Preview chap 7
.
"Aku serius, Jihoon-hyung. Aku mencintaimu, dari awal kita bertemu, hyung."
Jihoon diam, tidak membalas apapun pernyataan Jinyoung. Karena, memangnya Jihoon harus mengatakan apa? Bukankah sudah jelas jika Jihoon itu mencintai Woojin? Jadi, tidak mungkin jika Jihoon akan menerima Jinyoung sebagai kekasihnya.
"Aku akan membantumu untuk melupakan Woojin-hyung, hyung. Aku janji."
Mata Jihoon mungkin saja bisa keluar sekarang. Apalagi mendengar perkataan Jinyoung barusan. Jihoon melangkah mundur, kembali menatap tak percaya pada Jinyoung.
"Jadi, bagaimana, Jihoon-hyung?"
Atau mungkin, Jihoon harus merubah keputusannya mengenai Jinyoung.
.
.
Chapter 8
.
.
Jihoon mengerjapkan matanya beberapa kali ketika melihat Woojin yang sedang duduk di meja belajar dengan ponsel genggam yang menyala. Sungguh, itu Park Woojin? Aneh. Pikir Jihoon.
Karena memang, setahu Jihoon, Woojin tidak pernah memegang ponselnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan atau lebih. Woojin akan untuk mematikan ponselnya dan memilih buku pelajarannya untuk dibaca. Dan akan memeriksa lagi ponselnya saat pagi datang. Tapi sekarang? Seorang Park Woojin bermain ponsel bahkan tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila? Oh Tuhan! Apa yang terjadi pada saudara kembarnya itu?
Jihoon melangkah mendekat setelah sebelumnya memastikan jika ia sudah menutup pintu kamar Woojin. Kini ia berdiri tepat di belakang kursi belajar Woojin tanpa sang empunya sadari.
"Woojin-ah!" Jihoon berseru kencang, membuat Woojin berteriak kaget yang akhirnya melirik sang pelaku dengan tatapan sinis.
"Kau sedang apa? Seru sekali." Mengabaikan ekspresi yang diberikan Woojin, Jihoon berusaha melihat apa yang tengah Woojin lakukan dengan ponselnya itu.
"Aku sedang bertukar pesan," jawab Woojin datar. Bibirnya membaca pesan yang ada di ponselnya tanpa suara sebelum mematikan ponselnya. Tanpa perlu repot membalas pesan tadi.
Jihoon mengernyitkan dahinya, "Tumben. Biasanya, kau bahkan mengacuhkan atau malah memarahi orang yang mengirimimu pesan pada malam hari 'kan?"
"Itu benar. Tapi, aku tidak mungkin mengabaikan kekasihku sendiri, bukan?" Mata Jihoon melotot mendengar ucapan Woojin. Sementara Woojin, ia berdiri dari duduknya, melangkah menuju ranjangnya dan berbaring dengan nyaman di sana.
"Kau, a-apa?" Jihoon menatap tak percaya pada Woojin. Ia mengikuti Woojin dan berbaring tepat di samping pemuda itu. Matanya menatap menuntut pada Woojin yang memilih menutup matanya. Menolak berkontak mata sedikitpun dengan Jihoon.
"Park Woojin, jawab aku!" Jihoon menarik baju yang Woojin kenakan. Matanya perlahan mengembun, hatinya benar-benar sakit sekarang. Sungguh, Jihoon bukanlah orang yang lemah, tapi mengapa mendengar Woojin memiliki kekasih membuat hatinya terasa sangat sakit?
"Aku sudah mempunyai kekasih, Park Jihoon." Woojin mengucapkannya dengan penuh penekanan. Woojin belum membuka matanya, ia sangat tahu jika Jihoon pasti akan menangis setelah ini. Dan Woojin, tidak akan sanggup saat melihatnya.
"Si-siapa?" Suara Jihoon bergetar. Matanya meremas dengan kuat baju yang dikenakan Woojin.
Woojin mendesah pelan, ia memegang tangan Jihoon sebelum membuka matanya. "Ahn Hyungseob. Kami sudah dekat cukup lama, jadi, tidak ada salahnya 'kan menjadikannya kekasihku? Dia manis, baik, dan pintar. Tipeku sekali 'kan, Jihoon?"
Woojin memaksakan tawanya yang dibalas suara sesegukan oleh Jihoon. Jihoon berganti posisi, ia duduk di atas ranjang dan menarik Woojin agar mengikutinya.
"Jadi, itu alasanmu bolos seharian ini?" Jihoon bertanya dengan air mata yang masih saja turun dari kedua matanya. Woojin mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jihoon. Karena menjawabnya dengan verbal, Woojin tidak bisa. Air mata Jihoon adalah salah satu kelemahannya sejak dulu.
"Kenapa kau bodoh sekali, Park Woojin?" Senyum menyedihkan muncul di wajah Jihoon. Mata Jihoon menatap dalam pada mata Woojin.
