A Thousand Candles

-Biancadeo-

Chapter 9


Takdir menciptakan semua hal tabu menjadi sebuah pembenaran. Ketika semua kelabu menjadikan sinar lebih terang, musim terus berganti dan sungai menemukan muara, lelaki itu menciptakan satu mimpi yang dianggapnya imajinasi belaka. Sebuah hal nyata bagai mimpi indah. Karena melihatnya keluar dari negeri dongeng cukup untuk menemukan fakta bahwa kenyataan masihlah jauh diujung. Lilin itu bahkan terus menyala terang ketika sumbunya mulai melebur, mengantarkan satu lagi nyawa yang ditelan oleh takdir. Menurut Kyungsoo takdir terus mencari mangsa baru, menurut Jongin takdir adalah lilin yang tak kan pernah padam. Karena takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara milik tuhan.


Sungguh, tanpa Kyungsoo tau bocah ini juga tengah menahan tangisnya. Mencoba menuai banyak rekah senyum bahagia dengan paksa yang menyakitkan. Ia hanya ingin berkata bahwa selama ini cahayanya adalah Kyungsoo. Jongin tidak bodoh untuk menyadari perpisahan yang akan memisahkan kelak. Jongin sepenuhnya sadar bahwa mereka tidak bisa selalu berangkat kuliah bersama, atau saling memasak bersama, atau meributkan suatu hal setiap pagi hari atau melakukan hal manis bersama-sama. Lelaki yang lebih muda sudah paham, dirinya memang tidak tahu-menahu mengenai apa keputusan Kyungsoo selanjutnya, namun Jongin meyakini satu hal. Ia tidak bisa bersama Kyungsoo.


Ini adalah hari Sabtu.

Terik sudah sampai pada kelopak manik Jongin, namun lelaki itu bahkan terlalu takut untuk sekedar membuka mata. Demi tuhan, hari ini adalah hari dimana ia akan menghabiskan seharian penuh dengan Kyungsoo. Hatinya terasa sakit sejak semalam. Maniknya terpejam gusar dengan tangan tergenggam erat. Ia takut, sungguh Jongin tidak tahu menahu lagi bagaimana cara hidup tanpa sosok Kyungsoo.

Ketika itu Jongin merasa ruang disebelahnya tergerak pelan. Telapak Jongin yang tergenggam tiba-tiba menghangat, Kyungsoo membalut lembut telapak lelaki yang tertidur. Bau sperma masih memenuhi ruangan, mereka bercinta hebat semalam. Kyungsoo sangat pandai diranjang, dan Jongin harus mengakui satu fakta itu.

"aku sangat tahu kau bahkan tidak tidur" lelaki yang lebih tua berkata. Ia terkekeh pelan melihat Jongin membuka maniknya perlahan. Lelaki itu menatap Kyungsoo dengan sayu.

Kembali Kyungsoo mengingat betapa menggiurkan keadaan Jongin semalam. Bagaimana tubuh itu terus bergerak gelisah dibawahnya atau bagaimana lubangnya menelan habis penis Kyungsoo atau bagaimana bibir hati Kyungsoo meraup semua milik Jongin, menciumi setiap inci tubuh lelaki itu, membuatnya terus mengerang erotis.

Jongin membangunkan tubuhnya dengan pelan, sedikit tersentak dengan sakit yang menyerang bagian bawahnya. Ah, dirinya bahkan sudah lupa kali keberapa Kyungsoo memasukan miliknya berulang kedalam lubang Jongin. Tak terhitung, atau bahkan mereka tak ingin menghitungnya. Karena tentu saja, Jongin akan dengan senang hati menyimpan penuh milik Kyungsoo didalam hangat lubangnya.

"aku tidak ingin membuang waktu sedetikpun hari ini Jongin. Ayo kita bersenang-senang" lanjut Kyungsoo ketika dirasa Jongin enggan berbicara barang sepatah katapun.

