Seoul, 30 Desember 1988..
Tiffany menatap awas sekelilingnya sambil memeluk keranjang besar dalam dekapannya. Langkahnya perlahan ia bawa menuju sebuah panti asuhan. Samar-samar terdengar suara dua wanita yang sedang bercengkerama di dalam sana dan hal itu melegakan hati Tiffany mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Diletakkannya keranjang besar itu tepat di samping pintu masuk. Sejenak, Tiffany pandangi sosok yang ia bawa dalam keranjang itu. Sosok mungil dengan pipi putih merona, surai tipis berwarna kelam, juga mata abu yang cantik. Sosok yang adalah anak laki-laki Tiffany. Sosok yang menjadi alasan Changmin meninggalkan Tiffany.
Pavel, namanya.
Ada perasaan hangat yang bercampur dengan rasa bersalah di dalam hati Tiffany ketika dirinya menatap Pavel. Bagaimana bayi tak berdosa itu menatapnya semenjak dilahirkan ke dunia, sampai ketika ia akan ditinggalkan sesaat lagi. Pavel baru berusia satu bulan dan setelah ayahnya pergi meninggalkannya, sekarang giliran Tiffany—ibunya.
"Maafkan Mama, Pavel.." bisik Tiffany seraya mengecup puncak kepala Pavel. Airmata yang mati-matian ia tahan, kini jatuh membasahi pipi Pavel. "Selamanya, Mama menyayangimu.."
Perpisahan ini memang terasa sangat berat, namun keputusan Tiffany sudah bulat. Apa pun yang terjadi, ia takkan membiarkan Pavel menderita dengan hidup bersamanya.
Setelah menutup kembali beberapa lapis selimut di tubuh mungil Pavel, Tiffany pun mengetuk pintu panti itu, lalu mengambil tempat untuk bersembunyi. Seorang wanita keluar tak lama kemudian. Raut mukanya tampak terkejut saat melihat ke dalam keranjang besar di hadapannya. Wanita itu menengok ke sekelilingnya, sebelum akhirnya membawa Pavel ke dalam panti.
Sementara di belakang sana, Tiffany kembali menjatuhkan airmatanya. "Selamat tinggal, Pavel. Mulai sekarang, berbahagialah.."
.
.
.
###
Azova10 and parkayoung
presents
ENIGMA
Chapter 8 – Crisis in the Highest Tower
Main Casts: Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Tiffany Hwang (SNSD), Kristina Pimenova, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Jongin, Jin Goo, Jennie Kim (BP), Irene Bae (RV), Kim Jiwon, Park Haejin, Kim Hyorin (Sistar), Kim Jongdae
Genre : Romance, Drama, Crime/Action
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: FF ini terinspirasi dari film 'Anastasia'
Dialog dalam BAHASA INGGRIS ditulis dengan BOLD
Dialog dalam BAHASA RUSIA ditulis dengan BOLD-ITALIC
(SISANYA berarti BAHASA KOREA ya)
###
.
.
.
Dua alis Jin Goo bertaut ketika matanya menangkap eksistensi Chanyeol yang tengah menutup pintu ruangannya. Dagunya belum ia naikkan; sengaja membuat suasana kentara ketegangannya mengenai kisah tak terduga di kamar sang Tuan Muda.
Entah apa yang ada di pikiran Chanyeol kala itu. Ketimpangan status seharusnya bisa membuatnya membangun sebuah benteng untuk tidak menjamah gairah. Jin Goo bukannya mengelak eksistensi libido seorang pria. Hanya saja dunia ini kadang tak butuh suatu kemakluman ketika perbedaan status masih sangat didewakan.
"Aku akan menjelaskannya." Chanyeol memulai dengan tangannya yang ia buat lemah dan susunan penjelasan yang akan ia utarakan.
"Sudah seharusnya begitu." Dagunya mulai Jin Goo naikkan, menatap langsung pada sang anak buah yang sudah berdiri dengan pertanggungjawaban. "Kurasa kau tahu betul apa yang terlihat oleh mataku di kamar Tuan Muda Baekhyun bukan sesuatu yang seharusnya terjadi."
"Aku tahu."
"Apa pun alasannya, menyentuh Tuan Muda Baekhyun dalam konteks seperti yang kau lakukan tadi sudah menyalahi aturan di sini. Para petinggi akan murka jika sampai mengetahuinya dan aku tidak berani memberitahu hukuman apa yang akan kau terima. Yang jelas, kerugian akan sepenuhnya berpihak padamu dan hukumannya tidak akan main-main." Jin Goo mendekati Chanyeol yang menunduk patuh untuk bayangan hukuman yang Jin Goo katakan. "Untuk itu, biarkan aku saja yang menghukummu."
Satu tendangan pada tulang kering membuat Chanyeol sedikit kehilangan keseimbangan. Rasa sakit itu sebenarnya butuh teriakan, tapi Chanyeol memilih untuk menahannya dengan desisan, karena memang hukuman ini adalah hasil dari perbuatannya sendiri.
"Cukup kau ingat bahwa tendangan ini tidak seberapa menyakitkan dari hukuman yang seharusnya kau dapatkan."
"Aku tahu, Hyung. Maafkan aku."
