MY STOIC MANAGER

Cast :

Kim Jongin

Oh Sehun

Kim Joonmyun

Zhang Yixing (gs)

Xiumin

Do kyungsoo

Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort

Rated : T

Author : Ohorat

Warning : YAOI. BL. TYPO(s)

.

.

.

.

Sehun cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Wajahnya semakin panik kala melihat keadaan ruang tamu begitu sepi. Tak ada Ibunya ataupun Presdir Kim. Ia bergegas ke dapur, meletakkan kantong belanjaannya di atas meja makan dan cukup terkejut saat melihat Ibunya tengah mencuci piring –berdiri membelakanginya.

"Ibu, aku tidak melihat Presdir Kim." Kata Sehun, kentara sekali ia sangat panik.

"Dia sudah pulang. Kau darimana saja?"

Sehun mendesah kecil dan memejamkan matanya beberapa detik. Bagaimana bisa ia seceroboh itu sampai lupa bahwa bos besarnya tengah berkunjung ke rumah? Ini semua gara-gara –Jongin.

"Aku minta maaf. Tadi ada sedikit masalah."

Yixing mematikan kran air lalu mengelap tangan basahnya. Ia berbalik dan menatap Sehun kesal.

"Kau tidak perlu meminta maaf pada Ibu. Kau harus minta maaf padanya."

"Kau benar." Sehun mengeluarkan ponselnya dari saku mantel. Begitu ia ingin menekan tombol panggil, suara Yixing menginterupsinya.

"Jangan sekarang. Ini sudah terlalu malam, dia pasti sudah istirahat."

Namja kurus itu lagi-lagi mendesah kesal sebelum kemudian pergi menuju kamarnya.

Play : Lena Park – My Wish

Yixing masih terdiam, ia menarik salah satu kursi makan dan mendaratkan tubuhnya disana. Sejujurnya ia masih merasa gugup sejak kepergian Joonmyun dari rumahnya. Pria itu masih seperti dulu, selalu melakukan hal-hal gila yang tak pernah ia bisa tebak. Pelukannya 20 menit lalu masih sangat terasa dan itu cukup membuat jantung Yixing berdebar tak karuan. Namun, rasanya masih sama. Seperti saat 20 tahun lalu Joonmyun memeluknya di atap gedung universitas.

Flashback

"Kenapa kau mengatakannya?!" Yixing berteriak begitu Joonmyun melepaskan cengkraman ditangannya. Angin musim gugur begitu terasa karena mereka tengah berada di atap gedung.

"Karena itu yang kurasakan." Joonmyun berusaha tenang.

"Kenapa kau selalu melakukan apapun tanpa memikirkan perasaan orang lain?! Aku tahu hidupku menyedihkan, tapi bisakah kau tidak memperburuk semuanya?!" air mata yang sempat tertahan itu akhirnya terjatuh, Joonmyun tersentak melihatnya.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau sudah mengatakannnya, dia pasti akan membenciku. Dia pasti akan mengeluarkanku dari universitas, dia pasti-"

"ITU SEMUA TIDAK AKAN TERJADI! Asal kau mencintaiku dan kita hadapi semuanya bersama."

Yixing tertegun. Air matanya masih saja keluar melalui ekor matanya. Ia baru melihat Joonmyun seperti ini. Matanya memerah dan kedua rahangnya menegas.

Yeoja cantik dengan rambut coklat panjang itu menggeleng, "Tidak. Aku tidak bisa."

Joonmyun berjengit melihat Yixing hendak berbalik lalu tangan kanannya segera menggenggam lengan gadis itu, menahannya pergi dengan menariknya ke dalam dekapannya. Tak menghiraukan Yixing yang mulai berontak. Joonmyun tetap memeluknya sampai gadis manis itu melunak.

"Apa yang kukatakan itu adalah yang kurasakan... aku menyukaimu dan mungkin... sekarang aku mencintaimu."

Yixing tak berkata apa-apa, ia terlalu terkejut dengan semuanya. Lagi-lagi buliran hangat itu mengalir membasahi pipinya.

