"Tunggu Kazekage-sama," suara serak itu menghentikan Gaara. Lelaki itu akhirnya menatap Sakura yang sudah menyeka air matanya. Sebelum kembali bicara, Sakura menenangkan diri agar suaranya tidak bergetar, "Aku tidak memaksakan diri, sungguh," ia menghela napasnya, "Tapi aku sudah tak bisa lagi membuat orang-orang di sekitarku mengkhawatirkanku lagi," Sakura tersenyum kecil, "Kau tahu? Sebelum aku menerima lamaranmu, aku sering mengambil misi keluar desa hingga berbulan-bulan. Alasannya karena aku berusaha menyibukkan diri untuk melupakan Sasuke sekaligus menghindari makam Sasuke. Jika aku tetap berada di desa, langkah kakiku pasti akan membawanku ke pemakaman dan disana aku hanya akan berdiam diri di depan nisan Sasuke selama berjam-jam. Aku merasa sulit untuk merelakan Sasuke jika aku terus berada di Konoha. Karena itu, aku akan pergi denganmu meskipun harus sekarang."
Gaara tersenyum miris, 'Jadi pada akhirnya ini karena Uchiha?' batinnya. Ia memang merasa sedih tapi ia tak bisa menyalahkan Sakura karena gadis itu memang sudah lama menyukai Sasuke. Gaara berbalik menghadap Sakura, "Kalau begitu, siapkan dirimu beserta barang-barang yang akan kau bawa pindah. Tak perlu semuanya cukup barang-barang pribadimu saja. Upacaranya akan dilaksanakan di sebuah oasis sebelah timur Suna," ia mendekati Sakura dan mengacak rambutnya, "Jika kau berubah pikiran, kau bisa mengatakannya padaku." ia berbalik dan melangkah keluar dari apartemen Sakura.
Ketika kakinya menginjak jalanan Konoha, salju turun perlahan. Seolah menggantikan hujan yang akan mengguyur dirinya yang sedang meratapi diri. Ia menyayangi gadis itu dan tak ingin membuatnya menangis. Jika Sakura ingin pergi dari Konoha, maka ia akan mengabulkannya. Meskipun itu akan menyakiti dirinya sendiri.
Marriage Kazekage
Ishikawa Natsumi
Naruto : Masashi Kishimoto
"Toneri-sama..." seorang gadis berbisik kepada seseorang yang tubuhnya kini sedang tersembunyi di balik kursi tinggi kepala meja makannya.
Denting suara alat makan menjadi satu-satunya sumber bunyi di ruangan itu. Tanpa menghentikan gerakan kunyahannya, pria itu menyahut, "Hm?" gumamnya.
Tubuh gadis itu dibanjiri oleh peluhnya sendiri. Ia berusaha untuk berlari secepat mungkin menuju kediaman tuannya yang berada di Reruntuhan Rouran yang terletak di perbatasan Konohagakure dengan Sunagakure. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dua hari dengan berlari, berhasil ia tempuh dalam waktu satu hari. Masih dengan napas terengah, gadis itu berlutut, "Maafkan aku Toneri-sama, aku lamban dalam mengerjakan tugasku."
"Katakan saja ada apa?" pria bermata gelap itu mulai gelisah. Ia menghentikan acara makan malamnya dan mulai mendengarkan si gadis.
Gadis berambut karamel itu menunduk, siap menerima hukuman apapun dari tuannya, "Maafkan aku harus menyampaikan ini Toneri-sama, tapi para tetua Suna akan mempercepat pernikahan Kazekage di lokasi yang berbeda," secepat larinya ucapannya kali ini pun tak kalah cepat.
Toneri hanya memandang ke depan dengan tatapan kosong dari matanya yang gelap namun tangannya tak bisa menyembunyikan emosinya saat ini. Pria itu berhasil mematahkan garpu besi yang dipegangnya tanpa kesulitan. Suara denting besi yang jatuh ke atas lantai memecah keheningan dengan mengerikan seakan sedang mengancam gadis di belakangnya.
Menyadari hal itu, gadis yang biasa dipanggil Matsuri itu bergidik ngeri lalu membungkukkan badannya lebih dalam, "Maafkan aku Toneri-sama, kumohon jangan bunuh aku," pada akhirnya hal itulah yang paling ditakutkan olehnya.
Selama ia menjadi kaki tangan dari Toneri, ia selalu takut akan tangan pucat nan dingin yang bisa meremukkan tulang-tulangnya kapan saja. Tapi ketika ia mendengar jika para tetua akan menikahkan Gaara dengan gadis dari desa lain, Matsuri tak bisa berada di desa itu lagi. Ia sadar kalau suara hatinya tak mungkin di dengar di sana, bahkan oleh Gaara sendiri selaku guru pembimbingnya dulu. Karena itu ia pergi dari desa dan mencari seseorang yang mau mendengarkannya. Ketika ia sudah terlalu lelah untuk berjalan, ditambah lagi mentalnya yang sudah jatuh mempengaruhi fisiknya yang sudah tak mampu lagi berdiri. Gadis itu terduduk di tengah gurun pasir sampai bayangan seseorang menghalangi sinar matahari menerpa wajahnya. Ya, dia adalah Toneri.
Selama lima hari Matsuri diperlakukan dengan baik oleh pria itu. Gadis itu meceritakan keluh kesahnya terhadap Kazekage dan tetua Sunagakure. Toneri mengatakan jika tujuan mereka sama, membalas dendam pada dunia karena tak ada yang mendengarkan isi hati mereka. Matsuri terhasut oleh bujuk rayu Toneri yang menjanjikannya tubuh sang Kazekage.
"Sudahlah, tinggalkan aku sendiri," Toneri berbisik. Terselip ancaman yang tak bisa dibantah dalam nada suaranya. Jika Matsuri tak menurut, sudah dipastikan sedikitnya ia akan patah tulang.
"Baik, aku permisi," gadis itu segera meninggalkan ruangan sebelum tuannya berubah pikiran.
Toneri memejamkan mata gelapnya, berpikir bagaimana caranya ia bisa mendapatkan semua jinchuriki ketika bulan purnama berikutnya. Tepat ketika bulan dan planet-planet lain terletak pada satu garis di langit agar ia bisa membangkitkan kekuatan mata terkuat. Ia sudah mendapatkan ketujuh jinchuriki lain karena mereka semua sudah mati dan mayatnya mudah dicuri. Hanya tinggal dua, satunya sedang berada di Konoha sedangkan yang satunya masih belum ditemukan. Ia terlalu sibuk mencari jinchuriki kyuubi yang tak diketahui keberadaannya hingga ia mengesampingkan si jinchuriki ichibi. Tak disangka ternyata para tetua Sunagakure itu bisa bertindak nekat.
