ada yang bisa hitung berapa kali saya sebut kata coffee shop di ff ini?
kkk~~ coffee addict imnida, ada yang coffee maniak sama kaya saya disini?
saya bisa tiga kali sehari ke starbucks jadi maklumin aja u n u
.
.
seperi biasa belum di proofread, sesudah saya wisuda (?) pasti saya edit dan fix-in bahasa-nya.
.
.
"Mark.. Hey.." Jackson mencoba menenangkan Mark yang masih terus menangis sambil memelukinya, mereka sedang duduk di sebuah bench yang berada didekat coffee shop di taman hiburan itu.
"Mark.. what's wrong?"
Jackson mulai merasa tidak nyaman saat setiap pengunjung yang berjalan melewati mereka memberinya tatapan tidak suka, seakan-akan Jackson lah yang membuat Mark menangis seperti ini dan menyalahkannya.
"Mark everyone's staring.."
Mark tidak perduli dengan orang lain, yang dia pedulikan saat itu hanya Jackson. "Jackson.." panggil Mark lirih, kemudian memeluknya lebih erat lagi hingga dia sudah berada dipangkuan Jackson.
"Yes? What is it?"
"Jackson.."
"Mark stop crying goddamnit."
"Jackson.."
"Alright, I understand. Stop crying.. shush~~" Jackson menepuk-nepuk punggung Mark dengan lembut untuk menenangkannya.
No, you don't understand, Jackson.
"Mark, aku sudah mulai kedinginan, berhenti membasahi kemejaku.." canda Jackson, berusaha membuat Mark merasa bersalah dan berhenti menangis
...
Jackson menghela nafasnya. "Okay, kau boleh membasahi kemejaku sesukamu, tapi setidaknya biarkan aku membeli coffee terlebih dahulu sebelum aku mati kedinginan."
Mark menggelengkan kepalanya dua kali.
"Mark.. Gossh! What's going on with you?"
Akhirnya setelah dibujuk selama beberapa menit, Mark baru mau melepaskan kedua tangannya yang terlingkar sangat erat di bahu Jackson.
Mark yang sedang di tinggal sendirian di bench itu menatap Jackson yang tengah berlari kecil menuju coffee shop untuk membeli minuman hangat untuk mereka berdua. Dari belakang, orang yang sedang ditatapnya itu tidak terlihat seperti orang yang dulu ia kenal sama sekali. Tubuhnya sangat berbentuk dan kekar, dia terlihat sedikit lebih tinggi sekarang. Dan rambut blonde-nya yang tertata rapi itu membuatnya terlihat sangat manly.
Jackson sudah sangat berubah dalam waktu empat tahun, kini dia benar-benar terlihat seperti sosok Alpha yang dulu Mark impi-impikan. Jika Mark empat tahun yang lalu mengetahui bahwa Jackson akan berubah sedrastis ini, dia pasti akan menunggu dengan sabar dan tidak memutuskan Jackson.
Sedangkan Mark sendiri, dia masih sama seperti empat tahun lalu, tidak ada yang berubah. Terkecuali badannya yang mulai meninggi namun malah semakin mengecil.
Dia mengeratkan pelukan tumpukan kain yang terlilit ditubuhnya saat angin berhembus kearahnya, jubah dan jas milik Jackson masih bertengger ditubuhnya, Jackson menolak saat Mark ingin mengembalikannya.
Jackson kembali muncul di penglihatannya membawa dua cup coffee ditangannya, Mark memperhatikan wajah itu dengan seksama, rupanya wajahnya pun tampak sedikit berubah, kini dia terlihat sangat tampan dengan warna rambut barunya.
Jackson memberikan coffee hangat permintaan Mark kepadanya sekaligus membuyarkan lamunan Mark tentang Jackson, Mark menerimanya dan mengerutkan dahinya -seperti anak kecil yang diberikan sayuran daripada daging- saat melihat yang diberikan Jackson adalah coklat panas, bukan coffee.
Mengerti arti dari kerutan di kening Mark, Jackson pun menjelaskan. "Aku mencium bau kafein dari mulutmu, tidak bagus jika meminum banyak coffee." Kemudian dia kembali duduk disamping Mark.
Mark tidak banyak tanya dan langsung melingkarkan kedua tangannya di tubuh Jackson lagi, Jackson yang sedang meminum minumanna pun tersedak akibat gerakan dadakan yang Mark lakukan.
Seakan tidak perduli dengan Jackson yang tersedak, Mark juga ikut meminum cairan coklat itu dan masih memilih untuk tetap diam, dia tidak mempercayai mulutnya untuk saat ini sampai beberapa saat kedepan.
"Bagaimana hidupmu?" tanya Jackson, membiarkan Mark menggeliat di pangkuannya untuk mencari posisi yang membuatnya nyaman.
