Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

Multipairing:

Naruto x Hinata x Koneko

Sasuke x Sakura

Issei x Rias

Rating: T

Selasa, 26 Januari 2016

.

.

.

12 SEEKER'S

By Hikasya

.

.

.

Chapter 9: Waktunya Ekspedisi

.

.

.

Pokoknya semuanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Meluangkan waktu untuk bersenang-senang sebelum memulai keberangkatan ekspedisi ke Planet Hitam. Enam bulan lagi, waktu mereka untuk bersiap-siap. Baik mental maupun raga. Mereka sudah mempersiapkan semuanya sebaik-baiknya. Inilah saatnya mereka menjadi pahlawan kebenaran yang akan mengembalikan para manusia ke kampung halamannya yaitu bumi. Bumi akan segera mereka rebut kembali.

Tunggulah saat itu tiba, para pasukan 12 Seeker's bersiap mengungkapkan misteri yang bersembunyi di balik asap kabut hitam di Planet Hitam itu.

.

.

.

SEKTOR LUNAR Z, MARKAS PASUKAN EKSPEDISI BUMI (PEB), 09.00 A.M AT LUNAR TIME

Enam bulan sudah berlalu sejak saat itu, semuanya berlalu dengan cepat. Para pelajar di antar planet sudah menyelesaikan ujian semesternya bertepatan di akhir tahun. Tibalah waktu liburan panjang sekitar sebulan lebih. Waktunya untuk beristirahat dan bersenang-senang.

Kini tiba juga waktunya ekspedisi ke planet hitam, para anggota 12 Seeker sudah berkumpul di markas Pasukan Ekspedisi Bumi (PEB), yakni di basement lintasan pesawat luar angkasa. Di mana terdapat banyak orang yang sudah memenuhi berbagai sudut basement, terdiri dari para anggota PEB dan keluarga pasukan 12 Seeker. Mereka sedang bersiap-siap untuk melakukan sesuatu agar keberangkatan ekspedisi ini berjalan dengan lancar. Semuanya tampak antusias, tegang, takut, dan panik.

Di basement itu juga terlihat tiga pesawat induk yang dibawa dari taman planetarium. Tiga pesawat induk yang bernama Land Starship, Aqua Starship dan Air Starship. Orang-orang PEB menyingkat nama tiga pesawat induk itu dengan sebutan Land SS, Aqua SS, dan Air SS.

Jadi, tiga pesawat induk itu sudah berdiri kokoh di jalan lintasan masing-masing. Jalan lintasan yang dilalui tiga pesawat ini dibuat agak terpisah agar waktu lepas lepas tidak saling bertabrakan. Tiga pesawat yang berukuran 6 meter itu, sudah siap untuk digunakan. Tapi, ada beberapa petugas tim mekanik PEB sedang memeriksa keadaan mesin tiga pesawat induk itu agar tidak adanya masalah. Harus diteliti dan diperiksa dengan baik demi kesuksesan ekspedisi planet hitam ini.

Semua anggota PEB tampak lalu lalang di sekitar basement. Juga terlihat para anggota 12 Seeker yang berpakaian bebas dengan desain futuristik. Mereka sedang berhadapan dengan keluarga masing-masing. Mereka sedang meminta izin kepada keluarga yang melepaskan kepergian mereka. Tibalah untuk pergi melakukan ekspedisi itu.

Sudut pandang mengarah pada Naruto. Laki-laki berambut pirang yang sekarang sudah berumur 16 tahun. Ia menatap sebuah foto digital di tangannya. Foto digital yang menampilkan gambar dirinya, ibunya dan ayahnya. Orang tuanya yang sedang menggendong dirinya yang masih bayi, dengan latar belakang warna biru. Foto yang sudah lama sekali, sekitar 16 tahun yang lalu.

"Ayah ... Ibu ...," Naruto tersenyum kecil dengan kedua mata yang menyipit sayu. Ia senang bisa melihat foto orang tuanya sebelum pergi. Tsunade yang memberikannya padanya sekarang.

Tsunade dan Jiraiya ikut tersenyum melihat Naruto. Naruto yang tidak pernah berkedip sama sekali saat memandang foto tersebut. Itulah foto satu-satunya yang dipunyai Tsunade. Kini foto itu diberikan oleh Naruto.

"Bawalah foto ini bersamamu, Naruto. Agar kamu merasa aman di sana jika berada dalam kondisi yang sangat mengguncang hatimu. Dengan adanya foto ini, nenek harap kamu selalu berjuang dan berusaha untuk menemukan orang tuamu di sana. Berjanjilah bahwa kamu pulang dengan selamat dan membawa semua orang yang hilang itu bersamamu. Nenek percaya mereka pasti masih hidup. Mereka pasti menunggu kalian para 12 Seeker. Mereka berharap kalian menemukan mereka. Naruto, tetaplah maju dan jangan pernah menyerah ya."

Tsunade memegang bahu Naruto. Naruto menatap wajah Tsunade. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

"Baik, nenek. Aku berjanji."

"Bagus itu, Naruto."

Tangan Tsunade menjauh dari bahu Naruto. Ia juga tersenyum. Kedua matanya menyipit sayu.