Joonmyun melepas pelukannya namun tidak dengan cengkramannya. Ia menatap Yixing yang masih menangis. Kedua tangannya terangkat, menangkup kedua pipi Yixing dan mengelusnya lembut.

"Aku minta maaf. Aku akan melakukan ini jika kau pergi lagi."

Mata Yixing membulat untuk kesekian kalinya hari ini. Semuanya terlalu begitu cepat, ia tak tahu bagaimana bisa Joonmyun menciumnya sekarang. Namja itu menciumnya dalam, seolah ingin menumpahkan segala apa yang ia rasakan saat ini. Dan Yixing merasakannya, tak hanya dirinya yang terluka disini. Joonmyun jauh begitu terluka namun Yixing baru menyadarinya. Dan ia hanya bisa menangis di tengah ciumannya bersama Joonmyun sore itu.

Flashback end

Yixing selalu tersenyum jika sudah mengingat kejadian itu. 20 tahun lalu yang sangat bersejarah dalam hidupnya.

.

.

.

"Bukankah aku sudah melarangmu ke tempat ini lagi?" Xiumin menatap malas Jongin yang baru saja duduk di depan bar. Ia mengenakan mantel dan kacamata hitam. Oh, bukankah ini malam hari?

"Bukankah kau sudah tahu kalau aku akan melanggar semua larangan?" Jongin mendengus setelahnya dan melepas kacamatanya.

"Aku tidak akan menang jika berdebat denganmu. Masalah apalagi sekarang?" tanya Xiumin masih tetap berdiri di balik meja barnya.

Jongin memainkan gelas bening di depannya, "Ini sedikit rumit. Masalah cinta."

Xiumin membelalak kaget, "Mwo? Cinta kau bilang?" dan selanjutnya ia tertawa keras membuat Jongin mendengus kesal melihatnya.

"Ini tidak lucu, bodoh! Aish, Sepertinya aku salah tempat."

Lalu Xiumin berusaha meredakan tawanya, "Baik, baiklah, aku minta maaf. Tapi, kau benar-benar membuatku terkejut, Jongin. Bukankah kau tidak pernah tertarik dengan hal-hal seperti itu?"

Yang ditanya pun tak segera menjawab, ia menatap namja berpipi bulat itu beberapa detik.

"Kau benar. Tapi sepertinya, aku mulai tertarik sekarang."

Xiumin tersenyum, "Siapa orangnya? Kyungsoo?"

Jongin menggeleng. Apa katanya? Kyungsoo? Bahkan Jongin baru mengingat namja itu sekarang. Ia tak pernah melihatnya lagi sejak kejadian Sehun melihat Chanyeol di ruang make up. Entahlah, rasanya Jongin tidak tertarik lagi dengan hal-hal yang berkaitan dengan Kyungsoo. Pikirannya selalu dipenuhi Sehun akhir-akhir ini. Apa ia benar-benar menyukainya?

"Lalu siapa? Aku tidak pernah melihat kau membawa seseorang kemari kecuali Kyungsoo."

Jongin terdiam lagi, ia jadi teringat saat Sehun meminum soju di rumahnya dan berakhir dengan muntah-muntah.

"Akan terjadi kiamat jika aku membawanya kemari." Jawab Jongin malas membuat Xiumin mengernyit bingung.

"Terserah kau saja. Kuharap kau tidak memilih orang yang salah sepertimu." Cibir Xiumin namun tak dihiraukan Jongin yang lagi-lagi hanya terdiam sambil memainkan gelas kosongnya.

"Kau ingin minum yang seperti biasa?"

Jongin menggeleng –lagi. "Aku sedang tidak ingin minum."

Salah satu sudut bibir Xiumin tertarik membentuk sebuah seringaian, "Kau tidak terlihat seperti Kim Jongin malam ini."

.

.

.