"Park Woojin, aku mencintaimu." Dan setelahnya, Jihoon menarik wajah Woojin. Menyatukan bibir mereka. Ciuman yang manis, namun terasa pahit karena rasa sakit yang mengikat pada hati keduanya.
Mata Woojin membulat, ia segera melepaskan ciuman Jihoon dan menatap Jihoon dengan tajam.
"Kau jangan gila, Park Jihoon!"
Jihoon diam. Namun perlahan senyum itu muncul. Senyum yang penuh akan kelicikan yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun sebelumnya, termasuk Park Woojin.
"Aku memang sudah gila, dan aku gila karena kau, Woojin! Aku mencintaimu, tapi kenapa kau tidak melihatku? Aku selalu bersamamu semenjak kita kecil. Aku tahu apa kesukaanmu dan apa yang tidak kau suka. Aku tahu semua tentangmu, tapi kenapa kau malah memilih Ahn Hyungseob itu? Kenapa?!" Jihoon berteriak mengungkapkan perasaan yang begitu menyesakkan hatinya. Nafasnya memburu dan matanya menatap penuh tuntutan pada Woojin.
Woojin terdiam mendengar teriakan Jihoon. Woojin sebenarnya bisa juga berteriak mengakui perasaannya yang sesungguhnya pada Jihoon sekarang.
"Karena kita saudara Jihoon. Kita tidak mungkin 'kan mengecewakan perasaan orangtua kita? Kau ingin melihat mereka bahagia 'kan? Maka dari itu, lupakan perasaanmu padaku. Aku adalah kakakmu, dan kau adalah adikku. Itulah hubungan kita yang sebenarnya. Kita saudara kandung, saudara sedarah. Jangan lupakan hal itu."
Woojin mengalihkan pandangannya dari Jihoon yang terlihat semakin menyedihkan. Wajah Jihoon memerah dengan aliran air mata yang masih belum mau berhenti dari kedua matanya. Bahunya bergetar, begitu pula dengan bibirnya. Nafasnya mulai memburu begitu pula dengan pandangan matanya yang mulai memburam.
"Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Aku ingin tidur sendiri."
Mata Jihoon semakin membulat mendengar Woojin yang mengusirnya. Mengatur nafas sebisanya, Jihoon perlahan bangkit dari atas ranjang. Melangkah ke pintu tanpa sedikitpun melirik lagi pada Woojin. Jihoon terlanjur patah hati.
Woojin yang melihat Jihoon keluar dari kamarnya pun hanya bisa terdiam. Ia menunduk, dan air matanya jatuh begitu saja. Kenapa, cinta ini begitu menyakitkan?
"Aaaarghhh!"
Di depan kamarnya, Jihoon dapat mendengar suara teriakan Woojin. Jihoon merogoh kantong celana piyamanya. Mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang.
Setelah beberapa detik tersambung, dengan suara yang bergetar Jihoon pun berkata, "Halo Bae Jinyoung, mulai besok kau adalah kekasihku."
Tanpa mendengar jawaban apapun dari Jinyoung, Jihoon menutup sambungan telfonnya. Masuk dengan cepat ke kamarnya dan bertelungkup di atas kasurnya. Sungguh, Jihoon ingin menangis sepuasnya sekarang. Tidak peduli jika matanya akan membengkak besok pagi, yang pasti Jihoon ingin mengurangi rasa sesak yang ada dalam hatinya dengan menangis.
Semoga saja, bisa.
.
.
"Jadi, kau benar-benar berpacaran dengan Woojin-hyung, Seobie-hyung?" Guanlin bertanya setelah menenggak colanya. Hyungseob yang duduk di hadapannya tersenyum lebar, "Tentu saja. Tidak akan ada yang bisa menolak pesona seorang Ahn Hyungseob."
"Ck, jika dia terpesona denganmu sejak awal, kenapa tak menyatakan perasaannya lebih awal, huh?" Haknyeon menyahuti seraya melempar bungkus kacang ke arah Hyungseob.
Hyungseob mengendikan bahunya, mencoba tak acuh dengan hal itu. "Kalian tahulah apa penyebabnya," balas Hyungseob santai.
"Park Jihoon!" Koor teman-temannya yang diakhiri dengan tawa bahagia.
"Tapi membicarakan Jihoon, bagaimana Jinyoung-ie, kau berhasil menjadikannya kekasihmu?" Hyungseob beralih menatap salah satu pemuda yang sedari berdiam diri saja. Bae Jinyoung. Pemuda itu duduk di sudut sofa dengan sekaleng kopi dingin di tangannya.
"Gagal." Balas pemuda itu tak semangat.
"Ck payah! Tapi waktumu seminggu lagi 'kan? Jika kau tidak bisa mendapatkannya dalam waktu seminggu ini, maka mobil merah incaranmu akan jadi milikku." Ucap Hyungseob dengan riang.
"Ck, tak perlu kau ingatkan. Bahkan jika kau mau aku bisa meminta appa untuk membelikannya sekarang juga untukmu." Balas Jinyoung dengan mata yang memandang pada Hyungseob.