Surat ancaman itu ia berikan agar para tetua tidak membiarkan Gaara keluar desa karena mereka pasti berpikir tempat teraman untuk melindunginya adalah desa mereka sendiri. Tapi ternyata langkah yang diambil para tetua adalah menikahkan kazekagenya dengan negara aliansi terkuat mereka. Ia paham, langkah itu diambil akan memperkuat kekuatan militer mereka. Karena itu ia mengirimkan surat ancaman lagi. Langkah para tetua kali ini tak pernah terpikirkan olehnya.
"Aku harus menyusun ulang rencanaku," pria itu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan dengan langkah yang terseret.
~#~#~#~
Setelah kejadian menegangkan kemarin, Sakura sudah kembali bekerja seperti biasa. Shift malamnya kali ini terasa amat sepi dibanding biasanya, terlebih karena hari ini ia menjalankannya bersama Shizune-senpai saja yang sekarang mungkin sedang sibuk di kantor kepala menggantikan Tsunade. Rumah Sakit Umum Konoha tidak kedatangan banyak pasien sepanjang minggu ini. Yang datang padanya hanya beberapa genin dan jonin yang mengalami luka ringan sepulang dari misi. Seharusnya ia bersyukur bahwa keadaan sedang damai dan tak banyak orang yang terluka. Tapi hal ini membuatnya tak punya banyak perkerjaan yang bisa membuatnya lupa akan ucapan sang kazekage semalam. Terutama kata-kata terakhirnya.
"Jika kau berubah pikiran, kau bisa mengatakannya padaku."
'Bukankah dia bilang kalau aku sudah tak bisa kembali jika sudah mengatakan "ya"? Lalu kenapa dia berkata seperti itu? Membuatku tak yakin saja,' gadis musim semi itu menggerutu dalam hati. Tangannya sibuk membuat coretan-coretan tak tentu di atas kertas kosong yang sudah tak terpakai. Matanya menatap sayu ke arah kertas itu. Detik jam dinding, yang sudah menunjuk angka sebelas dan satu, menimbulkan suara konstan yang membuat matanya semakin terasa berat untuk membuka. Namun tangannya masih mencoretkan tinta-tinta di atas kertas, menyusun satu kata yang tak disadari Sakura, Gaara. Dan setelah itu ia jatuh ke dalam lautan mimpi.
Insomnianya kambuh lagi malam ini. Gaara bangun dari futonnya dan berjalan menuju jendela penginapannya. Di luar salju turun dengan indah. Kazekage termuda itu memikul guci pasirnya dan pergi meninggalkan ruangan, menyonsong udara tengah malam yang menusuk tulang. Namun tampakknya ia tak peduli. Ia kenakan jubah sekedarnya untuk menghalau rasa dingin. Ia biarkan langkahnya membawanya kemanapun ia pergi. Salju masih berguguran dari langit tanpa rembulan. Jalanan Konoha yang sepi kini sudah terlapisi oleh lapisan tipis es yang licin. Dengan sedikit bagian chakranya, Gaara berjalan dengan tenang tanpa harus takut akan tergelincir.
Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya dan meniupnya untuk memberi kehangatan. Matanya seringkali menatap gedung-gedung dengan tatapan tanpa emosinya. Beberapa kali ia mendengar suara tangisan bayi yang membangunkan orang tuanya di tengah malam. Sempat terlintas dipikirannya, bagaimana jika ia punya anak nanti. Ia mungkin akan merasakan hal itu, betapa repotnya ia ketika harus terbangun di tengah malam dan menggendong bayinya untuk menenangkannya. Tapi seulas senyum tipis tercetak di bibirnya yang mulai membiru. Matanya berkilat geli kala ia membayangkan istrinya datang tergopoh-gopoh menyusulnya untuk menenangkan anaknya.
Tapi ia terdiam sejenak ketika ia menyadari siapa yang menghampirinya dalam bayangan keluarga kecilnya. Dia berambut merah muda, tergelung tinggi dan menganakan gaun tidur yang manis. Gaara memberikan bayi dalam gendongannya kepada wanita itu. Lalu wanita itu menyusuinya dan bayi itu pun langsung tenang. Gaara memeluk mereka sambil tersenyum kecil menatap anaknya yang tengah menyusu.
Gaara segera menghentikan pikiran itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan hal itu bisa membuang bayangannya, 'Hentikan. Itu tak mungkin terjadi,' tegurnya membatin. Ia kira udara yang kian mendingin seiring waktu yang semakin menuju dini hari sudah mengganggu otaknya, membuatnya membayangkan hal-hal aneh yang mustahil. Lelaki berambut merah itu mempercepat langkahnya, meskipun ia masih tak tahu akan kemana.
Matanya tertuju pada pohon tempatnya menunggu Sakura kemarin sore. Tak terasa ia sudah berjalan sampai di sini. Ia menoleh ke kanan, sebuah bangunan kokoh dengan lambang Konohagakure terlihat terang benderang dari luar. Lampu-lampu taman dan lampu sorot yang mengarah pada tulisan Rumah Sakit Umum Konoha membuatnya terasa lebih terang dibanding bangunan yang lain. Seketika itu juga ia teringat pada seseorang.
'Bukankah dia mendapat shift malam?' pertanyaannya itu tak ia ucapkan. Ia hanya terpikir pada gadis yang kemarin sempat membuatnya goyah.
Tanpa diperintah langkah kakinya mengarah ke pintu masuk rumah sakit. Terus dan terus hingga ia berpijak di lantai rumah sakit. Di bagian UGD lampu sudah dimatikan sedangkan di nurse station hanya ada sinar temaram yang berasal dari lampu baca diatas konter. Helaian merah muda terlihat menyembul di baliknya. Menelungkup dan bersandar pada lipatan tangannya. Tanpa ia sadari, sebuah senyuman hangat muncul di wajahnya. Ia menghampiri si empunya helaian merah muda itu dan masuk ke dalam nurse station, 'Dia bisa masuk angin jika tidur seperti itu,' udara yang ia rasakan di sini tidak begitu hangat karena letaknya yang dekat pintu masuk membuatnya langsung terkena hembusan angin musim dingin.
Ia melepas jubahnya lalu menyampirkannya pada punggung Sakura. Menyelimuti gadis itu dengan jubah yang sudah ia hangatkan dengan tubuhnya. Ia sempat berpikir untuk memindahkan Sakura ke suatu tempat. Tapi jika ia memasuki kamar dengan Sakura yang berada dalam gendongannya, seseorang yang melihat hal itu mungkin akan salah paham. Lagipula ia tak tahu harus memindahkannya kemana.
'Maaf aku tak bisa melakukan hal yang lebih dari ini,' batinnya lagi. Tubuh Sakura menggeliat dan muncul kerutan di antara kedua alisnya, 'Apa dia bermimpi buruk?' tanyanya lagi-lagi dalam hati.
