…
A Merely Boy and His Friend.
…
In the garden, the moonflower that just began to bloom
As I watered it
The cat that went out to play
…
"Oh! Shit!" umpat seorang anak laki-laki berambut hitam jabrik, dengan penuh amarah. Seragamnya sedikit lusuh, dan rambutnya penuh dengan sarang laba-laba, "Kenapa kau bisa tahu tempat semacam ini, Shikamaru!" serunya pada laki-laki seusianya yang terlihat sangat pemalas. Rambutnya kecoklatannya yang menyerupai nanas bergerak dengan malas menghadap bocah yang memanggil namanya.
Mata gelapnya melirik temannya, dan seseorang yang berdiri disamping sahabat semenjak kecilnya itu, "Hm…" ia mengusap-usap lehernya, "Aku hanya mengira-ngira… di rumah tua kakek buyutku Tokugawa yang diwariskan pada ayahku (Nara) ini pasti ada sesuatu yang menarik… dan kau tahu setelahnya..."
Sahabatnya itu melirik banyaknya lukisan dan sketsa yang ada di dinding ruangan bawah tanah yang sangat besar. "F*ck! Kau tidak lihat lukisan itu mirip denganku dan si pedofil disampingku ini!" bentaknya menunjuk seorang anak laki-laki berkacamata yang terlihat acuh, tetapi semenjak tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sketsa dan lukisan seorang pria (?) yang menyerupai 'seseorang' itu dengan rambut panjang dan sedang tersenyum menggenggam bunga.
"Kurasa orang di sketsa itu lebih menyerupai Naruto, Menma…" kata laki-laki yang dipanggil Shikamaru setelah ia menguap dengan lebar. Ia melirik laki-laki berkacamata yang sepertinya terkesima dengan 'Naruto' yang ada di lukisannya itu. "Mungkin orang ini…" tunjuknya perlahan pada orang yang mirip dengan 'Naruto' mereka, "… adalah kakek buyutmu yang sebenarnya dan…" ia menunjuk pada lukisan seorang laki-laki yang sedang duduk disamping 'Naruto', "…lalu orang ini adalah kakekmu, Uchiha…"
"Hn…" kata laki-laki berkacamata itu dengan singkat, mungkin terlalu cepat. "Orang itu…" ia menunjuk pada lukisan di hadapannya (sisi lain dari Menma maupun Shikamaru), "…juga mirip denganmu, Nara."
Di tengah-tengah dinding, ada lukisan yang sangat besar. Terdiri dari orang-orang yang menggunakan pakaian pada era Victoria. Diantara kesembilan orang itu tiga diantaranya benar-benar menyerupai mereka. Uchiha berkacamata membaca tulisan latin kecil di bagian kiri bawah. Laki-laki yang berambut pirang bernama Uchiha Naruto, di kanannya berdiri Uchiha Sasuke, lalu Tokugawa Shikamaru.
"Tch, mungkin kau benar, Nara…" kata Uchiha, "Lagipula mereka berdua memang 'Uchiha'… dan… keluarga kalian…" liriknya pada anak laki-laki bernama Menma di samping Nara, "Uzumaki… bukankah memang berasal dari keluarga Uchiha…"
Mereka berdua tahu, silsilah keluarga utama Uchiha dan Uzumaki.
"Ne… Bastard… tapi kita semua tahu, kalau mereka berdua bukan kakek buyut kita…"
"Kau sama seperti adikmu…si Dobe, walaupun si Dobe lebih DObe."
"Kau!"
"…"
Tes…
Tes…
Langkah kaki seorang remaja yang melihat rongga cahaya di depan matanya. Matanya berwarna biru jernih, berbeda dengan milik kembarannya yang berwarna coklat kemerahan. Rambut pirang keturunan ayahnya yang 'half'' Inggris menyapu sarang laba-laba yang menghiasi lorong kecil setelah ia terjatuh ke suatu ruangan.
Hijau… ia melihat warna hijau, dan lubang… itu terlihat semakin besar.
Cukup untuk tubuhnya untuk melewatinya.
Clak…
clak…
Si pemalas itu tahu ada yang janggal saat ia melihat ruangan yang rapi dan bersih ini padahal jalan masuk menuju tempat itu menunjukkan tidak terlewati siapapun. Mungkinkah ada jalan lain menuju tempat itu?
"Apa kalian tidak merasa aneh?" tanyanya dengan malas seraya menyentuh satu sketsa 'Naruto' dengan rambutnya tergurai diatas tempat tidurnya.
Si laki-laki berambut jabrik hitam itu melirik sahabatnya, "F*ck!" dan ia berlari menuju pintu asal mereka memasuki ruangan tersebut. Hanya ada satu orang yang menyadarinya ditengah-tengah kepanikan hilangnya 'salah satu' dari mereka. Misteri menarik dibalik nama Uchiha…
"Kau tidak panik, Uchiha?" tanyanya pada laki-laki yang tetap terdiam menatap dua orang laki-laki yang sedang tertidur dalam posisi duduk di pantai. Kepala mereka berdua saling menyanggah.
"Hn…"
"Kau… tidak menyadarinya?" dan mata gelap dibalik kacamatanya akhirnya menatap remaja berambut nanas, "Kalau… lukisan ini…" ia menyentuh sketsa 'Naruto' yang sedang memegang bunga dan vas bersamaan dihadapannya, "Terlihat tidak lama dibuat dari pada lukisannya yang lain?" ia melihat beberapa lukisan, memang terlihat usang, wajar karena usianya yang lebih dari 150 tahun.
Awalnya ia tidak menyadari apa maksud perkataan bocah pemalas dengan otak jenius dihadapannya itu sampai ia mengingat satu figura kecil di meja kepala keluarga Nara.
Dalam waktu yang sangat singkat, Uchiha sudah keluar dari ruangan itu dan berlari mengikuti langkah Menma. Remaja berambut nanas itu menghembuskan napasnya. Ia memandang sketsa dua orang perempuan dan 'Naruto'.
