ChanBaek 8th Stories : Senior High School
Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
And other Cameo
Rated : K+ to T
Genderswitch and Pedo
OOC and Typo
If You DON'T LIKE so DON'T READ
.
.
7 Tahun Berlalu . . .
Baekhyun menatap puas penampilannya di depan cermin. Sempurna—Begitulah kesimpulannya.
Sekali lagi dia menyisir rambut hitam panjangnya lalu mengerling ke arah cermin.
"Aku memang cantik!" Gumamnya pelan. Ia meraih tas ransel berwarna putih dengan corak awan-awan biru. Mengenakannya di punggung lalu sekali lagi bercermin.
Entah kenapa dia merasa sangat menyukai seragam SMAnya ini. Kemeja putih dengan rok merah kotak-kotak. Lalu di tambah dengan blazer berwarna biru. Benar-benar sangat keren.
Keputusannya untuk bersekolah di Korea memang pilihan yang tepat. Usaha keras yang di lakukannya selama ini pun menjadi tidak sia-sia. Karena ia sendiri merasa begitu senang seperti ini.
Selama beberapa tahun belakangan Baekhyun selalu memelas dan memohon pada Haelmoninya agar di izinkan bersekolah di Korea. Namun wanita yang telah berumur itu tetap saja menolak.
Tapi bukan Baekhyun namanya kalau menyerah dengan begitu mudahnya. Baekhyun terus dan terus berusaha membujuk neneknya agar menuruti kemauannya.
Akhirnya ketika Baekhyun menginjak kelas 3 SMP, Haelmoninya memberikannya tawaran. Jika dia berhasil mendapatkan peringkat pertama untuk hasil kelulusan nanti, maka dia akan di izinkan untuk sekolah di Korea. Tapi jika tidak, O-ohh... Mau tidak mau Baekhyun harus tetap menetap di China.
Dan Baekhyun berhasil. Hahaha... kerja keras Baekhyun memang bukanlah isapan jempol semata. Jika sudah bertekad maka apapun bisa ia raih. Jadi jangan pernah anggap remeh seorang Wu Baekhyun.
"SM HS aku datang!" Baekhyun mengepalkan tangannya semangat.
.
.
"Hun... Kau lihat di sana." Dari balik semak-semak tampak dua penampakan sedang mengintip. Layaknya anggota Spy, mereka menajamkan indra penglihatan mereka hingga setajam mata elang.
"Aku lihat Kai. Lihat-lihat... Kyungsoo Noona mendekat kemari." Sehun berseru dengan semangatnya. Tanpa sadar dia bangkit dari posisi bersembunyinya. Hal ini sukses membuat Kai merasa kesal dan langsung menarik kasar tangan adik kembarnya.
"Pabboya! Kau mau kita ketahuan."
"Hehehe... Mian Kai." Sehun meringis.
"Cepat ambil selangnya." Perintah Kai sambil menunjuk ke arah keran yang tak jauh di belakang mereka.
"Kenapa aku jadi di suruh-suruh?"
"Sudah cepat!" Kai sedikit membentak. Dengan sedikit tidak rela, Sehun pun beranjak mendekati keran yang di tunjuk Kai tadi. Meraih selang panjang yang ada di sana lalu memberikannya pada Kai.
"Kau bagian yang menyalakan airnya, oke?" ujar Kai sambil mengangkat jempolnya. Dia mengambil selang tersebut dan mengarahkannya ke depan.
"Oke-oke." Sehun pun kembali ke tempat keran tadi. Dia menaruh tangannya di atas putaran keran lalu menatap Kai serius. Menantikan kode selanjutnya dari saudara kembarnya itu.
Sehun dan Kai—meskipun usia mereka terus menerus bertambah dan zaman pun mulai berubah, tapi kelakuan mereka tak ada berubahnya sedikitpun.
Bahkan sekalipun sekarang mereka sudah menjadi siswa kelas 3 SM High School dimana kurang dari 1 tahun lagi maka mereka akan lulus dan menuju ke Universitas, tetap saja mereka menjadi anak nakal. Suka sekali mengganggu anak-anak lain.
