Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 9
The Reason
Seminggu berlalu semenjak tragedi perpisahan Sasuke yang berdampak besar pada kehidupan orang-orang di sekitarnya, salah satunya adalah Naruto. Semenjak sahabat dekatnya itu dirundung duka, Naruto kini memiliki kegiatan baru. Menghitung helaan nafas Sasuke per menit.
Jika dihitung secara runtut, Sasuke baru saja menghela nafas berat untuk keseribu kalinya satu jam terakhir, dan itu sukses membuat Naruto ikut merasa depresi. Sahabat baiknya yang sedingin es itu menjadi lebih dingin sekarang, bahkan mungkin dibawah titik beku.
"Hentikan Sasuke!" bentak Naruto tak sabar pada keseribu seratus helaan nafas Sasuke yang hanya ditanggapi lirikan malas Sasuke. "Kau membuatku muak dengan sikap melankoismu itu!"
"Berisik," sahut Sasuke singkat.
"Kau yang terlalu sunyi. Bukan aku yang berisik!"
"Pelankan suaramu dobe!" perintah Sasuke masih dengan nada datar.
"Mau sampai kapan kau diam begini hah? Lakukan sesuatu! Jangan hanya meratapi nasib!"
"Kau ingin aku melakukan apa?"
"Jemput dia, bawa dia kembali, jangan hanya menunggu!"
"Dia yang memutuskan pergi," masih dengan ekspresi sama, dan sebelum Naruto menyahut pemuda es itu telah kembali menyembunyikan wajah kusutnya dalam lipatan tangannya.
Naruto mengacak rambutnya frustasi. Kondisi Sasuke yang mengerikan ini membuatnya sebal. Terlebih Sasuke terkesan tak melakukan usaha apapun. Hanya diam dan melamun seharian. Tak ada semangat hidup, tak ada usaha serius, Uchiha Sasuke benar-benar menyedihkan dan Uzumaki Naruto terjebak di dalamnya.
###
Sakura meremas rok seragamnya, berharap dengan begitu dapat membuat perasaannya lebih baik. Perlahan ia melangkah mendekati kelas Sasuke. Sebentar saja, ia ingin melihat pemuda itu sekali saja.
Dengan wajah dan langkah penuh keraguan Sakura berjalan menyusuri lorong. Beberapa kali ia nampak membungkuk canggung membalas salam dari beberapa kakak kelasnya yang tanpa sengaja berpapasan dengannya.
Penampilan Sakura sedikit berantakan. Matanya sembab dan sedikit berair, belum lagi hiasan kehitaman yang mengelilingi kantong matanya. Wajahnya pucat tak bercahaya. Beberapa kali ia nampak menata anak rambutnya canggung.
Kurang beberapa langkah lagi ia akan sampai ke pintu kelas Sasuke, namun keberaniannya tiba-tiba luntur. Ia takut jika bertemu Sasuke maka segala yang telah direncanakannya matang-matang akan menghilang begitu saja.
Suara bel tanda istirahat membuat Sakura sedikit berjengit kaget. Ia mulai panik, takut jika Sasuke tiba-tiba muncul dari balik pintu. Bukan, bukan kemunculan Sasuke yang ia takutkan, melainkan jika pemuda itu tak mau melihatnya lagi.
Sakura memutuskan berbalik dan melangkah perlahan. Beberapa kali ia nampak merapikan seragamnya yang justru membuatnya semakin kusut. Entah mengapa, perasaannya begitu tak menentu hari ini. Ia ingin menangis...
"Sakura..kau-kah itu?" panggil suara yang amat dirindukannya dari belakang. Sakura tersentak, ia tak berani menolehkan wajahnya. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan tak sanggup bergerak.
"Sakura..." ulang Sasuke ketika tak mendapati sahutan. Perlahan Sasuke melangkah mendekati tubuh kekasihnya yang masih terpaku di tempatnya. Perlahan disentuhnya pundak Sakura, wanita itu nampak tersentak menanggapi sentuhan Sasuke. "Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke lirih. Andai Sakura dapat menangkap ekspresi putus asa pemuda itu.
Sakura hanya mengangguk, tak berani mengeluarkan suara. Ia takut jika nanti Sasuke mendengar suaranya yang bergetar.