Tanpa aba-aba Jongin menegakkan lututnya, perlahan turun menapaki telapak kaki pada marmer sebelum setelahnya beranjak mandi. Jongin menaruh perhatian penuh pada sosok didepan cermin. Dirinya dengan berlinang air mata. Ia memutar keran air dengan keras dan menangis. Dilihatnya garis hitam itu benar-benar telah menjadi abu. Seakan luntur bersamaan dengan air. Jongin kacau tentu saja, tapi ia tetap harus merekah senyum setulus mungkin untuk Kyungsoo. Untuk mereka. Karena Jongin yakin Kyungsoo miliknya seorang, dan laki-laki itu akan kembali meski sejauh apapun ia melangkah.


Kedua tangan saling bertaut dengan rekah senyum diwajah masing-masing, menandakan bahwa dua insan itu sedang bahagia. Hari ini untuk kali pertama Kyungsoo sungguh ingin hidup, terus menikmati matahari pagi bersama Jongin sampai bercinta panas setiap malam. Mangamati bagaimana perkembangan anak itu sampai kulitnya mengeriput. Lengkung bibir Jongin lebih indah dari apapun. Ia begitu menyukai Jongin lebih dari seluruh daftar kesukaannya.

Ini adalah kali pertama si dewasa Kyungsoo berubah menjadi bocah. Benar-benar bocah dalam artian sesungguhnya. Laki-laki itu begitu imut dengan permen kapas disebelah kanan. Sejak awal Kyungsoo selalu merengek kepada Jongin, menarik ujung kaosnya kesana kemari, membeli berbagai macam barang lucu sampai melompat riang ketika berhasil menggeret Jongin menaiki komedi putar. Bayangkan, seorang Kim Jongin menaiki komedi putar bersama seorang yang menggemaskan lengkap dengan serpihan permen kapas disekitar bibir.

Menurut Jongin, mungkin ini lah sosok Kyungsoo. Bukan Kyungsoo yang dingin dan dewasa, melainkan Kyungsoo yang periang juga kekanakan. Sejak awal, Jongin selalu beranggapan senyum Kyungsoo begitu mati. Hambar meskipun indah dipandang. Namun saat ini, senyum laki-laki itu begitu hidup, seperti musim semi dengan rias bunga mekar.

"Jongin, dimana kita bisa melihat kembang api nanti malam?" tanya Kyungsoo. Sungguh saat ini Jongin menahan tawa, tingkah Kyungsoo begitu menggemaskan. Bahkan pipi pucatnya sudah merona merah pertanda udara dingin.

"kita beli saja hyung. Tidak ada perayaan apapun hari ini, jadi sepertinya tidak ada kembang api"

"ah begitu, baiklah. Jadi— dimana kita bisa membelinya?"

"kau tunggu disini, akan kubelikan"

Ketika melihat punggung Jongin menjauh, lutut Kyungsoo melemas. Ia mendudukan dirinya pada kursi terdekat, menarik nafas panjang kemudian dihembuskan perlahan. Sungging itu memudar, nyaris tak terlihat lagi. Maniknya mengamati sekitar. Esok hari— tidak, beberapa jam lagi ia benar-benar akan membuat keputusan. Berpisah dengan Jongin jelas adalah mutlak. Miris, bagaimana ia bahkan kini menangis hanya dengan membayangkan senyum Jongin, betapa dirinya terisak hanya dengan mengingat tawa Jongin. Hari ini, melihat bias wajah itu sungguh membuat Kyungsoo kalut. Lelaki pucat itu tidak ingin pergi, ia pasti akan sangat merindukan Jongin.