Mark berpikir sejenak, bingung harus menjawab apa, sungguh. Apa dia harus jujur dan menjawab bahwa hidupnya penuh dengan penyesalan, atau 'itu akan lebih baik jika aku bersamamu', atau berbohong dan berkata bahwa dia baik-baik saja?
Jackson yang sangat mengerti Mark dapat mengetahui dengan jelas bahwa Mark sedang berpikir untuk menjawab pertanyaannya, Mark yang dia kenal memang selalu membutuhkan waktu untuk merangkai kata dan menjawab sebuah pertanyaan bahkan pertanyaan simple sekalipun. Jadi dia hanya tersenyum kecil dan meneguk coffee-nya.
Mark pun memutuskan untuk tidak menjawab sama sekali.
"But seriously though, what's wrong?"
Mark tidak menjawab dan malah menyembunyikan wajahnya dileher Jackson yang membuat Jackson terkejut dengan aksi dadakannya lagi.
"Apa kau begitu merindukanku?" Jackson chuckles.
"Hm.."
Sebenarnya Jackson hanya bercanda, dia tidak pernah berpikir bahwa Mark akan merindukannya seperti dia merindukan Mark. Kekehannya terhenti saat Mark mengiyakan pertanyaannya yang membuat suasana menjadi canggung diantara mereka, Jackson hanya mendeham dan kembali meminum coffee-nya.
...
...
...
...
"Hey, what's going on there?"
Jackson mengangkat kepalanya sedikit dan melihat Jaebum dan yang lainnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dibaca sedang berjalan mendekati mereka berdua.
Jackson hanya merespon dengan mengangkat bahunya.
"Mark?"
Hani terkejut saat Jaebum menyebut sebuah nama yang sangat dia ketahui siapa.
...
Disaat dia yakin..
...
Disaat dia yakin Jackson mulai mencintainya sepenuhnya..
...
Usaha yang sudah dia bangun bertahun-tahun, hancur berantakan.
...
Mark menoleh dan mendapatkan sosok Jaebum yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka serta sahabat Jackson yang lain, bersama dengan... "Bobby?"
"Mark, kau kemana saja! Aku pikir kau tersesat!"
"Uh.. Jaebum." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Mark, dia mencengkram bahu Jackson karena merasa tidak nyaman dengan keadaan yang sedang terjadi.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jaebum tajam.
"Im Jae Bum." adalah cara Jackson memperingati Jaebum untuk tidak berbicara kasar pada mantan kekasihnya.
"Apa maksud nada bicaramu, kau pikir tempat ini milik ayahmu?" ujar Bobby tak kalah tajamnya, tersinggung dengan ucapan tajam Jaebum.
Jaebum tidak mengalihkan pandangannya dari Mark, dia terus menatapnya dengan tajam, "Well.. no. But would a friend's do? Sahabatku memiliki saham mendominasi ditempat ini. Tempat yang sangat berarti baginya, tempat dimana dia pertama kali menyadari bahwa dia jatuh cinta dengan seseorang yang pada akhirnya menghancurkan dunianya-"
"Im Jae Bum." peringatan kedua dari Jackson.
Jaebum pun diam, he knows not to mess with Jackson karena seorang Jackson tidak akan memberikan peringatan untuk yang ketiga kalinya.
"Hi Mark, aku mendengar banyak tentangmu.." sapa Hani yang sudah berada diujung air mata saat melihat Jackson dan Mark, terlebih lagi saat melihat pakaian Jackson bertengger di tubuh Mark dan melihat mereka berpelukan seperti itu. Dia tau semuanya akan berakhir. Cepat atau lambat.
"H-hi.." Mark tersenyum kaku.
"Apa kau berencana untuk duduk dipangkuan Jackson sampai besok, Mark?" sindir Jaebum.
"Uh.." Mark pun -dengan tidak ikhlas- berdiri dari pangkuan Jackson, dia memain-mainkan jemarinya sendiri mera benar-benar sangat tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Jaebum, orang yang dulu sangat baik dengannya.
"Jackson?" tanya Bobby terkejut. "That.. dude is Jackson?" Bobby menunjuk-nunjuk kearah Jackson. Pantas saja, pikir Bobby. Pantas saja Mark menempel dengannya seperti itu.
Jackson ikut berdiri lalu memperkenalkan Mark pada Hani. "Hani as you know already, this is Mark. And Mark.."
Mark menggigit bibir bawahnya, juga merasa nervous karena menjadi pusat perhatian.
"This is Hani, my girlfriend." lanjut Jackson.
Mark membulatkan kedua matanya, girlfriend?
Bobby mengusap wajahnya kasar melihat reaksi Mark yang sangat obvious, semua orang bisa tau bahwa Mark merasa sangat kecewa hanya dengan melihatnya dengan sekilas saja. Dia tau ini semua pasti akan terjadi, mana mungkin Jackson masih single setelah empat tahun. Hanya Mark lah cukup bodoh untuk tetap single.
