malam yang indah di musim dingin yang mendekati natal, terlihat dari jendela kereta kuda yang di naiki Jowy lampu warna-warni mulai memenuhi kota

Galley Veil, orang-orang memakai pakaian musim dingin yang tebal-tebal. Beberapa orang terlihat senang menyambut natal dan tahun baru. Kecuali orang yang ada di depannya ini, Suci DarkHeart. Sejak mereka berangkat dari rumah Suci, ia terlihat marah, ia hanya menatap kosong kedepan sambil menyandarkan mukanya di tangan dengan ekspresi bete.

"ayolah... Kita hanya menghadirinya sebentar saja" kata Jowy yang masih tidak enak melihat tampang bete Suci. Ia tidak menjawab apa-apa malah makin menyipitkan matanya.

"setelah menyapa tuan rumah aku pulang" kata Suci singkat. Dan Jowy hanya menghela napas panjang saja, pusing dengan kelakuan tunangannya itu. Ia tahu kalau Suci itu tidak suka keluar rumah, tapi marahnya tidak sampai seperti ini kalau dia mengajaknya.

"aku dengar Nona Rosenkrantz dan Nona Lim serta putri Nan juga datang lho" kata Valand

"persetan mereka mau di sana atau tidak, aku tidak peduli. Yang penting aku pulang secepatnya dari sana

" kata Suci dengan ketus.

"ah~ bisakah kau mengalah untuk kali ini saja? Sudah lama kau tidak menunjukkan mukamu di depan para bangsawan lain kecuali pada petinggi The Cursed, kalau kau terus seperti ini, status sosialmu akan turun" jelas Jowy yang mengingat Suci menghabiska waktu libur yang di berikan oleh ratu atas kemenangan mereka dengan bekerja dan ber eksperimen di rumahnya.

"i don't care, aku tidak mau ikut acara pertemuan konyol yang orang nya itu-itu saja dan membicarakan hal itu-itu saja. Fuck!" umpat Suci dan Jowy menggelengkan kepalanya sekali lagi. Lalu tak berapa lama kereta berhenti dan para butler keluar diluan, lalu Jowy dan Suci turun dengan Suci menggandeng tangan Suci. Dan berjalan menuju pintu masuk.

"betulkan ekspresi mu" bisik Jowy lalu Suci menghirup napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan, lalu ekspresi bete nya menghilang menjadi ekspresi datar. Lalu kedua penjaga membukakan pintu untukmereka berdua. Saat mereka berdua melangkah masuk semua langsung heboh.

"lihat, the war couple"

"mereka memenangkan peperangan lagi?"

"mereka benar-benar kuat"

"kyaaaaa! Tuan Fon Scott!"

berbagai bisikan dan teriakan histeris wanita saat melihat Jowy terdengar di telinga Suci.

"damn" gumam Suci dengan pelan agar semua tidak mendengar nya.

"oh! Suci! Jowy!" panggil Dulas yang sedang bersama Devi.

"oh, cat tembok, Devi.. Kalian sudah datang" kata Suci menyapa mereka dengan datar.

"kenapa kau? Kok jadi suram? Mirip Nan dan You saja" kata Devi yang menyadari keadaan mood Suci.

"tidak apa-apa. Memang mereka kenapa?" tanya Suci bingung lalu Devi menunjukkan sebuah foto seorang perempuan memakai kacamata berambut hitam dan menggunakan gaun manis dengan memegang buku yang tebal.

"siapa?" tanya Jowy bingung

"si Younita" kata Devi singkat dan mata Jowy,Gackt dan Valand membelalak.

"dia itu dulunya kutu buku yang jago bela diri, sama sekali tidak peduli dengan penampilannya, hingga saat ia masuk perusahaan, dia terus di gunjing hingga stress"

"dan saat itulah dendam tumbuh di hatinya?" tanya Gackt dan Devi hanya mengangguk saja.

"dari melihatnya saja aku sudah tahu, Charm mereka berdua tidak seterang biasanya" kata Suci.

"ohhh... Tuan Fon Scott!" kata seorang pemuda yang merupakan pemilik mansion itu.

"ah.. Tuan Stearly, terima kasih sudah mengundang saya dan tunangan saya" kata Jowy pada pemuda itu.

"wah, senang sekali anda berdua mau datang, mari berbincang dengan yang lain" ajak pemuda tersebut.

"baiklah.. Suci? Mau ikut?" tanya Jowy pada Suci dan ia hanya menggeleng saja, lalu Jowy menepuk kepalanya dan pergi bersama tuan rumah.

"hei... Devi" panggil Suci dan Devi hanya menatapnya dengan penasaran, dan saat Suci berbalik senyum iblis melekat di bibirnya.

"mari bersenang-senang!" kata Suci yang mengeluarkan AK-47 entah dari mana. Dan entah iblis apa yang menghampiri Devi, ia langsung mengerti maksud Suci.

"baik! Ayo susun rencana!" kata Devi dengan semangat.

-besoknya-

"pst pst pst" terengar lagi bisikkan-bisikkan yang terdengar dari telinga You.

"lihat, itu bangsawan Lim"

"aku mendengar ia mendapat kecantikkan nya dengan bersekutu pada iblis ya?"

"benar, buktinya saja ia sekarang berada di Gaea"

"ih.. Dasar murahan"

"aku penasaran, kenapa tuan Twilight mau bertunangan dengannya?"

"itu kan karena paksaan orang tua, kalau tidak mana mungkin dia mau"

"hihihihi.. Kasian ya"

"iya.. Hahaha"

'terserah' pikir Younita. Sebenarnya dia tidak tahan dengan hal ini, tapi inilah yang harus di tanggungnya tidak peduli dengan ia mau atau tidak, ia sanggup atau tidak dsb. Dunia memang kejam.

"hei.." panggil seorang laki-laki

"hm?" You yang saat itu sedang terlelap membuka matanya, pandangannya masih buram, yang ia lihat adalah sesosok lelaki berambut hitam dan bermata coklat tua yang indah.

