Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto


"Uhm.. Gaara terima kasih." Ucap Chidori di depan pintu rumahnya.

"Sama-sama, sekarang kamu istirahat lah." Usul Gaara yang mengantar wanita itu sampai rumahnya.

"Ehm… kamu tidak mau mampir dulu?" tanya Chidori ragu. "Hanya untuk sekedar minum teh?"

Gaara terdiam, dia melihat keadaan rumah Chidori yang sangat sepi dan sunyi, lalu dia melihat kembali pada ekspresi wanita yang sedang lemah kondisinya itu.

"Baiklah." Jawab Gaara, dan Chidori pun tersenyum senang.

Begitu mereka masuk, Gaara merasakan aura yang kesepian dalam ruangan itu, sama seperti dirinya yang tinggal sendirian di apartemennya, lalu dia melihat foto-foto yang dipajang di setiap meja. Terlihat foto Chidori bersama ayahnya dan bersama teman-teman sekolahnya dulu.

"Aku siapkan teh dulu yah, anggap saja seperti rumah sendiri." Ucap Chidori.

Ketika Chidori pergi ke dapur, Gaara menepati dirinya duduk di ruang tamu, tidak lama kemudian terdengar suara gelas pecah dari arah dapur dimana Chidori berada.

PRAAANG

GAara langsung bangkit dari duduknya dan berlari ketempat Chidori.

"Chidori, kau tidak apa-a…" Gaara terdiam ketika melihat kondisi Chidori yang tergeletak di lantai. "CHIDORIII!"

Dengan cekatan Gaara langsung menelepon ambulans dan membawanya kerumah sakit, begitu sampai rumah sakit, Chidori langsung ditangani oleh dokter, dan Gaara pun menunggunya di luar. Lumayan lama menunggu, akhirnya sang dokter keluar.

"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Gaara yang khawatir.

"Hmmm, apa kamu keluarganya?" tanya sang dokter balik.

"Bukan, keluarganya sedang berada di luar negri dan aku orang terdekatnya saat ini." jawab Gaara buru-buru.

"Begitu, ikut aku ke ruanganku." Ajak sang dokter.

Gaara mengikuti dokter itu dari belakang, dan memasuki ruangan yang tidak jauh dari tempat Chidori berbaring.

"Sulit aku mengatakannya, kondisinya sangat tidak bagus." Ucap sang dokter.

"Maksud anda?" tanya Gaara tidak mengerti.

"Tubuhnya sangat lemah, aku belum bisa menemukan penyakitnya, harus dilakukan pengetesan darah dulu agar bisa mengetahui penyakitnya." Kata sang dokter.

"Lakukan saja, tolong dokter." Pinta Gaara.

"Baiklah, dan kau, sebaiknya hubungi keluarganya." Usul sang dokter.

"Baik." Jawab Gaara


"Gaara kenapa tidak menghubungiku yah?" gerutu Sakura di kamarnya.

Dia terus menerus memandangi handphonenya, berharap kalau Gaara akan menghubunginya, ketika sedang memandangi foto Gaara, tiba-tiba hpnya berdering dan itu adalah kiriman gambar dari Sasuke, begitu dibuka ternyata itu adalah fotonya yang sedang teriak ketakutan.

"Sasuke sialaan!" sewot Sakura sambil tertawa.

Tapi lama-lama senyum dari bibir mungil Sakura pudar, dia masih tetap kepikiran kenapa Gaara tidak menghubunginya.


3 hari tidak ada kabar dari Gaara dan itu membuat Sakura menjadi diam, dia terus menerus berfikir kenapa Gaara tidak menghubunginya, dan bahkan tidak mengunjunginya, ingin sekali Sakuramenemui Gaara, tapi dia tidak berani pergi ke tempat Gaara sendirian. Sakura melamun diatap sekolah dengan tatapan sedih.

"Mau kutemani?" tawar Sasuke yang tiba-tiba muncul.

"Temani apa?" tanya Sakura tidak mengerti.

"Ketempatnya, dia tidak menghubungimu kan?" jawab Sasuke dan sekaligus bertanya.

Sakura terdiam memikirkan tawaran Sasuke, lalu dia mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke.

"Terima kasih." Ucap Sakura yang menandakan setuju.


"HEi, aku bilang menemanimu, tapi bukan berarti kita seperti memata-matai begini." Ucap Sasuke yang berada di dalam mobilnya bersama Sakura.

Sekarang mereka sedang berada di dekat sekolahan Gaara dengan jarak 20 meter.

