apa kau masih ingat eomma sayang? Eomma rindu sekali padamu, kapan kita bertemu lagi? Eomma ingin sekali bertemu dengan mu... Eomma tidak peduli jika nanti kau tidak mengenal eomma, melihat mu saja eomma sudah senang... Tuhan aku mohon pertemukan aku dengannya sekali saja, aku mohon" Soobin tak henti-hentinya menatap foto itu dengan berbagai harapan, harapan untuk bertemu anak sulungnya.
#
#
#
Sehun menggeliat tidak nyaman dari tidurnya, perlahan ia membuka matanya. Ia merasakan ada sesuatu yang panas menyentuh lehernya. Dan ternyata suhu panas itu berasal dari kening Luhan yang menempel di lehernya. Sehun pun terlonjak kaget. Tangan nya segera menyentuh kening Luhan, dan ternyata benar, kening Luhan panas lalu tangannya beralih menyentuh leher yeoja itu dan ternyata juga sama-sama panas. Sehun terlihat panik sekarang, perlahan ia lepaskan pelukan luhan dari tubuhnya dan langsung mengangkat tubuh Yeoja itu dan membaringkannya di tempat tidurnya.
"Lu... bangun, kau dengar aku, bangun Lu...heey jangan buat aku takut, rusa jelek bangun!" kata Sehun sambil menepuk-nepuk pelan pipi Luhan agar yeoja itu terbangun. Tapi tak ada tanda-tanda Luhan bangun. Sehun pun terlihat semakin panik, sekarang masih jam 3 pagi dan masih terlalu pagi untuk mengantar Luhan pulang, apalagi dengan keadaan Luhan yang tengah demam, ia bingung apa yang harus ia jelaskan pada keluarganya nanti.
Segera saja ia keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil air dingin, setelah itu ia juga mengambil handuk kecil dan mulai mengompreskannya pada Luhan agar panasnya turun. Sehun menududukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidurnya sambil menggenggam tangan Luhan erat. Rasa kantuk nya hilang seketika, matanya terus terfokus pada Luhan yang tak kunjung merespon kala ia berusaha membangunkannya.
2 jam sudah Sehun terjaga menunggu Luhan yang masih menutup matanya. Tangan kanan nya terangkat menyentuh pipi Luhan, dan ia merasakan panasnya sudah agak menurun, tapi Luhan belum juga bangun.
"bangun Lu, aku mohon jangan buat aku ketakutan begini" kata Sehun sambil mengguncang-guncangkan tubuh yeoja itu agar terbangun. Dan akhirnya usaha Sehun tidak sia-sia, Luhan sedikit terusik dan perlahan membuka matanya. Wajah Sehun pun berubah cerah seketika.
"Se-Sehunnie" panggil luhan dengan suara lemah dan Sehun pun bernafas lega.
"syukurlah akhirnya kau bangun..." ucap Sehun yang kala itu juga langsung memeluk Luhan,"...kau membuat ku takut Lu"
"memangnya aku kenapa Hunnie?" tanya Luhan.
Sehun pun melepas pelukannya, "badan mu panas sekali, dan sudah berkali-kali aku membangunkanmu tapi kau tidak juga bangun"
"mian Hunnie sudah membuat mu khawatir" kata Luhan dengan nada sedih.
"hey jangan minta maaf padaku, aku yang seharusnya minta maaf, aku yang salah karena membiarkan mu tidur di lantai tadi malam sehingga membuatmu demam begini "
"ani... Sehunnie tidak salah, aku yang salah, ak..."
"Lu cukup..." interupsi Sehun memotong perkataan Luhan, "...jangan terus menyalahkan dirimu begitu, itu malah semakin membuat ku sedih, kau tau?"
"mi..." belum sempat Luhan menyelesaikan kata-katanya jari telunjuk Sehun sudah menempel di bibirnya.
"kau tidak mendengarkan kata-kata ku tadi? Berhenti minta maaf atau aku benar-benar marah pada mu" kata Sehun dengan nada yang sedikit dingin.
Luhan sedikit takut dibuatnya dan akhirnya hanya menganggukkan pun menyunggingkan senyumnya.
"rusa pintar..."kata Sehun sambil mngacak-acak rambut Luhan, "...sekarang beri senyummu padaku!"
Dengan ragu, perlahan Luhan menarik sudut bibirnya ke atas agar tercipta sebuah senyuman...namun itu bukan senyuman lebih tepatnya Luhan hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Sehun.
Sehun pun mengerutkan alisnya, "heeeh? Senyum apa itu? Kau mau pamer gigi seperti Chanyeol?"
"ahahahaha..." dan seketika itu tawa Luhan pun lepas, membuat hati Sehun lega karena Luhan bisa tertawa kembali dan sejenak melupakan masalahnya.
Yeoja itu pun perlahan mulai bangkit dari tidurnya dengan dibantu Sehun dan menyenderkan punggungnya di sandaran tempat tidur Sehun.
"gomawo Hunnie...aku tidak tau seperti apa aku jika tidak ada kamu" kata Luhan dengan suara nya yang masih lemah.
Sehun pun memberikan senyum terbaiknya pada Luhan sambil mengacak-acak rambut yeoja itu, "kau terlalu berlebihan Lu"
Luhan pun terkekeh, " ani... you're the best i ever had" ucap Luhan sambil tangannya mengeggam tangan Sehun erat.
"sudah jangan buat aku ge'er lagi, sekarang aku antar kau pulang, dan sebaiknya hari ini jangan masuk sekolah dulu, istirahat saja di rumah kau masih demam, arraseo?" perintah Sehun.
"ne, lagi pula aku tidak mau bertemu dengan Kris nanti di sekolah" kata Luhan sambil tertunduk lesu.
"heey sudah jangan ingat dia lagi, aku tidak mau melihat mu menangis lagi, kajja ku antar kau pulang" ucap Sehun dan disambut senyuman tipis dari Luhan.
Namja itu kemudian membantu Luhan bangkit dari tempat tidurnya, tapi baru selangkah berjalan tubuh Luhan oleng lagi, hampir saja tubuhnya terjatuh ke lantai kalau saja tidak ditahan oleh Sehun.
"Lu... gwenchana?" tanya Sehun panik.
"Hunnie pusing..." jawab Luhan sambil tangannya memegangi kepalanya.
"ya sudah aku gendong ne..." Sehun mulai berjongkok di depan Luhan dan tangannya memberi isyarat pada Luhan agar naik ke punggungnya, "...kajja cepat naik!"
Tanpa pikir panjang Luhan pun akhirnya naik ke punggung Sehun dan tidak lama kemudian Sehun melangkahkan kakinya menuju rumah Luhan dengan Luhan di gendongannya yang sekarang tengah menyenderkan kepalanya di pundak Sehun.
'kenapa Sehun baik sekali pada ku? Kenapa Kris tidak seperti Sehun? Kenapa aku harus jatuh cinta pada Kris? Kenapa bukan Sehun saja yang jadi namjachinguku? Kenapa ...Luhan ..kenapa? Aaah ..ani.. jangan berpikir macam-macam, kau jangan bodoh Lu, Sehun adalah sahabatmu, kau tidak mau merusak persahabatan mu kan? Selama ini dia baik pada mu karena kau sudah di anggap saudaranya sendiri dan memang kenyataannya begitu kan?' Luhan terus saja berdialog dengan dirinya sendiri dalam hati sehingga tanpa ia sadari, mereka sudah sampai di rumah Luhan.
Sehun pun segera memencet bell rumah Luhan. tak lama kemudian pintu pun terbuka menampakkan Hara yang masih mengenakan baju tidurnya. Mata Hara pun terbelalak kaget karena mendapati anaknya tengah tertidur di gendongan Sehun.
"an-annyeong ahjumma" sapa Sehun
"astaga Sehun-ah, Luhan kenapa, apa yang terjadi padanya?" tanya Hara khawatir.
"mian ahjumma gara-gara kami mengerjakan tugas hingga larut malam, Luhan jadi demam, mianhae ahjumma ini salahku" jawab Sehun berbohong sambil menundukkan kepalanya.
