I Remember

Cast: Kim Ryeowook and Others

Disclaimer: semua character punya TYME dan saya Cuma pinjem nama doang

Warning: OOC, BL, BxB, YAOI, Miss Typo(s) berceceran

Rate: T

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

.

BRAKK

Pintu itu terbuka dengan paksa tepat ketika seorang namja tampan sekaligus cantik berjalan kearah pintu tersebut. Aura mencekam mendadak semakin pekat ketika dua mata itu bertemu pandang. Seseorang yang tadi membuka pintu secara paksa kini tersenyum menyeringai.

"Che, tikus kecil. Mau bermain eoh?"Tanya seorang lain yang tadi berjalan menuju pintu.

"Xi Che gege… Apa kau mau bermain denganku? Hangeng gege sudah bermain di bawah. Jadi, bagaimana kalau kita bermain disini?"namja itu tersenyum polos.

"Ah, Taesun-goon. Haruskah aku bermain dengan tikus kecil sepertimu?"namja yang dipanggil Xi Che itu melipat kedua tangannya di depan dada sementara namja yang dipanggil Taesun itu sudah bersiap dengan kepalan tinjunya.

Tinjunya hampir mengenai wajah putih Xi Che ketika sebuah tendangan mampir pada perutnya. Namja itu, Taesun, meringis. Sedangkan Xi Che masih tetap pada posisinya. Tidak butuh waktu lama sampai kamar luas bernuansa beige itu penuh dengan beberapa orang yang entah sejak kapan sudah ada di dalamnya. Xi Che tampak sedikit panic dengan keadaan seseorang yang lain di dalam ruangan itu. Namun dengan cepat pikiran itu enyah dari otaknya ketika serangan demi serangan mulai menghampirinya. Namja itu seharusnyaa cukup mampu untuk menyerang mereka sendiri jika saja mereka tidak semakin bertambah. Tumbangnya satu orang mengundang 3 orang untuk masuk ke ruangan yang kini semakin sempit itu. Beberapa orang tampak tergeletak di lantai dan beberapa orang lagi kini menahan tubuh Xi Che. Seorang namja menarik sebuah kursi yang sebelumnya terletak di sebelah meja yang beberapa lembarannya kini sudah bersebaran di lantai. Xi Che didudukkan paksa sebelum diikat tubuhnya pada badan kursi. Namja yang jujur saja sudah lelah itu hanya dapat menerima apa yang akan didapatnya setelah ini. Namun pikirannya sama sekali tidak bisa tenang dengan sosok kecil yang amat dicintainya yang juga berada di ruangan yang sama dengannya kini. Matanya melirik sayu pada lemari besar yang entah dimana kuncinya sekarang.

BUAGHH

DUAKKG

BRUGHH

Beberapa tendangan dan tinjuan terdengar menjadi pengisi suara malam itu. Jangan lupakan beberapa suara tembakan dari luar ruangan yang juga turut menyemarakkan suasana mencekam saat itu. Hantaman terakhir itu diberikan pada sosok Xi Che yang kini penuh lebam sana sini dan diakhiri dengan sebuah dorongan keras pada kursi yang didudukinya hingga kursi itu terjengkang ke belakang bersamaan dengan sosok Xi Che yang terikat disana. Sosok namja muda bernama Taesun itu menginjakkan kakinya pada pipi kiri Xi Che yang sudah berlumuran cairan merah pekat kental. Beberapa anak buahnya memberdirikan sosok Xi Che dan melepaskan ikatannya. Dipaksanya sosok itu untuk berdiri dengan kedua kaki lemahnya sebelum kemudian sebuah tinjuan yang dilayangkan Taesun dengan sekuat tenaga merobohkan tubuh lemah itu. Taesun tersenyum menang. Diarahkannya moncong pistol dalam genggamannya pada Xi Che yang sudah tersungkur dan menatap sayu lemari besar dekat ranjangnya.

DORR

Sebuah peluru menyambangi dada kirinya lewat belakang karena posisinya yang tengkurap. Xi Che terbatuk disertai darah yang dimuntahkannya. Nafasnya mulai putus-putus. Sorot mantanya kian meredup.

DORR

Sebuah lagi berhasil menembus tengkorak kepalanya. membuatnya terdiam dengan mata terpejam sepersekian detik setelahnya. Lee Taesun, namja itu tersenyum menang bersamaan dengan berhentinya suara tembakan dari luar ruangan tempatnya berada kini. Matanya menatap seluruh isi ruangan.

"Sudah kalian periksa seluruh ruangan yang ada di rumah ini?"tanyanya pada salah seorang anak buahnya yang dengan sigap menerima pistol yang disodorkan padanya.

"Sudah Tuan. Tapi tidak ada anak kecil di seluruh ruangan, Tuan."

"Begitukah?"mata namja itu menerawang sebelum kemudian berbalik dan keluar ruangan.

"Ayo pulang. Biarkan saja mereka. Setelah ini pasti ada yang membereskan mereka"suara yang agak keras itu cukup sampai pada seseorang yang lain yang ada disana. Suasana yang begitu sepi terlalu mendukung untuk suara itu sampai pada telinganya.

"Hiks… Umma… Appa…"isakan itu terdengan seiring dengan semakin sepinya rumah besar itu.

Ingatanya kembali berputar pada kejadian beberapa jam sebelum kejadian mengerikan ini dilihatnya.

"Kalau besar nanti Baby Li Xu mau jadi apa?"

"-kie~"

"Eum~ Li Xu mau jadi hebat seperti appa. Li Xu mau main jadi pianis hebat terus main piano buat umma sama appa."

"-Wookie~"

"Ne. Anak umma pasti bisa jadi hebat seperti appa. Li Xu juga pasti bisa jadi pianis hebat nanti. Jadi Baby umma yang manis ini harus jadi kuat dan pintar, arachi?"

"Ryeowook—"

"Eum~"

"Ryeowook-ah!"

"Sekarang kita tidur ne. Baby mau tidur sama umma appa?"

"Kim Ryeowook!"