"Baguslah kalau begitu," sambung Sasuke lagi. Ia tak ingin memaksa Sakura memandangnya sekarang, melihat wanita pujaannya meski hanya dari belakang baginya sudah lebih dari cukup. "Ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Sasuke sekali lagi. Berharap Sakura mau bicara dan menatapnya.
Sakura mati-matian menahan tangisnya. Ia tak ingin terisak di hadapan Sasuke. Mereka terdiam dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat.
"Rumah terasa sepi tanpamu. Aku tau aku sering kesal saat sikap crewetmu kambuh. Tapi sungguh aku begitu merindukannya akhir-akhir ini," cerocos Sasuke tak peduli. Ia ingin Sakura tahu betapa dirinya merindukan kebersamaan mereka. "Tak bisakah kau kembali?" tanya Sasuke dengan nafas tersengal di ujung kalimatnya, seolah ia baru saja berlari ribuan kilometer.
Dengan susah payah Sakura membalikkan tubuhnya demi memandang Sasuke. Ia harus mengatakannya, harus! Sebelum pria yang amat dicintainya itu semakin terluka olehnya.
"Aku hanya ingin mengembalikan ini," ucap Sakura sembari menyerahkan sebuah kalung berliontinkan cincin pemberian Sasuke. "Aku rasa aku tak perlu menyimpannya lagi," sambungnya susah payah. Berusaha keras menjaga suaranya agar tak bergetar, meskipun hatinya teriris saat mengatakannya.
Sasuke terdiam memandang cincin pemberiannya yang kini kembali ke genggamannya. "Haruskah begini?"
"Aku kemari hanya untuk mengembalikan itu," jeda sejenak. "Sekaligus mengurus kepindahanku," lanjutnya sembari tetap menahan air matanya. Pandangannya mulai buram akibat genangan air di pelupuk matanya.
Sasuke tersentak. Ditatapnya sepasang emeralkd yang kini memandangnya angkuh, meski kegetiran terpancar jelas di sana. "Begitu ya..." jawab Sasuke sembari memaksakan seulas senyum. "Semoga kau bahagia dengan pilihanmu," sambungnya sembari tersenyum getir.
Setelah memberikan salam, Sasuke segera membalikkan tubuhnya. Ia yakin Sakura kini tengah menagis di belakangnya. Wanita itu telah menahan air matanya sendari tadi, dan Sasuke tak ingin melihatnya. Dengan gontai, Sasuke melangkah menjauh –meninggalkan Sakura yang kini menagis sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Mereka sama-sama terluka, sama-sama saling merindu, namun terlalu keras mengingkari hati. Tanpa sadar, dalam hati mereka saling mengucap cinta, walau tak sampai ke bibir.
###
Hinata nampak memandang kekasihnya yang kini menggumam tak jelas sembari sesekali mengacak rambutnya frustasi. Sesekali ia ikut tersentak ketika Naruto menghentakkan kakinya tanpa alasan yang pasti. Tingkah aneh kekasihnya ini sudah berlangsung selama seminggu terakhir, dan Hinata mulai lelah menatapnya.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Hinata –merasa tak nyaman karena pemuda di hadapannya kembali bicara pada dirinya sendiri. Sekali lagi, pertanyaan Hinata hanya dibalas helaan nafas berat Naruto. "Jangan membuatku ikut memikirkan kalau memang tak mau bercerita," ucap Hinata gemas.
"Aku baik-baik saja," jawab Naruto lirih. "Hanya saja Teme mulai gila akhir-akhir ini," sambungnya sembari sekali lagi mengacak rambut duriannya.
"Dan itu membuatmu ikut gila?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Naruto sekenanya.
Kali ini giliran Hinata yang menghela nafas lelah. "Bertengkar dengan Sakura lagi ya?" tebaknya tepat sasaran.
"Siapa lagi yang bisa membuat Uchiha sialan itu gila?"
"Memang separah apa?"
"Sakura pergi dari rumah. Dia...mencampakkan Sasuke," jawab Naruto dengan nada gusar.
"Masalahnya?"
Naruto diam. Ia tahu Sakura mencampakkan Sasuke, namun tak tahu pasti apa penyebabnya.