"Sekalipun apa yang kupikirkan itu sungguhan…" ia melirik ke atap ruangan itu, langit-langitnya terlihat bersih, tidak ada satu pun sarang laba-laba… rahasia macam apa yang ada di ruangan itu? "… 'ia' tidak akan melukai Naruto."
Karena seperti takdir, kalian akan bergelut satu sama lainnya.
…o0o…
Came home, "Welcome home"
…o0o…
Di sebuah teater besar dengan ribuan penonton yang bersiap untuk melihat Opera terkenal masa itu. Kisah Jack the Ripper yang telah dimodifikasi oleh penulisnya yang ulung. Pemeran utama perempuan yang sangat cantik bergaun merah muda dengan pita besar putih di pinggulnya. Penulis ceritanya adalah suaminya, laki-laki tinggi dan gagah berambut pirang.
"Kau yakin Tom yang harus menggantikan Ruby?" Tanya laki-laki berambut pirang pada istrinya di belakang panggung, tangannya membelai rambut anak bungsunya yang baru berusia 7 tahun.
Anak laki-laki itu menatap ibundanya yang sangat cantik, mata abu-abunya terlihat sedikit kebiruan karena kontrasnya dengan rambut merahnya. Wanita itu tersenyum dan mengusap pipi anaknya, "Tentu saja! kau saja yang tidak tahu, Thomas… anak kita ini memiliki bakat acting yang lebih besar dari ibundanya."
Laki-laki itu menghembuskan napasnya, ia tahu istrinya yang keras kepala itu hanya ingin melihat anak bungsu laki-laki mereka ini menggunakan gaun. Ruby, anak sulung mereka yang berusia 12 tahun tiba-tiba demam tinggi. Padahal mereka merencanakan diakhir pementasan akan ada gadis kecil berambut bob pirang sebagai lambang tokoh pemeran utama di masa kecilnya.
"Yah, sudah lah…" ia melirik anaknya dan memangkunya, "Kau tidak apa-apa Tom? Kau akan menggunakan gaun seperti perempuan untuk menggantikan Ruby…"
"Apa aku akan berubah jadi anak perempuan?" tanyanya dengan polos, mata birunya penuh dengan rasa ragu.
Kedua orang tuanya hanya tertawa, saat mata jernih berwarna biru itu kebingungan. Sayangnya mereka tidak tahu, itu adalah tawa terakhir sebagai keluarga Windfire. Opera yang sangat menarik, dengan acting yang luarbiasa memukau, ditambah nyanyian dari wanita cantik berambut merah yang menakjubkan. Sayangnya pula, nyanyian itu tidak pernah sampai pada nada terakhirnya.
Tiba-tiba ledakan terjadi di tengah-tengah podium, melemparkan wanita yang sekujur tubuhnya sulit untuk dikenali. Ada tawa ditengah-tengah teriakan massa. Laki-laki berambut pirang hanya memeluk putranya yang menggunakan gaun dengan erat. Menelusup dibarisan bangku penonton, tidak membuatnya terhindar dari ledakan. Siapa yang menghancurkan kebahagiaan mereka? tidak ada manusia yang tahu. Tapi yang pasti, sesuatu bertubuh sangat besar berdiri di dalam gedung yang megah itu dengan melipat tangannya.
Ia tidak tertawa tidak juga bersedih, ia jijik. Jijik akan manusia yang hatinya dipenuhi rasa iri dan menghancurkan kehidupan manusia lainnya. Perjanjian, tetaplah perjanjian. Ia hanya membantunya untuk membuat kehendak manusia itu menjadi nyata, dan kini… imbalan untuknya. Satu jentik jarinya, dan ada seorang laki-laki yang tertawa sembari tersedu-sedu terlempar kedinding, kemudian meledak. Darahnya terciprat ke segala arah. Yah, walaupun ruangan itu memang sudah dipenuhi darah.
Iblis itu tidak peduli, ia tidak peduli, sungguh tidak peduli. Sampai ada suara kecil, yang memanggil-manggil. Bangkit dari tumpukan tubuh yang ia yakini sebagai keluarga si anak kecil itu. Anak laki-laki yang usianya sekitar 6 tahun, yang ketika bangkit dan menatapnya secara langsung… ia kagum dengan biru dan keberanian yang ada di dalam matanya.
"Tuan siapa?"
Saat itu si iblis tidak akan pernah menyadari, pertemuannya yang singkat itu akan terpatri diingatan bocah kecil berambut pirang bob.
…
Anak kecil itu berjalan menelusuri ruangan yang sangat besar. Menurut Mr. Uchiha ia akan menemukan orang tuanya, tapi sudah beberapa lama ia berjalan mengelilingi tempat itu, ia tidak menemukan keduanya. Ia melihat banyak orang tertidur di lantai dan berdarah. Kenapa mereka berdarah? Atau ini bagian dari pertunjukan ibundanya?
Ia tidak mengerti, tapi ia terus berkeliling, sampai pintu besar utama theater itu didobrak dan banyak orang yang masuk. Anak itu tidak bodoh, ia tahu… mereka adalah polisi. Seorang polisi yang berteriak sesuatu tentang anak bermata merah, berdarah dan iblis. Lalu ia ditarik paksa dan diseret keluar.
Si Tom tidak tahu apa yang terjadi, karena sel dingin dan lembab yang menjadi jawabannya. Sampai ada seseorang bertubuh tinggi besar dan tambun berkata kalau sebenarnya ia adalah korban ledakan. Ledakan… itu… apa? Terakhir kali ia mendengar kata ledakan, itu ada hubungannya dengan kembang api yang indah?
Awalnya Tom menolak untuk diajak paman tambun itu kesuatu tempat yang ia yakini sebagai panti asuhan dan setidaknya ia pun bertahan disana. Sampai penghuni panti asuhan lainnya jengkel karena ia selalu berbuat onar dan sering berteriak-teriak untuk memulangkannya pada kedua orang tuanya.
