Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre: Family, Drama, Hurt/comfort, Slice of Life, Romance
Main Character : Naruto, Hinata, Bolt & Himawari
Warning: Typo(s), banyak kesalahan, penuh kekurangan, kamu bisa memilih untuk kembali dari pada harus terjerumus pada lubang bernama kisah ini.
Liekichi-chan
Proudly Presents
*つないだ手*
"Ayah, lihatlah! Kak Bolt mencuri karage milik Hima."
Satu hari tidak menjahili Himawari adalah hal yang paling mustahil bagi Bolt. Ada kepuasan tersendiri setiap kali mendengar rengekan adiknya. Biar sudah dilarang sekalipun, dia akan tetap melanjutkan keisengannya sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Bolt, jangan jahili adikmu terus." Naruto masih sibuk dengan dasinya. Dia harus bergegas.
"Tidak yah, aku cuma ingin mencicipi karage manis punya Hima sedikit saja. Tapi dia pelit sekali."
"Kakak sih! Masih banyak karage di atas piring yang itu. Kenapa mengambil punya Hima?"
"Habisnya yang punya Hima ukurannya jauh lebih besar."
Hinata menarik hidung Bolt sebagai hukuman karena selalu saja mengusili adiknya. Kalau tidak dihentikan mereka semua bisa terlambat.
"Bolt, lihatlah jam. Kalian bisa terlambat kesekolah kalau terus mempermasalahkan karage. Cepat habiskan makanannya."
"Hehe iya bu." Si pirang tersenyum senang. Akhirnya suasana yang ia rindukan bisa kembali lagi.
Naruto tampak kesulitan dengan kancing pada lengan kemejanya. Melihat hal itu, Hinata langsung membantu dengan cekatan. Tak lupa merapikan dasi yang terpasang agak miring di kerah kemaja suaminya.
"Terimakasih." Ucap Naruto lembut sambil mengelus pipi Hinata. Pria itu lantas meneguk segelas susu hangat yang telah disiapkan oleh sang istri dan kemudian mengelap sisa susu dipinggiran bibirnya dengan selembar tissue.
Pagi ini harus mereka lalui dengan agak tergesa.
"Maaf kalian semua jadi buru-buru begini. Aku lupa menyetel alarm karena sangat kelelahan setelah beres beres kemarin."
"Tak apa." Jawabnya lembut.
"Bentonya sudah aku letakkan didalam tas kerja. Jangan lupa makan siang. Kabari aku kalau sudah sampai di kantor. Jangan ngebut dijalan ya. "
"Iya sayang." Satu kecupan lembut mendarat di dahi Hinata.
Naruto melirik kearah jam dinding kemudian beralih melihat anak-anak yang tampaknya masih asyik dengan sarapan mereka.
"Bolt, Hima, Ayah beri waktu tiga menit lagi dan kalian harus selesai."
"Hima sudah selesai kok yah."
"A-aku jyuga yah~" Mulut Bolt tampak penuh dengan makanan. Tapi ternyata mereka memang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Kalau begitu habiskan susunya lalu pamitan dengan Ibu. Kita akan berangkat."
"Siap yah." Jawab keduanya serempak.
Hinata tersenyum melihat sikap Naruto kepada kedua anaknya. Kalau sikap tegas sang Ayah sudah keluar, baik Bolt maupun Himawari pasti akan mengikuti instruksi tanpa bantahan sedikitpun.
Himawari memakai tasnya dengan segera, begitu juga dengan Bolt. Setelah mencium pipi sang Ibu, mereka lantas pamit untuk pergi ke sekolah.
"Ibu, kami berangkat ya."
"Iya. Belajarlah yang baik di sekolah."
"Iya bu."
*つないだ手*
"Hanabi, kakak tidak mau tahu. Pokoknya begitu sampai tujuan kau harus memberi kabar kepada kakak."
Orang yang dikhawatirkan justru terkekeh geli. Walau sudah dewasa begini, tapi kakaknya masih sering memperlakukan dirinya sebagai adik kecil.