Leeteuk dan Kibum semakin bingung dibuatnya. Ryeowook yang sudah tidur sejak sore tadi tidak kunjung bangun sampai jam makan malam tiba. Kibum yang berniat membangunkannya malah dibuat bingung dengan keadaan Ryeowook yang menangis dalam tidurnya. Dan usahanya yang sia-sia terpaksa membuatnya memanggil Leeteuk yang sudah menunggu di bawah bersama Kangin yang baru pulang. Leeteuk-pun sama bingungnya dengan Kibum karena Ryeowook yang sama sekali tidak bereaksi dengan berbagai teriakan dan guncangan yang dilayangkan untuknya. Bahkan beberapa menit yang lalu tangis Ryeowook kian keras. Bahkan namja itu sampai terisak.

"Hiks… Umma… Appa…"ucap Ryeowook dan Li Xu bersamaan.

Kibum dengan terpaksa mendudukkan Ryeowook dan mengguncang keras tubuh mungil itu sembari meneriakkan namanya. Satu lagi yang keluar dari diri Kibum. Bisa terlihat begitu panic jika menyangkut Ryeowook yang seperti ini. Karena sebelumnya Ryeowook memang pernah mengalaminya saat mereka masih di L.A dan saat itu Kibum yang begtiu panic akhirnya menyiram Ryeowook dengan air. Tapi sepertinya tidak akan dilakukan kali ini karena keadaan Ryeowook yang sungguh berbeda dengan dulu. Kibum terus mengguncangkan tubuh Ryeowook sambil meneriakkan namanya sebelum akhirnya isakan Ryeowook berhenti dan matanya perlahan menampakkan caramel-nya.

.

.

.

Kibum sesekali melirik Ryeowook yang duduk disampingnya dengan pakaian serba putih dan sebuah topi Pandora putih kali ini. Namja itu masih diam sejak kemarin malam. Membuat Kibum –susah mengakuinya- khawatir juga padanya. Bahkan Leeteuk memintanya untuk istirahat di rumah saja tadi. Meski pada akhirnya ditolak.

"Kau baik-baik saja?"pertanyaan yang sudah jelas Kibum tahu jawabannya terlontar begitu saja dari bibirnya.

"Hmm~"hanya gumaman yang menjawab pertanyaan Kibum.

Kibum memarkirkan mobilnya di tempat biasanya dia memarkir mobilnya. Setelah melepas seatbelt-nya, Kibum turun dan membiarkan Ryeowook di dalam mobilnya beberapa lama. Kibum memutuskan untuk berjalan lebih dulu ke kelasnya karena 15 menit lagi kelasnya akan di mulai.

"Kau tidak bersama Ryeowook-ssi?"suara bass lembut itu menyapa telinganya. Kibum tersenyum dalam hati. Setidaknya dengan adanya namja cerewet ini –menurut Kibum- Kibum tidak akan merasa begitu buruk dengan perasaannya.

"Ani. Aku masuk duluan."

"Wae? Bukannya biasanya kalian selalu berdua kemana-mana?"

"Kenapa kau begitu memperhatikan kami?"

Kyuhyun kelabakan. Digaruknya kepalanya yang tertubup helaian rambut berwarna coklat itu. Gugup.

"A-ani. Semua orang di kampus ini juga tahu kalau kalian selalu berdua kemana-mana."balas Kyuhyun dengan suara yang sedikit lebih keras dari tadi. Membuat Kibum terkekeh pelan dibuatnya. 'Kenapa harus bingung begitu? Ckcck…'pikir Kibum.

Mereka berdua terus berjalan menuju kelas mereka tanpa memperdulikan tatapan ingin tahu dari mahasiswa lain yang mereka lewati. Ah benar juga. Akhir-akhir ini dua orang itu bukannya terlihat sering bersama? Kecuali jika ada Ryeowook atau Yesung tentunya. Dan itu yang dipertanyakan mahasiswa itu. Apa ada sesuatu diantara mereka?

Sementara Ryeowook, namja manis itu masih duduk di tempatnya tanpa merubah posisi sedikitpun. Matanya terpejam demi menikmati suasana sepi yang kini mengungkungnya.

"Umma...Appa..."gumamnya lirih. Bulir bening itu merembes dari sudut matanya yang terpejam.

"Bogoshipda,"

Diusapnya kasar air matanya kemudian meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.

"Bagaimana?"tanyanya ketika ponsel itu sudah menempel pada telinganya.

"…"

"Aku tidak bisa menjemputmu nanti. Tetap kau awasi mereka."

"..."

"Jangan mencurigakan. Minho mungkin akan tahu apa yang kau lakukan. Tetap bersikap seperti biasa dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan siapapun terutama Minho dan Myungsoo. Kau mengerti kan Kai?"

"..."

"Ne. Gomawo,"

Ryeowook memasukkan kembali ponselnya ketika seseorang mengetuk kaca mobil Kibum. Ditolehkannya kepalanya ke kanan dan mendapati wajah Yesung disana. Ryeowook menghela nafas panjang sebelum membuka pintu mobilnya.

Ryeowook mendongakkan kepalanya setelah keluar dari mobil. Dan apa yang ada dihadapannya sempat membuat jantungnya seperti berhenti selama sepersekian detik. Yesung tersenyum. Menawan. Mempesona. Dan tampan. Seperti biasa.

"Ada apa?"tanyan Ryeowook sedikit ketus. Mencoba meredakan degup jantungnya yang kembali meloncat loncat riang.

'Hell. Ada apa denganku.'teriaknya dalam hati.

Yesung tersenyum lagi dan mulai membuka mulutnya.

"Kau sudah sarapan? Mau sarapan bersama?"tawar Yesung masih dengan senyumnya yang sungguh, itu membuat jantung Ryeowook kian melonjak.

"Maaf. Tapi aku sudah sarapan."Ryeowook juga sama sekali tidak ada niatan untuk beranjak dari tempatnya berdiri sekarang. Bersandar pada pintu mobil dengan Yesung tepat dihadapannya dengan jarak tidak lebih dari 50 centimeter.

"Kalau begitu bagaimana dengan menemaniku sarapan? Aku belum sarapan pagi ini."

Dalam hati, Ryeowook mengutuk namja bersifat mirip Baekhyun ini. Kenapa harus bertemu dengan namja sejenisnya lagi? Ratapnya dalam hati.

Ryeowook melirik jam tangan putih di tangan kirinya. Masih ada satu jam lagi untuk kelas pertamanya hari ini. Sebenarnya Ryeowook ingin duduk di bawah pohon seperti biasa. Tapi sepertinya harus diurungkannya karena tiba-tiba Ryeowook ingin makan es krim saat ini.