"Kau benar-benar tidak tahu diuntung! Anak pembawa sial sepertimu seharusnya mati saja pada ledakan itu!" kata seseorang penghuni panti yang tidak ia pernah ingat wajahnya.
Lagipula… ledakan apa? Naruto tidak pernah tahu ada ledakan… ia sedang tersesat dan orang tuanya pasti mencarinya.
"Kau tidak mendapatkan jatah makan malam, Naruto!"
Naruto itu siapa? …
Itu bukan namanya…
Lalu kalau bukan namanya… 'siapa dirinya?'
"Hei, Nar!" panggil anak laki-laki yang juga tambun kecil, "Kau tahu, wajahmu itu menjijikan… dan anak bermata buta sepertimu itu pantasnya mati!" katanya sambil mendorong tubuhnya.
Well, untuknya itu penghinaan. Maka ia dorong balik dengan sekuat tenaga. Entah dari mana asal kekuatannya, yang jelas ia berhasil menjatuhkan si gendut kelantai, "Aku tidak buta! Aku hanya diperintahkan oleh suster untuk menggunakan penutup ini!" ia membukanya dan semua orang melarikan dirinya.
Sekali lagi…
Siapa dirinya?
…
Suatu hari ia bertengkar dengan si tambun, dan membuatnya patah tulang karena ia mendorongnya jatuh dari lantai 2. Bukan salahnya, ia menghindar saat si tambun berusaha menjorokkannya jatuh. Tapi masalahnya, ia diusir dari tempat itu karena sejam kemudian si tambun mati. Hal yang mengejutkan bukan karena semua orang percaya ia yang membunuhnya tapi karena ia melihat sosok Sasuke lagi. Sasuke… Sasuke muncul lagi… dan kali ini dengan seorang laki-laki yang aneh.
Anak kecil itu mendekatinya dan bersembunyi disemak-semak jauh dari bangunan panti, karena kalau ia masuk ke panti ia yakin ia akan dibully lagi. Tapi saat ini ia melihat Sasuke. Mr. Uchiha yang tahu siapa dirinya dan dimana kedua orang tuanya.
Belum sempat ia memanggil Sasuke, gedung panti asuhan itu terbakar dengan hebatnya. Mata biru dan merah itu terbelalak. Saat itu ia tidak sadar kalau Sasuke telah hilang dari hadapannya dan tidak ada seorang pun yang berada diluar panti.
…
Perutnya yang lapar membuatnya berjalan jauh menuju pusat perkotaan. Ini pertamakalinya ia mencuri makanan dari sebuah toko kue tapi semua orang terlihat sangat membencinya. Bisikan kecil yang terdengar, dan menyalahkan dirinya atas terbakarnya panti asuhan. Tapi apa itu wajar? Kan ia hanya anak kecil?
Orang memandangnya dengan jijik, karena sebelah matanya berwarna jingga kemerahan. Setidaknya ia bertemu dengan dua orang (Naruto tidak akan pernah mengingatnya) yang memberinya makanan apabila ia berhenti di pekarangan rumahnya untuk mencuri buah yang tertanam di halamannya.
Tapi makanan gratis dan enak itu harus terhenti saat ada orang yang bersama dengan Sasuke di panti itu datang dan menabrakan kereta kudanya pada kedua orang itu dan memukul tubuhnya. Darah kembali mengalir, sayangnya itu dari kedua tubuh orang-orang yang memberinya makanan. Banyak orang berkumpul dan mereka bersatu untuk menangkap si laki-laki.
"Sasuke! sasuke!" begitu panggilnya saat panik Mr. Uchiha mungkin akan ditangkap juga, "Sasuke! Mr. Uchiha!" ia berlari dengan terpincang-pincang. Ia melihatnya! Akhirnya Sasuke…
Ia berdiri menatap Sasuke yang terdiam menatap orang tadi. Orang yang membakar panti, membunuh dua orang lainnya dan sekarang sedang diseret oleh massa. Bocah itu pun turut terdiam, memandang 'Mr. Uchiha' dari kejauhan. Apakah Mr. Uchiha itu sedang bersedih?
Karena ia terlihat…seperti ingin menangis.
Naruto menundukkan kepalanya, ia tidak mengerti kenapa Mr. Uchiha terlihat sedih… mungkin ini ada hubungannya orang yang terlihat sedang dikerumuni oleh banyak orang? Dan ketika ia mengangkatnya Sasuke sudah pergi.
Ia kecewa, tentu kecewa, tapi hal yang membuatnya lebih kecewa adalah saat orang-orang disekitarnya menatapnya dengan sinis dan sekali lagi berteriak bahwa dirinya adalah pembawa sial. Padahal ia mengatakan hal yang sejujurnya kalau ia tidak melakukan apapun. Tapi mereka tidak mau mengerti. Apa perkataan anak kecil itu sulit dimengerti?
Mengapa tiba-tiba orang di sekitar kota itu membencinya? melemparinya? Meludahinya? Sengaja memukulnya? Menabraknya? Mengatainya?
Memang apa yang ia lakukan?
Naruto tidak mengerti.
…
Ia mulai mencuri lagi, dan menjelajah hutan.
Setidaknya sampai ia bertemu dengan laki-laki yang tersenyum hangat padanya, dan memberikan ia atap untuk tidur.
…
Itu pun tidak berlangsung lama, karena orang itu dipaksa untuk pergi. Setidaknya rumah kayunya menjadi miliknya. Ia memiliki tempat untuk tidur dari sebelumnya, sekalipun ia semakin membenci orang-orang disekitarnya.
Ia masih tidak mengerti kenapa ia dibenci. Sampai pada usianya memasuki 10 tahun, atau ia berpikir demikian dan bertemu dengan Lady Hinata. Hanya dua hari mereka bersama. Tapi ia tahu… ia tidak akan pernah sendiri, dan ada seseorang yang harus ia temui.