Tangannya bergerak menuju rambut gadis musim semi itu. Ia kerjapkan matanya beberapa kali seolah-olah sosok yang ada di depan matanya dapat menghilang dan pergi menjauh dari genggamannya. Telapaknya sampai di puncak kepala gadis itu. Mengusapnya lembut sampai kernyitan di alis Sakura menghilang dan ia bisa kembali tidur nyenyak. Gaara masih terdiam bersandar pada konter, menatap gadis itu sambil sesekali tersenyum ketika tubuhnya menggeliat mencari posisi yang lebih nyaman. Ia sengaja tak mematikan lampunya agar setidaknya sinar temaram itu bisa menghangatkannya.
Suara konstan dari detak jam menjadi suara latar yang membuatnya larut. Ditambah aroma bunga sakura yang menguar dari tubuh si gadis musim semi semakin membuat matanya terasa lebih berat. Ia duduk bersandar pada lemari di bawah konter, bersedekap seolah dengan begitu ia bisa merasa lebih hangat. Dan beberapa menit kemudian ia terlelap.
~#~#~#~
Sakura terbangun ketika bel pemanggil suster berbunyi, atau mungkin kata terperanjat lebih cocok dengan keadaannya saat ini. Jubah yang tersampir di punggungnya terjatuh ketika ia bangkit dari kursinya, teronggok lemas di sekeliling kakinya. Gadis itu menatapnya sejenak, sampai ekor matanya menangkap helaian merah darah yang duduk bersandar di bawah konter. Spontan ia mundur selangkah, terkejut mendapati orang yang tak ia sangka-sangka sedang tertidur di dekat kakinya. Bel suster yang berbunyi menyadarkannya dari serangan syok ringan akibat orang itu. Segera ia ambil jubah yang tadi tersampir di punggungnya dan menyelimuti Kazekage yang tengah terlelap kemudian ia pergi menuju kamar yang memanggilnya.
Beberapa menit setelahnya ia kembali ke nurse station, ternyata pasien itu hanya memintanya untuk membenarkan posisi bantalnya agar lebih nyaman. Kebetulan dia adalah manula yang sudah seminggu diawat di sini. Masalah sakit pinggangnya mengharuskan Sakura untuk banyak membantunya dalam melakukan banyak hal.
Mendekati nurse station Sakura berlari kecil, ia takut jika yang dilihatnya beberapa menit yang lalu hanya bayangannya saja. Ia takut sosok yang tadi tertidur di dekat kakinya hanyalah mimpi yang terbawa hingga ia sadar. Tapi kemudian langkahnya melambat, ia tertawa getir memikirkan kemungkinannya yang hampir nol persen, 'Tidak mungkin seorang kazekage sampai melakukan itu,' gumamnya meyakinkan diri.
Langkah kakinya terhenti sepenuhnya ketika ia melihat helaian merah darah itu masih di sana. Berselimut jubah, yang tak seberapa hangatnya, yang ia sampirkan sebelum ia pergi meninggalkannya. Lelaki itu masih di sana. Terlelap dengan wajahnya yang penuh kedamaian.
Kakinya terasa lemas seketika. Ia jatuh terduduk di samping pemuda itu, menertawakan kebodohannya yang tidak mempercayai penglihatannya, tertawa karena ia sadar kalau ia menginginkan laki-laki itu berada di dekatnya.
Gaara mendengar suara gedebuk aneh saat itu, namun matanya terasa sangat sulit untuk membuka. Aroma sakura yang tercium dari gadis itu terasa semakin menguat, membuainya untuk kembali ke alam mimpi. Suara-suara tawa kecil sampai juga ke telinganya. Suara yang tak asing ia dengar beberapa hari ini. Suara seorang iryo-nin yang menyuruhnya untuk tidak memikirkan hal-hal berat. Matanya membuka perlahan, seolah ada selapis lem yang merekatkan kedua kelopak matanya agar tidak bisa terbuka. Kepalanya tepat menoleh ke arah gadis musim semi itu. Matanya terbelalak mendapati pandangannya langsung dipenuhi oleh sosok gadis itu, "Sakura?" panggilnya terkejut.
Sakura berhenti tertawa, ia juga sama terkejutnya dengan lelaki itu, "Kazekage-sama?" ucapnya spontan.
Gaara segera menegakkan tubuhnya, namun ada satu hal yang dilupakan olehnya dan berakibat fatal untuknya. Ia berada di bawah konter. Alhasil kepala merahnya dengan sukses mencium konter yang terbuat dari kayu tebal itu. Menimbulkan rasa sakit yang berhasil membuatnya meringis. Hey, sekarang tubuhnya tidak terbuat dari pasir lagi, ia bisa merasakan kesakitan walaupun hanya terbentur meja kayu.
Tawa Sakura yang terhenti kini meledak dan lebih lepas. Sedangkan Gaara hanya memalingkan wajahnya dengan tangan yang mengusap kepalanya. Semburat kemerahan muncul di kedua pipinya. Rasanya ia ingin masuk ke lubang saja saat ini.
Sakura berusaha menghentikan tawanya begitu ia sadar bahwa ia ada di rumah sakit dan yang ia tertawakan adalah seorang kazekage, "Maafkan aku, Kazekage-sama. Aku tak bermaksud menertawakanmu," perlu kau sadari Sakura, kau sudah menertawakannya dengan puas, "Tapi aku refleks melakukannya," tambahnya lagi.
Ekspresi jengkel terlihat dari kilatan mata sang kazekage muda. Ia hanya melirik gadis pink itu tanpa suara. Bibirnya terkatup rapat tapi tangannya masih bergerak di kepalanya, mengusap-usap lembut seakan gerakannya itu dapat mengurangi rasa sakitnya.
"Aku bisa membuatnya terasa lebih baik," Sakura tersenyum lembut kali ini, "Kau harus berbaring agar aku bisa menyembuhkanmu."
Gaara hanya menatapnya dalam diam. Tak ada kata-kata yang meluncur keluar dari mulutnya untuk menanggapi ucapan Sakura. Kepalanya sudah tak terasa sakit sekarang tapi ia tak bisa menolak Sakura.
Sakura duduk bersandar dan melipat kakinya ke belakang, "Berbaringlah di sini. Aku akan menyembuhkan kepalamu."
Seakan terhipnotis oleh kata-kata gadis dihadapannya, Gaara membaringkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di atas lipatan kaki Sakura dengan nyaman seraya memejamkan matanya sementara Sakura mulai mengalirkan chakra medisnya ke kepalanya. Mengalirkan kehangatan dan rasa nyaman ke seluruh tubuhnya.