Dan tidak pernah berubah juga sejak dulu, Kyungsoo selalu jadi korban kejahilan mereka.
"SEHUN !" Kai tiba-tiba berseru nyaring.
Sehun yang mengira itu kode dari Kai yang menyuruhnya untuk menyalakan air pun langsung memutar kerannya.
"Kyaaaaaaaa!"
Kai terkejut.
"Yak! Apa yang kau lakukan adik bodoh!" Kai berbalik dan membentak Sehun. Anak berkulit putih itu pun mengernyit. Dengan segera ia memutar balik kerannya lalu menatap tajam saudaranya.
"Kau kan menyuruhku untuk menyalakan airnya." Sahut Sehun yang tidak terima di katai 'Bodoh'. Enak saja dia di bilang bodoh, gini-gini dia adalah pemegang tetap peringkat 1 seangkatan di SM HS. Berbeda dengan Kai yang hanya berputar-putar di 20 besar. Dia lebih pintar daripada Kai—kalau mau di bandingkan.
"Aku tidak menyuruhmu." Kai berseru tak terima.
"Tadi jelas-jelas—"
"Kenapa kalian menyiramku?" Suara cempreng yang berteriak nyaring ke arah mereka itupun menghentikan perdebatan duo KaiHun. Sehun yang memang tidak sadar akan situasi pun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Bola matanya membulat ketika melihat sosok gadis yang terlihat kebasahan akibat ulahnya dan Kai.
Bukan. Itu bukan Kyungsoo, si Noona tetangga yang selalu ia jahili bersama Kai. Melainkan seorang gadis imut bertubuh mungil dengan rambut hitam sepinggang. Gadis itu menatap kesal ke arah Kai.
Sehun melangkah pelan mendekati saudaranya. Ia pun berbisik pelan.
"Kai... Kurasa kita salah sasaran."
"Kau benar. Lihat itu bukan si mata bulat Do Kyungsoo." Kai pun ikut berbisik.
"Gadis ini bersinar."
"Apa dia malaikat?"
"Kau benar. Kurasa dia malaikat... atau bidadari?"
Sehun dan Kai memutar kepala mereka bersamaan. Saling tatap lalu tak lama muncul seringaian dari bibir mereka.
"Kurasa dia bidadari yang baru saja terjatuh." Ujar Kai.
"Ia. Mungkin dia baru saja jatuh dari langit sana."
Duo kembar bodoh itupun sama-sama menengadah menatap langit.
Oke... Kita tinggalkan saja dua orang bodoh ini.
.
.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Moodnya yang sangat bagus di pagi hari tadi pun menurun drastis sampai di titik minimum. Siapa yang tidak kesal?
Dia adalah murid baru di tahun ajaran baru. Dia baru saja kelas 1. Tidak kenal siapapun dan tidak tahu apapun. Tapi apa yang dia dapat? Belum apa-apa dia sudah di siram dengan air. Membuat baju seragam baru yang teramat sangat di sukainya ini menjadi basah. Dan anak-anak lain yang sedang berlalu lalang pun menjadikannya bahan tontonan—seakan dirinya adalah kelinci percobaan yang gagal eksprerimen.
Karena sudah terlanjur kesal sekaligus malu, Baekhyun langsung berlari pergi menuju koperasi untuk membeli baju seragam baru.
Meski baju yang sekarang sama saja dengan yang tadi, tetap saja Baekhyun terlanjur kesal.
Dua anak laki-laki yang rasanya sangat tidak asing itu benar-benar mencari masalah dengannya. Apa maksud mereka dengan menyiramnya seperti ini. belum lagi bukannya minta maaf, kedua anak itu malah mengobrol satu sama lain dan mengabaikan Baekhyun. Oh God, Berikanlah kesabaran pada makhluk imutmu ini.
Ceklek~
Baekhyun melangkah keluar dari kamar mandi. Dia sedikit menunduk untuk mengecek lagi seragamnya.