Jin Goo menghela napas panjang, sedikitnya merasa kasihan pada Chanyeol. "Chanyeol, aku tidak melarangmu untuk memiliki rasa apa pun pada orang-orang tertentu. Aku hanya mengingatkan apa posisi kita, apa tugas kita, dan apa yang tidak seharusnya kita lakukan selama bekerja di sini. Aku tidak ingin kau bermasalah dengan hukum yang ada, sementara Tuan Muda Baekhyun sangat membutuhkan perlindungan kita. Kau tidak lupa, kan, jika posisi Tuan Muda Baekhyun sedang terancam? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika tidak siaga."
"Aku mengerti, Hyung. Aku akan berhati-hati setelah ini."
"Jangan hanya berhati-hati, tapi pikirkan solusi untuk mencegah hal ini agar tidak terjadi lagi."
Chanyeol termangu begitu sosok Jin Goo meninggalkannya di ruangan itu.
.
.
Cukup membingungkan bagi Baekhyun untuk menerjemahkan semua ini. Sentuhan yang merambat di kulitnya dari tangan Chanyeol seolah memiliki efek berlebih pada kewarasannya. Rasanya ada sesuatu yang menggebu; melompat bahagia di dalam hatinya dengan tingkat kecepatan tidak konstan. Dan itu berimbas pada dirinya yang sulit memejamkan mata ketika purnama sudah meninggi di langit kelam.
Terlalu cepat jika mengatakan ini perasaan jatuh cinta. Baekhyun tak memiliki pengalaman tentang hal itu sehingga dia hanya menganggap ini akan berlalu begitu saja. Tapi jika mengingat bagaimana kecapan bibir Chanyeol yang membungkam bibirnya, Baekhyun memiliki debaran tak terkontrol. Rasanya seperti ribuan kupu-kupu yang berdesakkan di perut, menggelitik dinding-dinding di dalam tubuhnya dan menimbulkan getaran bahagia di hati.
"Ahjussi," Senyum Baekhyun mengembang kala melihat sosok Chanyeol kembali setelah Jin Goo memanggil. Baekhyun harap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Chanyeol karena adegan intim tadi terpergok oleh Jin Goo.
"Kau belum tidur?" Chanyeol duduk di pinggiran ranjang, tepat di samping Baekhyun yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku tidak bisa tidur."
"Kau membutuhkan sesuatu? Apa kau lapar?"
"Tidak, tidak. Aku tidak lapar, tapi memang tidak bisa tidur."
"Tidurlah. Ini sudah malam."
Daripada merespon ucapan Chanyeol, pikiran Baekhyun malah melayang pada Jin Goo. Ia penasaran apa yang mereka bicarakan berdua.
"Ahjussi?"
"Hm?"
"Kenapa Jin Goo Ahjussi memanggilmu? Apa kau mendapat masalah karena..karena.." Kalimat itu tergantung karena Baekhyun lebih dulu merasa malu jika mengatakannya.
"Tidak ada apa-apa. Jin Goo Hyung hanya membicarakan perihal pesta untukmu nantinya."
Satu napas Baekhyun hembuskan penuh kelegaan. "Syukurlah kalau begitu."
"Sekarang tidur ya?"
"Ahjussi?"
"Apa?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Tentang yang tadi.." Baekhyun menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Kau tidak menyesal, kan?"
Chanyeol tersenyum, mengangguk kecil seraya melerai rambut Baekhyun yang menutupi dahinya. "Tidak sama sekali."
"Hehe, syukurlah~"
"Maksudnya?"
"Ya, karena aku juga tidak menyesal. Aku hanya takut jika aku saja yang tidak menyesal. Itu akan sangat buruk untukku."
Kalimat Baekhyun seolah menjadi tamparan tak kasat mata bagi hati Chanyeol. Namun sebisa mungkin ia menutupinya.
"Ya sudah, sekarang tidurlah. Kau besok masih harus menjalani beberapa pengarahan untuk pesta penyambutanmu."
Ujung selimut yang sebatas kaki itu hendak Chanyeol naikkan setelah membuat Baekhyun berbaring, tapi dia kalah cepat untuk rengkuhan dari dua tangan yang melingkar di lehernya, beserta kebasahan pada bibirnya yang mengering.
Chanyeol memilih bergeming, membiarkan Baekhyun memainkan perannya sebagai seseorang yang menikmati ciuman di bawah langit malam ini. Chanyeol tidak memberi respon apa-apa ketika Baekhyun dengan caranya yang sedikit kaku melumat bibir bawahnya.
"Selamat malam, Ahjussi." ucap Baekhyun ketika ciuman sepihak itu ia tarik. Tubuhnya lalu terbaring dengan selimut sebatas dada.
"Kalau butuh sesuatu, kau bisa panggil pelayan atau menekan remot di atas nakas. Itu terhubung dengan alarm di kamarku yang ada di sebelah."
"Ya, aku mengerti."
Chanyeol meninggalkan usakan lembut di puncak kepala Baekhyun, lalu keluar kamar dalam langkahnya yang hening.
Sepeninggal Chanyeol, Baekhyun menarik semua selimut untuk menutup tubuhnya tanpa sisa. Apa yang tadi ia lakukan pada Chanyeol sungguh di luar kendali. Baekhyun yakin dia tidak pernah berniat seperti itu, tapi ternyata terlalu sulit melawan kehendak dalam dirinya untuk tidak kembali merasakan bagaimana bibirnya bersentuhan langsung dengan milik Chanyeol.
"Ah, aku pasti sudah gila." Baekhyun menangkup pipinya yang terasa memanas. Ia bahkan bisa mendengar jantungnya berdetak semakin kencang dan kebahagiaan seperti membuncah dalam kadar tak terduga. Chanyeol memiliki pengaruh besar dalam senyum lebar yang sekarang tengah Baekhyun ukir. Rasa-rasanya ini terlalu berlebihan, tapi begitulah adanya ketika eksistensi Chanyeol terasa begitu dekat.
