Virious
by. Hitomi Shoyou
Eyeshield 21
Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata.
Warning : OOC dan TYPO
Matahari sudah meninggi di langit yang cerah dengan sedikit awan yang berarak. Sinar-sinar matahari menerobos masuk menerangi kamar Mamori yang tirainya sudah dibuka oleh Riku tadi pagi. Sang pemilik kamar sendiri masih terlelap dalam tidurnya. Bukan karena dia malas bangun tapi memang dia masih belum sadar sejak kejadian malam itu. Riku hari ini memutuskan untuk tidak pergi kuliah. Ia menunggu Mamori di sebuah sofa single di kamar itu. Lagipula tubuhnya masih sedikit sakit karena insiden terlemparnya dia hanya dengan satu tangan.
'Ada apa ini sebenarnya…?' batin Riku memandang langit siang itu dari jendela kamar Mamori.
Mamori sendiri sepertinya sudah mulai sadar. Matanya dengan perlahan terbuka dan menyesuaikan intensitas cahaya yang mulai memasuki matanya. Riku yang menyadarinya langsung menghampiri Mamori.
"Apa ada yang merasa tidak baik?" tanya Riku.
Mamori menggeleng pelan, "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Kau pingsan," kata Riku duduk di pinggir ranjang Mamori.
Mamori kembali mengingat kejadian semalam. Dia bertemu dengan seorang pria aneh lalu pria itu menyerangnya dan juga…
"Riku! Kau tidak apa-apa kan?" kata Mamori langsung panik memegang bahu Riku dengan kedua tangannya.
"Tidak,"
"Sena bagaimana?!" kata Mamori.
"Dia juga tidak apa-apa. Hanya pingsan saja saat kejadian,"
"Syukurlah…" Mamori menghela nafas lega.
"Mamori neechan, ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Riku. Mamori menoleh pada Riku.
"Kau ingat kejadian semalam?" kata Riku.
Mamori tampak berpikir sebentar untuk mengingat-ingat.
"Malam itu kita diserang seorang pria kan? Pria itu… bertaring dan juga memiliki warna mata merah pekat. Aku merasa warna matanya sangat tidak biasa,"
"Lalu soal kejadian kau jatuh pingsan kau ingat?"
"Karena aku dicekik pria itu kan?"
'Ternyata dia tidak ingat bahwa vampire itu dia sendiri yang melenyapkannya,' batin Riku.
"Aku ingin katakan sesuatu padamu, pria yang semalam kita hadapi adalah seorang vampire," kata Riku.
"Va..vampire?!," Mamori terkejut.
"Bagaimana kau tahu dia itu vampire? Di zaman seperti ini?" kata Mamori agak ragu.
"Sebelumnya aku ingin kau rahasiakan ini dari siapapun. Aku adalah seorang mantan hunter. Tapi itu tidak lama jadi aku hanya mengetahui ciri-ciri vampire level rendah saja saat menjadi hunter," kata Riku.
"Jadi malam itu adalah vampire level rendah?"
"Benar, Tapi… Soal Hunter dan Vampire ini menjadi rahasia dari masing-masing pihak. Sehingga para manusia tidak mengetahui akan hal ini,"
"Kau mantan… Hunter?"
"Jika saat itu identitasku sebagai hunter tidak diketahui Sena mungkin sekarang aku masih seorang hunter. Tapi saat itu Sena bersikeras memintaku untuk berhenti menjadi hunter karena menurutnya hal itu sangat berbahaya bagiku," kata Riku.
"Jika Sena tahu kau mantan hunter berarti dia juga tahu bahwa makhluk tadi malam itu seorang vampire?"
"Tidak. Dia tidak tahu. Malam itu adalah pertama kalinya dia melihat makhluk itu," kata Riku.
Mamori hanya diam semakin bingung dengan situasi ini. Ia masih tidak percaya jika masih ada makhluk seperti itu di zaman secanggih ini. Dan bahkan orang yang ada dihadapannya adalah seorang hunter yang bertugas melenyapkan vampire yang menganggu manusia.
"Riku apa kau ada dirumah?" teriak seorang yang tidak asing lagi.
Mamori dan Riku menoleh kearah sumber suara.
"Bukannya itu suara Sena?" kata Mamori. Riku langsung bangkit dan menuju ruang tamu. Riku memang sengaja tidak mengunci pintu rumahnya.