Uchiha Sasuke.
…
Di usianya yang ke-13, ia mulai merasa sesak napas. Ada yang salahnya dengan tubuhnya, ia jadi sering demam. Penyakitnya ini membuatnya berpikir untuk pergi ke kota dan membeli obat-obatan. Karena tahu ia miskin, dan obat-obatan menjadi hal yang sangat sulit ia dapatkan. Apalagi kalau penduduk tahu ia sedang sakit maka mereka akan beramai-ramai mendo'akan ia untuk cepat mati. Maka ia memilih untuk kembali mencuri.
Tanaman herbalnya, tinggal sedikit, dan itu pun tidak mampu untuk menurunkan demamnya ini. wajahnya dibalut kain lusuh sampai setinggi hidungnya, dan mata sebelahnya ditutupi oleh poninya. Ia tidak akan mengangkat wajahnya, ia tidak akan menatap orang lain.
Ia berdiri di depan toko obat, dan sesekali terbatuk. Saat ia akan masuk, tiba-tiba seorang lelaki paruh baya dengan pakaian seadanya menyenggolnya dan memasuki toko obat itu. Ia berteriak-teriak, dan Naruto yakin kalau orang itu menuduh toko obat itu memberinya racun. Penyakitnya semakin parah. Orang tua itu terbatuk. Darah mengalir di jas kecoklatannya hingga kelantai. Orang-orang disekitarnya terkejut. Saat itu Naruto bangkit dan kembali melihat sesosok yang dinantinya.
Uchiha Sasuke.
Tubuhnya sangat besar, walaupun tidak sebesar ingatannya dulu. Tapi jauh lebih besar dari kebanyakan orang. Lidahnya terkunci, ia gugup. Lelaki yang ingin ditemuinya ada dihadapannya. Hanya ia yang tahu 'siapa' dirinya…
Naruto terhenti saat ada orang yang kembali menabraknya untuk melihat ada seseorang yang tiba-tiba mati di dalam toko dibelakang tubuhnya. Ia terjatuh, dan sesegera mencari sosok Sasuke-nya. Syukurlah, ia masih ada disana… dengan wajah dingin, angkuh… dan tanpa belas kasihannya. Tapi anehnya… diantara semua kata yang mewakili sosok Sasuke… entah kenapa, Naruto menganggap kalau sepertinya ia sedang… sedih? Ia pernah melihat ekspresi itu… si pirang tidak mengingatnya, sampai ia tertawa kecil… tentu ia tahu 'apa' dan 'dimana' dia melihat ekspresi itu…
Apakah kau kesepian, Sasuke?
...
Ia kembali berlari saat ada seseorang yang memukulnya dari belakang, menarik kain yang menutupi sebagian wajahnya dan berteriak menuduh padanya. Ia bukan pembunuhnya! Tapi orang-orang di toko itu menuduhnya sembarangan! Sekalipun petugas keamanan ditempat itu pun mengatakan hal yang sama dengannya! Tapi sial, mereka tidak berhenti mengejarnya!
Wajahnya memerah, sesak di dadanya mulai terasa kembali, dan ia berhenti di suatu gang kecil nan gelap. Matanya tidak fokus, tidak menatap, dan bahkan tidak terbuka. Cit…citttt…citttt… suara tikus menggema di gang sempit itu, kotor dan bau. Seperti dirinya. ia tidak asing dengan gang itu, lagi pula… siapa yang mau datang ketempat sekotor dan semenjijikan tempat yang dipenuhi sampah itu selain dirinya?
Dari kejauhan ia melihat ada cahaya kecil yang pantul. Ia mengalihkan pandangannya, dan melihat ada sebuah buku. Buku yang tebal dan ber-cover gelap. Awalnya ia tidak ingin peduli, toh… ia tidak bisa membaca. Tapi… saat ia sampai dirumah, buku itu ada di mejanya. Tangan dan kepala yang tidak singkron…
Itu semua karena buku itu mengingatkannya pada Sasuke.
…
Buku itu tersimpan dengan rapi disudut almarinya. Tidak terjamah. Penyakitnya lah yang mengisi kesehariannya. Ia harus merawat ikan-ikannya, tanaman-tanamannya, kehutan, dan kalau ia sempat ia akan pergi melihat Hyuuga Mansion dari kejauhan, sembari berharap ia akan melihat Lady Hinata.
Di balik pepohonan yang rindang, ia bersandar untuk beristirahat. Hyuuga Mansion sangat indah bila dilihat dari kejauhan. Langit yang biru, hari yang cerah dan penyakit yang membaik.
"Apa yang kau lakukan disana?" tanya seseorang anak kecil yang usianya sekitar 10 tahun, 5 tahun lebih mudah dari usianya kini.
Ia menatapnya, "Kau berbicara padaku?" tanyanya kebingungan… kapan terakhir kali ada orang yang mengajaknya berbicara?
"Tidak, aku sedang berbicara dengan setan dibelakangmu!"
Mata biru kirinya terbelalak, dan langsung membalikkan tubuhnya. Tapi ia tidak melihat apapun. Lalu ia menatap tajam si bocah kecil itu, "Kau bohong lagi, akan kubunuh kau!" setidaknya, kalau Sasuke muncul pasti akan ada yang mati.
Ya… diusianya yang ke-15 (atau pikirnya begitu); Naruto tidak sebodoh itu. Ia tahu kalau matanya berlainan warna, dan dipipinya ada tiga garis dimasing-masing sisinya. Itu semua karena Sasuke! karena terakhir kali yang diingatnya adalah Sasuke, Sasuke yang menyapanya, dan Sasuke yang memberikan 'hadiah' padanya. Entah sejak kapan ia tahu kalau matanya berlainan warna. Sejak ia berkaca di air saat mencuci mukanya? Di kaca-kaca penduduk? Atau dari teriakan para penduduk? Entahlah… ia sudah lupa.