"iiiiissh kalian ini, makanya kalau belajar ingat waktu, jangan memaksakan diri, perhatikan kesehatan kalian juga"
"ne ahjumma mianhae"
"eomma jangan salahkan Sehun, aku yang keras kepala, Sehun sudah memperingatkan aku untuk berhenti mengerjakan tugas tapi aku tidak mendengarkannya" bela Luhan yang tiba-tiba membuka matanya.
"ne ne arraseo ... Sehun-ah tolong bawa Luhan kekamarnya!"
"ne ahjumma" Sehun pun langsung melangkahkan kaki nya menaiki tangga menuju kamar Luhan. Setelah sampai dikamar luhan, ia pun langsung membaringkan tubuh yeoja itu di tempat tidurnya. Sedangkan Hara yang sedari tadi mengikuti Sehun, saat ini tengah mengambil pakaian ganti untuk Luhan karena sampai sekarang anaknya itu masih mengenakan seragam sekolah begitu juga dengan Sehun. Tapi Hara merasa aneh pada Sehun, iya... ada yang Hara belum tanyakan pada Sehun, tentang luka memar di wajah Sehun.
"Sehun-ah kenapa wajah mu? Kenapa memar-memar begitu?" tanya Hara.
Luhan yang mendengar pun membulatkan matanya, ia baru sadar kalau luka memar Sehun masih terlihat jelas.
"aah ini, kemarin aku berkelahi dengan preman-preman yang mengganggu Luhan ahjumma, tapi jumlah mereka sangat banyak jadinya aku babak belur begini" bohong Sehun lagi.
"OMOO... jinjja? lalu bagaimana, kalian tidak apa-apa?" tanya Hara khawatir bercampur kaget.
"gwenchana ahjumma kami tidak apa-apa, semua sudah ku atasi hehe" kata Sehun mencoba menenangkan Hara
"ck lain kali kalian harus hati-hati?"
" ne ahjumma... eumm kalau begitu aku permisi pulang dulu " pamit Sehun pada Hara.
"ne kau harus cepat bersiap-siap kesekolah dan terima kasih sudah mengantar Luhan pulang"
Sehun pun mengangguk dan matanya kemudian beralih menatap Luhan yang sedari tadi diam dengan pandangan sayu.
"Lu... aku pulang dulu ne. Cepat sembuh ya annyeong"
"chakkaman" interupsi Luhan dengan tangannya yang tiba-tiba menahan Sehun yang akan beranjak pergi dari kamarnya.
"eh?" Sehun pun kaget dan beralih menatap Luhan kembali.
"pulang sekolah kau harus kesini lagi" pinta Luhan
Sehun pun terkekeh dibuatnya, "pasti" jawab Sehun sambil mengacak-acak rambut Luhan dan setelah itu kembali melangkahkan kakinya untuk pulang.
Setelah kepergian Sehun Hara langsung menutup pintu kamar Luhan dan membantu anaknya berganti pakaian. Tapi tidak lama kemudian terdengar ketukan dari pintu kamar Luhan.
"siapa?" tanya Hara dengan sedikit mengeraskan suaranya.
"eomma aku boleh masuk?" kata si pengetuk pintu yang ternyata adalah Chanyeol.
"sebentar noona masih berganti baju" kata Hara sambil membantu Luhan memakaikan baju nya.
"chagi eomma siapkan sarapan untuk kalian dulu ne, kau istirahat saja dulu, nanti eomma akan suruh dokter Kim kesini untuk memeriksa mu" kata Hara yang sudah selesai membantu Luhan memakai bajunya.
Dan Luhan pun hanya mengangguk lemah sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sebelum pergi Hara mencium pucuk kepala Luhan lalu berjalan menuju pintu kamar dengan membawa seragam kotor anaknya.
CKLEK
Hara membuka pintu kamar Luhan dan ternyata masih ada Chanyeol yang sedari tadi menunggu di depan pintu.
"masuk lah, tapi jangan ganggu noona mu, dia sedang sakit"
"ne eomma" kata Chanyeol sambil menunjukkan jempolnya dan mulai memasuki kamar Luhan.
Chanyeol mengahampiri Luhan yang tengah terbaring lemah di tempat tidurnya, lalu ia mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur.
"noona sakit apa?" tanya Chanyeol khawatir.
"hanya demam" jawab Luhan singkat.
"noona sakit pasti gara-gara tiang listrik itu kan? apa perlu aku hajar tiang listrik itu lagi?"
"Channie cukup...jangan ingat kan aku pada dia lagi" bentak Luhan.
Chanyeol pun sempat kaget dengan bentakan Luhan, "mi-mianhae, aku hanya tidak mau melihat noona sedih, kalau noona sedih aku juga sedih" ucap Chanyeol sambil menundukkan kepalanya.
Luhan mengerutkan alisnya mendengar perkataan Chanyeol dan ia pun terkekeh. Chanyeol pun juga ikut mengerutkan alisnya dan dengan pandangan bingung melihat Luhan terkekeh.
"haha aigoo sejak kapan kau jadi semanis ini padaku, eum? Apa Baekhyun sudah mengubah Channie baby ku jadi semanis ini?" goda Luhan dan muka Chanyeol pun bersemu merah sambil menggaruk tengkuknya.
"...tapi tunggu...kenapa kau sudah rapi begini, padahal ini kan baru jam 6 pagi?" tanya Luhan heran.
"hehe aku mau menjemput pacarku" jawab Chanyeol dengan cengirannya.
Luhan pun kaget dibuatnya, "mwo? Pacar? Memangnya siapa pacarmu?" tanya Luhan penasaran dengan sedikit mengeraskan suaranya.
"iiissh siapa lagi kalau bukan 'Byun Baekhyun'" kata Chanyeol dengan menekankan nama Baekhyun.
"mwo? Jadi kalian... sejak kapan?"
"kemarin.." jawab Chanyeol singkat.
Luhan menatap Chanyeol tak percaya, ia pun menegakkan tubuhnya lagi dengan susah payah dan akhirnya dibantu Chanyeol.
"kau serius mencintainya?" tanya Luhan dan dibalas anggukan mantap dari Chanyeol, "...Channie dengarkan noona... jangan pernah sekali-sekali kau permainkan dia, kau tau... rasa nya sangat sakit, aku tidak mau Baekhyun merasakan apa yang aku rasakan saat ini, dia gadis baik-baik jadi jangan sia-sia kan dia ne"
Chanyeol pun menggelengkan kepalanya, "tidak akan noona, aku benar-benar mencintainya, selama ini hanya dia yang bisa membuatku gugup saat berada didekatnya, jadi akan kupastikan selamanya aku akan selalu mencintainya" jawab Chanyeol mantap.
Luhan pun terkekeh mendengar jawaban dari Chanyeol, tangan kanannya perlahan terangkat untuk mengacak-acak rambut Chanyeol yang sudah ditata serapi mungkin, "noona pegang kata-kata mu...aigooo uri Channie baby sudah besar ternyata"
"Ya! jangan mengacak-acak rambut ku iiissh" protes Chanyeol sambil merapikan rambutnya kembali.
"haha sudah cepat sana jemput Baekhyun, kau tidak mau kan pacar mu yang cantik itu di jemput orang lain" goda Luhan lagi.
"ani...hanya aku dan sepedaku yang boleh menjemputnya..oke noona kalau begitu aku berangkat dulu ne, annyeong" pamit Chanyeol seraya berjalan meninggalkan kamar Luhan.
Luhanpun hanya tersenyum melihat kepergian dongsaengnya, ia senang setidak nya ada yang sedang bahagia saat ini, setelah itu ia pun membaringkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, "lupakan Kris..Luhan lupakan" ia lalu menghela nafasnya dan mulai memejamkan matanya.
#
#
#
Dua sejoli itu tak henti-hentinya tersenyum dengan saling menautkan tangan mereka, sesekali sang namja mengayun-ayunkan tautan tangan mereka, tak jarang juga mereka saling lirik hingga membuat wajah mereka berdua bersemu merah. Mereka terus saja berjalan melewati lorong-lorong kelas menuju kelas sang yeoja tanpa mempedulikan banyaknya pasang mata yang menatap mereka aneh bercampur iri. Yuup pasangan baru yang membuat iri, yang tidak lain adalah ChanBaek couple.
