Shie: hay! Shie back nih, sesuai janji Shie yang kemaren, Shie bakal nge-summon Jammy dan Sevvy dulu. *kuchiyose James dan Severus Potter!

Buft!

James: kau lagi kau lagi. Kapan sih hidup ku bisa bebas dari makhluk kaya kamu?

Shie: Kaga pernah!

Severus: kali ini apa?

Shie: balesin review yang masuk ya... Pleasee Sev~~ *puppy eyes no jutsu

Severus: kita tolak kamu bakal tetap maksa kan?

Shie: iyaaa!! Jadi makasih yaaa Sev, James~~ bye!! Accio Firebolt!

James: okey, karena author idiot itu sudah pergi, mari kita balas reviewnya... Hm, pertama dari rizumoony lah? Moony? Kau baca cerita ini? Cerita gila ini? Astagaaa!! Dan kau mau cerita ini di lanjut? Yang lebih greget? Kau gilaaa moony!!!

Severus: berisik Potter!

James: sorry beb. *peluk Severus*

Severus: dan buat rizu, aku tak perlu dikashihani. Terima kasih. Yang kedua dari Alexandra Char ini sudah di next.

James: yang ketiga, uchihatsurumi iyaa ini udah di lanjut say, tapi jangan minta si author geblek ini cepat, entar gaje loo yank~

Severus: menyingkir dari ku Potter! Pergi sana!*dorong James* Keempat dari Zee 295 kamu seorang seer ya? Dan aku tidak peduli mau sebanyak apa pun Potter idiot itu mengatakan cinta. Ya, Shie tidak jadi hiatus.

Shie: sok tahu kamu Sev...

Severus: oh jadi mau hiatus? Atau ku cruciatus?

Shie: *gulp. Baiklah tidak hiatus..

James: Kau masih seorang Potter Sev. Dan tetap menjadi seorang Potter. Eh, kau cemburu Sev?

Severus: tidak

James: masa?

Severus: aku bilang tidak ya tidak! Yang kelima dari Askasufa ya, Harry pasti harus selalu sabar... Dan AL TIDAK AKAN BERSAMA SI WEASEL ITU! Aku tidak merestui mereka!

James: aku juga kok...

Severus: diam Potter! Dan oh, malfoy jr itu sudah tahu kebenaran Regulus ya? Baguslah. Andy dan Draco pasti bertemu. Harry dan Al juga pasti akan akur tenang saja. Kakak ipar? Apa maksudmu mudblood?

James: kau mau tahu seberapa besar perjuanganku? Kita lihat daja nanti *smirked

Severus: jijik Potter!

James: hah... Ternyata Sevyku masih cemburu -3- baiklah yang keenam dari Redmirah gak cocok ya? Ya udah entar aku suruh Harry panggil Al aja. Iyaa aku juga bakal bilangin Harry biar gak durhaka sama Sevy. Lagian Sevy gak bakal kutuk Harry jadi batu kok. Ya kan Sev? *rangkul Severus.

Severus: hn. Dari oka iya, si Shie bakal usahai updatenya cepet... Kalo dia niat. Dan Shie juga gak bakal hiatus kok.

James: ya gimana mau hiatus, kan dianya kamu ancam sama cruciatus.

Severus: bisa diam tidak?

James: ya, kasurku dinginnnn Creau, tap-

Severus: kau mau ku avada kedavra Prof.Creau? Mungkin saja Regulus akan bersatu dengan Lucius. Dan jangan coba-coba dekati putraku!

James: hmm dari no name iya, Shie tidak akan hiatus. Kau suka cerita lain dari yang lain? Sama saja seperti author sableng itu.

Severus: memang mimpi apa askasufa? Dan kenapa kau kaget?

James: kau penasaran eh, Severus? Mau ku ceritakan tidak mimpiku?

Severus: tak perlu, toh aku juga bakal tahu nanti.

James: iyaa dehh. Jangan galak-galak donngg. *cium pipi Severus*

Severus: dasar Shie idiot. Untuk apa kau me review ceritamu sendiri? Kau sudah gila ya?

James: dia memang gila dari lahir.

Severus: benarkah? Pantas ceritanya juga gila.

Shie: mou! Severus jahat! Entar gak aku satuin sama James loh~~ malah aku buat jadi sama dia *nunjuk Prof.Creau*

James: tidak boleh! Severus is mine. Only mine.