"Kau tak tahu masalahnya?" tebak Hinata sekali lagi dengan nada meninggi. Melihat ekspresi Naruto, Hinata bisa menangkap bahwa kekasih bodohnya itu memang tak tahu apa-apa.
"Bodohnya aku!" gumam Naruto bingung.
"Kau baru sadar eh?" sindir Hinata sembari menepuk kepala bagian belakang Naruto. "Apa kita perlu turun tangan?"
"Aku rasa itu hanya akan membuat kondisi mereka semakin parah," jawab Naruto frustasi. "Kita tunggu saja."
Hinata hanya tersenyum maklum dengan tingkah Naruto yang ikut-ikutan stres karena musibah yang menimpa Sasuke. Lama hidup bersama, membuat sepasang sahabat itu menjadi satu perasaan. Jadi wajar saja bila Naruto ikut menanggung kesedihan yang dialami Sasuke saat ini.
###
Sasuke gila. Ya, dia benar-benar sudah gila sekarang. Lihatlah betapa sangarnya wajah sedingin es yang tengah memacu motornya dengan kecepatan super ini. Sepasang onyx sekelam malam miliknya nampak berkilat marah di balik helm teropong miliknya.
Sasuke kesal, bukan –dia marah. Sangat marah. Hatinya remuk karena satu wanita yang secara tiba-tiba mencabut jantungnya. Rasanya ia hampir mati menyakitkan, terlalu pahit, semua rasa sakit menyerang tubuhnya secara tiba-tiba.
Jarum yang menunjukkan kecepatan laju kendaraannya seolah hampir patah akibat terlalu dipaksa melaju kencang. Seolah angka tertinggi yang tercantum di sana masih kurang dan belum juga memuaskannya.
Butuh waktu seharian bagi Sasuke untuk memikirkan cara merenggut kembali Sakura. Itupun rasanya belum cukup hingga akhirmya ia memutuskan mengambil jalan terakhir –menjemput kekasihnya pulang.
Meski tak tahu apakan nantinya ia akan berhasil membawa wanitanya kembali, setidaknya ia berusaha. Dan tak ada yang salah dengan itu bukan?
Secara tiba-tiba, Sasuke mengerem motornya hingga benar-benar berhenti di depan sebuah rumah megah bergaya Eropa –nampak sangat mencolok diantara rumah-rumah sederhana di sekitarnya. Dengan tergesa, Sasuke turun dari motornya dan memaksa masuk lewat pagar depan yang kebetulan tidak dijaga.
Dengan emosi, dibukanya kenop pintu yang juga sangat kebetulan tak dikunci. Matanya langsung mengitari sekeliling ruangan mewah itu.
"Sakura!" teriak Sasuke. "Sakura keluarlah! Aku tahu kau di rumah!" lanjutnya masih dengan nada marah.
Keributan yang ditimbulkan Sasuke terdengar sampai ruang makan. Beberapa maid yang ada di dalam ruangan saling melempar pandang. Senju nampak mengerenyit tak suka, sementara Sakura nampak tersentak mrndengar suara yang amat dikenalnya.
"Apa-apaan ini?" gumam Senju tak senang. Diletakkannya alat makan yang semula ia gunakan, kemudian berdiri dan melangkah menuju ruang tamu diikuti Sakura di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan? Membuat kegaduhan di rumah orang?" ucap Senju setengah membentak. Sasuke menoleh ke arah sumber suara, ditatapnya pria setengah baya yang kini memandangnya merendahkan bersama wanita pujaannya yang kini memandangnya khawatir.
"Aku datang untuk menjemput Sakura," jawab Sasuke dengan kilat marah dalam sepasang onyxnya.
"Sakura berada di rumahnya," sahut Senju dengan nada lebih rendah. "Sakura, bukankah Ayah sudah memintamu mengakhiri hubungan kalian?"
Sakura mendesah frustasi. "Pulanglah Sasuke!"
"Tidak, kecuali kau pulang bersamaku," jawab Sasuke bersikukuh.
"Sasuke!"
"Aku tak mengerti kenapa hubungan kita harus berakhir. Aku tak paham! Apa salahku sehingga kau harus pergi dan melangkah sejauh ini? Katakan Sakura!"
Sakura nampak tersentak bingung. Bibirnya bergetar tak tahu harus menjawab apa. Tangannya mengepal erat.