Sehun baru saja sampai di gedung EXO Entertainment, ia melangkah dengan gugup karena hari ini ia harus meminta maaf pada Presdir Kim atas ketidaksopanannya tadi malam. Namun, baru saja ia hendak mengetuk pintu ruang si bos besar, terdengar keributan dari dalam membuat tangannya menggantung di depan pintu. Ia tak bisa mendengar jelas dan tidak tahu apa yang sedang terjadi didalam sana.

Terdengar desas-desus dari arah belakang membuat Sehun menoleh dan mendapati para staff ataupun artis-artis dari agensi EXO Ent. tengah berkumpul sambil berbisik satu sama lain. Sehun mengernyit heran, tatapan mereka mengarah padanya atau lebih tepatnya pada pintu ruangan Joonmyun.

Tak mau terlarut dalam kebingungan, akhirnya Sehun menghampiri salah satu staff yang berdiri beberapa meter darinya.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sehun penasaran.

"Kau tidak tahu? Kantor kita sedang kedatangan pihak kepolisian." Jawabnya setengah berbisik.

Sehun masih mengernyit bingung, "Polisi? Memangnya ada masalah apa?"

"Mereka mengira Jongin memakai narkoba di club tadi malam."

Play : Portents of War – Varioust Artist

Mata sipit Sehun membelalak kaget. Saking kagetnya ia pun tak bisa mengontrol diri untuk tidak memasuki ruangan Presdir Kim. Semua orang didalam ruangan Joonmyun menatap ke arah Sehun setelah ia membuka pintu cukup keras.

"Siapa dia?" tanya salah satu pihak polisi.

Joonmyun menatap Sehun cemas, "Dia hanya manager."

Sehun tidak terlalu fokus pada orang-orang yang menatapnya, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Jongin. Dan matanya semakin membulat saat melihat namja itu tengah berdiri dengan kedua tangan yang dilipat di belakang punggung oleh salah satu pihak polisi. Sehun pun melangkah mendekati kerumunan itu, lalu berdiri di belakang Joonmyun.

"A-apa yang terjadi?" tanya Sehun gelagapan. Ia tidak ingin mendengar jawaban yang sama seperti yang tadi seorang staff katakan padanya.

"Kau harus kami periksa, Kim!" hanya itu yang dapat Sehun dengar. Ia masih menatap cemas ke arah Jongin yang sama sekali tidak menatapnya semenjak ia masuk. Namja itu menatap lantai marmer dengan datar. Sehun semakin khawatir melihatnya.

"Kami akan membawa Kim Jongin untuk pemeriksaan lebih lanjut, kau bisa ikut kami tuan Kim." Kata seorang polisi bertubuh tinggi besar. Ia melangkah pergi diikuti kedua anak buahnya yang menggandeng kedua lengan Jongin dari samping.

Sehun tidak percaya apa yang tengah dilihatnya sekarang, begitu pun Joonmyun. Pria itu masih berdiam diri, menatap kosong pintu yang baru saja dilalui para polisi.

"Presdir-"

"Kalau sampai kau positif memakai narkoba... ku pecat kau!" Sehun tertegun mendengar Joomnyun yang baru saja bermonolog. Nada bicaranya memang tidak tinggi, namun terkesan dingin dan sangat marah membuat Sehun takut sendiri dan memutuskan untuk bungkam.

.

.

.

Kyungsoo kesal. Kedua tangannya mengepal erat setelah mendengar kabar buruk tentang Jongin siang ini. Ia melangkah cepat keluar dari apartemen mewah yang sudah lama ini ia tinggali. Tanpa pikir panjang, namja itu memasuki mobil audi hitamnya dan melaju kencang membelah keramaian kota Seoul.

"Kau akan tahu akibatnya, Oh Sehun."

Kyungsoo bergumam diakhiri kaki kanannya menginjak gas dengan penuh emosi.

.

.

Melihat Jongin yang sama sekali tidak bereaksi saat tadi pagi, membuat sesuatu di dada kiri Sehun berdenyut sakit. Rasa cemas pun tak ayal memenuhi dirinya. Sehun sangat yakin, sebrengsek apapun Kim Jongin, ia tidak mungkin menggunakan barang terlarang itu untuk dikonsumsi. Jongin memang pemabuk, tapi ia tidak mungkin menjadi seorang pemakai narkoba. Sehun yakin itu.