Tidak lama kemudian mereka sampai juga di kelas Baekhyun, membuat Chanyeol mendengus kesal karena harus berpisah sementara dengan pacarnya. Baekhyun yang melihat tingkah Chanyeol pun hanya terkekeh.
"kenapa cemberut begitu?" tanya Baekhyun.
"aku benci kalau harus berpisah denganmu, rasanya aku ingin sekelas dengan mu saja biar kita sama-sama terus"
Lagi-lagi Baekhyun terkekeh,"ya sudah pakai rok sana, baru bisa sekelas denganku"
Chanyeolpun mengerutkan keningnya, "heeeh? Iiiiissh kau bercanda baby, apa kau tidak sedih berpisah denganku?" tanya Chanyeol dengan nada sedih.
"bukan begitu chagi, tapi kau juga harus tau waktu, sekarang waktunya untuk belajar dan kau harus tau... waktu luang kita jauh lebih banyak dari pada waktu kita di sekolah, jadi mafaatkan waktu kita disekolah dengan belajar sebaik mungkin, aku tidak mau nilai pacarku jelek nantinya" nasihat Baekhyun panjang lebar.
Mata Chanyeolpun langsung berbinar mendengar nasihat Baekhyun,"wohooo Park Chanyeol memang tidak salah menjadikan Byun Baekhyun pacarnya, gomawo baby Park Chanyeol janji akan belajar dengan baik" kata Chanyeol sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk v sign.
"kau tidak usah menggombal di sini Park Chanyeol, kau tidak lihat dari tadi teman-teman ku memperhatikan kita" kata Baekhyun sedikit berbisik.
"jangan pedulikan mereka baby, mereka hanya iri padamu karena mempunyai pacar se keren Park Chanyeol"
Baekhyun memutar bola matanya malas,"bisa tidak kau kurangi sifat percaya dirimu itu?"
Dan Chanyeolpun menggeleng,"tidak bisa, karena memang itu faktanya"
Baekhyun semakin prustasi dibuatnya, "iiiiiiisssh ya sudah sana ke kelasmu, sebentar lagi bell masuk berbunyi"
"hehe ne baby, aku ke kelas dulu ne annyeong, saranghae"
CUP
Secepat kilat Chanyeol mencium pipi Baekhyun dan berlari menuju kelasnya. Raut muka Baekhyun berubah merah seketika entah itu karena kesal atau malu.
"YAAK!" protes Baekhyun pada Chanyeol yang sudah berlari menjauh dari kelas Baekhyun.
Ia lalu melirik ke arah teman-temanya yang sedari tadi menatap horor padanya, dan seketika itu ia edarkan cengirannya seraya sedikit membungkuk sambil berjalan menuju bangkunya.
Baekhyun menghempaskan tubuhnya di kursinya dan menghela nafas, setelah itu matanya melirik bangku yang ada di sebelah kirinya yang tak lain adalah bangku Huang Zitao. Tapi ternyata bangku itu kosong, penghuninya sepertinya belum datang.
'kemana Zitao? Biasanya jam segini dia sudah datang, padahal sebentar lagi bell masuk berbunyi, apa dia tidak masuk?' tanya Baekhyun dalam hati.
TEEET_TEEETTTT
Dan benar saja bell masuk sudah berbunyi namun Zitao belum juga tampak, sudah dipastikan yeoja itu tidak masuk sekolah hari ini.
#
#
Di kelas Boys 10A, terlihat Chanyeol sedang berjalan menuju bangkunya, dan senyum lebarpun terkembang di bibirnya kala mendapati Jongdae sudah duduk manis di bangkunya sendiri sambil bertopang dagu dan sesekali senyum-senyum sendiri.
"A-yoooooo whaaasssssuup Kim Jongdae!" sapa Chanyeol sambil menyenggol tangan Jongdae yang sedang menyangga dagunya, hampir saja wajah Jongdae mencium meja gara-gara ulah Chanyeol.
"YA! kau merusak lamunanku Park Chanyeol" bentak Jongdae karena lamunannya terganggu dengan kedatangan Chanyeol. Chanyeol pun hanya nyengir.
"hehe mian... sepertinya kau senang sekali? Memangnya sedang melamun apa? Melamun jorok eoh?" tanya Chanyeol.
Jongdae pun mendengus kesal,"otak mu yang jorok..." tapi tidak lama kemudian raut muka Jongdae berubah menjadi cerah, "kau tau, Minseok noona kemarin menerima cinta ku"
Seketika itu mata Chanyeol langsung membulat sempurna, "mwo? Jinjja?"
Jongdae pun mengangguk mantap,"ne...bahkan aku juga mendapatkan ciuman pertamanya"
Mata Chanyeol pun semakin melebar,"mwo? Ciuman pertama?" teriak Chanyeol kaget.
"iiiiiissh bisa tidak kau pelankan suara mu sedikit pabbo" ucap Jongdae sedikit berbisik.
"haaaah bagaimana bisa kau langsung mendapatkan ciuman pertama Minseok noona?"
"heey bukankah biasanya setiap pasangan yang baru menyatakan cinta selalu berakhir dengan ciuman, berbagai survey menyatakan seperti itu" jelas Jongdae.
Chanyeol menatap Jongdae tak percaya,"kemarin baby Baekkie ku juga menerima cintaku, tapi tidak berakhir dengan ciuman, malah kepalaku dipukul olehnya"
"mwo? Bwhahahahahaha..." dan Jongdae pun tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, sedangkan Chanyeol tengah mengerucutkan bibirnya kesal,"hahahaha aigoo kasian sekali kau Park Chanyeol hahahaha"
PLETAAAK
Karena sudah tidak tahan ditertawai Jongdae, Chanyeol pun memukul kepala Jongdae dengan bukunya.
"YA! kenapa memukulku...iiiissh" bentak Jongdae sambil mengusap kepalanya.
"siapa suruh menertawaiku" gerutu chanyeol
"hahaha ne mianhae, kau hanya perlu strategi Chanyeol-ah, mungkin nona Byun mu itu masih malu, dan kau hanya perlu bersabar sedikit, asal kau tau saja wanita itu tidak suka kalau dipaksa, ...kalau menurutku bagaimana kalau kau mengajak nona Byun kencan saja minggu ini, biasanya kalau berada dalam suasana romantis seperti itu hati yeoja akan luluh dan kau bisa dengan mudah menciumnya" saran Jongdae.
"jinjja?" tanya Chanyeol sambil melongo mendengarkan penuturan Jongdae.
Jongdae pun mengangguk," ne... menurut survey, kebanyakan pasangan yang melakukan kencan akan berakhir dengan ciuman, kenapa tidak kau coba saja siapa tau berhasil"
Chanyeol pun mengangguk-anggukkan kepalanya,"benar juga, tidak ada salahnya mencoba, kalau begitu, weekend ini aku akan mengajak kencan baby Baekkie kkkk" kata Chanyeol sambil menyeringai ke arah Jongdae,"...thanks bro"
"cheonma itu kan gunanya teman, semoga berhasil Park Chanyeol" kata Jongdae sambil memberi wink dan jempolnya pada Chayeol.
#
#
#
Sejak kejadian kemarin Zitao terus saja mengurung dirinya di kamar, bahkan ia mengabaikan panggilan dari Kris. Namja itu tak henti-hentinya mengirimi pesan dan berusaha menelfon Zitao tapi tak satu pun panggilan dari Kris yang ia jawab. Melihat anaknya seperti itu tentu saja membuat nyonya Huang khawatir. Dari kemarin Zitao mengunci kamarnya dan tidak mau makan. Nyonya Huang tak henti-hentinya mengetuk pintu kamar anaknya, tapi tak ada pergerakan didalam yang menandakan Zitao akan membuka pintu kamarnya. Merasa sudah prustasi, nyonya Huang pun menyuruh salah satu maid nya untuk mengambil kunci cadangan.