"O-oh.."
"Mark come on, we're going home." Bobby menarik tangan Mark dengan sedikit paksaan karena Mark memberontak, menolak utuk pergi bersamanya. Mark masih ingin berada disana, dia masih ingin bersama Jackson, panggil dia bodoh, dia tau itu, kau tidak perlu memberitahunya.
"Bobby.." Mark mencoba melepaskan pegangan Bobby yang kuat di tangannya, namun Bobby malah semakin mengeratkan pegangannya.
Jackson tidak suka melihat Mark diperlakukan seperti itu, dia tidak merelakan putus dengan Mark untuk laki-laki yang sangat kasar seperti itu. Seharusnya Mark meninggalkannya untuk pria yang lebih baik darinya, bukan sebaliknya. Jackson pun akhirnya mengambil kesimpulan tentang alasan dibalik tangisan Mark tadi; he has a violent boyfriend.
"Hey dude, get your hand off of him."
Bobby menaikkan alisnya dan menatap Jackson dengan heran. Seolah-olah bertanya 'Apa katamu?' dengan matanya.
"I said get. your. hand. off. of. him." Jackson menggertakan giginya.
"Huh?"
"Is that how you treat your boyfriend?!"
O ow~ Bobby paham sekarang mengapa Jackson terlihat sangat marah, dia menggigit pipi bagian dalamnya mencoba untuk tidak tersenyum melihat Jackson yang bersikap protective tehadap temannya.
"Apa urusannya denganmu jika aku memperlakukan kekasihku seperti apa? Dia kan kekasihku, bukan kekasihmu."
Mark membulatkan matanya mendengar lelucon Bobby. 'Apa dia bilang? Kekasihku?'
"Lakukan apa yang kau suka dengan wanita ini." Lanjut Bobby, menunjuk Hani dengan dagunya. "Ayo Mark, kita pulang.."
Mark masih menolak, temannya yang tidak tau diri ini tau benar betapa rindunya Mark kepada Jackson, bagaimana bisa diasekejam itu dan memaksa untuk memisahkan mereka berdua?
"Mark, dia sudah punya kekasih!" bisik Bobby ditelinga Mark, berusaha menyadarkan temannya yang bodoh itu.
"..."
Mark berhenti memberontak dan membiarkan Bobby menariknya. Dia melirik kearah seorang wanita yang Jackson kenalkan sebagai kekasihnya, wanita cantik dan seksi yang selalu idamkan dalam bayangannya persis seperti yang dia ceritakan pada Mark. Seketika Mark merasa kecil jika membandingkan dirinya dengan wanita itu, wanita itu punya segalanya yang Jackson inginkan. Mark pun menundukkan kepalanya.
Tetapi Jackson menarik tangannya yang lain.
"Dia tidak akan pergi kemana-mana denganmu."
Bobby tertawa mengejek, "Lalu dengan siapa? Denganmu?" Lalu menarik Mark lagi,
Usaha Bobby untuk menarik Mark dengannya sia-sia, karena tiba-tiba saja Jackson menarik Mark lebih kuat lagi yang membuat Mark berdiri tepat dibelakangnya.
"Jika kau, melukai Mark sedikit saja.." ancam Jackson.
"Kapan kau berulang tahun?" tanya Bobby datar, berjalan mendekati Jackson dan mengulurkan tangannya untuk Mark genggam, Mark pun menggenggamnya.
"Huh?" Jackson merasa bingung dengan pertanyaan random yang diutarakan Bobby.
"Akan ku hadiahkan kaca." Mark melepaskan genggaman tangan Jackson dari tangannya saat Bobby menarik tangannya lagi dan bergegas menggeretnya meninggalkan tempat itu.
...
...
Setelah mereka pergi, Hani menggeleng-gelengkan kepalanya kearah Jackson. "Tsk tsk tsk Wang Jackson.." dia berkacak pinggang.
Tamatlah riwayatmu, Jackson hyung. Batin Yugyeom.
"Apa kau baru saja membiarkannya memelukmu?!"
Rest in Peace, hyung. Batin Bambam.
"You fool, how many times should I told you!"
"Kau lihat kekasih barunya? Bad ass! Itu sebabnya dia meninggalkanmu, seharusnya kau sok jual mahal sedikit! Dasar bodoh, kalau begitu mana bisa kau mendapatkannya lagi?" omel Hani kesal lalu pergi meninggalkan sekelompok pria yang jaw-dropped because of the sudden plot-twist.
"..."
"..."
"..."
".Sudah ku katakan, wanita itu gila. Kau saja yang tidak percaya." Bisik Jaebum pada Jackson.
"Hani!" Mengabaikan bisikan bodoh sahabatnya, Jackson berlari mengejar Hani.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
.