"Sakura belum bicara padamu? Kami akan pindah dan meninggalkan Konoha," jawab Senju menengahi.
"Bukan berarti hubungan kami harus berakhir!"
Hashirama Senju memandang pemuda menyedihkan di hadapannya ini takjub. Sikap Sasuke benar-benar khas dengan Uchiha yang terkesan keras kepala dan tegas. Sasuke berani balas membentak tak peduli siapa yang ada di hadapannya selama ia merasa benar. Ya...seperti saat ini.
"Aku akan menunggu. Aku akan menunggu sampai kau kembali!" sambung Sasuke sembari memandang lurus ke arah emerald yang kini melotot ke arahnya. "Bahkan jika itu artinya aku harus mengorbankan segala hidupku."
Melihat sikap keras kepala Sasuke, tak urung membuat satu-satunya pria paruh baya diantara mereka naik darah. Baru saja ia hendak mengeluarkan umpatan kasar, namun Sakura menahannya dengan menyentuh lengan ayahnya.
"Biar kami yang menyelesaikan masalah ini Ayah," gumam Sakura lirih.
Sebelum ayahnya menjawab, Sakura buru-buru melangkah maju dan menarik tangan Sasuke –mengajaknya keluar dari ruangan megah itu dan membawanya ke halaman depan rumahnya.
"Hentikan semua ini Sasuke!" bentak Sakura geram. "Hubungan kita sudah berakhir, dan ini tidak ada hubungannya dengan ayahku!"
Sasuke mendengus meremehkan. "Benarkah? Lalu kenapa? Adakah alasan masuk akal yang bisa ku terima?"
Sakura mati-matian menahan air matanya. Ia cukup bersyukur siang tadi Sasuke tak menanyakan alasan dirinya meminta perpisahan ini, dan sekarang ia kembali bingung harus menjawab apa ketika dihadapkan pada pertanyaan ini.
"Apa salahku Sakura?" tanya Sasuke sekali lagi dengan nada lirih, membuatnya terlihat semakin menyedihkan. "Apa aku kurang memahamimu? Apa aku kurang mengerti kondisimu? Kenapa kau tiba-tiba meminta pisah?"
"Aku tidak peduli siapa yang bersalah Sasuke... apa salahmu, apa salahku, semuanya tak lagi penting bagiku," potong Sakura. Ia mencoba memutar otak untuk melanjutkan kalimatnya. "Masalahnya adalah...aku tak lagi mencintaimu."
Selesai sudah. Kalimat terkutuk itu akhirnya keluar dari bibir manisnya. Sebuah kalimat penuh dusta yang ia harap dapat membuat Sasuke menyerah dan pergi dari hidupnya. Sepasang emerald itu kini memandang lekat sepasang onyx yang tengah memandangnya sendu. Menghantarkan ribuan rasa bersalah yang menyesak dadanya.
Tak jauh berbeda dengan perasaan Sakura, Sasuke kini juga merasakan sesak yang tak terbendung. Jantungnya terasa lepas ketika Sakura mengatakan kelimat yang sanggup menghancurkannya sepersekian detik yang lalu. Ia tak percaya, sepasang emerald itu memaksakan diri untuk memandangnya angkuh sekarang.
"Kau bohong," sahut Sasuke dingin. Wajah sendunya mendadak datar seketika.
"Aku mengatakan yang sebenarnya Sasuke. Aku tak mencintaimu lagi. Aku ingin...kita berpisah. Dan jangan hubungi aku lagi!" tegas Sakura dengan penekanan di setiap kata.
"Aku tak mau berpisah," sahut Sasuke bersikeras.
"Demi Tuhan Sasuke! Apa yang harus kulakukan agar kau mengerti? Kita tak mungkin bersama, sampai kapanpun!" Sakura putus asa. Ia kesal karena Sasuke tak mau mendengarkannya. Yang ingin ia lakukan hanyalah menyelamatkan Sasuke dan orang-orang yang dicintainya, ia hanya ingin semua orang hidup normal seperti seharusnya.
"Bunuh aku!" jawab Sasuke datar. Ya, jika Sakura menginginkan dia untuk pergi, wanita itu harus membunuhnya. Jika tidak, maka ia akan memilih membunuh dirinya perlahan.
