DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Kurapika Kuroro (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

After that fateful day, destiny seemed to cross their paths every now and then. – "Apa kau merindukanku, Kurapika?"

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for Nothingness by Kurapika Kuroro. Various rated. Now it's rated M for this chapter.

Telah mengalami penyesuaian supaya lebih nyaman dibaca, tapi diusahakan tidak merubah isi cerita.

Dan kamu akan sering blushing membaca tiap chapternya, terutama chapter ini!

A/N :

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 9 : HEAVEN

Kuroro's POV

Mata birunya yang berkaca-kaca bertemu dengan mataku yang gelap.

Phinks, Machi dan Coltopi-lah yang berhasil menangkap Kurapika, aku tidak tahu bagaimana mereka melakukannya tapi aku sangat berterimakasih Si Pirang itu tidak cedera sedikit pun. Kenapa Kurapika terlihat begitu lemah saat ini?

Aku dapat melihat dengan jelas kebencian di kedua matanya walaupun mata itu tidak berwarna merah. Raut wajahnya menggambarkan dua emosi yang berbeda, yaitu kebencian dan rasa lega. Lega, apakah Kurapika lega melihatku? Aku menertawakan diriku sendiri saat memikirkan itu.

Malaikat Pirang dalam pandanganku meradang dalam kemarahan walaupun aku melihat ia menyembunyikan sesuatu,seolah dia mencegah dirinya sendiri untuk menunjukkan perasaan yang sebenarnya terhadapku.

"Kau!" Ia berkata dengan marah, sekarang aku bisa melihat semburat kemerahan di mata indahnya.

Aku tahu wajahku tidak menunjukkan emosi sedikitpun, menutupi kegembiraanku saat melihatnya. Suaranya membuatku senang, sangat menantang.

"Seharusnya aku tidak percaya padamu!" Kurapika bergumam.

"Hmm...," aku setuju seharusnya dia tidak mempercayai seorang kriminal, tapi aku tahu aku tidak gagal memenuhi perjanjian kami tapi perjanjian itu tidak mengikat bagi Ryodan.

Aku menatapnya lagi, perjanjian kami sekarang dibatalkan.

Rambut pirang itu, membingkai wajah cantiknya, Kurapika mempunyai wajah yang polos, tanpa dosa dan muda. Kurapika sangat mengagumkan saat ia membelalakkan matanya yang merah. Mungkin dia tidak menyadarinya, tapi ia sedikit cemberut saat sedang marah, inilah kenapa aku tidak bisa meletakkan seujung jari pun padanya saat aku melihatnya lagi di York Shin.

Aku bertanya-tanya reaksi apa yang akan diberikan Kurapika jika aku bisa mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal atau mengganggu pikirannya. Aku memejamkan mataku dan membukanya lagi untuk menatapnya.

"Apa kau merindukanku?" aku mencoba mengejeknya.

Ia menatap tajam padaku dan berteriak,

"PERGILAH KE NERAKA!"

Telingaku akan berdarah jika aku tidak menggunakan Kou untuk melindunginya, hal ini mengingatkan aku akan Ubogin walaupun suara Kurapika lebih tinggi. Aku tahu, Machi dan Phinks bertanya-tanya tentang kenapa aku mengatakan 'merindukanku' hanya dengan mengartikan rasa penasaran yang terlihat di wajah mereka.

Saat aku baru saja membuka mulutku untuk bicara, Kurapika memekik lagi,

"PERGILAH KE NERAKA!"

Shalnark menepuk bahuku dan dengan gerakan mulut ia bertanya,

'Danchou, apa rencanamu?'

Aku tersenyum dan membuka buku Nen-ku. Hal ini membuat Kurapika diam dan menatapku dengan tajam. Sebelum dia sempat melindungi dirinya, aku mengucapkan sebuah mantra terhadapnya dan berhasil membuat gadis itu tak sadarkan diri.

"Itu akan mengurangi teriakan dan perlawanannya," Phinx beralasan.

"Tentu saja...," aku menggendong Si Kuruta.

"Uhm...Danchou," kata Phinks.

"Ya?"

"Kenapa kita menyewa penginapan?" ia bertanya sambil melihat ke sosok yang tertidur dalam pelukanku.

"Untuk melayani tamu kita," dengan tenang aku menjawab lalu melangkah menaiki tangga.

"Untuk melayani tamu kita?" aku dapat mendengar Shizuku bertanya, tapi mungkin, beberapa orang dari mereka tahu kenapa aku memilih tempat ini daripada tempat yang biasa.

Ada tempat tidur di penginapan, sehingga malamku dengannya bisa terasa nyaman. Dan aku tidak mau Kuruta-ku berbaring di atas lantai yang dingin saat aku menimbulkan rasa sakitnya. Aku ingin dia berada di tempat tidurku, untuk menyerap setiap sensasi yang dapat ia rasakan saat berada di bawahku. Aku tidak tahan untuk menidurinya, aku benar-benar membutuhkannya!