"Iya kak, iya. Tenang saja. Jangan mengkhawatirkanku seperti itu. Aku sudah besar tau! Sudah jadi dokter lagi. Lagipula aku hanya akan keluar kota selama tiga bulan saja."
"Iya, kakak mengerti. Tapi jangan lupa jaga kesehatanmu. Kakak tidak ingin kau sakit selama disana. Jangan makan terlambat dan jangan tidur terlalu larut."
"Hahaha wah wah, aku dapat ceramah nih. Baiklah kakakku yang cantik."
Hinata menyeka air matanya. Hanabi adalah satu-satunya adik yang ia miliki. Wajar jika ia mencurahkan seluruh kasihnya sebagai seorang kakak.
Jika bukan darinya, maka dari siapa lagi Hanabi bisa menerima seluruh rasa sayang sebagai keluarga?
"Kalau sehari saja tidak memberi kabar, maka kakak yang akan menerormu."
Hanabi tertawa renyah mendengar ancaman manis tersebut dan lantas memeluk erat sang kakak.
Kakaknya tetaplah kakak Hinata yang cengeng. Padahal dia hanya pergi untuk urusan pekerjaan, tapi sudah menangis seperti ini.
"Iya kak, pasti akan aku kabari. Kalian juga ya, baik-baik selama aku tidak disini. Aku tidak ingin mendengar pertengkaran apapun lagi. Aku sangat senang karena kalian sudah berkumpul sekarang. Aku ingin melihat kalian seperti dulu. Bahkan harus lebih baik dari yang dulu. Kakak juga, tolong jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah, makan yang bernutrisi, dan istirahatlah yang cukup. Tolong sampaikan salamku untuk Naruto, Bolt dan Himawari ya. "
Hinata membalas pelukan sang adik. Lagi-lagi matanya memerah.
Sejak kecil mereka sudah terbiasa bersama. Apa yang menjadi milik Hinata adalah milik Hanabi. Kebahagiaan Hinata adalah kebahagiaan Hanabi. Tidak pernah sekalipun sang adik menangis karena keegoisan kakaknya.
Begitulah Hinata, selalu menjadi bidadari berhati putih. Itulah alasan yang membuat Hanabi begitu menyayanginya.
"Iya. Maaf karena mereka tidak bisa mengantarmu ke bandara. Naruto harus bekerja sedangkan Bolt dan Hima harus sekolah. Banyak hal yang terlewatkan selama masalah kemarin. Mereka harus kembali pada rutinitas masing-masing."
"Aku mengerti. Lagipula aku tidak apa-apa kalau tidak diantar. Kakak saja yang terlalu khawatir." Canda Hanabi sambil melepas pelukannya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kakak jelek kalau menangis."
Satu kecupan sayang mendarat di pipi Hinata sebelum akhirnya Hanabi pamit untuk pergi dan melaksanakan tugasnya.
"Hati-hati, Hanabi-chan."
"Tentu."
Hinata memandangi tubuh sang adik yang perlahan menjauh dan melambaikan tangan kearahnya.
Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia menemani Hanabi kecil untuk bermain, menyisir rambutnya dan menyuapinya. Tapi sekarang ia bahkan sudah menjadi seorang Bibi dari kedua anaknya.
Hinata bersyukur karena adiknya menjadi sosok yang sangat mandiri. Kalau diingat-ingat saat mereka kecil dulu, Hanabi tidak akan pernah bisa tanpa Hinata. Apapun yang akan dia lakukan harus dengan bantuan kakaknya. Pelajaran hidup memang akan dibimbing oleh waktu dan Hinata yakin pasti adiknya akan mendapatkan yang terbaik.
Wanita itu membalikkan tubuhnya dan berjalan perlahan. Dalam hati ia mendoakan sang adik agar sehat dan selamat sampai tujuan.
*つないだ手*
"Hyuuga Hinata?"
Hinata mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang menyebut namanya. Bibir mungilnya sedikit menganga – tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut yang terukir disana.