Lalu giliran Jiraiya yang berbicara pada Naruto.

"Naruto ... Hati-hati di jalan ya. Doa kakek selalu menyertaimu. Semoga kamu dan semuanya selamat dari ekspedisi itu. Temukan orang-orang yang hilang itu. Jangan pernah menyerah. Kakek yakin kamu pasti bisa melakukannya. SEMANGAT!"

Tangan Jiraiya mengepal tepat di depan badannya. Ia menyengir lebar. Sedih juga. Tapi, dia berusaha untuk memberikan dorongan semangat buat Naruto agar Naruto menjalani ekspedisi ini dengan hati yang mantap. Semoga tidak ada sesuatu yang membahayakan nyawa cucunya di sana, pikir sang kepala sekolah yang memimpin Akademi Pilot Luar Angkasa (APLA) itu. Ya, Jiraiya yang memimpin APLA tersebut. Naruto sendiri tidak tahu kalau kepala sekolah APLA itu adalah kakeknya.

Naruto menganggukkan kepalanya. Ia juga mengepalkan tinjunya di depan tubuhnya seraya tertawa ala tiga jari.

"YA, AKU SEMANGAT SEKARANG! TERIMA KASIH, KAKEK, NENEK!"

Secara langsung Tsunade memeluk Naruto untuk terakhir kali. Jiraiya juga melakukan hal yang sama. Ia memeluk istrinya dan cucunya sekaligus.

"Hati-hati di jalan, Naruto," ujar Tsunade yang sudah menitikkan air matanya. Rupanya dia menangis.

"HUWAAAA ... CUCUKU! TETAPLAH HIDUP SAMPAI MENEMUKAN ORANG TUAMU DI SANA. KAMI MENGANDALKANMU, CUCUKU!" Jiraiya malah menangis histeris sambil memeluk Tsunade dan Naruto dengan erat. Membuat istrinya dan cucunya sweatdrop melihatnya.

Semua orang terbengong-bengong melihat mereka. Sampai Tsunade kehilangan kesabarannya, melepaskan pelukannya dari Naruto, dan langsung memberikan pelajaran pada Jiraiya.

BUAAAAK!

Terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Jiraiya terkapar pingsan di tempat akibat perutnya ditonjok oleh Tsunade yang terbilang sangat mengerikan. Tsunade dengan wajah yang seram, mengepalkan dua tinjunya saking kesalnya karena suaminya sangat berisik di tengah-tengah suasana haru seperti ini. Ada-ada saja. Tapi, begitulah kenyataannya.

Membuat Naruto tertawa geli melihatnya. Hatinya cukup terhibur di tengah kesedihan yang melanda dirinya. Apalagi semua orang juga tersenyum geli dengan kejadian konyol yang berakhir sangat miris seperti ini.

Sedetik kemudian, perhatian orang-orang tertuju pada yang lain. Lalu Naruto menyadari kemunculan seseorang yang menghampirinya dari belakang. Naruto menoleh.

Rupanya Kakashi. Ia mengangkat tangannya sambil berseru keras.

"YOOO, HALO, NARUTO!"

"Halo, guru Kakashi," Naruto tersenyum."Apa kabar guru Kakashi?"

"Kabarku baik."

"Syukurlah."

"Sudah siap untuk menjalani ekspedisi ini, Naruto?"

"Tentu saja. Aku siap, guru."

"Bagus. Aku punya hadiah kejutan untukmu."

"Apa itu?"

Kakashi merogoh saku seragamnya. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku seragamnya. Sesuatu itu terbang sesaat sudah lepas dari genggaman tangan Kakashi.

Naruto memperhatikan sesuatu yang terbang itu dengan seksama. Sesuatu itu terbang dengan lincah sekali. Ia mengarah pada Naruto. Tangan Naruto pun berusaha untuk mengambilnya.

HAP!

Sesuatu yang terbang itu berhasil ditangkap oleh Naruto. Naruto membuka genggaman tangannya. Diperhatikannya sesuatu yang kini berdiri di telapak tangannya sekarang.

Sesuatu itu adalah sebuah robot berbentuk capung. Berwarna hitam keperakan. Ukurannya sebesar ibu jari. Robot itu memperhatikan wajah Naruto. Naruto pun bengong melihatnya.

"Eh, robot capung?" tanya Naruto ternganga sedikit.

"Ya, robot capung. Namanya Dragonfly 002. Robot yang bertugas merekam aktifitasmu selama perjalanan ekspedisi ke Planet Hitam. Bisa dibilang dia adalah sebuah kamera peliput, pengirim data informasi, dan bisa menyampaikan komunikasi telepati pada Dragonfly lainnya jika kehilangan sinyal komunikasi dan radar sensor saat memasuki orbit Planet Hitam yang dikelilingi asap hitam. Robot ini berjumlah 12 buah. Robot ini adalah ciptaanku sendiri. Terus aku sudah memberikan Dragonfly lainnya pada para Seeker. Aku juga mempunyai satu Dragonfly istimewa yang berukuran lebih besar dari ini. Bisa dibilang Dragonfly milikku ini adalah robot pusat penerimaan data informasi dari 12 Dragonfly ini. Jadi, Dragonfly 002 ini sudah menjadi milikmu. Dia akan mengikuti kemanapun kamu pergi. Dia akan selalu aktif meskipun apa yang terjadi karena sumber energinya adalah putaran kinetik. Hal yang sama berlaku pada Dragonfly lainnya. Aku harap kamu bisa menjaga hadiahku ini dengan baik," jawab Kakashi panjang lebar.