"Kumohon Sasuke. Jalani hidupmu tanpaku. Lakukan apapun yang kau inginkan, tapi lupakan aku! Jalani hidupmu, sebagaimana sebelum kita bertemu!"
Sepasang emerald itu mengemis padanya. Memohon agar Sasuke mau memahami keputusannya. Memahami bahwa semua ini demi kebaikan mereka.
Perlahan, Sasuke melangkah maju menghampiri tubuh wanitanya. Disentuhnya kulit halus wanita yang amat dirindukannya itu. Sakura tak menolak. Sejujurnya ia juga sangat merindukan sentuhan pemuda di hadapannya ini.
Sakura memejamkan matanya ketika merasakan sentuhan bibir hangat yang teramat diinginkannya dapat ia miliki selamanya. Dibiarkannya Sasuke melumat bibir tipisnya, seolah berusaha menyalurkan segala kata yang tak mampu diucapkannya saat ini. Sakura dapat merasakan betapa putus asanya Sasuke saat ini, bisa merasakan betapa merindunya pria itu padanya.
Secara spontan, Sakura membalas lumatan Sasuke dengan lembut. Seolah mengucap maaf. Saat ini, hanya ini yang terbaik –setidaknya menurut Sakura. Hanya ini yang bisa ia berikan untuk sosok yang amat berarti bagi hidupnya itu.
Beginilah cara mereka berkomunikasi jika telah kehabisan kata. Sasuke paling sering menggunakan cara ini ketika mereka beradu argumen dan ia terlihat mulai kalah. Ia akan meraih bibir kekasihnya dan bicara dengannya dengan cara ini. Membuat kekasihnya itu mengerti dan memahami apa yang tengah ia rasakan.
Satu rasa baru yang dirasakaan Sakura dan sukses membuatnya terbelalak –Sasuke menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya melepaskan ciuman mereka. Ini artinya...
"Akan kulakukan seperti yang kau inginkan. Aku akan menjalani hidupku...seperti saat sebelum kita bertemu," terang Sasuke. "Pergilah jika itu yang terbaik bagimu," tungkas Sasuke sebelum melepaskan dekapannya.
Perlahan Sasuke melangkah pergi. Meninggalkan Sakura yang hanya mampu memandang punggungnya sembari beberapa kali mengehela nafas berat. Mereka berpisah, setidaknya untuk saat ini. Tak ada air mata untuk saat ini, cukup kedua hati mereka yang menangis bersama dalam diam.
Sakura memilih berpisah, meninggalkan segala hal indah yang pernah mereka raih bersama. Sasuke terluka? Tentu. Tapi pemuda itu memahami keputusan wanitanya. Yang mereka butuhkan hanyalah waktu, agar orang-orang di sekitar mereka dapat memahami yang tengah mereka rasakan. Setidaknya itulah yang ditangkap Sasuke dari cara Sakura mengungkapakannya melalui ciuman mereka. Sakura masih mencintainya, yang perlu ia lakukan hanyalah menunggu.
###
Sakura mengemasi pakaiannya. Memasukkan lipatan-lipatan rapi itu ke dalam koper besarnya dibantu beberapa pelayan yang setia di belakangnya. Perlahan ia meraih barang terakhir yang perlu dibawanya. Sebingkai gambar yang menunjukkan dirinya dan pria yang amat dicintainya. Saling merangkul mesra dengan senyum bahagia yang tak dibuat-buat.
Di belakangnya, sang ayah mengamati punggung putrinya yang nampak tegar menghadapi perpisahannya dengan pria yang telah mendampinginya bertahun-tahun ini. Ia tahu, putri kecilnya itu sama terlukanya dengan pemuda Uchiha itu, tapi Sakura menutupinya dengan rapi dari pandangan ayahnya.
Flashback...
Sakura tertunduk sembari masih berusaha mencerna ucapan ayahnya beberapa menit yang lalu. Sang ayah menceritakan masalahnya dengan Uchiha dan segala sesuatu yang berhubungan dengan alasan kepindahannya ke Paris belasan tahun silam. Meninggalkan wanita yang paling dicintainya yang juga tengah mengandung anaknya dan menjalani hidup baru di Paris meski dengan dendam yang tersimpan.