"Sena," kata Riku saat melihat Sena baru saja mau menelponnya.
"Bagaimana keadaan Mamori neechan? Apa dia belum sadar juga?" kata Sena terlihat cemas.
"Kau tenang saja, dia sudah sadar,"
"Syukurlah… Aku cemas sekali mendapat kabar darimu dia belum sadar juga."
"Soal kejadian semalam kau tidak katakan pada siapapun kan?"
"Tidak. Saat aku sadar aku hanya menjawab kami diserang oleh orang jahat sesuai perkataanmu,"
"Baguslah,"
Sena dan Riku berjalan menuju kamar Mamori tapi Mamori sudah keluar dari kamarnya terlebih dahulu menuju Sena dan Riku. Lalu mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Riku mengambilkan tiga minuman untuk mereka dan termasuk dirinya sendiri.
"Sebenarnya kebetulan sekali kau ada di sini Sena. Aku butuh bantuanmu," kata Riku.
"Ada apa?"
"Sepertinya aku ada urusan jadi aku titipkan Mamori neechan,"
"Memangnya kau mau kemana Riku?" kali ini Mamori yang bertanya.
"Urusan sebentar. Jadi aku pergi dulu ya," kata Riku sudah berdiri.
Sena dan Mamori mengangguk pelan.
"Riku!" kata Mamori membuat Riku menoleh kebelakang.
"Jangan pulang malam ya," kata Mamori khawatir mengingat pengalaman apa yang mereka dapatkan tadi malam.
Riku mengangguk, "Aku mengerti," lalu dia pergi.
Mamori menatap Sena, "Sena, kau tahu jika ternyata Riku adalah seorang mantan… Hunter?"
Sena agak terkejut, "…Iya,"
.
.
Riku melajukan motornya di jalan yang lenggang itu. Tujuannya adalah ke sebuah tempat yang dulu pernah menjadi tempatnya dan teman-temannya berkumpul mengatur strategi melenyapkan makhluk itu, vampire.
BRUM BRUM BRUM
Riku sampai di sebuah rumah tradisional gaya jepang. Di depan gerbang utama di jaga 4 orang berpakaian setelan warna hitam. Ke-4 orang itu mempersilahkan Riku masuk setelah Riku memparkirkan motornya.
"Apa Takami-san ada?" kata Riku pada salah satu orang dari ke-4 orang itu.
"Ada. Beliau ada di ruang baca," kata orang itu.
Riku mengangguk lalu berjalan menuju ruang baca yang dimaksud. Setelah memasuki gerbang utama, Riku memasuki pekarangan yang luas dan di depannya berderet bangunan-bangunan yang sudah dipastikan berjumlah banyak dan memiliki fungsi masing-masing. Riku yang sudah hafal tempat ini tidak kesulitan menemukan ruang baca tempat Takami berada.
Setelah sampai di depan ruangan, Riku mengeser pintu itu. Merasa ada yang datang Takami menolehkan kepalanya.
"Riku?"
Riku langsung masuk dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat.
"Tidak biasanya kau berkunjung ke sini. Duduklah," kata Takami.
Riku duduk di lantai yang beralaskan bantal tipis dengan meja berkaki rendah di depannya.
"Ada yang ingin saya tanyakan pada anda,"
Takami terlihat menunggu kelanjutan kalimat Riku.
"Tentang 'makhluk' itu,"
"Ada apa dengan mereka?"
"Begini Takami-san, tadi malam aku dan kedua temanku di serang seorang vampire level bawah lalu…" Riku terus menceritakan kejadian yang ia alami tadi malam.
Selama Riku menceritakan kejadian malam itu di waktu yang sama di sebuah gua di hutan pinggir kota itu terlihat gelap dan pengap beberapa vampire level bawah terlihat sedang berkumpul membentuk lingkaran saling berhadap-hadapan.
"Begitulah kejadian yang aku lihat tadi malam,"
"Cih, kau berhalusinasi karena belum minum darah ya?"
Setelah ejekan itu meluncur dari mulut seorang berbadan besar semuanya pun tertawa sedangkan salah satu pria dengan luka goresan di pipinya mengeram marah.
"Aku serius bodoh!"