Ada banyak warna dilangit. Merah, jingga, kuning hingga orange berpadu dengan kelabu. Suara nyaring kembang api memenuhi gendang telinga. Keduanya duduk bersampingan diatas rerumputan tua. Padang rumput si saksi bisu pertemuan mereka kali pertama. Tangan saling bertaut, berbagi kehangatan satu dengan lain. Lelaki yang lebih tua sesekali berteriak girang ketika cahaya kembang api kembali memenuhi langit gelap. Sementara Jongin, ia sibuk mengamati objek disamping. Berusaha menanam dengan baik bagaimana pahat rupa ini. Berdoa pada tuhan agar seumur hidupnya, ia tidak akan melupakan seincipun wajah Kyungsoo. Kulit seputih susu, kedua pipi dengan rona merah samar, bulu mata nan lentik berpadu dengan binar manik paling indah kemudian bibir ranum dengan bentuk hati ketika mengumbar tawa. Ketika manik Jongin menaruh perhatian lebih penuh, air mata itu menetes. Air mata Kyungsoo keluar dari pelupuknya. Namun lelaki itu tetap tertawa dengan girang menatap sayu kembang api yang masih betah memperlihatkan warna lain.

Kyungsoo tidak sanggup lagi menahan semuanya ketika anak itu terus menaruh fokus terhadapnya. Tanpa aba-aba, ia menangis. Maka, tepat ketika langit kembali gelap. Ketika semua warna api itu hilang, Kyungsoo menoleh. Manik berairnya menangkap manik pilu yang lebih muda.

"kau ingat, disini kali pertama kita bertemu" Kata yang lebih tua. Ada sedikit keheningan yang menyeruak ketika Jongin manatap lama manik Kyungsoo, sebelum akhirnya lelaki yang lebih muda menjawab

"ya, disini kali pertama aku menyapamu. Kau tau waktu aku sedikit takut padamu" mendengar penuturan Jongin, Kyungsoo mengernyit heran, kemudian terkekeh pelan.

"kenapa kau takut, apa aku terlihat menakutkan?"

"tentu saja, kau hanya diam disana setiap saat dan itu membuatku takut. Tapi— kau tau, saat ini aku jauh lebih takut hyung"

Bunyi surai rerumputan yang bermain dengan angin kini mendominasi suasana. Jongin memilih diam, mengenang bagaimana awal mula pertemuan mereka. Hening kembali muncul kepermukaan sebelum akhirnya Kyungsoo kembali berucap

"kau tau Jongin, ini adalah akhirnya" katanya. Sungguh seperti sebilah pisau tajam menguhunus tepat sasaran, membuat Kyungsoo meringis sakit pada hati terdalam. Hanya pilu yang tersirat pada nada serak Kyungsoo ketika berucap.

Jongin mengeratkan tautannya. Air mata tidak terbendung, keduanya menangis ditengah gelap malam. Tidak ada isakan, hanya ada tangis dalam diam. Lampu taman membuat Jongin dapat dengan jelas melihat banyak air mata jatuh dari manik pria yang lebih tua.

"kau akan terus mengingatku kan?" Kyungsoo berucap lagi. Dilihatnya Jongin masih diam, lelaki itu terus menjatuhkan air mata tanpa berniat menghapusnya.

"kau harus terus hidup Jongin, jangan sakit. Makan teratur dan kejar semua impianmu"

"impianku adalah bersamamu, aku—"

"maka kejar impianmu yang lain. Karena— karena kau tahu benar kita tidak bisa bersama"

Jongin terisak, lelaki itu memajukan tubuhnya. Menenggelamkan kepala pada dada Kyungsoo. Ia menangis sejadinya. Tak pernah ia merasa sesedih ini, Kyungsoo adalah bahagia utamanya dan selamanya akan seperti itu. Kali ini, ia beranggapan tuhan tidak adil. Takdir tuhan sungguh kejam.

Talapak tangan Kyungsoo meraih kedua pipi Jongin, menegakkan kembali kepalanya. Ketika jari lentik Kyungsoo menghapus air mata dipipi yang lebih muda, Jongin merasa wajah Kyungsoo begitu pucat, semua rona merah itu menghilang.