Senyum simpul tercetak di bibir si gadis. Matanya tetuju pada wajah damai lelaki di pangkuannya, 'Dia pasti memikirkan sesuatu lagi sampai insomnianya kambuh,' batinnya. Sakura masih melanjutkan kegiatannya sampai dia bisa mendengar dengkuran lembut yang berasal dari lelaki itu. Chakra medis di tangannya perlahan menghilang digantikan dengan belaian lembut pada helaian merah pemuda itu. Sebelah tangannya yang lain mengambil mantel milik Gaara untuk menyelimutinya. Senyum itu masih belum meninggalkan wajahnya sekalipun matanya sudah mengerjap-ngerjap perlahan. Dan semakin lama manik emerald itu menatap tato Ai di dahi Gaara, kantuk yang menyerangnya semakin tak tertahankan hingga akhirnya ia tertidur.
~#~#~#~
"Astaga aku lupa meminta rekap medis Harumi-san." Langkah kaki terburu-buru terdengar di sepanjang lorong yang sepi. Tanpa satu pun penerangan yang dibawanya, koridor yang gelap itu terasa semakin panjang setiap kali ia melangkah.
Wanita itu terus berlarian, menimbulkan suara ketukan yang menggema sepanjang koridor dari kakinya tiap ia melangkah. Cahaya temaram lampu meja di ujung lorong sudah terlihat. Hanya tinggal beberapa meter saja ia sampai di tempat itu.
Gaara merasakan chakra lain mendekati mereka. Segera ia terbangun dari pangkuan Sakura yang juga terbangun akibat gerakan tiba-tiba sang kazekage.
"Ada apa?" tanya Sakura berbisik. Ia tak merasakan ada bahaya mendekat. Langit di luar masih gelap dan napas mereka menimbulkan kepulan uap yang tebal.
Satu jari telunjuknya ia tempelkan di bibirnya sendiri, memberi tanda gadis di hadapannya untuk tak menimbulkan suara. Kemudian jarinya berpindah, menunjuk ke arah lorong gelap yang terhalang siku-siku tembok. Sakura menyembunyikan chakranya dan mulai memperhatikan arah yang dijuntuk Gaara. Sekali lagi ia tak yakin ada bahaya yang mendekat, namun ia memang merasakan ada chakra lain selain mereka.
Suara ketukan langkah kaki mulai terdengar dan intensitasnya semakin tinggi. Seseorang mendekat ke nurse station dengan terburu-buru.
Dan sosok itu muncul tanpa diduga, "Sakura! Kuharap kau tidak tidur, aku membutuhkan..." suaranya menghilang kala ia menyadari ada orang lain di sana, "Astaga! Kazekage-sama? Sumimasen, aku kira Sakura sedang sendirian." Tubuhnya membungkuk dalam seraya memohon maaf karena ia merasa tak enak.
"Hn, tak apa," timpal lelaki itu singkat. Ia menormalkan kembali chakranya. Tak disangka orang itu adalah Shizune.
Sakura lantas mendekati Shizune, "Ada apa Shizune-senpai? Apa terjadi sesuatu yang gawat?"
"Tidak, Sakura. Tak ada sesuatu yang gawat, tapi aku membutuhkan rekap medis milik Harumi-san. Aku tak menemukannya tadi siang dan berencana untuk memintamu mencarikannya untukku, tapi aku terlalu sibuk dengan data pasien lain sehingga aku melupakannya sedangkan Harumi-san harus segera diperiksa agar ia bisa menerima misi lagi." jelasnya lengkap. Sebenarnya ini bukan masalah yang besar, tetapi ia benar-benar membutuhkannya, kalau tidak ia bisa terkena damprat dari Tsunade.
"Baiklah, aku rasa rekap medis Harumi-san ada di..." tangannya sibuk memilah-milah kertas yang bertumpuk di papan dadanya. Ia baru saja menganalisisnya beberapa jam yang lalu, "Seharusnya kertas itu ada di sini. Ah! Ini dia!" tangannya menggenggam selembar kertas dan senyumnya mengembang. Diam-diam Gaara memperhatikannya dan seulas senyum tercetak di bibirnya, "Ini Shizune-senpai. Apa kau mau aku memeriksanya juga?"
"Tidak, tidak perlu. Oh kudengar harimu tidak bagus kemarin? Bagaimana jika hari ini kau mengambil cutimu? Aku rasa tidak akan ada keadaan darurat sampai pergantian shift nanti," matanya sedikit melirik sang kazekage muda yang kini tengah duduk di ruang tunggu sambil bersedekap. Memberi kode yang mungkin tak akan dimengerti oleh Sakura.
Dan benar saja, Sakura tak mengerti apa yang dimaksud Shizune, "Apa? Bagaimana bisa aku meninggalkan rumah sakit di saat tak ada orang lain selain aku yang berjaga? Dan lagipula aku akan mengambil cutiku saat musim semi nanti," dahinya berkerut kala ia tak dapat memahami maksud dari senpainya yang tak masuk akal itu.
Menyerah pada kenyataan bahwa gadis di hadapannya ini ternyata tak peka, Shizune terpaksa mengutarakan maksud yang sebenarnya, "Maksudku, kau harus mengantar Kazekage-sama ke penginapannya, dan sepertinya dia tak akan tenang jika kau berada di sini setelah kejadian tak menyenangkan kemarin. Dan kau sudah tak akan ada di sini saat musim semi nanti, kau tahu itu."
Sakura terdiam mendengar kalimat terakhir Shizune, 'Aku tahu, karena itu aku ingin berada di rumah sakit lebih lama lagi,' batinnya sendu, 'Setidaknya untuk seminggu terakhirku di Konoha. Disini aku bisa bertemu semua orang dan aku bisa berpamitan pada mereka.' Imbuhnya.
"Tenang saja. Aku akan berbaik hati menggantikanmu berjaga malam ini dan aku juga akan memanggil seseorang untuk menemaniku. Aku yakin dia tak akan menolak," wanita itu memberikan cengiran lima jarinya yang mau tak mau membuat Sakura menerima tawarannya itu.
"Baik,baik, aku akan ambil cutiku hari ini dan mungkin dengan besok juga. Aku tak akan mengganggu kencan tengah malammu berasama Kakashi-sensei," Sakura tersenyum puas karena telah berhasil menggoda balik senpainya itu.
Semburat merah muda menghiasi kedua pipinya, "Aku tak bilang itu Kakashi, aku berencana memanggil Tenten atau Ino." Matanya berkeliaran liar tatkala rencananya terbaca, "Oh! Sepertinya Kazekage-sama sudah menunggumu. Kau harus segera pergi bersamanya," ucapnya mengalihkan topik mereka.
"Kau mulai mengusirku? Baiklah aku akan pergi dari sini. Maaf saja jika tugasku banyak yang belum kuselesaikan," candanya seraya menjauhi nurse station, "Matta ashita."
"Jaa~" tangannya melambai mengantarkan Sakura untuk menjauh.
Gadis itu mendekati Gaara yang masih duduk bersedekap di ruang tunggu, "Kazekage-sama, aku akan mengantarmu kembali ke penginapan. Tapi bisakah kau menungguku mengambil mantelku? Paling lama hanya lima menit kok." Senyumnya mengembang dengan manisnya. Tak dibuat-buat dan tulus dari hatinya.