Tubuhnya yang sudah terbaring itu Baekhyun bawa kembali untuk duduk. Telinganya ia dekatkan dengan tembok, berharap akan ada satu suara Ahjussi kesukaannya terdengar, meski ia yakin betul tembok ini tersusun dari material yang kedap suara. Tapi biarlah Baekhyun dengan harapannya itu, kebahagiaan nyatanya sedang berpengaruh besar dan tidak sadar jika sebenarnya ada perasaan lain di kamar sebelah yang sedang berat akan sesuatu.
Mereka hanya terpisah sebuah tembok, tapi sebenarnya mereka terpisah oleh sebuah status yang terlalu sulit untuk diruntuhkan.
###
Seisi penghuni istana Alexander terlihat sangat sibuk dengan semakin dekatnya acara pesta penyambutan untuk Baekhyun. Segala macam persiapan benar-benar diteliti tiap detailnya; dimulai dari ruangan, hidangan yang akan disajikan, dan yang paling utama adalah keamanan. Tidak ada yang tidak sibuk, lalu lalang para pelayan serta para bodyguard seperti tak bisa terhenti kecuali ada kepentingan alam yang tidak bisa ditunda.
Sementara sang pemain utama, Baekhyun, sedang diberi pengarahan untuk acara yang akan berlangsung besok. Keseriusannya membuat tenaga terkuras lebih banyak hingga beberapa kali ia meminta untuk jeda istirahat. Baekhyun baru kali ini dipaksa untuk memfokuskan diri pada sebuah acara formal.
Jin Goo mengatakan bahwa yang akan hadir dalam acara pesta penyambutan itu adalah mereka yang berpengaruh di Rusia dan ingin bertemu dengan keturunan terakhir Pimenova. Untuk itu, Baekhyun diminta lebih serius agar semua berjalan lancar dan para tamu undangan bisa pulang dalam keadaan senang karena melihat eksistensi Baekhyun.
"Aku ingin ke toilet." kata Baekhyun kala jeda ketiga itu ia minta. "Biarkan aku pergi sendiri." tambahnya ketika beberapa pelayan hendak mengawalnya. Seperti yang sudah lalu, ia menggunakan 'kartu kekuasaannya' agar Jin Goo tidak berceloteh ini-itu.
Well, Baekhyun pikir itu cukup berlebihan untuk pengawalan menuju kamar mandi. Memang siapa yang akan mencelakan seseorang yang sedang buang air?
Sebenarnya lebih dari itu, Baekhyun sedang mengharapkan momen tak terduga untuk bertemu Chanyeol. Seharian ini mereka tak bertemu pandang karena Jin Goo mendadak menjadi pengawal utama kala Baekhyun menerima pengarahan. Tak ada yang memberi jawaban yang pasti kenapa Chanyeol tidak ditugaskan dalam pengawalan Baekhyun. Jin Goo hanya mengatakan bahwa Chanyeol memiliki tugas lebih penting untuk acara penyambutan itu.
Setelah acara buang air selesai, Baekhyun sedikit bertindak nakal untuk berbelok ke kiri menuju dapur daripada kanan sebagai tempatnya kembali menerima pengarahan. Niatnya hanya satu, bertemu Chanyeol dan menceritakan kerinduan dari tatap mata. Lucu memang, kerinduan ini seakan tak tahu malu muncul pada diri Baekhyun hingga membuat dirinya ingin selalu melihat Chanyeol.
Lalu ketika langkah ringan Baekhyun berada di ujung pintu dapur—tempat biasa Chanyeol berada pada jam seperti sekarang—mata sipit Baekhyun refleks melengkung dan memberinya rupa senyum kebahagiaan.
Eksistensi Chanyeol masih sama; baju hitam formal melingkup tubuhnya yang tinggi, serta matanya yang terfokus pada lembaran kertas di tangan. Baekhyun menyukai bagaimana pria itu menghadirkan harapan sebagai bentuk ideal seorang yang spesial. Tubuhnya, perlakuannya, suaranya, semua memperkuat kesimpulan Baekhyun sebagai seseorang yang memiliki kelainan di hatinya berupa perasaan cinta.
"Ahjussi!" seru Baekhyun, menjadi yang pertama tersenyum ketika mata mereka saling bertemu. Kebahagiaannya siap menyambut Chanyeol yang diharapkan akan memberi reaksi serupa, tapi ternyata semua terlalu sia-sia. Pria tinggi itu hanya membungkuk sebentar padanya sebagai tanda penghormatan, lalu pergi begitu saja.
Chanyeol sebenarnya bertindak cukup wajar, namun entah kenapa, Baekhyun menangkapnya dengan cara berbeda. Remaja berumur tujuh belas tahun itu merasa ada yang aneh dari sikap Chanyeol. Pria tinggi itu terlalu kaku, ia bahkan tak memberinya senyuman hangat yang biasa ditunjukkannya.
Ada apa?
Baekhyun bertanya dalam hati tentang semua ini yang mendadak terasa menyedihkan. Anggapannya karena di sini ada beberapa pelayan yang berlalu lalang, tapi tetap saja rasanya ada yang berbeda dengan Chanyeol yang tiba-tiba pergi. Pikiran tentang ada urusan lain yang lebih penting sedang Baekhyun coba penuhi di otaknya. Dia menolak pengaruh pikiran buruk, mengingat selama ini Chanyeol tak pernah berlaku seperti itu.