"Aku bersumpah melihat kecemburuan dimatanya, Mark." seru Bobby karena Mark terus menolak untuk mempercayai sebuah fakta yang Bobby terus coba untuk utarakan dalam mendukung mosi debat mereka pagi itu. Dia mengambil toast yang baru saja Mark letakkan dimeja makan dan menyantapnya dengan lahap.
"Jangan bodoh, Bobby." Mark duduk dan mengambil jatah sarapan paginya yang tertunda karena dia baru saja pulang dari kantor Jaebum untuk mengantarkan sesuatu.
"Kau bisa menuntutku jika aku salah. Dia masih mencintaimu, Mark."
Mark tidak mau membiarkan perkataan Bobby masuk ke otaknya dan membuatnya berharap, dia tidak mau menjadi ;ebih sakit saat harapannya hancur berkeping-keping suatu saat. terlebih lagi Jackson sudah punya kekasih.
"Dia sudah punya kekasih, Bobs."
"Kau pikir, jika dia mencintai kekasihnya, dia akan membiarkanmu duduk dipangkuannya bahkan saat kekasihnya datang bersama kami untuk menghampiri kalian? Apa dia mendorongmu dari pangkuannya saat Jaebum bertanya apa yang sedang terjadi?" argu Bobby, dia terus mengeluarkan rebuttal-rebuttal untuk membantah setiap oposisi statement yang Mark keluarkan.
Mark terdiam. Bobby ada benarnya juga.
.
"Aku memang tidak tau apa itu cinta, Mark. Tapi aku tidak bodoh." Lanjut Bobby.
.
.
.
Jackson menutup matanya sambil memijat-mijat keningnya dengan jemarinya, teringat kejadian semalam saat dia memaksakan dirinya pada Hani. Seharusnya dia tidak melakukan itu, dia menyesali perbuatan bodohnya semalam. Dia terbawa emosi karena Hani terus menolaknya semalam, Hani tidak pernah menolaknya. Begitulah menurutnya, karena menurut Hani dia hanya melampiaskan kemarahannya karena melihat Mark dan kekasihnya.
Jackson melihat pita rambut Hani dilantainya yang tertinggal karena Hani terburu-buru pergi dengan emosi malam kemarin. Jackson meletakkan cangkir kopinya di sebuah meja dekat tempat tidurnya dan mengambil pita itu.
Dia mengamati benda berwarna merah jambu yang sedang berada ditelapak tangannya itu sebelum menggenggamnya dengan erat. Sekarang Hani sudah marah besar dengannya, bahkan memintanya untuk tidak menghubunginya lagi untuk sementara waktu.
"Shit." Dia memijat-mijat keningnya lagi. "Apa yang harus kulakukan.."
.
.
.
xxxxxxxxxxx
Jackson yang sedang tidak berada di mood yang baik pun terus melampiaskan emosinya (lagi) kepada karyawan dan rekan-rekan kerjanya, tidak terkecuali Yugyeom dan Bambam yang tanpa sengaja melakukan kesalahan dalam meeting yang baru saja mereka hadiri.
"Apa kau tidak dengar?!" Kali ini Jaebum lah sasarannya. "Mereka meminta designer yang mendesign produk terakhir, temui dia dan jelaskan semuanya padanya!"
Jaebum mengasihani nasibnya yang sangat buruk saat ini, Jackson akan tambah marah jika dia memberitahu bahwa designer yang dimaksud tidak bekerja dikantor tapi dirumahnya, apalagi jika dia tau bahwa designer itu adalah seorang pria berkebangsaan Amerika yang dia rekrut secara sepihak tanpa memberitahu Jackson.
"Mengapa kau masih disini?!"
"Uh, sebenarnya.. sebenarnya.."
"No talking, just go get him already we don't have time."
Jackson memijat keningnya untuk yang ketiga kalinya pagi itu setelah Jaebum keluar dari ruangannya, dia mengambil gagang telepon yang berada disampingnya dan men-dial ke ruang Bambam.
"Apa hyung?" tanya Bambam dengan suara pelan, masih merasa takut karena baru saja dimarahi hyung-nya itu di ruang rapat tadi.
"Apa kau sudah bisa menghubungi Hani?" tanya Jackson dengan penuh harapan, Bambam adalah makhluk kesayangan Hani di dunia ini, mungkin saja dia menghubunginya. Pikirnya.
"Hyung, kalau kekasihnya saja tidak bisa apalagi aku?"
Jackson mendesah dan menutup teleponnya dengan kasar, Dia tidak ingin kehilangan masa depannya hanya karena masa lalunya yang datang. Dia sudah punya Hani, Mark sudah punya lelaki lain, dia tidak yakin apa yang jadi masalahnya sekarang sehingga Hani melakukan ini semua. Tidak mungkin kan hanya karena dia memaksakan dirinya kepada Hani semalam?