Tidak lama kemudian maid itu kembali membawa kunci cadangan kamar Zitao. Tidak menunggu lama, nyonya Huang pun langsung membuka kamar anaknya. Gelap...itulah yang dilihat nyonya Huang setelah pintu kamar terbuka. Yeoja paruh baya itu pun langsung menyalakan lampunya dan tampaklah Zitao yang mendekam di pojok kamarnya sambil memeluk lututnya erat. Nyonya Huang pun kaget dibuatnya, cepat-cepat ia hampiri anaknya.
"astaga sayang kamu kenapa? Katakan pada mama" tanya nyonya Huang khawatir sambil memeluk Zitao dan membelai rambut hitam anaknya.
"hiks mama, bisakah mama meminta papa untuk membatalkan saja pertungan Zitao dengan Kris gege?"
"mwo? Membatalkan pertunanganmu? Kenapa sayang? Bukannya kau tidak keberatan dengan perjodohan ini? Dan sepertinya kalian juga saling mencintai, jadi kenapa harus dibatalkan?"
Perlahan Zitao merenggangkan pelukan mamanya dan menghapus air matanya,"entahlah ma, aku rasa aku berubah pikiran, aku masih terlalu muda untuk terikat dengan seseorang, aku masih ingin menikmati masa muda ku dengan bebas ma" kata Zitao beralasan. Sejak tadi malam ia telah merenungkan keputusannya itu untuk membatalkan pertungangannya dengan Kris. Bagaimanapun juga ia sangat merasa bersalah pada Luhan, ia sebenarnya juga masih ragu akan perasaan Kris padanya, ia tau kris sangat mencintai Luhan. Walaupun sebenarnya ia juga tau Kris juga sangat mencintainya dan begitu juga dengan Zitao, dia terlalu mencintai Kris hingga membuatnya buta, tapi ia harus merelakannya. Ia tidak mau egois lagi sekarang, ia tidak mau suatu saat nanti Kris menyesali keputusannya karena memilihnya.
"sebaiknya kau pikir-pikir sekali lagi sayang, kau tau kan papa mu tidak akan dengan mudah mencabut keputusannya"
"tapi ma ak..."
"sudahlah sayang kau tidak usah khawatir, kalian hanya bertungan dan kalian juga bisa melewati masa muda kalian dengan normal, lagi pula keluarga kita sudah berteman baik dengan keluarga Wu sangat lama, mama tidak mau nanti hubungan baik itu rusak karena kita membatalkan pertunangan kalian, kau mengerti kan sayang" interupsi nyonya Huang.
Zitao yang tidak tau harus menjawab apa pun hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Dan nyonya Huang pun tersenyum sambil membelai rambut anaknya,"sudah jangan menangis lagi, sekarang ayo makan, mama perhatikan kau semakin kurus saja akhir-akhir ini"
Zitao hanya pasrah saat sang mama menariknya menuju ke ruang makan. Saat ini Zitao memang masih bingung, bingung apakah harus membatalkan pertunangannya atau tetap melanjutkannya. Ia ingin segera terlepas dari masalah itu dan mungkin jalan satu-satu nya adalah bicara empat mata dengan Luhan.
#
#
Sementara itu, di tempat lain seorang namja tinggi saat ini tengah terduduk di lantai kamarnya sambil menekuk lutut nya dan melipat kedua tangannya di atas lututnya. Matanya menatap kosong ke arah luar jendela kamarnya. Keadaannya sekarang sungguh berantakan, wajah tampannya tertutup dengan banyaknya luka memar di wajahnya dan darah yang sudah mengering.
TES
Sebulir air mata jatuh ke tangannya. Namja yang tidak lain adalah Kris itu memang tengah menangis. Namun tidak terdengar sama sekali suara isakannya. Ini pertama kalinya ia menangis setelah 7 tahun yang lalu saat ibu nya pergi meninggalkannya. Dalam hati ia terus saja memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh, bodoh karena menyia-nyiakan seseorang yang ternyata selama ini namanya sudah tertanam di hatinya. Ia baru menyadarinya saat semuanya sudah berakhir dan mustahil baginya untuk memulainya lagi. Kehilangan separuh hati, ternyata terasa menyakitkan baginya. Memang selama ini ia membagi hatinya menjadi dua dan kedudukan dua hati itu sama-sama kuat. Tapi ia tidak bisa memiliki kedua hati itu, bagaimanapun juga ia harus memilih salah satu. Dan kini setengah hati itu telah pergi, tapi paling tidak ia masih punya setengah hatinya lagi yang harus ia pertahankan. Ya.. ia tak mau kehilangan untuk kedua kalinya.
Tangannya perlahan terangkat meraih salah satu foto yang saat ini berserakan di lantai. Foto seorang yeoja imut berambut madu yang tidak lain adalah mantan penghuni sebelah hatinya. Ia terus menatap foto itu tanpa berkedip dan tersenyum seolah yeoja yang ada di foto itu mengajak ia tersenyum.
"good bye Luhannie... saranghae" ia pun mengecup lama foto itu dan perlahan tangannya merobek foto itu menjadi serpihan-sepihan kecil dan menerbangkan serpihan-serpihan itu bersama angin. Ia memang harus merelakan serpihan hatinya itu pergi dan berlabuh di tempat yang seharusnya.
#
#
#
TAP TAP TAP
Jongin terus saja berlari melewati lorong-lorong kelas di Gyeonsung yang sepi karena saat ini memang sudah waktunya pulang, ia tengah menghindari kejaran Sungho dan kawan-kawan. Bukanya Jongin takut memngahadapi mereka, tapi sejak kejadian tempo hari yang mengakibatkan tubuhnya babak belur parah, ia tekatkan untuk tidak terlibat perkelahian lagi dengan Sungho, karena takut dengan ancaman eommanya yang akan memindahkannya ke sekolah khusus anak nakal jika Jongin berkelahi lagi.
Ia percepat larinya sambil sesekali melihat ke belakang ke arah sungho dkk yang masih terlihat mengejar Jongin. Tapi saat di persimpangan tidak sengaja Jongin menabrak seseorang karena matanya sedari tadi mengamati Sungho dibelakang tanpa memperdulikan jalan didepannya.
BRUUKK
Tubuh mereka berdua sama-sama tersungkur ke lantai dengan bunga-bunga yang ikut berserakan di lantai.
"aaaaaww sakit.." rintih orang itu yang ternyata adalah seorang yeoja, yeoja itu meringis sambil mengusap pantat kanannya karena terlebih dulu mencium lantai.
Jongin membulatkan matanya kala mengetahui siapa yang ia tabrak, "haaaah kau lagi Do Kyungsoo"
"eoh? Jongin-ssi" seru Kyungsoo kaget.
Jongin melirik lagi kebelakang dan mendapati Sungho dkk sudah semakin mendekat, merasa tidak punya banyak waktu, ia pun bangkit dan bersiap lari, tapi ia urungkan niat nya kemudian melirik Kyungsoo yang masih terduduk di lantai sambil memunguti bunga-bunganya. Merasa tidak tega meninggalkan yeoja itu sendirian di lorong, tanpa pikir panjang Jongin langsung menarik tangan Kyungsoo dan membawa Kyungsoo lari bersamanya.
"eh?" Kyungsoo pun kaget dibuatnya. Ia bingung kenapa Jongin tiba-tiba mengajaknya berlari. Tapi anehnya Kyungsoo tidak meronta dan malah membiarkan Jongin membawanya lari entah kemana.
Jongin terus saja mengenggam tangan yeoja itu berlari menuju halte yang letaknya tidak jauh dari Gyeonsung. Beruntung bagi Jongin saat itu ada Bus yang sedang berhenti. Ia pun semakin mempercepat larinya dan kemudian memasuki bus tersebut bersama Kyungsoo tentunya. Jongin berjalan menuju tempat duduk di belakang. Tapi sebelum duduk Jongin melongokkan kepalanya di jendela bus dan tangan kanannya melambai-lambai ke arah Sungho dkk yang masih mengejarnya walau bus saat ini sudah berjalan.
Jongin menghela nafasnya lega, tapi kemudian matanya melirik ke arah Kyungsoo yang sedang mengerucutkan bibirnya.