###
Pesta penyambutan Baekhyun benar-benar dilakukan secara megah. Belum pernah Baekhyun jumpai seumur hidupnya ada pesta seperti ini. Makanan-makanan yang tersaji diolah langsung oleh para chef andalan, keamanan yang dibentuk berupa gabungan dari kepolisian St. Petersburg serta keamanan khusus dari istana. Semua sudah dipersiapkan secara matang, termasuk kesiapan dan penampilan Baekhyun yang ditangani khusus oleh perancang busana kepercayaan istana.
Acara akan dilaksanakan tepat pukul delapan malam, yang mana hanya bersisa dua puluh menit lagi untuk pembukaannya. Pengecekan keamanan dan segala hal sudah dilakukan, kini para pelayan serta para pengawal yang bertugas sudah menempati posisi masing-masing untuk menyambut tamu undangan yang hadir.
Baekhyun sendiri sudah dalam pakaian khusus yang memberinya identitas seorang Tuan Muda Agung dalam pesta ini. Sekilas pandang tampak air mukanya biasa saja, tak terlihat ada kegugupan yang melingkup karena ini yang pertama. Tapi sebenarnya Baekhyun sedang ada di bawah mendung yang gelap, masih memikirkan apa yang sebenarnya kesalahan yang bisa membuat hubungannya dengan Chanyeol menjadi sedingin ini.
Kiranya sikap dingin Chanyeol kemarin akan berlalu dalam kurun beberapa jam, tapi kenyataannya itu berlarut hingga Baekhyun mengucapkan selamat malam. Chanyeol masih dengan sikap mengabaikan bagi Baekhyun; menolak tatap mata ketika ada suatu momen yang membuat mereka saling bertemu, juga merespon seadanya. Mau tidak mau, ini dianggap serius oleh Baekhyun karena Chanyeol begitu berbeda setelah malam yang Baekhyun anggap begitu indah.
Sebenarnya apa yang salah? Apa karena ciuman yang Baekhyun lakukan?
Lalu sekarang, tepat lima belas menit sebelum pesta dimulai, Baekhyun membawa langkah ringannya membuka pintu kamar dan berjalan menyusuri lorong yang ada. Dalam benaknya, hanya butuh eksistensi Chanyeol untuk ia tarik dan bicara empat mata. Baekhyun benar-benar tidak tahan dengan Chanyeol yang dingin seperti ini. Apa pun yang terjadi, semuanya akan ia luruskan hari ini.
"Tuan Mud—"
Belum selesai dengan penghormatannya, Chanyeol yang kala itu berdiri di dekat pintu kamar Baekhyun, ditarik untuk masuk ke ruang baca. Pintu itu Baekhyun tutup cukup keras dan ia memojokkan Chanyeol di antara tubuhnya dengan pintu. Matanya bertaut sayu, seakan ingin dimengerti bahwa ia tidak pandai mengatasi kesedihan ini.
"A–ada apa, Tuan Muda?"
Satu tamparan di pipi kiri Chanyeol menjadi pembuka semua kemuakan Baekhyun.
Senyum lemah itu Baekhyun tunjukkan, "Kau bertanya 'ada apa' padaku, Ahjussi? Tidakkah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"
"M–maksudnya?"
"Ahjussi, kau bisa menganggapku sebagai anak kecil dengan tingkat kedewasaan yang kurang. Kau bebas melakukannya." Mata sayu Baekhyun terasa panas, tapi Baekhyun masih bisa menahan efeknya. "Tapi kau tidak bisa bertindak sesukamu seperti ini. Kau kira mudah melaluinya? Kalau ingin membunuhku, jangan lakukan setengah-setengah!"
Chanyeol bisa menangkap semua ini sebagai bentuk kekecewaan Baekhyun atas sikapnya yang dingin. Maka dari itu, dia memilih diam dan membiarkan Baekhyun menumpahkan semua rasa kecewanya.
"Ahjussi," Dan satu air mata berhasil lolos. "Katakan jika aku bersalah, katakan jika aku menyakitimu, katakan jika aku sudah membuatmu muak. Katakan semuanya!" Nada Baekhyun sedikit meninggi. Pertahanannya runtuh kala kepalanya tak sanggup lagi menengadah karena beratnya perasaan yang ia rasakan. "Tapi kumohon, jangan abaikan aku, Ahjussi.."
Chanyeol mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ingin sekali ia memeluk Baekhyun, menenangkannya, tapi peringatan Jin Goo tempo hari justru menahan niatannya.
"Jika kaubenar akan terus mengabaikanku seperti ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apa pun itu, tolong maafkan jika aku salah, tolong beri pengampunan untuk semua yang telah kulakukan hingga menyakitimu. Setelah ini, aku akan mencoba untuk tidak bergantung padamu atau siapa pun, aku akan berdiri di sini sampai akhir di atas kakiku."
Airmata sialan itu Baekhyun seka. Memalukan sekali terlihat lemah di depan Chanyeol dalam keadaan seperti ini. Kesalahan terbesar memang telah ia perbuat, untuk itu dia menyesali segala apa pun yang membuat Chanyeol kesulitan memaafkannya.
"Aku pergi."
"Jangan mencoba untuk tidak bergantung padaku jika itu terlalu sulit." Adalah apa yang Baekhyun dengar sesaat setelah tubuhnya direngkuh dalam kehangatan yang tak asing. "Jika sulit, tinggalkan. Datang padaku, aku akan melakukannya untukmu."
