NARUTO © Masashi Kishimoto | Sasuke U. & Hinata H. & Naruto U. | Angsty Drama
Previous Chapter
Ting!
Dentingan lift terdengar dan ia menghela nafas sambil berjalan keluar.
Mungkin ada kalanya ia akan menghampiri gadis itu—entahlah kapan. Tapi sendirian. Ia tak akan sudi mengajak Naruto. Ia cuma ingin menemuinya. Menemui Hinata Hyuuga yang terus menjadi buah pikirannya selama beberapa tahun ini. Sebab hanya dia lah gadis yang mampu membuat Sasuke tak ingin menjalin hubungan dengan perempuan mana pun selain dirinya.
.
.
Malam itu Naruto tertidur di flatnya seorang diri. Sebuah rumah berukuran sedang yang setidaknya lebih layak dari tempat tinggalnya waktu SMA. Satu flat ini berisi tiga ruangan. Pertama ruang tengah yang disambung dengan meja makan dan dapur mini, ruang tidur dan juga ruang toilet. Beruntunglah sejak dua tahun lalu Naruto sudah bisa bekerja di perusahaan ternama, sehingga ia bisa memperlayak kehidupannya di usia mapan seperti sekarang.
Namun entah kenapa malam ini terasa berbeda dari hari-hari kemarin. Dirinya jadi sulit beristirahat sekalipun tubuhnya berada di atas kasur yang empuk, dan kedua matanya terus dipejamkan erat-erat. Beberapa kali Naruto menggeram kesal. Ini sudah pukul tiga pagi, tapi kenapa dia malah tidak bisa tidur dengan nyenyak?
"Akh..."
Naruto mengusap wajah. Seraya mengacak-acak surai pirangnya, ia membangkitkan tubuh. Malam menjelang subuh begini, bukannya tidur pria yang memiliki marga Uzumaki itu malah turun dari ranjang dan membuka jendela kamar lebar-lebar. Ia hirup angin dingin yang masuk dan kemudian memandangi suasana sepi jalanan di luar flat bertingkatnya. Setelah menghembuskan nafas, ia berbalik.
Tapi saat ia meluruskan pandangan, ada siluet gadis berambut panjang yang berdiri tepat di depannya.
Badannya yang molek itu hanya tertutupi oleh kain yang menyerupai daster ketat sepanjang lutut. Lekuk tubuhnya terlihat jelas. Kedua dada bulatnya menyembul seperti kesempitan di dalam sana. Bahkan akibat kain yang cukup transparan, Naruto bisa dengan mudah tau apakah orang itu mengenakan pakaian dalam atau tidak. Dan ketika Naruto menaikkan jelajahan matanya dari bawah ke atas, Naruto menelan ludah. Itu Hinata Hyuuga. Gadis itu tersenyum dengan paras ayunya yang masih secantik dulu.
Tau-tau kedua tangan mulus itu terbentang kepadanya. Ia mendekat dan memeluk tubuh Naruto sampai ia tersentak kaget. Punggung pria tersebut menabrak jendela, dada Hinata yang gempal mendesak lembut dirinya. Gadis beriris lavender itu mengecup perut Naruto sekali menggunakan bibir mungilnya, lalu ia mengadah, menampilkan seulas senyuman.
"Naruto-kun... apa kau merindukanku?" Suara halus itu membuat Naruto menelan ludah. Tubuhnya merinding. Hinata tertawa manis. Ekspresi penuh harapnya terlihat nyata. "Sekarang... Naruto-kun mau kan bertanggung jawab atas janin yang kukandung ini?"
Srek!
Dengan nafas tercekat Naruto terbangun dengan buliran keringat yang membanjiri tubuhnya. Jantung berdegup kencang dan pikirannya kacau. Lagi-lagi ia membayangkan sosok Hinata. Ya, lagi-lagi. Ini bukan hanya sekali atau kedua kali; ini sudah yang ketiga puluh kalinya.
.
.
.
HANDYCAM II
© Sanpacchi Fanfiction 2014
AU—Alternate Universe
Mature Themes, Grapefruit, etc.
.
.