"Kau yang bodoh. Penguasa Virious itu sudah mati sejak ratusan tahun silam dan kau bilang tadi malam kau melihatnya dia melenyapkan si gila itu? hahaha…" orang berbadan besar itu kembali tertawa.
"Che, kalian orang bodoh akan menyesalinya karena tidak mempercayai perkataanku. Dan satu lagi lebih baik jika kalian ingin berburu darah sebaiknya mulai sekarang lebih waspada karena Stlamier ada di ladang darah kita," lalu pria itu memutuskan pergi dengan tersungut-sungut. Membiarkan sekumpulan itu tertawa puas karena meremehkan perkataannya.
.
.
Takami meminum tehnya lalu meletakkan kembali, "Jadi begitu…"
"Jadi menurutmu ada apa dengannya?" kata Riku.
"Entahlah. Aku sendiri belum bisa memastikannya. Tapi aku merasakan dia bukan seorang manusia biasa," kata Takami.
Riku menghela nafas lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan itu.
"Sepertinya sedari tadi aku tidak melihat Sakuraba," kata Riku.
"Dia sudah tidak lagi menjadi hunter,"
Riku terkejut mendengarnya, "Kenapa?"
"Dia keluar sejak kejadian hilangnya Wakana. Menurutnya dia sangat lemah sehingga tidak bisa menjaga Wakana. Dan juga ia tidak bisa mencari pengganti Wakana yang seorang Alkemis sebagai partnernya," kata Takami.
Riku hanya diam melihat Takami dengan seksama.
"Aku sempat membujuknya agar jangan menyerah semudah itu tapi ia sudah bertekad bulat dan aku hanya memberinya semangat," kata Takami.
"Tapi terkadang dia juga berkunjung sama sepertimu," lanjut Takami.
"Begitu… Baiklah sepertinya hanya itu saja keperluanku kesini. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih," Riku berdiri perlahan dan membungkuk hormat dan menegakkan kembali tubuhnya.
"Riku, jika boleh aku mau kau membawa temanmu itu kesini tahu aku bisa mencari tahu lebih lanjut jika aku bertemu dengannya secara langsung," kata Takami.
Riku mengangguk mengerti lalu pamit untuk pergi.
~Virious~
Hari ini Hiruma sudah mengemasi barang-barangnya tidak memperdulikan Akaba yang masih tertidur pulas di ranjang. Rupanya gerak-gerik Hiruma membuat Akaba terbangun.
"Kau… Mau kembali ke Jepang?"
"Memangnya mau kemana lagi mata merah sialan. Kau sudah pasti akan menetap di sini karena cola sialan itu berada di sini bukan?" kata Hiruma masih memasukkan barang-barangnya.
"Fuh memang benar. Tapi sepertinya Marco akan mengajakmu kesuatu tempat. Menurutnya mungkin bisa sedikit memberimu jalan keluar dalam masalah ini," kata Akaba.
Hiruma menghentikan sebentar kegiatannya untuk melihat Akaba.
"Kemana?"
"Kau akan tahu nanti," Akaba beranjak pergi ke kamar mandi.
.
.
Hiruma, Akaba, dan Marco sekarang berada di mobil mewah milik Marco. Semuanya tampak diam tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Hiruma hanya melihat jalanan di luar dari balik jendela.
"Kau tahu tidak masalahmu ini berhubungan dengan apa?" kata Marco orang pertama yang berbicara.
Hiruma menoleh pada Marco yang seperti biasa menengak colanya. Akaba sendiri juga penasaran kelanjutan perkataan Marco.
"Ramalan bangsawan Zeornix," kata Marco.
"Dan kita saat ini menuju ke wilayah Zeornix,"
"Tunggu, bukankah mereka ada di Rusia?" kata Hiruma.
"Ya kau benar. Tapi keturunan terakhir Zeornix memutuskan untuk bertempat di London,"
Hiruma hanya diam lalu kembali melihat keluar dari jendela.
Laju mobil berhenti tepat di depan sebuah mansion cukup besar bahkan seperti istana.
"Tempat ini dilindungi semacam kekai. Jadi tidak sembarangan orang bisa masuk," kata Marco mulai keluar dari mobil begitu pula Hiruma dan Akaba.
'Pantas aku seperti sempat merasakan kekuatan kekai tadi,' batin Hiruma.
Marco terus berjalan berada di depan seakan memandu Hiruma dan Akaba. Beberapa orang di luar mansion menunduk hormat pada Marco. Seolah orang-orang itu sudah mengenal Marco.