Sakura paham ayahnya itu sakit secara psikis. Berambisi menyaingingi mantan rekannya yang telah dianggapnya berkhianat. Padahan Sakura dapat menyimpulkan bahwa sang Ayah juga bersalah. Tapi Sakura memilih diam. Ia tahu ayahnya itu berharap banyak padanya untuk membalaskan sakit hatinya pada Uchiha, dan Sakura tak menginginkannya.
Secepat mungkin, Sakura mencoba memutar otak. Berharap dapat menemukan cara terbaik agar sang Ayah berhenti berpusat pada dendamnya itu.
"Kita pergi saja dari Konoha," ucap Sakura, entah mendapat ide dari mana. "Kita kembali ke Paris. Kali ini ayah tak perlu sendiri, ayah akan pergi bersamaku. Kita mulai hidup baru di sana," bujuk Sakura kemudian.
Hashirama Senju nampak mengerutkan keningnya. Tak percaya ide itu muncul dari bibir putrinya tanpa harus dirinya yang memaksa. "Bagaimana dengan bocah Uchiha itu? Apa kau akan meninggalkannya?"
"Asal ayah menghentikan rencana untuk menghancurkan perusahaan mereka, aku akan berpisah dengannya dan pergi bersama ayah," jawab Sakura meyakinkan. "Apapun kulakukan asal Ayah menghilangkan dendam yang tak perlu itu," sambungnya tulus.
"Kau melakukan ini...untuk siapa?" tanya sang ayah penuh selidik, merasa bukan dirinyalah yang menjadi prioritas putri kecilnya.
Sakura terdiam. Ia nampak mencoba membaca arah pembicaraan ini. "Tentu saja untuk menebus masa-masa yang seharusnya kuhabiskan bersama Ayah. Aku tak ingin ayah menjadi ayah yang jahat hanya karena masa lalu. Jika bukan karena mereka, Ayah tidah akan sampai di sini kan? Dan ayah takkan pernah menemukanku," terang Sakura. "Aku melakukan semua ini agar kita semua mendapatkan yang seharusnya," tungkasnya tegas.
Senju tersenyum mendengarkan argumen putrinya yang ternyata telah beranjak dewasa. "Baiklah...segera berpisahlah dengan bocah itu," sahut sang ayah sembari melangkah dan memeluk putri kecilnya.
'Ini yang terbaik,' ucap Sakura dalam hati. Setidaknya untuk saat ini, ia ingin menghapuskan dendam dalam hati ayahnya terlebih dahulu.
Flashback end...
###
Sasuke masih terjaga, meski jam sudah menunjukkan tengah malam. Sepasang onyx itu urung mengistirahatkan diri. Tubuhnya-pun terasa enggan bersahabat dengan kasur.
"Kehidupan sebelum kita bersama..." gumamnya lirih yang hanya disambut desau angin.
Ia tak tahu seperti apa hidupnya sebelum bertemu Sakura. Seperti apa? Sasuke mencoba mengorek isi kepalanya untuk menemukan jawaban. Tapi percuma, ia terlalu lama bersama Sakura sehingga tak sanggup lagi mengingat masa lalunya.
Sasuke nampak menhela nafas berat sekali lagi sembari bangkit dari tempat tidurnya. Dibukanya lemari pakaiannya dan mulai memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas. Perlahan ia melangkah keluar sembari mematikan lampu-lampu. Untuk sementara waktu, Sasuke memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya. Setidaknya Itachi telah kembali ke Denmark dan rumah pastilah sepi.
Jika terus berada di sini, ia hanya akan semakin sulit melupakan Sakura. Sasuke telah bertekat untuk melanjutkan hidupnya tanpa wanita itu...setidaknya untuk saat ini.
###
Mikoto memandang heran putra bungsunya yang tiba-tiba muncul dari balik kamarnya dan kini bergabung di meja makan untuk sarapan bersama. Sejak kapan anak itu kembali ke rumah?
Mikoto merasa dirinya tengah bermimpi. Berkali-kali ia mengerjapkan matanya tak percaya. Sasuke kini tengah menikmati nasi gorengnya dalam diam. Apa ini nyata?
"Ibu tidak makan?" tegus Sasuke akhirnya menyadari tatapan bingung sang ibu.
"Ah...iya," jawab Mikoto kikuk. "Kapan kau pulang?"