"Sssttt, aku sedang mencarinya." Kata Sakura sambil memperhatikan gerbang sekolah Gaara memakai teropong. "ITU DIA!"

"Mana?" tanya Sasuke.

"Ayo Sasuke, ikuti dia, dia keluar mengendarai motornya, cepaaat!" perintah Sakura sambil masih memakai teropongnya.

"As you wish my lady." Ucap Sasuke sambil tersenyum.

Mereka mengikuti Gaara dari belakang dengan sambil menjaga jarak, begitu Gaara sampai pada tempatnya, Sasuke dan Sakura terheran-heran.

"Rumah sakit?" tanya Sasuke dan Sakura secara bersamaan.

Mereka saling tatap dengan wajah heran, lalu memutuskan untuk turun dan mengikuti kemana tujuan Gaara. Mereka memgikutinya sampai gaara memasuki suatu ruangan.

"Selamat siang." Salam Gaara.

"Siaang, waah Gaara kamu datang lagi." Ucap Chidori dengan nada senang.

Sakura yang sedang menguping sangat terkejut mendengar suara Chidori yang berada di kamar itu.

"Ehm… kamu setiap hari kesini, apa Sakura tidak akan marah?" tanya Chidori yang merasa tidak enak.

"Tidak, aku sudah bilang padanya, jangan khawatir, dan dia menitipkan salam untukmu." Ucap Gaara yang berbohong.

Sasuke yang sedang menemani Skaura menguping juga mendengar percakapan mereka, karena suara mereka cukup keras untuk didengar dari luar, dia melihat wajah Sakura yang mengekspresikan kesedihan, ketidak percayaan dan kekecewaan.

"Benarkah? Aku jadi ingin bertemu dengannya." Ucap Chidori dengan senyum.

Keadaan sunyi sebentar dan Chidori melanjutkan omongannya.

"Bohong." Lanjut Chidori. "Aku bohong kalau aku bilang ingin bertemu dengannya."

Gaara tidak merespon dengan omongan tapi dia merepon dengan tatapan heran.

"Aku tidak suka kalau melihat Gaara di sisi Sakura, aku tahu ini egois, dan aku tahu dia adalah pacarmu, tapi… aku sedih dan sangat sakit di hati kalau melihat kalian berduaan." Jelas Chidori dengan tatapan kebawah, lalu dia menatap Gaara sambil tersenyum. "Itu karena aku mencintai Gaara."

Sakura yang mendengarnya dari luar sangat terkejut, dia menutup mulutnya, dan Sasuke sedang menahan amarahnya pada wanita itu, dan juga pada Gaara.

Sakura berlari pergi meninggalkan tempat itu, dan Sasuke mengejarnya, begitu sampai di parkiran mobil, Sasuke menghampiri Sakura yang sedang menahan tangis.

"Aku mengerti kenapa Gaara tidak menghubungiku selama ini." ucap Sakura dengan mata yang sudah penuh dengan air mata tapi tidak keluar.

"Menyedihkan yah." Lanjut Sakura yang air matanya terjatuh tanpa izinnya.

Sasuke hanya bisa terdiam menemani Sakura menangis sampai puas.


"Maafkan aku, Gaara." Ucap Chidori.

"Tidak apa, itu hal yang wajar." Jawab Gaara yang kini bingung dengan posisinya.

"Gaara, aku ingin minta satu hal padamu." Pinta Chidori.

"Apa itu?" tanya Gaara.


"Sudah mendingan?" tanya Sasuke yang berada disamping Sakura menyetir mobilnya.

"Iya, terima kasih." Jawab Sakura.

"Aku tidak menyangka Gaara melakukan ini padamu." Ucap Sasuke.

"Tidak, dia pasti mempunyai alasan." Bela Sakura.

"Wanita itu, aku tidak suka." Ungkap Sasuke.

"Hahaha, kau mengatakan apa yang Ino dan Hinata katakan." Ucap Sakura sambil terkekeh.

Sampailah dirumah Sakura, Sakura turun dari mobil Sasuke dan pamit pada Sasuke yang sudah mengantarnya, lalu begitu dia masuk kerumahnya, ibunya belum pulang, maka dari itu dia langsung menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.

"Hhhhh" desah Sakura.

Dan sangat mengejutkan karena hpnya berbunti, ketika dilihat, ternyata Gaara yang menghubunginya.

"Halo." Ucap Sakura dengan nada lembut.