"Ahjussi.."
"Maaf, aku yang salah. Aku yang bodoh."
Hanya tangis yang bisa Baekhyun berikan kala usapan lembut di punggung dan kecupan tipis di puncak kepala melumerkan semua kekecewaannya.
"Tolong, jangan menangisi aku seperti itu. Aku yang salah, aku yang sudah bertindak semauku terhadapmu, Baekhyun.."
"Katakan jika aku salah.." Baekhyun terisak. Tangannya meremat jas Chanyeol.
"Kau tidak salah. Jangan menyalahkan diri dan membuatku terlihat begitu buruk. Tolong.."
"Ahjussi.."
"Sekali lagi maafkan aku. Cukuplah kau tahu jika sebenarnya aku lebih tersiksa dari apa pun," Pelukan itu Chanyeol lepas, ibu jarinya menyeka sisa air mata yang membasahi pipi yang lebih mungil. "Jangan menangis ya? Aku berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi padamu."
"Janji?" cicit Baekhyun, layaknya bocah umur lima. Dan Chanyeol mengangguk sebagai jawaban.
"Janji."
Senyuman Baekhyun pun terbentang dengan cantik kala Chanyeol memberinya senyuman hangat yang biasa ditunjukkannya. Senyum yang kini menjadi kesukaan Baekhyun.
"Terima kasih, Ahjussi~"
Keharmonisan keduanya tiba-tiba diinterupsi oleh suara di balik ear-phone nirkabel yang dipasang di lubang telinga sebelah kanan Chanyeol. Sedikit menjauh dari Baekhyun, Chanyeol menjawab panggilan itu.
"Ya, Peter?" Ada jeda sejenak saat Peter—rekan kerja Chanyeol—menjelaskan situasi yang kiranya membutuhkan bantuan Chanyeol. "Baiklah, aku akan segera ke sana." Chanyeol mengakhiri percakapan singkat itu, lalu kembali pada Baekhyun. "Aku harus pergi ke sayap kanan gedung, kau tidak apa kutinggal?"
"Tentu. Aku juga akan turun sebentar lagi."
"Baiklah, kalau begitu. Semoga beruntung, Baekhyunnie."
Menanggapi ucapan Chanyeol, Baekhyun hanya bisa mengangguk kecil sambil mengulum bibirnya. Well, kenyataannya itu hanya tameng untuk menyembunyikan rasa bahagianya yang hampir meledak. Karena benar saja, ketika Chanyeol keluar dari ruang baca, pipi Baekhyun langsung memunculkan rona mengegemaskan.
"'Baekhyunnie', katanya.." Baekhyun menangkup pipinya yang terasa panas. Senyuman lebar tak lagi bisa ia sembunyikan. Ia sangat bahagia.
Sebenarnya panggilan 'Baekhyunnie' memang tidak sekali-dua kali Baekhyun dengar dari orang terdekatnya, tapi cara Chanyeol mengucapkannya menghasilkan getaran tersendiri di hati Baekhyun. Dan dari semua orang yang pernah memanggilnya begitu, Baekhyun lebih suka jika Chanyeol yang melakukannya.
TOK TOK.
Ketukan di pintu itu sontak membuyarkan lamunan Baekhyun. Remaja bermata sipit itu berdehem sejenak, sebelum menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk. Seorang pelayan wanita muncul ke hadapan Baekhyun, tangannya memegang sebuah nampan perak.
"Ada apa?"
"Sudah waktunya, Tuan Muda." kata pelayan itu seraya meletakkan nampan yang dibawanya.
"Oh, pestanya sudah mau dimulai?"
"Tidak." Pelayan wanita itu mengambil sesuatu yang tertutup serbet di atas nampan itu. Wajahnya yang semula menunduk, kini balas menatap manik abu Baekhyun. "Sudah waktunya kau menemui ajalmu." Lalumengacungkan moncong pistol FN 57 miliknya tepat ke dahi Baekhyun.
"K–kau.." Baekhyun terbata. Wajahnya memucat dalam hitungan detik.
"Ya, ini aku." Wanita berseragam pelayan itu menyunggingkan seringaiannya. "Senang bisa bertemu langsung denganmu, Tuan Muda Pimenova."
Itu adalah sniper tempo hari.
.
.
Tergesa-gesa, Chanyeol mengayuh kedua kakinya lebih cepat menuju lantai tiga istana Alexander. Beberapa saat yang lalu, Jin Goo mengatakan bahwa ia tak bisa menemukan Baekhyun di mana pun. Padahal pesta penyambutannya akan dimulai dua menit lagi dan para tamu undangan telah memenuhi aula istana, tapi Baekhyun bahkan menghilang entah ke mana.
Jin Goo sudah memerintahkan setengah anak buahnya untuk mencari Baekhyun di setiap sudut istana, sementara yang lainnya diharapkan untuk mengendalikan para tamu undangan agar tidak terjadi kegaduhan. Chanyeol sendiri sudah mencari Baekhyun di seluruh ruangan di lantai dua, namun hasilnya tetap nihil. Dan ini mengundang firasat buruk yang sulit dihilangkan.
"Sial. Kau ada di mana, Baek?"
Menghentikan langkahnya, Chanyeol mengambil waktu untuk berpikir sejenak. Terakhir kali ia bertemu Baekhyun adalah di ruang baca di lantai dua, ia kemudian menemui Peter di lantai satu sebelum Jin Goo menghampirinya sepuluh menit kemudian. Pastilah pada jeda sepuluh menit itu saat di mana Baekhyun menghilang.