"Tadi malam," jawab Sasuke datar.
"Ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba pulang?"
Oke, sekarang semuanya terasa aneh. Rumah ini rumahnya, jadi haruskah ia memiliki alasan khusus untuk pulang?
"Tidak juga. Aku hanya ingin pulang," jawab Sasukie sembari mengangkat sebelah alisnya heran. "Ibu tidak suka?"
Mikoto buru-buru melambaikan tangannya. "Bukan begitu. Hanya saja Ibu hanya sedikit terkejut kau tiba-tiba memutuskan untuk pulang," sahut Mikoto dengan nada bersalah. Ia benar-benar tak bermaksud menunjukkan rasa terganggu. Justru ia sebenarnya sangat senang putra bungsunya kembali.
Sasuke nampak terdiam beberapa saat memandangi nasi goreng yang tinggal setengahnya di piring. Pembicaraan tadi nampaknya menimbulkan suasana canggung diantara ibu dan anak itu.
"Ibu..." ucap Sasuke akhirnya memecah keheningan. Mikoto memandang putranya dengan tatapan sayang, menunggu Sasuke menyelesaikan ucapannya. "Apa yang ibu harapkan dariku? Maksudku, ibu ingin aku menjadi apa di masa depan nanti?"
Mikoto terdiam. Dari cara putranya bertanya, sudah pasti Sasuke tak sedang bemain-main. "Ibu selalu membayangkan kau akan menjadi seorang pengusaha sukses seperti ayahmu. Tapi ibu tahu kau sama sekali tak tertarik kan? Jadi jalani saja apapun yang kau suka. Kau pandai, bahkan sangat cerdas. Ibu tahu apapun yang kau pilih, kau pasti bisa sukses dari sana," jawab Mikoto bijak.
Sasuke terdiam sejenak. Dari cara ibunya bicara, Sasuke dapat menangkap betapa ibunya takut salah berucap dan membuatnya pergi dari rumah lagi. "Mulai sekarang, aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan. Aku akan menjadi apapun yang kalian harapkan. Jadi kumohon...bimbing aku!" pinta Sasuke tulus. Dipandangnya sang Ibu yang nampak bingung dengan ucapannya barusan. "Aku akan mewarisi perusahaan seperti yang selalu ayah inginkan. Karena aku sadar hanya aku yang sanggup mengemban tugas itu. Maaf...selama ini aku tak mau memahami kondisi Itachi dan terus menganggap kalian tak adil. Darah Uciha mengalir dalam diriku. Dan aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan keluarga kita," sambung Sasuke sungguh-sungguh.
Mikoto terdiam menahan haru. Akhirnya putra bungsunya kembali. Akhirnya Sasuke mampu mengampuni kesalahan orang-orang di sekitarnya. Saat seperti ini sangat dinantikan oleh Mikoto.
Dengan penuh kasih sayang, Mikoto menghampiri tubuh putranya yang duduk di seberangnya dan memeluknya penuh kasih. "Maafkan kami yang tak pernah memperhatikan tumbuh kembangmu selama ini. Maafkan Ibu sayang..." ucap Mikoto sembari mendekap putranya.
Sasuke menepuk punggung wanita yang amat berarti dalam hidupnya itu. Lama ia tak merasakan rengkuhan sang ibu. Jadi beginikah rasanya?
Sasuke bersyukur ia masih memiliki kesempatan merasakannya. Ia akan berhenti hidup tak jelas dan kembali menata hidupnya. Berusaha berhenti bergantung pada Sakura dan menjalani hidupnya sebagaimana mestinya.
###
Sakura melangkah menyusuri bandara bersama sang ayah dan beberapa pengawal di belakangnya. Beberapa langkah di depannya, ia dapat melihat Hinata dan Naruto berdiri sembari tersenyum sedih padanya. Selain itu juga ada Asuma –ayah angkatnya.
Nampak Asuma sempat bertemu pandang dengan Senju, namun tak berniat memberi salam. Mereka nampak masih saling menyimpan benci meski Sakura telah memaksa untuk berdamai. Bagi Sakura, kedua orang ini sama pentingnya.
Senju nampak membisikkan sesuatu pada Sakura yang hanya dijawab anggukan ringan sebelum akhirnya pria paruh baya itu melangkah mendahului Sakura.