Tapi yang tidak pernah ia lupakan adalah wajah Sasuke, wajahnya yang seperti sendirian. Wajah yang ia tahu pasti apa arti ekspresi yang tertera, ekspresi yang sering ia lihat dicermin. Sama seperti dirinya… Sasuke pun kesepian.
Kenapa ia tidak membalas dendam pada Sasuke karena mungkin ia yang menyebabkan hidupnya sedemikian rumitnya? Bukankah… kalau ada orang lain yang disalahkan atas hidupnya saat ini, akan membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah?
Tidak, Naruto tidak akan melakukannya… karena ia tahu pasti, rasa dari seseorang yang berekspresi seperti itu. dari pada melenyapkannya maupun menyalahkannya… bukankah lebih baik memintanya untuk bersamamu? Naruto tertawa kecil kalau mengingat perasaannya pada Sasuke…
Seakan-akan ia jatuh cinta pada iblis itu.
"Aku tidak tahu kalau ternyata kau ini perempuan? Orang-orang di panti asuhan selalu mengatakan kau ini iblis laki-laki yang hidup di dekat hutan."
Mata birunya terkedip, "He?"
Anak laki-laki berambut hitam sedikit kecoklatan saat terkena sinar matahari itu menunjukkan, "Iya kamu! Kamu ternyata perempuan! Humph!" ia mencibir, "Aku tidak mungkin memukul seorang perempuan!"
"Heee?"
"Perempuan yang bodoh! Maksudku, seorang laki-laki sejati tidak akan pernah memukul perempuan!" anak melihat Naruto menunjuk dirinya dan ia semakin kesal, "Iya! Kau! memang siapa lagi perempuan disini kalau bukan ka-"
Anak laki-laki bersyal hijau di bekap oleh Naruto dengan syalnya sendiri. Tubuh kurusnya, rambut pirang panjangnya (karena rambut panjang akan lebih berguna dicuaca dingin)… wajar kalau ada yang mengiranya perempuan. Ia mendekap anak itu dengan erat, dan dengan sedikit ancaman serta pembuktian. Anak itu baru mau menerima kalau ia adalah laki-laki.
Usut punya usut… anak dihadapannya ini seperti dirinya. Ia tidak memiliki orang tua, tinggal di panti asuhan, troublemaker dan 'tertarik pada gadis di Hyuuga Mansion'. Cih,.. anak sekarang… pikir Naruto. Anak bergigi tanggal itu menyatakan kalau namanya Leaf (Konohamaru). Jujur, Naruto tidak mempercayainya… siapa orang tau dengan pikirannya yang normal menamai anaknya 'daun'?
Pertemanan abstrak mereka ini, membuat Naruto bersedia menunjukkan 'buku' yang ditemukannya. Si bocah itu ternyata cukup cerdas, walaupun ia tidak mengerti 'bahasa' yang ada didalam buku itu. tapi ia tahu fungsi gambar-gambar diagram yang menurut Naruto aneh.
Saat mereka berdua akan mencoba segala hal yang mereka bisa dengan buku itu. Takdir memisahkan mereka, orang panti asuhan tahu mereka berteman. Leaf dihukum dan tidak diperbolehkan untuk keluar dari panti asuhan selama tiga tahun kecuali kalau ia adopsi. Naruto bersyukur, setidaknya anak itu tidak disiksa. Ia masih ingat ketika air mata membanjiri wajah si bocah pemberani itu.
"Laki-laki itu hanya menangis disaat yang bahagia, Leaf…" begitu katanya, "Kita hanya boleh menangis disaat bahagia, karena siapa yang akan memeluk orang yang kau cintai kalau kau bersedih saat ia menangis?" tanyanya dengan lembut.
Sesegukan ia berkata, "Aku tidak butuh perempuan! Aku hanya membutuhkanmu kakak!"
Tapi perkataan anak kecil yang terdengar seperti pernyataan cinta itu, ditertawakan oleh laki-laki yang dianggapnya sebagai 'kakak'. "Aku akan menjemputmu suatu saat nanti…" ia mengusap-usap kepalanya, "Jadi jangan bersedih."
Lalu… mereka tidak pernah lagi bertemu, karena Leaf… sudah berbahagia dengan keluarga barunya. Setidaknya, begitu pikir Naruto. Namun, kebahagiaan Leaf, tetap tidak mampu menahan rasa sakitnya. Tidak mampu menjadi obat bagi kesembuhannya.
…
Usianya sudah lebih dari 16 tahun, tubuhnya semakin sakit dan ia… sudah putus asa. Hari itu… hari terakhir di musim dingin. Ia berpikir demikian karena salju sepertinya tidak muncul lagi. Dingin sekali… dan dadanya terasa semakin sesak. Air mata bergulir… darah tidak hentinya keluar dari mulutnya… apakah ini akhir dari hidupnya? Ia takut… mati sendirian… ia ingin bertemu dengan Sasuke…
Sasuke…
Dipaksanya kedua kakinya untuk bangkit, diambilnya buku dan kapur. Lalu dirobeknya beberapa halaman yang terdapat gambar-gambar…
Sret…sret… sret…
Ia terbatuk kembali…
Ketakutan memenuhi dadanya… ia takut… sendiri… bahkan sampai akhir hayatnya… apa yang membuatnya menderita dan harus hidup seperti ini? sendiri… bahkan sampai akhir hayatnya?
Tuhan… tidak bisa kah kau kabulkan sekali ini saja permintaanku pada-Mu? Apakah aku pernah berbuat buruk? Karena itu… aku mohon untuk terakhir kalinya dalam hidupku… Engkau kabulkan permintaanku Tuhan… aku ingin… bertemu dengannya… bertemu dengan…
'Krekkk.. krekkk'
"Bocah sepertimu berhasil memanggilku… Kau ingin membuat perjanjian macam apa denganku?" tanyanya…
Sasuke…
"Jangan panggil aku bocah!"
"Hn… Kau tidak takut padaku,… dobe."
