Disclaimer Fujimaki Tadatoshi
WARNING: AU, OOC, OC, Typo(s)
Catatan: Akio 16 tahun
ooo
Kagami tersentak dari tidurnya ketika merasakan tenggorokannya gatal dan membuatnya terbatuk-batuk. Sudah dua hari dia demam dan tidak bisa bekerja. Selama dua hari itu juga, suaminya dan anaknya tidak berhenti untuk membuatnya agar cepat sembuh. Walaupun dia suka perhatian yang didapatkannya, tapi tetap saja dia ingin Aomine dan Akio tetap melakukan pekerjaan dan sekolah mereka seperti biasa. Mereka terlalu memanjakannya meskipun kata dokter dia hanya butuh istirahat yang banyak selama beberapa hari dan meminum obat dan dia bisa sembuh seperti biasa lagi. Tapi tetap saja Aomine dan Akio tidak mau berhenti untuk mengurusinya.
"Papa,"
"Taiga, kau tidak apa-apa?"
Speak of the devils. Kagami melihat dua orang dengan rambut biru yang identik itu menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Papa butuh minum?" tanya Akio dan cepat-cepat menuang air putih ke gelas dari botol yang sebelumnya sudah disiapkan di meja nakas di samping tempat tidur.
"Taiga, kau sudah meminum obatmu 'kan? Apakah sekarang waktunya meminum obat lagi?" Aomine sibuk mengambil obat-obatan Kagami.
Kagami menggeleng-gelengkan kepalanya dan menggerak-gerakkan tangannya untuk memberi tanda agar mereka berhenti.
"Aku tidak apa-apa," jawab Kagami akhirnya setelah dia bisa berhenti batuk. "Kalian tidak harus selalu menungguiku seperti ini."
"Tapi--"
"Aku hanya butuh istirahat oke, aku menghargai bantuan kalian tapi sebaiknya kalian jauh-jauh agar tidak ikut tertular." Kagami mengangkat tangannya ketika melihat Aomine dan Akio membuka mulut mereka untuk protes. "Kalau aku butuh kalian aku pasti akan memanggil kalian. Dan tidak ada yang boleh masuk kamar ini."
"Tapi, aku juga tidur di sini." protes Aomine.
"Kecuali nanti malam untuk tidur, kau tidak boleh masuk kamar ini," balas Kagami. "Akio juga tidak boleh masuk."
"Taiga--"
"Papa--"
"Tolong keluar, aku mau istirahat." kata Kagami kemudian memejamkan matanya agar Aomine dan Akio tidak protes lagi.
"Touchan,"
Aomine menggeleng dan mengajak Akio untuk keluar dari kamarnya karena Kagami memang benar-benar tidak ingin diganggu sekarang. Akhirnya mereka hanya bisa duduk diam di sofa ruang tamu mereka dan menonton acara televisi yang tidak menarik.
"Touchan, aku lapar." kata Akio setelah sekitar setengah mereka menonton televisi. Untung mereka tidak mendengar Kagami batuk-batuk lagi dan berharap dia baik-baik saja.
"Pesan saja pizza seperti kemarin." balas Aomine.
"Bosan," kata Akio. "Kemarin sudah makan pizza, masa harus makan pizza terus."
"Jangan banyak protes, bocah." balas Aomine dan memiting kepala Akio.
"Aku akan bilang pada Papa kalau Touchan tidak mau memberiku makan." Akio mencoba melepaskan dirinya dari ayahnya.
"Dasar tukang ngadu," kata Aomine dan melepaskan Akio. "Kau mau makan apa?"
"Hmm… tidak tahu." jawab Akio sambil berpikir.
Aomine mengerutkan keningnya. Dia jadi ingat dulu kalau Kagami sedang ngambek dan membuatnya bingung mau makan apa.
"Aku kangen masakan Papa." kata Akio yang kelihatannya masih di pikirannya dan tidak sadar apa yang dibicarakannya.
Aomine mengangguk di dalam hati. Meskipun baru dua hari Kagami sakit sehingga tidak bisa memasak, tetapi dia (dan Akio juga nampaknya) sudah ingin lagi memakan masakan Kagami.
"Touchan, kita harus belajar memasak." kata Akio tiba-tiba.
"Ha?" Aomine memandang anaknya bingung.
"Jadi kita tidak kelaparan seperti ini kalau Papa tidak ada," lanjut Akio.