"Ah, maksudku Uzumaki Hinata."
Wanita itu mengerti dengan atmosfir ini.
Perasaan canggung dan tentunya sebuah perasaan lain yang sangat sulit untuk dideskripsikan. Biar bagaimanapun sosok berpostur tinggi yang sedang menatapinya adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari kisah hidupnya semasa di Universitas. Dan jika ada perasaan kesal yang perlahan muncul, itu juga merupakan sisi manusiawi dari dirinya yang berteriak menuntut penjelasan kenapa harus dirinya yang dijadikan sebagai objek permainan.
"Ya, Sasuke-san. Lama tidak bertemu."
Hatinya bergejolak ingin marah, namun ada sisi lain yang menyuruhnya untuk tetap tenang.
"Aku dan Hanabi berada di jalur penerbangan yang berbeda. Aku hanya tidak sengaja melihat kalian berdua, jadi aku putuskan untuk menunggu sebentar agar bisa menemuimu."
"Oh begitu."
Hinata sadar bahwa Sasuke hanya ingin menjelaskan keadaan yang membuat mereka bisa bertemu hari ini setelah sekian lama.
Waktu bagaikan berhenti untuk mereka berdua. Kebisingan yang sempat ia rasakan beberapa detik yang lalupun bagai lenyap entah kemana.
Kalau boleh jujur dia tidak ingin bertemu dengan Sasuke ataupun Shion lagi. Bertemu dengan mereka hanya akan membuat lukanya kembali menganga. Walau keadaan rumah tangganya sudah membaik, namun tetap saja ada nyeri yang menyerang tiap kali mengingat permainan yang mereka lakukan untuk dirinya.
Mungkin luka itu bisa sembuh, tapi tidak dengan bekas yang akan terpatri disana. Samar ataupun tegas, bekas tetaplah bekas dan akan tetap demikian.
Butuh waktu untuk melupakan semuanya hingga tuntas.
"Maaf."
Satu Kata.
Penuh Makna.
Kembali, rasa nyeri menyerang dadanya.
Hinata memilih untuk diam.
"Aku minta maaf untuk semua yang telah kulakukan."
Sasuke berucap dengan nada yang begitu lemah, tulus dan Hinata yakini bahwa kalimat itu terlontar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tangannya mengepal dengan sangat kuat. Dia menahan segala emosi yang hampir keluar.
"Aku berani bersumpah bahwa dia sangat mencintaimu. Naruto sangat mencintaimu."
Wanita itu mengerti kemana aliran pembicaraan ini. Benar, dirinya adalah sebuah objek taruhan. Mana mungkin Naruto bisa mencintainya begitu dalam jika dasar dari hubungan mereka hanyalah sebuah permainan. Hinata ingin mengelak, tapi kilatan serius di mata Sasuke benar-benar nyata. Tidak ada keraguan sama sekali.
"Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu. Aku tidak ingin dengar tentang latar belakang dari permainan dan pengabdian konyol kalian. Lupakan saja. Aku sudah tidak apa-apa."
"Tapi matamu tidak sedang berkata demikian."
"Kumohon jangan singgung apapun lagi."
"Apa dia pernah menceritakan perihal tiga anak panah yang menancap di perutnya?" Sambar Sasuke cepat.
"Ya."
"Aku adalah pelakunya."
Permata abu-abu rembulannya membelalak kaget.
Mereka bersahabat. Lalu bagaimana mungkin Sasuke sampai setega itu?
"Tidak sampai disitu saja, bahkan setelah beberapa bulan dia sembuh, aku masih memberikan hukuman lain untuknya karena sudah masuk kedalam perjanjian itu dan jatuh cinta padamu." .
Pria itu memberikan tatapan pilu.
"Jujur, saat kau menolakku, itu adalah kali pertama aku ditolak oleh seorang wanita. Selama ini aku bisa dapatkan apapun yang ku mau. Tapi kau berbeda Hinata, kau melihat Naruto dari sisi yang lebih dalam dan tidak pernah sekalipun berpaling untuk melihatku. Kau mencintainya dengan tulus dan itulah yang membuat Naruto berbalik untuk mencintaimu."