"kau tak apa-apa?" tanya laki-laki tersebut.

"David?" panggil Youniat, kesadarannya sudah membaik, tapi saat ia ingin menggerakkan tubuhnya ia tidak bisa, karena ada sesuatu yang menahannya. Yaitu.. Tangan dan kakinya di ikat dengan kuat.

"!? Apa ini!?" tanya You dengan nada yang lumayan mengancam

"akhirnya kau sadar" kata seorang perempuan di sebelahnya. Saat You menoleh ke samping ia melihat Nan

yang kondisinya sama seperti dia, di ikat.

"kau juga!? Apa-apaan nih!?" tanya You yang mulai panik.

"whoa! Keep calm my Lady! Aku dan beberapa nona-nona tim mu hanya mengikatmu dan tuan putri untuk sementara saja..." kata David berusaha menenangkan tunangannya yang sepertinya mulai mengamuk.

"sepertinya si cebol dan tengkorak itu merencanakan sesuatu, bahkan Jowy yang super waspada saja tertangkap. Si Cebol itu memang tidak bisa di remehkan.. Memang cocok menjadi tunangan jendral terkuat di Ar Heartless" kata Nan

menjelaskan kenapa mereka di ikat.

"lalu kau David!? Kenapa malah ikutan!?" tanya Younita pada tunangannya yang duduk dengan tenang bersama Rukan yang dari tadi tidur.

"ah, aku juga cari hidup tahu... Lagi pula seperti nya rencana mereka asyik" kata David dengan senyum jahilnya.

"khhh.. Yee Sung!" teriak You memanggil Yee Sung, butler pribadinya.

"maaf nona, 8 lawan satu pasti kalah. Di tambah salah 2 dari 8 itu adalah si penyihir cilik dan kapten batalion yang sangat kuat" kata Yee Sung yang sebenarnya duduk di samping You dari tadi, dan You hanya melototi Yee Sung dengan pandangan kebencian.

"menyerahlah, kita tidak bisa menang dari para iblis serta sekutunya" kata Nan

menghela napas. Dan You hanya diam saja, tak berapa lama kemudian kereta mendadak berhenti.

"sepertinya sudah sampai" kata Rukan yang entah sejak kapan bangun dan langsung keluar untuk membukakan pintu untuk David, lalu Yee Sung menggendong Younita yang tidak bisa ngapa-ngapai dan Rukan masuk kembali untuk menurunkan Nan

.

"villa nya kereeeennn!" kata Suci yang sudah berdiri di depan villa berwarna coklat yang sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu, lalu tamannya hijau dan asri serta udara yang sejuk, di tambah lagi pepohonan di sekeliling mereka.

"ini di tengah gunung, jauh dari pemukiman, jadi suasananya tenang dan sejuk" kata Devi.

"terus kata kakekku di sini ada gereja bawah tanah dengan jendela berhiaskan kaca berwarna membentuk lukisan yang indah, konon tanpa ada penerangan apapun dari luar, jendela itu tetap mengeluarkan chaya yang cantik" kata Devi.

"benarkah!? Di mana letaknya!?" tanya Suci dengan semangat.

'hm? Apa rantai yang di pegangnya?' pikir Nan

yang melihat Suci memegang sebuah rantai.

"e-eh.. Aku tidak tahu, hanya kakek tua renta itu yang tahu, dan dia dengan ogah memberi tahunya" kata Devi dan Suci langsung lemas dan berjalan masuk ke dalam Villa sambil menarik rantai yang di pegangnya.

'jangan-jangan!?' pikir Nan

menduga apa yang sedang di tarik Suci itu. Dan tak lama kemudian Jowy datang dengan ke adaan seluruh tubuh di ikat dengan rantai dan mata dan mulutnya di tutup.

'sudah kuduga' pikir Nan

swt melihat ke adaan Jowy, lalu ia melihat Gackt yang menahan Valand dan Luca dan Jweirk yang membopong tuan masing-masing.

"mereka memang seram" kata You melihat pemandangan yang di depannya.

-please wait-

"ohhh... Jadi kalian mau mengadakan pesta natal pribadi di sini" kata Nan

yang sudah di lepas, sekarang mereka sedang berada di onsen yang ada di dalam Villa.

"hu uh.. Soalnya aku bosan dengan pesta formal, jadi aku culik aja kalian ke Villa milik Devi" kata Suci yang dengan asyiknya berendam di bak mandi atau kolam (?) air panas tersebut.

"ngomong-ngomong kau sudah siapkan hadiah?" tanya Nan

pada You

"sudah, tapi jangan harap aku mau kasih tahu" kata You datar.

"klian?" tanya You balik.

"aku siapkan sweater buat Jowy dan syal buat Gackt" kata Suci.

"handmade?" tanya Nan

penasaran dan Suci hanya mengangguk

"waah! Hebat!" kata You kagum

"hasilnya jelek, tidak bisa di banggakan" kata Suci merendahkan diri.

"aku siapkan sarung tangan buat Maya dan Aiji, lalu buat Dulas.. Aku siapkan sweater juga" kata Devi

"rajutan juga ya?" tanya Suci dan Devi hanya mengangguk

"Nan? Kasih apa?" tanya Suci pada Nan

.

"hanya mantel sederhana buat Fiqri dan aksesoris yang Dulas pilihkan bahan dasarnya buat Rukan" kata Nan "oh.. Dulas pernah singgung soal itu beberapa hari yang lalu" kata Devi teringat perkataan Dulas soal Nan yang heboh memilih bahan untuk hadiah buat Rukan.

"egh!? Dulas cerita apa aja!?" tanya Nan

kaget.

"cuma bilang yang namanya tuan putri itu dimana-mana selalu merepotkan, keinginan nya harus di turuti secepatnya" kata Devi dan muka Nan

langsung memanas dan merah entah karena marah atau malu, atau karena onsennya.