Sasuke…
"Teme! Jangan panggil aku dobe! Aku punya nama! Naruto! Namaku Naruto!"
"Heh? Nama yang tepat untuk orang konyol sepertimu."
"Sudahlah, terserah kau saja. Cepat katakan apa keinginanmu, agar aku bisa mengikat perjanjian denganmu, dan seharusnya kau sudah tahu apa konsekuensi memanggilku."
Sasuke…
"Sebutkan namaku, pemuda… dan ucapkan permohonanmu, lalu alirkan darahmu."
"Uchiha Sasuke…"
"Katakan keinginanmu,"
"Aku ingin kau menjadi temanku, dan menemaniku hingga aku mati nanti."
…
Sepucuk surat yang sudah tak terbungkus lagi dari sampulnya. Warna pitanya jingga, dan terdapat cap lambang keluarga 'Uchiha' berwarna putih-merah dibelakangnya. Siapapun yang melihatnya, akan tahu kalau pengirimnya adalah laki-laki dengan senyum terindah yang pernah ada.
Tulisan tidak rapi, bahkan hampir tidak dapat dibaca. Tapi siapapun yang membacanya pasti tahu, bahwa anak itu menulisnya dengan sepenuh hati. Hari itu tiga hari setelah kematiannya. Sahabat baiknya, mengirimkan seluruh surat yang telah ditulisnya dengan bantuan bala tentaranya.
…
[Dear Lady Hinata
Aku merindukanmu… terimakasih… karena dukunganmu… tapi pada akhirnya aku tahu… aku tidak akan sanggup menceritakan apapun pada Sasuke… terimakasih karena hari itu kau telah marah untukku… itu menunjukkan seberapa perhatiannya dirimu, bagi seseorang yang tidak berarti dan bodoh seperti aku…
Lady, mungkin kau tidak tahu betapa berarti penutup mata yang kau buatkan. Tapi… hal itu membuatku terus hidup. Aku menyayangimu. Sungguh menyayangimu. Aku harap kan kebahagian akan selalu ada dihidupmu, dan kau akan melahirkan anak-anak yang cantik dan mulia seperti dirimu.
Sahabatmu…
Love
Uchiha Naruto.]
Isakan tangis memenuhi kediaman Tokugawa. Bukan karena surat manis itu… tapi karena surat yang bertuliskan Uchiha Sasuke setelahnya dengan kabar menyedihkan di dalamnya-lah yang membuat mereka berduka.
[Hai…Tokugawa-sama
Tolong jaga dan bahagiakan Lady Hinata.
Terimakasih…
Sincerely
Uchiha Naruto]
…
[ Dear Hack
Hai, Hack… kau sungguh cantik, kalau kau perempuan aku pasti akan menikahimu… hahaha…
Hem…
Terimakasih…
Dan tolong… rawat Uchiha Mansion… dan kebun bunga mawar kita...
Terimakasih telah menjadi temanku…
Love.
Uchiha Naruto.]
Hari itu, bunga mawar sedikit layu… entah apa penyebabnya. Matahari bersinar dengan cerah, tapi sepertinya mereka tahu… mereka kehilangan 'cahaya'nya yang lain.
[Dear Zack
Yo, Zack!
Aku selalu berpikir walaupun kau itu menyeramkan tapi kau itu orang yang lembut. Tolong bantu dan jaga Hack…
Aku sungguh senang kau bisa menemani kami bersama di kebun mawar.
Your almost-Brother-in-Law
Uchiha Naruto.]
[Dear Iris,
Maaf karena sudah merepotkanmu dengan permintaanku yang seenaknya… aku benar-benar suka masakanmu…
Aku akan merindukanmu, Iris
Sincerely,
Uchiha Naruto.]
…
[Dear Leaf,
Aku tidak tahu kalau surat ini akan sampai atau tidak… tapi aku harap ini bisa sampai padamu… sungguh…
Apakah kau baik-baik saja?
Aku merindukanmu, dan aku sudah bertemu dengan Sasuke… mungkin kau pernah mendengar nama Uchiha? Iya… kini memiliki nama 'keluarga' Uchiha Naruto… terimakasih, Leaf… ini semua karena bantuanmu… saat itu…
Ah… sekali-kali datanglah ke panti asuhan… karena sepertinya mereka merindukanmu dan… belajar lah yang rajin… lalu ingat… jadilah laki-laki sejati!
Aku harap suatu saat nanti bisa membanggakanmu dihadapan dunia kalau kau itu adikku.
Your brother
Uchiha Naruto.]
"Kau akan selalu menjadi kakakku, Naruto…"
…
[Your Excellency,
Lord John Alexander Windsor
Terimakasih karena pernah memberiku makanan, mengajarkan 'tatakrama' dan memberikan tempat bernaung untukku…
Kau… adalah… orang yang selalu membuat berpikir 'Mungkin beginilah rasanya punya ayah'… aku harap kau akan bahagia Mr. John… aku akan merindukanmu…
Jaga dirimu.
Sincerely
Uchiha Naruto.]
"Andaikan aku muncul lebih cepat lagi Naruto… kau akan menjadi kakak dari anak-anakku…"
[Your Excellency,
Michael Windsor Earl of Ulster
Terimakasih atas bantuan anda mempertemukanku dengan Lord John. Semoga anda selalu diberkahi kesehatan, Sir.
Sincerely,
Uchiha Naruto.]
…
[Hi, Saine
You… Dick-possessed-bastard! I'm not dickless!
Damn!
Anyway… thanks… your draw is beautiful, love it.
Hope, we had met sooner.
Big-hearted-not-a-dickless
Uchiha Naruto.]
Senyum pedih muncul dibibir laki-laki yang tidak pernah menunjukkan ekspresi normal manusia pada umumnya.
[Dear Mr. Silverster Scarecrow
Oh… hi… Mr… Scarecrow…
Boleh kah aku membaca bukumu sekali saja? karena sepertinya menarik?
