Chapter 8

Jangan berpikir (Part 1)

.

2 April, Musim semi.

Seminggu setelah waktu perkuliahan pertama di Universitas Tokyo pun tiba. Saat ini di ruang kelas yang terbilang sangat panjang kali lebar itu, seorang gadis nampak duduk di bangku perkuliahan yang sudah di sediakan sambil sibuk mempersiapkan segala alat tulis untuk mencatat apa yang nanti akan diterangkan oleh dosen yang mengajar kelas tersebut.

Sementara itu tepat di sampingnya ada seorang mahasiswa lain dengan manik zamrud dan wajah polos khasnya, siapa lagi kalau bukan Thorn. Ia tampak sibuk mengunyah snack untuk mengisi energi sebelum dosen memasuki kelas dan memulai pelajaran.

Jika anda bertanya-tanya kenapa Thorn yang berbeda jurusan bahkan fakultas dengan Yaya bisa ada di kelas yang sama. Itu karena mata kuliah yang diberikan adalah mata kuliah umum yang bisa diambil semua mahasiswa dari jurusan manapun.

Ngomong-ngomong Yaya itu jurusan kimia dan Thorn itu jurusan pertanian.

Tak lama kemudian ada seorang mahasiswa lain juga memasuki kelas tersebut dan mulai sibuk mencari bangku yang kosong. Hingga akhirnya dia menemukannya paling pojok tepat di sebelah Yaya. "Anu... permisi. Apa sebelahmu masih kosong? Boleh aku duduk disini?" tanyanya sopan.

"Iya. Silahkan" Yaya berbalik pada mahasiswa tersebut setelah selesai mengambil benda yang dibutuhkannya dari dalam tas. Begitu menoleh tampaklah di matanya sosok pemuda berambut hitam lebat dan sepasang bola mata berwarna delima. Tentu saja sontak keduanya sama-sama tercengang dengan mulut menganga lebar.

Benar kan? Bahkan Halilintar yang dari jurusan hukum publik pun ada disini.

krik...krik...

Setelah cukup lama terdiam akhirnya si vampir bermata ruby pun angkat bicara. "J–Jangan salah sangka ya!? Aku sama sekali nggak ada maksud mengikutimu! Dalam 'kartu rencana studi' ku memang ada mata kuliah bahasa inggris! Cuma itu saja kok!" cerocosnya mencoba untuk berkelit dengan pipi memerah juga gaya dan ekspresi tsundere nya yang cukup khas.

"Aku belum ngomong apa-apa..." gumam Yaya sambil bersweat drop ria.

Sambil mendengus keras dan amat sangat terpaksa Halilintar langsung meletakkan tas di atas meja di sebelah gadis berhijab tersebut.

Yaya bergeser untuk memberikan cukup ruang agar Halilintar bisa duduk.

Jujur ia agak bingung, akhir-akhir ini cowok dengan manik delima itu agak sedikit aneh semenjak kejadian dua minggu yang lalu. Dia seperti menjaga jarak dengannya, bisa dilihat pemuda itu agak sedikit risih saat duduk di sampingnya sambil asik melipat tangan. Kalau wajah ketusnya itu sih sudah biasa.

Halilintar marah padanya ya?

"Kenapa?" hingga tiba-tiba sebuah pertanyaan singkat dari Halilintar sukses mengejutkan Yaya.

"Eh? T–Tidak." sahut Yaya spontan karena kaget. "Anu... Aku minta maaf kalau membuatmu marah karena waktu itu" lanjutnya lagi dengan tatapan memelas.

Halilintar diam dan sempat mengerjap beberapa saat. "pffft..." sebelum akhirnya dia tak mampu untuk menahan tawa. Sambil memalingkan wajah, ia pun asik cekikikan sendiri.

"K–Kenapa sih?" celetuk Yaya.

Halilintar berbalik menoleh kembali padanya setelah puas menahan geli. "Bo~doh... Harusnya aku yang minta maaf. Yang korbannya itu kan kau. Jadi kau pikir aku marah padamu?" ketusnya.

"T–Terus kenapa kau jadi menjaga jarak denganku!?" protes gadis itu.

Mata pemuda itu sontak membulat ditambah dengan semburat merah di pipinya. Dengan gagap ia pun menjawab "I–itu..."

"Okay everyone, good afternoon! Let's start our lesson today!"

Entah bisa dibilang beruntung atau tidak. Disaat yang sama dosen yang merupakan orang luar negeri dan mengajar kelas mata kuliah bahasa inggris tersebut masuk, hingga membuat perhatian kedua muda-mudi itu teralihkan ke depan dan Halilintar pun tidak perlu melanjutkan ucapannya.

Sementara Thorn, seolah tak peduli ada dosen di depan–dengan santainya dia malah asik melanjutkan makan cemilan. Bahkan keripik kentang itu baru saja dia buka. Padahal minggu lalu mereka sudah membuat kontrak perkuliahan dengan dosen yang bersangkutan. (Jujur aja, aku kurang tau di Jepang ada sistem kontrak perkuliahan atau nggak. Tapi disini anggap aja lah ada.)

Yaitu... Satu, terlambat hanya boleh sepuluh menit, kalau telat dapat tugas. Dua, boleh tidur asal jangan mengganggu yang lain. Tiga, boleh minum tapi tidak boleh makan di kelas kecuali masih ada lagi sebenarnya.

Dan kontrak nomor tiga itulah yang dilanggar.

"Sensei! Kuroyama-kun makan keripik kentang di kelas anda!" sontak seorang mahasiswi yang duduk di samping Thorn–karena merasa terganggu oleh suara garing dari aktifitas menguyah tersebut pun segera melaporkannya pada si pengajar.

"Kuroyama-kun..." gumam mahasiswa lain yang berada di dekat pemuda bermata zamrud tersebut dengan lesu.

"Kuroyama-kun, simpan makananmu!" timpal teman yang kelihatannya satu jurusan dengannya.

"Hei, kelas sudah dimulai!"

Akhirnya seisi kelas pun menjadi sedikit riuh dengan pandangan tertuju pada Thorn yang terlihat sangat tenang meskipun mendapat cemoohan dari yang lain.

Halilintar yang berada di dekat pemuda tersebut jadi merasa tak nyaman, walaupun semua tatapan itu bukan ditujukan padanya tapi tetap saja dia merasa risih. Pemuda bermanik ruby itu hanya bisa memijit kening sambil membuang nafas dengan lesu, seolah yang dialami temannya itu sudah biasa dan sering sekali terjadi.