Severus: yeah i'm yours James. Only yours.

James: *senyun penuh kemenangan* dan kau! Kau dilarang menyentuh severus bahkan seujung kuku pun! Dan ya, Lily umurnya tiga tahun... Dia sangat cantik.

Severus: siapa Lily?

James: putri kita.

Severus: oh. Dan terakhir dari Ica. Dia tidak pernah punya mood untuk menulis. Dan kau ya bebas saja untuk menulis ff LuciReggy. Itu hakmu.

Shie: yang review dikit... Shie jadi males lanjutin... Btw, yang udah review thanks. Chapter depan SBRL yang balas. Bye!

-_-_-_-_-_-_-_-_-_

Harry Potter bukan milik saya, karena kalau milik saya maka James tidak akan pernah mati dan akan menjadi pasangan Severus

Harry Potter milik J. K. Rowling

Summary: Apa yang terjadi jika sebenarnya Harry memiliki 'saudara' kembar, dan mereka bukanlah anak dari pasangan James-Lily tetapi anak dari pasangan James-Severus, dan bagaimana jika ketika penyerangan voldemort hanya Lily yang tewas? OOC garis keras!, OC!, typo, BxB! Slash!JamSev, DraRry, SBRl, m-preg, bad!manipulator!dumbledore, semi-Cannon..

DLDR!

*

Part 7

Ket: "Talking"

'Mind'

Flashback

'Surat'

.: parseltongue :.

-_-_-_-_-_

Sarapan di aula besar sangat... Ya, begitulah. Dua ekor burung hantu terbang ke arah Harry. Harry mengenal salah satunya, itu adalah burung hantu milik Harry,Hedwig. Hedwig pasti membawa surat balasan dari Daddy nya. Hedwig turun ke meja Harry lalu meletakkan surat yang ada di paruhnya ke hadapan Harry sebelum terbang ke meja Slytherin. Sedangkan burung hantu yang satunya membawa sebuah bungkusan besar.

"Itu... Hedwig kan?" Tanya Demian pada Harry yang masih menatap heran burung hantunya.

"Iya, itu Hedwig. Tapi, kenapa dia menuju meja para ular itu?" Sambung Ron.

"Entah, mungkin Dad ingin memberikan sesuatu" balas Harry acuh.

"Hey, dia turun di tempat Al" seru Demian ketika melihat Hedwig berdiri di depan Al.

"Hey, yang ini bagaimana? Besar sekali isinya" ucap Ron yang langsung membuat Harry dan Demian mengalihkan perhatian mereka dari Hedwig.

"Mau membukanya?" Tanya Ron pada kedua sahabatnya.

"Ya, tapi nanti setelah pelajaran... Shit! Sekarang ramuan!" Umpat Harry kesal mengingat pelajaran yang akan mereka jalani.

"Cih malas sekali aku bertemu si Snape itu" keluh Ron.

"Sama, kenapa tidak di ganti saja sih guru seperti dia" umpat Harry.

"Sudahlah, lebih baik segera ke kelasnya sebelum dia semakin sering memotong poin asrama kita" saran Demian bijak.

-_-_-_-_

Al menatap malas makanannya. Ia tidak selera makan. Papanya kemarin membelikannya sapu baru, nimbus 2000. Dan itu sangat mahal! Ia tidak suka mengahmbur-hamburkan uang hanya untuk itu. Al menatap sekeliling aula besar. Dan seekor burung hantu putih tampak singgah ke mejanya. Burung hantu siapa? Pikir Al. Ia melihat ke arah meja Gryffindor dan mendapati trio gryffin sedang menatapnya. Ah! Ini pasti burung hantu Harry. Al pun mengambil surat yang dililitkan di kaki Hedwig. Setelah Al mengambil surantnya Hedwig pun terbang kembali kesarangnya.

"Surat dari siapa Al?" Tanya Blaise.

"Entah, nanti aku periksa. Sebaiknya kalian cepat, sekarang jadwal professor Snape" ucap Al memperingati.