"kenapa kau membawa ku lari Jongin-ssi? Kau mau menculikku eoh?" tanya Kyungsoo sambil tangannya terlipat ke dada.
"mianhae, aku tidak sengaja" jawab Jongin cuek
Kyungsoo pun mendengus kesal,"kau harus tanggung jawab Jongin-ssi, gara-gara kau aku kehilangan bunga-bunga ku" kata Kyungsoo dengan wajah yang berubah sedih seolah-olah akan menangis.
Jongin pun terlihat panik,"iiiiiissh kau jangan menangis disini pabbo, oke aku akan tanggung jawab, akan aku ganti bunga-bunga mu nanti"
Mata Kyungsoo pun berbinar mendengarnya,"jeongmal? Yaaay... kalau begitu kau harus ikut aku ke suatu tempat ne, dan tidak ada penolakan atau aku akan memberitau Kim ahjumma kalau kau berkelahi lagi dengan Sungho" ancam Kyungsoo.
"mwo? Aaiiissh jinjja ...terserahmu saja Do Kyungsoo" prustasi Jongin sambil mengacak-acak rambutnya. Sedangkan Kyungsoo tengah tersenyum puas.
#
#
#
Luhan memandang kosong ke arah jendela kamarnya, bagaimanapun juga ia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, kejadian yang membuat hatinya hancur saat itu juga. Jika saja dari dulu ia mendengarkan Yixing dan Chanyeol yang terus-terusan melarangnya untuk berhubungan dengan Kris, pasti jadinya tidak akan seperti ini, haaaah andai saja, penyesalan memang datang terlambat Luhan.
Sejenak lamunan Luhan terhenti karena ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Dan seseorang itu ternyata adalah Sehun. Luhan pun tersenyum kala melihat Sehun datang.
"Lu ... coba tebak, siapa yang kesini bersamaku?" tanya Sehun yang masih berdiri disamping pintu. Luhan pun hanya mengerutkan alisnya tanda bingung.
Namun tidak lama kemudian tampaklah 3 sosok yeoja yang muncul di belakang Sehun. Senyum Luhan pun bertambah lebar kala mendapati Yixing, Mnseok dan Baekhyun datang menjenguknya. Sehun pun mempersilahkan 3 yeoja itu masuk dan meninggalkan mereka bertiga di kamar Luhan. Seketika itu Minseok dan Baekhyun langsung menghambur memeluk Luhan sedangkan Yixing hanya memasang wajah datar dan melipat tangannya didada melihat teman-temannya berpelukan.
"Hannie lupakan dia ne, kau masih bisa mendapatkan yang lebih baik darinya" kata Minseok yang tiba-tiba menangis melihat keadaan Luhan sekarang.
"gwenchana Seokkie, anggap saja ini adalah hukumanku karena tidak mendengarkan kalian"
Minseok pun melepas pelukannya dan menggelengkan kepalnya,"ani kau tidak salah Hannie, Kris yang pantas mendapatkan hukuman karena telah menyia-nyiakanmu"
Luhan pun tersenyum lembut ke arah Minseok,"sudah Seokkie jangan sebut namanya lagi"
"ne mianhae" kata Minseok lirih sambil menundukkan kepalanya.
Padangan Luhan kemudian beralih menatap Yixing yang sedari tadi masih menatap mereka datar.
"kalau kau ingin marah-marah padaku, lakukan saja...kali ini aku akan mendengarkanmu" kata Luhan pada Yixing.
"sekarang kau tau kan dia yang sebenarnya? Kalau saja..." Yixing tiba-tiba menghentikan ucapannya dan menghela nafasnya,"haaaah lupakan, tak ada gunanya aku memarahimu sampai telingamu tuli, semuanya sudah terjadi..." perlahan Yixing berjalan menuju ke arah Luhan dan memeluk tubuh sahabatnya erat,"...mulai sekarang, lupakan si tiang listrik itu, aku tidak mau kau termakan rayuannya lagi, jauhi dia, arraseo?"
Luhan pun mengangguk dalam pelukan Yixing,"ne arraseo...gomawo... kalian memang sahabatku yang paling baik, aku sayang kalian, aku janji akan selalu mendengarkan kalian"
"kami juga sayang kamu Hannie" kata Yixing dan Minseok bersamaan sambil memeluk Luhan kembali. Tapi tiba-tiba perlahan Luhan merenggangkan pelukannya.
"chakkaman... Xingie Seokkie lepaskan dulu pelukan kalian, kalian tidak lihat calon adik ipar ku sulit bernafas" Luhan baru sadar bahwa sedari tadi Baekhyun juga tengah memeluknya.
Yixing dan Minseok yang juga baru sadar akan keberadaan Baekhyun pun terkekeh karena tubuh Baekhyun yang tidak terlihat dalam dekapan mereka.
"hehe mian Baekkie kami tidak tau" ucap Yixing sambil menggaruk tengkuknya.
Baekhyun pun beralih menatap Yixing dengan masih memeluk Luhan,"gwenchana eonnie, aku malah lebih merasa hangat dalam dekapan kalian hehe"
"hey kenapa kau memelukku terus Baekkie? Asal kau tau saja aku belum mandi dari kemarin" tanya Luhan sambil terkekeh.
"molla eonnie ... rasanya aku ingin memeluk eonnie terus, hangat seperti pelukan eomma" perlahan Baekhyun pun merenggangkan pelukannya,"aku tidak mau eonnie sedih lagi, kalau eonnie sedih aku juga ikut sedih, eonnie masih punya kita yang akan selalu menyayangi eonnie"
Mata luhan pun langsung berbinar mendengar pernyataan Baekhyun, "aigoo ternyata calon adik iparku ini manis sekali eoh... ne baby Baekkie mulai sekarang eonnie tidak akan sedih lagi, aku tidak mau nanti Park Chanyeol membakar ku jika melihat mu sedih gara-gara aku"
Dan tawa dari ke empat yeoja itu pun pecah.
"Hannie ... sepertinya kau juga harus mulai membuka hatimu untuk namja lain" ucap Minseok tiba-tiba. Dan Luhan seketika itu menghentikan tawanya.
"aku baru saja putus Seokkie mana bisa aku langsung mencari pengganti, aku tidak sejahat itu menjadikan orang lain sebagai pelarian, ck yang benar saja"
"bukan pelarian Hannie, lebih tepatnya pengalih pikiran, dengan adanya seseorang yang baru otomatis ingatan mu tentang Kris perlahan akan terhapus" ucap Minseok
"Seokkie benar... justru kau harus cepat-cepat mencari penggantinya untuk membuatmu lebih cepat melupakan Kris, eumm mungkin bisa kau coba dengan... Sehun" usul Yixing yang berhasil membuat Luhan membulatkan matanya.
"mwo? Kau gila Xingie, Sehun itu sahabatku"
"memangnya kenapa? Justru dia yang sebenarnya lebih pantas jadi namjachingu mu, kau pikir saja, siapa yang selalu menemanimu, siapa yang selalu ada untukmu, siapa yang selalu khawatir padamu, siapa yang selalu perhatian padamu, dia jauh lebih mengerti dirimu Hannie" terang Yixing.
"itu kan karena kita memang sudah dekat sejak kecil"
Minseok pun menghela nafasnya,"apa sedikit saja kau tidak punya perasaan padanya? Lebih tepatnya perasaan cinta seorang yeoja pada namja bukan sebagai sahabat, rasanya mustahil jika kau tidak punya perasaan itu" tanya Minseok
Luhan terlihat berfikir, ia sendiri juga masih bingung akan perasaannya pada Sehun. Sehun memang selalu membuat dia nyaman dan ia selalu merasa terlindungi jika bersama Sehun. Tapi sayang selama ini Luhan mengartikan perhatian Sehun padanya tidak lebih dari seorang sahabat.
"molla Seokkie aku pun tidak tau akan perasaan ku sendiri" kata Luhan sambil menundukkan kepalanya.
"maka dari itu mulai sekarang cari tau akan perasaanmu padanya, aku yakin kau bisa dengan mudah menemukan jawabannya" yakin Minseok seraya menepuk bahu Luhan.