Untuk sesaat, hanya untuk sepersekian detik, Gaara terpana dengan senyuman Sakura di keremangan cahaya dari lampu meja nurse station. Sayang Sakura tak sempat menyadarinya karena Gaara sudah bisa kembali menguasai dirinya, "Akan aku tunggu," timpalnya singkat, lagi.
"Terima kasih, Kazekage-sama. Aku akan segera kembali," ia lantas berlari menuju sebuah ruangan di belakang nurse station dan menghilang setelah pintunya ditutup.
Shizune yang melihat kejadian itu hanya tersenyum sembari menatap buku catatannya, berpura-pura tak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.
~#~#~#~
Dua menit selanjutnya mereka sudah menyusuri jalanan Konoha yang telah membeku. Mereka berjalan tenang dengan menggunakan sedikit chakra di kakinya. Jika tidak mungkin mereka akan langsung terpeleset karena sebentar lagi jalanan itu akan menjadi arena ice skating. Salju sudah berhenti jatuh dari langit yang kini bersih tanpa awan. Sang dewi malam membagikan sinarnya ke muka bumi, menerangi pasangan yang kini tengah berjalan beriringan menuju satu tujuan.
"Seharusnya aku yang mengantarmu sampai ke apartemenmu," suara berat Gaara mengawali perbincangan mereka. Lelaki itu melirik seraya menolehkan kepalanya kepada gadis di sampingnya.
Selanjutnya giliran Sakura yang menoleh, "Itu tidak perlu, Kazekage-sama. Kau tahu akulah yang disuruh untuk mengantarmu. Bukankah itu yang harus dilakukan tuan rumah terhadap tamunya?"
"Kau tahu bukan itu yang Shizune-san maksud bukan? Aku sudah mengenal tempat ini, kau tidak perlu mengantarku," pandangannya kembali mengarah ke ujung jalan.
"Tapi, Kazekage-sama, insomniamu kambuh lagi 'kan? Cepat atau lambat efeknya pasti akan timbul. Seharusnya kau tidak pergi keluar rumah," ia tak ingin membayangkan bagaimana Gaara akan merasa sangat kesakitan ketika lelaki itu terlalu lelah. Dan ia juga tak ingin mereka berpisah lebih cepat. Apartemennya terletak lebih dekat dengan rumah sakit dibanding penginapan Gaara.
Bibirnya membentuk lekuk samar ketika ia mendengar nada khawatir pada suara gadis itu, calon istrinya. Ia sudah cukup senang mendapatkan sebentuk perhatian kecil dari Sakura, "Aku akan baik-baik saja," timpalnya.
"Astaga, aku tak ingat kau sama keras kepalanya seperti Naruto. Aku ini doktermu, setidaknya selama di Konoha, kau harus mendengarkanku," Sakura bersedekap, mendelik pada kazekage muda itu walaupun bibirnya tersenyum geli.
Gaara melirik Sakura sekilas, kemudian ia kembali menatap jalanan, "Kau juga akan jadi dokterku di Suna," koreksinya. Ia sembunyikan semburat merah muda di pipinya, layaknya ia sembunyikan tangannya dibalik jubah ninja untuk menghangatkannya
Dengan gerakan perlahan Sakura menoleh pada lelaki di sampingnya, senyumnya luntur disertai pandangan tak percaya. Lagi-lagi kazekage muda itu mengatakan sesuatu yang membuatnya tersipu. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Gaara mengucapkan hal semacam itu ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang di tengah malam dengan suhu udara yang sudah mencapai angka di bawah nol? Dan lagi caranya mengingatkan kalau Sakura akan menjadi istrinya bisa dibilang tidak biasa.
'Pria itu tak bisa memilih tempat dan waktu yang tepat ya?' cibirnya dalam hati. Tapi dengan cepat ia mengingat statusnya, 'Yah, kami memang bukan pasangan biasa. Aku tak perlu tersipu dengan ucapan itu,' ia menunduk. Menjalin jari-jarinya kemudian meniupnya untuk dihangatkan.
"Kau kedinginan?" tak disangka gerakannya itu terlihat oleh seseorang di sampingnya.
Sakura segera menoleh, "Tidak!" sangkalnya terlalu cepat, kakinya bahkan berhenti melangkah, "Aku hanya..." ia tak bisa menemukan alasan lain yang cocok untuk gerakan itu selain karena ia kedinginan. Disertai senyuman hangat, Gaara membuka jubahnya sendiri dan menyampirkannya lagi di bahu Sakura, "Aku tidak perlu..."
Ucapannya Gaara memotong perkataannya, "Kau tahu dulu tubuhku adalah pasir," mata hijau susunya menatap bulan, seolah sedang menerawang ke masa lalu, "Terkadang aku lupa jika aku ini sudah menjadi manusia seutuhnya. Aku juga lupa kalau aku bisa merasakan dingin, panas, dan rasa sakit." Manik itu beralih pada wajah Sakura, "Dan aku sedang melupakan semua itu sekarang," 'karena aku hanya memikirkanmu.' Imbuhnya dalam hati.
Sejenak Sakura terdiam. Yang ia lakukan hanya menatap wajah Gaara selama beberapa detik dan dalam detik-detik itulah Sakura menyadari kalau wajah kazekage muda itu sangat tampan. Cepat-cepat ia alihkan pandangan itu dengan menunduk, "Kau pasti berbohong. Kau manusia, setiap manusia pasti merasakan hal itu."
Mereka melanjutkan perjalanan, "Aku pernah benar-benar tidak merasakannya," ia bersedekap, mencoba menghalau hawa dingin yang meninju tubuhnya, "Saat aku pertama kali kemari, saat ujian chunin, saat aku melukaimu." Giliran Gaara yang berhenti melangkah. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap dengan arti yang berbeda, "Maafkan aku. Saat itu aku..."
Gadis itu tersenyum menenangkan, "Sudahlah Kazekage-sama, yang lalu biarlah berlalu. Kau bukanlah dirimu sendiri saat itu," Sakura mulai melangkah lagi sembari menekuni es yang dipijaknya, "Lagipula lihat aku sekarang, aku baik-baik saja. Percaya atau tidak, kejadian itu menjadi salah satu alasanku untuk menjadi lebih kuat. Agar aku tidak bergantung pada teman-temanku dan bisa mandiri. Secara tidak langsung kau sudah menjadikan diriku yang sekarang dan aku berterima kasih karenanya."
Hatinya terasa damai ketika Sakura tengah berbicara padanya. Suara lembut gadis itu berhasil menenangkan pikirannya. Dan sepertinya mendengarkan ocehan Sakura membuatnya lebih sering tersenyum, sekarang pun begitu. Ini sudah yang ke sekian kalinya Gaara dibuat tersenyum oleh tingkah gadis pink itu, "Biarkan aku mengantarmu, Sakura." tawarnya lagi. Ia sungguh ingin Sakura ada bersamanya lebih lama lagi.