"ada satu hal yang begitu ingin aku ucapkan saat ini" suara serak Kyungsoo melemah. Jongin masih terisak. Begitu banyak kata, begitu banyak hal yang ingin ia uraikan pada Kyungsoo. Namun Jongin lebih dari tahu, bahwa semua itu tidak akan pernah terurai.

"jongin, dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dari apapun yang aku punya di dunia ini. Aku mencintaimu dengan semua jiwa juga raga, aku akan tetap mencintaimu bahkan jika saat ini tuhan benar-benar memisahkan kita, aku mencintaimu meskipun jiwa ku berada dari jarak terjauh sekali pun, aku mencintaimu dan semua yang tidak bisa aku ucapkan. Aku mencintaimu lebih dari semuanya, hiduplah Jongin. Hidup dengan semua yang kau miliki, tersenyum setiap hari dan jadikan aku sebagai bunga mimpimu yang paling indah"

Jongin mendengar dengan baik semua untaian indah yang keluar dari bibir Kyungsoo. Suara Kyungsoo begitu pilu, begitu menyakitkan, begitu menyedihkan.

"hyung aku juga mencintaimu, aku tidak tahu bagaimana caraku hidup tanpamu dan aku tidak ingin belajar untuk itu. Hyu—" belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya, telapak kanan putih Kyungsoo menutup kedua manik Jongin. Lelaki muda itu masih menangis. Ia menarik tangan Kyungsoo, namun diluar dugaan tangan Kyungsoo jauh lebih kuat menutup kedua manik yang lebih muda. Maka Jongin mengalah, membiarkan telapak itu menutup maniknya. Kini, hanya gelap serta hangat tangan Kyungsoo pada wajah yang dapat Jongin rasa.

"anggap semuanya seperti mimpi— Aku, anggap Do Kyungsoo sebagai mimpimu paling indah. Anggap padang rumput ini, juga rumah tua itu sebagai bagian dari mimpimu. Jangan datang lagi kemari Jongin, jangan kembali pada mimpimu. Kau harus bangun, kau harus hidup"

"Hyung, kumohon jangan pergi"

Tangan Jongin mengenggam tangan kiri Kyungsoo erat. Begitu erat, ia tidak ingin kehilangan Kyungsoo. Kalau saja dirinya mampu, Jongin rela menukar semuanya untuk bisa bersama Kyungsoo. Semuanya, tanpa terkecuali. Namun takdir tuhan tidak memihaknya kali ini.

"ketika kau membuka mata, tidak akan ada lagi kesedihan Jongin, Karena ini hanyalah mimpi. Semuanya hanya mimpi"

Keduanya menangis. Terisak tanpa suara nyaring. Saat itu, Kyungsoo memajukan tubuhnya, menyatukan bibirnya dengan bibir yang lebih muda. Hanya sebatas menempel, terasa manis dan menenangkan. Ciuman basah bercampur dengan banyak air mata. Jongin seketika meronta diantara ciuman mereka.

Dengan gerakan teramat cepat, Kyungsoo merobek pergelangan tangan Jongin, tepat dibawah nadi lelaki yang lebih muda. Ia menyatukan gelang pada pergelangannya dan menarik garis itu keluar dengan paksa. Kala itu, Jongin merasa sesuatu yang besar dan kuat ditarik paksa dari pergelangannya. Tangannya terbujur kaku, namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Begitu cepat dan seluruh tubuhnya menjadi ringan.

Tuhan, beri aku satu kesempatan. Satu saja untuk kembali bersama anak ini. Buatlah satu takdir dimana kami bisa bersama-sama untuk kurun waktu yang lama. Tuhan aku mohon, ini pintaku yang terakhir.