~MA~

Akhirnya setelah sedikit terjadi sedikit keributan karena ulah seorang mahasiswa yang melanggar aturan, kelas pun menjadi tenang kembali hingga jam mengajar selesai (itu pun setelah ditertibkan oleh dosen yang mengajar di depan saat itu).

Dan sekarang Halilintar dan Yaya sedang duduk di sebuah bangku taman yang terletak halaman kampus tersebut dan menikmati udara segar, sambil menunggu jam kuliah selanjutnya.

"Anu... Halilintar." Panggil gadis itu mengawali pembicaraan dan memecah keheningan diantara mereka berdua.

"Hm?" Yang dipanggil menoleh dan menyahut dengan sebuah gumaman sambil asik menyilangkan kedua tangannya.

"Mengenai Thorn tadi..." sambung gadis itu yang segera disela oleh Halilintar.

"Dia dari dulu memang selalu begitu. Hal seperti ini sudah biasa baginya" Potong pemuda bermanik ruby itu dengan nada datar. "Thorn itu... bagaimana aku bilang nya ya? Agak sedikit kikuk juga tidak bertanggung jawab. Satu waktu dia akan bertindak dan bicara mengikuti kata hatinya. Kadang dia tidak bisa mengingat hal-hal penting. Dia juga sering sekali membuat kesalahan karena kecerobohannya itu. Intinya, dia itu susah diurus dan sangat bergantung pada orang lain." Jelasnya sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.

Sementara Yaya diam mendengarkan ceritanya tentang Thorn.

"Karena itulah sejak dulu dia mengalami kesulitan dalam kerja tim karena dianggap menyusahkan, padahal anaknya baik dan perhatian pada sekitarnya. Makanya aku kaget saat Thorn bilang ingin kuliah. Aku khawatir dia akan menemukan kesulitan dalam belajar dan berteman... terutama saat sifatnya yang satu itu muncul secara mendadak tanpa diprediksi" Halilintar menyipitkan mata, tatapannya seperti menerawang saat mengucapkan kalimat terakhir tersebut, seolah itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Sebelum akhirnya ia beralih pada kaleng berisi minuman bersoda yang beberapa saat lalu dibelinya dan meneguk isinya yang tinggal setengah tersebut.

"Tapi kalau menurutku nggak seperti itu" kali ini Yaya angkat bicara mengenai pendapatnya. Halilintar melirik padanya dengan tatapan cengo. "Thorn sudah berusaha keras melewati berbagai tahap seleksi hingga bisa diterima di kampus bergengsi ini. Bukankah itu sudah cukup membuktikan kalau dia mampu? Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan, benar kan?" ujar gadis itu sembari tersenyum lembut.

Halilintar yang melihatnya hanya bisa tersenyum balik dan menutup matanya. "Benar juga..." Setelahnya ia pun membuka ponselnya dan mendapati jika jam sudah menunjukkan pukul 11.45. Tinggal beberapa menit lagi kelasnya akan dimulai. "Oh, hampir sudah waktunya. Aku duluan ya? Kau masih ada kuliah habis ini?" katanya sambil berdiri dari bangku tersebut.

"Um... Sebenarnya aku ada praktikum sore ini. Awalnya aku mau ke perpustakaan tadi. Tapi mungkin aku ke kantin dulu saja" sahut Yaya.

Halilintar hanya manggut-manggut mendengar jawaban itu, dan menggumam "Iya ya, lagipula ini juga sudah hampir jam makan siang. Ya sudah hati-hati" kemudian dia berbalik dan segera menuju gedung dimana ruang kelas yang ditentukan berada.

Yaya memandangi punggung pemuda tersebut, lalu menoleh ke arah bangku dimana bekasnya duduk tadi dan mendapati jika Halilintar meninggalkan sesuatu disana, entah karena terburu-buru atau lupa. Sontak gadis itu melongo dan berniat menegur. "Halilintar! sampah–" sayangnya pemuda itu sudah berada jauh sekali dari radius jangkauan suara Yaya. "–mu..."

Sambil membuang nafas berat, dengan terpaksa gadis itu pun langsung memungut kaleng soda bekas yang sudah kosong tersebut dan melemparkannya ke tong sampah yang berada setengah meter di depannya.

"Aduh!"

Tapi entah karena kurang fokus, lemparannya malah meleset dan tidak sengaja mengenai seseorang yang berada tak jauh dari tong sampah tersebut, tepat di kepala. Tentu saja gadis itu panik dan dengan segera menghampiri orang yang menjadi korban lemparannya tersebut.

Bisa dilihatnya pemuda itu masih asik mengusap-usap kepalanya yang sakit karena terkena timpukan kaleng minuman bekas itu. "Ma–Maaf salahku..."

Sambil meringis kecil pemuda itu pun mengangkat kepalanya, hingga terlihatlah keseluruhan wajahnya.

"Heh?" Kembali Yaya dibuat tercengang saat melihat wajah orang tersebut. Bentuk muka, mulai atas dahi sampai bawah dagu semuanya persis seperti Gempa, yang berbeda hanya warna rambut dan matanya yang coklat. Bahkan gadis itu hampir salah panggil jika saja tidak memperhatikan hal yang berbeda itu.

"Aduh... bahaya banget... Apa ini milikmu?" tanya pemuda tersebut sambil menyodorkan kaleng sampah yang sempat dipungutnya tadi pada gadis di depannya.

"I–iya..." jawab Yaya spontan karena saking herannya.

"Aku belum pernah melihatmu, kau itu MABA ya?" tanya pemuda berjaket jingga itu lagi.

"I–Iya..." jawab Yaya lagi sambil menunduk menyesal.

"Dek, Adek tau ada aturan 'jangan buang sampah sembarangan' di kampus ini?"

"Ta–Tau Kak... maaf..."Gadis itu kembali menjawab secara spontan dengan mata berkaca-kaca, rasanya seperti di interogasi. Hari yang sungguh sial untuknya, bisa-bisanya lemparannya meleset dan mengenai Kakak Tingkat.

Si 'Kating' pun mendengus dan tersenyum. "Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi ya?" ujarnya. Dan langsung memasukkan sampah kaleng yang ada di tangannya tersebut ke dalam bak sampah di dekatnya. Setelah itu dia kembali berhadapan dengan Yaya sambil menyunggingkan senyuman lembut.

