LOVE IS COMPLICATED
Pairing : SasuSaku (OTP), SasoSaku
Genre : Romance – Friendship
NARUTO © Masashi Kishimoto
L.I.C © DuWeldenvarden
Selamat menikmati..
Balesan review!
Hinamori Miko Koyuki : Sakura ama Sasuke kita singkirkan dulu saja yaaa *dibakar SasuSaku FC*.. Ntar mereka jadi… jadi… ikutin aja ceritanyaa.. ^^
Nadialovely : Pasti updet kilat doong! Apalagi UAS Welden udah selese!
Akasuna no ei-chan : Walaupun gak suka kan mereka ada kaitan erat ama kakaknya Sakura.. ^^ hihi, jadi yaaa.. ini adegan yang kebetulan memang direncanakan dan kebetulan ternyata ada yang ngereview suka SasoSaku, jadi kupersembahkan bagian SasoSaku untuk mereka.. ^^ Soal SasuSaku? Ntar…. Author akan menemui mereka di chapter yang akan datang.
Sherlock holmes : Haha.. maaf yaaa.. chapter 8 itu memang dikhususkan untuk SasoSaku, dan chapter ini kayaknya juga deh.. (please don't kill me)
Ajisa Rei : Makasih wejangannya! Welden bakal terus berusaha ampe titik darah penghabisan!
Gita Zahra : Konfliknya bakal lebih dijelasin di chapter 10 deh kayaknya yaa… ^^.. Gita-san sabar yaa…
Kalo ternyata chapter 9 ini kurang memuaskan.. silahkan kritik saran argument pendapat dll… ^^v
Selamat membaca…
Chapter 9
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Jangan bilang kita hanya akan diam menunggu informasi dari polisi yang sedari kemarin kerjanya nyelow banget.." Gerutu Naruto, "Sakura-chan dalam bahaya dan kita tidak bisa diam saja!"
"Kita memangnya bisa apa lagi, Naruto? Kalau kau punya rencana, katakan saja.. Kita 'kan tidak tahu Sakura diculik siapa dan dibawa kemana…" Kata Tenten, "Lagipula aku yakin polisi akan menemukannya."
"Sebenarnya aku tidak mau begini…" Sasuke angkat bicara, "Tapi yang dikatakan Dobe ini benar.. Bergantung begitu saja pada polisi adalah tindakan bodoh sementara mungkin nyawanya dalam bahaya –kuharap tidak terjadi seperti itu.."
"Benar! Kita harus memikirkan sesuatu… Sakura-chan dalam bahaya sekarang.." Kata Hinata.
"Baiklah, saatnya berpikir analisis sekarang ini…" Naruto merubah posisi duduknya, "Pertama… Dia menerima telepon dari seseorang. Kelihatan terburu-buru, kemudian mengatakan bahwa dia ingin ke supermarket membeli makanan ringan. Kenapa dia harus sampai berbohong?"
"Bisa karena apapun.. Ancaman? Atau karena… permintaan penculiknya sendiri.." Kata Neji.
"Benar! Kalau karena ancaman, Hinata bilang raut wajah Sakura tidak kelihatan panik, hanya gelisah semata. Permintaan penculiknya sendiri yang paling masuk akal.." Kata Naruto.
"Tapi pelakunya tidak mungkin mengungkapkan bahwa dia berencana menculiknya, 'kan.. dia pasti … menipu." Kata Sasuke.
"Ya, itu dia. Checkpoint. Kalau menipu, pelaku itu menipu Sakura dengan mengatakan apa? Sesuatu yang bisa memancing Sakura untuk segera mendatanginya." Kata Naruto, "Bahkan sampai berbohong kepada kita."
"Kalau tentang Itachi atau menyangkut skandalnya, bagaimana?" Tanya Tenten, "Rencana kita disini karena itu 'kan? Sakura juga minta bantuan polisi teman ayahnya.."
"Ya… dai pernah bilang begitu padaku.." Kata Hinata, namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu, "Atau jangan-jangan…."
"Pelaku itu.."
" –mengaku sebagai…"
" –polisi atau detektif yang akan menyelesaikan skandalnya."
"Itu diaa. Karena itu Sakura langsung percaya." Kata Naruto.