"Jongin, jangan lupakan aku. Hanya ingat aku sebagai mimpimu yang paling indah. Aku mencintaimu, selamat tinggal"

Itu adalah kalimat terakhir Kyungsoo. lelaki putih itu meraup kembali bibir Jongin. melumatnya penuh kasih, tidak memberi sedikitpun Jongin kesempatan untuk meronta.

Hitungan detik, tautan tangan mereka terlepas. Tidak ada lagi hangat tangan Kyungsoo yang menutup kedua maniknya. Jongin meronta begitu hebat ketika menyadari Kyungsoo sudah tidak disana. Rumah tua itu mendadak terang, pertanda semua lilin didalamnya kembali menyala, seakan mengantar serpih kepergian Kyungsoo. Ia menghilang begitu cepat. Melebur bersama angin malam.

Kyungsoo telah menghilang.

Keputusannya adalah menjaga bias cerah Jongin dan membiarkan dirinya bergabung dengan angin malam. Karena harapan terbesar Kyungsoo adalah mengamati Jongin, meskipun dari jarak terjauh sekalipun.

Lutut Jongin melemas, pandangannya memburam. Ia mendapati dirinya kesulitan bernafas. Sebelah tangannya meremas dada, begitu menyakitkan. Rasanya seperti terbakar kemudian mati perlahan. Tidak ada lagi garis abu itu pada pergelangannya. Jongin menemukan gelang Kyungsoo tergeletak diantara surai rumput tua. Gelang perak dengan ukiran berbeda disetiap sisi, hanya ada warna perak.

Jongin kalap, ia berlari sekuat tenaga keluar dari rerumputan. Berlari seperti orang gila, berteriak sembari terus menangis. Tidak peduli dengan hujan yang menguyur setiap inci tubuhnya, lelaki itu berharap bisa menemukan kembali Kyungsoo. Seperti memori terulang, otaknya mulai mengolah semua cerita indah. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan semuanya hanya mimpi? Bagaimana ia dengan mudah mengatakan bahwa dirinya hanyalah khayalan fana?

"KYUNGSOO HYUNG!"

"aku Do Kyungsoo, kau bisa memanggilku Kyungsoo"

"YA! KYUNGSOO!"

"Oh— hai err Jongin. Sudahkah ku katakan padamu aku berkuliah disini?"

"KYUNGSOO HYUNG, KUMOHON KEMBALILAH!"

"Mau menginap ditempatku?"

"YA! DO KYUNGSOO, DIMANA KAU?!"

"percayalah, aku adalah Kyungsoo"

"HYUNG, AKU BERJANJI AKAN MENJADI ANAK YANG BAIK. AKU AKAN BELAJAR MEMASAK DAN TIDAK MEMINTA APAPUN LAGI, KUMOHON KEMBALILAH. KYUNGSOO!"

"bisakah aku mengklaimmu menjadi propertiku— hanya untuk malam ini"

"Aku mohon Kyungsoo hyung. Aku sungguh mencintaimu"

"kau hanya perlu percaya, catat ini. I'm Yours. Absolutely yours"

"aku tidak tau bagaimana caranya agar aku bisa hidup tanpa bayang dirimu" Suara Jongin melemah, bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh tak berdaya dipinggir jalanan beraspal. Membiarkan hujan menghujam seluruh inci tubuh itu. Jongin mencintai Kyungsoo dan itu mutlak. Hanya satu nama yang keluar dari mulut Jongin bahkan ketika kesadarannya telah mencapai batas.

"Kyung—soo hyung. Ku mohon—"

"Jongin, jangan lupakan aku. Hanya ingat aku sebagai mimpimu yang paling indah. Aku mencintaimu, selamat tinggal"


15 Januari 2023

Seorang lelaki dengan tubuh tegap, wajah tampan nan mempesona sibuk dengan kepulan asap kopi juga Koran pagi hari. Si lelaki menggeram kesal tatkala suara langkah kaki juga cakap orang ditelfon membuyarkan konsenterasi, maklum aja otak Jongin tidak pandai membagi sama rata untuk fokus. Lelaki itu memutuskan untuk menyudahi pagi tenangnya, memilih beranjak dari duduk kemudian melangkah menuju gerbang utama tempatnya menanggung hidup. Sebuah Universitas besar dengan penghasil orang-orang hebat. Siapa yang tidak mengenal Jongin ditempat itu, seorang dosen muda dengan wajah tampan bak dewa. Tidak ada pasang mata yang rela mengalihkan pandangan mereka dari Jongin, oh ayolah, tentu saja, siapa yang tidak terpesona dengan seorang Kim Jongin?