Yang dipanggil kembali menoleh, "Kazekage-sama, aku ditugaskan untuk mengantarmu. Bagaimana bisa keadaannya berbalik?" lagi, senyum geli itu menghiasi wajahnya yang ayu. Matanya mengerling seolah sudah bosan mendengar kalimat itu.
"Jika kau bersikeras melakukannya, maka kau tidak menganggapku laki-laki. Terlebih kau tidak menganggapku sebagai atasanmu, ini juga perintah Sakura," ia lirik lagi gadis itu, memastikannya mendengar semua yang sudah dikatakannya. Ia tak ingin mengulanginya lagi karena baru kali ini Gaara mengatakan hal semacam itu.
Tawa kecil dan kerlingan matanya mengawali ucapannya, "Baik, baik, aku akan pulang lebih dulu." ia tak sanggup jika harus mengatakan seorang Kazekage mengantarnya pulang. Bagaimanapun tak ada ikatan khusus diantara mereka. Hal ini membuatnya seperti kenyataan dan itu agak membuat Sakura canggung.
Entah untuk yang keberapa kali, Gaara tersenyum miring, "Aku akan mengantarmu," sekali lagi Gaara mempertegas tujuannya. Ia mengerti, Sakura pasti canggung dengan keadaan yang seperti ini. Bagaimanapun mereka hanya terikat oleh tanda tangan di atas kertas.
Sakura memutar bola matanya, "Oh sudahlah, Kazekage-sama. Kau suka sekali mengungkit masa lalu." Ia menoleh lalu tersenyum.
"Maaf, sepertinya aku sudah mengganggu acara bincang-bincang kalian," suara berat menginterupsi obrolan pasangan itu. Tak sedikit pun terdengar penyesalan dari suaranya. Hanya terdengar nada dingin yang tak bersimpati disertai tawa meremehkan. Lelaki itu berdiri di bawah bayangan gedung, menyamarkan sosoknya sehingga tak ada yang menyadari keberadaannya.
Seketika pasangan itu menoleh dan memasang kuda-kuda waspada, "Siapa kau?" Gaara lebih dulu menekan. Chakranya hanya terasa sedikit. Pria ini tak berbahaya tapi dia juga bukan penduduk sipi daerah sini karena Sakura juga mewaspadainya. Kemungkinan pria itu adalah shinobi atau nuke-nin.
"Kita akan segera saling mengenal," dengan santai lelaki itu mendekati Sakura keluar dari bayangan hingga tampaklah sosok aslinya, tersenyum tipis yang tak sampai ke matanya yang gelap.
Tangan Gaara langsung menarik Sakura ke belakang tubuhnya, bersikap protektif dengan spontan, "Jawab aku, siapa kau? Untuk apa kau menemui kami?" Sebagian pasirnya sudah keluar dari gucinya, berkumpul di kakinya dan siap untuk dikendalikan.
Langkahnya berhenti sekitar dua meter di depan mereka, membelakangi sinar bulan, "Aku Toneri. Aku hanya ingin melihat kalian," ujarnya santai seakan dia adalah saudara jauh yang sudah lama tak berjumpa.
Dahi bertato Ai itu berkerut, "Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu?" pasirnya mulai bergerak searah gerakan tangannya, mengarah pada lelaki asing di depan mereka dengan kecepatan tak terkira.
Beruntung lelaki itu bisa menghindarinya, dengan gerakan cepat ia melompat ke sisi lain, "Tenanglah, sudah kubilang aku hanya ingin melihat kalian," ia mendengus terang-terangan, "Dan menyampaikan satu hal." Sengaja ia berikan sedikit waktu untuk membuat pasangan itu penasaran dan memastikan mereka tak akan menyerang dirinya, "Batalkan pernikahan itu atau akan terjadi sesuatu yang mengerikan pada desamu, Kazekage-sama." Ancamnya tanpa keraguan.
"Omong kosong!" tiba-tiba pasirnya bergerak cepat menyelubungi tubuh pria itu, memadatkannya, "Sabaku sousou!" dan kemudian menghancurkanya. Sakura mengalihkan pandangannya tanpa mengurangi kekuatan pada kuda-kudanya. Hingga saat ini Sakura masih menganggap jurus itu adalah jurus terkeji untuk membunuh orang. Tapi anehnya, tak terdengar suara teriakan seseorang ataupun melihat darah yang mengalir dari sela-sela pasir Gaara, sebagai gantinya hanya terdengar derak kayu patah.
Dahinya berkerut lagi, laki-laki pemimpin desa terbesar itu maju mendekati sisa-sisa mahluk yang baru saja dihancurkannya, diikuti Sakura yang berjalan hati-hati di belakangnya, "Ini hanya boneka. Tapi ini bukan kugutsu," terangnya tanpa diminta. Ia tarik semua pasir miliknya kembali ke dalam guci, menyisakan potongan-potongan kayu yang sebagian besarnya sudah remuk.
"Apa mungkin yang mengendalikannya ada di sekitar sini?" Sakura memperhatikan sekitarnya. Ia tak beruntung karena ia bukan ninja tipe sensor.
"Kurasa tidak. Kau juga merasakannya 'kan? Setelah aku menghancurkan boneka ini, chakranya langsung menghilang." Tangannya meraup sisa-sisa boneka itu untuk dibawanya.
Sakura turut memperhatikan potongan kayu itu disamping Gaara, "Kau akan membawanya?"
"Aku akan memperlihatkannya pada Kankurou. Dia pasti tahu sesuatu tentang ini," ia berbalik pada Sakura, "Boleh aku berkunjung ke rumahmu?" pertanyaan yang tak disangka-sangka keluar dari sang kazekage muda.
Sakura tercenung sesaat, memikirkan bagaimana kemungkinannya jika ia membawa seorang lelaki masuk ke apartemennya pada saat dini hari seperti ini, "Kau tahu, bagaimana aku mengatakannya ya? Begini, penghuni apartemenku itu semuanya wanita. Kupikir bukan hal..."
"Kalau begitu kau yang ikut denganku," potong Gaara. Sebenarnya ia hanya khawatir jika harus meninggalkan Sakura sendirian setelah kejadian ini, ditambah lagi setelah kejadian kemarin. Keamanannya tentu terancam jika sudah ada yang mengetahui bagaimana sosoknya dan dimana dia berada.
Mata Sakura membulat, 'Ikut dengannya? Ke tempatnya menginap? Apa yang dia pikirkan?!' teriaknya dalam hati. Sakura menggertakkan giginya, bersiap untuk meninju wajah tampan Gaara jika lelaki itu mulai memaksanya.