"Zeornix… bukankah mereka bangsawan yang dikenal sebagai clan peramal?" kata Akaba pelan. Yang bisa terdengar cukup jelas bagi Marco dan Hiruma.
"Kau benar Akaba," kata Marco.
Seorang berbadan sangat besar dengan luka di keningnya berhenti berjalan saat melihat Marco dan yang lainnya. Pakaian setelannya yang rapi menunjukkan bahwa ia adalah seorang kepala pelayan di kastil itu.
"Gaou," panggil Marco.
Gaou menghampiri Marco dan sedikit membungkuk memberikan rasa hormatnya walaupun ekspresinya tetaplah datar dan terkesan ia adalah orang yang kuat.
"Apa dia ada?"
"Ada. Beliau sedang berada di ruang kerjanya," kata Gaou.
"Baiklah. Tidak perlu kau panggil dia, aku akan kesana sendiri bersama teman-temanku ini," kata Marco mengarahkan ibu jari kirinya ke belakang.
Gaou mengangguk paham.
Marco kembali berjalan menaiki tangga menuju lantai kedua dari kastil itu. Setiap ruangan di kastil benar-benar sangat luas ditambah lagi tidak terlalu banyak perabotan yang ada menjadikan ruangan itu luas. Setelah melewati anak tangga dan berhasil sampai di lantai dua. Marco terus berjalan sampai langkahnya berhenti di sebuah pintu berdaun dua yang sangat besar. Pintu itu agak terbuka sedikit dan menimbulkan celah.
"Maria, aku datang…" Marco langsung membuka pintu itu tanpa mengetuknya.
Sebuah buku tebal langsung melayang kearah Marco tapi dengan lihai Marco dapat menghindari 'sambutan' itu.
"Sudah kubilang ketuk pintu sebelum masuk. Kau masih ingat tata krama walaupun beberapa kali reinkarnasi bukan?" tatap sebal seorang gadis yang duduk di kursi kerjanya.
"Oh ayolah Maria… bagiku itu tidak perlu jika harus mengunjungimu bukan?" kata Marco.
Maria- atau lebih tepatnya Maruko Himuro Zeornix seorang vampire darah murni sama seperti Marco dan Akaba. Dia adalah keturunan terakhir yang tersisa dari garis keturunan Zeornix. Parasnya yang cantik walaupun dengan rambut pendeknya tetap membuatnya cantik, itu menurut Marco.
"Siapa mereka?" Himuro mulai berdiri dari kursinya.
"Ah ya! Aku hampir lupa. Kau masih ingat dengan mereka bukan?" kata Marco berjalan kearah Himuro dan berdiri disampingnya.
Tangan kanan Himuro memegang dagunya seperti pose berpikir.
"Kau Akaba kan? Dan dia ini Hiruma. Kalau Akaba aku tahu dia memang ada di dunia manusia, tapi kenapa dia juga di sini?! Bukankah seharusnya kau berada di Emfire?"
"Tepat sekali. Kali ini aku yang akan menjelaskannya," Marco sudah duduk di sofa yang bisa ditempati sekitar 4 orang.
.
.
"APA?!" Himuro terkejut.
"Hey… Tenanglah… Apa itu benar-benar gawat?"
"Kau kira ini hanya main-main?!" Himuro menarik kerah baju Marco.
"Tch, hentikan kepanikan konyolmu itu. Aku kesini untuk mencari cara lain agar aku bisa terbebas dari kelelawar sialan ini,"
"Daripada itu yang kau bilang soal reinkarnasi Yang Mulia itu lebih penting," kata Himuro berdiri dan menuju sebuah rak buku. Dilihat dari deretannya buku-buku itu terlihat sudah lusuh. Kemungkinan buku-buku itu adalah buku yang sudah sangat lama dan tua. Lalu Himuro mengambil salah satu buku dengan warna merah agak lusuh lalu kembali duduk.
"Marco, tadi kau bilang misi Hiruma itu ada hubungannya dengan ramalan keluargaku saat di Virious. Yang kau bilang itu benar," kata Himuro.
Semuanya menatap Himuro seolah-olah berkata 'Tolong jelaskan pada kami,'.
Himuro membuka buku itu dan berhenti pada suatu halaman yang hanya terdapat tulisan bahasa asing, lebih tepatnya bahasa Rusia.