"Kyaaaaaaa..."
"Itu Park Seonsaengnim..."
"Betapa seksinya dia."
"Oppa oh Oppa."
"Lihat, lihat dia menatapku."
"Kyaaaaaaaaa!"
Baekhyun mengangkat kepalanya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan lalu mendapati sekumpulan yeoja berada di sana sambil berteriak-teriak heboh.
Karena penasaran, Baekhyun pun mendekati mereka.
Efek dari tubuhnya yang mungil membuat Baekhyun kesulitan untuk melihat apa yang menjadi objek dari sekumpulan yeoja itu hingga mereka sehisteris itu.
"Apa ada artis?"—Batin Baekhyun.
Karena tak kunjung mendapat kesempatan, Baekhyun pun mengambil inisiatif lain. Dia menoleh ke samping lalu mendapati seorang gadis. Baekhyun mencolek lengan gadis itu.
"Ada apa sih?" tanya Baekhyun.
Gadis itu pun tersenyum tipis pada Baekhyun. "Park Seonsaengnim datang."
"Mwo? Lalu kenapa heboh sekali?"
Tiba-tiba para gadis-gadis itu menyingkir ke pinggir. Baekhyun yang tidak mengerti apa-apa pun jadi ikut terbawa arus. Gadis yang tadi di ajaknya bicaralah yang menarik tangannya.
"Kyaaaaaa..." Baekhyun menutup telinganya. Dia menengadah untuk melihat objek kehebohan itu. Mata Baekhyun melebar dan mulutnya menganga.
Sosok itu... Namja tinggi berambut merah. Dengan kemeja berwarna hitam yang di padukan dengan celana jeans. Ada sebuah tas gitar yang di sampirkan pada salah satu bahunya. Demi apapun, apa dia mahasiswa kuliahan?
Tapi, Baekhyun mengenali namja itu. Baekhyun kenal dia. Sangat kenal malah. Dia ...
"Park Seonsaengnim. Tampan sekali bukan? Dia guru musik di sekolah kita." Gadis tadi tiba-tiba bersuara. Dia berbisik di telinga Baekhyun, membuat Baekhyun menoleh ke arahnya. Menatap gadis itu tak percaya.
"Sebelumnya perkenalkan namaku Choi Jinri. Tapi aku biasa di panggil Sulli."
"Aku Wu Baekhyun."
"Ah... salam kenal Baekhyun-ah."
.
.
"Park Seonsaengnim adalah guru tertampan sekaligus paling muda di sekolah kita. Ku dengar dia baru menyelesaikan kuliahnya 2 tahun lalu. Tapi dia sudah mengajar di sekolah ini selama 4 tahun."
"Jinjja? Tapi kenapa gayanya seperti anak kuliahan sekali. Memang guru boleh mengenakan celana jeans seperti itu di jam mengajarnya?"
"Kenapa tidak boleh? Lagipula kudengar pemilik saham terbesar sekolah kita ini adalah keluarga Park. Jadi sekalipun melanggar aturan, pasti tidak akan mendapat teguran."
"Oh begitu."
"Park Seonsaengnim itu sangat misterius. Dia terlihat dingin dan tidak pernah mempedulikan kami—para fansnya. Tapi itu sisi keren dari Park Seonsaengnim."
Baekhyun mengangguk-angguk mendengarkan cerita dari teman barunya. Dia terus saja berceloteh tentang Park Seonsaengnim—yang telah Baekhyun identifikasikan sebagai Chanyeol Oppanya.
Sekarang Baekhyun percaya apa yang dinamakan takdir. Yupss, dia dan Chanyeol memang terikat takdir.
Awalnya Baekhyun sempat bingung bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Chanyeol. Kris sudah tidak lagi berada di Korea. Namja itu melanjutkan S2nya di Canada untuk memperdalam kuliah bisnisnya. Jadi Baekhyun juga tidak merasa punya alasan jikalau dia ingin bertemu dengan Chanyeol.