"…"

"Gaara?" panggil Sakura yang kini nadanya sedikit khawatir.

"Sakura…"

"Ya?"

"Bisakah besok kita bertemu?"

"Tentu saja, diamana?" tanya Sakura dengan girang.

"Besok, di taman dekat rumahmu, aku akan menunggumu disitu, tempat kita bermain dulu."

"Baiklah, sampai ketemu besok."

Sakura menutup teleponnya, dan dia ingin cepat tidur agar esok hari datang lebih cepat dan dia bisa bertemu dengan Gaara.

Keesokan harinya, Sakura yang sedang ngobrol dengan Naruto dikoridor terlihat sangat senang.

"Sakuraaa." Panggil Ino.

"Hai Ino." Sapa Sakura.

"Ada apa, kau terlihat senang sekali." Tanya Ino.

"Hehehee, rahasia." Jawab Sakura sambil menjulurkan lidahnya.

"Ooohh, jadi mau main rahasia-rahasiaan yaaah." Ledek Ino.

"Baiklah, baiklah… Gaara yang tidak menghubungiku selama 3 hari, tadi malam memintaku untuk bertemu dengannya hari ini." ucap Sakura yang girang.

Ino terdiam, dia berfikir bahwa Sakura benar-benar polos, dia tidak mengerti apa arti dari pertemuan itu, Ino tahu, kalau seorang pacar tidak menghubungi selama 3 hari dan tiba-tiba minta bertemu, itu artinya…

"Oh ya? Bagus doong." Ucap Ino yang berpura-pura ikut senang.

"Iyaaa, aku senang sekali." Kata Sakura.

TENG TENG TENG TENG

"Ah sudah pulang, aku duluan yaaaah." Pamit Sakura.

"Enerjik seperti biasa yah." Ucap Naruto.

"Mulai besok, kita tidak akan bisa melihat Sakura yang enerjik seperti ini lagi." Kata Ino sambil menekan h tombol hpnya.

"Kenapa?" tanya Naruto.

Ino tidak menjawabnya dan menempelkan hp ditelinganya. "Halo, Sasuke."


Sakura berlari ke taman tempat janjian dia dan Gaara, begitu sampai Sakura menduduki ayunan disana dan membayangkan ketika dirinya dan gaara bermain disitu waktu kecil dulu, mengingat hal dulu itu membuat Sakura tersenyum kecil.

Gaara yangs udah sampai tidak menegur Sakura, dia memperhatikan wajah Sakura yang sedang tersenyum kecil itu, lalu dengan keberanian yang sudah cukup, Gaara menghampiri Sakura.

"Hei." Sapa Gaara dari samping.

"Oh, hai Gaara." Sapa Sakura balik.

"sudah lama?" tanya Gaara sambil duduk di ayunan sebelah Sakura.

"tidak, aku baru datang… aku sedang mengingat sewaktu kita dulu bermain disini, dulu kita masih sangat kecil yaah." Ucap Sakura sambil tertawa.

Tapi tawa Sakura sedikit memudar ketika melihat ekspresi Gaara yang mungkin bisa dibilang sedikit serius dan sedih.

"Gaara, ada apa?" tanya Sakura pelan.

Gaara tidak menjawab, dia tetap menundukkan kepalanya kebawah, Sakura tiba-tiba merasa tidak enak dengan suasana ini, dan perasaannya juga ikut tidak enak.

"Ehm, langitnya agak gelap, bagaimana kalau kita kerumahku saja?" tawar Sakura.

Tapi Gaara tidak merespon.

Diam

Tidak bersuara

Gaara menunduk terdiam

Sakura menatap tanah sambil mengayunkan ayunan dengan sangat pelan.

Lalu Sakura memulai pembicaraan dengan menyebutkan nama seorang wanita.

"Chidori…"

"Maafkan aku." Potong Gaara.

Sakura menoleh kearah Gaara dengan tatapan tidak percaya.

"Gaara, jelaskan padaku, apa yang tidak kuketahui." Tanya Sakura yang berusaha tenang dan tidak menangis.

"Maaf Sakura, dia sangat membutuhkanku, aku tidak bisa meninggalkannya." Ucap Gaara dengan wajah yang dikuburnya memakai lengannya.

"Bagaimana bisa? Kau baru kenal dengannya! Dia hanya anak dari kerabat ayahmu!" kata Sakura yang mulai naik emosinya.