"Mungkin kalian belum tahu soal ramalan itu karena ramalan itu sendiri diukir di bangunan di wilayah kami saat di Virious dan mungkin wilayah itu hanya sebuah reruntuhan tak berarti. Kakekku pernah bercerita padaku soal ramalan itu-"
"Kenapa tidak ada yang mengetahui ramalan itu dan hanya beberapa orang yang tahu seperti Clifford contohnya," sela Marco.
Himuro menghela nafas sebentar lalu kembali melanjutkan, "Soal alasan itu, Zeornix menganggap ramalan itu bisa berjenis sebuah kekhawatiran bagi rakyat Virious. Agar tidak terjadi kekacauan hanya karena ramalan itu, para leluhurku termasuk kakekku memutuskan agar tidak pernah memberitahu ramalan itu pada orang luar. Tapi tidak disangka Clifford bisa tahu ramalan itu dan ramalan itu benar terjadi…"
"Belum," kata Hiruma. Kali ini semua menatap Hiruma.
"Semuanya belum terjadi. Ini baru kebangkitannya, masih ada kesempatan untuk mengubah semua yang ada di ramalan itu,"
"Dia benar," kata Akaba angkat bicara walaupun terkesan tidak ikut andil dalam pembicaraan itu. Terlihat dia memainkan gitarnya seperti biasa.
"Kau memang benar bocah. Tapi satu hal yang kau lupakan. Ramalan dari Zeornix bukanlah ramalan yang bisa meleset dengan begitu mudahnya," kata Marco.
"Kekeke… catat dalam sejarahmu aku orang pertama yang akan mematahkan ramalan bodoh itu," tegas Hiruma.
Marco menyeringgai, "Menarik… Aku akan lihat itu,"
"Memang benar semuanya belum terjadi tapi kita juga harus bersiap-siap karena jika itu terjadi akan benar-benar gawat. Para petinggi Virious bisa dikalahkan hanya dirinya seorang, terlebih lagi seluruh vampire di dunia ini bisa lenyap seperti debu. Tanpa jejak…"
Raut wajah semuanya terlihat serius dari beberapa menit sebelumnya.
"Sebegitu besarkah kekuatannya?" Marco angkat bicara.
Himuro mengangguk pelan dan kembali membuka halaman lain dari buku lusuh itu.
"Stlamier memang bukanlah clan kuat dalam kekuatan tapi mereka yang paling terkuat dalam sejarah dalam kekuatan jiwa dalam tubuh. Kekuatan fisik sebesar apapun tidak berarti jika bisa dikalahkan dengan kekuatan sihir dengan mudahnya,"
"Hiruma, soal kelelawar itu," Himuro menatap Hiruma.
"Aku tidak bisa menghilangkannya hanya Clifford sendirilah yang bisa,"
"Kekeke… soal itu aku tidak pedulikan lagi,"
Marco dan Akaba agak tidak percaya dengan perkataan Hiruma, terutama Akaba. Bisa kau bayangkan, Hiruma pergi jauh-jauh dari Jepang ke London tujuannya untuk menghilangkan kelelawar yang bersarang di punggungnya dan saat ia tiba ia memutuskan tidak perlu menghilangkan makhluk itu.
'Benar-benar orang yang aneh,' batin Akaba.
"Hilangkan ekspresi bodoh itu orang-orang sialan. Kekeke…"
"Seperti yang cola sialan katakan padaku. Lebih baik aku yang mati di bandingkan 'dia'. Bukan begitu cola sialan?"
"Benar sekali bocah,"
"Apa yang kau sarankan padanya bodoh?!" Himuro menatap tajam Marco.
"Hanya pilihan terakhir yang terbaik saja, menurutku,"
"Bukan. Itu bukan pilihan terakhir tapi itu memang keputusannya. Di kehidupannya kali ini aku mau dia hidup lebih baik dibandingkan kehidupannya yang sebelumnya,"
Semuanya cukup terkesima dengan ucapan Hiruma.
"Cukup bagus. Tapi jangan kira kau berjuang sendiri jika ramalan ini benar-benar terjadi, aku akan melindungi Yang Mulia karena dia pemimpin yang benar-benar bagus sepanjang sejarah menurutku," (Marco).