"hei You, kau kasih apa sih?" tanya Suci masih penasaran.

"nanti kalian juga tahu" kata You dengan sombongnya dan mereka yang ada di situ hanya swt.

-di tempat para butler-

Gackt,Maya,Aiji, dan Rukan mendekorasi ruang tengah yang di gunakan untuk pesta. Sedangkan Jweirk,Rukan dan Yee Sung serta Valand menyiapkan hidangan.

"jingle bell, jingle bell, mamak mu gembel, kerjanya di hotel... Jadi tukang ngepel~" Maya bernyanyi jingle bell ala para anak durhaka sambil menghiasi dinding dengan beberapa pita warna-warni.

"Maya semangat sekali hari ini" kata Gackt yang dari tadi memperhatikan Maya.

"itu karena dia sangat suka dengan natal dan tahun baru" kata Dulas dengan Yukata, sepertinya dia habis berendam. Fiqri dan David ada di belakangnya memakai yukata yang sejenis dengannya.

"oh.. Tuan Dulas, bagaimana onsennya? Enak?" tanya Aiji yang baru saja menyusun alat musik di panggung.

"yah.. Begitulah, kalian kok nggak ikut tadi? Asyik loh" kata Dulas sambil melihat-lihat hiasan yang mereka buat.

"ah, kami harus menyiapkan ini dulu" kata Aiji

"soal itu kan

kita bisa selesaikan sama-sama nanti" kata Fiqri yang ikutan membantu Gackt yang kewalahan dengan pohon natalnya.

"tidak ah, lebih cepat lebih baik,.. Lagi pula tidak enak jika kami ikut berendam dengan anda" kata Gackt yang menundukkan kepalanya sedikit mengucapkan terimakasih.

"kami bantu ya" kata David yang membantu Rukan mengeluarkan barang-barang dari kardus.

"ah, tidak apa-apa.. Anda santai-santai saja di kamar" kata Rukan yang merasa tidak enak.

"kalian ini ngomong apa sih? Ini kan

pesta kita semua, jadi semuanya harus membantu" kata Dulas

"baiklah kalau begitu" kata Gackt pasrah.

"wah~ lagi hias-hias ya? Kami bantu ya!~" kata Devi memakai Yukata yang agak mirip dengan punya Dulas dan yang lainnya. Nan

dan You juga memakai Yukata yang sama, hanya Suci yang memakai Dress tanpa lengan di atas lutut berwarna hitam polos.

"gyaaaa! Suci! Apa-apaan penampilanmu!?" tanya Dulas kaget dengan muka merah, Fiqri serta yang lainnya kecuali para cewek dan Gackt mukanya memerah saat melihat Suci berpakaian seperti itu.

"nona, sudah saya peringatkan untuk tidak memakai baju seperti ini di depan orang kan

!?" tanya Gackt dengan nada yang ketus.

"apa sih? Kan cuma di sini saja!? Ayo dong! Tidak apa-apa kan

? Ya? Ya? Ya?" pinta Suci dengan wajah memelas, dan Gackt hanya menghela napas aja lalu mengangguk.

"terserah anda saja lah" kata Gackt nyerah dan Suci langsung berlari dengan riang ke arah pohon natal dengan muka cengengesan.

"tuan-tuan, maaf.. Sebaiknya anda harus membiasakan diri dengan pemandangan ini" kata Gackt yang meminta maaf pada mereka.

"lady seperti dia memakai pakaian rakyat biasa seperti itu di depan noble seperti kita dengan cuek.. Memang anak itu cuek sangat" kata Fiqri yang mukanya masih memerah.

"kyaaaa!" teriak Devi yang terjatuh saat memasang hiasan santa clause di dinding menggunakan kursi.

"De-" ketika Dulas hendak menolong Devi, Maya langsung melesat ke arahnya dan menangkap tubuhnya yang jatuh ke arah belakang.

"hup! Nona tidak apa-apa?" tanya Maya yang mendirikan tubuh Devi.

"ya, tak apa-apa terima kasih" kata Devi.

"makanya hati-hati" kata Aiji yang mengangkat kursi dan meja bersama Rukan dan David. Lalu Devi melototinya dengan sangar.

"ada apa nih? Ramai sekali, kedengaran sampai ke onsen loh" kata Jowy yang baru selesai berendam. Semuanya kecuali Gackt dan Suci terdiam melihat Jowy.

"David, kau ada bawa teman perempuan mu ya?" tanya Dulas pada David.

"tidak ada... Jangan-jangan Fiqri ya?" tanya David pada Fiqri yang tercengang dengan sekotak hiasan pohon natal ditangannya, lalu ia hanya menggeleng saja.

"oh... Jowy.. Baru selesai?" tanya Suci yang baru menyadari kehadiran Jowy dan berjalan mendekati nya.

"AAPA!? JOWYYY!?" teriak mereka semua yang ada di sana

.

"tentu saja aku!? Menurut kalian siapa lagi!?" tanya Jowy yang emosi melihat reaksi teman-temannya.

"ha-habis mirip cewek sih..." kata Nan

sedikit terbata-bata, memang penampilan Jowy tidak kalah dari cewek kalau rambutnua di gerbang.

"kyahahahahaha... Memang dari sononya kau itu banci ya! Sampai kami tidak bisa membedakan kau itu cewek atau cowok!" kata Devi dengan tertawa yang menggelegar.

"tuannya mirip cewek, begitupula dengan butlernya ya" gumam Rukan dan semuanya mengangguk saja.

"kallliiiiaaannn..." geram Jowy melihat kelakuan teman serta para butlernya itu.

"sudah-sudah, bantu kami saja yuk" kata Suci menari tangan Jowy.

"Aiji~ bantu aku memasangkan bintangya~" kata Maya memanggil kakaknya dengan manja.

"kan

ada tangga" kata Aiji malas.

