Chapter 9

In the Morning at Sanctuary

"Lho, Aiolos kau mau kemana?" tegur Camus yang bertemu dengan Aiolos dalam perjalanannya menuju istana Scorpio pagi itu. Aiolos menghentikan langkahnya menunggu Camus mendekatinya.

"Aku mau ke istana Leo, membangunkan Aiolia" kata Aiolos

"Mereka itu memang terkenal susah bangun pagi ya."

"Mereka?"

"Ya, pasangan onar Aiolia." balas Camus

"Milo? Tumben sekali ada apa kau mau membangunkan dia pagi-pagi begini?" tanya Aiolos, ia mulai berjalan lagi Camus merendenginya.

"Ia sudah janji mengantarkanku ke perpustakaan besar pagi ini." jawab Camus

Aiolos menahan tawanya, ia paham betul sifat Milo mengenai buku.

"Ya..ya tertawalah, Aiolos." kata Camus

"Berusahalah kalau begitu." kata Aiolos sambil menepuk bahu Camus begitu sampai di depan istana Scorpio.

"Akan kubuat dia bangun meski harus menyiramnya dengan air!" kata Camus.

Aiolos tertawa kali ini, lalu ia pamit dan melanjutkan perjalanannya ke istana Leo.

Camus pun memasuki istana Scorpio, tanpa membuang waktu lagi ia menuju kamar Milo.

"Miloooooo!" teriak Camus menggedor-gedor kamar Milo.

"Ayo buka pintunya, kau sudah janji mau mengantarkanku, ini sudah pagi, matahari nyaris diatas kepalamu!" omelnya, ia masih menggedor pintu kamar Milo sampai tangannya sakit, ia berhenti sejenak untuk mendengarkan tapi sama sekali tak ada respon dari Milo, Camuspun meraih gagang pintu dan mendorongnya, ia menyeruak masuk kamar Milo, dan terlihat kesal melihat Milo masih tertutup selimut sampai leher, posisi tidurnya miring, Camus mendekati Milo.

"Hei bangun!" serunya sambil mengguncangkan badan Milo, tapi sama sekali Milo tidak bereaksi, padahal Milo itu paling sebal di bangunkan seperti itu, biasanya dia langsung terbangun dan menggerutu, bahkan marah tapi kenapa pagi ini aneh sekali dia sama sekali bergeming.

"Dasar tidur jam berapa sih manusia ini!" Camus menyingkapkan selimut Milo, ini adalah hal kedua yang Milo benci hawa dingin pagi di Sanctuary, tapi cara ini juga tidak membuat Milo bangun.

"Astaga!" ujar Camus tak percaya, ia membalikkan Milo, sampai telentang dan menepuk-nepuk pipinya, Camus berhenti ia merasa ada yang terjadi pada Milo, ia memegang pergelangan tangan Milo, dan memeriksanya denyut nadinya.

"Normal." gumamnya, lalu ia menyorongkan jarinya di depan hidung Milo

"Normal juga." dia mendekat memperhatikan leher Milo sepertinya ada yang janggal, dia menurunkan kerah baju Milo, dan terbelalak di leher Milo ada bekas cekikan, dari bekasnya sepertinya cekikan itu cukup membuat manusia biasa mati seketika.

Ia langsung meninggalkan Milo, menuju istana Leo, menemui Aiolos.

"Mungkinkah Aiolia juga...perasaanku tidak enak." kata Camus dalam hati dia mempercepat langkahnya menuju istana Leo.

Sesampai di istana Leo, Camus langsung menghambur ke kamar Aiolia, ia mendapati Aiolos, sedang duduk di tepi tempat tidur, dengan pandangan serius dan memeriksa tubuh Aiolia, Camus mendekat bukan main terkejutnya sekujur tubuh Aiolia, ada bekas memar cambuk, wajahnya seperti orang habis di pukuli dengan brutal semuanya memar, Camus melihat juga bibir Aiolia sobek, dan ada darah yang sudah mengering.

"Memar itu…" ucap Camus, Aiolos langsung menoleh

"Apa ada yang sama seperti Aiolia?" tanya Aiolos

"Milo" jawab Camus

Aiolos mengerutkan keningnya.