Anyway, terimakasih untuk dukunganmu selama ini… dan tolong jangan pernah masuk kekamar mandi atau ke kamar saat aku tidak berbusana…
Dan… tolong jaga Sasuke… sepertinya kalian dekat…
Terimakasih…
Sincerely
Your sexy boss
Uchiha Naruto.]
Pintu terbuka dengan decit yang memenuhi telinga. Uchiha Mansion terlalu sepi kalau mereka mau tahu. Bahkan lebih sepi dan dingin lagi, setelah matahari mereka telah tiada. Seorang laki-laki duduk di pinggiran jendela menatap bunga-bunga mawar yang terlihat sedikit layu.
Ia menggunakan pakaian terhitam yang ia miliki, seluruh tubuhnya dibalut dengan warna duka. Tidak sedikitpun warna ada dihidupnya, kecuali pucatnya kulit yang terlihat seperti kematian. Ditangannya, dokumen-dokumen pekerjaan yang tetap harus ia selesaikan. Ia tidak mungkin lari dan pergi begitu saja…
Ada yang harus ia lakukan… mungkin lebih tepatnya, ini yang bisa ia lakukan untuk sahabat yang dicintainya.
"Sasuke…"
Ia tidak bergeming.
"Kau sudah membaca surat dari Naruto?"
Mata hitamnya semakin kelam, dan melirik secarik kertas bertuliskan beberapa kalimat. Ia tahu Naruto tidak bisa banyak menulis perkataan… tapi… secarik kecil ini membuatnya ingin mengutuk dunia, mengutuk Tuhan dan segalanya yang ada. Ingin mencuri tubuh Naruto dan membangkitkannya lagi… melihat senyumnya… tapi ia tahu… itu semua mustahil.
Jadi… hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan.
…
[Dear Lady Scherryel Kirschbaum
I Love You.
Sincerely,
Uchiha Naruto.]
Seorang gadis yang menangis karena kematian seorang laki-laki. Bukan karena pedih atas kehilangannya… ada hal yang lebih besar dari itu… yaitu, rasa sesal dan bersalah… andaikan… ia sungguhan menanggapi perasaannya saat itu dan tidak berusaha memanfaatkannya. Apakah perasaan 'pedih'nya akan lebih baik?
Setidaknya, ada saudaranya yang memeluknya dan membisikinya bahwa laki-laki berambut pirang itu, tulus dan tidak membencinya sama sekali. Tidak menyalahkannya, tidak juga marah padanya. Sungguh, saudaranya itu mengetahuinya.
[Dear Lady Minourel Kirschbaum
Tolong jaga Lady Scherryel … karena kemungkinan kalau terjadi apa-apa denganku… Sasuke akan pergi dari tempat ini… jadi aku mohon hiburlah ia… karena aku tahu… sesedih apa rasanya… tidak akan pernah melihat orang yang dicintainya lagi.
Sincerely,
Uchiha Naruto.]
"Hei, Naruto… itu berbicara tentang dirimu sendiri 'kan?"
…
Sepucuk surat yang masih ada digenggaman tangan seseorang…
Tangannya bergetar…
Dobe…
Aku…
[Dear My Bastard-Stupid-Teme Sasuke
Aku bahagia Sasuke… karena berapakalipun aku berpikir… aku ini hidup untuk mencarimu, untuk bertemu denganmu, untuk berteman denganmu, dan untuk bersama denganmu.
Terimakasih telah menjadi keluargaku…
Terimakasih untuk segalanya… aku bahagia dan beruntung bisa bertemu denganmu. Jika ada kesempatan yang diberikan Tuhan lagi… maka aku ingin bertemu denganmu. Mungkin, kita akan sungguh bertemu di Neraka? Kau harus mencariku, Sasuke…
Love you my friend.
Sincerely
Uchiha Naruto :) .]
You're suck…
Dobe…
I'm not yours.
Dan air mata kembali menetes membasahi surat kumal yang sudah dibaca, dibuang, diambil kembali, dan dipeluk dengan eratnya.
…
Kakinya tidak lelah juga saat berjalan jauh. Ini aneh… tapi ia tahu dimana 'ia' berada saat ini. dipadang bunga kapas yang lebar. Warna putih dan hijau yang membentang, belum lagi warna biru langit diatas sana. Saat ia berpaling kebelakang, ada bunga mawar memenuhi matanya. Satu batang besar ada di tangannya, dan dipakainya sebagai hiburannya.
Ia tidak kelelahan, tapi ia ingin duduk dibawah pohon yang rindang dan sangat sejuk. Rambut pirang panjangnya terkibas, pakaiannya berwarna orange dan sedikit berkibar karena hembusan angin. Ia tidak lagi menggunakan penutup mata, karena ditempat itu tidak akan ada seorang pun yang berkata buruk dan kasar padanya.
Kalau ia lapar, makanan akan muncul, kalau ia haus, ia tinggal minum dari sungai yang tidak jauh dari tempatnya. Sungai yang dipenuhi susu dan madu, jauh lebih enak dari apa yang ada di dunia. Ah… ia sudah lupa apa yang terjadi saat ia hidup.
Sekalipun ia tidak sedih, dan tidak merasa kesepian… tapi… jauh dilubuk hatinya… ia seakan-akan sedang menunggu seseorang… seseorang yang ia sayangi…
Ia menggelengkan kepalanya, ia sudah terlalu sering berpikiran seperti itu, dan itu memuakkan. Aneh… kenapa ia bisa merasa muak ditempat sempurna seperti ini, ia bangkit dan berlari ke taman bunga dimana ada banyak hewan-hewan kecil disana. Biasanya ia akan mengejar-ngejar hewan sampai dapat, atau berlomba-lomba dengan hewan-hewan atau creature cantik yang ada disini. Ia punya banyak teman yang cantik-cantik! Bahkan sangaaaaattt cantik… tapi, entah kenapa di dalam lubuk hatinya ia pernah melihat seseorang yang jauh lebih cantik dari ini.