CHAPTER II
(Matahari dan Bulan)
.
.
Kucuran air terdengar saat Sasuke menyalakan keran wastafel kamar mandi. Pria yang pagi ini baru bangun di jam delapan itu sedang mencuci muka. Dan seperti biasa, ia sama sekali tak memakai facial foam atau apapun sebagai pembersih. Kulit Sasuke yang sudah terlalu sempurna itu tak membutuhkannya. Ia kemudian mengusap wajah dengan handuk, lalu membuka mata agar bisa melihat refleksinya dalam cermin.
Diam-diam ia mendengarkan rintikan hujan di luar gedung. Musim hujan yang sedang berlangsung selama akhir bulan ini memang semakin parah. Jika tidak hujan pun paling hanya awan mendung yang bersisa di atas langit. Tak ada matahari, tak ada kehangatan. Namun hal itu sama sekali tak masalah bagi seorang Uchiha Sasuke. Toh, ini musim favoritnya. Ia tak perlu kepanasan atau repot-repot menghangatkan diri dengan mantel tebal jika keluar dari apartemennya yang baru ini. Ya, untuk sekedar informasi, Sasuke mengikuti jejak Naruto untuk mempunyai tempat tinggal sendiri. Jadi dia pilih hidup mandiri di apartemen milik Uchiha Property keluarganya, sekaligus memisahkan diri dari rumah induk yang sedari dulu mengikatnya dengan aturan-aturan tidak penting.
Balik ke situasi awal, Sasuke pun keluar dari kamar mandi. Ia hela nafasnya sekali dan mengambil remote DVD. Mungkin hari yang membosankan ini bisa ia lewati dengan menonton TV.
Srek.
Namun ketika remote berbentuk persegi itu Sasuke tarik dari laci yang dipenuhi barang, beberapa kotak DVD original miliknya ikut keluar dan terjatuh ke lantai beralas karpet. Decakan keluar dari mulut Sasuke. Seraya berjongkok agar dapat mengambil kotak DVD yang tercecer, ia mendapati sesuatu saat ia melirik salah satu laci terbawah lemari. Ada sebuah benda berukuran sedang dan tergeletak begitu saja tanpa terurus. Cukup berdebu.
Sasuke terdiam dan mengambilnya.
Itu adalah handycam. Handycam milik Hinata.
Hening.
Sasuke teliti handycam keluaran lama yang hardware-nya masih bagus itu. Dia duduk di tepi ranjang dan berpikir. Bahkan remote TV dan DVD yang sempat ia berantaki tadi tak lagi ia sentuh. Dia cuma sedang melamunkan hal lain. Sekelebatan memori masa lalu datang lewat benda perekam yang ia pegang.
Dan mendadak ada bayangan seseorang gadis manis menghampiri benaknya.
Sosok Hinata. Gadis bersurai biru gelap yang selalu menundukkan kepala jika berbicara dengan siapa pun, tak terkecuali dengannya. Bahkan jika Sasuke memandang lama mata amethyst Hinata, dapat diyakini Hinata bukan hanya menunduk, bisa-bisa ia memalingkan wajah karena takut. Hal itu sungguh berbanding terbalik apabila Hinata berhadapan dengan Naruto. Dagu yang terangkat, senyum mengembang, serta pipi yang diselimuti rona manis.
"Tsk."
Mengingatnya membuat hati Sasuke panas.
Sasuke berniat melepaskan handycam sialan tersebut, tapi tidak jadi. Terutama saat dia terlintas ingatan di mana ada rekaman mereka di dalamnya. Kala Sasuke bisa menjamah tubuh Hinata dengan bebas. Menyentuh wajahnya, menciumi tubuh wanginya, dan melahap habis kewanitaan Hinata yang lembut. Sasuke sampai lupa berapa kali ia klimaks saat menyetubuhi Hinata walau selalu ada jeritan kata 'hentikan' di tiap detik dikeluarkan gadis itu.
Tak salah lagi, cuma handycam ini bisa saksi dari momen termenakjubkan dulu.