Naruto pun terpaku mendengarkan penjelasan Kakashi. Ia takjub sambil memandangi Dragonfly 002 itu. Wajahnya berbinar-binar seketika.

"Wow, hebatnya! Ini keren sekali, guru!"

Kakashi tersenyum simpul di balik masker hitamnya. Ia memegang puncak kepala Naruto.

"Hahaha ... Seperti biasa, kamu selalu bersemangat, Naruto. Aku salut padamu."

Naruto tertawa lebar,"Tentu saja. Inilah waktu yang kutunggu-tunggu selama ini. Waktunya untuk melakukan ekspedisi ke planet hitam. Aku akan berjuang untuk mencari orang-orang hilang di sana dan berusaha juga mengembalikan keadaan bumi seperti dulu. Itulah impian terbesarku, guru."

Mengucapkan semua itu dengan lantang, semangat Naruto menguar dan berkobar. Kakashi semakin tersenyum saja mendengarnya. Ia menepuk pelan puncak rambut Naruto.

"Hahaha ... Baiklah. Berusahalah dengan keras. Jangan kecewakan aku. Hati-hati di jalan. Aku mengandalkanmu, Naruto."

"Ya, itu pasti, guru. Tenang saja. Akan aku buktikan semuanya. Aku akan berhasil. Lihat saja nanti."

Tekad semangat Naruto menggebu-gebu. Kakashi menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Aku percaya padamu, Naruto. Aku yakin kamu bisa melakukannya bersama teman-temanmu nantinya. Aku doakan semoga kalian berhasil."

Tawa Naruto semakin mengembang saja. Kakashi manggut-manggut. Tangannya masih saja memegang puncak kepala Naruto. Ia bangga karena memiliki murid yang bersemangat dan selalu bersikap ceria walaupun yang terjadi seperti Naruto. Naruto memang mirip dengan ayahnya. Itu memang benar.

Begitulah interaksi Naruto dengan orang-orang terdekatnya. Begitu juga dengan para Seeker lainnya.

Mereka sedang melepaskan pertemuan yang terakhir pada keluarga masing-masing. Keluarga mereka tampak sedih dan berat melepaskan mereka yang akan pergi ke planet hitam. Suasana menjadi haru bercampur sedih. Seperti yang dialami oleh Rias dan keluarganya.

Ayah Rias yang bernama Gremory Lord, seorang ilmuwan yang menciptakan Power Ball itu, memeluk Rias dengan erat dan memberikan sebuah nasehat.

"Hati-hati di jalan, Rias. Ayah mengandalkanmu. Carilah orang-orang yang hilang itu di sana. Ayah percaya kamu bisa melakukannya. Jangan ragu ataupun takut. Beranikan dirimu. Inilah waktunya kamu membuktikan kalau kamu bisa menjadi penerus keluarga Gremory nantinya. Jadilah pilot yang hebat seperti ibumu ini."

"Iya, Yah. Aku mengerti. Aku akan selalu mengingat semua kata-kata Ayah ini."

Mereka pun melepaskan pelukan masing-masing. Ayah dan anak saling tersenyum di saat-saat sedih seperti ini.

Gremory Vanelana, ibu Rias yang berambut coklat. Giliran dirinya yang memeluk Rias. Rias membalas pelukan ibunya.

"Ibu ..."

"Doa ibu bersamamu, Rias. Ingat pesan ibu. Tetaplah bersikap tenang walaupun terjadi. Bantulah teman-temanmu. Saling mendukung dan saling membantu di keadaan sesulit apapun. Jadikan Power Ball sebagai partnert yang akan selalu membuatmu berani. Frenklin akan selalu menemanimu di sana. Kamu mengerti?"

"Ya, aku mengerti. Hiks ... Hiks ..."

Rias menitikkan air matanya saking sedihnya karena akan berpisah dengan ibunya. Terlebih juga ada kakak laki-lakinya yang bernama Gremory Sirzech dan kakak iparnya yang bernama Gremory Grafiya juga ikut datang melepaskan kepergiannya. Semuanya ikut menyaksikan Rias yang akan berangkat bersama para Seeker lainnya ke planet hitam, tak lama lagi.

Semuanya sedang sedih. Titik fokus kali ini tertancap pada Issei. Issei yang sedang berpamitan dengan Ayahnya.