"iyaaa aku setuju kalau eonnie berpacaran dengan Sehun oppa, kalian terlihat sangat cocok" sambung Baekhyun.
"3 suara Hannie" seru Yixing.
Luhan pun semakin bingung dibuatnya, Minseok yang melihat raut wajah Luhan yang sedang berpikir pun tersenyum lembut sambil mengusap lengan sahabatnya, "sudah-sudah jangan memaksakan dirimu untuk berpikir, pelan-pelan saja" dan disambut senyuman dari Luhan.
'Sehun?... mungkinkah?' tanya Luhan dalam hati.
#
#
#
Jongin dan Kyungsoo menapakkan kakinya ke trotoar setelah turun dari bus. Namun mereka tidak segera berjalan Jongin masih menunggu Kyungsoo yang masih sibuk mencari sesuatu di dalam tas nya. Yeoja itu kemudian mengeluarkan sebuah payung berwarna pink dengan motif polkadot putih dan langsung mengembangkan payung itu untuk melindungi tubuhnya dari sengatan sinar matahari. Cuaca saat ini memang sangat panas. Yeoja itu juga mengoleskan sunblock di tangan dan kakinya agar tidak terbakar. Jongin yang melihat tingkah aneh Kyungsoo hanya bisa menahan tawanya. Setelah selesai dengan kegiatannya Kyungsoo tersenyum ke arah Jongin dan memberi isyarat Jongin untuk mengikutinya, Jongin pun hanya bisa menurut sambil masih menahan tawanya.
Mereka berjalan beriringan dalam diam. Sesekali Kyungsoo melirik ke arah Jongin dan senyum-senyum sendiri. Perlahan ia dekatkan tubuhnya merapat ke arah Jongin, ia pun juga mensejajarkan tangannya dengan tangan Jongin, dan ia menemukan perbedaan kontras dari warna kulit mereka. Kulit Kyungsoo yang seputih susu sedangkan kulit Jongin yang agak gelap untuk ukuran kulit orang korea.
'pasti Jongin tampan sering main panas-panasan sehingga kulitnya jadi gelap begini, tapi masih terlihat manis ... kyaaa mimpi apa aku semalam bisa jalan berdua dengan Jongin tampan' teriak Kyungsoo girang dalam hati, mata nya kemudian melirik lagi ke arah tangan mereka yang masih sejajar, 'jika nanti aku menikah dengan Jongin tampan, semoga kulit anakku sama dengan ku hihi'
"aku tau kulitku memang gelap jadi jangan bandingkan lagi dengan kulitmu" kata Jongin seolah bisa membaca pikiran Kyungsoo.
Lamunan Kyungsoo buyar seketika mendengar interupsi Jongin, ia tidak menyangka Jongin tau kalau sedari tadi ia membandingkan kulitnya dengan kulit Jongin. Kyungsoo pun akhirnya hanya bisa tersenyum canggung, "hehe mian Jongin-ssi, tapi walaupun kulitmu gelap kau tetap manis kok"
BLUUSH
Muka Jongin pun bersemu merah mendengar pernyataan polos Kyungsoo.
"eumm oh iya aku tau lotion pemutih yang paling ampuh untuk mencerahkan kulit, kalau Jongin-ssi mau aku bisa membelikannya untuk Jongin-ssi"
Jongin pun kaget dibuatnya, "mwo? Lotion pemutih? Kau mau meledekku? Andwae ... asal kau tau saja dari dulu kulitku memang sudah seperti ini sampai kapanpun tidak akan seputih dirimu, jadi jangan repot-repot membelikan aku lotion pemutih Kyungsoo-ssi"
"oh... ne mian hehe" kata Kyungsoo sambil nyengir, "eoh... itu toko bunganya Jongin-ssi, kajja kita kesana"
Kyungsoo langsung menarik tangan Jongin menuju toko bunga.
"eh?" Jongin yang kaget pun hanya pasrah ketika tangannya tiba-tiba ditarik Kyungsoo. Sesampainya di toko bunga, Kyungsoo langsung memilih-milih bunga apa yang akan ia beli dan pilihannya jatuh kepada bunga lily putih dan membelinya sebanyak 10 ikat.
Jongin sebenarnya masih bingung kenapa gadis itu membeli bunga sebanyak itu, pasalnya setiap hari juga gadis itu selalu membawa bunga-bunga pemberian dari penggemar-penggemarnya yang tergabung di Kyungsoo Lovers. Ia penasaran dengan gadis itu, makanya sedari tadi Jongin hanya menurut.
Kini sampailah mereka berdua di sebuah rumah sakit yang tidak asing lagi bagi Jongin, karena tempo hari ia juga mengunjungi rumah sakit ini dan juga bertemu Kyungsoo. Oh iyaaa Jongin baru ingat, saat di rumah sakit, ia melihat Kyungsoo membagi-bagikan bunga kepada pasien. Tapi yang Jongin belum mengerti apa alasan Kyungsoo mnembagi-bagikan bunga-bunga itu pada pasien rumah sakit.
Kyungsoo mengajak Jongin untuk memasuki ruang rawat pasien yang didalamnya terdapat kira-kira 10 pasien dengan usia lanjut. Senyum Kyungsoo pun terkembang dan segera menuju salah satu pasien yang bernametag Shin Hyomin .
"Kyungie kau datang lagi hari ini?" kata nenek itu pada Kyungsoo yang saat ini tengah memeluknya.
"ne halmeoni, dan kali ini aku tidak sendiri, aku bersama temanku, itu dia" kata Kyungsoo sambil tangannya menunjuk Jongin yang saat ini berjalan menuju Kyungsoo. Jongin pun membungkukkan badannya kepada nenek Hyomin.
"Kim Jongin Imnida" kata Jongin memperkenalkan diri dan disambut senyuman lembut dari nenek Hyomin. Tangan nenek Hyomin perlahan memebelai surai Jongin lembut.
"kau orang pertama yang di ajak kesini Jongin" kata nenek Hyomin yang membuat wajah Kyungsoo bersemu merah, sedangkan Jongin hanya tersenyum canggung.
Tidak menunggu lama Kyungsoo pun akhirnya mulai mengganti bunga yang ada di vas-vas itu dengan bunga yang baru. Jongin yang melihatnya pun akhirnya juga ikut membantu Kyungsoo. Tapi tiba-tiba Kyungsoo merasakan ponselnya bergetar. Ia pun menganbil ponsel di sakunya dan mengangkat telfonnya.
"yeobseo myeonnie oppa"
"Kyungsoo-ya kau dimana? Kenapa belum pulang?"
"aku masih di rumah sakit oppa"
"ya sudah kau tunggu disana ne, oppa sebentar lagi akan menjemputmu"
"ne" dan sambungan telfon pun terputus.
Jongin yang mendengar percakapan mereka dari tadi hanya mengerutkan keningnya.
"siapa?" tanya Jongin ingin tau.
"eoh?... Joonmyeon oppa, katanya dia akan segera menjemputku hehe"
"kakak mu?" tanya Jongin lagi.
"ani... dia tetangga dekatku, aku sudah menganggapnya seperti oppa ku sendiri".
"haaah semudah itukah kau menganggap seseorang menjadi saudaramu?"
Sejenak Kyungsoo menghentikan aktivitasnya,"memangnya kenapa? Semua orang di sini adalah keluarga ku, apa kau pikir saudara itu hanya untuk orang yang lahir dari rahim yang sama atau keturunan yang sama?"
Jongin pun terdiam, bahkan Baekhyun yang dilahirkan dari rahim yang sama dengannya saja, tidak ia anggap sebagai saudara.
Kyungsoo menghela nafasnya,"dulu sebelum eomma ku meninggal, beliau juga dirawat disini, setiap hari eomma menyuruh appa untuk membeli bunga, dan membagikannya pada pasien lansia yang ada di ruangan ini, mereka yang ada diruangan ini adalah pasien yang sudah tidak mempunyai sanak keluarga jadi ada kebijakan dari rumah sakit untuk menampung mereka di sini, eomma sangat dekat dengan mereka karena semenjak penyakit kankernya naik menjadi stadium akhir, dokter menyuruh eomma untuk tinggal di rumah sakit saja, mereka yang selalu menghibur eomma setiap hari dan memberi semangat pada eomma agar bisa bertahan, tapi Tuhan berkata lain eomma ku meninggal setahun yang lalu, sepeninggal eomma aku berjanji akan terus memberi mereka bunga seperti yang eomma lakukan, makanya aku selalu mengumpulkan bunga-bunga yang teman-teman berikan padaku" jelas Kyungsoo pajang lebar.