Melihat perubahan ekspresi Sakura, agaknya Gaara sedikit terkejut. Apa ia salah bicara? Atau Sakura berpikir..."Tenang, ada Temari di sana. Aku tak mungkin melakukan hal yang akan menurunkan martabatku sebagai Kazekage dan mempermalukan kakak-kakakku," buru-buru ia menjelaskan maksudnya. Tak tahan untuk tak tertawa mengetahui kalau gadis itu sudah memikirkan yang bukan-bukan, salah satu sudut bibirnya tertarik.
Sekilas Sakura dapat melihat kilatan geli di mata hijau susu pria itu. Apa semuanya begitu jelas terlihat dari wajahnya kalau dia berpikir yang bukan-bukan? Itu memalukan, "Aku tidak menuduhmu akan berbuat hal yang buruk. Hanya saja aku tak ingin tetanggaku berpikiran buruk tentangmu," ia menutup mulutnya, 'Atau tentangku.' Imbuhnya dalam hati. 'Tunggu, kenapa aku mengatakan hal itu sebagai alasan? Astaga, bagaimana jika ia salah paham?'
"Memang lebih baik kau ikut denganku. Disana ada para jonin dan kakak-kakakku yang bisa menjagamu," Gaara memasukkan potongan kayu itu ke kantong senjatanya, "Ayo." Tangannya menarik tangan Sakura, menggenggamnya dalam sentuhan hangat nan lembut. Ia tak yakin mereka masih dalam keadaan aman saat ini, tapi ini untuk menjaga Sakura dan memastikannya untuk ikut bersamanya.
Sakura menatap tangan yang menggenggamnya. Kehangatan itu menjalar hingga ke pipinya, menimbulkan rona merah muda di wajahnya. Tak terasa ia membalas genggaman itu, sedikit meremasnya lembut untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau ini bukan hanya khayalannya saja. Mereka berjalan tenang dengan saling menggenggam. Menghangatkan satu sama lain di tengah dinginnya udara malam. Menyentuh relung jiwanya yang terus menentang perasaannya sendiri.
~#~#~#~
"Kurasa boneka ini bukan dari Suna dan para pengguna kugutsu tidak pernah menggunakan boneka seperti ini. Kami, pengguna kugutsu, hanya menggunakan benang chakra untuk mengendalikan boneka. Tapi boneka ini terbuat dari kayu khusus yang bisa menyimpan chakra orang yang mengendalikannya sehingga bisa dikendalikan dari jarak jauh," matanya memperhatikan sisa-sisa bagian boneka yang dibawa Gaara. Di sampingnya, Temari juga melakukan hal yang sama, "Singkatnya, boneka ini bisa digunakan sebagai tubuh pengganti penggunanya."
"Bukankah butuh banyak chakra untuk mengendalikan boneka seperti itu?" Gaara menautkan alisnya heran, "Aku hanya merasakan sedikit chakra ketika dia bicara pada kami."
Kankurou menyimpan potongan kayu itu di meja, "Dari yang kau ceritakan, kukira boneka ini tidak digunakan untuk tujuan menyerang. Karena itu, chakra yang dialirkan padanya hanya sedikit." Ia mengusap dagunya, berpose seolah sedang berpikir.
"Kau bilang dia akan mengancam desa jika kau tidak membatalkan pernikahanmu. Tidakkah kalian berpikir kalau ini ada hubungannya dengan sikap para tetua dengan mempercepat pernikahan?" Temari menunjuk gulungan yang tergeletak di meja dekat Gaara.
Gaara mengangguk, "Kupikir juga begitu," ia mengambil potongan boneka itu dan memperhatikannya lagi.
"Oh, jangan lupakan alasan konyol yang mereka berikan untuk menyuruhmu keluar dari desa. Mereka tak mungkin mau mengambil alih tugas-tugasmu selama sebulan tanpa ada maksud di belakangnya," Kankurou berdecak sebal, "Mencari pasangan sesuai keinginanmu? Tidakkah itu alasan yang tak masuk akal."
"Hei, hentikan Kankurou!" Temari menjitak rambut jabrik adiknya begitu menyadari suasana berubah canggung di antara Sakura dan Gaara, "Apa kalian tidak mengira para tetua mengirim Gaara kemari untuk menjauhkannya dari bahaya? Para tetua itu tak selalu melakukan hal demi kepentingan mereka. Terkadang mereka juga melakukannya demi kestabilan desa dan pemimpinya."
Sakura hanya menunduk. Betapa bodohnya dia tadi sudah sempat bahagia ketika Gaara menggenggam tangannya. Pernikahan mereka tidak lebih dari sekedar surat perjanjian damai antar kedua desa. Bukan atas dasar cinta diantara mereka. Dan jika ini memang perintah dari tetua Suna, alasan pernikahan ini memang sangat konyol.
Kakak kedua kazekage itu mendengus, "Para tetua pasti sudah mengirimkan jonin lebih banyak jika memang ada bahaya yang mengancam Gaara," ia menyeringai meremehkan. Kentara sekali jika lelaki ini tidak mempercayai tetua desanya sendiri.
"Di desa manapun para tetua itu sama saja," gerutu Sakura sembari menatap kayu di tangan Gaara. Lelaki di sampingnya itu menoleh, menatap Sakura yang mengantuk. Wanita itu menaikkan pandangannya pada wajah Gaara kemudian menyandarkan kepalanya pada lipatan tangannya sendiri di meja.
Gaara sudah menduga kalau Sakura akan salah paham ketika Kankurou mulai membicarakan para tetua. Memang alasan tetua itu konyol, tapi ia juga berterima kasih karena alasan mereka ia jadi bisa bertemu dengan Sakura, gadis yang mungkin tak pernah ia pikir akan menjadi istrinya.
"Gaara, sepertinya Sakura tertidur." Celetuk Temari.
Kazekage itu menatap tunangannya lagi. Benar saja, dia sudah bernapas dengan teratur. Dengkuran pelannya terdengar menguatkan dugaan Temari.
"Kau harus memindahkannya, aku akan menyiapkan satu futon lagi di kamarku," wanita itu beranjak dari tempatnya menuju kamarnya sendiri, meninggalkan dua manusia yang masih sadar dan satu lagi yang sudah berpindah alam.
Gaara memandang Kankurou dengan tatapan yang seolah bertanya bagaimana cara ia memindahkan gadis itu. Kankurou menjawabnya setelah mendengus, "Tentu saja dengan menggendonngnya, bodoh." Terkadang ia gemas dengan sikap adiknya itu. Ia mengakui integritas adiknya sebagai kazekage memang patut diacungi jempol, tapi untuk urusan wanita, adiknya itu tak ada bedanya dengan Naruto. Bahkan Naruto lebih baik darinya.