Tapi ke mana? Oleh siapa? Sistem keamanan istana sudah diperketat, tidak mungkin ada orang asing yang bisa memasuki area istana, terkecuali—
"Seseorang dari dalam membantunya masuk."
Pemikiran itu datang begitu saja ke dalam benak Chanyeol, membuat tangannya mengepal sempurna dan rahang yang mengeras menahan amarah. Memang belum bisa dipastikan siapa dalang di balik semua ini, tapi akan Chanyeol pastikan, orang itu akan membayar semua ini.
"Chanyeol." Suara Jin Goo tiba-tiba terdengar di ear-phone nirkabel Chanyeol. "Kau sudah menemukan Tuan Muda Baekhyun di lantai dua?"
"Dia tidak ada di lantai dua, Hyung. Aku sedang mencarinya di lantai tiga. Kau sendiri? Apa sudah menemukan petunjuk dari rekaman CCTV?"
"Belum. Ini aneh, di sini hanya ada rekaman ketika Tuan Muda Baekhyun berjalan di lorong lantai dua bersama seorang pelayan, tapi setelahnya mereka seperti ditelan bumi."
Alis Chanyeol bertautan mendengar sesuatu yang janggal dari perkataan Jin Goo. "Kau bilang dia berjalan bersama seorang pelayan di lorong lantai dua?"
"Ya, sekitar lima belas menit yang lalu."
Chanyeol dalam diam berpikir. Setahunya seluruh pelayan sibuk di lantai satu, mempersiapkan segala sesuatunya untuk pesta penyambutan. Sekalipun ada satu di antara mereka naik ke lantai dua untuk memberitahu Baekhyun bahwa pesta akan dimulai, itu pastilah atas perintah Jin Goo. Sekarang pertanyaannya adalah siapa sebenarnya pelayan ini? Ke mana dia membawa Baekhyun? Dan kenapa tidak ada satu pun CCTV yang menangkap keberadaan mereka?
"Aish, kenapa bisa kita lengah begini? Ini benar-benar membuatku frustrasi! Menurutmu Tuan Muda Baekhyun pergi ke mana?"
"Lima belas menit yang lalu ya?" Chanyeol memutar otaknya dengan cepat. "Jika mereka tak tertangkap oleh CCTV, logikanya mereka pasti melewati tempat yang tidak dipasang CCTV, bukankah begitu?"
"Itu tidak mungkin, Chanyeol. Hanya ada dua tempat di istana ini yang tidak dipasang CCTV; kamar mandi dan menara tertinggi. Kau pikir bagaimana mereka—"
Sama-sama tersentak oleh kemungkinan yang sama, bola mata Chanyeol dan Jin Goo membeliak utuh. Pikiran mereka tertuju pada satu tempat.
"Mungkinkah..mereka..?"
"Tidak salah lagi." Chanyeol kembali mengayuh kakinya. "Mereka menggunakan jalan rahasia di kamar mandi lantai dua."
.
.
Jauh dari keramaian, di satu menara tertinggi di istana Alexander, Baekhyun diikat kuat pada kursi yang didudukinya. Lalu di hadapannya, berdiri Rachel Yoo—si pembunuh bayaran yang juga merangkap sebagai seorang sniper.
Tak banyak pencahayaan di sana, hanya bermodalkan sebuah lampu temaram di tengah-tengah ruangan. Bukanlah hal yang aneh mengingat menara itu sudah lama tidak digunakan. Dan ini menjadi tempat yang sempurna bagi Rachel untuk menyiksa Baekhyun.
"Kupikir akan sedikit sulit untuk membawamu kemari di antara penjagaan yang ketat, tapi ternyata ini jauh lebih mudah dari perkiraanku." cibir Rachel. Didekatinya Baekhyun yang menatap awas dirinya. Rachel suka sekali melihat bagaimana remaja tujuh belas tahun itu bereaksi pada gerak-geriknya. Wajah Baekhyun akan memucat dan keringat dingin bergerak menuruni pelipisnya.
Tidak seperti pembunuh bayaran pada umumnya, Rachel takkan langsung membunuh targetnya jika sudah melihatnya tak berdaya seperti ini. Wanita cantik itu lebih suka membunuhnya secara perlahan, tepatnya melalui penyiksaan yang sebentar lagi akan ia lakukan. Entah bagaimana, itu memberinya kepuasan tersendiri.
"Wow, kau benar-benar cantik untuk ukuran laki-laki. Kau bahkan mewarisi mata nenekmu." kata Rachel sambil menatap lekat manik abu Baekhyun.
"S–siapa kau sebenarnya? Apa yang kau inginkan dariku?"
"Yang kuinginkan? Tidak ada, aku hanya sedang melakukan tugasku," Rachel menyumpal mulut Baekhyun dengan saputangan. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian tajam. "Menggantikan tugas malaikat untuk mencabut nyawamu."
JLEB!
"MMPHHHHHHHHHH!"
Erangan itu menggema kala Rachel menancapkan pisau di tangan Baekhyun. Rasanya seperti kulitnya dirobek paksa, menghasilkan kesakitan yang bahkan tak pernah Baekhyun bayangkan. Namun rasa sakitnya bahkan tak sebanding dengan ketika Rachel mencabut kembali pisau itu dari tangannya. Dan satu-satunya yang bisa Baekhyun lakukan hanyalah menatap kalut tangannya yang mengeluarkan banyak darah.