Tangkai bunga mataharinya ia angkat tinggi-tinggi dan ia kibas-kibaskan pada kawanan kupu-kupu berwarna-warni yang bercahaya disekeliling mereka. Naruto tertawa dan melihat kupu-kupu itu beterbangan di sekelilingnya. Ia berlari kesana kemari mengejar salah satu kupu-kupu raksasa yang berwarna Orange…
Dan ia tidak menyadari ada 'makhluk' cantik yang tidak sama dengan yang ada disisinya….mendatanginya.
"Kau benar-benar mengganggu ketenanganku! Bisa sedikit lebih tenang dan tidak berlari-larian seperti itu, Dobe?"
…o0o…
Just move straight ahead towards something
I can't help looking at you
…o0o…
Di antah berantah, di tengah-tengah hutan bambu, tidak jauh dari rumah kuno keluarga Shikamaru.
"Temeeee! Kenapa kau ada di sini? Bukankah tadi kau bersama dengan Menma dan Shika?"
Mata berwarna biru kelam menatapnya dengan sangat tajam. Ada hal yang terbesit dari kedua mata itu. bukan kebencian. Bukan rasa kesal. Bukan rasa terganggu. Bukan rasa tidak nyaman. Seperti yang biasa ia perlihatkan padanya. Tapi itu…
"Naruto!"
Laki-laki berambut jabrik pirang berpaling dan melihat seseorang yang wajahnya sama dengannya, hanya saja berambut hitam bermata coklat kemerahan.
"Menma? Aku tersesa-"
Laki-laki yang dipanggilnya Menma menggenggam wajahnya dengan panik, "Kau tidak apa? Kau sungguh tidak sakit kan?"
"Men-" si rambut hitam itu menepuk-nepuk tangan dan punggungnya, "Menma! Daijoubu…!"
Ia melihat laki-laki yang sedikittttt lebih tinggi darinya ini menghela napasnya, "Yokatta!" lalu tersenyum padanya, "Issho ni kaeru?"
"Haaaaaiiii…" ia melirik kebelakang, "Hei, Teme! ayo pul-" ia melihat saudaranya yang sudah berjalan terlebih dahulu, "Menma! Sasuke ada dimana? Bukannya ia ada dibelakangku?"
Laki-laki yang dipanggilnya Sasuke muncul dari arah Menma datang, "Itu Sasuke…"
"Teme!" bentak Naruto yang terkejut karena Sasuke tiba-tiba menghilang dan muncul… seperti seorang ninja… Naruto menunjukkan jari telunjuknya pada laki-laki berambut hitam berkacamata, "Kau sengaja mempermainkanku ya! Tiba-tiba menghilang dan muncul!"
Mata gelap itu menatapnya dengan lekat. Seakan-akan berusaha menelan Naruto secara keseluruhan.
"Dobe…" ia menatapnya dengan aneh, dan sedetik kemudian berubah menjadi kesal, "Pakai otakmu, Dobe! Walaupun aku ragu kalau kau punya otak!"
"Teemmmeeee!"
"Naruto! Naruto!" ia menarik lengan saudaranya yang berusaha meninju laki-laki yang lebih tinggi dari mereka berdua, "Jangan dihiraukan! Kita pulang aja! Okasan, nanti marah!"
"Cih!" dan Sasuke berjalan lebih dahulu, pergi dari tempat itu.
"Geeeezzzz! Ano yarouuu! Lepas Menma!" ia menepuk-nepuk tangannya dengan kesal, dan ia mendengar saudaranya menghela napasnya. Lalu berjalan pula mendahuluinya, namun tidak jauh.
Si pirang itu membalikkan tubuhnya lagi. Ia masih ingat si Teme sial itu ada dibelakangnya. Sedang menatap langit dan berwajah… sedih? Kenapa si teme itu sedih? Lagi pula… kemana kacamatanya? Ng… sejak kapan juga Sasuke pakai jaket hitam? …
"Hish… mungkin aku memang sedang kelelahan…" ia menatap kakaknya yang memanggilnya tidak sabaran, "Hai! Hai! Matte yo!"
Tapi… tatapan mata yang tanpa kacamatanya itu… seperti… ia sedang… sangat…
Merindukan seseorang?
Temannya mungkin?
…oOo…
Whether I'm by your side or not,
There's a red string that ties someone with someone else
…oOo…
End.
A/N:
*Yuugao/Mamiko Noto/ Ost. School Rumble
**Akai ito/ Koshi Inaba/ Ost. Kekkaishi
#warning: Sasuke dan Naruto di masa depan bukan reinkarnasi... tapi,... :v cucu cucu cucu cucu cucunya cucu... :c
Saine itu Sai… disini dia penegak hukum gitu… yang jadi undercover… karena ada yang curiga sama Uchiha dan ada juga 'orang' yang membahayakan Uchiha karena kekayaannya.
O.o disini berasa aneh, Jin temenan sama Manusia… ng… well, saya luruskan… Kakashi bilang 'kalau dia udah nggak mau deket2 sama manusia'… jadi pada dasarnya Jin temenan sama Manusia itu BULLSHIT! Pada akhirnya 'Jin' itu akan 'membelokkan' manusia… :v makanya Sasuke keliatan kaya iblis yang kerjaannya nipu manusia. Kakashi tahu karena kakashi selalu tahu :D tentang sasuke…
Oh ya, tentang NaruSaku dasarnya Naruto emang Normal, dan sukanya sama Sakura… makanya secara rasional ?(mau nggak mau… TOT) kalo saya yang jadi Naruto… yang kata 'I love you' itu… tetep buat Sakura… [berusaha mati-matian ngejaga genrenya soalnya]
Thanks to: uzumakinamikazehaki, hanazawa kay, vianycka hime, himawari wia, yuu, harukichi ajibana, miftacinya, angel muaffi, guest, fayrin setsuna, fujoshi desu for review…
Ada yang kurang?
SEQUEL?
Dunno…