"Oh iya, Siapa namamu?" tanyanya halus.

"Y–Yaya... Yaya Yah."

"Yaya, ya? Jurusan apa?"

"Kimia"

"Kalau begitu salam kenal ya, Yaya. Kalau aku dari jurusan manajemen, namaku–"

"Oy, Boboiboy!"

Belum sempat pemuda tersebut mengenalkan diri lebih lanjut, teman-teman satu kelasnya tiba-tiba saja menegurnya. Mereka berdua menoleh, dan terlihat di seberang sana ada tiga orang, yang dua kelihatannya kembar, laki-laki dan perempuan dengan rambut coklat dan mata hijau, lalu yang satu lagi laki-laki yang sedikit pendek dengan rambut berwarna kehijauan.

"Kau ini ngapain sih, bentar lagi kita ada kelas lho! Yang ngajar dosennya Pak Tarung!" seru si kembar laki-laki.

Mendengar ucapan teman laki-lakinya, sontak pemuda bernama Boboiboy itu memucat. "Anu... Maaf ya Yaya aku harus segera masuk kelas, lain kali kalau ada waktu kita ngobrol lagi" katanya pada gadis berhijab tersebut sebelum setelahnya menyusul ketiga teman sejurusan dan sekelas dengannya tersebut.

"Kau ini ngapain sih tadi? PDKT sama dedek gemesh?" gerutu si teman kembar laki-lakinya tersebut pada Boboiboy.

"Bukan... aku cuma nggak sengaja kena timpuk waktu dia buang sampah sembarangan. Makanya kuceramahin dulu dia" sahut Boboiboy ketus.

"Alah... Modus..."

"Udahlah kalian berdua. Kita lagi buru-buru nih!" tegur si kembar perempuan yang sejak tadi hanya diam dan akhirnya angkat suara.

"Ah~ benar juga. Tapi heran juga sama itu dosen, kenapa killer banget sih? Bikin orang malas kuliah aja, tau nggak." gerutu si anak kembar laki-laki tersebut.

"Jangan ngomong gitu. Beliau begitu cuma waktu ngajar aja, coba deh sekali-kali kau ketemu dan ngobrol sama beliau pas konsul atau makan di kantin. Bapak itu baik banget lho, malahan kami sempat di traktir lagi" komentar si gadis menyahut saudara kembarnya.

"Ya mana kutahu, Dosen PA ku kan bukan Pak Tarung."

Sementara ketiga senior itu asik ngobrol menuju kelasnya, Yaya tampak masih memperhatikan dengan penuh penasaran pada Kakak tingkat bernama Boboiboy tersebut. Bagaimana bisa ada orang–bukan, manusia yang begitu mirip dengan seorang Dewa yang dikenalnya tersebut. Fenomena aneh apa yang sedang terjadi saat ini? Doppelganger kah? Atau mungkin...

~MA~

Sementara itu disaat yang sama Thorn...

Sedang menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya minggu lalu.

"Kuroyama-kun!" Disaat yang sama dua perempuan teman sekelasnya pun memanggil dan menghampirinya.

Thorn pun langsung merespon panggilan itu dan menoleh kepada dua gadis yang sepantaran dengannya tersebut.

"Kebetulan banget... kau masih di kampus kan setelah ini?" tanya salah satu gadis tersebut.

"Iya. Ada apa?" tanya Thorn balik.

"Begini... kami boleh titip tugas tadi. Sebenarnya kami mau ngumpulkan sendiri tapi kami ada urusan mendadak di luar kampus. Boleh ya?" salah satu dari gadis itu menunduk dan menyatukan kedua telapak tangannya, meminta tolong dengan amat sangat.

"Hah...? Terus kenapa kalian minta tolong denganku?"

Tanpa disangka dan entah kenapa, pemuda di depannya malah mengatakan hal yang aneh. Nada suaranya pun berubah lebih berat. Mendengar ucapan Thorn Si gadis mengangkat kepalanya, bisa dilihatnya ekspresi pemuda dengan manik zamrud itu tidak seperti biasanya, tatapannya tajam dan begitu kelam, aura yang begitu mencekam bisa terasa di sekitarnya hingga cukup membuat siapapun yang ada di dekatnya bergidik ngeri.

"Emang nggak bisa dikumpulin nanti aja, kita kan masuk lagi nanti sore. Terus bukannya pas turun kalian lewat depan ruangan dosen? Kenapa nggak sekalian? Tinggal taruh aja di atas meja dosennya, beres. Kan ini bukan laporan atau jurnal harus pakai ACC segala"

Begitulah Thorn terus mengumpat sendiri dengan ucapan yang begitu kasar. Sepertinya ia hanya mengucapkan apa yang terbesit dalam hatinya, tapi mungkin tanpa filter makanya jadi bocor kemana-mana.

"Jadi... Mana tugas yang mau dititipkan tadi~" lihat, sesaat kemudian ekspresinya berubah lagi seperti sebelumnya, ceria dan penuh senyuman yang begitu ramah.

Tapi sayangnya kedua temannya sudah terlanjur ketakutan karena melihat sisi lain pemuda dengan warna mata khas hijau dedauan tersebut. Kedua gadis itu tampak menjaga jarak dari Thorn.

"N-Nggak jadi deh... Biar kami ngumpulin sendiri aja... S–Sudah ya, Kuroyama-kun? Bye~!"

Lalu dengan cepat mereka langsung mengambil langkah seribu, disaat Thorn mengulurkan tangan dan mencoba untuk menanyakan 'apa yang salah?' pada mereka berdua.

Pemuda itu hanya bisa membuang nafas panjang saat melihat kedua temannya itu menjauh "Ini terjadi lagi..."

~MA~

Sementara itu lagi Ice yang baru saja pulang sekolah pun langsung saja menuju kafe Shinwa, untuk mengambil jatah makan malamnya. Sementara Blaze langsung pulang ke rumah.

Dan begitu melewati pintu masuk. "Oh Ice, selamat datang~ Bagaimana sekolahmu?" anak itu langsung disambut oleh senyuman hangat dari wanita bermanik saphire pekerja kafe tersebut, Ying.

"Ya... seperti biasanya" jawab bocah itu singkat.

"Begitu ya? Kau mau makan apa sekarang?" Sambil menghampiri Ice, Ying pun kembali bertanya dengan lembut. Baginya Ice dan yang lain itu sudah seperti anaknya sendiri.

"Apa saja boleh..." jawab anak dengan manik aquamarine itu lagi.