"Aku juga, Stlamier berperan besar dalam sejarah Zeornix dan kami sangat mengabdi pada mereka," (Himuro).
"Fuh, mereka pemimpin yang bijaksana. Kurasa memang sudah waktunya aku membalaskan budi keluargaku pada Stlamier," (Akaba).
"Kekeke.. kuharap perkataan kalian ini bukan hanya janji belaka,"
"Reiji bukanlah bangsawan yang suka mengingkari janji bocah,"
~Virious~
Pantulan bulan dan beberapa bintang dilangit malam bisa terlihat jelas dari air kolam ikan di depan Sakuraba. Ia sedang berdiri di sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu dengan kolam ikan dibawahnya. Ia terus memperhatikan pantulan pemandangan malam itu dari kolam.
"Disini cukup dingin. Apa tidak sebaiknya kau ke dalam saja?" Takami ikut berdiri di samping Sakuraba.
"Aku masih ingin disini," kata Sakuraba.
Suasana kembali hening hanya terdengar cipratan air karena ulah ikan-ikan yang bergerak.
"Kau masih memikirkannya?"
"Bagaimana bisa aku melupakan sahabatku sendiri. Wakana… Sahabatku sejak kecil dan aku gagal melindunginya dari makhluk malam itu. Makhluk yang membunuh kedua orang tuanya,"
'Sakuraba…' batin Takami.
"Kau tidak gagal hanya saja waktu itu kau kalah jumlah. Dan itu bukanlah kesalahanmu," Takami menepuk bahu Sakuraba pelan.
"Oh ya, Riku tadi siang ke sini,"
"Benarkah?"
"Iya. Ia menanyakan sesuatu padaku,"
"Tentang apa?"
"Tentang temannya yang bisa melenyapkan vampire,"
"Maksudmu?"
"Tadi malam ia dan kedua temannya di serang vampire. Tapi salah satu temannya melenyapkan vampire yang menyerang mereka,"
"Dia hunter?"
"Bukan. Lagipula dia melenyapkan vampire itu tidak mengunakan silver shoot tapi mengeluarkan kekuatan aneh yang membuat vampire itu lenyap seperti debu,"
Sakuraba menatap Takami dengan serius, "Bagaimana mungkin? Dia manusia bukan?"
"Ya dia manusia. Hal itu juga yang sedang aku cari tahu. Kesimpulan sementara mengenai orang itu yang pastinya dia bukan manusia pada umumnya,"
"Melenyapkan vampire bagai debu… luar biasa sekali kekuatannya. Bahkan seorang Alkemis harus menggunakan cairan penghancur agar mayat vampire hancur menjadi partikel sekecil debu untuk menghilangkan jejak," kata Sakuraba.
"Yah… Memang cukup rumit masalah ini,"
.
.
Mamori sedang bercakap-cakap dengan Suzuna melalui telepon. Riku sendiri berada di kamarnya menyelesaikan tugas kuliahnya. Mamori sendiri ada di kamarnya sendiri.
"Kenapa hanya kita berempat saja Suzuna-chan? Riku tidak kita ajak?"
"Hahaha… benar juga. Dia pasti tidak berminat pergi ketempat seperti itu,"
"Eh? Apa? jangan beritahu Riku? Hm… baiklah aku mengerti. Ok hari minggu ini, baiklah selamat malam,"
Mamori menutup sambungan itu.
"Haahhh…," Mamori menghempaskan dirinya ke tempat tidur.
Jarum jam terus berjalan seiring berjalannya waktu dunia.
London
Di sebuah penginapan dengan bangunan gaya klasik adalah tempat yang dipilih Hiruma sejak pertama sampai di London. Pemandangan kota London di luar bisa dengan mudahnya Hiruma lihat dari jendela kamarnya. Kamarnya terletak di lantai 3 jadi hembusan angin malam itu dengan bebas menerpa wajahnya. Hiruma beranjak dari bingkai jendela itu menuju tempat tidurnya dengan kasur ukuran King Size. Menjatuhkan dirinya di tempat tidur nyaman itu dan mulai merilekskan tubuhnya sampai ia mulai memasuki alam mimpinya.
Hiruma POV
Kali ini aku berada di tempat yang sudah tidak asing lagi untukku. Bukan, Bukan di penjara sialan itu tapi di danau tempat yang sering kudatangi bersama Moriza. Dan sebentar lagi pasti kakek tua pemabuk itu datang. Hari ini memang hari ia akan datang lagi dalam mimpiku.