"semuanya di pakai" kata Maya dan Aiji hanya menghela nafas dan berjalan ke arah pohon natal dan berjongkok di dekatnya. Lalu Maya naik ke pundaknya dan Aiji berdiri untuk menaikkan ketinggian dan Maya memasangkan bintangnya dengan sedikit kesusahan karena kurang tinggi.

"eh, nona tahu.. Waktu kecil aku harus menggendongnya saat ia memasangkan bintang di pohon natal, dia merengek-rengek padaku agar menggendongnya dan tidak mengizinkan aku untuk memasangnya sendiri" bisik Aiji pada Devi yang ada di sebelahnya.

"pft.. Hahaha.. Benar-benar tipikal Maya!" kata Devi sambil menutupi mlutnya dengan tangan.

"kakak!" teriak Maya yang mendengar percakapan Aiji dan Devi, lalu karena Maya goyang sedikit, ia kehilangan kesiimbangan dan..

"waaaaa!" -brukk!- terdengar suara benda jatuh yang cukup keras dan menyita perhatian orang yang ada di situ untuk menoleh ke sumber suara. Saat melihat pemandangan itu Dulas langsung pinksun karena Maya terjatuh di atas tubuh Devi.

"aduhh... Maya! Awas!" perintah Devi mendorong tubuh Maya.

"aw! Maaf! Gak sengaja nona!" kata Maya berdiri dan menarik tangan Devi, membantunya untuk berdiri.

"ah.. Tuan Dulas pangsan" kata Aiji yang melihat ke adaan Dulas.

"bawa kekamar" perintah Devi lalu Aiji melakukan apa yang di perintah kan

Devi.

Setelah beberapa saat mereka menyelesaikan hiasan di ruangan itu dengan sedikit huru hara yang di sebabkan oleh Devi,Nan

dan Suci serta Gackt dan Maya. Lalu semuanya kembali kekamar buat ganti baju.

'knock knock' terdengar suara ketukan pintu dari pintu kamar Dulas.

"siapa?" tanya Dulas yang sedang memasang dasinya.

"tuan Dulas? Ini saya, Luca.. Saya masuk ya" kata Luca yang membuka pintu kamar Dulas dan menghampirinya lalu membantunya mengikat dasinya. Ia memakai tuxedo coklat dengan dasi merah serta kemeja putih dan celana yang senada.

"pestanya sudah di mulai" kata Luca.

"hm.. Aku ke sana

sekarang" kata Dulas

"tadi Maya titip salam pada saya. Katanya dia minta maaf akan kejadian tadi" kata Luca.

"tidak apa-apa... Itu hanya kecelakaan kan? Jadi no bad feelings" kata Dulas sambil tersenyum lalu Luca membuka kan

pintu untuk Dulas dan mempersilahkannya untuk keluar. Dan Dulas berjalan keluar.

"oohhh! Jowy! Kau jadi santa!?" tanya Dulas yang sudah sampai ke ruang tengah. Ia kaget melihat Jowy yang memakai baju santa dengan muka bete, tentu saja bete, seluruh orang yang ada di sana memaksanya untuk memakai baju santa yang di siapkan oleh Suci. Maya juga memakai baju yang sama seperti Jowy tapi celananya celana pendek di atas lutut, begitupula dengan Aiji, bedanya baju Aiji tidak lengan panjang, melainkan lengan pendek. David memakai jas dengan kancing ganda berwarna coklat tua dan scarf merah serta celana coklat juga. Fiqri memakai tuxedo putih dengan kemeja biru tua serta dasi hitam dengan sarung tangan hitam. Suci memakai dress simple di bawah lutut sedikit berwarna merah dengan lengan sebahu dan bagian dada terbuka sedikit yang di hiasi tali berbentuk x di bagian dadanya. Pada pinggangnya juga terdapat pita berwarna putih melilit pinggangnya, ia memakai chocke simple berwarma hitam dengan sebuah mawar putih kecil di tengahnya. Dan rambutnya di ikat ekor kuda dengan topi merah kecil berbulu putih, bukan seperti topi santa, hanya warnanya saja yang sama. Nan tidak seperti biasa, ia tidak memakai pakaian tradisional benggala, melainkan memakai gaun malam non torso yang dewasa dengan warna pink yang lembut serta selendang putih sedikit tembus pandan menutupi bahu nya. Rambutnya di biarkan di gerai seperti biasa, Devi memakai gaun panjang dengan ponco berwarna hitam dan ia memakai sarung tangan hitam juga, Younita memakai gaun panjang berwarna hijau muda dengan lengan lonceng yang cantik. Para

butler yang lain memakai jas seperti biasanya.

"eh? Lagunya? Rock? Classic?" tanya Devi bingung saat mendengar lagu yang di mainkan oleh Gackt di piano, Yee Sung di celo, Jweirk di biola, Rukan di drum dan Maya serta Aiji di gitar.

"classic rock!" kata Suci dengan semangat.

"dansanya gimana?" tanya Nan

bingung.

"hehehe.. Menyesallah kalian memakai gaun panjang seperti itu" kata Suci dengan senyum sinis nya. Lalu Jowy mengulurkan tangannya pada Suci menandakan ia mengajal Suci untuk berdansa bersama, lalu Suci menerima uluran tangannya dan mereka berjalan ke lantai dansa bersama dan berdiri berhadapan di sana. Yang lain memperhatikannya dengan serius untuk mempelajari dansa classic rock ini. Jowy memegan tangan kanan Suci dan menaikkannya hingga di atas kepala Suci sedikit dan Suci pun berputar sedikit, dan di mulailah dansa mereka, putar sana sini, lompat sana

sini, sangat enerjik dan terlihat menyenangkan. Tariannya seperti tarian rakyat biasa.