.
.
.
.
Jaebum mengetuk pintu flat milik Mark yang alamatnya diberitahu oleh supir pribadinya setelah mengumpulkan keberanian untuk melakukannya, mengingat bagaimana dia memperlakukan Mark kemarin malam tidak heran jika Mark akan menyuruhnya pergi dari rumahnya. Dia menempelkan dahinya di pintu itu, mengapa semua yang dia lakukan tidak pernah pergi ke arah yang benar dan selalu berakhir menyusahkan dirinya sendiri?
Dia hampir terjatuh kedepan saat pintu flat itu terbuka, pengalamannya sebagai B-Boy dancer yang sudah melatih nerves-nyapun tidak mengecewakannya, dengan sigap dia kembali berdiri tegap menatap pria.. berambut hitam?
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jaebum.
"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu?"
"Sudahlah. Dimana Mark hyung?"
"Sedang mandi, tolong tunggu saja diluar." Ujar Bobby acuh sebelum kembali menutup pintu itu.
"Apa dia baru saja membanting pintu ini didepan wajahku?!" desisnya kesal.
Jika bukan karena Jackson yang mendesak dia tidak akan mau menunggu seperti seseorang yang mengemis sumbangan apalagi setelah diperlakukan seperti tadi oleh Bobby. Setelah menendang-nendang pagar besi milik Mark untuk yang kesepuluh kalinya, sosok yang dia tunggu-tunggu pun keluar dari dalam rumahnya dan memanggil namanya.
"Jaebum? Apa yang kau lakukan disini?"
Jaebum membalikkan badannya dan melihat Mark dengan kedua mata yang sembab, mencoba untuk tidak merasa bersalah dengan mata yang sembab itu dia mendeham. "Kali ini aku yang mengantar pekerjaanmu, supirku sedang liburan.."
Mark mengangkat satu alisnya tinggi, "Aku sudah mengantarkan surat pengunduran diri tadi pagi-pagi sekali."
Jaebum membelalakan matanya. "Apa?"
"Aku sudah mengundurkan diri."
"...Mengapa?"
"Bukankah kau tidak suka denganku?" tanya Mark tajam, mencoba mengingatkan Jaebum tentang perilakunya kepadanya semalam.
Jaebum sighs. "Ok, maafkan aku. Tapi hidup dan matiku ada ditanganmu sekarang, aku tau kau tidak setega itu dan membiarkanku-"
"Aku setega itu."
"Mark.. Jackson sangat marah padaku sekarang, dan dia sedang membutuhkanmu.."
Ekspresi wajah Mark melembut mendengar nama Jackson. Jackson membutuhkannya?
"Maksudku.. dia membutuhkan designer yang mendesign produk terakhir yang kami rilis, dan orang itu adalah kau." Tambah Jaebum saat melihat ekspresi wajah Mark yang penuh harapan, karena sebagaimanapun marahnya dia dengan Mark, dia tidak mau memberikan harapan palsu pada Mark yang nantinya akan membuat hatinya sakit.
Perasaan Mark yang sudah terbang tinggi dilangit tiba-tiba kehilangan sayapnya begitu saja dan membuatnya terjatuh kembali kedaratan. Tentu saja, Jackson kan sudah punya kekasih baru. Batin Mark.
"Aku tidak mau.."
"Mark.. please? Jika kau tidak mau melakukan ini semua untuk nyawaku, lakukan ini demi kesuksesan Jackson.." Jaebum menempelkan kedua telapak tangannya, memohon.
"Apa hubungannya ini semua dengan Jackson?"
"Kau akan tau nanti.."
"Baiklah. Aku siap-siap dulu.." pintu flat itu tertutup tepat didepan wajah Jaebum untuk yang kedua kalinya.
...
"...Aku tidak percaya kesuksesan Jackson lebih penting dari nyawaku." Gumam Jaebum.
.
.
.
.
Jackson membaringkan badannya di couch yang berada diruangannya sambil memijat-mijat kepalanya dengan lembut, kepalanya terasa pusing karena ada banyak sekali yang harus dia pikirkan, mulai dari masalah kantor, kekasihnya yang masih merajuk, dan.. Mark. Pintu ruangannya diketuk dua kali sebelum dibuka oleh seseorang yang Jackson tebak adalah seorang Jaebum yang masih memiliki urusan dengannya.
"Jackson? Aku membawa designer yang kau cari.."
"Hmm." Jawab Jackson, masih berbaring dan memijat-mijat kepalanya.
"Aku belum menjelaskan apa-apa padanya, aku pikir kau yang harus melakukannya." Jelas Jaebum ragu-ragu.