"Hmm... Ya sudah kubuatkan dulu ya? Tunggu sebentar" wanita berambut hitam itu pun langsung berbalik untuk menuju dapur, jika saja Ice tidak memanggilnya dulu untuk menegur.

"Anu, Kak Ying!"

"Hm?" Ying pun kembali dibuat menoleh pada bocah tersebut.

"Maaf jadi merepotkan... karena Nii-san tidak ada..." tambah Ice lesu dengan tatapan sendu.

"Tidak apa-apa, Taufan memang menitipkanmu pada kami. Lagipula kita sudah bertetangga selama sepuluh tahun, tidak perlu sungkan begitu lah" kilah Ying santai sembari mengibaskan tangannya. Ice hanya mengangguk mengiyakan begitu wanita itu masuk ke dapur restoran untuk memasakkan sesuatu.

Disaat yang sama Gempa tampak menghampiri bocah yang masih tertunduk lesu tersebut. "Ice... Bisa kita bicara sebentar?" tegurnya lembut.

Ice pun menoleh dan menjawab dengan cepat. "Ya?"

"Anu, begini lho. Apa malam ini kau bisa ikut denganku ke Shikoku? Ada pekerjaan yang harus kulakukan. Biasanya aku akan minta tolong dengan Thorn, tapi anak itu ada kuliah malam ini" pinta Gempa.

Ice hanya mengangguk singkat yang berarti 'iya'. "Tidak masalah..."

~MA~

Kita skip time aja ya?

Kembali ke kampus dimana Yaya dan yang lain berkuliah. Seperti yang dikatakan gadis itu sebelumnya, dia memang ada praktikum sore itu dan baru selesai setelah lewat pukul 6.30.

Karena ia dan kelompoknya mendapat tugas piket membersihkan laboratorium setelah penelitian tadi, seperti membersihkan wastafel, menyiram lemari asam dan merapikan bahan kimia yang tadi digunakan untuk percobaan makanya mereka jadi yang paling terakhir pulang.

"Yaya!"

Gadis berkerudung pink itu pun menoleh ketika salah satu teman sekelompoknya memanggil. Saat itu dia sedang merapikan botol-botol kaca berisi bahan kimia di rak penyimpanan bahan.

"Kami duluan ya? Nggak apa-apa kan? Kami harus mengejar kereta nih" sambung teman perempuannya tersebut.

"Iya tidak apa-apa." jawab Yaya lembut dengan senyuman dibibirnya.

"Beneran?"

"Uhm~"

"Ya sudah.. Bye Yaya~"

Kedua temannya itu melambai yang segera mendapat balasan balik berupa lambaian tangan dari Yaya. Dan setelahnya gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya–menyusun botol-botol larutan bahan kimia encer di rak tersebut.

Setelah selesai dia pun keluar dari laboratorium. Sambil menanggalkan jas pelindung berwarna putih yang dipakainya selama di dalam tadi dan merapikannya untuk dimasukkan dalam tas. Barulah setelah itu dia berjalan pulang.

Gadis berhijab itu terus menyusuri lorong lantai 5 salah satu gedung di kampus tersebut sendirian. Hingga tiba-tiba...

Lampu di sepanjang lorong tersebut mendadak saja padam tanpa sebab dan membuat seluruh tempat itu gelap gulita.

Yaya sempat menjerit pelan karena saking kagetnya "Mati lampu?" gumam gadis bingung. Karena anehnya lampu di gedung lain masih menyala. Hanya beberapa saja yang padam karena memang sengaja dimatikan. Yang lebih aneh lagi entah darimana tiba-tiba saja lantai koridor menjadi basah, padahal tidak ada hujan atau pipa air yang bocor.

Dan tanpa disadarinya, sesuatu mengintai dari dalam kegelapan. Sosok yang cukup menakutkan dengan mata merah menyala tengah berpegangan erat pada bagian langit-langit lorong.

Yaya tersentak dan menggulirkan matanya ke belakang begitu mendengar makhluk tersebut melenguh pelan. Dan langsung menyerang tanpa peringatan dengan kibasan ekornya yang panjang dan besar.

Panik, secara spontan Yaya langsung merogoh ke dalam tasnya untuk mengeluarkan stun gun miliknya dan mengaktifkan mode saber.

Dan setelahnya makhluk itu pun terpental ke belakang dan jatuh ke lantai dimana cahaya dari luar bisa menyorot masuk hingga terlihatlah dengan jelas wujudnya berupa wanita berambut hitam panjang dengan bagian tubuh dari pinggul hingga ke bawah berupa seekor ular.

Namun bukan Yaya yang membuatnya terjatuh, tapi sosok lain yang tiba-tiba saja muncul sambil melayangkan sebuah tendangan yang cukup keras barusan. Dan sekarang sosok itu tengah berdiri dengan tegak sambil menggenggam sebilah katana berwarna hitam.

"Halilintar!?" seru Yaya kaget saat pemuda bermanik ruby tersebut tiba-tiba sudah ada di depannya.

"Hmph... Sudah kuduga, Nure-onna." Mengabaikan ucapan Yaya, Halilintar fokus menatap pada siluman wanita ular yang dihajarnya barusan.

'Nure-onna', atau lebih dikenal sebagai 'wanita ular' adalah sosok siluman ular raksasa dengan kepala seorang wanita. Dia disebut 'wanita basah' karena rambutnya yang selalu terlihat basah tapi ada juga yang berpendapat kalau dia adalah representasi dari ular air.

Makhluk itu menatap padanya dengan pandangan tajam menusuk, menandakan jika suasana hatinya sedang buruk karena Halilintar mengganggu acara makan sekaligus merusak rencana yang sudah disusunnya selama berminggu-minggu. Namun lucunya, entah kenapa wanita itu hanya mengeluarkan gerutuan panjang.

Dia seperti kesal tapi tidak bisa mengumpat, seolah-olah memang tidak bisa bicara. Padahal kalau diperhatikan dia itu masuk golongan 'humanoid' seharusnya dia masih punya kemampuan untuk mengucapkan kosa kata. Terutama karena dia tinggal di kampus.

Sementara tak jauh di belakang Yaya dan Halilintar, Thorn baru saja tiba dan memojok ke dinding. Dia sebenarnya ingin membantu Haliilintar dan menolong Yaya namun tidak ingin ikut campur dan malah menjadi pengacau.