"ooohhh..." Nan

, You dan Devi ber oh ria. Lalu mereka bergabung ke lantai dansa bersama pasangan masing-masing. Mereka semua menikmati pesta yang mereka siapkan sendiri itu, dan entah siapa yang menyiapkan anggur dan champagne hinggak beberapa orang teler, termasuk Maya,Rukan,Fiqri,Dulas,David, dan di luar dugaan Valand dan Jowy tahan alkohol! Kalau Gackt,Jweirk,Luca,Yee Sung dan Aiji sudah jelas, sisanya para cewek hanya minum minuman tanpa alkohol jadi tidak mabuk.

"welcome fuckin xmas! Welcome fuckin' old man sandy clause! Happy New Year!" semua orang yan teler nyanyi asal tentang natal dan sebagainya dengan lantang hingga hampir tengah malam semuanya lelah dan memutuskan berhenti. Para butler yang harusnya sudah tidur di bangunkan oleh Luca dan Yee Sung untuk membereskan ruangan tersebut sedangkan yang lain sudah masuk kamar karena capek.

-dapur-

"hei! Ayo tukaran hadiah!" kata Gackt yang membawa sekotak kado berwarna hitam yang isinya entah apa.

"yo! Kumpulkan kado kalian di sini!" kata Rukan meletakkan kotak yang sama besarnya dengan punya Gackt di atas meja, lalu Aiji menaruh kotak kecil berwarna merah di atas kado milik Rukan, Maya menaruk kotak yang sedikit lebih besar dan Jweirk menaruh kotak yang panjang dan lepes di atas meja, Luca menaruh kotak yang ukurannya sama dengan milik Maya di atas meja dam Yee Sung menaruh kotak persegi yang lepes juga dan Valand menaruh hadiahnya juga.

"baik~ tutup mata kalian~ soalnya kalo matiin lampu sama aja bisa liat" kata Maya dan semuanya menutup mata mereka dan mengambil hadiah yang terdekat dengan mereka

"sudah? Nah, buka!" kata Maya dan semuanya membuka mata mereka dan melihat hadiah yang mereka pegang. Aiji dapat hadiah dari Maya, Maya dapat hadiah milik Gackt, Valand dapat hadiah dari Rukan. Rukan dapat hadiah dari Luca, Jweirk dapat hadiah dari Yee Sung, Gackt dapat hadiah dari Valand dan Yee Sung dapat hadiah dari Jweirk serta Luca dapat hadiah dari Aiji.

"wah! Gantungan kunci asli dari Jahannam!" kata Luca yang kaget melihat gantungan kunci berbentuk tengkorak memakai jubah hitam dan ada sayap di kedua sisi kepalanya, plus tengkorak itu di salib.

"terima kasih Aiji" kata Luca pada Aiji dan Aiji hanya mengangguk saja.

"wah.. Sarung tangan yang lembut.. Terima kasih nak Yee Sung" kata Jweirk menerima sarung tangan butler berwarna putih.

"sama-sama paman" kata Yee Sung lalu ia membuka hadiahnya.

"eh? Dasi? Keren.. Ada

gambar naganya" kata Yee Sung melihat dasi hitam dengan gambar naga di ujung dasi hitam tsb.

"yah.. Aku pesan dari jepang kemarin" kata Jweirk santai dan mata Yee Sung langsung terbelalak mendengarnya.

"eh!? Keren juga nih gelang! Thanks Maya!" kata Aiji yang memaki gelang hitam terbuat dari besi.

"ow.. Kalung simple nan keren!" kata Gackt memakai sebuah kalung perak dengan mainan berbentuk persegi panjang yang simple.

"jam? Wah.. Tahu sekali aku butuh ini" kata Rukan menaruh jam saku perak dari Luca ke kantungnya.

"eeehh!? Apa ini?!" teriak Valand dan Maya bersamaan sambil menunjukkan sepasang baju maid mini milik Valand dan maid panjang milik Maya pada mereka semua.

"ah.. Bagi yang dapat itu selama sebulan harus pakai di rumah atau di luar, sudah dapat persetujuan dari semua nona dan tuan" kata Rukan dan Gackt bersama.

"APAAA!?" teriak mereka berdua.

"hahahaha... Sudah, pakai saja.. Cocok kok" kata Aiji yang berusaha menaha tawanya agar tidak semakin kuat dan Maya hanya memancungkan bibirnya yang dower itu sedangkan Valand malah terlihat tertari dengan baju tsb.

-di halaman depan villa-

Younita duduk di bangku batu panjang yang mempunyai sandaran itu sambil menatap langit dan emnikmati pemandangan malam yang tidak di sangka sangat indah, mungkin karena penerangannya yang pas, atau karena langitnya yang cantik. Ia menggosokkan tangannya sedikit dan menghembuskan nafasnya pada tangannya karena dingin, lalu tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyelimuti tubuhnya

"kalau keluar jangan lupa pakai mantel atau bawa selimut, udara sedang dingin-dinginnya, mungkin malam ini akan turun salju" kata David yang menyelimuti tubuh Younita dengan selimut yang di bawanya.

"hm.. Kau sudah baikan?" tanya Younita pada David yang sekarang duduk di sampingnya.

"yah.. Begitulah" kata David sambil melihat langit yang bertabur bintang itu.

"hei..." panggil Younita pada David.

"hn?" hanya itu respon David tanpa menoleh ke arah You.

"ini.." kata You mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.

"apa ini?" tanya David menerima kotak itu lalu membukanya. Saat ia membuka kotak itu ia tersenyum kecil saat melihat sebuah anting perak bermodel bulat sederhana dengan sebuah kristal bergelantung di anting tersebut.

"aku tahu kau pasang piercing beberapa saat yang lalu, jadi aku beri itu" kata You.

"ah.. Terima kasih" kata David langsung memasang anting tersebut di telinga kirinya.

"bagai mana?" tanya David memperlihatkan antingnya pada Younita, dan ia hanya tersenyum lembut.

"aku juga punya sesuatu untuk mu" kata David mengeluarkan sebuah kalung dengan mainan crystal yang berukuran sedang berbentuk prisma berwarna biru, di dalamnya terdapat kristal seperti kristal salju yang besar.