"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Hinata pada sosok wanita pink yang nampak semakin cantik akhir-akhir ini.
Sakura mengangguk sembari tersenyum tulus sebelum memberikan pelukan perpisahan secara bergantian pada Hinata dan Naruto. "Jaga diri kalian baik-baik ya?" pesan Sakura yang hanya dijawab anggukkan Naruto dan Hinata.
Terakhir, Sakura menghampiri Asuma yang nampak memandangnya sendu. Seolah tak rela putri yang telah dianggapnya anak kandung itu pergi. "Sampai kapanpun, kau adalah Ayah terbaik yang pernah kumiliki," ucap Sakura sembari memeluk sang ayah. "Jaga dirimu ayah...aku selalu menyayangimu," bisik Sakura sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
Sepintas Sakura nampak melempar pandang, berharap menemukan sosok yang ingin ditemuinya sebelum ia benar-benar pergi.
"Sasuke sedang mengurus pendaftaran Universitas. Ia hanya menitipkan ini," ucap Naruto sembari menyerahkan sebuah kotak cantik ke tangan Sakura. "Ia berharap kau bersedia menyimpannya," sambung Naruto.
Sakura tersenyum sembari mulai melangkah pergi. Kopernya sudah dibawa pengawalnya tadi. Dengan langkah ringan dan senyuman terkembang, Sakura melangkah meninggalkan Konoha. Membiarkan segalanya tetap seperti seharusnya. Ini yang terbaik, ia yakin itu.
Sesampainya di pesawat, Sakura duduk di samping sang ayah. Sesekali pandangannya teralihkan pada sebuah kotak yang terlihat mencolok dalam tas tangannya, diraihnya kotak itu dan dibukannya perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah benda yang tak asing baginya. Cincin, dengan nama Sasuke di dalamnya. Cincin yang pernah ia kembalikan pada pemilik nama itu.
Berlahan diraihnya secarik kertas yang terselip di bawah cincin itu.
Sakura...
Hingga detik dimana kau membaca surat ini, aku masih tak memahami mengapa kita harus berpisah.
Aku tahu kau memiliki alasan sendiri, tapi aku tetap tak mau menerimanya...
Jadi biarkan aku menunggumu...
Aku menjalani hidupku seperti yang kau inginkan...
Aku akan membuat orang tuaku bangga...
Aku akan melupakan masa lalu kita...
Aku berharap...kelak kita akan bertemu lagi dengan keadaan yang lebih baik...
Aku akan menunggu...jangan larang aku!
Suatu saat...aku akan datang padamu dengan layak...sebagai pria dewasa yang memang pantas untukmu...dan kita mulai lagi segalanya dari awal...
Akan kubuat ayahmu tak memiliki alasan untuk menolak kehadiranku...
Jadi...
Maukah kau menungguku?
Love,
U.S
Sakura tersenyum membaca tulisan tangan Sasuke. Perlahan dipasangnya cincin polos pemberian Sasuke itu ke jari manisnya. Apakah ia sanggup menunggu selama itu?
Perlahan Sakura mengusap perutnya yang nampak datar. "Kau pasti sangat sedih ya? Kita akan menemuinya saat kita sama-sama siap. Jadi jangan ganggu dia dulu ya?" gumam Sakura lirih, berharap satu nyawa lagi dalam tubuhnya dapat memahami keputusannya.
'Semua akan baik-baik saja sayang...' batin Sakura berusaha menenangkan dirinya.
TBC?
Author's place :
Lohaaaaaaaa...
Cerita ini lumayan susah wat dilanjutin...padahal ceritanya simple bgt kan?
Aku cuma bingung harus berakhir bagaimana...
Kira-kira perlu dilanjtin ngga niih? Apa end sampai sini aja?
Kalaupun dilanjutin, mungkin tinggal 1 atau 2 chapter lagi... cs sepertinya peminatnya juga kurang... #merasa ga laku... -.-
Jadi bagaimana?
Atau ada yang mau kasi saran mungkin? Ide terbaik akan saya jadikan lanjutannya.
saya benar-benar buntu dengan jalan cerita fic ini...jadi maaf kalo ceritanya ga begitu panjang..
Ditungu ripiunya... :)