Namun, rasa penasaran tetap ada. Kenapa polisi bisa menuduh Jongin? Apa namja itu mantan pemakai narkoba?

Sehun pusing sendiri hanya dengan memikirkannya.

Mata Sehun membulat, tiba-tiba sebuah ide muncul diotaknya dan menyuruh dirinya agar memeriksa apartemen Jongin. Dan tanpa babibu lagi, namja berperawakan kurus itu segera menaiki taksi menuju apartemen.

Sehun harap-harap cemas selama perjalanan. Beberapa kali ia mengecek ponselnya berharap Jongin memberinya kabar. Namun harapan tinggalah harapan. Layar tipis itu masih menampilkan gambar dirinya dan Ibu tercinta.

Sesampainya di tempat tujuan, Sehun segera menekan password dan memasuki apartemen Jongin. Matanya mengedar ke seluruh ruangan yang terlihat cukup rapi. Satu hal yang terlintas dibenaknya jika keadaan rumah tidak berantakan, tadi malam kemungkinan Jongin tidak mabuk.

Selanjutnya, kaki-kaki jenjang itu memasuki kamar utama yang tak lain adalah kamar Jongin. Keadaannya tidak beda dengan ruangan sebelumnya. Cukup rapi. Apa perkiraan Sehun tadi benar?

Sehun memulai aksinya dengan membuka beberapa laci. Tidak ada benda-benda mencurigakan disana. Tangannya bergerak lagi, menyibak bantal, selimut dan sprei hitam disana. Ia tidak peduli dengan Jongin yang akan memarahinya karena telah membuat kamar mewahnya berantakan. Yang ia pedulikan sekarang adalah Jongin. Ia harap, ia tidak menemukan barang sialan itu.

Sehun mendekati lemari yang cukup besar dimana semua pakaian Jongin tersimpan disana. Tangan kanannya membuka pintu lemari itu dan segera menggeledah semua isinya.

Tidak ada.

Sehun mendesah lega.

"Syukurlah."

"Sedang apa kau disini?" sebuah pertanyaan yang cukup membuat Sehun terkejut. Cepat-cepat ia menutup pintu lemari Jongin.

"Kenapa kau tidak menjawab? Sedang apa kau disini?" namja bermata bulat yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Jongin itu terlihat dingin. Sehun tidak suka ekspresi itu.

Yang ditanya pun menghela napasnya, berusaha tenang. "Aku sedang mencari sesuatu."

"Mencari sesuatu atau mencuri sesuatu?"

Sehun tertegun mendengarnya. Ini untuk kesekian kalinya Kyungsoo menghina dirinya dengan begitu mudah.

"Kau sendiri sedang apa disini?" kini wajah Sehun terlihat sama dinginnya.

Kyungsoo melipat kedua tangannya di dada, "Aku sudah sering masuk ke kamar pacarku dan itu wajar, bukan? Yang membuatku heran, kenapa bisa ada orang yang tidak tahu malu dan seenaknya saja memasuki kamar orang lain?"

Kedua tangan Sehun mengepal erat setelahnya. Ini bukan pertama kalinya Sehun merasa terinjak-injak. Maka dari itu, ia lebih memilih diam dan menahan amarah yang mungkin saja akan menjadi boomerang untuknya.

"Aku tidak tahu kenapa Jongin bisa tertuduh. Yang seharusnya ditangkap itu kau, Sehun."

Mata sipit itu membulat lagi. Kenapa Kyungsoo berkata seperti itu? Apa sebegitu bencikah ia terhadapnya?

Kyungsoo menurunkan kedua tangannya. Ia menatap tajam ke arah Sehun.

"Dari awal kedatanganmu, kau memang selalu membawa kesialan. Kau membuat Jongin semakin parah dan sekarang ia berakhir di kantor polisi. Apa kau tidak menyadarinya, Oh Sehun?"