Jackson sighs. Dia hanya ingin istirahat saat ini. "Kau bahkan tidak bisa melakukan pekerjaanmu dengan benar." Jackson bangkit duduk dan mengambil berkas hasil rapat pagi tadi dari meja kecil yang berada di samping couch yang dia duduki.
"Kalau begitu aku permisi." Pamit Jaebum.
"Kau tidak akan pergi kemana-mana. Duduk."
Patut lah Jaebum dengan perintah Jackson, dia duduk di sofa yang bersebrangan dengan Jackson dan meminta Mark untuk duduk juga.
Mark yang tidak pernah mendengar Jackson berbicara seperti itu –karena Jackson yang dia tau selalu berbicara dengan nada lembut- merasa sedikit canggung dan dengan ragu-ragu duduk disamping Jaebum.
Jackson akhirnya mengangkat wajahnya dan matanya bertemu dengan mata Mark untuk beberapa saat sebelum mengalihkan matanya ke mata milik Jaebum, meminta penjelasan.
"Uh.. sebenarnya Mark sudah bekerja disini selama seminggu atau lebih. Kau tidak pernah melihatnya karena aku menyuruhnya untuk melakukan pekerjaannya di rumahnya." Jelas Jaebum.
Jackson mendesah lagi, mengusap wajahnya dengan telapak tangannya lalu membanting berkas yang dia pegang ke meja yang membuat Mark tersentak.
"Whatever." Desis Jackson sebelum mengembalikan fokus matanya pada Mark. "Begini Mark, para investor ingin kau mendesign seluruh produk yang akan dipamerkan di fashion show mendatang, aku tau ini tiba-tiba tapi aku bisa meminta designer yang lain untuk membantu mu. Jika ini semua berhasil, mungkin kau bisa naik jabatan, bisakah kau melakukan itu?" jelas Jackson tanpa memutuskan kontak matanya dengan Mark sekalipun.
Jaebum gulps. "Masalahnya Jackson, Mark sudah mengundurkan diri."
Jackson menatap Jaebum dengan tidak percaya. Berapa banyak lagi masalah yang akan datang dan menambah beban pikirannya. "Oh my god, why don't you just kill me.." Dia mengubur kepalanya di kedua telapak tangannya yang sedang bertengger di kedua pahanya.
"Maksudku membawanya kesini agar kau bisa membujuknya untuk tetap tinggal. Aku sudah melakukannya tapi dia tidak mau."
Jackson mengangkat kepalanya dan menatap tajam Jaebum. "Apa yang membuatmu berpikir aku bisa melakukannya saat kau tidak bisa?"
Somehow, hati Mark sedikit sakit mendengar pertanyaan Jackson barusan. Jackson berkata seakan-akan dirinya tidak memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan yang akan Mark lakukan. Tidak tahukah dia bahwa Mark bahkan rela melompat terjun ke Sungai Han jika dia minta?
"Aku akan melakukannya." Mark berhasil menarik perhatian kedua pria lain yang ada diruangan itu dengan statement-nya.
"..."
"Well.. kalau begitu mulailah bekerja sekarang. Jaebum akan mengantarkanmu keruangan kerjamu. Aku sedang sibuk, kalian bisa keluar sekarang."
"Jackson.. bisakah kita bicara sebentar?" Menurut Mark sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakan hal yang terus mengganggu pikirannya, hal yang Bobby katakan padanya pagi tadi.
Namun tidak menurut Jackson. "Aku sedang sibuk, nanti saja."
Jackson kembali membaringkan tubuhnya dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat terganggu; memijat-mijat kepalanya yang sakit.
Jaebum mengarahkan Mark untuk ikut dengannya yang dituruti oleh Mark, mereka keluar dari ruangan itu dengan pelan menuju ke ruangan yang akan Mark tempati sebagai ruang kerjanya.
"Jackson sedang banyak pikiran, mohon dimaklumi." Ucap Jaebum sebelum membuka pintu ruangan Mark. "Ini ruanganmu, jika kau butuh bantuan designer lain angkat saja gagang telepon dimeja itu dan tekan nomor apa saja. Itu akan menghubungkanmu dengan rekan kerjamu. Tapi jangan tekan nomor satu, nomor satu akan menghubungkanmu dengan Jackson. Jangan pernah menghubunginya jika itu bukanlah hal yang sangat amat teramat penting, dia tidak begitu suka diganggu saat jam kerja." Jelas Jaebum panjang lebar.
Mark hanya mengangguk paham.
"Baiklah, aku pergi." Jaebum memutarkan badannya dan berjalan meninggalkan ruangan Mark.
"Oh ya, Jaebum.."
Jaebum menoleh.
"Mengapa Jackson terlihat begitu.. banyak pikiran?" tanya Mark dengan ragu, dia tau dia tidak punya hak untuk bertanya seperti itu.
"Kekasihnya meninggalkannya, dia pikir kalian masih berhubungan."
"..."