"Sebegitu sakitnya, hm? Kau mengerang cukup keras." Rachel terkekeh renyah. Tangannya memainkan pisau yang berlumurkan darah Baekhyun. "Oh, tapi malam masih panjang, Tuan Muda, dan kita baru saja mulai~"
Detik berikutnya, Rachel menempelkan pisau itu di dekat mata Baekhyun, terus menuruni pipinya dan meninggalkan sedikit luka sayat di sana, sampai akhirnya berhenti pada leher Baekhyun. Rachel tidak langsung menusuknya, ia terlebih dahulu ingin menikmati momen ketika tubuh si mungil bersurai maroon itu mulai gemetaran.
"Apa kau takut, Tuan Muda?" bisik Rachel. Bagian ujung tajam pisau itu ia arahkan ke leher Baekhyun, tepat di mana nadinya berdenyut. "Jangan khawatir. Aku akan mengakhirinya dengan cepat."
Merasa tak ada harapan lagi baginya, Baekhyun hanya mampu memejamkan matanya erat. Pikirannya melayang jauh pada orang-orang yang disayanginya; Hyorin, Jongin, Jongdae, juga Chanyeol. Bagaimana ia takkan pernah bertemu mereka lagi tanpa sempat mengatakan bahwa ia menyayangi mereka, bahwa hanya sebuah kehidupan sederhana bersama merekalah yang ia angankan.
Bukan seperti ini.
DOR!
Bersamaan dengan suara pistol yang berdengung, Baekhyun melihat pisau Rachel terpental jauh ke sudut ruangan. Ia menoleh cepat ke pintu masuk, airmatanya terbendung penuh kala sosok Chanyeol berdiri di sana dengan napas memburu.
"Singkirkan tangan kotormu darinya, sialan."
Rachel tersenyum miring. Ia tegakkan tubuhnya, balas menantang Chanyeol dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Wah, wah, coba lihat siapa yang menjadi pahlawan kesiangan di sini? Park Chanyeol sang bodyguard. Aku sudah mendengar tentangmu. Bukankah kau agak terlambat untuk menyelamatkan Tuan Muda-mu?"
"Diam kau."
"Wow, apa itu adalah ancaman?"
"Tidak, itu adalah hal yang akan terjadi jika kau berani menyakitinya."
Tawa Rachel menggema keras di sana, meremehkan Chanyeol. "Memang kau mau melakukan apa, hah? Membunuhku? Oh, Park, kau masih belum paham rupanya." Tangan Rachel mengelus lengan Baekhyun secara perlahan, lambat laun semakin turun menuju tangan Baekhyun yang masih mengeluarkan darah. "Dia akan mati kehabisan darah, bahkan sebelum kau sempat membunuhku." Kemudian meremat kuat tangan Baekhyun sampai erangan yang lebih keras mendominasi situasi menegangkan itu.
"Sialan."
Tak bisa membendung emosinya lagi, Chanyeol tak elak meluncurkan sebuah tembakan pada Rachel. Namun wanita cantik itu bergerak lebih cepat. Ia berguling ke samping, mengambil pistol FN 57 miliknya di balik mantel, lalu membalas tembakan Chanyeol.
Tak banyaknya benda yang bisa mereka gunakan sebagai tameng, menjadikan keduanya harus pintar-pintar melindungi diri dari serangan musuh dengan memanfaatkan beberapa pilar dalam ruangan itu. Satu sama lain terus saling melemparkan tembakan, tanpa menghentikan pergerakan kaki guna mencuri celah.
SYUT!
Dan Rachel berhasil melakukannya. Salah satu pelurunya mengenai bahu Chanyeol, membuat pertahanan si jangkung sedikit goyah. Hal itu dimanfaatkan Rachel dengan berlari ke sudut ruangan untuk mengambil pisaunya dan kembali bersembunyi di balik pilar. Sadar bahwa pelurunya hanya tersisa satu, Rachel kemudian meluncurkan tembakan terakhirnya ke pistol SPS Chanyeol sehingga senjata api itu terpental jauh. Dengan begini, pria tinggi itu tak bisa menyerangnya dari jarak jauh.
"Mari kita akhiri ini, Park."
Chanyeol mendengus keras melihat Rachel menggenggam erat pisaunya. Ia kemudian turut mengeluarkan pisaunya sambil menyeringai pada wanita itu. "Sepertinya kau memilih cara yang salah, Nona."
"Kita lihat saja nanti."
Pertarungan pun dimulai dengan serangan Rachel yang mengarah pada dada Chanyeol, namun sialnya itu berhasil digagalkan Chanyeol dengan menunduk. Pria bersurai ebony itu bergerak cepat ke belakang sang sniper, mencuri celah kosong untuk menusukkan pisaunya di bahu Rachel.
"Argh!" Rachel memegang bahunya yang terluka. Ia menggeram marah.
"Kupikir kau juga ahli dalam bermain pisau, tapi nyatanya keahlianmu hanya sebatas menarik pelatuk ya?"
Sindiran Chanyeol sukses menyulut emosi Rachel. Wanita cantik itu menyerang Chanyeol kembali, kali ini gerakannya meliar. Satu-satunya tujuannya hanyalah menusuk tubuh Chanyeol. Pikirnya, jika ia setidaknya bisa mengenai beberapa titik fatal, ia bisa mengalahkan Chanyeol.