"Hmm…" Dia merasa memang selama ini Kagami terlalu memanjakan mereka sehingga mereka tidak bisa berfungsi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Aomine berpikir itu adalah ide yang bagus tapi dia yakin dia tidak akan bisa memasak (atau paling tidak, tidak akan selevel dengan masakan Kagami) karena dia tidak mempunyai waktu atau kesabaran untuk belajar memasak. Tapi dia setuju kalau Akio ingin belajar memasak jadi seperti katanya tadi Aomine tidak akan kelaparan atau pesan makan di luar terus kalau Kagami sedang tidak ada.
"Ide bagus Akio, Touchan akan mendukungmu sepenuh hati. Kau bisa belajar agar bisa memasak seperti Papa."
"Ha? Kenapa cuma aku yang harus belajar? Kenapa Touchan tidak?"
"Touchan tidak punya waktu buat belajar." jawab Aomine dan mengganti-ganti channel di TV-nya.
"Aku juga tidak punya waktu buat belajar." balas Akio.
"Terserah kau saja lah," kata Aomine. "Jadi kau mau makan apa?"
"Cheeseburger," jawab Akio. "30."
"Makanmu banyak sekali." Aomine menggeleng-gelengkan kepalanya, meskipun dia sudah terbiasa dengan daya makan anaknya tapi tetap saja dia masih merasa ingin menangisi dompetnya. Dia agak menyesal kenapa Akio sama dengan Kagami masalah makan tapi dia malah tidak bisa memasak. Dia kemudian mengambil gawainya untuk memesan 30 cheeseburger dan 10 teriyaki burger dan tidak lupa tambahan kentang goreng dan cola.
"Aku masih dalam pertumbuhan jadi aku butuh banyak makan." balas Akio dan memainkan gawainya sendiri sembari menunggu pesanannya.
"Kau mau tumbuh sampai tingginmu berapa," karena sekarang meskipun Akio masih 16 tahun, tapi dia sudah lebih tinggi darinya meskipun itu bagus untuk pemain basket sepertinya.
"Setinggi-tingginya." balas Akio sambil lalu karena sedang bermain dengan gawainya. Dia kemudian membelalakkan matanya ketika melihat di belakang sofa. "Ah Papa!"
Aomine mengikuti pandangan Akio dan melihat Kagami yang tubuhnya terbungkus selimut tebal dan memakai masker sedang menghampiri mereka.
"Taiga, apa yang kau lakukan? Kenapa tidak di kamar saja?" tanya Aomine dan menghampiri Kagami untuk menuntunnya yang diikuti oleh Akio.
Kagami terbatuk-batuk sebelum menjawab. "Aku tidak bisa tidur di kamar, jadi aku ingin menonton TV dulu."
Aomine mengangguk kemudian mengatur sofa mereka agar dapat menjadi sofa kasur agar Kagami lebih nyaman. "Akio, ambilkan bantal."
"Oke." Akio langsung melakukan apa yang diperintahkan ayahnya dan mengambil bantal sementara Aomine membantu Kagami untuk merasa nyaman di sofa.
"Sudah nyaman?" tanya Aomine setelah Kagami sudah berbaring di sofa.
Kagami mengangguk dan mengeratkan selimut di tubuhnya. "Thanks."
"Papa tidak apa-apa tidur di sini?" tanya Akio sambil berjongkok untuk lebih dekat dengan ayahnya.
"Tidak apa-apa, Akio." jawab Kagami sambil tersenyum meskipun senyumnya tidak terlihat karena dia memakai masker.
"Aku ingin tidur di sini juga kalau gitu biar Papa tidak sendirian." kata Akio.
"Aku juga." kata Aomine.
"Tidak usah, aku akan kembali ke kamar kalau sudah mengantuk." kata Kagami tapi Aomine dan Akio sudah pergi untuk mengambil bantal. Kagami menghela napas ketika melihat Aomine dan Akio kembali dengan membawa bantal, guling, dan selimut. "Memang kalian pikir, kalian semua akan muat di sofa ini?"
"Aku yang akan tidur dengan Papa di sofa." kata Akio dan berlari untuk mendapat tempat di samping Kagami.
"Oi!" Aomine langsung mengejar dan menarik Akio agar dia menjadi di depan.
Setelah beberapa saat mereka saling kejar-mengejar dan tarik-menarik akhirnya Akio yang lebih dulu menempati tempat di samping Kagami dan membuat Aomine harus menggunakan futon kalau dia mau tidur bersama-sama.
"Aku tidak tahu kenapa kalian memilih tidur di sini daripada tidur di kamar yang lebih nyaman." komentar Kagami ketika melihat Akio dengan senyum kemenangan dan menata tempat di sampingnya dan Aomine yang menggerutu.
"Tidur di sini juga nyaman dengan Papa." balas Akio.