"Tapi sebenarnya Sakura sempat ragu koq.. lalu tiba-tiba ia segera mengambil tas dan pergi.." Kata Hinata.
"Sakura hampir menyadarinya.." Kata Tenten.
"Nah.. kita lanjutkan. Setelah itu Sakura tidak kembali, bukan? Kemudian aku dan Sasuke ke sana, hanya menemukan telepon dan kain di bangku kayu sebuah café di sebelah supermarket. Bisa saja si pelaku bersembunyi disana, iya 'kan? Harusnya kita bisa menemukan hal lain selain robekan baju dan ponsel."
"Kalau yang terjatuh ponsel dan robekan kain, mungkin Sakura sedang duduk di kursi itu sambil memegang ponselnya." Kata Tenten.
" –si pelaku kemudian membekapnya dari belakang." Tambah Neji.
" –Sakura-chan berusaha meronta. Melempar asal ponselnya dan berusaha melepas tangan yang membekapnya.."
" –kemudian bajunya tersangkut kemudian robek."
"Bingo! Checkpoint.." Kata Naruto, "Seperti di film-film, pelakunya seharusnya meninggalkan sesuatu di sana. Sebelumnya ia pasti bersembunyi di dekat sana."
"Kita akan memeriksanya? Atau minta bantuan polisi?" Tanya Tenten.
"Polisi lagi.. polisi lagi… kali ini sebaiknya kita yang lebih pintar sedikit daripada polisi otak udang di kantornya yang bekerja." Kata Sasuke ketus, "Ayo Naruto.."
"Oke, Teme!"
"O..Oi! Biar kami ikut!" Hinata meraih sebuah senter di dekatnya dan kemudian bersama yang lain menyusul Sasuke dan Naruto.
"Disini… adalah 'TKP'-nya.." Kata Naruto, "Di bangku itu…" Ia menunjuk sebuah bangku panjang tua dari kayu, "Disana Sakura duduk dan menunggu. Ponselnya ditemukan di sekitar sini.."
"Analisis kita hampir benar." Kata Tenten, "Tumben banget kau hebat, Naruto!"
"Hehehe…" Naruto terkekeh sambil tersipu.
"Tidak ada waktu untuk mendapat pujian seperti itu!" Sasuke memukul kepala Naruto dengan keras, "Bantu cari!"
"Awww! Iya, Teme! Dasar cerewet.." Gerutu Naruto.
"Rasanya di malam hari seperti ini kita tidak akan menemukan apapun…" Kata Neji, "Terlalu gelap."
"Polisi pintar pasti akan memilih siang hari untuk menyelidiki dibandingkan harus menginjak barang bukti.." Kata Sasuke, "Kita bisa kembali besok pagi.."
"Tapi, kau sendiri yang bilang, kita harus cepat menemukan pelakunya.. kau mau menunda sampai kapan? Kalau kau terus menunda-nunda kau bisa kehilangan dirinya.." Kata Naruto.
"Yang sekarang membawa senter hanya Hinata. Akan sulit.." Kata Tenten, "Terang senter ponsel pun tidak bisa menandingi terang senter.
"Di villa kulihat di sebelah TV di ruang keluarga ada senter yang cukup besar.. Aku bisa mengambilnya dalam 5 menit.." Kata Sasuke.
"Benar.. ambillah! Kita sangat membutuhkannya." Kata Naruto. Sasuke mengangguk dan segera berlari kembali ke villa.
"Kau tampak pucat… kau tidak apa-apa?" Tanya Sasori pada Sakura.
"Aku… bukankah aku memang pucat sedari dulu?" Tanya Sakura, "Aku tidak apa-apa koq.. Hanya mabuk darat."
"Kau memang aneh.. sama seperti kakakmu…" Kata Sasori, "Tapi sisi itulah yang kusukai dari kakakmu.. bukan kekayaan atau kecantikannya saja.."
"Kalau sampai kau mengincarnya karena kelebihannya saja.. aku akan membunuhmu sekarang juga.." Kata Sakura, "Dia adalah kakakku yang terbaik! Aku tidak mau dia sampai jatuh ke tangan laki-laki tak bertanggung jawab seperti Itachi. Aku benar-benar membencinya!"
"Tenanglah.. aku rasa kau butuh istirahat.." Kata Sasori, "Ayo.. biar aku yang membawa tasmu." Sasori meraih tas yang sedang dipegang Sakura.