Dulu memang Baekhyun belum mengerti tentang apa yang di rasakannya. Dia berpikir kalau Chanyeol hanyalah teman Oppanya yang sangat baik dan Baekhyun menyukai Chanyeol. Namun semakin banyak waktu yang berlalu, Baekhyun mulai sadar kalau dia merindukan sosok Chanyeol yang selalu hangat padanya. Baekhyun juga rindu pada senyuman Chanyeol. Banyak hal yang Baekhyun rindukan dari diri Chanyeol.
Baekhyun tidak paham. Benar-benar tidak paham. Hingga akhirnya Baekhyun baru mengerti ketika dia berumur 13 tahun saat ia mendapatkan pernyataan cinta pertamanya dari seorang namja.
Saat itu Baekhyun belajar banyak tentang cinta. Berdasarkan pengalaman dan cerita dari orang lain serta pengalamannya sendiri. Beberapa kali Baekhyun juga menjalin hubungan dengan namja. Rasa suka, senang dan terkadang rindu. Sama seperti yang di rasakannya dulu pada Chanyeol.
Baekhyun pun sadar kalau pada saat itu dia sudah mendapatkan cinta pertamanya di usia 7 tahun yaitu Chanyeol. Bahkan sampai saat ini, terkadang Baekhyun suka teringat Chanyeol. dan mungkin di bandingkan namja-namja lainnya, perasaan Baekhyun pada Chanyeol lebih dalam.
Meski para orang dewasa selalu berkata kalau perasaannya hanyalah cinta monyet dari anak remaja labil yang belum dewasa sehingga nanti juga akan terlupakan dengan sendirinya—dan Baekhyun berpikir kalau itu ada benarnya juga.
Tapi bisa melihat sosok Chanyeol lagi membuat Baekhyun berdebar dengan sendirinya. Saat itulah Baekhyun sadar... Cinta pertamanya bukan hanya sekedar cinta monyet. Mungkinkah ini cinta yang sesungguhnya?
"Sayangnya kita tidak akan bisa di ajar olehnya." Baekhyun tersadar dari lamunannya. Dia menoleh dan menatap Sulli dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Park Seonsaengnim hanya mau mengajar kelas 3. Dalam satu hari, dia hanya akan berada di sekolah selama 4 jam. Mengajar dua kelas dalam sehari. Setelah jam 12, kau tidak akan melihatnya lagi di sekolah. Maka dari itu, selama dia ada, kita harus memanfaatkannya secara maksimal." Sulli mengepalkan tangannya lalu menatap Baekhyun seolah-olah Baekhyun juga merupakan fan Chanyeol.
"Aku tidak—"
KRIIINGGG~
"Sudah bel. Ayo ke aula. Kita harus mendengarkan pidato kepala sekolah di hari pertama tahun ajaran baru." Ajak Sulli sambil menarik tangan Baekhyun—lagi.
.
.
Baekhyun menggeleng tak habis pikir. Awalnya dia kira gadis yang bernama Choi Sulli tadi juga anak baru sepertinya. Namun dia salah. Gadis itu berada satu tingkat di atasnya.
Sikapnya tadi benar-benar di luar batas. Tapi Baekhyun senang. Setidaknya melihat sikap Sulli yang ramah tadi menunjukkan kalau tidak ada kesenjangan antara angkatan atas dan bawah.
Baekhyun pun mendudukkan dirinya di kursi deretan para murid baru. Dia menoleh ke kiri lalu ke kanan. Wajah-wajah yang asing. Baekhyun menghela nafas pelan.
Semoga saja dia tidak akan sulit menemukan teman baru nantinya. Baekhyun mengeluarkan ponselnya lalu memainkannya. Kepala sekolah belum hadir jadi mereka harus menunggu. Daripada merasa bosan, lebih baik dia menyibukkan diri dengan bermain game.
"Permisi, apa aku boleh duduk di sini?"
Baekhyun menengadah ketika mendengar ada seseorang yang mengajaknya bicara.
"Luhan!" Baekhyun menjerit pelan. Dia langsung berdiri dari posisi duduknya. "Kau Luhan kan? Xi Luhan? Astagaa... aku merindukanmu."