Mendudukan diri diruangan, Jongin mendesah lelah tatkala mengingat ada jadwal kuliah pagi yang menanti. Satu kelas dengan mayoritas wanita membuat kepalanya pening, mereka akan berteriak, berebut bahkan mengerling nakal kearahnya. Benar-benar mahasiswi tidak tahu aturan.

Tangan besar itu hendak membuka laci bawah berniat mencari penanya yang hilang entah kemana, manik Jongin mengernyit ketika menemukan satu kertas foto didalam laci. Sebuah foto lama dengan lusuh diseluruh tepi, menampilkan dua orang yang sibuk dengan sungging masing-masing. Satu orang diantaranya adalah Jongin, sedangkan seorang lainnya adalah sosok yang selama ini Jongin rindukan. Sosok yang tak pernah lupa untuk mampir kedalam mimpi maupun pikiran Jongin. Meski otak Jongin menolak untuk mengingat banyak memori lama, namun masih tertanam jelas pada otaknya bagaimana tekstur lembut kulit Kyungsoo, suara rendahnya ketika sampai pada gendang pendengaran, sampai betapa manisnya rasa bibir Kyungsoo ketika menginvasi seluruh mulut Jongin. Mungkin saja tuhan mengabulkan do'anya untuk mengingat wajah sosok indah itu melebihi apapun.

Jongin menyusuri koridor kampus, terkekeh rendah begitu maniknya menemukan banyak mahasiswa baru yang sedang menjalani masa orientasi. Mengingat kala dulu dirinya bahkan begitu depresi karena kehilangan Kyungsoo dan selalu mencari masalah selama masa itu. Kyungsoo Kyungsoo Kyungsoo. Karena hanya nama itu Jongin yang ada pada otak lambannya setiap pagi, setiap malam bahkan setiap saat.

Dosen tampan itu menghentikan langkah kala menemukan banyak anak baru yang dihukum oleh senior mereka, berniat untuk menegur maka Jongin melangkah maju. Belum sampai langkah kesepuluh, kedua kaki jenjangnya mendadak kaku. Maniknya menyipit memastikan siapa yang sedang bernaung pada irisnya. Tubuh itu gemetar dan maniknya mulai berair, jantung Jongin mulai memompa diluar kadar bahkan lelaki itu dibuat lemas mendengar dentum degupnya sendiri. Tak disangka pemandangan itu kembali muncul dalam penglihatannya, sebuah perpaduan paling apik karya tuhan. kulit seputih susu berpadan dengan manik secerah matahari, sebuah bibir ranum dengan bentuk hati, hidung runcing dan rambut eboni. Dia benar-benar nyata. Sosok itu sungguh hanya berjarak beberapa meter darinya, dengan satu kaki diangkat dan kedua tangan menarik telinga kanan juga kiri. Wajahnya masam dengan mata bulat yang setengah menyipit.

Oh tuhan, Jongin bisa menjadi gila, otaknya sempat mengolah untuk terus menekan bahwa sosok itu hanya delusi, Jongin hanya berhalusinasi. Namun dimana dapat ia temukan sebuah halusinasi dengan efek begitu nyata seperti saat ini? Seolah kaki itu lemas dan tubuhnya menjadi ringan. Tuhan sungguh mengabulkan setiap untai doanya, tuhan itu adil dan takdir itu baik. Saat ini Jongin meyakini semuanya. Karena ia berhasil menemukan orang ini, seorang yang akan Jongin jaga setiap saat. Seorang yang selalu Jongin rindukan setiap detik ke menit, menit ke jam, jam kehari, hari ke bulan sampai bulan ke tahun. Dan Jongin akan berhenti sekarang juga, pada titik ini, pada sosok ini. Tokoh dari negara dongeng itu benar-benar muncul dari imajinasinya selama ini.