Jongin pun menatap Kyungsoo tak percaya, ternyata ini alasan Kyungsoo selalu membawa pulang bunga-bunganya.
"eumm jongin-ssi bukannya aku sok tau atau ingin mencampuri urusanmu, tapi cobalah untuk bersikap lebih baik pada Baekhyun eonnie, tidak baik kau memperlakukan kakakmu seperti tempo hari, bagaimana pun juga dia adalah saudara mu, dan sepertinya Baekhyun eonnie sangat menyayangimu" kata Kyungsoo mencoba untuk menasihati Jongin.
Jongin pun menghela nafasnya,"aku bukan dirimu Kyungsoo-ssi yang dengan mudahnya menerima seseorang"
"tapi tidak salahnya kan mencoba, kau tau mempunyai saudara yang sayang pada kita itu rasanya sangat menyenangkan, aku memang tidak tau apa masalahmu sehingga kau begitu membenci Baekhyun eonnie, tapi apa selamanya kau akan terus bersikap seperti itu pada kakakmu?" Kyungsoo pun menghela nafasnya,"... kalau aku sih tidak mau menghabiskan waktu ku hanya untuk membenci seseorang"
Jongin pun terlihat merenungkan perkataan Kyungsoo tadi. Benar juga apa kata Kyungsoo, tidak mungkin selamanya dia memperlakukan Baekhyun seperti itu, tapi saat ini dia masih belum bisa menerima Baekhyun. Entah kenapa setiap melihat Baekhyun, Jongin selalu terbayang wajah kakeknya dan itu yang membuatnya belum bisa menerima Baekhyun. Yaaah Jongin memang masih butuh waktu untuk itu.
Tidak lama kemudian ponsel Kyungsoo kembali bergetar.
"yeobseo oppa?"
"..."
"ne aku akan segera turun, eumm tapi oppa tolong antarkan teman ku juga ne?"
"..."
"hehe gomawo oppa, tunggu sebentar ne" sambungan telfon pun terputus.
"Jongin-ssi kajja kita pulang, myeonnie oppa juga akan mengantarmu pulang" kata Kyungsoo sambil bersiap-siap untuk pulang.
"eh? tidak usah... ak..."
"Jongin-ssi tidak ada penolakan arraseo?" Interupsi Kyungsoo memotong perkataan Jongin, Kyungsoo pun manarik tangan Jongin berjalan menuju nenek Hyomin untuk berpamitan.
"halmeoni, kami pamit pulang dulu ne?" pamit Kyungsoo.
Nenek Hyomin pun tersenyum ke arah mereka berdua,"ne Kyungie, hati-hati"
Kyungsoo pun menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan ruang rawat itu dengan di ikuti Jongin dibelakangnya.
#
#
#
Kurang lebih 2 jam perjalanan sudah Soobin melajukan mobinya meninggalkan Seoul menuju Daejon. Ia berencana mengunjungi rumah masa lalu nya dan sambil mencari info tentang keberadaan anak sulungnya sekarang. Mobil hitam yang dikendarai Soobin itu perlahan memasuki halaman sebuah rumah bergaya minimalis dengan perpaduan gaya tradisional korea, terlihat masih terawat dan masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya.
Soobin turun dari mobilnya kemudian berjalan menuju puntu utama rumah tersebut. Lalu ia pun mulai memencet bell rumah itu dan tidak lama kemudian pintu itu terbuka, menampakkan seorang yeoja yang umurnya tidak beda jauh dari Soobin.
"Nami-ah...annyeong" seru Soobin menyapa yeoja yang membuka pintu tadi.
Yeoja yang dipanggil Nami itu pun terlihat bingung karena merasa tidak mengenal Soobin,"nu-nuguseyo?" tanya Nami.
"kau tidak ingat pada ku?... aku Soobin, Byun Soobin, mantan majikanmu dulu, kau ingat?"
Mata Nami pun membulat seketika mendengar nama Soobin,"Soo-Soobin? Nyonya Soobin? Ini benar nyonya Soobin... aigooo aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu nyonya, bogoshipoyo" seru Nami sambil memeluk Soobin.
"ne... aku kembali lagi Nami-ah, nado bogoshipo" Soobin perlahan melepas pelukan mereka,"eumm jangan panggil aku nyonya, panggil eonnie saja ne? Aku bukan lagi majikanmu, arraseo?"
"ahh.. ne nyo... eh eonnie" mereka berdua pun terkekeh dan Nami mempersilahkan Soobin masuk.
Sejenak Soobin mengamati setiap sudut ruangan yang ternyata masih sama seperti dulu. Ia lalu mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu bersama Nami.
"bagaimana kabarmu eonnie? Kau masih terlihat cantik saja" kata Nami memulai pembicaraan.
"haha kau bisa saja, kabar ku baik, oh iya Song ahjumma apa kabar?"
Mendengar itu Nami menghela nafasnya," eomma sudah meninggal 7 tahun yang lalu eonnie" dan telihat raut muka Nami berubah menjadi sedih.
Soobin pun kaget mendengarnya,"omoo mianhae Nami-ah aku benar-benar tidak tau kalau song ahjumma sudah meninggal"
"gwenchana eonnie" kata Nami sambil menyunggingkan senyumnya,"eumm oh iya bagaimana kabar si kecil Baekhyun, aku sangat ingin bertemu dengannya eonnie, kenapa tidak kau ajak kesini sekalian"
"dia sedang sekolah, lain kali akan aku ajak dia kesini"
"waaah aku ingin sekali bertemu Baekhyun, pasti sama cantiknya dengan kakaknya"
DEG
Jantung soobin berdegup kencang, tujuannya kesini memang untuk mencari tau keberadaan kakak Baekhyun.
"eumm Nami-ah apa kau pernah bertemu lagi dengan Luhan?"
Mendengar itu Nami pun menghela nafasnya,"pernah sekali eonnie, tepatnya 7 tahun yang lalu, saat eomma meninggal, tuan Park datang kemari dengan membawa Luhan dan istri barunya serta bersama seorang anak laki-laki"
"Nami-ah bisa kau ceritakan apa yang terjadi setelah perceraian ku?"
Dan Nami pun mengangguk,"sebulan setelah perceraian kalian tuan Park membawa Luhan pindah ke China dan eomma juga ikut ke China waktu itu karena ingin membantu merawat Luhan, dan tuan Park menitipkan rumah ini pada ku sampai sekarang. Walau sudah ada eomma yang merawat Luhan, tuan Park tetap saja kerepotan mengurus Luhan sendirian, bagaimana pun juga Luhan masih membutuhkan sosok ibu..."
"...menurut cerita yang ku dengar dari eomma, 5 bulan setelah menetap untuk tinggal di China, tuan Park memutuskan untuk menikah lagi dengan janda baranak satu bernama Lee Hara, yang merupakan tetangga tuan Park di China, Lee Hara juga orang korea yang ikut suaminya bertugas di China, sebelumnya Hara adalah istri seorang pilot, suaminya meninggal karena pesawat yang dikemudikannya terbakar di udara dan terjatuh di perairan Rusia. Sebelum menikah pun Hara juga ikut membantu mengurus Luhan bahkan memberikan ASI nya untuk Luhan karena saat itu ia juga mempunyai seorang anak yang masih bayi kira-kira seusia Baekhyun...karena itulah Tuan Park memutuskan untuk menikahi Hara..."
Soobin merasakan perih didadanya kala mengetahui anak kandungnya dususui oleh orang lain, sungguh ia tidak rela.