Setelah menghabiskan sarapan mereka, keenam kawanan Slytherin itu pun bergegas ke bawah tanah, ruang kelas ramuan. Pelajaran ramuan berlangsung sama saja. Slytherin yang di puji dan Gryffindor yang disudutkan. Kali ini Neville yang membuat ulah. Ia melelehkan kuali dan menyebabkan Gryffindor kehilangan 20 angka. Dan Slytherin mendapat tambahan 30 angka karena Al dan Draco sukses membuat ramuannya. Setelah pelajaran selesai, Al memilih tinggal. Toh kelas selanjutnya masih ada dua jam lagi.

"Ada apa?" Tanya Severus to the point.

"Ini, sepertinya penting. Dari Dad" balas Al singkat sambil menyerahkan surat yang tadi ia dapat.

"Sudah kau baca Al?" Tanya Severus sambil memberi isyarat pada Al untuk mengikutinya.

"Belum Pa. Tidak sempat" jawab Al sambil mengekori Severus menuju ruang pribadinya.

"Memangnya kapan kau terima surat ini Al?" tanya Severus yang sudah duduk disofa tunggal bersamaan dengan Al yang duduk di sofa panjang di sebelahnya.

"Ketika sarapan tadi. Di bawa oleh burung hantunya Harry" jelas Al.

"Dia tidak curiga?" tanya Severus agak heran dengan kelakuan suaminya ini.

"Sedikit, tapi perhatiannya langsung teralihkan oleh hadiah dari professor McGonagall" balas Al sambil menyandarkan diri di sofa.

"Mau membacanya bersama?" Tawar Severus yang dijawab gelengan pelan Al.

"Papa baca sendiri aja yaaa, Al harus balik ke common room sebelum di ceramahi Pansy dan Daphne" ucap Al lalu berlalu meninggalkan Severus sendirian diruangannya.

Severus menatap surat di genggamannya curiga. Apa isinya? Howler berisi amortentia? Sepertinya tidak, Severus tidak mencium aroma ramuan menjijikkan itu. Dengan enggan Severus membaca surat dari James. Setelah selesai membaca surat, Severus baru menyadari bahwa wajahnya kini basah oleh air mata. Ia sangat takut dan sedih. Horcrux? Severus seperti pernah mendengarnya. Ah, Regulus pernah menceritakan hal ini padanya. Dan sama. Informasi dari Regulus dan James sama. Sepertinya ia harus mulai berburu horcrux dengan Al dan... Mungkin Harry. Severus mengambil secarik perkamen dan menulis balasan untuk James. Hanya dua kata.

'Terima kasih'

SS

Menggunakan Apollo sebagai pengantarnya. Severus memejamkan matanya berusaha mengusir semua pikiran buruk yang menghinggapi otaknya. Ia tidak mau kehilangan lagi. Cukup Lily yang jadi korban kejahatan penyihir botak itu, jangan ada lagi. Mendesah malas, Severus pun beranjak untuk memulai kelasnya.

-_-_-_-_

31 Oktober 1991

Hari ini charms membahas mengenai mantra angkat sederhana. Wingardium Leviosa. Harry sebenarnya sudah menguasainya. Berterima kasihlah pada uncle Moony nya yang dengan sukarela mengajarkan materi charms dan DADA pada dirinya dan Demian. Tapi, sepertinya Ron membuat kesalahan sehingga harus diajari Hermione yang agak sedikit, yeah, sombong. Seamus yang duduk di sebelahnya meledakkan bulu yang jadi bahan percobaan. Untunglah rekan belajar mereka adalah anak-anak Hufflepuff. Bukan Slytherin. Jika Slytherin mungkin mereka akan menjadi bahan hinaan. Atau tidak. Sepertinya siapa pun yang jadi partner mereka Slytherin selalu saja tahu kesalahan mereka.

"Hey Al, lihat si Weasel yang kudengar kalah dalam mantra dengan seorang Muggleborn" ejek Draco saat Harry cs melewati kelompok mereka.

"Astaga! Jadi gossip itu benar? Weasel yang seorang PUREBLOOD kalah dengan seorang muggleborn? Betapa memalukannya itu" tambah Pansy si biang gossip Slytherin.

"Bisa tidak sih kalian tidak mengganggu kami barang sehari saja?" Keluh Harry lelah.

"Mana bisa Scarhead. Kau tahu, sehari tanpa menghina kalian itu seperti kematian bagi kami" ucap Draco pongah.

"Ck. Terserah kalian" desah Demian lelah akan kelakuan sepupunya itu.