"Ku akui kau cukup pintar dalam menetapkan buruan, dan juga sangat sabaran untuk mengintai mangsamu itu selama seminggu. 'Cewek dodol' ini mungkin nggak sadar kalau kau mengintipnya dari sini setiap saat." Lanjut pemuda itu menyindir.

"Tunggu, siapa yang kau sebut 'dodol' itu!?" protes Yaya tidak terima.

"Ya kau lah, siapa lagi? Emang sih pintar sampai bisa dua kali loncat kelas, tapi untuk urusan beginian kemampuan jeblok banget. Nggak heran kau selalu terlibat masalah setiap saat" sahut Halilintar ketus.

"Aku emang ga tau! Secara inderaku nggak sepeka kalian, kenapa jadi soal aku naik kelas dua kali dibawa-bawa!? Apa hubungannya!? Kau iri!?" sahut Yaya tak mau kalah.

"HAH! SIAPA COBA YANG IRI!?

"TERUS NYINDIR KAYAK TADI MAKSUDNYA AP– "

Segera bentakan Yaya pun terpotong karena serangan berupa hantaman ekor milik si wanita ular yang begitu keras tepat hampir mengenai gadis itu. Mungkin ia kesal diabaikan karena perkelahian gaje dari mereka berdua. Disaat yang sama Halilintar langsung bergerak secepat kilat menggendong Yaya dan membawanya ke luar arena pertarungan.

Dia pun menurunkan Yaya dan kembali lagi ke dalam arena "Thorn jaga dia!" titipnya pada pemuda bermanik emerald tersebut.

"Hei!" seru si gadis berhijab protes karena pemuda itu nekat maju sendiri.

Si 'Nure-onna' yang dalam kondisi marah itu pun menyerang dan mengibaskan ekornya yang panjang dan besar ke segala arah. Tapi dengan lihainya bisa dihindari oleh Halilintar sehingga sekarang posisi pemuda itu tepat berada di dekat tubuh utama musuhnya.

Sambil bersiap mengayunkan pedang, ia pun melapisi senjatanya tersebut dengan aliran listrik bertegangan tinggi. Dan dijamin satu tebasan akan sama menyakitkannya seperti disambar oleh petir bertegangan lebih dari 100.000 volt.

Namun ketika pemuda itu hendak menebaskan pedang ke arah perut si wanita ular raksasa, tiba-tiba saja sebuah dinding tebal terbuat dari air menyembur keluar dari lantai dan menciptakan sebuah barrier di depannya. Sontak Halilintar pun langsung menarik kembali serangannya sebelum menyentuh lapisan cair tersebut.

Ini adalah jurus andalan milik si ''Nure-onna'. Sepertinya karena tinggal di air makanya si siluman ini punya kemampuan memanipulasi elemen alam tersebut.

Belum kehabisan akal pemuda itu memutar mencari celah lain yang bisa dipakai untuk menebas si ular. Namun hasilnya nihil, sama seperti tadi jalannya di blok oleh dinding air buatan si siluman.

Lengah karena sibuk mencari celah, Halilintar tidak menyadari jika si wanita sudah melemparkan serangan. Alhasil ia pun sukses terkena hantaman ekor si ular dan terpental ke arah kedua temannya.

"Halilintar!" seru Yaya panik. Ia pun langsung menghampiri vampir bermanik ruby itu dan duduk di sampingnya dengan tatapan sangat khawatir.

Halilintar segera bangkit untuk duduk, dengan tubuh gemetar dia menyeka pun darah di mulutnya. "Air-air itu ngerepotin banget... Kalau kupaksakan dan kena petirku bisa-bisa tempat ini meledak" gerutunya dengan nafas agak tersengal.

Yaya menoleh sejenak ke arah si 'nure-onna' yang saat ini tampak mengayun-ngayunkan ekornya sambil memasang ancang-ancang bertarung. Sesaat kemudian gadis itu pun membuang nafas dan kembali menatap Halilintar.

"Halilintar, biar aku saja yang maju" katanya mantap. Dan membuat si pemilik nama tercengang dengan mulut setengah terkatup.

"Ngomong apa sih kau ini!? Bahaya tau! Jangan!" protes Halilintar keras.

Namun sayangnya diindahkan oleh Yaya. "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja" Gadis itu langsung berdiri sambil menyalakan stun gun miliknya pada mode saber dan melangkah dengan tenang menuju ke arah musuh.

"Woi!" tentu saja Halilintar tidak terima gadis itu maju sendirian. Dengan panik ia mencoba berdiri untuk mencegahnya pergi, namun karena serangan telak sebelumnya pemuda itu pun kembali terduduk di lantai dengan tubuh bergetar menahan sakit.

Sementara itu Yaya terlihat mengambil ancang-ancang sambil menarik nafas panjang. Dan kemudian mulai berlari ke arah si ular wanita, ajaibnya kecepatan larinya semakin lama semakin bertambah cepat saja.

Lalu si siluman yang sudah terlanjur kesal pun melampiaskan amarahnya pada Yaya dengan melantunkan ekornya ke segala arah secara acak, tidak lupa beberapa serangan semburan air. Tapi dengan lihainya bisa dihindari oleh si gadis berkerudung. "Serangan berbahaya tapi gerakannya agak lambat..." hingga tiba-tiba hantaman sebuah hantaman ekor hampir saja mengenai kepala si gadis tersebut, tapi beruntung Yaya bisa mengelit dengan cara melenturkan punggungnya ke belakang. "Aku... bisa..."

Setelahnya ia memutar tubuhnya sambil berdiri bertumpu dengan tangan dan memberikan tendangan ringan pada bagian buntut tersebut, ditambah dengan tenaga yang berasal dari pukulan ekor itu sendiri dia pun membalikkan kembali serangan ekor itu kepada pemiliknya dan tepat mengenai pada salah satu sisi kepalanya.

Halilintar pun sampai dibuat hampir tidak bisa menutup mulutnya saking tercengangnya, tapi entah kenapa rasanya gerakan itu mirip dengan gerakan milik seseorang. Lalu sesaat longoan itu berubah menjadi senyum tipis "Jadi begitu... Ice ya?" batinnya berkomentar.

Saat si 'Nure-onna' itu lengah karena serangan senjata makan tuannya sendiri, Yaya kembali melesat dan bersiap menyerang. Tapi kali ini si siluman menyerang habis-habisan dengan semburan air dari lantai yang sangat kuat dan polanya acak.