"Ayah, aku pergi. Doakan aku selamat setelah menyelesaikan semuanya. Karena ini adalah misi penting, aku akan menjalani semuanya dengan sungguh-sungguh. Power Ball-ku, Ddraig yang akan menemaniku. Juga semua temanku. Mereka semua sudah siap untuk saling mendukung dan membantuku. Aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi pilot yang hebat seperti Ayah dan Ibu. Aku pasti akan menyelesaikannya dengan kekuatanku sendiri dan kekuatan dari semuanya. Aku pergi. Jaga diri Ayah dengan baik selama aku pergi. Jangan terlalu fokus pada penemuan Ayah. Jaga kesehatan Ayah ya."

Sang Ayah pun terpaku mendengarnya. Ia menyipitkan kedua matanya yang sayu di balik kacamata digital miliknya. Wajah dan penampilannya hampir mirip dengan Issei. Dialah yang menciptakan Power Ball Issei itu bersama para ilmuwan lainnya, saat Issei masih bayi. Ibu Issei sudah lama meninggal dunia sejak melahirkan Issei. Jadi, cuma Ayah yang menjadi orang tua satu-satunya buat Issei. Tidak ada yang lain.

Lantas sang Ayah memegang bahu Issei. Ia tersenyum simpul.

"Ya, Ayah akan mendoakanmu. Hati-hati di jalan, nak. Ayah bisa menjaga diri Ayah sendiri. Jangan khawatir."

"Ayah ..."

Issei pun memeluk Ayahnya. Ayahnya pun membalas pelukan Issei.

Suasana semakin menyedihkan. Ditambah dengan interaksi Gaara dan Pamannya. Hinata dengan kakaknya yaitu Neji. Koneko yang berpelukan dengan ibu dan Kuroka. Kiba yang mencium tangan kedua orang tuanya. Shikamaru yang sedang berbicara dengan Ayahnya. Akeno yang berpamitan dengan kedua orang tuanya. Irina yang sedang berpelukan dengan ibunya. Sakura yang juga berpelukan dengan kedua orang tuanya. Terakhir adalah Sasuke yang sedang berpamitan dengan Itachi dan Orochimaru.

"Hati-hati di jalan, Sasuke!" sahut Orochimaru.

"Jaga dirimu di sana, adikku. Semoga kamu bertemu dengan Ayah dan Ibu di sana," tambah Itachi.

Sasuke mengangguk mantap. Ia tersenyum simpul.

"Hn, doakan aku, Itachi, Kakek Orochimaru."

"Ya, kami akan selalu mendoakanmu, Sasuke."

Orochimaru yang menjawabnya. Sasuke mengangguk sekali lagi dengan perasaan yang mantap.

Saat yang bersamaan, terdengarlah instruksi dari ruang kendali. Suara yang menggema lewat loudspeaker berdesain futuristik dan canggih, dari berbagai sudut strategis.

["PERHATIAN, BAGI PARA ANGGOTA 12 SEEKER HARAP SEGERA MASUK KE DALAM PESAWAT INDUK SEKARANG. WAKTU KEBERANGKATAN LIMA MENIT LAGI. TERIMA KASIH."]

Para Seeker pun tersentak mendengar seruan yang menggema di basement yang berbentuk futuristik dengan tinggi langit-langit sekitar 25 meter. Seruan seorang gadis yang berasal dari ruang kendali.

"Sudah saatnya," Naruto segera bergegas melangkah sambil melihat ke arah Kakashi, Tsunade dan Jiraiya."Sampai jumpa semuanya. Aku pergi dulu."

Kakashi, Tsunade dan Jiraiya mengangguk bersamaan.

"Sampai jumpa lagi, Naruto. Jaga dirimu di sana ya."

"Ya, nenek."

Naruto tersenyum lebar untuk terakhir kalinya. Segera berlari kencang meninggalkan orang-orang terdekatnya itu.

Lalu interaksi Koneko dengan keluarganya.

"Aku pergi!" sahut Koneko pada ibu dan kakaknya.

"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Hati-hati Koneko," jawab sang ibu menangis tersedu-sedu bersama Kuroka yang memeluknya dari samping.

Koneko melambaikan tangannya untuk terakhir kalinya kepada ibu dan kakaknya. Mereka membalas lambaian tangan Koneko itu.

Semua anggota 12 Seeker segera memasuki pesawat induk masing-masing. Mereka juga mengeluarkan Power Ball dari soket masing-masing. Mereka pun bergabung dalam satu tubuh dengan Power Ball. Menjadi sosok berpakaian armor besi yang berkekuatan elemen disebut dengan Seeker.

Sesuai dengan instruksi saat uji coba latihan simulator, mereka melakukan langkah-langkah awal cara mengendarai pesawat dengan benar. Seperti duduk di depan dashboard masing-masing, memakai sabuk pengaman dan bersiap untuk mendengarkan instruksi selanjutnya dari komunikasi yang terpasang di earset pada helmet mereka.

Tiga menit lagi sebelum menghidupkan mesin pesawat, mereka benar-benar diliputi perasaan yang tidak menentu. Antara tegang, takut, panik, senang dan berani. Inilah saatnya untuk pergi melakukan ekspedisi ke planet hitam. Tinggal hitungan beberapa menit.

Di pesawat induk Land SS, Naruto dan teman-temannya juga bersiap-siap mendengar instruksi selanjutnya dari tim kendali dan monitoring. Mereka pun berkomentar sebentar.