"Baiklah. Tapi tidak disini. Aku yang menentukan tempatnya."setelah berpikir cukup lama –membuat Yesung sebenarnya ingin segera menggendong namja ini untuk menemaninya sarapan- akhirnya Ryeowook menyetujuinya yang langsung dibalas anggukan semangat dari Yesung. Namja itu menuntun Ryeowook menuju mobilnya yang memang selalu diparkir dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat Kibum dan Ryeowook memarkirkan kendaraan mereka.

.

.

.

Ryeowook menyendok es krim terakhirnya di mangkuk besar itu. Lidahnya menjilat sudut bibirnya yang ternoda oleh es krim. Membuat Yesung meneguk ludahnya susah dan fantasi liar mulai berkeliaran di otaknya. Ryeowook berjalan menuju kasir. Mengabaikan Yesung yang sejak tadi hanya menggigit sedikit cake-nya dan sekarang cake itu berhenti tepat di depan mulutnya. Ryeowook kembali dengan sebuah mangkuk besar es krim coklat di tangannya. Yesung yang sadar hanya mampu membelalakkan matanya. Itu berarti ini adalah mangkuk ketiga Ryeowook pagi ini. Jangan lupakan sekarang suhu sudah semakin dingin dari beberapa hari yang lalu.

"Ryeowook-ssi, kau bisa terkena flu jika makan es krim sebanyak itu. Ini bahkan sudah musim dingin,"ujar Yesung yang melihat Ryeowook begtu bersemangat menghabiskan mangkuk ketiganya.

Mood Ryeowook yang mendadak berubah sejak mimpinya kemarin sore membuatnya ingin melampiaskan semuanya dengan makan. Tapi sungguh, katakana namja manis itu gila. Ini musim dingin, sebentar lagi, mungkin tidak sampai dua minggu lagi, salju pasti turun. Bukankah itu berarti cuaca begitu buruk dengan suhu dingin yang kian hari kian menurun? Tapi Ryeowook seolah tidak peduli.

"Tidak akan."ucapnya santai. Berterima kasihlah pada pemilik coffee & cake shop yang mau menyediakan es krim di musim dingin dan penghangat ruangan itu. Setidaknya, itu membuat Yesung tidak harus menemani Ryeowook menikmati es krim di depan toko seperti beberapa waktu yang lalu.

"Terserah kau saja."

Ryeowook mengangguk dan memasukkan satu sendok lagi es krim ke mulutnya. Sementara Yesung kembali memilih melahap cake-nya dan sesekali menyesap cappucinno-nya yang sudah mulai menghangat.

Ryeowook mengelap sudut-sudut bibirnya dengan tissue tepat dengan habisnya cappucinno Yesung. Namja itu memperhatikan Ryeowook. Masih sama. Bahkan semakin manis di mata Yesung. Seperti apa namja yang ada di hadapannya ini? Kenapa bersifat sok cool di depan para mahasiswa lain? Padahal kenyataannya dia mirip dengan anak TK yang diajak makan es krim setelah pulang dari sekolahnya. Setidaknya itulah pemikiran Yesung pada namja di hadapannya ini. Yeah, mengingat Ryeowook selalu makan es krim ketika bersama dengan Yesung. Dan sifat aslinya yang tiba-tiba muncul –melonjak gembira dengan senyum polos ketika melihat es krimnya sudah di depan mata- membuat Yesung berpikir 'namja ini tidak cocok dengan sifat sok coolnya'.

"Ada apa?"ketus Ryeowook yang lama-lama merasa risih juga diperhatikan seperti itu oleh Yesung.

"Ani. Kau manis, Ryeowook-ssi."ucap Yesung diiringi dengan senyum tampannya.

Jantung Ryeowook berdesir aneh. Jantungnya seolah melompat-lompat. Bergemuruh menimbulkan degupan berisik namun Ryeowook suka dengan gemuruh berisik itu. Darahnya berlomba untuk sampai pada pipi putihnya. Ryeowook memalingkan wajahnya cepat. Sudah bisa dirasakannya pipinya yang memanass. Dan Ryeowook tidak ingin Yesung tahu itu meskipun pada kenyataannya Yesung tengah terkekeh geli melihat Ryeowook malu-malu seperti itu.

"Kau sudah selesai? Kita kembali sekarang. 20 menit lagi kelasku dimulai."Ryeowook beranjak dari duduknya dan keluar menuju mobil Yesung berada.

Yesung terkekeh di tempatnya.

"Manis,"gumamnya

Yesung menyusul Ryeowook yang sudah berdiri di depan pintu samping kemudi. Namja itu masuk diikuti Ryeowook setelahnya. Selama perjalanan, tak ada yang memulai pembicaraan hingga mobil Yesung kembali memasuki area parkir. Ryeowook melepas seatbelt-nya bersamaan dengan Yesung. Ryeowook keluar diikuti Yesung yang masih setia mengekornya.

"Kenapa mengikutiku?"kesal Ryeowook yang merasa diikuti.

"Siapa yang mengikutimu? Aku hanya sedang menuju tempat yang satu arah denganmu."balas Yesung santai. Ryeowook yang malu hanya diam dan melanjutkan langkahnya untuk menghilang di balik pintu kemudian.

.

.

.

Kibum menghentikan AM Vanquish-nya tepat di depan Angel Florist. Ryeowook turun dan membiarkan Kibum menjauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ryeowook melangkahkan kakinya masuk dan berjalan menuju 'kebun' bersama dengan Kai yang kebetulan menyambutnya tadi.

"Jadi, apa yang kau dapatkan?"Tanya Ryeowook pada Kai yang ada di belakangnya.

"Ne, seperti yang Hyung tahu. Mereka satu sekolah denganku. Appa mereka sepertinya menyembunyikan bisnis gelapnya. Baik Taemin maupun Sungjong sepertinya tidak ada yang tahu tentang bisnis gelap ayahnya."

"Kau yakin? Tidak semua yang kau lihat itu sama dengan kenyataannya, Kai."

"Ne, Hyung."

"Lalu siapa yang menurutmu akan meneruskan usaha gelapnya itu?"

"Dari informasi yang kudapatkan, Lee Taesun itu memiliki seorang keponakan yang sudah dipercaya olehnya untuk meneruskan bisnis gelapnya itu. Bahkan sekarang Taesun memang sudah tidak berkecimpung disana. Bisnis gelapnya itu sudah sepenuhnya diurus oleh keponakannya."