"Dasar penjilat." cibir Aomine dan mencoba untuk ikut duduk di sofa. "Minggir dikit."
"Touchan, tempatmu di bawah." balas Akio dan mendorong ayahnya agar tidak semakin mendesaknya.
"Tsk, aku hanya di sini sebentar." jawab Aomine dan menyamankan duduk di sebelah anaknya untuk menonton TV. "Itu mungkin burger-mu, ambil sana." lanjutnya ketika bel rumah mereka berdering.
"Mana uangnya?" setelah memberi Akio uang untuk membayar makanan mereka dan Akio yang pergi ke depan untuk mengambil pesanan mereka, Aomine mendekati Kagami.
"Taiga?" panggil Aomine tapi ternyata Kagami sudah memejamkan matanya tidur. Aomine kemudian melepaskan masker yang dikenakan Kagami agar dia bisa bernapas lebih bebas saat tidur. Dia kemudian mencium kening Kagami yang hangat berharap agar Kagami cepat sembuh.
"Touchan, itu tempatku--"
"Shh…" Aomine segera menyuruh Akio untuk diam agar tidak membangunkan Kagami.
"Papa sudah tidur?" Akio meletakkan burger-nya dan mendekati ayahnya. "Apakah kita harus memindahkan Papa ke kamar?"
"Biarkan sebentar, dia baru tidur nanti malah kebangun kalau dipindahkan sekarang." jawab Aomine.
"Baiklah," Akio ikut duduk di samping ayahnya dan mengambil burger-nya. "Nih."
Aomine menerima burger-nya dan langsung memakannya.
o
Kagami membuka matanya dan melihat kalau dirinya masih di sofa tamu. Dia tidak sadar kalau dia sudah tertidur jadi dia tidak jadi pindah ke kamar dan malah tidur di ruang tamu. Kagami kemudian tersenyum ketika merasakan badannya sudah merasa baikan. Untungnya dia bisa sembuh setelah dua hari sakit. Dia kemudian bangun dan melihat Akio yang masih tidur di sebelahnya. Di bawah dia juga melihat Aomine yang juga masih tidur di futon. Kagami mencium kening Akio sebelum bangun dan menghampiri Aomine. Dia kemudian membungkuk dan juga mencium kening Aomine.
"Taiga?" Aomine dengan berat membuka matanya, secara otomatis memegang tangan Kagami. "Kau sudah sembuh?"
"Ya," jawab Kagami, tersenyum dan mengelus-elus rambut biru Aomine. "Kembalilah tidur, sekarang masih sangat pagi."
"Hm." Aomine kemudian menarik Kagami untuk tidur dengannya di dalam futon.
Kagami tersenyum dan semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Aomine dan kembali tidur meskipun futon-nya terlalu kecil untuk mereka berdua.
Setelah beberapa saat Kagami kembali tertidur, dia bangun lagi untuk membuat sarapan karena sudah benar-benar pagi. Dia membangunkan Aomine dan Akio kemudian baru ke dapur untuk memasak.
"Pagi,"
"Papa, mornin'."
Kagami memutar badannya sebentar untuk melihat Aomine dan Akio yang masih dengan wajah bantal duduk di kursi makan mereka. "Selamat pagi, sebentar lagi sarapannya sudah jadi."
"Okeee…" balas kedua orang dengan rambut biru itu.
"Papa, sudah benar-benar sembuh?" tanya Akio.
"Aku pikir begitu," jawab Kagami. "Ada apa Akio?"
"Aku dan Touchan ingin belajar memasak, Papa bisa mengajari?"
"Kenapa kalian tiba-tiba ingin belajar memasak?" tanya Kagami heran.
"Aku ingin membantu Papa, jadi kalau misalnya Papa capek habis bekerja aku atau Touchan yang akan memasak untuk Papa."
"Benarkah?" Kagami memandang Aomine. "Daiki juga?"
"Hm, ya terserah." jawab Aomine asal karena dia masih agak mengantuk.
"Baiklah, tapi kalian harus siap-siap karena aku tidak akan baik dalam mengajar."
ooo
A/N: sub judulnya memasak tapi nggak ada adegan memasak XD. Belajar memasaknya chapter depan ya soalnya aku pikir bakal kepanjangan kalau jadi satu chapter XD. Dan ini udah sampe 1k reads yay~ \()/
Oh ya shoutout untuk JKimQi di ffn yang udah nge-review setiap chapter di ff ini. Meskipun nggak aku bales tapi aku baca kok XD. Terima kasih banyak ya udah baca teruuusss (/3)/ ditunggu review-nya lagi XD
Dan untuk semuanya yang udah baca baik di ffn atau wattpad terima kasih~