"Kita menginap disini?" Tanya Sakura.
"Iya.. jaraknya cukup dekat dengan Haneda Airport.. menghemat waktu.." Kata Sasori. Kemudian mereka masuk dan check in kamar.
"Silahkan di sebelah sini.." Kata salah satu pelayan yang mengantar mereka, "Futon dan air panasnya sudah disiapkan.."
"Terimakasih.."
Sakura memasuki kamar yang cukup luas itu, dengan pemandangan danau yang ada di sebelah penginapan. Damai.. perasaan yang pertama kali dirasakan Sakura ketika memasuki penginapan ini. Begitu damai dan jauh dari apapun.
Jauh dari apapun? Sakura mengulangi apa yang dipikirkannya barusan.
"Kau tidur saja duluan.. aku ingin memesan tiket di warnet dekat sini.." Kata Sasori, "Selamat malam.."
Pintu tertutup begitu saja. Sekarang Sakura benar-benar sendirian. Namun kata-katanya tadi kembali menghantuinya. Jauh dari apapun? Artinya aku senang jauh dari Sasuke? Sakura melipat kedua kakinya dan meringkuk, Aku merindukan Sasuke.. Andai ponselku tidak jatuh, sekarang aku pasti segera meneleponnya dan menyuruhnya.. segera menjemputku..
Sakura terdiam sejenak menatap jam dinding yang tergantung di dinding di depannya. Kapan Sasori kembali? Aku tidak nyaman sendirian disini.. Kata Sakura dalam hati. Ia mengganti pakaiannya dengan sebuah yukata yang disiapkan pelayan tadi di kamar mandi, kemudian bersiap tidur. (Tanpa cuci muka gosok gigi cuci kaki? Euuuhh…)
"Sasori… kau dimana?"
"Sakura! Segera lari! Menunduk! Itachi memegang senjata!"
"Eh?"
"Ayo! Jangan lambat!"
"Tapi lari kemana? Sepertinya banyak sekali anak buah Itachi yang mengejar kita! Kita bisa terkepung!"
"Kemanapun asal kau aman! Aku akan menjagamu di belakang!"
"Tidak ke dalam bangunan tua itu?!"
"Jangan! Justru kita bisa terkepung disitu! Lari ke gang itu!"
"Yang mana?"
"Sakura AWAS!"
DZIING!
"Sasori?!"
"Hei! Sasori.. jawab aku!"
"Sasori!"
Sakura membuka matanya tiba-tiba. Mimpi apa tadi? Tanya Sakura pada dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya. Ia menatap sekelilingnya. Sasori masih belum kembali.. Sakura bangkit dan membetulkan yukata-nya, kemudian keluar kamar.
Sakura menoleh ke kanan ke kiri ke atas (?) mencari warnet yang dimaksud Sasori. Mungkin itu.. Sakura segera menghampiri salah satu warnet di sebelah penginapan.
"Sakura… kenapa kaudisini?" Tanya Sasori ketika Sakura sampai di depan warnet.
"Ehh.. itu.. aku… sudah jam segini kau belum pulang jadi … aku khawatir.." Kata Sakura gelagapan.
"Dasar penakut.." Kata Sasori sambil tertawa kecil. Sakura hanya cemberut men-deathglare.
"Kau.. sudah memesan tiketnya?" Tanya Sakura.
"Sudah.. untuk berdua.. besok.." Kata Sasori.
"Tidak terlalu cepat?" Sakura tercengang.
"Tidak.." Kata Sasori, "Semakin cepat semakin baik. Kita tidak bisa berlama-lama disini. Kalau terlalu lama, Itachi keburu pergi dari sana.. Dan kenapa kau bisa terbangun?" Tanya Sasori, "Tidak biasanya kau bangun ketika sudah tidur.. Dulu kalau kau sudah tidur.. seperti orang mati.."
"Mimpi buruk…" Kata Sakura.
Mereka berdua berjalan kembali ke habitatnya lagi (penginapan.. -") dan bersiap tidur, "Memangnya kau mimpi apa sampai membuatmu terbangun?" Tanya Sasori.