"Benarkah? Kau sudah mencari tahu siapa keponakannya?"Tanya Ryeowook sembari memetik sebuah mawar putih di dekatnya.

"Mereka memanggilnya Zelo,"

Ryeowook terdiam. Sepertinya ini tidak akan mudah. Bagaimana cara menemui namja bernama Lee Taesun itu jika dirinya sekarang sudah tidak mengurus Crimson lagi? Dan Zelo. Kenapa namja itu tiba-tiba muncul di tengah seperti ini? Tapi tidak. Ryeowook akan tetap melakukan apa yang dilakukan Taesun pada bumonimnya dulu. Ryeowook tidak pernah membunuh, setidaknya jika kematian TOP itu bisa disebut 'kecelakaan'. Dan Ryeowook memang sama sekali tidak mau berurusan dengan hal semacam itu. Melenyapkan orang hanya pekerjaan team Toho. Ryeowook hanya mengurus perdagangan saja. Tapi sekali lagi. Pengecualian untuk Lee Taesun itu. Ryeowook sungguh sudah memperlajari semua demi bisa melakukannya pada Taesun. Akan dilakukannya bagaimanapun caranya.

"Istirahatlah. Kau pasti lelah,"perintah Ryeowook pada Kai yang hanya diam memperhatikan Ryeowook yang seperti berpikir setelah kalimat terakhirnya.

"Baiklah. Aku pergi dulu, Hyung."pamit Kai yang kemudian berjalan keluar menuju flat-nya.

Ryeowook meraih ponselnya dari celana putihnya. Menekan angka 3 untuk panggilan cepat pada Kibum. Bunyi 'tuutt' terdengar beberapa kali sebelum suara seseorang terdengar menggantikan.

"Kau sudah pulang?"

"Belum. Wae?"

"Ani. Aku ingin bicara denganmu nanti."

"Baiklah. 2 jam lagi aku pulang."

"Ne. Baiklah."

Dan sambungan terputus secara sepihak. Menyisakan seseorang yang hanya bisa menatap datar layar ponselnya yang kembali gelap.

Ryeowook kembali menghubungi seseorang. Angka 4 ditekan sebelum menempelkan benda persegi panjang itu pada telinganya.

"Yeoboseyo,"sapa suara di seberang sana.

"Yeoboseyo, Hyung. Aku ingin meminta bantuanmu."ucap Ryeowook to the point.

"Apa?"suara diseberang sana terdengar kecil karena bising.

"Aku ingin Hyung mencari tahu tentang seseorang bernama Zelo. Cari tahu juga tetang Choi Seunghyun. Aku menunggu kabar darimu secepatnya Hyung,"

"Baiklah. Tapi siapa Choi Seunghyun yang kau maksud? Tidak hanya satu orang yang memiliki nama itu di Korea."

"Orang kepercayaan Byun Taehyun, sepertinya."ucap Ryeowook ragu.

"Kau terdengar ragu,"

"Sudahlah. Hyung cari saja orang itu."sahut Ryeowook kesal.

"Arasseo,"

"Ne. Gomawoyo, Hyung."

"Ne, Wook."

'Apa kalian berhubungan? Benar-benar merepotkan.'pikirnya.

.

.

.

Kibum kembali ke kampusnya untuk mata kuliah terakhir setelah mengantar Ryeowook ke Angel Florist. Namja berwajah rupawan itu melangkahkan kakinya menuju kelas yang akan diikutinya. Tidak terlalu ramai. Mungkin banyak mahasiswa yang sudah pulang seperti Ryeowook. Dering ponselnya terpaksa membuatnya berhenti demi menjawab panggilan dari seseorang yang sudah diketahuinya. Menggeser tanda berwarna hijau sebelum menempelkan benda persegi panjang berwarna hitam itu pada telinganya.

"Kau sudah pulang?"suara Ryeowook terdengar dari seberang sana.

"Belum. Wae?"jawab Kibum santai sambil melanjutkan kembali langkahnya yang sudah dekat dengan pintu kelasnya.

"Ani. Aku ingin bicara denganmu nanti."

Kibum menautkan alisnya. 'Apalagi sekarang?'pikirnya dan mendudukkan dirinya pada sebuah kursi.

"Baiklah. 2 jam lagi aku pulang."balas Kibum akhirnya.

"Ne. Baiklah."

Dan sambungan diputus secara sepihak ketika Kibum baru akan membalas ucapan Ryeowook. Ditatapnya layar ponselnya yang sudah kembali gelap dengan pandangan datar. Sedatar meja yang sedang menjadi tumpuan kedua sikunya. Hembusan nafasnya terdengar berat sebelum satu menit kemudian sang pengampu datang untuk memulai acaranya.

Kibum sungguh berterima kasih pada jarum jam yang berputar –sedikit lebih lambat menurut Kibum- seperti siput itu. Ini sudah satu jam lebih berlalu. Dan itu terasa seperti satu hari untuk Kibum. Sungguh berlebihan. Kibum melirik sekali lagi jam dinding. Merutuk dalam hati.

Merasa kebosanan akan perlahan membunuh dirinya, Kibum meraih iPad dari Backy Backpack-nya. Iseng, tangannya bergerak mencari tahu tentang Lee Taesun. Masih sama. Tidak ada informasi yang berubah tentang pengusaha tekstil tersebut. Membosankan. Kibum memilih mencari tahu tentang Crimson. Mengabaikan sepenuhnya guru pengampu di depan kelasnya. Matanya membulat. Oke, selama ini memang Kibum tidak akan mencari tahu apapun jika bukan karena keinginannya atau Ryeowook yang menyuruhnya. Dan beruntungnya –tidak untuk kali ini-, Ryeowook tidak pernah menyuruhnya. Bisa dihitung jari berapa kali namja manis itu memintanya meencari informasih tentang seseorang.

"Zelo…"gumam Kibum dengan menatap tulisan dihadapannya.

Sementara beberapa bangku di samping Kibum –yang kebetulan duduk di pojok- seorang namja tinggi manis berambut ikal tengah menatap layar iPad-nya bergantian dengan Kibum. Diperhatikannya lekat gambar yang ada di iPad-nya kemudian menghembuskan nafasnya pelan.

"Siapa dia sebenarnya?"gumamnya pelan masih dengan menatap lekat gambar dihadapannya.