"Aku benar-benar tegang," ujar Irina.

"Sama," balas Koneko yang duduk di sebelahnya."Tapi, kita harus menghadapinya. Kita akan selalu bersama, Irina. Jangan takut. Semua teman juga merasakan hal yang sama dengan kita."

"Begitukah?"

Pandangan Irina menyudut ke arah Koneko. Koneko yang sekarang berpakaian armor besi berwarna biru dengan helmet berbentuk kucing. Ia mengacungkan jempolnya untuk Irina yang berpakaian armor besi berwarna orange dengan helmet berbentuk singa. Irina pun menganggup mantap.

"Hm, kamu benar, Koneko," lanjut Irina kemudian.

Lalu terjadilah percakapan antara Naruto dan Sasuke.

"Siap Dobe? Jangan malukan aku."

"Kau meledekku, Teme? Tenang saja, aku bisa diandalkan. Akukan pilot yang hebat."

"Oh ya? Coba buktikan setelah dimulainya penerbangan sesungguhnya ini."

"Oke, siapa takut."

Tinggal dua menit lagi.

Di dalam pesawat induk Air SS, Sakura dan ketiga teman lainnya juga tegang. Sakura yang berpakaian armor besi berwarna merah muda dengan helmet berbentuk burung cendrawasih, berperan sebagai pilot utama. Dia memegang kemudi dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia berkeringat dingin di balik kostum mecha-nya.

["Sakura, tenang saja. Aku bersamamu. Jangan takut jika kamu menerbangkan pesawat ini."]

Terdengar suara lembut seperti suara gadis di telinga Sakura. Itulah suara dari Power Ball milik Sakura yaitu Momoka.

Sakura tersenyum.

"Ya, Momoka."

Hinata yang juga memperhatikan Sakura. Ia juga tegang. Tapi, didukung oleh Shusenju. Rias dan Issei juga begitu. Semuanya menunggu perintah dengan hati yang was-was.

Satu menit.

Keringat dingin dan perasaan memuncak mewarnai suasana di dalam pesawat induk Aqua SS, yang dikendarai oleh kelompok Shikamaru. Semuanya terdiam dan tidak ada yang saling berbicara lagi.

'Ayah ... Ibu ... Aku akan datang mencari kalian. Tunggu saja aku di sana ...,' batin Gaara yang berpakaian armor berwarna hitam bercampur biru laut dengan helmet berbentuk kura-kura.

Lima menit pun berlalu. Terdengarlah seruan lagi.

["SAATNYA DIMULAI KEBERANGKATAN PESAWAT INDUK. SEMUA ANGGOTA 12 SEEKER, BERSIAPLAH UNTUK LEPAS LANDAS. DALAM HITUNGAN MUNDUR DARI SEPULUH. DIMULAI ..."]

Para Seeker menghidupkan tombol ON pada dashboard masing-masing. Seluruh sistem mesin dan lampu pun menyala serta menerangi seluruh sudut pesawat.

["SEPULUH ... SEMBILAN ..."]

Layar proyektor beserta keyboard digital muncul di atas dashboard masing-masing. Para Seeker bersiap-siap untuk lepas landas.

["DELAPAN ... TUJUH ... ENAM ... LIMA ... EMPAT ... TIGA ... DUA ... SATU ... WALK!"]

Para pilot utama menekan tombol "WALK" pada dahsboard lalu menarik kemudi seperti huruf T ke arah depan.

SWIIIING!

Tiga pesawat induk mulai berjalan menyusuri jalan lintasan masing-masing secara bersamaan. Pelan-pelan. Semakin lama semakin kencang dan menemukan pintu keluar yang bercahaya terang. Lintasan terpotong saat hampir mendekati keluar basement.

Tiba saatnya tugas para asisten pilot, menekan tombol "FLY" pada dashboard pesawat.

Pada ekor pesawat, keluarlah pelepasan cahaya energi turbo pendorong. Membuat pesawat bergerak semakin cepat dan mulai terbang mengambang, meninggalkan jalan lintasan. Kemudian menukik ke atas, bersamaan diaktifkan mode GHOST agar menjadi transparan dan tidak terdeteksi oleh radar sensor Pihak Luar Angkasa. Pihak Luar Angkasa yang merupakan organisasi pertahanan dan perlindungan bulan.

Ketiga pesawat induk terbang menukik ke atas dengan mulus. Terbang transparan atau tidak terlihat menuju ke arah planet hitam. Berkecepatan sedang dan mulai menembus bola cuaca yang memagari bulan. Bola cuaca itu terbuka saat petugas PEB yang membukanya. Sebab ada petugas pengamat cuaca bulan yang bekerja sama dengan PEB sehingga tiga pesawat induk 12 Seeker sukses keluar tanpa menabrak bola cuaca tersebut. Akhirnya tiga pesawat itu terbang bebas ke luar angkasa, tepatnya ke arah planet hitam atau bumi itu.