Sasuke meneguk ludahnya sendiri untuk menghilangkan perasaan aneh yang menyusup ke dadanya. Dia terlalu menyesal.
"Aku mengolok Naruto berkali-kali dan memutuskan persahabatan kami. Tidak peduli seberapa banyak pukulan yang kuarahkan ke wajah sialannya, dia akan tetap menerima semua perlakuanku asalkan aku tidak mengganggu, menyakiti dan memberitahumu tentang permainan bodohku. Dia terlalu takut kehilanganmu sampai rela menerima semua rasa sakit. Aku menyerangnya bertubi-tubi seolah-olah dia adalah musuh yang harus aku hancurkan."
Ada ribuan kata maaf yang ingin dirinya ucapkan namun masih tersangkut dikerongkongan. Sebenarnya ini adalah kesempatannya, tapi Sasuke masih belum berani untuk bertemu Naruto. Entah mau dimana ia letakkan wajahnya jika harus bertemu sahabat yang telah dirinya sakiti itu.
"Setiap kali ku katakan kalau aku akan menyakitimu, maka dengan bodohnya dia akan mengajukan diri dan siap untuk aku pukuli sampai babak belur. Aku pikir dia akan goyah, berlalu meninggalkanmu, dan menganggap bahwa kau adalah malapetaka untuknya. Tapi ternyata aku salah besar. Rasa sayangnya terhadapmu justru semakin bertambah setiap hari dan jujur aku belum pernah melihat ikatan yang sekuat itu sebelumnya."
Walau hanya sedikit, tapi Sasuke tahu kalau bahu Hinata melemas setelah mendengar cerita yang ia sampaikan.
Ia hanya ingin menceritakan kebenaran. Tidak ada sedikitpun kebohongan disana.
"Naruto adalah orang bodoh yang selalu melindungimu tanpa sepengetahuanmu. Kau adalah kelemahannya. Dia mengorbankan banyak hal untuk bisa bersamamu sampai hari ini. Itu sebabnya aku berani bertaruh nyawa bahwa dia sangat mencintaimu. Tapi berkat kebodohannya itu akhirnya aku sadar bahwa cinta sejati itu memang ada. Aku merasakan apa yang dia rasakan. Aku menemukan Sakura dalam hidupku dan itu membuatku berhenti menjadi pria kurang ajar."
"Dia tidak bodoh." Balas Hinata lemah. Matanya menerawang jauh kemudian ingatannya kembali pada pertengkaran besar yang pernah melanda cinta mereka.
"Mungkin aku tidak sepenuhnya tahu tentang masalah yang terjadi dengan keluarga Uzumaki. Tapi aku menebak semua ini pasti ada hubungannya dengan Shion, karena ada nama Shion tertulis disana. Dan jika ini benar tentang Shion, maka aku jugalah penyebab rantai masalah diantara kalian."
"Bagaimana kau bisa tahu? Dan, tertulis disana? Apa maksudmu?"
Sasuke mengambil sesuatu dari dalam saku jaket miliknya dan lantas menyerahkannya kepada Hinata. Ada senyuman lemah yang ia tujukan pada wanita dihadapannya.
"Ternyata dunia ini kecil sekali ya. Aku tidak menyangka kalau mereka berteman. Karena aku terlambat menjemput putriku, dia sampai harus menunggu sendirian di ruang kelas. Aku menemukan ini tergeletak dilantai dan sudah dengan lancang membacanya. Aku pikir itu hanya kertas tak terpakai, tapi ternyata isinya sangat berharga. Mungkin saja pemiliknya lupa atau tidak sengaja menjatuhkannya."
"Apa ini?"
"Ambil saja dulu. Nanti kau juga akan tahu."
Hinata mengamati pemberian Sasuke dengan seksama. Kertas itu terlipat sangat rapi.