Yaya tidak kehabisan akal, dia langsung melompat menaiki ekor si wanita ular yang licin dan basah tersebut dengan cekatan dan berhati-hati. Karena dia tahu, tidak mungkin ada makhluk yang mau menyerang dirinya sendiri, kecuali dia sudah gila. Hingga akhirnya gadis itu pun berhasil mencapai punggung makhluk tersebut dan tanpa ragu segera menebaskan pedang sabernya secara melintang di daerah sekitar pinggang si makhluk.

Darah menciprat keluar dari bagian yang di tebas secara spontan oleh Yaya, dan dengan segera si gadis berhijab pun menjauh dari makhluk tersebut. Bisa dilihatnya makhluk itu tampak mengeliat kesakitan dan tidak berhenti bergerak kesana kemari.

Kesempatan ini pun tak dibuang-buang oleh Halilintar. Pemuda itu segera melapisi kembali pedangnya dengan aliran listik berpijar merah. "Yaya menunduk!" perintahnya nyaring saat melemparkan besi hitam berlapis petir merah tersebut ke arah si siluman ular air.

Yaya menurut dan dengan cepat membungkukkan tubuhnya. Pedang itu pun sukses mengenai si siluman tanpa menyentuh Yaya yang berada di dalam jalur lemparan tersebut dan menyambar si 'Nure-onna'.

Alhasil si siluman pun hanya bisa terkapar di lantai dengan keadaan lemas dan setengah gosong.

Kemudian setelah berhasil mengalahkan makhluk tersebut Halilintar pun bisa menghela nafas lega. "Yaya, kau tidak apa-apa!?" tanyanya agak risau sambil menghampiri gadis tersebut.

Yaya menoleh pada Halilintar dan tersenyum. "Iya, tidak apa-apa" jawabnya lembut. Lalu kembali menatap pada si siluman yang sudah tumbang di lantai itu. "Jadi dia mau kita apakan?" gantinya bertanya.

Halilintar mendelik pada si 'nure-onna'. "Biarkan saja. Paling besok pagi dia sudah hilang" katanya. Dan hanya dibalas Yaya dengan sebuah anggukan tanda mengerti.

Untuk beberapa saat suasana diantara mereka hening sejenak.

Hingga tiba-tiba wajah Halilintar merona merah tanpa sebab yang jelas. "J–Jangan kepedean ya!? Aku datang ke kampus bukan karena khawatir padamu! Kebetulan saja aku ada rapat UKM malam ini!" sangkalnya keras sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan melirik ke arah lain.

UKM (Unit Kerja Mahasiswa)

"Aku nggak nanya tuh..." komentar Yaya bergumam dengan sebuah sweat drop besar di kepala.

"Po–Pokoknya cepat kita pulang! Kuberitahu ya, di kampus ini banyak banget siluman liar nya! Dan mereka semakin ganas saat malam tiba!" bentak pemuda itu lagi pada Yaya.

"Ya... ini juga aku baru pula–"

Saat Yaya menyahut Halilintar tanpa disadari si wanita ular itu mencoba bangkit kembali walau tubuhnya sudah gemetaran. Sambil menjerit karena amarah yang memuncak hingga menimbulkan suara melengking keras dan dengan sisa tenaga yang ada, makhluk itu pun mengayunkan ekornya tersebut hingga mengenai Yaya dengan telak dan membuat gadis berhijab itu terlempar ke luar gedung setelah punggungnya menabrak kaca.

Yaya membelalak lebar ketika merasakan tubuhnya sudah berada di udara dan jatuh dari ketinggian 5 lantai gedung kampus tersebut.

Sontak Halilintar panik dan langsung mendekat pada bagian dinding yang hancur terkena hantaman ekor besar tersebut. "Yaya!" saat dia ingin meloncat dari sana untuk menyelamatkan si gadis, Thorn yang sejak tadi hanya diam malah lebih duluan melompat dan terjun bebas.

Si gadis pun tampak tercengang melihat siapa yang sekarang tepat berada di atasnya dengan kedua lengan terulur dan terbuka lebar seolah ingin menangkapnya.

"Yaya... kau jatuh lho..." Thorn tampak begitu tenang bahkan masih bisa menampilkan senyuman lembutnya. Kedua bola matanya tampak bersinar dan setelahnya aura berwarna ungu mulai menyelimuti tubuhnya kembali.

Sesaat kemudian Thorn pun sudah berubah menjadi makhluk besar berbentuk kerangka manusia, dengan kedua tangan ditangkupkan ia segera menangkap Yaya dengan begitu lembut dan setelahnya mendarat ke tanah tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

.

Sementara itu dari perpustakaan yang terletak tepat di gedung seberangnya, seorang pemuda bermata hijau yang merupakan anak kembar teman Boboiboy nampak berdiri di depan jendela dan melongo dengan lebar saat melihat makhluk seperti kerangka manusia berukuran raksasa muncul di hadapan matanya (Sebenarnya dia kebetulan saja berdiri di depan jendela saat Thorn sudah menangkap Yaya, jadi dia tidak tahu kejadian awalnya).

"Shi–Shie–Shielda! Coba lihat ini!" serunya panik memanggil saudari kembarnya.

"Apa sih, Sai? Berisik ah. Nanti saja, aku sibuk" sahut kembarannya agak ketus yang tengah asik duduk mengetik di laptop.

"Cepat sini! Kau pasti tidak akan percaya!"

.

Kembali lagi pada Yaya dan Thorn. Saat ini si gadis nampak terbatuk-batuk karena hantaman barusan, tapi dia beruntung karena tidak sampai mendarat di atas permukaan tanah.

"Yaya..."

Thorn memanggil gadis itu dengan suara serak, besar yang cukup membuat bulu kuduk berdiri walaupun ada sedikit suara dalam bentuk manusianya yang tercampur di dalamnya.

"Thorn?" gumamnya lemah menatap pada pemuda yang saat ini wujudnya berubah total dari bentuk manusia ke siluman. "Kau melompat hanya untuk menyelamatkanku?" lanjut gadis itu bertanya saat Thorn menurunkannya dengan perlahan ke tanah.

Lalu kembali lagi mengubah wujud maupun ukurannya ke bentuk normal. "Iya..." jawab pemuda itu dengan senyum dan tatapan lembut.

.

"Oi, Shielda!"

Shielda berdecak dengan sedikit ogah-ogahan dia pun menuruti permintaan saudara kembarnya. Ia pun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Sai untuk melihat apa yang dilihat saudara laki-lakinya itu.