Dan disisa jam kuliahnya, baik Kibum maupun Kyuhyun sama-sama disibukkan dengan kegiatan mereka sendiri. Kibum benar-benar akan ke gereja hari minggu nanti. Berdoa dan berterima kasih pada Tuhan yang sudah megizinkannya segera menghirup udara bebas setelah berada dalam kurungan kelas yang sangat membosankan. Ingatkan Kibum untuk melakukannya nanti.

Kibum bersiap untuk memasuki mobilnya ketika sebuah suara menghampiri gendang telinganya.

"Kibum-ssi,"

Kibum menolehkan kepalanya ke asal suara dan menemukan namja manis tinggi berambut ikal berjalan ke arahnya. Kibum diam tidak menyahut. Namun memberi perhatian pada namja yang baru saja memanggilnya.

"Kau mau langsung pulang?"Tanya namja itu setelah berada di depan Kibum. Kibum mengangkat sebelah alisnya dan melemparkan tatapan 'kenapa' pada namja di depannya.

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar."sambungnya mengerti arti tatapan Kibum.

"Maafkan aku, Kyuhyun-ssi. Tapi aku harus segera pulang sekarang."jawab Kibum dengan nada minta maaf meski tatapannya tetap datar.

Kyuhyun, namja itu, mendesah –pura-pura- kecewa. Jangan lupakan motifnya.

"Baiklah, mungkin lain kali. Jaa, aku pergi dulu Kibum-ssi. Annyeong,"Kyuhyun melangkahkan kakinya meninggalkan Kibum yang hanya mengendikkan bahunya tidak peduli.

'Aku akan tetap berusaha untuk mencari tahu siapa kalian. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan? Ck. Namja ini benar-benar sibuk atau hanya pura-pura sibuk? Susah sekali mengajaknya keluar sebentar saja.'

'Kau masih belum menyerah Kyuhyunnie? Aku tidak akan membiarkan kau tahu. Sekalipun kau berusaha sekuat tenaga, aku juga akan melindungi yang sebenarnya sekuat tenaga. Maafkan aku, ini semua untuk kebaikan kita. Kumohon berhentilah.'

.

.

.

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya pada sofa yang ada di ruang tengah apartemen Yesung. Namja tampan berkepala besar itu sedang di dapur, mengambil beberapa makanan dan dua kaleng soda untuknya dan Kyuhyun yang sepertinya –dan memang- sedang kesal. Kyuhyun menghela nafas beratnya entah untuk yang keberapa kali sejak kedatangannya sepuluh menit yang lalu. Yesung meletakkan beberapa makanan ringan dan soda yang segera disambar tangan panjang Kyuhyun. Namja berambut ikal itu membuka kaleng sodanya cepat dan menguk isinya sama cepatnya. Yesung hanya bisa menggeleng dibuatnya.

"Kau kenapa?"Tanya Yesung sembari meraih remote tv dan menyalakannya. Mencari channel yang menampilkan acara yang menarik.

"Tidak ada. Memang kenapa?"Tanya Kyuhyun menjawab pertanyaan Yesung. Namja tinggi itu meraih sebuah snack kentang berbungkus jumbo yang ada di meja. Membukanya dan memasukkan beberapa potong kentang rasa barbeque itu ke mulutnya.

"Kau terlihat kusut,"jawab Yesung. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran sofa setelah menemukan acara yang menarik, menurutnya.

Kyuhyun mengendikkan bahunya acuh. Tidak peduli dengan ucapan Yesung. Lebih memilih berpikir bagaimana caranya mengetahui siapa sebenarnya Kim Kibum dan Kim Ryeowook. Atau setidaknya bisa membuka data mereka yang di-protect dan siaalnya tidak bisa Kyuhyun tembus. Atau yang paling mudah, Kyuhyun bisa mendapatkan gambar yang lebih jelas dari pada gambar yang Siwon berikan padanya. Jangan karena namanya sketsa buram lalu gambarnya benar-benar buram. Sungguh, Kyuhyun bahkan tidak yakin namja yang memiliki mata seperti yang dilihatnya tadi hanya ada satu di dunia ini. Dan ya! Kenapa hanya matanya yang terlihat jelas? Sial! Kyuhyun mengumpat dalam hati. Diacaknya rambut ikalnya kasar, menghasilkan tatapan bertanya dari Yesung.

"Kau ini sebenarnya kenapa?"ulang Yesung yang hanya mendapat helaan nafas dari Kyuhyun sebagai jawaban.

"Tidak apa-apa."

"Kau yakin? Kau terus menghela nafas sejak tadi."Tanya Yesung lagi. Kyuhyun menggeleng pelan.

"Ah! Bagaimana kau dan namja bernama Ryeowook itu?"Tanya Kyuhyun ketika ingat kalau Hyungnya itu sedang berusaha mendekati Ryeowook walau untuk tujuan yang jelas berbeda dengan Kyuhyun. Meski yeah, Kyuhyun tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya –perasaannya lebih tepatnya- jika tahu yang sebenarnya dan semua itu adalah benar seperti dugaannya. Jangan sampai itu terjadi. Doanya.

"Tidak ada yang special. Tapi taddi aku mengajaknya, sedikit memaksa memang, untuk sarapan bersama."jawab Yesung dengan mata berbinar senang."Menemaniku makan lebih tepatnya,"ralatnya sambil terkekeh pelan. Kyuhyun memutar bola matanya bosan. Sudah menduga kalau itu pasti tidak murni keinginan Ryeowook untuk ikut Yesung sarapan.

"Sebenarnya apa yang menarik darinya? Kau selalu mengaku normal selama ini. Kau bahkan berkencan dengan banyak gadis. Meskipun kau mengencani gadis-gadis itu karena paksaan mereka."Tanya Kyuhyun yang tiba-tiba penasaran pada Hyungnya ini.

Yesung mengetuk-ngetuk dagunya. Bergaya berpikir yang membuat Kyuhyun jengah.

"Itu tidak terlihat cute, Hyung."tukas Kyuhyun pedas. Yesung mencibir.

"Kau pikir aku sedang berusaha membuat pose cute huh? Sudahlah. Yang jelas, dia itu berbeda."jawab Yesung dengan senyuman anehnya.

"Bagian mana yang berbeda? Dia namja. Manis, oke. Tapi tentu aku jauh lebih manis darinya."sahut Kyuhyun tak lupa dengan membanggakan dirinya sendiri. Dan sepertinya itu memang sudah jadi kebiasaannya.