"Ini bukan kebetulan." Dia bangkit dari duduknya dan keluar kamar Aiolia

"Apa kau akan memberitahu hal aneh ini pada yang mulia Shion?" tanya Camus

"Tidak, aku akan ke istana Gemini. Aku harus memastikan sesuatu. Perasaanku tidak enak Camus." jawab Aiolos, dia punya firasat bukan hanya Aiolia dan Milo, yang menjadi seperti ini, masih ada satu orang lagi.

"Aku ikut dengamu." Aiolos hanya mengangguk menanggapi Camus, lalu mereka bergegas menuju istana Gemini.

Sampai di istana Gemini, Aiolos di sambut Saga, di aula istana.

"Aiolos, maaf kau sampai harus menjemputku, akan kubangunkan anak sialan itu, tidak biasanya dia terlambat, padahal dia yang paling semangat dengan latihan gabungan ini." kata Saga.

"Jadi Kanon belum bangun?" tanya Aiolos

"Ya." jawab Saga.

"Tidak biasanya katamu?" tanya Aiolos penuh selidik

"Ya, biasanya dia itu selalu tepat waktu."

Aiolos berjalan melewati Saga menuju kamar Kanon, Saint sagitarius itu tampak gelisah, membuat Saga heran "Ada apa sebenarnya kau terlihat gelisah" kata Saga

Aiolos tidak menjawab dia hanya mempercepat langkahnya ke kamar Kanon dan mendorong keras pintu kamar Kanon, menghambur masuk, menyingkapkan selimutnya, lalu menguncang-guncangkan tubuh Kanon keras, tapi Kanon tidak juga bangun. dia pun menyingkapkan pakaian Kanon, matanya terbelalak melihat bekas memar keunguan di dada Kanon.

"Memar seperti yang Milo dan Aiolia.." kata Camus

"Memar?!" kata Saga tidak mengerti

"Ini bukan kebetulan sudah dua orang seperti ini, tak sadarkan diri dan ada memar di tubuhnya." kata Aiolos, dia menggaruk dagunya keningnya berkerut.

"Dua orang?" tanya Saga tidak mengerti

"Milo dan Aiolia mengalami hal yang sama dengan Kanon, Milo ada memar di lehernya seperti bekas di cekik, Aiolia lebih parah lagi hampir sekujur tubuhnya penuh memar, seakan dia habis disiksa secara sadis." jelas Camus

"Aiolos apa kau tahu sesuatu?" tanya Saga, tapi Aiolos diam saja tidak menggubris teguran Saga, asyik dengan pikirannya sendiri.

"Aiolos!" Saga menepuk bahu Aiolos, membuat Aiolos terlonjak.

"Apa...apa" katanya gugup

Saga merasa Aiolos seperti tahu sesuatu atau lebih tepatnya baru mengingat sesuatu tentang ini.

"Apa kau mengetahui apa yang tidak kuketahui, Aiolos?" kata Saga menatap tajam Aiolos, membuat Aiolos kikuk, Saga memang pandai membaca pikiran seseorang dari mimik wajah lawannya, sayangnya dia bodoh dalam membaca pikiran orang yang dicintainya itu menurut Kanon.

Tebakan Saga benar Aiolos memang baru saja mengingat pembicaraannya dengan Athena dan Pope Shion.

"Ingat Aiolos jangan beritahu Saga dulu masalah ini" pesan Athena

"Kenapa, bukankah sebaiknya dia tahu."

"Aku sepakat dengan Aiolos." tambah Shion

Athena memandang Shion dan Aiolos bergantian

"Kau tahu sudah berapa kesedihan yang di tahannya ketika mengetahui Lecca ada di Black Azzure..." Athena terdiam sejenak "Aku hanya tidak ingin membuat dia lebih sedih, dari ini" lanjutnya

"Tapi pada waktunya nanti yang mulia, Saga pasti akan berhadapan dengan Lecca. Apakah itu tidak akan membuatnya jauh lebih tak bisa menerimanya?"

"Aku tahu...Aku tahu...sampai saat itu tiba, aku minta jangan tambahkan kesedihannya" balas terlihat sedih ketika mengatakan itu.

Saga masih menatap Aiolos menunggu jawaban atas pertanyaannya, tapi Aiolos hanya balas memandangnya. Lalu menghela nafas.

"Saat ini, aku tidak bisa bilang apa-apa, sebaiknya kita laporkan ini pada Athena atau Pope." kata Aiolos mengalihkan pembicaraan, dia melewati Saga dan menepuk bahunya, Camus mengekor di belakang Aiolos meninggalkan Saga sendiri di kamar Kanon.