Sebuah keinginan melihat ulang rekaman tersebut membuat Sasuke menyalakan handycam melalui sebuah tombol. Layar menyala dan terlihatlah tampilan file video yang cukup beragam. Ada rekaman Hinata bersama dia, Hinata bersama Naruto, dan yang paling awal, Hinata dan keluarganya. Tanpa basa-basi Sasuke menekan rekaman dirinya dan Hinata di perpustakaan.
Pip.
Ketika tombol play ditekan, muncullah sebuah gambar waktu Sasuke dan Hinata yang saat itu berhadapan di dekat pintu. Pakaian mereka masih lengkap. Seragam Konoha High School yang terdiri dari kemeja putih dan rok kotak-kotak. Walau kamera tidak men-zoom in, pandangan Sasuke fokus ke Hinata yang tampak ketakutan.
Sasuke mendengus senang. Ia belai wajah itu di layar melalui mengenakan ibu jarinya.
Lihatlah betapa cantiknya Hinata Hyuuga saat mukanya menunjukkan kecemasan. Apalagi raut panik Hinata di scene selanjutnya—kala Sasuke mendadak menariknya, menciumnya dan mengikat kedua tangannya di salah satu kaki meja. Pemandangan yang ada di layar handycam—sekalipun gambarnya sering bergoyang-goyang akibat Naruto yang waktu itu tidak niat merekam—membuat ingatan Sasuke ter-refresh ulang.
Ia bagaikan melompat ke dimensi lain; ia bayangkan dirinya saat ini adalah Sasuke yang sedang memperkosa Hinata di depan Naruto. Mengguncang tubuh gadis itu dengan sentakan, menggigiti puncak dadanya, dan menciumi bibirnya sampai bertetes-tetes saliva keluar dari mulut keduanya. Dan coba perhatikan baik-baik; betapa indahnya wajah Hinata yang melemparkan rasa kecewa ke Naruto yang merekam. Semua itu membuatnya senang. Menghancurkan hubungan mereka adalah kegembiraan tersendiri bagi seorang Sasuke Uchiha.
Apalagi dengan kehadiran air muka Hinata yang susah payah menahan sensasi memabukkan yang ia berikan padanya. Mata Hinata yang ke atas saat ia menyesap dadanya. Desahannya, semburat pink di wajahnya, dan bahkan gestur tubuhnya yang begitu menggoda.
Semuanya membuat Sasuke gelap mata. Video yang bersisi segala kehinaan dirinya bersama Hinata membuat pria itu menyala. Nafasnya memburu dan matanya menyipit. Hingga di akhir detik ke 21:18, layar menghitam karena video telah selesai diputar. Sasuke mendesah lega, lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang—telentang di kasur. Sedikit belum puas menjelajahi handycam Hinata, ia coba buka file-file lain yang ada di sana. Delapan tahun terlewat sudah membuatnya lupa total dengan segala isi handycam yang ia dapatkan dari Naruto itu. Ternyata dimulai dari rekaman pertama, ada sebuah video di mana Hanabi—adik Hinata, Sasuke tidak kenal—tengah merayakan ulang tahunnya.
Terdengar ucapan selamat dari yang memegang handycam. Suara malu-malu milik Hinata. Dan benar saja, ketika Hanabi mendekati si perekam dan merebut handycam itu, layar menyorot balik Hinata yang lagi menutup wajah. Ia malu dan Sasuke mengamatinya. Gadis itu begitu manis dan mempesona. Dia adalah primadona sekolah yang bahkan sudah Sasuke perhatikan sejak gadis itu menginjakkan kakinya di tingkat 10 yang lalu.
Rekaman lain yang sebenarnya tidak begitu penting Sasuke lihat satu per satu. Berbagai macam ekspresi Hinata yang ada di sana ia perhatikan tanpa berkedip. Lantas dua puluh menit kemudian, ia membuka rekaman kedua dari file terakhir, dan dirinya sedikit tersentak saat ia melihat ulang peristiwa ketika Naruto sedang duduk dengan gugup di kamarnya. Ah, Sasuke tau kejadian selanjutnya. Hinata akan datang dari kamar mandi, dan dia masih mengenakan seragam basah. Lalu keduanya duduk sebelahan, berbincang-bincang ringan, lalu Naruto mulai menciumi bibir Hinata dan—
Prakh!