"Sudahlah, mungkin dia kurang berpengalaman" imbuh Theodore.

"Dan kau tahu Al, si Weasel itu juga membuat nangis cewe muggleborn itu lohh" lanjut Pansy.

"Sudahlah. Kalian ini. Daph, bisa ikut aku sebentar? Ada sesuatu yang ingin kupastikan" ucap Al menengahi mereka.

"Kau tidak seru Al!" Keluh Blaise saat Al terlihat tidak minat menanggapi mereka.

"Kemana Al?" Tanya Daphne bingung. Jarang-jarang Al mengajak seseorang untuk menemaninya mengecek sesuatu.

"Masalah kecil kok" ucap Al, lalu berlalu meninggalkan Slytherin dan Gryffindor yang masih tegang bersama Princess Ice, Daphne Grenggrass.

"Cih, Traitorblood. Pantas" cibir Al ketika melewati Ron dan disambut senyum mengejek anak-anak Slytherin.

Al berjalan menuju perpustakaan diikuti Daphne. Sesampainya di perpustakaan Al langsung mencari tempat sedikit ke sudut agar tak terlalu mengambil perhatian.

"Ada apa Al?" Tanya Daphne ketika mereka sudah mendapatkan tempat duduk.

"Kau tahu Nicholas Flamel?" Tanya Al langsung.

"Ya, dia pembuat batu bertuah bukan? Batu yang bisa merubah sesuatu jadi emas dan dapat membuat kita hidup abadi" jelas Daphne.

"Batu bertuah, eh?" Gumam Al dengan sedikit seringai dibibirnya.

"Kenapa Al?" Tanya Daphne lagi.

"Kau tahu alasan kenapa koridor lantai tiga dilarang dimasuki? -Daphne menggeleng- Batu bertuah disimpan disana. Dilindungi oleh anjing kepala tiga dan sepertinya sedang diincar salah seorang guru disini" jelas Al mengungkapkan opininya. Bukan opini sih sebenarnya, Papanya yang menceritakan hal ini padanya.

"Kau tahu darimana?" Tanya Daphne curiga. Kenapa Al bisa tahu sebanyak itu?

"Aku sudah pernah kesana" jawab Al polos.

"Kau gila Al? Kau bisa saja mati. Berurusan dengan Cerberus? Professor Snape akan membunuhmu tahu" ucap Daphne khawatir. Sixtet Slytherin sudah tahu kalau Al adalah putra Severus Snape, kepala asrama mereka. Berterima kasihlah pada kepolosan Al yang muncul disaat yang tidak tepat.

"Uh.. Makanya jangan beritahu Papa Daph, kau mau aku dikurung?" Ucap Al cemberut. Daphne hanya menggeleng lelah pada sahabatnya yang satu ini. Dia adalah yang paling dewasa diantara mereka berenam namun terkadang sifat manja dan polos khas anak kecilnya akan muncul disaat yang terkadang tidak tepat. Seperti ini misalnya.

"Yaya, Professor Snape tidak akan tahu tentang hal ini dariku. Tapi, tidak dengan yang lain. Kau harus berhati-hati Al" peringat Daphne, yang memiliki posisi sebagai 'ibu' di kelompok mereka.

"Okay mum" jawab Al malas.

Makan malam berlangsung meriah. Hidangan kali ini lebih mewah dari biasanya. Tapi percuma saja, Al tidak sedang selera makan. Setelah makan beberapa puding coklat Al keluar dari aula besar. Perasaannya tak enak. Ia melangkah mengikuti keinginan hatinya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Professor Quirell, si guru idiot menurut Al. Ia tampak tergesa-gesa menuju aula besar.

"Kau kenapa?" Tanya Al tanpa memperdulikan sopan santun. Untuk apa sopan santun jika yang kau hadapi adalah makhkuk tak jelas macam Quirell. Batin Al.

"Troll, d-di D-d-dun-dun-geon. D-dan k-kau a-apa yang k-kau l-laku-kan m-mr. P-prince?" Tanya Quirell gagap.

"Bukan urusanmu" balas Al datar.

"Dan kau tahu, aku akan selalu mengawasimu" ucap Al dingin sebelum berlalu meninggalkan guru idiot itu.