Para 12 Seeker sudah memulai petualangannya ke planet hitam. Semua orang yang ditinggalkan, berharap banyak pada mereka agar bisa menjalani rencana ekspedisi ini dengan baik. Mereka bisa menemukan orang-orang yang hilang di planet hitam sejak 16 tahun yang lalu. Semoga keadaan mereka baik-baik saja dan selamat tanpa hambatan yang menghadang perjalanan mereka di planet hitam.

Itulah doa yang menjelma di hati setiap orang yang berada di basement markas PEB itu. Para 12 Seeker berjuanglah sampai akhir!

.

.

.

SPACE, XXX

Tiga pesawat berukuran 6 meter sedang melaju secara beriringan di ruangan gelap yang penuh hampa. Titik-titik bercahaya yang berjarak sangat jauh, menghiasi pemandangan angkasa yang gelap gulita. Bunyi halus ketiga pesawat yang dikendarai para 12 Seeker memecahkan keadaan ruangan yang tidak memiliki udara sama sekali ini. Para 12 Seeker sedang memusatkan perhatian dan berkonsentrasi untuk mendengarkan instruksi dari tim kendali dan monitoring di markas PEB. Mengarahkan dan mengawasi perjalanan mereka sebelum mencapai orbit planet hitam atau planet bumi. Kini perjalanan mereka hampir mendekati orbit planet hitam. Para tim pemantau PEB terus mengawasi mereka melalui sensor pelacak dan kamera peliput yang didapat dari 12 Dragonfly. Para robot capung sedang terbang mengambang di sekitar para Seeker dan merekam segala aktifitas para Seeker. Lalu mengirim gambar rekaman itu melalui Dragonfly 000 milik Kakashi, yang kini berada di ruang monitoring. Di mana Kakashi dan para anggota PEB sedang memantau pergerakan 12 Seeker itu, lewat monitor-monitor udara yang mengambang di atas dashboard ruang monitoring.

Di pesawat Land SS, terlihat Sasuke yang fokus mengendarai pesawat secara penuh. Sasuke mengenakan pakaian armor berwarna merah dengan helmet berbentuk harimau. Di depan matanya, planet hitam seperti bulatan kecil. Sebentar lagi mereka akan mencapai orbit planet hitam.

"Kita hampir sampai ke planet hitam, teman-teman," ucap Sasuke yang sangat tegas."Persiapkan diri kalian sebaik-baiknya. Tak lama lagi kita akan memasuki orbit planet hitam. Irina, apa ada tanda-tanda mencurigakan yang mendekati pesawat kita?"

Irina yang duduk di belakang Sasuke, menjawabnya langsung sambil mengamati layar monitor udara dengan seksama.

"Tidak ada, Sasuke."

"Hn, berarti aman."

Sasuke tersenyum simpul di balik helmetnya. Ia pun menekan beberapa tombol pada keyboard digital di depannya. Muncul dua layar yang lain di depan monitor udara. Dua layar lain yang menampilkan gambar Sakura dan Shikamaru.

["Hei, Sasuke. Ada apa?"] tanya Sakura dari dalam layar itu.

Sasuke menatap dua layar itu bersamaan.

"Pilot utama, kalian berdua harus terbang di samping kami. Kita terbang beriringan. Jangan berjauhan saat memasuki orbit planet hitam."

["Siap, kapten!"] sahut Sakura dan Shikamaru bersamaan.

Tangan kiri Sasuke menekan tombol keyboard digital lagi. Dua layar yang menghimpit layar utama itu menghilang. Kembali tangan Sasuke memegang kemudi huruf T itu dengan erat.

"Teman-teman, bersiaplah! Sebentar lagi kita akan memasuki orbit planet hitam. Kemungkinan kita akan kehilangan kontak komunikasi dan radar sensor dari markas PEB. Kita tidak bisa dipantau lagi oleh tim PEB. Jadi, setelah masuk orbit planet hitam, keselamatan dan pemantauan adalah tanggung jawabku. Aku pastikan kalian selamat dan teruslah bersama. Jangan berpisah. Apakah kalian mengerti?"

Perkataan Sasuke direkam oleh Dragonfly 001 miliknya, yang terbang di dekatnya. Lalu rekaman perkataan Sasuke disiarkan ke seluruh jaringan komunikasi telepati pada Dragonfly-Dragonfly lainnya. Sehingga terdengar oleh para Seeker lainnya dan para anggota PEB yang sedang memantau. Mereka pun tersenyum mendengar perkataan Sasuke itu.

"Hm, baiklah, kapten!" kata Issei yang tersenyum simpul. Ia berada di dalam pesawat Air SS. Issei berpakaian armor berwarna merah kehijauan dengan helmet berbentuk naga terbang.

"Sebentar lagi kita akan masuk orbit planet hitam," ujar Rias yang duduk di sebelah Issei. Rias berpakaian armor berwarna kuning dengan helmet berbentuk kelelawar. Ia merasa was-was sekarang.

Issei melirik ke arah Rias.

"Apa kamu merasa takut, Rias?"

Rias pun melirik Issei.

"Sedikit."

Senyuman terukir di wajah Issei, yang tersembunyi di balik helmetnya.