Sasuke menutup layar handycam dengan dorongan keras. Ia berdecak kesal.
Ini masih sama seperti dulu. Tiap kali ia melihat scene itu, bawaannya Sasuke jadi emosi sendiri seolah tak terima. Sebab ia juga afal bagian termenggelikan dari rekaman tersebut. Hinata mendadak menolak Naruto, Naruto yang kecewa menyuruh Hinata pulang, lalu Hinata yang takut Naruto marah lantas merayu Naruto untuk bercinta dengannya. Hah. Hinata-yang-merayu-Naruto.
Ck, semua itu memuakkan. Sasuke sampai memejamkan mata untuk menghapus bayangan itu di dalam memorinya.
Tapi bukannya Sasuke yang waktu itu menyuruh Naruto untuk bercinta dengan Hinata?
Oke, itu memang ide busuk Sasuke. Tapi ada satu alasan mengapa ia menginginkan hal itu. Ia (sangat) ingin Hinata marah dan meninggalkan Naruto. Tapi apa yang malah ia dapatkan? Bukannya marah seperti prediksi, Hinata lah yang paling merelakan tubuhnya untuk dijamah Naruto, seorang pacar yang baru dikenalinya selama beberapa bulan. Benar-benar menyedihkan.
Terutama untuk dirinya, diri Sasuke sendiri.
Sasuke menoleh ke samping. Ada dompetnya di permukaan kasur. Kebetulan, ia ambil benda itu dan membuka isinya. Secarik kertas lecak yang bulan lalu terselip di salah satu sisi ia tarik. Setelah Sasuke buka, terlihat sebuah kertas dari Naruto yang berisikan alamat Hinata Hyuuga.
Trrrr...
Ponsel berdering. Sasuke pun mengangkatnya dengan malas-malasan.
"Hn?"
'Teme, kau masih menyimpan kertas alamat Hinata, tidak?' Itu suara Naruto.
Kenapa timing-nya bisa tepat begini? Baru saja ia membaca ulang isi kertas tersebut. "Tidak, bukan di aku."
'Jangan bohong. Jelas-jelas aku ingat, dulu pas kau menggunakan mobilku, aku menyerahkan kertas itu padamu.'
"Iya, tapi aku tidak membawanya turun. Mungkin jatuh di mobil."
Nada curiga Naruto melunak. 'Oh, iya. Bisa juga sih. Kalau begitu sampai jumpa—'
"Kau mau apa memangnya?" Selaan Sasuke membuat Naruto batal mematikan sambungan ponsel.
'Aku mau ke rumah Hinata. Dari bulan lalu aku terbayang dirinya terus.'
Sasuke menertawakannya, sinis. "Hanya karena 'bayang-bayang Hinata' kau jadi merindukannya?"
Naruto menghela nafas keras-keras. 'Aku tidak tau, Teme. Entah kenapa tiap beberapa hari sekali aku selalu dibayangi sosok Hinata yang minta pertanggungjawaban dariku. Kau tau sendiri, kan? Hinata itu hamil.'
"Ya, lalu apa urusannya?" Intonasinya memberat.
'Dia hamil anakku. Dan aku meninggalkannya begitu saja.'
Diam-diam tangan Sasuke terkepal. "Belum tentu itu anakmu."
'Jadi anak siapa? Anakmu, hah?'
"Mungkin." Sasuke berdeham pelan. "Tapi sayang aku tak pernah mimpi atau terbayang Hinata seperti itu. Intinya kau saja yang cuma terlalu banyak memikirkannya."
'Awalnya aku juga pikir seperti itu, tapi—'
"Sudahlah. Aku malas jika membahas Hinata." Sasuke berniat menekan tombol merah.
'E-Eh, Teme, aku belum selesai bicara—!'
Pip.
Sasuke menghempaskannya ponselnya di ranjang. Perlahan Sasuke menatap lurus langit-langit kamar. Tangannya yang memegang kertas ikut terangkat dan ia pandangi tulisan alamat di kertas note itu.