"Tidak, aku melupakan dia! Ternyata aku dan dia dulu pernah bertemu dan sering bermain bersama ketika aku sedang berada di negaranya." Bantah Gaara.

"Lalu? Apa maksudmu memanggilku?" tanya Sakura dengan suara yang bergetar.

Air pun mulai turun perlahan dari langit, gerimis yang mulai datang menemani mereka berdebat.

"Sakura… dia membutuhkanku.."

"Aku juga membutuhkanmu!" bentak Sakura.

"Dia lebih membutuhkanku!" bentak Gaara yang frustasi dan kini beranjak dari duduknya.

"Kenapa kau bisa bilang begitu! Kau jahat Gaara! Kenapa kau lebih memilih dia! Apa karena dia sakit? Apa karena dia terluka? Apa aku harus masuk rumah sakit juga agar kau memilihku!" bentak Sakura kembali sambil memukul dada Gaara dan diiringi dengan air matanya.

"Dia terkena HIV!" jawab Gaara yang kini juga menangis. "Apa kau tahu bagaimana bingungnya aku saat ini? aku sangat mencintaimu… tapi diluar sana ada seorang gadis yang sedang membutuhkan doronganku, gadis yang nyawanya sudah ditetapkan akan mati…"

"Semua orang akan mati…" potong Sakura sambil menatap Gaara dengan air mata yang berjatuhan.

"tapi dia sudah sangat tahu sampai kapan dia bisa bertahan." Potong Gaara balik. "Saat ini tubuhnya sangat lemah, aku harus terus ada disampingnya."

Sakura tidak menjawab, keadaan sunyi kembali, dan kini hujan mulai sedikit deras.

"Maafkan aku Sakura…" ucap Gaara sambil merengkuh wajah Sakura dan mencium keningnya, selepas itu, Gaara beranjak pergi meninggalkannya.

"Jangan tinggalkan aku…" tahan Sakura yang menggenggam kemeja Gaara.

Gaara yang masih menangis perlahan memegang tangan Sakura dan dilepasnya genggaman Sakura secara perlahan, begitu terlepas, Gaara pergi meninggalkan Sakura sendirian di taman itu.

Sakura yang shock hanya berdiri disitu dengan hujan yang membasahi tubuhnya, air mata yang keluar tidak berhenti itu menandakan betapa sedihnya Sakura saat itu, dia mengangkat wajahnya dan mencari sosok Gaara, tapi dia tidak menemukannya, dia mengatur nafasnya, ditarik nafasnya pelan-pelan dalam hujan yang deras itu, lalu dibuangnya perlahan dengan air mata yang masih keluar dari mata emeraldnya itu.

Sakura berusaha melangkahkan kaki untuk menuju rumahnya, tapi lututnya terlalu lemas, dan akhirnya dia terjatuh, ketika dia hampir terjatuh, sebuah tangan menangkapnya dari belakang, begitu Sakura menoleh, pemilik tangan itu adalah Sasuke, Sasuke yang menahannya agar tidak jatuh juga kehujanan disitu. Entah mengapa begitu melihat Sasuke, Sakura makin kencang menangisnya, namun tidak mengeluarkan suara.

"Menangislah…. Aku akan menemanimu." Ucap Sasuke ditelinga Sakura sambil memeluk gadis yang dia cintai itu.

Sakura yang mendengar kata-kata itu dengan nada yang sangat lembut kini akhirnya bisa mengeluarkan suara tangisannya. Suara tangisan yang begitu keras dan terdengar pilu, namun samar-samar dengan suara derasnya hujan, Sasuke tetap terus memeluk tubuh Sakura yang kini terkubur di dadanya. Sakura menangis kencang sambil meremas seragam Sasuke, bisa Sasuke rasakan tubuh Sakura yang gemetar, entah karena dingin atau karena shock.

Sasuke mempererat pelukannya dan mencium kepala Sakura dengan lembut, menemani Sakura yang kini sedang terpuruk.


A/N : hehehee, kalian tahu ngga, kejadian putusnya gaara dan sakura di taman itu kisah nyata loh, tapi bukan aku, tapi temen aku, waktu aku bilang..

"Ni, ijin dong make adegan waktu lo diputusin sama mantan lo di taman belakang itu."

terus kata dia

"Sialan lo, ahahahhaa... yaudah pake aja."

tapi bedanya temen aku g ada yang dateng seperti Sasuke, adegan Sasuke dateng itu cuma tambahan dari ceritaku aja...

hahahahhaaa...

makasih yah review-reviewnya...n_n