"...saat Luhan menginjak umur lima Tahun, tuan Park dan keluarga barunya memutuskan untuk kembali ke Korea dan menetap di Seoul, tapi tidak dengan eomma, eomma memilih untuk pulang ke Daejon karena merasa sudah tua dan sudah waktunya beristirahat, sejak saat itu kami jarang menerima kabar dari keluarga tuan Park, aku baru bertemu mereka lagi saat pemakaman eomma tujuh tahun yang lalu, dan kau tau eonnie, Luhan sangat cantik mirip sekali denganmu, aku juga melihat istri tuan Park sangat menyayangi Luhan selayaknya anak kandung sendiri, mereka terlihat sangat bahagia"
Soobin terpaku mendengar cerita Nami, ia tidak sanggup mendengarnya lagi. Ia tidak sanggup mendengar kedekatan Luhan dengan ibu tirinya.
"ja-jadi mereka tinggal di Seoul? Apa kau punya lamatnya?" tanya Soobin.
"dulu aku sempat menyimpan alamatnya, tapi sayang eonnie, alamatnya sekarang hilang entah kemana"
Soobin pun menghela nafas sambil menundukkan kepalanya,"aku rindu pada Luhan Nami-ah, aku ingin sekali bertemu dengannya" kata Soobin dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Nami yang melihat mantan majikannya yang hampir menangis itu pun, perlahan mengusap lengan Soobin mencoba untuk menguatkannya,"aku mengerti eonnie, dan pasti tuan Park juga ingin sekali bertemu dengan Baekhyun"
"kau tau, sampai sekarang aku belum memberi tau Baekhyun tentang ayah dan kakaknya, aku takut jika nanti Baekhyun terpukul kalau mengetahui ayahnya tidak mau mengakuinya" dan tangis Soobin pun pecah.
Mendengar itu Nami pun kaget,"omoo bagaimana bisa kau menyembunyikan semuanya dari Baekhyun selama itu eonnie" Nami lagi-lagi menghela nafasnya," aku rasa saat itu sebenarnya tuan Park juga yakin kalau Baekhyun itu anaknya, tapi pengaruh dari kedua orang tuanya yang membuat tuan Park ragu akan Baekhyun"
"entahlah Nami-ah, aku tidak tau harus bagamana caraku memberitau Baekhyun nanti"
"sabar eonnie, persiapkan dirimu dulu, tapi cepat atau lambat kau harus memberitau Baekhyun, Bagaimana pun juga Baekhyun harus tau siapa ayahnya, aku juga yakin Baekhyun akan mengerti"
Soobin pun menghapus airmatanya dan memberikan senyum pada Nami,"gomawo Nami kau membutaku sedikit merasa lebih tenang"
"cheonma eonnie, eonnie yang sabar ne?"
Dan Soobin pun mengangguk. Ia memang harus segera memberi tau Baekhyun semuanya, tapi untuk sekarang Soobin benar-benar belum siap. Ia takut Baekhyun kecewa jika nanti ternyata ayahnya sendiri tidak mau mengakuinya. Yaaah semoga ketakutan Soobin tidak terjadi.
#
#
#
Seminggu setelah kejadian itu, Luhan berusaha mati-matian untuk membuang jauh-jauh bayangan Kris yang melekat kuat dipikirannya. Ia selalu menghindari Kris, saat namja itu ingin mejelaskan sesuatu dan mengabaikan setiap panggilan dan pesan dari Kris. Luhan memang sedikit bisa melupakan Kris tapi masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan itu membuatnya menjadi pribadi yang berbeda, lebih sering diam dan sering melamun. Ia seolah terlihat sedang memikirkan sesuatu, sesuatu tentang perasaannnya yang tidak ia mengerti selama ini.
Sehun pun juga di buat bingung dengan sikap Luhan yang seperti itu. Berkali-kali ia bertanya tapi selalu dijawab Luhan dengan jawaban yang sama yaitu 'tidak apa-apa, kau jangan khawatir'.Setiap harinya Sehun selalu menemani Luhan kemanapun, mengantar jemput, bahkan saat waktu istirahat, Sehun selalu menyempatkan untuk mampir ke kelas Luhan. Sungguh hari-harinya terfokus untuk Luhan sepenuhnya.
Saat ini bell pulang sudah berbunyi dan para siswa dan siswi Yonsang tengah mengemasi buku-bukunya ke dalam tas dan bersiap untuk pulang. Begitu juga dengan yeoja berambut madu yang tidak lain adalah Luhan, terlihat ia tengah memasukkan buku-buku nya ke dalam tas. Tidak lama para siswa itu pun berhamburan keluar kelas. Yixing dan Minseok yang juga telah selesai mengamasi buku-buku nya pun berjalan menghampiri bangku Luhan.
"ayo pulang Lu!" ajak Yixing dan dibalas senyuman oleh Luhan.
Luhan pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas bersama kedua sahabatnya. Tapi saat sampai di pintu kelas langkahnya terhenti, matanya membulat karena melihat sosok yeoja berambut hitam, sosok yang juga sangat tidak ingin ia temui, tengah berdiri di depan pintu kelasnya.
"Luhan-ssi, bisa kita bicara sebentar?"
TBC
Udah dulu ya, tbc di sini... part ini udah kelewat pajaaaaaaang #uhuk #kemasukan nyamuk
And sorry banget di chap ini chanbaeknya dikit hehe #dihajar chanbaek shipper. Buat yang nunggu hunhan jadian... sabaaaaarrr, Luhan masih tahap loading #plaaaaaaaak...
Oke seperti biasa buat balesan review dari readers yang punya akun udah author bales lewat PM masing-masing and yang belum punya akun author bales di sini:
Wulann: kris jodohnya ma author chingu #plaaaak...hehe makasih chingu, oke ni udah dilanjut, makasih reviewnya #bow bareng chanbaek.
Guest: sebenernya gak gitu juga chingu, tao itu saking cinta nya ma Kris jadinya dia gelap mata #apasihbahasague #plaaak... makasih reviewnya #bow bareng chanbaek.
ExoticBaby'z: author ikut sujud sukur kkkk... oke ni udah dilanjut, makasih reviewnya #bow bareng chanbaek.
aasElfExo: waaaah author bisa tuh metik bunga di hati kamu kkkkk...doa in hunhan cepet nyusul ya #plaaak...hehe makasih chingu... oke ni udah dilanjut, makasih reviewnya #bow bareng chanbaek.
PutriPootree: semua pertanyaan kamu udah terjawab di sini chingu hehe... author ngikut ngangkat banner chanbaek #jingkrak-jingkrak... makasih reviewnya #bow bareng chanbaek
Nissaa: pertanyaan kamu udah terjawab di sini chingu hehe... tau tuh chanyeol bawaannya pengen nyosor baekkie terus #heran deh...sabar ya luhan masih butuh loading chingu #plaaak... ni kabar kaisoo udah ada #tunjuk atas... makasih reviewnya #bow bareng chanbaek
Jenn2797: hehe sukur deh kalo chingu suka makasih chingu...iya author juga gregetan ngrasain luhan yang gak connect connect #plaaaak #digampar luhan kanan kiri...hehe suami author emang kece badai chingu #ngeeek #di injek baekkie... makasih reviewnya #bow bareng chanbaek
WinterHeaven: hehe makasih chingu #jadi malu #sembunyi diketek kucing #plaaak.. oke ini udah dilanjut...sabar chingu luhannya masih loading...setuju bgt ma chingu mereka kyak orang pacaran dari pada sahabatan kkkk... weheeee sama, author juga lhooo ... makasih reviewnya #bow bareng chanbaek
rinie hun: amiin chingu doa in luhan cepet nyadar ya? kkkk...oke ini udah dilanjut, makasih reviewnya #bow bareng chanbaek.
Akhir kata salam XOXO (Kiss & Hug) to My Lovely Readers, Thanks for your review:
AiiAy-Chan, Lee Eun Ho, dian deer, RadenMasKYU, chyshinji0204, jungahdeer, Istrinya Sooman, Imeelia, jungsssi, Jung Min Ah, byunbaekhoney, ichakyungsoo, Wulann, Guest, ExoticBaby'z, aasElfExo, PutriPootree, nissaa, baconeggyeol, Jenn2797, Mikkie Yeollie ElfExotic, WinterHeaven, rinie hun
Review Again Please!