Al sedikit mengernyitkan dahinya, kenapa kakinya menuntunnya menuju toilet wanita? Ah, dia ingat pasti muggleborn itu tidak tahu soal Troll yang ada di Dungeon. Dengan malas Al masuk ke toilet itu untuk mencari gadis Granger yang serba tahu itu.

"Hey, Granger keluarlah" ucao Al sambil memeriksa bilik bilik kamar mandi.

"Prince? A-apa yang kau lakukan disini (hiks) ingin mengejekku juga?" Ucap Hermione sedikit sesenggukan.

"Tidak bodoh. Untuk apa aku menghinamu? Atau kau memang mau dihina ya?" Cibir Al.

"Lalu apa yang kau lakukan disini?" Tanya Hermione lagi.

"Si Quirell bilang, ada Troll di Dungeon dan mungkin akan menuju ke-"

Bruak!!!

Bilik tempat Hermione dan Al hancur oleh sebuah pukulan tongkat Troll.

"Shit! Aku belum bersiap. Granger, keluarlah sekarang!" Ucap Al mendorong Hermione keluar dari bilik.

Saat mereka berlindung di balik wastafel tampak trio Gryffindor sudah ada disana. Hah, pasti akan semakin merepotkan. Keluh Al dalam hati. Sebuah pukulan dari tongkat Troll hampir mengenai mereka berdua. Al sedikit merutuki otaknya yang agak macet disaat saat genting seperti ini. Harry menusuk hidung Troll dengan tongkatnya. Berpikir Al. Ah!

"Levicorpus" ucap Al, dan seketika Troll itu terangkat dengan kaki diatas. Tapi, itu malah semakin berbahaya. Pentungannya mengarah kemana-mana secara brutal.

"Liberacorpus" ucap Demian yang sukses membuat kepala Troll itu menghantam lantai dengan keras dan pingsan ditempat.

"Thanks" ucap Al pelan.

Tepat saat mereka akan keluar, tiga orang Professor mengahmpiri mereka. Raut marah tampak diwajah professor McGonagall. Professor Quirell memandang terkejut Troll yang kini terbaring pingsan di lantai kamar mandi. Sedangkan Professor Snape memandang mereka sinis.

"Merlin! Apa yang kalian lakukan disini? Kalian bisa saja terbunuh" ucap Minerva dengan nada khawatir yang begitu kentara.

"Maaf Professor. Sebenarnya ini salahku. Aku berfikir bisa mengalahkan Troll itu sendirian. Tapi aku salah. Aku hampir saja mati jika Prince, Harry, Ron dan Demian tidak menolongku" bohong Hermione.

"Astaga Ms.Granger! Betapa bodohnya kau! Kalian sedikit beruntung karena tak banyak murid kelas satu bisa mengalahkan seekor Troll gunung dewasa. Lima point dari Gryffindor" putus Professor McGonagall.

"Maafkan kami Professor" ucap mereka bersamaan.

"Dan lima point untuk masing-masing kalian Mr. Potter, Mr. Weasley, Mr. Black dan Mr. Prince" tambah Minerva.

"Kalian kembali keasrama kalian, sekarang. Dan kau Prince ikut aku" ucap Severus datar.

"Baik Professor" ucap Al.

"Prince, thanks buat yang tadi" ujar Hermione berbisik saat Al melewatinya dan hanya dibalas senyum simpul Al.

"Huh, kita bisa saja mendapat lebih dari dua puluh point tadi" gerutu Ron di perjalanan menuju common room.

"Lima belas maksudmu. Ingat di potong lima" terang Harry.

"Hermione, bagaimana bisa kau bersama Al?" Tanya Demian.

"Um, dia tadi datang untuk memperingatkanku. Tapi, ketika kami mau keluar Troll itu sudah ada di dalam. Dan kalian tahu kelanjutannya" jelas Hermione.

"Cih, bisa baik juga dia rupanya" cibir Ron.

"Dia memang baik kok! Kalian saja yang tak tahu itu" balas Hermione dengan wajah bersemu.

"Hey, tunggu ini kan koridor lantai tiga yang dilarang?" Ucap Demian sembari memperhatikan sekitar.

"Ya, kau benar. Sebaiknya kita kembali" ajak Hermione.

"Tidak bisa. Mrs. Norris ada disana" ucap Harry sambil menunjuk ke kelokan.

"Masuk kesana" ajak Ron.