"Ah.. itu…" Sakura kehilangan kata-katanya, "Sebenarnya…"
"Kalau kau mimpi Itachi mati itu namanya bukan mimpi buruk.. tapi mimpi indah.." Kata Sasori sambil mengacak-acak rambut Sakura, "Selamat malam.."
"Karena yang mati itu kau, makanya kusebut mimpi buruk!" Seru Sakura. Air matanya kembali mengalir dari sudut matanya, membasahi pipi mulusnya, "Ma..Maaf.. mungkin ini pertanda buruk.."
Sasori mendekati Sakura dan memeluknya erat, "Kalaupun itu akan terjadi… Aku yakin saat itu Itachi langsung tewas.."
"Ta.. tapi.. kau bilang akan melindungiku kan?!"
"Saat itu aku sudah menyelesaikan tugasku, 'kan? Lagipula…" Sasori melepaskan pelukannya, "Hal itu adalah hal yang paling kutunggu-tunggu sejak Rukari meninggal. Aku ingin segera menyusulnya. Karena kurasa tujuan hidupku hanya mencintai Rukari.. dan melindungimu.."
"Be.. begitu.. ta.. tapi.." Sakura menahan baju Sasori ketika ia akan bangkit kembali ke tempatnya, "Maaf.. seharusnya aku tidak memberitahumu.. karena kupikir kau akan.. takut.."
"Mana mungkin?" Sasori tersenyum, "Aku tidak akan takut.."
Sakura tersenyum. Kemudian ia kembali ke tempat tidurnya, menarik selimutnya sampai dagu dan kemudian tenggelam ke dalam kegelapan pekat.
Sasori menatapnya. Kemudian menghela nafas, Kau benar, Sakura… aku..
Aku takut.. sebenarnya..
"Naah! Akan lebih baik jika begini.." Naruto membetulkan posisi senter besar yang tadi diambil Sasuke.
"Naah.. kita cari barang bukti lain.." Kata Tenten bersemangat.
"Di sekitar sini ada jejak mobil. Pelaku itu membawa mobil. Jadi Sakura pasti dibawa ke suatu tempat.. Yang paling tidak mungkin adalah tempatnya ada di dekat sini. Pelaku itu pasti sangat bodoh kalau masih menahannya di tempat yang dekat dengan teman-teman korban." Kata Naruto.
"Benar. Ia pasti di bawa ke tempat yang jauh. Tapi dimana? Kita tidak mungkin mengelilingi Jepang untuk mencarinya, 'kan?" Tanya Sasuke.
"Yang private number itu.. bagaimana?" Tanya Tenten.
"Polisi sudah menyelidiknya dan hanya ditemukan di sebuah selokan penuh air. Jejak sidik jari terhapus. Tak ada jaringan kulit atau keringat, rusak dan kartu memorinya sudah patah terbagi dua.." Kata Sasuke.
"Dimana ditemukannya?" Tanya Hinata.
"Selokan yang ada di sebelah jalan menuju jalan tol dalam kota…" Kata Sasuke.
"Itu artinya.." Naruto memulai analisisnya lagi, "Sakura-chan dibawa ke luar kota.."
"Ya tapi kemana?" Neji menjitak kepala Naruto.
Tidak.. tidak bisa! Sasuke mengepalkan tangannya, Begini tidak akan bisa melacak keberadaan Sakura dan pelaku itu begitu saja…
Sial!
Sakura terbangun dari tidurnya. Sinar matahari menerpa masuk ke dalam kamar tidur itu. Ia bangun dan kemudian menguap kecil. Mata emerald-nya mengeksplor isi ruangan. Sasori tidak ada? Sakura bangkit berdiri dan membetulkan yukata-nya.
"Kau sudah bangun?" Sasori masuk ke dalam kamar, kemudian melepaskan jaketnya.
"Kau dari mana?" Tanya Sakura.
"Membeli baju…" Kata Sasori, "Untukmu.. kau tidak mungkin terus memakai baju yang sama, 'kan?"
"Heh? Membeli? Bagaimana bisa?!" Seru Sakura, "Dan kau beli sebanyak apa untukku?"
"Aku hanya membeli seperlunya koq.. Hanya dua kantung plastik di bagasi mobil.. dan… nih.." Sasori memberi sekantung plastik baju kepada Sakura, "Untuk kau pakai sekarang, terserah kau mau memilih yang mana.."