"indah sekali..." kata You melihat kalung tersebut.

"aku melihatnya saat pelelangan, dan saat melihat ini aku langsung berminat memberikannya pada mu" kata David dengan tertawa sedikit lalu memasangkannya pada leher Younita. Lalu ia melihat penampilan tunangannya yang semakin cantik dengan kalung kristal hadiah darinya itu.

"hope it can bring happiness to you" kata David pada Younita, lalu ia mendekatkan tubuhnya pada Younita dan mendorong kepala Younita dengan tangannya untuk mendekatkan muka You dengan dia, lalu David mencium lembut kening Younita dan memeluknya.

"yang ku inginkan adalah hal yang terbaik untuk mu, hidup bebas tanpa beban dan selalu tersenyum" kata David berbisik di telinga You, lalu Younita menenggelamkan mukanya Di bahu David, David mendengar You menggumam terima kasih.

-balkon lantai dua-

"there you are" kata Devi pada Dulas yang asyik melihat keluar di balkon.

"mana jaket mu?" tanya Devi penasaran.

"di kamar" hanya itu jawab Dulas, lalu Devi melemparkan sebuah sweater abu-abu ke Dulas.

"eh? Untukku?" tanya Dulas pada Devi dan Devi tidak menjawabnya, ia hanya menaruh secangkir coklat panas di dekat Dulas. Lalu Dulas tersenyum lebar dan langsung memakai nya tanpa melepas piyama nya

"terima kasih" kata Dulas memeluk dirinya sendiri, merasakan kehangatan sweater yang di pakainya.

"sama-sama" gumam Devi lalu Dulas mengambil bingkisan yang ada di dekatnya dari tadi.

"ini" kata Dulas memberikan bingkisan itu pada Devi dan Devi menerimanya dengan penasaran, lalu secara tidak sabar ia membukanya. Dan saat ia membukanya ia sangat terkejut melihat syal berwarna darkblue.

"David yang mengajariku" kata Dulas tiba-tiba, mendengar itu Devi langsung terbelalak dan menatap Dulas lekat-lekat.

"kau buat sendiri?" tanya Devi tidak percaya.

"tidak, David yang buatkan" kata Dulas dengan nada ngambek dan meminum coklat panas buatan Devi sambil melihat ke arah lain.

"eheheh.. Bercanda.. Terimakasih ya.. Syalnya hangat" kata Devi memakai syal yang di berikan oleh Dulas. Lalu Dulas berbalik ke arah Devi dan mencubit pipinya.

"kau iniiiiii" geram Dulas yang terus mencubit pipi Devi.

"a-aaw..." rintih Devi kesakitan dan Dulas melepaskan cubitannya.

"eheheh.. Sorry, sorry" kata Devi meminta maaf.

"huh.. Kalau mau minta maaf cium aku!" kata Dulas dengan nada memerintah, mendengar itu muka Devi langsung memerah.

"cih! Dari pada begitu mending aku pergi dari sini!" kata Devi buang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"heh! Ya sudah! Tiada maaf bagimu!" kata Dulas tak mau kalah. Dan Devi yang kalah karena tidak bisa mengatakan apa-apa hanya menatapnya dengan amarah.

"ugh! Baiklah! Baiklah!" kata Devi kesal.

"tutup matamu!" perintah Devi dan Dulas menutup matanya dengan muka i'm-the-winner, lalu secara secepat kilat Devi mencium pipi Dulas dan langsung memalingkan wajahnya.

"cih! Di pipi" gumam Dulas dengan muka kecewa sambil mengelus-elus pipinya.

"berisik! Sudah maksimum tuh!" kata Devi dengan muka yang semerah tomat sekarang. Lalu Dulas tersenyum jahil dan memeluk Devi dari belakang.

"kumaafkan!" kata Dulas dengan senyum yang lebar dan puas, sedangkan Devi hanya merengut sambil ber-blushing ria.

-kamar Fiqri-

Nan masuk ke dalam kamar Fiqri secara mengendap-endap, kamarnya masih terang karena Fiqri tidak suka tidur di ruangan yang gelap. Ia berjalan secara perlahan dengan menenteng sebuah bingkisan, ia berjalan menuju meja dekat tempat tidurnya dan menaruh bingkisan itu secara perlahan agar tidak membuatnya terganggu. Setelah menaruh bingkisan di atas meja, Nan melihat wajah Fiqri yang tidur, rambut pirangnya terlihat sedikit berantakan dan menutupi mukanya sedikit. Nan

tersenyum saat melihat Fiqri tidur dengan lelap, ia mengusap-usap kepalanya lalu beranjak pergi sebelum Fiqri menyadari keberadaannya, tapi..

"kyaaaaaaa!" Fiqri menarik tangan Nan hingga Nan

berbaring di sebelah Fiqri.

"got you!" kata Fiqri yang matanya sudah terbuka lebar.

"ternyata kau belum tidur" kata Nan

swt.

"ehehehe.. Tadi sudah, cuma saat tadi mendengar kau masuk aku terbangun, tapi aku pura-pura tidur saja" kata Fiqri dengan cengiran yang lebar, lalu ia berbalik sebentar untuk melihat bingkisan yang di taruh Nan

tadi.

"apa isinya?" tanya Fiqri.

"nanti kau juga tahu" kata Nan

.

"ah, aku juga punya sesuatu untuk mu" kata Fiqri yang mengambil sesuatu dari bawah bantalnya. 'klining' terdengar suara bunyi kliningan yang merdu, Nan melihat kliningan yang cantik itu di tangan Fiqri. Kliningan itu tidak berwarna, tembus pandang, Nan

bisa melihat bola kecil berwarna ungu di dalamnya, kliningan itu juga di ikat dengan benang merah kecil.

"ini.. Pakai selalu ya" kata Fiqri memberikan kliningan itu ke tangan Nan

.