.

.

Kurapika terbangun oleh ciuman-ciumanku seperti Putri Tidur yang terbangun oleh ciuman pertama cinta sejatinya, hanya saja jika aku menjadi pangerannya, maka aku menjadi pangeran yang sangat lihai memanfaatkan kesempatan.

Aku melirik mata birunya, tampak berkaca-kaca dan begitu indah…ditujukan hanya kepadaku. Mata itu membuatku lapar, membuatku ingin, dan yang paling utama adalah gadis ini membuatku merasakan kehangatan.

Aku menciumnya lagi. Aku merasakan tangannya menahan wajahku dan memalingkannya.

"Kau!" ia berkata dengan suara yang serak.

"Aku…," kataku dengan setengah sadar dan menempelkan keningku ke keningnya.

"Kenapa?" tanya Kurapika dengan gemetar.

"Aku menginginkanmu…," aku menjawabnya dengan berbisik dan memejamkan mataku.

Aku mencari bibirnya. Bibir itu tertutup, tapi saat aku menciumnya dan menjilat pertengahan bibirnya, ia langsung menurut saat aku memasukkan lidahku.

"Aku akan melakukannya dengan lembut," aku meyakinkan Kurapika, kenapa aku mengatakannya, aku pun tak tahu alasannya.

Aku melepaskan pakaiannya, merobeknya dengan gigiku. Dan kemudian ia menyerahkan dirinya sepenuhnya padaku. Malam ini adalah milikku dan Kurapika, dia benar-benar telah terampas. Aku memilikinya, dia adalah milikku!

.

.

"Kuroro," ia mengerang.

"Sakit?" aku terengah-engah dan mendorong tubuhku lebih keras.

"Oh," ia tersentak.

Aku menciumnya untuk meredam rintihannya dan meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu aku pun melanjutkannya…

"Sakit…," ia berbisik.

Aku berhenti dan memutuskan untuk melakukannya dengan lebih perlahan dan lebih hati-hati.

"Kuroro," ia terengah-engah lagi.

Aku tersenyum mendengar namaku diucapkan seperti ini, aku sangat menyukai caranya mengucapkan namaku di antara semua erangan itu.

Apa yang dapat aku dengar hanyalah napas kami berdua, aku dapat melihat wajahnya yang memerah dan matanya yang setengah tertutup. Dia sangat menarik tapi aku terlalu lelah untuk mengulanginya lagi jadi aku memilih untuk berbaring tak bergerak di sampingnya.

Aku melihat matanya, matanya yang setengah tertutup itu balik menatapku. Aku tak percaya, aku memiliki Kurapika sepenuhnya! Aku puas. Memiliki Kurapika rasanya seperti surga, aku memang belum pernah ke sana tapi itu…seperti ini…sangat berharga.

"Bagaimana tadi?" aku berusaha untuk bertanya padanya dengan jelas dan melingkarkan lenganku di tubuhnya.

Aku dapat melihat bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman kecil, aku menafsirkan bahwa ia menyukainya.

"Rasanya seperti mimpi…," ia bergumam.

"Mimpi?" aku mengulangnya, tapi Kurapika tidak akan menjawab karena ia langsung terlelap.

Aku memejamkan mataku dan melanjutkan mimpiku, aku tidak tahu rasanya akan jauh lebih nikmat dari yang pernah aku bayangkan. Aku tidak pernah merasa selelah ini jadi aku tidak menyadari bahwa di tengah khayalanku, rasa kantuk telah membuatku takluk.

.

& Skip Time &

.

Aku mengalami tidur yang paling damai dalam hidupku. Aku memutuskan untuk berbaring lebih lama di tempat tidur saat sebuah suara membuatku terjaga.

"Tidak! Itu hanya mimpi…," aku dapat mendengar malaikat tercintaku berkata.

"Mimpi?" tanyaku dengan terkantuk-kantuk.

"Kuroro?" ia bertanya dalam kebingungannya.

Kurapika menoleh, melihatku dengan tatapan bingung seolah aku hanyalah sosok imajinasinya. Raut wajahnya sangat menyenangkan untuk dilihat dan dia benar-benar cemberut.

"Jadi itu bukan mimpi?" katanya panik.

"Apa?" aku menutup mataku.

"Semalam?" ia berkata dengan suara gemetar.

"Tentu saja itu bukan mimpi."

"Aku memang bodoh," ia bergumam.

"Tidak, kau tidak bodoh," aku memeluknya dan memutuskan untuk menikmatinya lagi…

Mungkin aku akan mempertimbangkan ide untuk memilikinya…SELAMANYA!

TBC

.

.

Review please…^^