Namun...

"Nggak ada apa-apa..." katanya.

Sai menoleh kembali ke arah jendela dan menemukan siluman kerangka sebesar gedung tadi sudah menghilang dari sana. "Eh...?" dan tentu saja dia langsung keheranan sendiri.

"Kau mau ngibulin aku?" tanya Shielda mendelik pada Sai.

"Nggak lah! Aku berani sumpah tadi disini ada kerangka manusia segede gaban!" protesnya keras pada saudarinya.

"Kau keseringan baca komik bergenre suprantural makanya jadi ngayal"

"Nggak kok! Oi Boboiboy, kau percaya padaku kan!?" beralih dari si saudari kini ia malah meminta dukungan pada teman berambut coklat gelapnya tersebut.

"Hm? Uh... Iya" sahut Boboiboy lembut mengiyakan, tapi perhatiannya justru terfokus pada layar laptop dimana dia sedang mengerjakan makalah untuk presentasi minggu depan.

Karena itulah Sai yakin Boboiboy tidak serius menjawabnya, yang artinya dia tidak percaya.

"Daripada ngeributin yang nggak penting... sana cari jurnal gih." berang Shielda menggetok kepala saudara kembarnya dengan majalah bisnis yang dibacanya sejak tadi.

.

Kembali lagi pada scene Yaya dan Thorn.

"Terima kasih Thorn, kalau kau tidak menolongku tadi mungkin sekarang aku..." ucapan Yaya terputus, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi karena begitu berterima kasih pada pemuda itu. Sambil mengusap lengan bajunya ia hanya bisa tertunduk dengan kedua pipi memerah.

Dan tiba-tiba saja Thorn menggengam kedua tangannya dengan erat seperti saat dia menggenggam tangan pemuda itu sebelumnya. "Mulai sekarang apapun yang terjadi aku pasti akan melindungi Yaya, tidak peduli meski harus berkorban nyawa sekalipun. Aku bersumpah..." ujarnya.

Sementara itu Halilintar yang masih berada di lantai lima pun langsung menghela nafas lega melihat si gadis sudah aman. Setelahnya pemuda itu mendelik tajam pada si siluman pembuat onar tersebut, dan bisa dilihatnya makhluk itu tampak mengeram dan mundur secara perlahan hingga seluruh tubuhnya lenyap tertelan kegelapan.

"Cih..."

~MA~

Disaat yang hampir sama, jauh di daerah Shikoku tepatnya di desa yang terletak di bawah kaki gunung.

Sedang terjadi kekacauan besar disana.

Saat seekor makhluk sebesar rumah berbentuk serangga dengan kepala dan tanduk sapi tidak turun dari gunung dan mengobrak-abrik seisi desa. Para penduduk desa tampak panik dan berlarian kesana-kemari ketika monster yang disebut Ushi-oni tersebut mengacak-acak rumah, sawah dan mengejar orang-orang untuk disantapnya.

Ushi-oni secara harfiah berarti Oni (setan), atau gyūki, adalah makhluk yang muncul dalam cerita rakyatJepang. Pada dasarnya, Ushi-Oni adalah monster yang memiliki penggabungan bentuk tubuh. Monster yang satu ini bisa memiliki penampilan yang bermacam-macam. Ada yang mengisahkan bahwa sosok mereka memiliki bentuk tubuh seperti manusia, tetapi kepalanya berbentuk kepala lembu jantan. Kisah lainnya mengatakan bahwa bentuk Ushi-Oni adalah kepala manusia dengan tubuh lembu jantan, atau memiliki kepala lembu dengan tubuh laba-laba.

Monster itu baru saja menghancurkan sebuah rumah kecil dan menemukan tiga bersaudara anak kecil sedang bersembunyi disana sambil berpelukan satu sama lain dengan begitu ketakutan.

Merasa menemukan korban untuk makan malamnya, si monster pun membuka mulutnya lebar-lebar, mencoba untuk menelan ketiganya bulat-bulat. Sontak ketiganya menjerit keras meminta tolong. Tapi siapa yang akan menolong mereka? Semua penduduk desa sudah menjauh untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Namun belum sempat makhluk itu menyentu mereka, tiba-tiba saja tubuhnya ditahan oleh sesuatu yang menarik kakinya. Ia pun berbalik untuk melihat apa yang sudah menghalanginya menikmati santapan malamnya.

Dan menemukan seorang remaja bertubuh kecil dengan pakaian berwarna biru cerah tengah menahan salah satu kakinya.

Monster itu tampak terheran-heran menatap pada bocah bermanik aquamarine tersebut, dengan perbandingan tubuh yang begitu signifikan dia mampu menahan monster yang ukurannya jauh lebih besar darinya hanya dengan tangan kosong.

Ice menatap datar pada makhluk itu dan mulai mengangkat tubuhnya. "Terbanglah." dan dengan tenaga besar ia pun melempar monster tersebut ke udara. "Kak Gempa..!" lanjutnya menyeru pada seorang pria yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.

Dengan sebuah senapan laras panjang di tangannya si dewa tampak membidik si monster yang tengah melayang di udara sambil menunggu aba-aba untuk menembak yang diberikan oleh Ocho.

"Jarak target 2,3 m, kecepatan angin 14 km/jam, mengunci sasaran. Hitung mundur dari lima, empat, tiga, dua, satu. Tembak!"

Sesuai arahan Gempa pun menekan pelatuk senapan tersebut dan tepat mengenai si monster hingga menembus dadanya.

Dengan keadaan tak berdaya makhluk itu pun jatuh ke tanah dan setelahnya makhluk itu mulai mengeluarkan uap dari tubuhnya lalu kemudian mencair dan lenyap hingga benar-benar tidak tersisa sama sekali.

Gempa mendesah lega sambil berdiri tegak. "Kembalilah, Moto." dan melepaskan regalianya. Senapan laras panjang itu bersinar kuning terang dan perlahan mulai membentuk wujud manusia. Setelah cahaya itu hilang tampaklah wujud seorang remaja berambut hijau dan bermata biru.

Remaja bernama Moto itu membuang nafas panjang sambil menekan dadanya. "Menakutkan sekali..." gumamnya dengan suara tertekan.