"Tak bisa pintunya di kunci" ucap Demian yang sedari tadi berusaha membuka pintu.

"Alohomora" ucap Hermione sambil mengayunkan tongkatnya dan seketika pintu terbuka.

Kwartet Gryffindor pun masuk kedalam ruangan. Ruangan itu gelap dan sedikit lembab? Mereka semua saling berdekatan agar tak terpisah. Suara geraman pelan membuat mereka semakin menyiagakan tongkat. Harry menatap ke atas dan langsung memucat. Seekor anjing kepala tiga sedang menatap mereka lapar. Dengan segera mereka berlari meninggalkan ruangan itu. Dengan terengah mereka memasuki common room yang sudah sepih.

"Hah... Apa sih yang dipikirkan Dumbledore idiot itu? Memasukkan seekor Cerberus kedalam sekolah? Gila!" rutuk Harry.

"Mungkin ada yang disembunyikannya" ujar Demian mengajukan opininya.

"Ya, memang ada yang disembunyikannya. Tapi, apa?" Tanya Harry lebih kedirinya sendiri.

"Mungkin sesuatu yang berbahaya sehingga kita dilarang masuk kesana. Ingat, peringatannya diawal tahun" ungkap Hermione.

"Ya, kau benar Mione" balas Demian.

"Hey, apa kalian lihat yang ada dibawah kaki Cerberus itu?" Tanya Hermione.

"Kami tidak memperhatikan kakinya Mione, kami memperhatikan kepalanya" ucap Ron.

"Memangnya ada apa Mione?" Tanya Harry.

"Dia dia menjaga sesuatu. Dibawah kakinya ada pintu!" Terang Hermione.

"Sudahlah besok-besok kita selidiki lagi. Besok pertandingan perdanaku melawan Slytherin" ucap Harry.

"Semangat Harry! Kami akan mendukungmu" ucap Hermione dengan senyum manis.

"Tidak mendukung Al kan, Mione?" Ucap Harry setengah menggoda.

"Um... T-tidak! Aku akan mendukungmu" ucap Hermione dengan wajah merona.

"Hahaha aku bercanda Mione" ucap Harry lalu berlari menuju kamarnya diikuti teman-temannya.

-_-_-_-_

Al mengikuti papanya dengan enggan. Sungguh ini adalah hari sial baginya. Sudah melawan Troll, sekarang bakal kena ceramah Papanya. Sial sial. Severus dan Al sekarang sudah ada di ruangan pribadi Severus. Al berdiri di depan sofa tunggal tempat Severus duduk.

"Apa yang kau lakukan disana Al?" Tanya Severus dingin. Gulp. Papanya marah.

"A-a-aku h-ha-hanya- "Jawab dengan jelas Alberius Prince Potter" Severus memotong ucapan Al dengan nada dingin dan penuh penekanan.

"Aku hanya ingin memperingati Granger. Dia tak ada di aula tadi. Tapi, ketika kami akan keluar Troll itu sudah ada didalam" jelas Al pelan. Ia tak mau menambah kemarahan papanya.

"Kau tahu kan itu berbahaya?" Tanya Severus sirat akan kekhawatiran.

"Al tahu Pa" sahut Al.

"Lalu? Kenapa kau masih melakukannya? Mau sok jadi pahlawan?" Cibir Severus. Jujur, Severus sangat khawatir saat Grenggrass berkata bahwa Al sudah keluar sebelum Quirell masuk ke aula besar.

"Tidak Pa. Maafkan Al. Al janji gak bakal ngulangi lagi" ucap Al penuh penyesalan.

"Huft... Papa maafkan. Janji tidak mengulangnya lagi?" Tanya Severus dengan nada yang lebih lembut. Al hanya mengangguk pelan.

Severus merentangkan tangannya sedikit. Al yang sudah tahu apa maksud papanya langsung memeluk papanya. Menenggelamkan wajahnya di bahu sang papa. Severus melingkarkan tangannya dipunggung Al. Mengelus lembut punggung Al. Ia takut kehilangan lagi. Bagaimana jadinya jika tadi mereka tidak bisa mengalahkan Troll itu?

"Jangan ulangi lagi Al. Papa khawatir Al. Papa tidak mau kehilanganmu" bisik Severus pada putranya.