Berbeda dengan Rachel, gerakan Chanyeol yang sekarang justru jauh lebih cepat ketimbang saat ia menggunakan pistol. Chanyeol akan dengan mudahnya menghindari serangan Rachel, lalu melancarkan serangan dadakan yang Rachel tak bisa prediksi. Pria tinggi itu bahkan tak sekali-dua kali menendang perut dan kakinya.
Di saat Rachel berusaha menegakkan tubuhnya yang nyaris roboh, Chanyeol melirik Baekhyun melalui ekor matanya. Wajah laki-laki mungil itu tampak pucat, kesadarannya pun mulai berkurang. Chanyeol sadar ia tak bisa membuang lebih banyak waktu. Baekhyun bukanlah dirinya yang bisa bertahan sekalipun tubuhnya mengeluarkan banyak darah. Ia harus segera mengalahkan Rachel.
"Seperti katamu tadi," Chanyeol berlari menuju Rachel. "Kita akhiri ini sekarang juga!"
Beberapa serangan bertubi Chanyeol lancarkan, sementara Rachel berusaha menangkisnya. Sedikit banyak posisi Rachel tidak terlalu menguntungkan karena beberapa luka di tubuhnya, terlebih Chanyeol tak memberinya celah kosong untuk membalas atau sekedar mengatur napas. Chanyeol terus mengarahkan pisaunya pada Rachel dan berhasil melumpuhkan wanita itu dua menit kemudian, setelah ujung pisaunya mengenai kaki dan punggung Rachel.
Rachel tentu saja belum benar-benar kalah, namun ia tersudut. Tubuhnya mulai tak bisa menolerir rasa sakit dan tenaganya sudah terkuras banyak. Melihat kesempatan emas itu, Chanyeol berniat untuk mengakhiri pertarungan ini, namun semuanya terhenti karena Baekhyun yang tak lagi sadarkan diri di tempatnya.
"Baekhyun!" seru Chanyeol, berlari menghampiri Baekhyun.
Memanfaatkan momen itu, Rachel pun melarikan diri dari sana. Kendati tertatih, ia paksa kedua kakinya untuk berlari. Tak peduli ke mana, yang pasti ia harus menjauh dari Chanyeol atau nyawanya akan melayang.
"Cepat, menuju menara tertinggi!"
Seruan Jin Goo yang tak jauh dari tempat Rachel, sontak menghentikan laju wanita itu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari tempat bersembunyi yang sekiranya tidak mencurigakan. Tapi belum ada lima detik, tangannya tiba-tiba ditarik seseorang ke dalam sebuah ruangan.
"Bodoh!" Sebuah suara berat seorang pria menghardik Rachel, terdengar tak begitu lantang tapi cukup menunjukkan kemarahan. "Aku memintamu bekerja bersih! Bukan menyulut kematianmu sendiri seperti ini!"
Rachel terpaku sebentar, setelah itu dia menyeka sisa amis darah yang keluar dari ujung bibirnya karena pertarungannya dengan Chanyeol. "Anggap aku sedikit lengah karena terlalu banyak bermain."
"Jika sudah seperti ini, kau merusak semua rencanaku!"
"Kau terlalu cepat membuat keputusan." Senyum sepihak itu Rachel tunjukkan. Dia tidak terlalu suka kerjanya yang belum maksimal sudah diremehkan. "Kesempatan masih banyak menunggu kita. Tinggal tentukan waktunya."
"Ini adalah waktunya!" sentak pria itu. Sorot matanya yang tajam memandang lurus ke depan, tepat pada menara tertinggi. "Apa pun yang terjadi, salju harus tetap turun. Dengan begitu, semua kekayaan Pimenova akan menjadi milikku."
Kemarahan itu semakin menguat, mengakar sampai merusak sifat kemanusiawian. Pria itu mendendam dan tak bisa menghentikan barang sejenak. Dia membiarkan kebencian terus menebal hingga tak menyadari di luar sana secara tak sengaja Chanyeol mendengar sendiri pembicaraan itu.
Keterkejutan jelas Chanyeol rasakan, dia yakin tidak ada yang luput terdengar oleh telinganya dan dia bisa mengerti jelas siapa pemilik suara itu. Pemilik suara yang tidak ia sangka telah merencanakan perbuatan keji.
Pembunuhan Baekhyun.
TBC
A/N (parkayoung): Jiaaaahh TBC lagi, hehe.. sedikit bercerita, genre ini sebenarnya bukan zona aman saya sebagai seorang author. Tapi ketika ditawari ikut ambil andil menulis, tentu saya mau. Itung-itung nambah pengalaman. Jujur, saya tidak pernah berekspektasi apa-apa pada hasil tulisan saya. Semata karena saya memang suka nulis dan jika dapat feedback pembaca saya jadikan reward tak terduga. Dan saya senang untuk itu. Saya juga mau mengucapkan terima kasih yang sudah mengikuti ENIGMA sejauh ini. Latar cerita ENIGMA mungkin asing buat kalian, tapi kami selalu mencoba untuk mengolahnya tidak terlalu rumit dengan menggabungkan latar saat ini. Terima kasih. Saranghaeyo =) see you later...
A/N (Azova10): NAH, jadi siapa yang kalian curigai sebagai dalang di balik semua ini? Kekeke~
PS. Di hari besar umat kristiani ini, kami apdet jamaah bareng author purflowerian, peachybloom, dobbyuuudobby, gloomy rosemary, valbifleur. Langsung aja cek apdetan mereka~