"Tenang saja. Tidak usah takut. Kita akan selalu bersama. Aku yang akan melindungimu nanti, Rias."

Rias menjadi diam mendengar perkataan Issei. Rona merah tipis hinggap di dua pipinya sekarang. Namun, tidak diketahui oleh Issei karena wajah Rias yang kemerahan dihalangi oleh helmet. Jadi, Rias juga tidak tahu bagaimana ekspresi wajah Issei sekarang. Mereka sudah menjadi sosok ksatria berpakaian serba mecha seperti Kamen Rider atau Gransaizer. Begitulah kira-kira gambaran sosok para 12 Seeker sekarang.

Lantas Rias menarik pandangannya kembali ke depan layar. Ia pun menjawab perkataan Issei itu dengan perasaan yang berdebar-debar.

"Terima kasih, Issei. Tapi, aku bisa melindungi diriku sendiri. Ada parnert-ku, Frenklin, yang akan melindungiku. Itu benarkan, Frenklin?"

Helmet yang berbentuk kepala kelelawar itu memasang ekspresi senang, dapat dilihat dari dua matanya yang membentuk tanda segitiga tanpa garis di bawahnya.

["Ya, itu benar. Akulah yang akan melindungi Rias. Kamu tidak perlu repot begitu, Issei."]

Menghelakan napasnya yang begitu berat, Issei mencoba tersenyum.

"Ya, aku mengerti."

["Jangan pikirkan hal pribadi seperti saat ini, Issei. Kau harus fokus pada ekspedisi ini. Keselamatanmu adalah tanggung jawabku."] Bahkan Ddraig juga ikut andil dalam percakapan ini. Issei hanya tersenyum kikuk.

"Hehehe ... Iya, Ddraig."

"HEI, KALIAN BERDUA DI BELAKANG! HENTIKAN OBROLAN KALIAN! KITA AKAN MEMASUKI ORBIT PLANET HITAM. BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI KEMUNGKINAN YANG TERJADI. MENGERTI?" seru Sakura tiba-tiba dengan keras sehingga membuat Rias dan semuanya kaget.

Semuanya pun membalas perkataan Sakura itu.

"MENGERTI!"

Hal yang sama terjadi di pesawat Aqua SS. Shikamaru dan kelompoknya pun bersiap untuk mendekati planet hitam. Perjalanan mereka tidak ada kendala. Mulus tanpa ada gangguan dari sesuatu yang asing. Semuanya merasa was-was, tegang dan penasaran.

"SEMUANYA, KITA HAMPIR SAMPAI DI ORBIT PLANET HITAM. TETAP FOKUS DAN TETAP KONSENTRASI. BERDOA AGAR KITA SELAMAT MENEMPUH ATMOSFIR PLANET HITAM YANG DIPENUHI KABUT HITAM TEBAL INI. SEMUANYAAAAAA! PEGANGAN PADA KENDALI MASING-MASING!" teriak Shikamaru menggelegar saat mengendarai pesawat dengan kecepatan penuh bersamaan dua pesawat terbang di dua sisinya.

WHUUUSSSSH!

SWIIIIIIING!

Gambaran di beberapa monitor yang terpasang di ruang monitoring markas PEB, mendadak menghilang dan digantikan dengan gambar hitam yang bersemut-semut. Para anggota PEB di tempat itu, terdiam sejenak. Ada Kakashi juga di sana. Ia berdiri di dekat seorang petugas yang memantau pergerakan penerbangan para 12 Seeker. Wajahnya datar seketika.

Hening.

Hening hanya sedetik. Kemudian berbagai suara memecahkan keheningan yang terjadi di ruangan itu. Semua orang panik, cemas dan ketakutan.

"GAWAT!"

"KITA KEHILANGAN KONTAK KOMUNIKASI DENGAN MEREKA. RADAR SENSOR JUGA MENGHILANG DARI MONITOR-MONITOR PEMANTAU."

"SIAL! INI SAMA SAJA DENGAN KEJADIAN ENAM BELAS TAHUN YANG LALU DI MANA ROMBONGAN PESAWAT PROFESSOR MINATO JUGA KEHILANGAN KONTAK DENGAN KITA."

"KINI TERJADI LAGI DENGAN PARA 12 SEEKER ITU!"

"BAGAIMANA SEKARANG?"

"AKU TIDAK TAHU."

"KOMANDAN KAKASHI! BAGAIMANA INI? APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?"

Semua orang bertanya-tanya pada Kakashi. Semua mata tertuju padanya. Dengan sikap yang tenang, Kakashi memperhatikan semua orang di tempat itu.

"Tenang saja. Mereka akan baik-baik saja di sana. Mereka akan aman bersama Power Ball masing-masing. Lagipula tiga pesawat induk itu adalah sosok robot petarung yang dibuat berdasarkan klasifikasi jenis Power Ball yang diciptakan oleh 12 ilmuwan itu. Walaupun kemungkinan tiga pesawat itu akan mengalami mesin mati saat berada di atmosfir planet hitam yang dipenuhi kabut hitam tebal. Tapi, ada jalan keluar untuk mengatasi semua itu. Aku menyerahkan semuanya pada Power Ball dan juga para Dragonfly ciptaanku, untuk menuntun para Seeker melewati semua bahaya di dalam planet hitam itu. Para robot capung ciptaanku akan mengirim komunikasi lewat telepati di dunia digital mengenai aktifitas mereka selama di planet hitam. Jadi, kita bisa mendapatkan kabar terbaru mereka melalui Dragonfly 000. Dragonfly 000 akan menyiarkan kabar terbaru di ruang monitoring ini. Kalian tidak usah cemas lagi. Semuanya akan berjalan dengan lancar. Percayalah padaku."