"Tapi kami tidak-"
"Siapapun yang melihat caramu memeluknya semalam akan berpikir seperti itu." Ujar Jaebum untuk yang terakhir kalinya sebelum kembali berjalan menuju ruangannya sendiri.
Kini semakin banyak hal yang harus Mark tambah di dalam daftar permintaan maafnya pada Jackson. Bukan hanya merusak masa lalunya, Mark pun sudah merusak masa depannya. Dia menggigit bibir bawahnya dan memutuskan untuk kembali ke ruangan Jackson untuk minta maaf.
Pantas saja Jackson terlihat begitu murung, sepertinya Jackson benar-benar mencintai kekasihnya.. pikir Mark. Dia pernah berada diposisi itu, dimana Jackson benar-benar mencintainya. Dia masih belum rela mengetahui bahwa sudah ada orang yang menggantikan posisinya. Posisi yang sebenarnya dia buang sendiri.
Dia mengetuk pintu itu pelan, lalu membukanya dengan perlahan. Jackson masih diposisi yang sama dengan sebelumnya, membuat Mark semakin merasa bersalah atas tindakan ceroboh yang dia lakukan semalam.
"Jackson-" belum sempat menyelesaikan perkataannya, Jackson sudah memotongnya.
"Which part of 'I am busy' did you not get?"
"...A-aku.."
"Get out."
"...Jackson-"
"And which part of 'GET OUT' did you not get?!" Jackson meninggikan nada suaranya.
Mark hampir menangis disitu dan saat itu juga, Jackson tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Memperlakukannya seakan-akan dia bukan siapa-siapa, tapi jika diingat-ingat lagi.. dia memang bukan siapa-siapanya Jackson kan? Dia pun keluar dari sana dengan berat hati.
.
xxxxxxx
Jackson mendesah saat mendengar pintunya tertutup dengan pelan, melihat Mark adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan saat ini. Melihat Mark semakin membuat kepalanya pusing karena membuatnya ragu dengan dirinya sendiri. Sebenarnya dia murung karena Hani atau karena Mark yang meninggalkannya demi pria lain yang memperlakukannya dengan tidak baik dan bahkan membuatnya menangis?
Pagi tadi dia yakin bahwa alasannya adalah Hani namun setelah melihat Mark dihadapannya bersama Jaebum, dia tidak yakin lagi. Semakin banyak lah hal yang harus dia pikirkan. Dia tidak bisa begini terus. Dia harus segera mengambil keputusan, dia harus segera bertekad untuk melupakan masa lalunya dan fokus dengan masa depannya.
Dia terus melakukan hal itu (re; berbaring, memijat kepala dan berpikir.) sampai cuaca sudah mulai gelap dan jam sudah menunjukkan pukul enam petang. Dia bangkit dengan berat hati dan mengambil coat-nya yang dia gantung di lemari arsip di ruangannya. Dia memegang coat itu lalu berjalan keluar ruangannya, bertanya-tanya apa Hani akan muncul saat makan malam nanti? Tapi tidak mungkin, mengingat sifat Hani yang keras kepala, dia akan menjauhi segala aktivitas yang berhubungan dengan Jackson, termasuk acara makan malam rutin mereka.
Jackson mendesah lagi dan menutup pintu ruangannya, saat dia membalikkan badannya dia mendapatkan Mark tengah berdiri tidak jauh dari hadapannya yang membuatnya sedikit terkejut.
"Apa yang kau lakukan disana?"
"Bisakah kita bicara?"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Mark." Jackson pergi begitu saja.
Namun Mark tidak menyerah, dia mengejar Jackson dan terus meminta waktunya sebentar saja untuk membicarakan sesuatu yang Mark anggap penting. Mark tidak akan membiarkan kesempatan untuk berbicara dengan Jackson pergi begitu saja.
Melihat Mark yang begitu persisten, Jackson pun luluh, Mark yang dia kenal tidak pernah sepersisten itu. Dia pun menerima ajakan Mark untuk pergi makan malam dengannya.
.
.
.
.
.
xxxxx
Maka disinilah mereka, di sebuah kedai makanan kaki lima sedang menyantap ramen. Belum ada yang berani memecahkan kecanggungan diantara mereka, Jackson masih menunggu Mark membuka pembicaraan, sedangkan Mark masih menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
Mark merasa gelisah dikursinya, sejujurnya dia berharap Jackson akan membuka pembicaraan terlebih dahulu. Bukankah Jackson selalu begitu? Dia melirik Jackson sekilas, wajah Jackson terlihat begitu serius walau dia sedang menyantap makanannya. Kemana wajah lucunya yang dulu?
'Bukankah Jackson yang seperti ini yang kau inginkan dulu, Mark?' hati nuraninya bicara.