"Terserah kau saja. Yang jelas dia jauh lebih manis darimu, menurutku. Dan ah, entahlah. Dia itu seperti bukan dirinya. Kau tahu? Dia itu cukup misterius. Sama dengan sepupunya yang bernama Kim Kibum itu. Namja yang kau sukai,"jawab Yesung tak lupa menggoda Kyuhyun yang sudah salah tingkah saat ini.

"Lupakan soal aku yang tertarik pada namja bernama Kim Kibum itu. Yang ingin aku tahu, benarkah namja bernama Kim Ryeowook itu sama misteriusnya dengan Kim Kibum?"Tanya Kyuhyun antusias. Berharap ada sedikit cahaya dari Yesung. Meski sendirinya tidak yakin akan hal itu.

"Huh? Kau pura-pura bodoh atau memang otakmu mendadak kental?"sahut Yesung pedas. Kyuhyun mencibir.

"Jawab saja Hyung. Kenapa susah sekali."paksa Kyuhyun.

Yesung menghela nafas pelan dan menatap Kyuhyun.

"Ne. Kurasa dia sama misteriusnya dengan Kim Kibum."jawab Yesung santai.

"Mereka kan memang bersaudara Hyung. Mungkin saja keluarganya memang memiliki aura seperti itu."sahut Kyuhyun yang tidak puas dengan jawaban Yesung. Menurutnya, jawaban Yesung hanya mempergelap jalannya untuk menemukan rahasia duo Kim tersebut.

.

.

.

"Jadi kau juga sudah tahu?"pasti Kibum pada Ryeowook yang duduk di atas karpet bulu berwana biru itu. Ryeowook menganggukkan kepalanya sambil tangannya menekan nekan remote tv yang ada dalam genggamannya setiap dua detik. Kibum yang sudah jengah menarik remote dalam genggaman Ryeowook dan mematikan televise korban kebosanan Ryeowook. Ryeowook mengangkat kepalanya menghadap Kibum yang ada di samping kirinya, diatas ranjang Queen Size-nya.

"Aku juga baru mengetahuinya tadi saat di Angel Florist. Kai bilang Taesun menyembunyikan Crimson dari dua anaknya dan akan menyerahkannya pada namja bernama Zelo. Tidakkah kau berpikir bahwa Zelo yang Kai maksud dan kau baca itu Zelo yang sama?"ungkap Ryeowook setelah menjawab pertanyaan Kibum hanya dengan anggukan kepala tadi. Kibum terlihat berpikir.

"Berarti kita tidak akan melibatkan anaknya kan?"

"Haruskah?"Tanya Ryeowook dengan posisi kepala yang dimiringkan ke kanan. Dan jujur saja, itu terlihat cute bahkan untuk Kibum yang sudah sering melihatnya. Ingatkan Kibum kalau dia tidak 'memakan' sepupunya sendiri. Atau dirinya akan habis di tangan sang Umma. Dan jangan lupa ingatkan Kibum tentang namja tinggi berambut ikal coklat yang cerewet.

"Tentu saja. Sejak awal bukankah mereka sama sekali tidak ada hubungannya? Ini hanya antara kau dan Lee Taesun, Wook-ah."ujar Kibum setelah sadar.

Ryeowook mengangguk imut. Rambutnya yang kini berwarna coklat itu naik turun seirama dengan gerakan kepala Ryeowook. Dan ternyata satu lagi sifat Ryeowook, namja itu suka bertingkah imut –dirumah atau setidaknya di depa Kibum- meski tanpa disadarinya.

"Tapi kita memang belum melakukan apapun pada mereka kan? Jadi kita hanya perlu menghapus sasaran pada Lee bersaudara itu kan?"Tanya Ryeowook antusias. Dirinya juga tidak tega jika harus melibatkan makhluk manis dan imut sejenis Taemin dan Sungjong dalam acara balas dendamnya pada Lee Taesun.

"Ne. jadi cukup lakukan apa yang dia lakukan pada umma-mu dulu. Jika kau ingin meghancurkan mereka sekalian, itu berarti kita menambah target karena pemimpin mereka sekarang sudah bisa dipastikan Zelo."usul Kibum yang ditanggapi dengan pose berpikir imut ala Ryeowook, lagi. Kibum yang gemas mengacak surai lembut Ryeowook, membuat namja kelebihan manis itu mendelik tajam ke arahnya.

Tok tok tok

"Wookie baby, ayo makan malam."suara lembut seorang Leeteuk meruntuhkan tatapan tajam Ryeowook pada Kibum. Keduanya berdiri dan segera berjalan menuju pintu.

"Eoh, Bummie. Kau juga di dalam rupanya."kaget Leeteuk yang melihat Kibum di belakang Ryeowook.

'Sejak kapan mereka suka berkumpul di kamar?'pikir Leeteuk bingung.

"Jangan berpikiran ngelantur umma,"sahut Kibum yang seperti tahu Leeteuk sedang berpikir kemana-mana. Ryeowook hanya diam menunggu mereka untuk menuju ruang makan yang sudah ada Kangin disana.

Ryeowook mendudukkan dirinya di samping Kibum yang berada di sebelah kiri Kangin. Mereka mulai makan dengan tenang hingga Kangin membuka suara.

"Bagaimana kuliah kalian hari ini?"pertanyaan standard orang tua pada anaknya yang masih menempuh pendidikan. Setidaknya sebagian pasti begitu.

"Baik, Appa."jawab kedua namja yang dimaksud dengan kompak.

"Kalian kompak sekali,"timpal Leeteuk yang hanya ditanggapi dengan senyum oleh dua orang yang dimaksud.

Tap tap tap

Suara langkah kaki yang mendekat cukup untuk menghentikan aktifitas mereka sejenak. Mereka menoleh ke asal suara. 5 orang berdiri di depan pintu masuk ruang makan. Kangin dan Leeteuk tersenyum. Kibum dan Ryeowook hanya saling berpandangan. Pasalnya mereka haya mengenal baik dua dari lima namja yang berdiri disana.

"Ah, kalian datang. Masuklah. Kalian sudah makan? Ayo makan bersama,"ajak Leeteuk menyambut mereka.

"Annyeonghasseyo Kangin-ssi, Leeteuk-ssi,"sapa kelimanya bersamaan.