Semua orang terpaku mendengarkannya. Kakashi memperhatikan wajah setiap orang satu persatu.

"Jika begitu kenyataannya, aku senang mendengarnya, Komandan Kakashi," tukas Iruka."Semoga para Seeker mampu mengatasi semuanya dengan baik."

"Ya, itu benar. Sasuke pasti bisa memimpin dan memberikan semangat penuh buat teman-temannya. Dialah yang menjadi tanggung jawab atas keselamatan teman-temannya. Apa kalian tidak mendengar itu?" papar Itachi.

"Ya, kami dengar itu, Itachi. Kami percaya pada kepemimpinan Sasuke yang bertindak sebagai penyemangat para anggotanya. Semoga mereka baik-baik saja dan selamat sampai di permukaan planet hitam," kata beberapa orang. Semuanya mengangguk dan tersenyum sedikit mendengarkan perkataan Itachi tadi.

Semuanya saling bersahut-sahutan dengan perasaan yang sedikit lega. Meskipun begitu, mereka masih cemas dengan keadaan para anggota 12 Seeker itu. Entah bagaimana nasib mereka setelah berhasil masuk ke dalam kabut hitam yang memayungi planet hitam itu.

Pria berambut putih itu, melirik ke arah sampingnya. Di mana ada sebuah robot berbentuk capung berukuran lebih besar. Kira-kira sebesar kepalan tangan. Tubuhnya berwarna hijau. Namanya Dragonfly 000.

"Dragonfly 000, tetaplah aktif dan otomatis masuk ke dunia digital setelah mendapatkan pesan komunikasi telepati dari Dragonfly yang lain. Beritahu aku jika kau mendapatkan kabar terbaru dari mereka."

"Oke, Kakashi," robot capung itu bisa berbicara dengan nada suara yang agak berat.

Kakashi pun mengangguk mantap sambil menepuk pelan robot capung yang terbang melayang-layang di sampingnya.

"Bagus, Dragonfly 000. Aku mengandalkanmu."

Robot itu manggut-manggut. Ia pun memperhatikan keadaan semua orang yang sedang sibuk sendiri. Kedua matanya yang berwarna merah mengedipkan sinar putih berkali-kali.

'Para Dragonfly, apakah kalian bisa mendengarku? Jika kalian mendengarku, maka temuilah aku di dunia digital sekarang. Pesan dari server pusat, Dragonfly 000.'

Itulah suara pikiran dari Dragonfly 000. Ia sedang mengirim pesan komunikasi telepati melalui dunia digital. Jadi, pesan itu bisa terbaca oleh para Dragonfly yang sedang bersama para Seeker. Semoga mereka menyadari adanya pesan itu.

Diam-diam, di antara para anggota PEB yang sedang bersahut-sahutan di tempat itu, tampak seorang gadis berambut biru pendek yang berdiri di belakang orang-orang tersebut. Dia bertugas untuk memantau pergerakan para 12 Seeker. Namanya Xenovia.

Dia tersenyum sinis sambil memperhatikan orang-orang di sana. Kedua matanya menyipit tajam.

'Manusia Orion. Para 12 Seeker, mereka sudah datang untuk menyusup ke planet hitam. Di mana manusia Vega hidup di dalam kabut hitam. Kami sudah mengetahui kedatangan kalian, para 12 Seeker. Bersiaplah untuk menghadapi serangan dari kami di sana. Kalian akan kami tangkap. Lihat saja nanti. Khukhukhu ...,' batin Xenovia di dalam hatinya.

Jadi, siapakah Xenovia sebenarnya? Apa hubungannya dengan manusia Vega? Seperti apakah bentuk manusia Vega itu?

Nantikanlah petualangan sesungguhnya di planet hitam itu.

Rencana awal ekspedisi berubah menjadi pertempuran dan bertahan hidup. Di sinilah kekuatan Power Ball menampakkan ketangguhannya bersama parnert masing-masing.

Lihat saja. Kami akan merebut bumi kembali!

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

CHAPTER 9 UPDATE!

Yeaaaah, petualangan di planet hitam dimulai di chapter 9 ini. Para 12 Seeker sudah masuk ke orbit planet hitam. Semua komunikasi dan radar sensor pun terputus setelah pesawat mereka masuk ke kabut hitam di orbit planet bumi. Jadi, bagaimana nasib Naruto dan teman-temannya setelah ini?

Saksikan kelanjutan cerita ini di chapter 10.

Terima kasih dan jangan lupa review ya.

TERTANDA

HIKASYA

Rabu, 26 Januari 2016