"Bukan.. masalah baju.. ku..pikir ti..tidak masalah.. tapi.." Sakura menutup wajahnya yang memerah, "Kau tahu… sebagai seorang gadis.. aku.."
"Maksudmu pakaian dalam?" Sasori tertawa kecil, "Aku sudah membeli.. secukupnya.. di bagasi mobil." Sakura menghela nafas lega.
"Kau membeli.. apa tidak mahal?" Tanya Sakura.
"Aku pakai credit card." Kata Sasori, "Tak peduli.."
"Kau memang boros!"
"Rukari selalu mengatakan itu padaku.."
Sakura langsung terdiam. Sasori menyadari apa yang dikatakannya salah dan kemudian langsung mengubah topik pembicaraan, "Segeralah mandi dan kita akan berangkat sebentar lagi."
"Kapan aku bisa menelepon Sasuke?" Tanya Sakura.
"Di perjalanan nanti.." Kata Sasori, "Cepat sana mandi.."
"Iyaa! Bawel.." Sakura segera menyambar handuk penginapan dan segera mandi. Dia membeli baju? Sampai segitunya? Niat.. Kata Sakura sembari mengeluarkan isi kantung yang tadi diberikan Sasori. Pakaian dalam –Sakura langsung merah padam–, dan dress sederhana bercorak morning glory. Sakura segera memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi.
"Aku sudah siap.." Kata Sakura.
"Kalau begitu..ayo berangkat.." Sasori segera menyambar kunci mobil di meja dan segera keluar dari kamar bersama Sakura.
"Memangnya kita mau kemana sih?" Tanya Sakura.
"Singapura.." Jawab Sasori.
"APA? Si..Singapura? Jangan bercanda, untuk apa kau membawaku sampai sejauh itu?!" Tanya Sakura –setengah berteriak–.
"Kau mau menangkap Itachi?" Tanya Sasori, "Tempat 'pengungsian' Itachi itu ada di Singapura. Aku mau menangkapnya.. dengan.. maaf.. menjadikanmu.. umpan.."
"U..Umpan? Kau mau membunuhku? Bukankah ini sama saja kau memanfaatkanku?!" Seru Sakura sambil mencengkeram kerah baju Sasori, dalam hatinya ia jadi mengerti bagaimana perasaan Sasuke waktu di villa kemarin, merasa dimanfaatkan.
"Kau mau menangkap Itachi?" Sasori mengulangi pertanyaannya.
"Aku ingin tapi seharusnya kau memberitahuku dari awal! Aku tidak suka dimanfaatkan seperti ini!" Seru Sakura.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus pergi kalau tidak mau ketinggalan pesawat, dan uangku akan sia-sia begitu saja."
"Tumben kau peduli dengan uangmu.." Kata Sakura.
Sasori hanya mendengus sambil tersenyum kecil. Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan Sakura segera naik ke mobil, "Bagaimana dengan mobilnya?"
"Dititipkan di airport.." Jawab Sasori.
"Bukannya mahal?" Sakura menaikkan alisnya.
"Memangnya mau kauapakan mobil ini?"
"Entahlah."
Sasori tertawa, "Sudahlah.. kau tenang saja.. Jangan memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu kaupikirkan.."
Mobil mereka melaju kencang ke Haneda Airport. Sakura hanya terdiam sambil sesekali mencuri pandang ke arah Sasori yang sedang menyetir. Ke Singapura? Aku tidak yakin ini bukan mimpi! Sejauh itu aku harus pergi hanya karena satu orang brengsek? Aku memang harus membunuh si brengsek itu! Umpat Sakura dalam hatinya sambil mengepalkan tangan.
"Aku.. mau menelepon Sasuke!" Serunya dengan posisi tangan 'meminta'.
"Kau yakin ini tidak terlalu cepat?" Tanya Sasori.
"Pulsa di ponselmu akan habis dalam sekejap begitu aku menelepon dari Singapura ke Konoha.. dan ponselmu akan meledak." Kata Sakura. Sasori hanya tertawa, kemudian memberikan ponselnya kepada Sakura.
Nomor Sasuke.. kalau tidak salah… Sakura berpikir sejenak sambil memainkan jarinya di keypad ponsel Sasori.