Jongin memutuskan untuk mendekat ketika senior-senior sialan itu lengah, ia mendekat pada si sosok indah kemudian berdeham begitu rendah. Senyumnya berbinar ketika orang itu menoleh dan mengernyit heran pada Jongin.

"ayo kabur dari ini, mereka tidak akan berhenti menyiksamu" Bisiknya. Tanpa aba-aba Jongin segera menarik pergelangan tangan orang itu untuk berlari menjauh. Kehangatan menjalar dari telapaknya ketika bersingungan dengan kulit halus milik si anak baru, ia masih setengah percaya bisa merasakan sensasi lembut itu lagi.

Mereka berlari kearah semak belukar sedikit jauh dari tempat perkara, nafas saling berlomba dan peluh berhias rapi pada dahi keduanya. Jongin mendudukan dirinya diantara garangnya semak, kemudian tanpa disangka si anak baru ikut menyamankan diri disana, maniknya menyelidik memandang Jongin.

"kau— kau seorang dosen?" tanyanya. Jongin seketika menjadi kaku, gerakannya membersihkan serpih pasir pada kain celana terhenti begitu sebuah suara lembut menyapa gendang telinganya. Jongin ingin menangis saat ini juga, bagaimana mungkin bahkan ia bisa mendengarnya kembali alunan suara rendah yang bahkan masih sama.

Dosen tampan itu menoleh, menjatuhkan fokus penuh pada setiap aksen wajah disamping. Seperti mimpi paling indah yang telah menjadi nyata. Anak ini adalah mimpi indahnya, dan kini mimpi itu menjadi nyata. Aktor utama dalam mimpi Jongin duduk disebelahnya dengan manik menerjab polos.

"Ah, selamat pagi professor. Perkenalkan nama saya Do Kyungs—"

"Kyungsoo. Aku tau"

"ah begitu? Baiklah terimakasih sudah menolong saya dari para senior sialan itu" setelah berkata Kyungsoo sedikit menundukan kepala. Senyumnya menyebar membentuk sebuah hati. Ada banyak serbuk merah muda menciptakan rona dipipi putih itu.

Jika saja Jongin memilih tiga dari semua hal terbaik yang pernah mampir dalam kehidupannya, maka jawabannya adalah, saat kali pertama ia bertemu dengan Kyungsoo, kedua saat hari kelulusan sekolahnya dan ketiga yaitu hari ini, dimana ia berhasil menemukan kembali manik Kyungsoo.

Karena mimpi indah Jongin telah menjadi kenyataan. Semuanya hal yang seharusnya tabu menjadi realita. Jongin percaya pada permainan takdir tuhan, karena sejak awal satu hal yang Jongin yakini bahwa yang berkuasa akan mengembalikan Kyungsoo padanya. Karena takdir menciptakan Kyungsoo untuk menjadi bahagianya paling utama.

"hey Kyungsoo, aku menyukaimu"

"ha?"

"aku bilang aku menyukaimu, mau kah kau menjadi kekasihku?"

.

.

.

END


Finally, cerita ini mencapai akhir! Terimakasih untuk semuanya yang sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini. Terimakasih untuk yang sudah follow, favorite dan mereview, semoga setelah ini yang mereview semakin banyaak hihi:))

.

Sekali lagi terimakasih banyak yaa buat reviewnyaa, UUUHH HIHI:) Selamat malam, sampai jumpa dicerita selanjutnyaa, See youu!:*