Kazekage muda itu membuang napas frustasi. Ia jadi terlihat bodoh di hadapan kakaknya dan itu menjatuhkan martabatnya sebagai kazekage. Otaknya serasa tumpul jika harus berurusan dengan Sakura. Tak jarang Gaara ingin melakukan banyak hal bersama Sakura tanpa mempedulikan statusnya sebagai kazekage dan dampaknya pada desanya. Tapi ia tak bisa melakukannya jika Sakura tak menyukainya. Hal itu malah akan menyakiti gadis itu.
"Futonnya sudah siap," Temari muncul dari balik kamarnya.
Lelaki bertato ai itu membungkukkan badannya, menempatkan tangannya di balik lutut dan bahu Sakura untuk mengangkatnya. Dengan satu tarikan mudah, Gaara berdiri dengan Sakura dalam gendongnya-pelukannya-, membiarkan satu sisi wajahnya menempel di dada bidang Gaara. Membuatnya bisa mendengar detak jantungnya dan merasakan kehangatan sentuhannya lagi, meskipun gadis itu sedang tak sadar. Sakura menggeliat dalam pelukannya, merapatkan wajahnya lebih dekat di dada pria itu. Mencari kehangatan di tengah udara dingin dini hari di awal tahun.
Melihat itu membuat Temari tersenyum lembut, "Dia merasa nyaman bersamamu," Senyum sendunya menatap Sakura lalu beralih pada adiknya sendiri. Gaara tak menanggapi. Ia mendengar, hanya saja ia tak tahu harus bicara apa. Temari paham itu dan ia kembali bicara, "Baringkan dia di sini. Aku akan menggantikan bajunya."
Ia letakkan tubuh tak sadarkan diri itu di atas futon dengan perlahan. Tak ingin membangunkan gadis yang tengah menyelam ke lautan mimpi itu. Namun, tepat ketika tubuh itu sudah sepenuhnya berbaring, rintihan gadis itu terdengar. Sejenak dua orang lainnya yang berada di dalam ruangan membeku sampai mereka yakin gadis itu tak terbangun. Gaara tak langsung beranjak dari samping futon Sakura, ia duduk dan menatap gadis itu sebentar lagi. Menatap wajah tanpa beban ketika gadis itu tertidur, seolah dunia ini tak membutnya tersakiti. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut di wajah cantiknya sekaligus mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
Masih disana, tangannya mengusap puncak kepala gadis itu. Membuainya penuh kelembutan dan kasih sayang. Temari juga masih memperhatikan itu semua. Ia menyayangkan Sakura tak tahu kalau adiknya ini begitu menyanyanginya. Ia juga kaget karena Gaara bisa begitu mudah menyayangi seseorang yang sudah dijodohkan padanya. Kecuali jika Gaara memang sudah menyayanginya sejak dulu.
Ia tak akan tahu jika ia tak menanyakannya langsung, "Apa kau mencintainya?" tanya Temari tiba-tiba.
Seketika Gaara menghentikan buaiannya, menarik tangannya cepat dan berdiri membelakangi Temari, "Kau bisa mengganti bajunya sekarang," kemudian pergi meninggalkan ruangan yang ditutupnya rapat.
Temari tersenyum simpul, "Kau mudah sekali dibaca, Gaara." bisiknya pada diri sendiri.
To Be Continue...
~#~#~#~
A/N: apa bonus perpanjangan chap-nya cukup segini? (readers: mana mungkin!) oke, tapi chap ini udah ga bisa dipanjangin lagi. Nanti malah jadinya ngalor ngidul kemana-mana. Ini juga udah melenceng dari konsep awal sepertinya (dasar author newbie). Tapi di sini aku kasih full GaaSaku, apa itu kurang? (readers: masih kurang lah!) yah, atas saran readers nanti aku bikinin deh satu chap full GaaSaku romance. Tapi ga janji loh (*diserbu massa). Mohon maaf atas penyakit pelupaku ini, mohon dimaklum oke?
Barangkali ada yang masih bingung, kata-kata dalam tanda petik dua itu ("_") kalimat langsung, kalau yang ada dalam tanda petik ('_') itu monolog/dalam pikiran, dan yang italic itu flashback.
Disini semuanya udah dijelasin, siapa penjahatnya dan apa tujuannya. Aku harap semuanya udah jelas. Soal perasaan Gaara atau Sakura, mereka cuma masih bingung. Mereka ga yakin apa harus menerima atau menolak karena faktor masa lalu dan masa sekarang juga. Mereka juga belum bisa ngungkapin kalau mereka sebenernya saling suka karena takut bakalan berefek sebaliknya. Makannya perasaan Gaara & Sakura terkesan labil. Oke itu aja yang mau aku jelasin, langsung ke QACorner ^^
QACorner:
Q : Kapan mereka nyatain perasaan masing-masing?
A : gomen, sepertinya masih lama. Soalnya perasaan mereka adalah konflik utama fic ini. nah, kalau masalah desa dan penyerangan, itu konflik pendukung yang bisa mempengaruhi perasaan mereka. gitu.. baca aja terus fic ini, karena pemikiran author bisa berubah kapan saja, hehehe (*digencet readers)
Q : kenapa mereka susah banget ngungkapin perasaan masing-masing?
A : yah, seperti yang udah author jelasin di atas. Kalau sekarang mereka ngungkapin, Gaara takut jadinya salah ngomong dan Sakura masih terjebak nostalgia~ (*malah nyanyi)
Q : Apa rencana Toneri buat Gaara? apa ini alasan para tetua nyuruh Gaara segera menikah?
A : syudah dijelasin di chap ini dan ya, ini salah satu alasan tetua nyuruh Gaara menikah, selain karena mereka emang suka bikin Gaara menderita, haha (tetua: enak saja! *dikeroyok)
Q : Kaki tangannya Toneri itu siapa?
A : terjawab sudah pertanyaanmu di chap ini, hehe. Yup, dia Matsuri, si rambut coklat murid pertama dan terakhir Gaara, haha..
Ga bosen-bosennya aku mengucapkan sumimasenminna, aku sudah membuat kalian menunggu lama untuk baca kelanjutan fic ini. Aku juga mau bilang arigatou untuk semua yang masih baca kelanjutannya. Gatau lagi deh mau ngomong apa. Kalau masih ada yang baca aku bener-bener speechless [ToT]. Kalian adalah penyemangatku buat lanjutin fic ini dan aku ga bakal berhenti lanjutin walau aku masih belum tau sampai chap berapa fic ini (maklum amatiran *bungkuk-bungkuk). Kritik dan saran sangat diterima di kotak review. Buat yang mau nanya-nanya juga silahkan lewat review. Aku ga bisa nyebutin readers satu-satu, tapi aku bener-bener ngucapin doumo arigatoudan hontou ni gomenasai. Untuk chap selanjutnya aku ga janji bakal update cepet tapi aku usahakan supaya ga terlalu lama. Jaa minna...