Ponsel Sasuke berdering memecah keheningan. Lagu Maroon 5 – One More Night langsung dimainkan oleh ponsel itu. Sasuke segera meraihnya.
"Hallo?"
"Sa..Sasuke? Ini aku, Sakura.."
Suara bak malaikat itu membekukan Sasuke. Suara yang paling Sasuke tunggu-tunggu sejak se-abad yang lalu!
"Sa.. Sakura?" Sasuke mulai berbicara setelah hening selama 5 detik, "Sakura! Kau dimana sekarang?!"
"Aku aman.. dengan Sasori.. Jangan hubungi polisi untuk menangkap Sasori! Dia sama sekali tidak bersalah. Sasori ingin membantuku untuk menemukan Itachi dan ia bilang.. Itachi ada di Singapura dan kami sedang dalam perjalanan ke Haneda Airport."
"Singapura? Apa tidak terlalu jauh?!" Seru Sasuke.
"Entahlah tapi ini adalah cara agar kita bisa menangkap Itachi! Minta Nadya hubungi kepolisian untuk mengirim data Itachi ke server kepolisian Singapura.. Mereka akan membantu aku dan Sasori di sana. Kalau kau ingin ke Singapura…"
"Kalau aku ke Singapura? Lalu? Jangan diam saja, Sakura!" Seru Sasuke.
"Secepat mungkin kemari!" Dan telepon pun terputus.
Sial! Umpat Sasuke. Ia segera membawa ponselnya keluar kamar.
"Ada apa Sasuke?" Tanya Tenten, "Kau berbicara dengan siapa?"
"Sakura meneleponku tadi.." Kata Sasuke, "Sasori yang menculiknya…."
" –Sasori-senpai? Dasar! Orang itu pasti bekerja sama dengan Itachi. Kita harus menelepon polisi!" Seru Naruto.
"Aku belum selesai bicara, bodoh!" Sasuke menjitak kepala Naruto, "Sakura bilang tidak perlu menghubungi polisi untuk menangkap Sasori. Ia hanya memintaku untuk bilang pada Nadya-san, untuk segera memberitahu kepolisian selaku salah satu anggota Agensi ANGEL, untuk mengirim data Itachi ke Singapura."
"Aku akan memberitahu Nadya-san!" Hinata langsung pergi ke kamar Nadya di lantai atas.
"Aku berencana akan menyusul kesana.." Kata Sasuke, "Mungkin besok.. hari ini aku memesan tiket."
"Biar aku ikut!" Kata Naruto.
"Kalau begitu aku juga!" Seru Tenten.
"Tidak.. Maaf Tenten, tapi sebaiknya kau disini dengan Hinata. Biar aku dan Naruto yang pergi. Ada kemungkinan untuk adu senjata disana nanti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan aku tidak mau melibatkan perempuan untuk urusan berbahaya seperti ini. Semakin banyak orang yang ikut, makin berbahaya.." Kata Sasuke.
" –Bisa saja salah satu dari kita ada yang tertinggal, tertangkap kemudian disandera. Kita bisa stuck disitu.."Kata Naruto.
"Kau benar.." Tenten menghela nafas, "Aku disini dengan Nadya dan Hinata. Apa Tetsuhiko ikut?"
"Kurasa.. tidak perlu.." Kata Sasuke.
"Ayo, Sasuke! Kita mesti memesan tiket.."
" –di Internet lebih mudah.." Kata Sasuke.
Aku akan kesana.. Sakura!
TO BE CONTINUED
Ini dia Chapter 9 yang aneh nan ga jelas..
Konfliknya bakal lebih dijelasin di Chapter 10..
The Real Battle-nya ada di Chapter 10.
Sasuke ketemu Sakura ada di Chapter 10..
Bagi SasuSaku lovers, sabar ampe Chapter 10 yaaa..
SasoSaku Lovers jangan sedih kalo adegan SasoSakunya mau abis.. ^^v
Mereka ke Singapuraa! Author pengen banget ke sana Cuma karena masih kecil nan polos, Welden tak diperbolehkan waktu kaka Welden pergi ke sana.. apalagi Welden mesti sekolah.. *anak pintar* #Ditelen buaya.
Makasih udah meluangkan waktu buat baca.. (._.)b
RnR yaaa..