"Hey bocah!"
Kakek tua itu mulai menghampiriku yang sedang duduk di pinggir danau. Seperti biasa ia selalu membawa sakenya. Dasar pemabuk tua.
"Tempat yang kau pilih lumayan juga," sindirku.
"Hahaha… Aku tahu kau pasti merindukan tempat ini selain penjara itu bukan?"
Kakek tua itu tertawa dan mulai ikut duduk di sampingku.
"Sepertinya masalahmu semakin rumit saja ya bocah,"
"Kau ini selain pemabuk sialan juga sok menebak ya? Kekeke…"
"Semuanya terlihat dari wajah kusutmu itu,"
Hiruma hanya diam dan suasana begitu hening.
"Hey kakek tua, kau akan memilih mana antara mati atau membunuh sahabatmu sendiri?"
Kakek tua itu sedikit menoleh padaku, aku tahu hanya dari sudut mataku. Dia menenggak sakenya.
"Kepentingan diri memang penting tapi jika menyangkut sahabat atau teman dan orang yang penting bagimu aku tidak akan berpikir dua kali untuk menolongnya. Kau tahu hati seseorang itu rumit. Saat tidak ada seorang pun yang ada di sampingmu, jiwamu akan lemah dan kau kehilangan semangat dalam hidup ini. Tapi jika ada seseorang yang ada di sampingmu walaupun hanya seorang kau merasa dia sangat berarti dalam perjalanan hidupmu,"
Aku menaikkan sebelah alisku. Bukan karena perkataannya aneh. Semua yang kakek tua itu benar hanya saja aku tidak tahu dia bisa berkata seperti itu.
"Aku tahu itu…" aku berusaha merasakan hembusan angin yang bersemilir disekitarku.
"Bagaimana jika sahabatmu itu adalah alat penghancur yang bisa memusnahkan segalanya?"
Kakek itu tertawa pelan. Entah apa yang ia tertawakan dan itu membuatku bingung.
"Hiruma… Hiruma… Kenapa kau tidak langsung saja menceritakan apa masalahmu sebenarnya saja daripada meminta pendapatku dengan segala perumpamaan? Tapi sudahlah. Seandainya sahabatku adalah alat penghancur atau apapun itu dia tetaplah sahabatku, karena yang lebih mengetahui dirinya selain dirinya sendiri adalah aku. Sahabatnya…"
Baiklah aku sudah seperti orang bodoh saat ini jika terus meminta pendapat kakek tua ini.
"Hey bocah, kau tahu saat ini kau seperti ayahmu dulu saat dia pertama bertemu dengan ibumu. Betapa bodohnya dia terus meminta pendapatku apa yang harus dia lakukan,"
"Jangan membuat suasana seperti drama bodoh menyedihkan itu kakek tua sialan,"
"Hahaha… Sepertinya sudah lama pertemuan kita ini. Aku akan mendatangimu lagi,"
"Kau menganggu saja lebih baik tidak perlu datang dan mengatur mimpiku sesukamu,"
"Hahaha… Aku anggap itu tidak serius. Dan bocah, percayalah pada apa yang kau ketahui bukan dari orang lain,"
Dan semuanya menjadi gelap. Danau yang ada di depanku menghilang dan semuanya gelap tak terlihat apapun…
Hiruma POV End
.
.
Sedang lelap-lelapnya Mamori tidur dan menikmati alam mimpinya, suara ponselnya memaksakan matanya untuk terbuka.
"Siapa sih malam-malam begini…" gerutu Mamori masih setengah mengantuk sambil mencari-cari ponselnya yang terletak di meja kecil samping tempat tidurnya.
"Halo…" kata Mamori lemas.
Kemudian dia sangat terkejut terlihat dari bola matanya yang agak melebar sedikit. Dan rasa kantuknya menghilang. Tidak hanya itu saja wajahnya terlihat kesal.
"Jangan memanggilku dengan nama itu! Lagipula ini sudah malam jangan menganggu tidurku! Dasar iblis!"
TWITCH TWITCH
Entah apa yang di katakana lawan bicaranya sampai Mamori benar-benar kesal.