"untuk apa?" tanya Nan

penasaran.

"agar orang lain menyadari keberadaanmu" kata Fiqri memeluk pinggang Nan agar Nan

semakin mendekat ke arahnya.

"oh.. Terima kasih" hanya itu kata Nan

.

"hei"

"hmm?"

"malam ini tidur sini ya?"

"terserah kau sajalah" kata Nan menutup matanya, dan Fiqri tersenyum sambil memeluk Nan semakin erat.

-the secret chruch, Devi's villa basement-

terlihat seorang gadis berambut hitam panjang dengan gaun tidur berwarna cream sedang berdoa di depan altar gereja, gereja tersebut seperti pada umumnya memiliki banyak banggu panjang untuk para jamaah, dan salib beserta perlengkapannya tidak lupa, tapi interior gereja tersebut sangatlah luar biasa indah walaupun terkesan sedikit gloomy karena nuansa darkpurple sebagai warna dasar gereja tersebut, tetapi jendela-jendela nya memiliki kaca yang berwarna warni yang membentuk seperti lukisan, dan tanpa penerangan apapun dari luar, jendela tersebut mengeluarkan cahaya yang terang, cahaya itulah yang menjadi penerangan gereja tersebut, lalu gadis tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Suci merasakan seseorang berdiri di sampingnya, ia membuka matanya dan melihat orang tersebut dan ternyata orang itu adalah Jowy, tunangannya sendiri. Ia menutup matanya dan merapatkan kedua telapak tangannya dan menundukkan kepalanya, ia sedang berdoa dengan sangat serius. Lalu Suci juga melanjutkan doanya. Tak lama setelah itu mereka berdua selesai berdoa dan menatap satu sama lain.

"kau menemukannya juga" kata Suci membuka percakapan.

"ya, tidak terlalu sulit" kata Jowy.

"memang keluarga Rosenkrantz sangat hebat, bisa membuat material kaca seperti itu" komen Suci sambil melihat sekelilingnya.

"hm.." hanya itu respon Jowy.

"hei..." panggil Jowy dan Suci langsung memalingkan mukanya ke arah Jowy.

"ya?" tanya Suci mendekati Jowy.

"ini..." kata Jowy memberikan sebuah kotak berukuran kecil persegi enam berwarna ungu dengan ukiran emas di sisi-sisinya dan juga berbagai macam permata menempel di kotak tersebut, bahkan mutiara dan mutiara hitam ada di situ.

"apa ini?" tanya Suci membuka kotak itu dan ia sangat terkejut melihat hologram sebuah kota, kota yang sangat berkilauan, di setiap dinding perumahan kota tersebut terdapat berbagai macam permata, dan air mengalir dari atas ke bawah dengan indahnya di kota tersebut. Dan dari dalam kota

tersebut terdengar dentingan piano yang nadanya sangat lembut, lalu di sambut dengan suara biola yang menyayat hati, suaranya bisa membuat siapa saja meneteskan air mata, tak terkecuali Suci.

"i-ini"

"sparkling city of ruin, aku di berikan oleh ayah, katanya ini asli buatan kota Geo zaman dahulu saat Bejeweld City masih ada, lagu itu di ciptakan setelah peemburuan para Jumi knight dan Jumi Guardian oleh pemburu Jumi, the Jumi hunter, Alexandra. Kata ayah, berikanlah kotak ini pada Guardian mu" jelas Jowy yang memeluk Suci dari belakang dan menghapus air matanya dengan jempol nya.

"he-hebat... Kau bisa dapat artefak seperti ini.. Dalam keadaan baik seperti ini! Da-dan ini untuk ku!? Kau serius!?" tanya Suci dengan tidak yakin.

"yup.. My Guardian~" kata Jowy mempererat pelukannya, Suci memalingkan mukanya ke arah Jowy dengan tatapan lembut. Lalu secara perlahan senyumnya mengembang, Jowy sangat terkejut melihat senyuman itu, senyuman bahagia tanpa beban dari seorang gadis kecil yang menikmati dunianya sendiri, sudah sangat lama Jowy tidak melihat senyuman itu. Dia pun tersenyum bahagia melihat Suci,

"terima kasih! Akan aku jaga baik-baik!" kata Suci dengan semangat lalu menutup kembali kotak musik tersebut.

"aku juga punya sesuatu, mungkin kau tidak perlu, atau malah tidak suka.. Tapi... Ini untukmu" kata Suci menyerahkan sebuah sweater biru muda yang di lipat rapi pada Jowy dan Jowy melihat sweater itu dengan mata berkaca-kaca

"buatan mu?" tanya Jowy tidak percaya dan Suci hanya mengangguk saja sambil menyalakan beberapa lilin di sana. Jowy melihat setiap detil dari rajutan sweater tersebut, ada beberapa bagian yang salah, tapi tidak terlalu terlihat, dari sweater tersebut tercium aroma lavender, aroma dari tubuh Suci. Sekarang Jowy mengerti kenapa Suci sangat bete saat ia memaksanya keluar, ternyata Suci ingin menyelesaikan sweater ini secepatnya. Jowy menatap Suci yang asyik-asyiknya melihat sekeliling altar tersebut.

"hahah.. Jelek!" ejek Jowy setelah memakai sweater tersebut, ukurannya sedikit kegedean sama dia, tapi sepertinya dia tidak keberatan.

"ya sudah sini balikin" kata Suci menggembungkan pipinya.

"tidak ah.. Hanget gini.. Sayang" kata Jowy dan Suci hanya membuang muka saja.

"merry crhistmas" bisik Jowy kembali memeluk Suci dari belakang, sedangkan Suci hanya menyandarkan tubuhnya ke tubuh Jowy.

"ng... Merry Christmas" kata Suci.

"eh? Salju!" kata David setelah merasakan butiran kristal es dinging menyentuh tangannya. You yang dari tadi di sebelahnya hanya mendongak ke atas sambil melihat ke atas dan tersenyum.