Merasa tak ada tanggapan, Severus melirik kearah putranya. Al tertidur dibahunya. Wajah Al yang tertidur sangat damai dan polos. Sangat mirip dengan wajah seseorang yang katanya masih mencintainya disana. Wajah yang selalu ia rindukan. Wajah yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahnya ketika ia tidur selama ini. Sebenarnya Severus merasa sangat senang ketika James mengatakan ia masih mencintai Severus dan menginginkan mereka kembali bersama. Tapi, Severus takut disakiti lagi. Ia takut kalau semua ini hanya bualan James. Ia ingin melihat ketulusan James dulu. Ia ingin melihat ketekunan James dalam menaklukannya sekali lagi. Ia ingin tahu seberapa besar sebenarnya cinta James untuknya.

"Good night Al, Harry, and my James. Have a nice dream My Dears" ucap Severus lalu mengecup pucuk kepala Al yang dihiasi mahkota hitam berantakan itu. Severus kemudian menggendong Al menuju kamarnya, mentrasfigurasikan salah satu kursi menjadi tempat tidur untuk Al.

-_-_-_-_

Hampir dua bulan berlalu sejak James mengirimkan surat tentang Horcrux itu pada Severus. Dan juga balasan Severus yang hanya dua kata, namun dapat membuat hatinya hangat dan pedih disaat bersamaan. Hangat karena Severus masih mau membalas suratnya dan pedih karena inisial yang Severus pakai itu Snape bukan Potter. Hah... Sepertinya James memang harus menaklukan hati Severus sekali lagi agar istrinya itu percaya bahwa James masih sangat mencintainya.

'Good night Al, Harry, and my James. Have a nice dream My Dears' James tersentak dari posisi berbaringnya ketika ia mendengar sebuah bisikan lembut. Ia menatap sekeliling. Tak ada tanda-tanda orang lain selain dirinya dirumah ini. Sirius dan keluarganya sudah pulang ke Grimmauld Place. Tapi, kenapa ia mendengar bisikan yang menyerupai suara Severus kesayangannya itu? James mendapat satu kesimpulan. Mungkin di Hogwarts Severus baru saja mengucapkan selamat tidur dan bisikannya sampai ketelinga James.

Dengan sebuah senyuman lebar James kembali membaringkan tubuhnya, bersiap untuk tidur. Namun, sebelum itu ia berbisik kepada sang malam dan berharap semoga bisikannya sampai ketelinga Severus.

'Have a nice dream too my wife and my twins, aku akan membuktikan padamu bahwa aku pantas bersanding kembali denganmu. I love you Severus Prince Potter' dan James mendapat mimpi indah malam ini. Mimpi yang selama ini ia inginkan. Mimpi yang ia harap bisa jadi kenyataan.

-_-_-_-_

Dan malam ini, keluarga Potter tertidur dengan sebuah senyum tersungging diparas menawan mereka masing-masing. Bermimpi tentang kesatuan keluarga mereka yang kini masih terpecah. Semoga mereka bisa bersatu kembali menjadi sebuah keluarga yang bahagia. :').

-_-_-_-_

!TBC!

Gaje kan gaje!!! Makanya ini adalah part tergaje yang pernah saya buat. Jadi mohon maaf lahir dan batin ಥಥ.

Review yang kemaren dikit banget... Shie jadi males ngelanjutin ffnya (3)

Shie mengumumkan shie bakal hiatus selama yang shie mau/

( )

( )

( )

( )

( )

( )

( )

( )

( )

Cendolll Shie hiatusnya seminggu aja ding... /slap! readers: Shie mah emang update nya kadang seminggu sekali!!!

Please... RnR nya banyakin dongggggssssss, biar Shie semangat updatenyaaa!!!

Btw, Shie mau nanya dong!

Part yang paling kalian suka itu part yang mana sih? Terus apa alasannya, kenapa kalian bisa suka part itu?

Jawab yaaa!!! Pleaseeeee..

Shie penasaran sama jawaban kalian, soalnya Shie berencana mau buat ff baru, tapi oneshoot. Dengan fandom harpot juga. Tapi, Shie masih bingung nentuin pairnya... Jamsev, Drarry, Sirijames, SiriRemmy, atau LucyReggy? Gak usah dijawab. Yang itu biarkan Shie saja yang memikirkannya.

Bubyeee!!!

With Love,

Shie... Logged out.