Kota Suna, Taman Shi No. 5 – Hinata Hyuuga
23-111-450
Sasuke menghela nafas. Ia beranjak berdiri dan kemudian mengenakan jaket yang tergantung di atas hanger. Lalu yang tak terlupakan, ia ambil juga kunci mobil lexus-nya sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar apartemen. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, dia akan pergi ke suatu tempat—yang harus ia datangi duluan sebelum dirinya keduluan Naruto.
.
.
® handycam ii
.
.
Sedangkan di kota lain yang tidak begitu jauh dari Tokyo, Kota Suna lebih tepatnya, berdirilah sebuah bangunan tradisional milik keluarga Hyuuga yang tidak begitu megah. Jelas ini berbeda dari rumah yang dulu mereka tinggali di ibu kota. Kali ini tidak bertingkat dua dan isinya pun tidak dipenuhi oleh barang-barang mewah. Hanya saja masih ada tiga orang yang mau hidup di sana.
Salah satunya adalah seorang pelayan setia yang telah mengabdi puluhan tahun di keluarga Hyuuga. Tugasnya untuk beres-beres dan menjaga rumah. Kemudian ada juga Hanabi Hyuuga. Perempuan bersurai cokelat kopi itu tengah membawa senampan makanan ke suatu kamar. Rambutnya yang lurus panjang ia sampirkan ke telinga sebelum ia ketuk pintu kamar milik kakaknya yang tak terkunci. "Neechan, sudah saatnya makan..."
Sreek.
Pintu terbuka, dan terlihatlah ruangan gelap yang berisi gadis berusia seperempat abad yang berada di dalamnya. Dia adalah Hinata Hyuuga, sang kakak yang juga penghuni nomor tiga rumah ini. Dia sedang membelakangi Hanabi yang baru masuk. Perempuan bersurai indigo panjang itu sama sekali tak berbicara selain tubuhnya yang memaju-mundurkan kursi goyang yang ia duduki. Bersama decitan kaki kursi yang terus terayun, dia tak merespons Hanabi, terus menghadapkan wajahnya ke arah jendela yang terbuka—menampilkan suasana khas sore menjelang malam yang indah.
"Neechan?"
Hanabi memperhatikan kakak perempuannya yang sedang duduk melamun memandangi sunset di luar sana. Tatapan dari mata lavendernya terasa kosong, belahan bibir yang sedikit terbuka, serta tangan yang terus mengelus pelan boneka di pangkuannya.
"Hinata-nee sedang melihat apa?" Tanya Hanabi, ramah. "Ini kan sudah sore, aku nyalakan lampu, ya?"
Ctik.
Saklar lampu ditekan dan suasana kamar yang temaram kini menjadi terang. Kursi goyang Hinata berhenti bergerak dan ia menoleh lambat ke adiknya yang berniat menutup gorden jendela. "Boleh kututup dulu jendelanya? Nanti banyak nyamuk yang datang loh."
Hinata menggeleng.
"Eh? Kenapa?"
"Himawari... mau melihat ayahnya dulu..." Dengan suara lirih ia membelai boneka beruang berwarna kuning yang berada di pelukannya. "Himawari mau melihat ayahnya..."
Sambil tertawa kecil Hinata memeluk boneka tersebut. pandangannya melembut dan ia menempelkan bibir manisnya ke dahi sang beruang. Sedangkan Hanabi hanya tersenyum, mencoba memaklumi Hinata yang sudah menganggap beruang itu sebagai anaknya.
"Baiklah, sekarang Hinata-nee makan, ya?"
Setelah menarik kursi ke sebelah Hinata, Hanabi dengan telaten menyuapi Hinata yang mengunyah pelan. Iris ungu pudar milik Hanabi yang serupa dengan Hinata memandangi kakaknya. Wajah cantik yang seakan-akan tidak dibebani masalah itu sebenarnya menyimpan banyak luka menyakitkan di lalu yang terus Hinata sembunyikan seorang diri. Kadang kala Hanabi merasa kasihan.
Kenapa begitu?