Hyungseob menggeleng, "Tidak perlu Jinyoung-ie. Aku tidak mau merepotkan Sehun-ahjussi."
"Kalian berdua ini, punya ayah yang sama kenapa harus pakai membedakan cara memanggilnya sih?!" Haknyeon berceletuk. Sungguh, ia tidak habis pikir, kenapa Jinyoung dan Hyungseob harus menutupi jika keduanya saudara? Meski hanya saudara satu ayah, tetap saja 'kan mereka saudara.
"Bukannya aku sudah bilang ya? Ini 'kan agar si 2Park sibling itu tidak tahu apa-apa tentang keluarga kami. Lagian si Woojin juga bodoh, dekat denganku tapi tak pernah bertanya ini-itu tentang keluargaku. Membuatku kesal sendiri," ujar Hyungseob dengan kesal.
"Well, maka dari itu 'kan kau membuat rencana seperti ini. Menghancurkan 2Park, bukankah itu terlihat sedikit berlebihan?"
"Bagi kami tidak berlebihan. Karena orangtua mereka, keluarga kami juga hancur. Setidaknya, mereka harus merasakan, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang amat berharga bagi hidupmu." Sahut Jinyoung dengan ekspresi wajah dingin.
Guanlin dan Haknyeon bertatapan. Mereka mengendikan bahu mereka, pertanda tak peduli. Karena sungguh, jika sudah menyangkut keluarga, apalagi keluarga orang lain, mereka angkat tangan. Karena mereka berdua berniat membantu Jinyoung dan Hyungseob hanya karena mereka berdua adalah sahabat dekat mereka. Dan merekapun membantu sebisa mereka saja.
"Ah sial! Woojin sudah tidak membalas pesanku lagi." Hyungseob berdecak kesal, menghilangkan suasana hening yang tadi menyelingkupi mereka.
"Bukannya jam segini, Woojin-hyung memang tidak bermain ponsel ya?" Tanya Guanlin polos.
"Benar. Dan aku ingin merubahnya, tapi dia sudah tak membalas pesanku lagi. Ck, ini pasti karena Jihoon yang mengganggunya. Hah! Menyebalkan." Hyungseob pun membanting ponselnya di atas sofa. Tangannya dengan segera meraih sekaleng jus jeruk yang masih tersegel rapi di atas meja.
"Kalian akan menginap?" Tanya Hyungseob seraya menatap bergantian pada Haknyeon dan Guanlin. Sontak, keduanya menggeleng.
"Tidak. Rumah kami 'kan dekat. Pulang larut bukan masalah besar." Jawab Haknyeon yang diamini Guanlin.
Memang benar, jarak rumah Haknyeon hanya tiga blok dari rumah keluarga Bae ini. Sedangkan rumah Guanlin, hanya berjarak dua rumah dari rumah Haknyeon. Sementara rumah yang biasanya ditempati Hyungseob, itu berjarak lima blok dari rumah ini sendiri. Rumah Hyungseob adalah rumah yang paling dekat dengan jalan raya. Rumah peninggalan mendiang ibunya. Hyungseob akan menginap di sini jika ayahnya, Oh Sehun, memintanya menginap ataupun memang sedang iseng. Seperti sekarang. Dan tentang marga mereka, ibu mereka yang meminta pada ayah mereka agar anak-anaknya memakai marga sang ibu, yang tentunya disanggupi dengan berat hati oleh ayah mereka dulu.
Jinyoung berjengit dari duduknya ketika merasakan getaran di saku celananya. Ia mengambil ponselnya dan sedikit mengernyit melihat nama seseorang yang menelfonnya.
'Siapa?' Hyungseob bertanya tanpa suara.
'Jihoon.' Balas Jinyoung tanpa suara pula.
Hyungseob pun dengan semangat menyuruh Jinyoung untuk mengangkat telfon itu.
Belum sempat mengucap salam, Jinyoung harus mematung mendengar ucapan Jihoon.
"Halo Bae Jinyoung, mulai besok kau adalah kekasihku."
Mendengar suara panggilan yang terputus, perlahan senyum di wajah Jinyoung mengembang.
"Sepertinya, kau harus melupakan acara jalan-jalan keliling Eropa, Seobie-hyung."
.
.
TBC
.
.
A/N :
1.) Terimakasih buat yg udah favorite, follow, review, apa lagi sampe ada yg nunggu /ga ada woy.
2.) Sebenernya, ff ini yg bikin aku hilang feel bikin ff. Tapi beberapa hari berlalu dan tiba2 dapet ide, jadilah feelku membaik dan ffku akan ku lanjutkan semuanya.
3.) Sebenernya konflik ffnya udah abis. Jadi, ini cuma tambahan aja. Tadi keasyikan ngetik, terus ide kemana tau, jadilah begini.
4.) Bukan penggila review, tapi ngeliat perbandingan angka viewer dan reviewer ngebuat aku semakin drop ngelanjutin ff.
.
.
30 September 2017