"Annyeonghasseyo."balas Kangin dan Leeteuk bersamaan.

"Aish kalian ini. Bukankah sudah kubilang untuk tidak memanggil kami seperti itu kecuali jika kita sedang ada pekerjaan?"tambah Leeteuk yang tidak suka dengan panggilan mereka saat ini.

"Ah. Hehe, mianhae ahjumma."sahut namja cantik dan sekaligus tampan itu mewakili.

"Hello, Nathan-ssi, Bryan-ssi,"sapa sang namja cantik juga tampan berkulit putih susu. Ryeowook dan Kibum menatap datar kelimanya.

"Hello, Hero-ssi,"balas keduanya bersamaan.

"Hai, Ryeowookie, Kibummie,"sapa seorang namja tinggi menjulang.

"Hai, Changmin Hyung,"balas keduanya bersamaan lagi.

"Duduklah."titah Kangin. Kelimanya segera duduk memenuhi meja makan besar itu.

"Kalian belum makan kan? Makanlah,"ucap Leeteuk mempersilahkan yang disambut antusias oleh namja paling tinggi di ruangan itu.

"Max."tegur namja yang tadi dipanggil Hero oleh Ryeowook dan Kibum.

Namja yang dipanggil Max itu hanya tersenyum lalu mendelik sebal.

"Jangan memanggilku seperti itu jika dirumah, Hyung."kesalnya sambil memasukkan satu sendok kimchi yang baru saja diambilnya.

"Gwaenchanha, Jae-ah."timpal Leeteuk menengahi."Lanjutkan saja makanmu, Changmin-ah."sambung Leeteuk yang diangguki dengan semangat oleh Changmin.

Mereka berkumpul di ruang tengah setelah makan malam. Kibum dan Ryeowook duduk di sebuah sofa single yang beruntungnya muat untuk kedua tubuh mereka mengingat tubuh Ryeowook yang kecil. Lima namja tamu tadi duduk di sebelah kanan Kibum di sofa panjangnya. Sementara Kangin duduk di sofa single di seberang Kibum dengan Leeteuk duduk di lengan sofanya.

"Jadi mereka adalah anggota dari Team Toho."ucap Kangin setelah menjelaskan tentang anggota Team Toho yang berjumlah lima orang itu.

"Kalian pasti sudah mengenal Changmin dengan baik kan? Dan kurasa kalian juga sudah bertemu dengan Jaejoong sebelumnya."sambung Kangin. Ryeowook dan Kibum menampilkan muka bingung mereka. Oke, mereka hanya tahu nama panggilan mereka –kecuali Changmin- jika bekerja dan sama sekali belum pernah bertemu mereka kecuali dua, ah ani, tiga diantara mereka.

"Lebih baik kalian memperkenalkan diri kalian."perintah Kangin.

Mereka mulai memperkenalkan diri mereka pada Ryeowook dan Kibum yang hanya manggut-manggut.

"Jadi Nathan-ssi, Bryan-ssi, kalian bisa memanggilku Jaejoong kecuali jika kita sedang ada pekerjaan."ucap Hero atau sekarang kita bisa memanggilnya Jaejoong.

"Geurae. Dan silakan panggil aku Ryeowook dan dia Kibum."balas Ryeowook sambil menunjuk Kibum yang ada disampingnya.

"Arasseo."

"Jadi, kalian sudah membereskan semuanya?"Tanya Kangin setelah acara perkenalan singkat itu.

"Ne. hanya beberapa orang yang membuat kita terpaksa sedikit 'bermain' dengan mereka."jawab seorang namja tinggi tegap bermata musang tajam. Jung Yunho.

Kangin mengangguk mengerti lalu mengalihkan pandangannya pada namja yang berwajah cassanova dan berjidat sedikit lebih lebar dari yang lain.

"Bagaimana dengan Crimson."

Mendengar nama Crimson, Ryeowook sedikit menegang. Wajahnya tetap datar, tapi matanya bergerak gelisah. Baik Leeteuk, Kibum maupun Jaejoong bisa melihat itu meski namja itu sedikit menunduk dan bersandar pada sofa dan tertutupi badan Kibum jika dari sisi Jaejoong.

"Mereka memang sudah tidak dibawah pimpinan Taesun lagi sejak dua tahun yang lalu."jawab namja yang dulu pernah menjemput Ryeowook dan Kibum yang baru saja kembali dari L.A. Ryeowook menghela nafas diam-diam. Dan Kibum merasakannya.

"Lalu siapa yang memimpinnya sekarang?"Tanya Kangin lagi.

"Seorang namja yang mereka panggil Zelo."

Kangin menolehkan kepalanya ke arah Ryeowook yang sudah mendongakkan kepalanya dan memasang wajah datar.

"Aku sudah mengetahuinya, appa."sahut Ryeowook menjawab pertanyaan tanpa suara dari Kangin. Kangin menghela nafas. Kalah satu langkah dengan keponakannya yang sunggu begitu terobsesi untuk membalas perlakuan Taesun pada umma-nya dulu. Dan juga appanya.

"Istirahatlah. Besok kau masih harus kuliah."titah Leeteuk yang menyadari sedikit raut wajah Ryeowook yang butuh ketenangan.

Ryeowook baru saja berdiri diikuti Kibum ketika suara ribut dari depan rumah mereka terdengar.

"Aku yang akan melihatnya."ucap Ryeowook cepat dan segera melesat menuju pintu depan diikuti Kibum dibelakangnya. Dan matanya terpaksa dibuka lebih lebar melihat pemandangan di depannya.

.

.

.

"Jadi kapan kita akan melakukannya Hyung?"

"Bersabarlah sedikit jika kau ingin hasil yang bagus, Junhongie."

Namja yang satunya mencibir.

"Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu, Jiyoung-ie Hyung."

"Baiklah. Terserah kau saja. Yang jelas kita hanya perlu sedikit bersabar sekarang. Aku sudah merencanakannya. Kau tenang saja. Bersantailah sedikit."ujar namja yang dipanggil Jiyoung itu.

"Arasseo, GD Hyung."

Untuk beberapa saat ruangan besar itu hening. Masih belum ada yang membuka suara hingga bunyi ketukan pintu menginterupsi keheningan yang menyelimuti mereka. Seorang namja yang memasuki paruh baya masuk dengan senyum ramahnya. Namja itu mengambil duduk di sebuah sofa single di seberang dua namja yang terdiam sejak sebelum kedatangannya.