"Kau ini... jangan tiba-tiba ragu begitu. Memangnya kau itu anak baru? Kau hampir saja mengacaukan perhitunganku tadi"

Gempa melirik pada telinga kanannya, dimana ada sebuah hearing aid berukuran sangat kecil sampai hampir tidak terlihat sama sekali. Lampu kecil pada benda itu tampak berkedip-kedip setiap kali Ocho bicara. Yup inilah wujud pusaka dari Ocho, fungsinya bukan hanya meningkatkan pendengaran tapi juga membantu mengkoordinir berbagai tindakan dari Gempa.

Disaat yang sama Ice beserta dua regalia Gempa yang lain pun sampai di tempat mereka. Yang satu perempuan berambut pirang dan yang satu lagi laki-laki berambut jingga.

"Ya habisnya aku belum pernah menembak sejauh itu, makanya jadi panik." Sahut Moto.

"Alasan saja"

"Sudahlah kalian berdua. Yang penting semuanya sudah beres" tegur Gempa menengahi mereka berdua.

"Tidak bisa begitu. Sebagai pemilik harusnya anda lebih tegas, jangan terus-terusan memanjakannya seperti ini" sesaat kemudian Ocho menghela nafas, mengalah dengan sikap tuannya tersebut. "Jadi anda ingin melakukan apa setelah ini?" gantinya bertanya.

"Benar juga... Sebenarnya aku ingin naik untuk mencari penyebab kenapa jadi ada Ushi-Oni jadi turun dari gunung. Jujur aku tidak ingin melibatkan kalian... jadi kalian bisa pulang" Gempa menatap pada gadis berambut pirang dan laki-laki berambut orange tersebut dengan agak cemas.

"Saya ingin ikut!" seru si gadis

"Tapi Bell... kali ini sangat berbahaya. Kita bukan cuma menghadapi satu, entah berapa Ushi-Oni yang ada diatas sana. Kau yakin?" protes Gempa.

"Iya. Bagaimana pun juga saya adalah senjata anda, tugas saya adalah melindungi Gempa-sama." tegas si gadis bernama Bell. "Loop juga pasti berpikir begitu kan?" lanjutnya menyikut kawannya yang satu itu.

Gempa menoleh pada laki-laki berambut jingga tersebut. "I-I-I-Iya... Me-Me-Meskipun saya masih baru. S-S-Saya akan berusaha membantu Tuan" jawabnya dengan cara bicara gagap yang mungkin memang bawaan sejak dia masih hidup sebelum menjadi roh.

"Begitu ya...? Ya sudahlah kalau kalian memaksa" menyerah, Gempa pun terpaksa membawa mereka untuk menaiki bukit bersamanya. "Kemarilah, Reiki! Souki!" dan menyebut nama alat mereka. Keduanya pun berubah, si gadis berubah menjadi tongkat baseball sementara yang laki-laki berubah menjadi arloji di tangan kiri Gempa.

"Ice, kau bagaimana? Kalau mau pulang tidak apa-apa. Aku bisa minta Moto untuk mengantarmu" kali ini Gempa melirik pada Ice dan bertanya padanya.

"Tidak, aku juga akan ikut dengan Kak Gempa. Aku ingin melindungi Kakak sampai akhir" tolak Ice tenang.

Gempa kembali dibuat mendesah pelan. "Apa boleh buat..." dan membiarkan remaja berusia hampir 16 tahun itu juga ikut dengannya memeriksa ke atas.

Setelahnya mereka berdua menatap ke puncak gunung dimana sang pemimpin para Ushi-oni tinggal, sambil menyiapkan hati untuk menemuinya hanya demi menanyakan kenapa para siluman bawahannya itu sering turun dan meneror pemukiman dibawahnya.

.

TBC

Akhirnya part 1 dari arc baru ini selesai juga.

Oh iya buat tebak-tebakan yang kemarin terima kasih bagi yang sudah menjawab. Sudah ketemu jawabannya?

1. Masih belum ketebak ya ini arc siapa? Atau udah ada yang tau? (Kira-kira chapter selanjutnya baru ketahuan)

2. Ocho itu bentuk pusakanya adalah Hearing Aid atau alat bantu dengar. Oh bukan alat bantu dengar sembarangan.

Dia bisa ngasih arahan dan meningkatkan kemampuan bertarung Gempa.

.

Lalu untuk jenis siluman yang ku sebutin diatas. Sebenarnya disini SHAMAN membagi makhluk mistis dalam 4 golongan.

1. Tipe spiritual, ini tipe yang eksistensinya berasal dari kepercayaan manusia. Jadi kalau manusia sudah lupa mereka itu ada, ya hilang. Ex: Dewa atau Roh.

2. Tipe Humanoid, yang ini wujudnya mirip banget sama manusia, sampai kadang susah dibedakan. Ya mungkin cuma ada beberapa tambahan kayak sayap, tanduk, atau ekor dan itu gampang disembunyikan ex: Vampir, Oni dsb.

3. Tipe Beast, kalau yang ini binatang. Bedanya mungkin cuma ekornya lebih dari satu, bisa bicara bahasa manusia, atau ukurannya nggak masuk akal. Ex: Nekomata, Ushi-Oni dsb.

4. Tipe Ghost, nah kalau ini yang paling beragam bentuknya, mulai dari perabotan rumah tangga sampai yang nggak jelas sama sekali itu apa. Kalau tipe yang satu ini asalnya dari emosi negatif. Dendam, merasa dibuang dan sebagainya. Roh penasaran juga masuk tipe ini lho. Ex : Gashadokuro.

Sekarang jawab review bagi yang gak punya akun atau nggak login

Nisa : Siap Dek ^^

.

Licatt : Oke Makasih! Eh jadi beneran baper? (berarti aku sukses dong).

Bukan... Thor itu adalah jalan bebas hambatan (joke garing :v)

.

Nao tomori : Siap. Diusahakan sih^^

Salam sayang juga~

.

PetirHime : Hehehe... Thanks

Sebenarnya aku nggak maksa juga sih, cuma mau main tebak-tebakan aja. Tapi terima kasih sudah menjawab.

Jawabannya

1. belum, chapter depan aja ya?

2. Nggak apa-apa, nggak fardhu ain juga kok. Tapi sudah tau kan?

Mampir sini lagi ya dek^^

.

Guest : Mungkin... ada satu kayaknya. Eh? Itu parang bukan ya?

Ya pokoknya terima kasih udah menjawab. Mampir sini lagi ya?

.

Haliya : siaaaaaappppp! ^^

Mampir lagi ya?

.

Oke segitu aja dulu. Bye Bye~ See you in next chapter~