Karena memang sekarang Hinata lebih menyerupai orang yang tidak waras lagi. Gila untuk bahasa kasarnya. Itu dikarenakan percobaan bunuh diri di delapan tahun silam yang membuat kepala kakaknya terbentur keras. Pendarahan yang banyak serta depresi yang kuat pun membuat janin yang berada di kandungannya keguguran di bulan ketiga.
Selain itu, Hinata juga mengalami gegar otak berat. Dia jadi tak bisa lagi berpikir. Ia bahkan tak mengerti saat disuruh menulis dan membaca. Kemampuannya seperti menyusut ke anak TK yang berpola pikir pendek. Ia pun tidak bisa makan sendiri atau berlari tanpa jatuh. Itu semua semakin parah kala Hinata menganggap boneka beruang kuning yang dia pegang itu adalah anaknya. Bukan sekedar mainan atau anak-anakan—melainkan anaknya yang sungguhan. Ketika Hinata mandi, boneka itu akan ia mandikan. Ketika ia tidur, boneka itu akan ia nina bobokan.
Bonekanya dia beri nama 'Himawari'. Dan ayah Himawari, Hinata berikan nama 'Matahari'.
Hanabi tidak tau siapa yang dimaksud Matahari oleh Hinata. Tapi Hanabi yakin dari beberapa info yang ia kumpulkan, kakaknya memang pernah dihamili oleh seorang siswa tak bertanggung jawab yang telah mengabaikan Hinata begitu saja. Hanabi memprediksi itu adalah alasan utama Hinata ingin bunuh diri.
Dari semua yang Hinata alami, rangkaian masalah tersebut bagaikan malapetaka bagi keluarga Hyuuga, khususnya Hiashi. Pria itu merasa marah dan juga terpuruk. Hingga pada akhirnya Hiashi memutuskan pergi ke luar negeri untuk berbisnis, menjual rumahnya yang di Tokyo, dan memberikan rumah baru nan sederhana buat Hanabi dan Hinata yang masih mau tinggal di Jepang.
"Hanabi-chan...?"
Lamunan Hanabi pecah saat ia mendapati Hinata memanggil namanya. "I-Iya, ada apa, Neesan?"
Hinata kemudian menunduk, menyembunyikan mukanya ke belakang tubuh busa Himawari. "Bulan itu menatapku begitu lama..."
"Eh?" Hanabi memandang ke arah jendela. Nyatanya sunset sudah berakhir dan langit hitam telah datang. Di atas sana terdapat pula bulan sabit yang begitu terang menyinari kota.
"A-Aku takut... bahkan Himawari sampai menangis..."
Hanabi bergegas berdiri. "Ah, tunggu. Aku tutup dulu jendelanya."
Dan kesimpulan terakhir yang bisa Hanabi ketahui dari tingkah laku kakaknya selama ini, Hinata takut pada bulan; ia memuja matahari dan menghindari bulan. Sambil menutup jendela, dalam hati Hanabi bertanya-tanya, siapa yang kakaknya anggap sebagai matahari? Dan siapa pula yang Hinata anggap sebagai bulan?
'Siapa'... bukan 'apa'.
Ya, siapa mereka?
Apa mereka lah yang membuat Hinata jadi seperti ini?