Mark mengaku, memang benar. Memang benar dia dulu menginginkan Jackson yang seperti ini. Lalu mengapa Mark terkejut saat mendengar nada bicara Jackson yang kasar? Mengapa dia terkejut saat Jackson menaikkan nada suaranya? Mengapa dia takut melihat ekspresi wajah Jackson yang serius?
Bukankah sosok seperti ini yang kau damba-dambakan? Tanyanya dalam hatinya.
"Jackson, aku hanya ingin minta maaf." Aku Mark saat Jackon tidak juga membantunya mengangkat atmosfir yang canggung diantara mereka. Sepertinya Jackson melakukannya dengan sengaja.
"Untuk apa?" tanya Jackson acuh, dia masih asik menyantap ramennya.
"Aku dengar kau dan kekasihmu bertengkar karena ku.."
Jackson menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengangkat sumpitnya. "Itu bukan salahmu." Ujarnya sebelum kembali mengangkat sumpitnya dan melahap ramen yang terapit diantaranya.
"Selain itu, aku juga ingin minta maaf karena telah menyakiti hatimu empat tahun lalu."
Jackson berusaha untuk bersikap normal, dia mengambil tissue untuk mengelap bibirnya, mendorong mangkuknya kesamping dan menganggukan kepalanya sekali. "Juga bukan salahmu."
Mark meletakkan sumpitnya dimeja, merasa Jackson tidak menanggapinya dengan serius. Dia menghabiskan waktu empat tahun terakhir bersama penyesalan dan kejadian itu terlihat sangat sepele dimata Jackson. "Aku serius, Jackson."
"Aku juga serius, Mark." Jackson mengangkat gelas yang ada dihadapannya dan meneguk cairan mineral yang ada didalam gelas itu.
"Aku menyesal Jackson.."
Jackson diam, menunggu Mark untuk melanjutkan perkataannya dan mengelap bibirnya lagi dengan tissue yang dia kenakan sebelumnya.
"Seharusnya aku mendengar perkataan orang-orang, bahwa kau harus memilih orang yang mencintaimu dan bukan yang kau cintai.."
"..."
"Aku menyesal Jackson.. dan aku sungguh ingin minta maaf padamu. Aku, aku yang salah. Maafkan aku."
"..."
.
"Tidak bisakah kau memberikan ku kesempatan lain?" pinta Mark lirih. Dia tahu dia terdengar menyedihkan, mengemis pada Jackson untuk menerimanya kembali setelah menyakiti hatinya. Orang lain akan berpikir bahwa dia gila dan tidak tau malu. Namun ini adalah kesempatan satu-satunya yang dia miliki, hubungan Jackson dan kekasihnya sedang bermasalah, dan Jackson masih mencintainya. Mungkin saja masih ada harapan baginya untuk memperbaiki kesalahan yang dia lakukan pada Jackson dan untuk kembali menjadi satu-satunya orang yang dicintai Jackson.
Jackson menggenggam erat gelas yang berada digenggamannya, berpikir betapa egoisnya Mark untuk berpikir seharusnya dia mempertahankannya hanya karena dia mencintai Mark, hanya karena kekasih barunya yang dia cintai itu terus menyakitinya dan terus membuatnya menangis.
"Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Kau tidak perlu merasa bersalah, aku tidak pernah menyesal mencintaimu." Jeda sedetik. "Aku harap kita tidak akan membicarakan tentang hal ini lagi di masa depan, jika hanya itu yang ingin kau katakan kurasa masalahnya sudah beres sekarang." Jackson berdiri dan meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja yang mereka gunakan.
"Untuk jawaban dari pertanyaanmu yang terakhir, sebelumnya aku bingung Mark, namun terimakasih atas bantuanmu. Aku akan memilih orang yang mencintaiku, bukan orang yang ku cintai." Ujarnya lalu berputar, meninggalkan Mark yang sudah diujung tangisan sendirian.
Mark menatap kepergian Jackson dengan pandangan nanar, dia menghapus air matanya yang terjatuh dipipinya. "Mengapa kau menangis, Mark? Bukankah kau sebenarnya sudah tau bahwa akhirnya akan seperti ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Malam itu Mark tidak pulang ke rumahnya.
next chap last chap ;)
review?
ini ditranslate buru-buru karena liburnya baru hari ini, mohon dimaklumi. kapan-kapan saya post yang versi original d aff / ao3, kalau mood tapi.
.
sebelumnya pengen berterimakasih sama okta, adetikaaaaa, tiffy, minnie, bom, alan, pmslidgaf, 852636, yang udah review dari awal chap sampai sekarang.
sama buat Lovewang yang terus maksa update dihari libur (kemarin sebenernya gak mau update, tapi karena di paksa anak ini... hahaha (3)
buat Jell-ssi, ciandys, none, RapGodBobby, hanbinlievable, come and get it got7, sama hellenac juga buat review" manis nya! :)
.
.
.
:)