Kepalan tangan Sehun semakin erat. Bahkan tenggorokannya pun tercekat setelah mendengar penuturan Kyungsoo yang terasa menyayat hatinya.

"Aku tidak habis pikir, kenapa Presdir bisa menerima orang sepertimu? Apa kau sudah memberinya sesuatu? Apa kau memberikan tubuhmu-"

PLAK!

Mata bulat Kyungsoo semakin membulat setelah menerima tamparan keras di pipi kanannya. Sehun terengah ditempatnya, matanya memerah karena telah berhasil meluapkan emosinya.

"Beraninya kau menamparku?!"

"Aku akan berani melakukan apapun jika kau tak bisa menjaga mulutmu itu." jawabnya sebelum kemudian pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih terkejut ditempatnya.

.

.

.

Hari sudah gelap namun Sehun masih terdiam kantornya. Matanya terus terpaku pada layar ponselnya di atas meja. Ia masih setia menunggu kabar dari Jongin, namja menyebalkan yang selalu membuat kepalanya pusing. Rasa cemas itu masih setia memenuhi dirinya, apalagi ekspresi Jongin tadi pagi yang terus terbayang dipikirannya. Ia hanya takut. Takut bahwa Jongin positif memakai narkoba.

Dan dering ponsel pertanda pesan masuk membuyarkan lamunannya. Tangannya refleks membuka pesan tersebut dan segera membacanya.

From: Kim Jongin

Aku sudah pulang. Kau sudah tidur?

Tanpa pikir panjang lagi, Sehun segera berlari keluar gedung dan menaiki taksi menuju apartemen Jongin. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 9 malam. Selama itukah ia menunggu Jongin?

Sama halnya seperti saat tadi siang, kini ia terduduk dengan harap-harap cemas selama perjalanan. Ia terus berdoa dalam hati agar semua tuduhan itu tidak benar. Ia tidak ingin kehilangan namja menyebalkan itu. Sehun tidak ingin kehilangan Jongin.

Apa ini jawaban hatinya?

.

Sehun menghentikan langkah tepat didepan pintu apartemen Jongin. Napasnya terengah setelah berlari semenjak ia turun dari taksi. Tangannya gemetar menekan beberapa angka di samping pintu. Dan begitu pintu terbuka, ia melangkah cepat dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Keadaannya masih sama seperti tadi siang. Sehun menyeret tungkainya ke arah dapur dan wajah paniknya melenyap perlahan ketika melihat Jongin berdiri di samping meja makan dan terlihat menatapnya dengan sedikit terkejut.

"Sedang apa kau disini? Kukira kau-"

"Bagaimana keputusannya?" potong Sehun setelah menghampiri Jongin dan berdiri di hadapannya.

Jongin terdiam sejenak, ia menaruh gelas yang tadi di genggamnya di atas meja. Lalu matanya menatap sendu tepat dimata Sehun.

"Maafkan aku."

Sehun mengernyit bingung. Apa maksudnya ia meminta maaf?

"Hasilnya negatif."

Hening.

Hening.

Bahu tegang Sehun melunak akhirnya. Ia menatap Jongin penuh cemas. Ia tahu, Jongin baru saja menjahilinya dengan lelucon yang sama sekali tidak lucu. Namun, hatinya terasa lebih lega setelah mendengar bahwa Jongin dikatakan negatif memakai narkoba. Maka dari itu, semua tuduhannya pun tidak benar.

"Ya ya ya! Kenapa dengan matamu? Jangan mena-"

Play: Lena Park – My Wish

"Syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya." Potong Sehun dengan senyuman yang menurut Jongin sangat aneh.

"K-kau kenapa?"

"AKU SANGAT MENGKHAWATIRKANMU BODOH! BERITA ITU MEMBUATKU TIDAK BISA BERPIKIR JERNIH! BISAKAH KAU TIDAK MEMBUAT MASALAH SEKALI SAJA?! AKU SANGAT KHAWATIR, JONGIN!"