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Thanks to
Guest, Yuuna Emiko, Guest, Arisaa ayugai, ligaara, aizy-evilkyu, Dyaar Otaku, Hyde'riku, Guest, Sabaku no Sarang, o-O rambu no baka, Moe, Panggil saya Ai, Guest, Haniuda-Hime, Aristy, Moku-chan, Hinan Dyan, Durara, anniewez, Guest, Luluk Minam Cullen, Yumiko Harvey, utsukushi hana-chan, Itanatsu, RahAiu, DefenderNHL, zae-hime, moooooonk, chrizzle, stillewolfie, ika chan, Hiname Titania, Ssasuke 23, ookami child, Haru3173, Guest, ailla-ansory, Uzumaki Shizuka, Eigar alinafiah, nyaan, heartfillia69, ulva-chan, uzumaki narito, corn flakes, Payung Biru, Liu, Ay shi Sora-chan, gece, MiyukiHara, vita, Vampire Uchiha, hime namikaze, noname, snhindigohime, Guest, Yuu, nafita137, chifi lavlav, Dark Side, Rechi, enrique, Zaoldyeck13, arazelly, Hana, CloverLeaf Ifa-chan, Ritta-Frijayanti, Namikaze Aira-chan, ms. taurus, Guest, Uzumaki 21, Cahya LavenderHyUchiha, dylanNHL, chan, Guest, Riela nacan, Dwi-widya94, mitachan, kirigaya chika, nazuka hanami, altadinata, Lyan HimePyon, Guest, amexki chan, nonono, Guest, uchihahinata, anita, yukiko miyuki, Guest, Ayzhar, nInEtAILf0X, Rakina, Lily Kotegawa, Guesta, chacha, Me Yuki Hina, goGatsu no kaze, re, Aam tempe, hyugaanamikaze, Guest, shanzec, 2nd silent reader, Renita Nee-Chan, NaruGankster, chan, sasuhina, hinatauchiha69, Guest, Guest, Guest, Aika-chan, Fika hime, nana-uryuukinimitshuchan, Guest, Guest, Hinata Hikari, Isna chan, avrillita97, ore, luzzle, kim hae rim, astiamorichan, Sadness Angel, natasia sato, Dark naruto, nadya ulfa, Syuchi Hyu, chan, akachin, uchiha-izami, Rhe Muliya Young, Pinus Basah, Guest, Nara Tobi, fain yu, handycamaddict, nana, hikaru, MiyukiHara, rekha-julita, Mitsuki Hoshino, NJ21, hyunkjh, Adila137, hanna, anisya kuran, Hinako Katsura, Guest, Guest, Guest, Kaoru Mouri, ayu hinata chan, wiii, sushimakipark, lavender hime chan, dtc-susi, azure249, Kamikaze, dewijombloslalu99, Cindilta, Harunayoi12, chan, AyuClouds69, Quinn Agatha Dias, shdhdj, Guest, mokomoko, langit-cerah-184, fionatasha, PM, lina tyolina, chan, joshey, LIVERPOOLFC.
.
.
Frequently Asked Questions
Kenapa Handycam I dan Handycam II digabung? Karena sebenernya kalimat 'THE END' di akhir chap 7 itu bukan beneran. Aku sempet dilema ngelanjutin Handycam dan berakhir nge-discontinued-in gitu aja (gomen). Sasuke sama Naruto bakalan nyesel, kan? Hm, mereka kan udah dewasa, jadi moga aja begitu. Semoga Hinata happy ending. Amin. NaruSaku kok bisa pacaran? Naruto kan udah bertahun-tahun PDKT. Naruto masih suka Hinata? Ngerasa bersalah aja, kali. Apa ada Gaara di sini? Ngga ada. Pairing-nya SasuHina? SasuHinaNaru. Fict ini mungkin cuma untuk reader berhati kuat. Haha. Ngga rela Hinata sama Sasuke/Naruto. Hahaa. Kaget Sasuke bisa suka Hinata. :) Naruto itu plin-plan atau gimana? Kurang tau juga. Hinata bakal jadi antagonis atau protagonis? Prota tetep. Antagonisnya... ya begitulah. Makasih Handycam II ada lagi. Sekarang aku update-nya lancar kok. Nasihatin aja kalo udah telat sebulan :) Dulu apa alasan Sasuke ngenyebarin video Hinata? Emosi sesaat, mungkin? Penasaran sama Hinata di Handycam II. Jangan kaget sama Hinata yang sekarang, ini kubuat semi-dark fict. Takut baca Handycam, kan terinspirasi dari Shutter. Awalnya memang mau kubuat horror, tapi demi memuaskan hati readers yang udah nge-review (karena di draft sebelumnya Handycam II itu ngga ada pairing), aku rombak habis-habisan Handycam II. Horror ala film Shutter-nya aku ilangin, scene romance-nya kutambah, dan aku perbanyak scene NaruHina dan SasuHina-nya :)
.
.
I'll pleased if you enter your comment
Mind to Review?
.
.
Ramenly,
SANPACCHI