"Akan aku matikan jika kau hanya menganggu tidurku saja H-I-R-U-M-A Y-O-I-C-H-I," kata Mamori penuh penekanan. Sedangkan di sebrang sana hanya terdengar suara kekehan seperti biasa.
"Oh kau akan kembali lusa?"
"Heee? Kau memberiku libur dari latihan saat kau tiba nanti?"
"Iya iya hanya hari itu saja, dasar pelit. Apanya yang salah satu kebaikan. Berarti harinya kebetulan sekali,"
"Eh! Tidak- Tidak ada apa-apa kok. Hahaha…" ekspresi Mamori terlihat lega seolah-olah berkata 'Hampir saja ketahuan,'
"Mou! Kau menyebalkan! Selamat malam!" Mamori menutup ponselnya sedikit kasar.
"Dasar orang menyebalkan," Mamori menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dibalik selimut dia tersenyum lembut lalu menutup matanya.
.
.
Hiruma seperti biasa langsung terbangun dari tidurnya jika ia baru didatangi Doburoku. Karena saat 'kunjungan' itu selesai ia akan terlempar kembali ke dunianya tidak langsung ke mimpi awalnya. Hiruma memposisikan dirinya duduk di tempat tidurnya lalu melirik sedikit jam yang terletak di meja kecil samping kanannya. Dan menoleh sekeliling.
'Apa mata merah sialan itu belum kembali juga?' batin Hiruma.
Lalu dia kembali melihat kearah meja kecil disampingnya. Dia langsung meraih ponsel yang ada disana dan mencari kontak Mamori.
Ia menelpon gadis bersurai abrun itu.
"Halo…"
Suara lemas yang pertama di dengar Hiruma.
'Kenapa aku menelponnya ya? Ah sudahlah,' batin Hiruma.
"Ternyata kau ini maniak tidur ya Manager sialan,"
Hiruma hanya terkekeh seperti biasa saat orang di sebrang sana marah-marah mendengar ucapannya.
"Biar kutebak pasti kau bermimpi mendapatkan kue menjijikkan itu dengan harga yang sangat murah. Kekeke…"
Hiruma lagi-lagi tertawa ala iblis seperti biasa saat Mamori berbicara.
"Kau mengurus orang-orang sialan itu dengan baik kan? Aku akan kembali kira-kira lusa,"
"Hm. Saat aku kembali semua akan aku ambil alih seperti biasa dalam mengurusi orang-orang sialan itu. Dan kau bisa libur sementara. Itu salah satu kebaikannku,"
"Tch, kau kira seberapa lama liburanmu? Hanya sehari dan besoknya kau kembali menjadi Manager sialan. Kekeke…"
"Hm? Kebetulan? Memangnya kau ada acara apa?"
'Sejak kapan aku ingin tahu urusan orang begini?' batin Hiruma lalu kembali mendengarkan perkataan Mamori di telpon itu.
"Hm? Dasar orang aneh," celetuk Hiruma saat setelah Mamori berkata bahwa tidak ada apa-apa.
Lalu tak lama sambungan di putus oleh Mamori.
"Kekeke… dasar Manager sialan," Hiruma tersenyum lembut –bukan senyum seperti biasanya- lalu memandang langit malam lewat jendela kamar itu.
.
.
.
Didalam hutan terjadi aksi kejar-kejaran antara Clifford dan para tentara pimpinan Shin. Clifford terus berlari menarik Wakana menyusuri gelapnya malam. Ketajaman penglihatannya tidak menjadikan halangan baginya untuk menembus lebatnya hutan dan gelapnya malam. Wakana sudah bisa merasakan dirinya lelah. Dia berbeda dari vampire kebanyakan, dia hanya manusia yang di bangkitkan menjadi vampire. Sudah dipastikan tenaganya tidak sebanding dengan vampire murni.
"Clifford-sama…"
"Kita harus cepat Wakana,"
SRET
Clifford mendadak berhenti berlari. Di depannya sudah berdiri beberapa tentara pimpinan Shin. Dia terkepung dan mau tidak mau ia harus menghadapi para tentara itu.
Dari kumpulan tentara itu Shin melangkah kedepan dengan angkuhnya.
"Seharusnya kau bisa menepati janjimu D. Louis,"
Shin mengarahkan tangannya tanda agar para tentaranya mulai menyerang Clifford.
To Be Continue…
Langsung lanjut saja ke chapter 10~~