Tanpa aba-aba Baekhyun langsung memeluk gadis yang menegurnya tadi.
"Kau—" Gadis itu masih belum mengerti. Dia terlihat berpikir dan berusaha mengingat-ingat apakah dia mengenal gadis ini atau tidak.
"Aku Baekhyun. Apa kau lupa?" Baekhyun berbisik.
"Baekhyun!" Luhan pun langsung membalas pelukan teman lamanya. "Bogoshipo"
.
.
Baekhyun dan Luhan melangkah beriringan. Sesekali mereka tersenyum ke arah satu sama lain sambil berbincang-bincang tentang banyak hal.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu."
"Aku juga. Ternyata dunia sempit sekali ya."
"Sayang sekali Xiumin dan Chen tidak sekolah di sini. Kalau mereka di sini, pasti kita bisa berkumpul lagi seperti dulu."
"Mereka sekolah dimana sekarang, Luhannie?"
"Kau tahu kan kalau Chen itu sangat pintar. Dia masuk ke sekolah Internasional. Sedangkan Xiumin, dia masuk ke sekolah kejurusan dan mengambil jurusan memasak. Dia mau menjadi koki."
"Jinjja? Wahh keren sekali."
"Begitulah." Luhan mengibas pelan rambutnya ke belakang. Baekhyun yang melihat itu pun mengerling jahil.
"Kau sekarang cantik ya. Kau memanjangkan rambutmu?"
"Ahh... iya. Aku hanya ingin memanjangkannya. Apa terlihat bagus?"
"Ne! Kau sangat cantik." Baekhyun menunjukkan kedua jempolnya pada Luhan. Gadis itu pun terkekeh sambil merangkul pundak Baekhyun.
"Sahabatku ini juga bertambah cantik."
"Tentu saja. Aku kan memang selalu cantik." Baekhyun berkata dengan penuh percaya diri. Sedangkan Luhan hanya bisa tertawa pelan.
"Bidadariku..."
Senyum Baekhyun pun menghilang secara perlahan. Ia menoleh dan mendapati dua orang namja dengan tinggi yang nyaris sama namun memiliki warna tubuh berbeda sedang melambai ke arahnya.
"Kita bertemu lagi, cantik." Ujar yang berkulit hitam dengan senyum ala bad boy-nya.
"Ayo kita pergi, Lu." Baekhyun menarik tangan Luhan dan berjalan menjauhi kedua namja itu.
"Ya... Chagiya kau mau kemana?" Seru yang berkulit hitam lagi. Sedangkan saudara kembarnya hanya mendengus melihat tingkah berlebihan dari kembarannya.
"Bisakah kau lebih cool dikit. Sungguh, semua perempuan pasti akan lari kalau melihat tingkahmu itu." Lalu Sehun—si kulit putih—melangkah lebih dulu untuk menyusul Baekhyun.
"Sehun-ah... Kau tega sekali pada Partner in Crime-mu ini." Seru Kai sambil berlari pelan menyusul Sehun.
"Aku tidak peduli." Sahut Sehun tanpa menoleh.
END
Words : 2.145
Updated : 01/08/14
.
Hello~ I'm Back Guysss...
Baekhyun udah gede. Hihihihihiihihi~~ Karena masih awal-awalan, kita cut di sini dulu. Cerita berikutnya mungkin akan ada kejutan-kejutan menarik lainnya. So, tungguin aja.
Terima kasih sekali buat kalian semua yang udah review kemarin. aku benar-benar terharu. Aku sayang kalian semuaaaa~ *Hug&Kiss*
Oke deh... Kalau udah baca, aku sangat berharap kalian meninggalkan jejak kalian lagi. sekedar injakan kaki ataupun cap jempol pun tak apa#Plakk.. aku cuma berharap agar yang baca ama yang review tuh sebanding. sedih loh liat yang baca banyak tapi reviewnya dikit. Aku kan juga mau tau perasaan kalian pas baca FFku.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya.