Yang dibentak pun tertegun. Sehun yang seperti ini mengingatkannya pada saat di atap gedung EXO Ent. ketika ia menyatakan perasaannya. Manik hazelnya memerah dengan genangan air di pelupuk matanya. Jongin tidak bisa berkata apa-apa sekarang, yang ia tahu hanyalah hatinya yang menghangat mengetahui bahwa Sehun mencemaskannya.

Mengetahui Jongin masih terdiam, Sehun mengalihkan pandangannya. Ia baru sadar bahwa dirinya terlalu banyak bicara barusan. Semuanya keluar begitu saja tanpa bisa ia kendalikan.

"Aku harus pulang. Selamat istirahat." Pamit Sehun sembari berjalan menuju pintu dapur.

"Kenapa kau khawatir?" pertanyaan Jongin membuat Sehun menghentikan langkahnya.

Sehun tidak langsung menjawabnya, entah kenapa lidahnya terasa begitu kelu sekarang.

"Apa rasa cemas yang kau rasakan itu sama dengan rasa cemasku?"

Namja bermantel abu itu masih bergeming.

"Aku harap itu sama."

Sehun mendengar langkah kaki dibelakangnya mendekat membuatnya berbalik dan mendapati Jongin sudah berdiri dihadapannya.

Namja tampan itu menatap Sehun dalam. Tatapan yang sama ketika ia mengatakan bahwa ia menyukai Sehun beberapa hari yang lalu.

"Apakah itu sama, Oh Sehun?"

"A-aku tidak tahu."

"Apa kau pun tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang?"

Sehun mengernyit bingung.

"Kurasa, rasa suka itu sudah berubah. Aku sudah tidak menyukaimu."

Seperti ada batu yang menghantam hati Sehun sekarang. Kenapa rasanya sakit sekali mendengar bahwa Jongin sudah berhenti menyukainya? Apa ini karena dirinya yang tak kunjung menjawab masalah perasaan Jongin?

"Tapi aku mencintaimu."

Manik hazelnya membulat. Apa baru saja ia tidak salah dengar? Oh, Tuhan jantungnya berdetak kencang lagi sekarang.

"Aku harap kau pun merasakan yang sama."

"Tapi Jongin-"

Lagi-lagi tangan Jongin menariknya dan membiarkan kedua bibir itu menempel. Sehun makin membelalak dengan tangan yang mencengkram lengan baju namja didepannya. Ini salah satu sikap Jongin yang ia tidak suka. Selalu menciumnya tiba-tiba, tanpa permisi.

Kedua belah itu terlepas, Sehun masih menatap Jongin dengan keterkejutannya. Kenapa lagi dengan namja ini?

"Aku ingin mendengarnya sekarang."

"Apa?"

"Bahwa kau juga mencintaiku."

Sehun tak menjawab, tenggorokannya tercekat hanya dengan mendengar perkataan Jongin. Anak ini memang selalu seenaknya. Bukankah ini pemaksaan?

"Diam kuanggap itu 'ya'."

Mata sipit itu membulat lagi kala Jongin kembali menariknya dan menciumnya dalam. Sehun semakin tak bisa berpikir jernih sekarang. Yang bisa ia lakukan hanyalah menutup mata dan mencoba merasakan semuanya. Merasakan ketulusan Jongin dan mencari jawaban yang tepat untuk perasaannya.

Kurasa, aku juga mencintaimu. Kim Jongin.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Hahaha maaf nih telat bgt apdetnya. Selain paket abis, ide saya juga ikut2an abis wkwk (?)

Maaf ya kalo begini jadinya, ini bener2 mentok wk (?) rasanya pengen kisseu mulu nih satu couple kesayangan 3

Beribu makasih buat yang setia menunggu, membaca dan mereview ff ini :') terharu aja review di chapt kemarin menaik dari biasanya. Semoga yang di chapt ini gak menurun lagi :')

So, kalo mau tau kelanjutannya tetep review setelah membaca :D

Nb: tetep ya, soundtrack kesayangan My Wishnya Lena Park. Selalu dapet feelnya kalo kiss scene pake lagu itu wkwk (?)