'what a wonderful white christmas for us, thanks God' batin You, lalu ia mendengar langkah-langkah kaki dari belakang mereka.

"wah! Nona You! Tuan David! Di sini rupanya!" kata Maya yang melihat You dan David duduk berdua.

"Maya? Kok keluar?" tanya David penasaran.

"karena kami ingin lihat salju pertama tahun ini turun" kata Gackt yang berjalan di belakang Maya di ikuti para butler lainnya beserta Devi dan Dulas.

"Nan

dan Fiqri mana?" tanya You

"mereka tidur, sebaiknya jangan ganggu" jawab Devi.

"salju~" kata Maya yang merasakan butiran-butiran salju dingin yang jatuh ke mukanya.

"nona-nona, tuan-tuan.. Kami ucapkan.. Merry Christmas!" kata para butler dengan senyum bahagia terlukis di wajah-wajah tampan mereka, bahkan Luca yang susag senyum pun tersenyum pada para bangsawan di depannya itu.

"ya.. Merry Christmas!" kata You dan Devi bersamaan.

"selamat hari natal" kata David pada mereka.

"Merry Xmas semua!" kata Dulas dengan semangat.

"eh, si cebol dan si banci mana?" tanya Devi menyadari kalau Jowy dan Suci tidak muncul.

"mereka sedang menikmati kencan mereka" kata Valand dengan senyum sinis. Lalu mereka memandangi salju di halaman villa dengan tenang.

-di tempat Jowy dan Suci-

"hei, kau tadi doa apa? Serius amat" tanya Suci yang duduk di bangku barisan paling depan bersama Jowy.

"hm.. Rahasia.." kata Jowy,

"lalu, kau? Bagai mana?" tanya Jowy balik ke Suci.

"rahasia juga weeekk.. " kata Suci sambil menjulurkan lidahnya pada Jowy dan Jowy hanya tertawa pelan melihatnya.

"the evening lights, coloring the nights busy avenues

down the street brings back memories of you"

terdengar seseorang bernyanyi dari luar.

"Gackt? Dia bernyanyi?" tanya Suci heran.

"sepertinya begitu." jawab Jowy

"December Love ya, sudah lama aku tidak dengar dia bernyanyi" kata Sucu menyandarkan kepalanya di bahu Jowy dan Jowy hanya diam saja, ia menaruh kepalanya di atas kepala Suci dan menutup kedua matanya, menikmati alunan lagu yang di nyanyikan Gackt.

"now i am watching as

lovers pass me by

finding your shadows

in the views of my eyes.

Now i am here, all alone.

Remembering the time we used laughed (together)

in the fall of the cold i'm still think of you.

Wondering if you feel the same...

save your smile for me

even althought you cried for me, remember me and love me always

love and smile for me

hold on to all that we had

remember me and love me again.

I'm so depressed living.. A quiet life now

ther is no one here, in which to hold hands.

Or protect me from the cold..

Feeling like this loneliness will tear me apart.

I am waiting and looking for your voice

to get me out the dark

snowflakes fall like the tears

that're surrounding down my face

i wanna hold on you just one more time.

I think of you night and day

wondering if you feel the same!

save your smile for me

even althought you cried for me, remember me and love me always

love and smile for me

hold on to all that we had

remember me and love me again...

being in the silence of the night

fall into my arms and i'll hold you so tight

my kiss will guide our missing hearts and tell me you'll love me again.

save your smile for me

even althought you cried for me, remember me and love me always

love and smile for me

hold on to all that we had

remember me and love me again..

save your smile for me

even althought you cried for me, remember me and love me always

love and smile for me

hold on to all that we had

remember me and love me again~"

-skip time-

Jowy berjalan di lorong villa milik Devi secara perlahan sambil menggendong Suci ala bridal style. Suci tertidur setelah mendengar alunan suara Gackt, ia sengaja menunggu agak lama sampai semuanya tidur agar tidak terjadi keributan. Setelah sampai di depan pintu kamar Suci, ia membukanya secara perlahan lalu menaruh Suci di atas tempat tidur dan menyelimutinya, selama beberapa saat ia memandangi muka Suci lalu mengecup kening nya. Dan pergi dari ruangan itu meninggalkan Suci yang sedang terlelap.

'sepertinya besok akan menjadi pesta besar lagi' pikir Jowy yang sedang merebahkan diri di atas ranjangnya, karena terlalu capek ia memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas. Semuanya bermimpi indah malam itu, dan tidak sabar menunggu natal yang sebenarnya yang sudah di persiapkan oleh mereka semua.

-to be continued-

~omake~

author: yak! Aku buat omake dikit yaa... Mungkin kalian bakalan nge flame setelah negliat, eh.. Baca nih omake dikit... Kekekekekkekekke... *ditimpuk*

Jowy memejamkan matanya dan menunduk sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan altar secret chruch milik keluarga Rosenkrantz.

'hei Tuhan yang maha agung.. Aku mohon.. Kabulkanlah permohonan pendosa ini.. Hanya satu permohonan ini saja yang aku mohon kepada-Mu.. Tolong.. Bahagiakanlah orang yang ada di sebelahku ini.. Kembalikanlah senyumnya yang dulu... Dari lubuk hati ku yang paling dalam, aku memohon kepada-Mu...' Jowy berdoa dengan serius dan membuka matanya sambil menatap altar kosong. Lalu membisikkan kata amin dan melihat Suci yang masih berdoa.

'Tuhan, aku harap.. Persahabatan kami semua tidak akan sirna selamanya.. Hingga akhir hayat kami semua, berkahi lah kami para pendosa sialan yang tidak berhak di berkahi oleh Mu.. Tapi aku memohon kepada-Mu, berikan jalan bagi kami.. Amin' doa Suci dan ia membuka matanya dan menatap Jowy yang melihatnya dengan sangat serius, lalu senyum tipis terulas di muka Jowy.

-end-