"Aku akan mengadakan pesta. Kalian datanglah,"ucapnya langsung setelah mendudukkan pantatnya pada sofa empuk berwarna hitam itu.

"Pesta? Untuk acara apa ahjussi?"Tanya namja yang tidak mau dipanggil Junhong.

"Tidak ada acara apapun. Ini pesta tahunan kita, Junhongie."

"Ukh, Taesun ahjussi. Bisakah memanggilku Zelo saja?"

Namja yang dipanggil ahjussi atau Taesun dan Jiyoung atau GD itu terkekeh pelan. Namja dengan tinggi menjulang ini memang benar masih anak-anak. Oke, bukan anak-anak. Hanya seorang anak yang beranjak dewasa dengan sikap kekanak-kanakan. Jika di depan keluarganya. Selain itu, pengecualian.

"Jadi, dimana kali ini acaranya, ahjussi?"Tanya Jiyoung atau biasa disapa GD.

"Di hotel Joonmyun. Aku sudah menyiapkan semuanya. Acaranya satu minggu lagi. Kalian datanglah."

"Bukan tawaran yang buruk,"sahut GD.

"Aku juga akan mengundang Magnolia."ucapan Taesun menarik perhatian dua namja muda lain. GD dan Zelo menoleh ke arah Taesun. Namja paruh baya itu tersenyum.

"Tenanglah. Aku hanya ingin melihat seperti apa namja bernama Nathan dan Bryan itu. Kudengar mereka selalu bersama kemanapun. Kurasa mereka juga akan datang bersama Kangin dan Leeteuk."

"Terserah ahjussi saja."balas Zelo malas.

'Apa aku harus membuat kejutan nanti? Ah tidak. Aku tidak akan mengacaukan acara Taesun ahjussi. Bisa-bisa malah menimbulkan kecurigaan tamu yang lain nanti'pikir GD

.

.

.

Ryeowook menghela nafas lagi. Namja di depannya ini benar-benar susah diberi tahu. Ibaratkan saja namja tampan dihadapannya ini anak yang baru saja masuk elementary school dan sedang dalam masa nakal-nakalnya anak-anak. Bagaimana tidak, Ryeowook sudah berusaha mengusirnya mulai dengan cara halus dan sampai cara yang sungguh frontal. Matanya sesekali melirik ke arah ruang tengah. 7 ah tidak, 8 –jika bisa dikatakan begitu- orang ada disana dan mereka semua memperhatikannya. Bukan dirinya sepenuhnya. Melainkan namja tampan di hadapannya ini.

"Sudah malam Yesung-ssi. Tidakkah kau ingin pulang?"Tanya Ryeowook sekali lagi dengan menahan emosi yang sudah dipuncak kepalanya.

Yesung menatap Ryeowook. Namja itu tersenyum. Sedikit kecewa karena sambutan yang diterima malah jauh dari yang diharapkannya. Oh ayolah Kim Yesung. Sambutan seperti apa yang kau harapkan. Diselamatkan dari dua orang yang menjaga pintu masuk saja seharusnya kau sudah bersyukur. Yesung melirik jam tangannya kemudian menatap Ryeowook.

"Baiklah. Aku pulang dulu, Ryeowook-ssi."pamit Yesung sambil mengacak pelan rambut coklat Ryeowook.

Untuk sejenak Ryeowook terpaku. Rasanya menyenangkan mendapati rambutmu diacak lembut oleh seseorang yang suka mengganggu pikiranmu. Ryeowook berdiri dan mengantar Yesung keluar.

"Lain kali kuharap kau tidak tiba-tiba muncul seperti tadi, Yesung-ssi."ucap Ryeowook ketika Yesung sudaah sampai di depan mobilnya.

"Aku ingin bertemu denganmu dan aku tidak tahu harus menghubungimu kemana. Dan karena aku sudah pernah mengantarkanmu pulang kemari, jadi kurasa tidak ada salahnya kalau aku datang kemari."jawab Yesung santai. Ryeowook menghela nafas pelan. Seharusnya tidak dilakukannya hal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Namja ini sama nekatnya dengan Baekhyun yang sampai membuntutinya dan Kibum pulang ke tempat tinggal mereka dulu.

"Kemarikan ponselmu."tangan Ryeowook terulur di depan Yesung. Yesung menyerahkan ponsel hitamnya disertai senyum menawannya.

'Akhirnya…'pekiknya dalam hati.

"Kau bisa menghubungiku kalau ingin bertemu. Tapi tidak disini. Pulanglah. Malam sudah semakin larut."

"Ne. Gomawo Wookie-ah. Jaa, selamat malam."Yesung mengecup kenig Ryeowook singkat sebelum memasuki mobilnya dengan cepat. Meninggalkan Ryeowook yang masih membatu.

Mobil Yesung sudah pergi dari hadapannya dan Ryeowook mash terpaku di tempatnya.

"Apa menyenangkan?"suara Kibum menghampiri telinganya.

"Yang itu tadi apa Bummie-ah?"lirih Ryeowook.

"Aku pasti sudah gila. KYAAAA~~~"

.

.

.

TeBeCe

.

.

.

Hahaha... makin lama Ichi makin ngerasa nih fict makin ngelantur. Dan oh, apaan itu tadi? Ichi heran, kenapa jari Ichi bisa ngetik kayak gitu? Salahkan otak Ichi yang sudah terkontaminasi adegan manis YeWook. Dan oh! Katakana itu bohong tentang ciuman Yesug di kening Ryeowook. Astaga.

Lalalala~~~ ternyata fict gaje ini apdet lagi. Makasih buat yang udah mau nunggu dan mau baca. Dan juga yang udah review. Ouch… review kalian itu benar-benar berharga. Terima kasih untuk kesediaan readers buat nulis review buat Ichi. Ichi gag janji nih fict bakalan pendek. Hehhe~ lihat, sampai saat ini bahkan masih belum ada gerakan apapun. Jadi mohon sabar untuk endingnya yah. Kalo masih ada yang mau review dan nunggu, Ichi bakal lanjutin fict-nya. Kalo kagak. Ya udah. Berhenti di tengah jalan deh.

Gag banyak ngomong lagi, Ichi Cuma mau ingetin. Jangan lupa review ne^^

TIDAK MENERIMA BASHING. OKE?^^

Gomawo~~ *bow*