Satu lagi pemeran yang menjadi penyebab teka-teki dalam hubungannya datang tanpa ia duga. Sekarang semuanya menjadi masuk akal dan kebohongan kecil serta pertanyaan yang selalu Hinata simpan untuk dirinya terjawab sudah.
Kesal atau bahagia? Hinata bahkan tidak mengerti dengan perasaan yang sedang ia rasakan. Yang jelas matanya terasa sangat panas.
"Tolong sampaikan maafku padanya. "
*つないだ手*
Naruto tersenyum lebar saat melihat panggilan masuk pada ponselnya. Tumben sekali Hinata mau menghubunginya disaat jam kerja seperti ini.
"Halo istriku yang cantik~" Candanya jahil seraya membuka percakapan diantara mereka.
Hinata masih belum menjawab.
Masih tertegun mendengar lantunan yang penuh kasih sayang dari bibir suaminya.
"Halo Hinata-chan~ Kenapa diam saja?"
Wanita itu menarik sudut bibirnya. Pandangannya melemah.
"Hinata-chan?"
Walau tidak dapat melihat ekspresi sang suami, tapi Hinata tahu kalau seseorang diujung sana mulai menunjukkan kekhawatiran.
"..."
"Hinata?"
"Ya." Jawabnya agak serak.
"Kenapa lama sekali baru mau bicara? Kau membuatku ketakutan."
"Apa aku mengganggu?"
Bukannya menjawab, wanita itu justru membuat pertanyaan yang baru.
"Tentu tidak. Justru aku senang karena mendapat telepon darimu. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak."
"Apa ada yang mengganggu atau menyakitimu?"
"Tidak juga. Aku hanya ingin menyapa."
"Oh ayolah~ Pasti istriku yang cantik ini sedang merindukan suaminya. Benar begitukan? Haha~"
"Iya." Sambar Hinata cepat.
Tawa Naruto hilang seketika.
Harusnya ia merasa senang karena sang istri merindukannya. Tapi ada hal lain yang terasa mengganjal. Dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dengan istrinya. Hinata jarang seterus terang seperti sekarang.
"Kau yakin baik-baik saja?"
"Ya."
"Apa kau sudah makan siang?"
"Harusnya aku yang bertanya."
"Sebelum disuruh, aku sudah lebih dulu menghabiskan bento buatanmu tanpa sisa."
Sepertinya Hinata memang sedang tidak baik. Terbukti dari heningnya keadaan yang lagi-lagi tercipta. Dia tidak menanggapi dengan antusias.
Cukup lama keduanya terdiam sampai suara lembut itu kembali terdengar.
"Syukurlah. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya, Naruto-kun."
*つないだ手*
Pukul sepuluh malam dan Hinata masih berkutat dengan benang merah yang ada ditangannya. Dia ingin menyelesaikan rajutan syal yang diminta oleh suaminya.
Sesekali ia akan melirik kearah Naruto yang masih asyik bermain dengan Bolt dan Himawari. Sepertinya sang Ayah membelikan buku cerita baru untuk Himawari dan Komik untuk Bolt. Padahal sudah ia katakan untuk tidak membelikan komik terlalu banyak, tapi tetap saja suaminya itu tidak tega melihat si sulung yang terus-terusan meminta kepadanya.
Kalau boleh jujur, hatinya memang sedang tidak tenang.
Pengakuan Sasuke saat di bandara benar-benar mengganggu konsentrasi.
Naruto mengorbankan banyak hal untuk bisa bersamanya termasuk dengan rela menerima pukulan dari Sasuke. Pantas saja dulu saat mereka masih pacaran, Hinata sering melihat memar dan banyak tempelan plaster diwajah Naruto. Terkadang plaster itu bertengger di hidung, pelipis, pipi, rahang bawah bahkan di dahinya. Sudut bibirnya juga kerap kali kering dan berdarah. Setiap kali Hinata bertanya, Naruto hanya akan menjawab kalau itu cuma sariawan biasa.
Naruto juga sering melarangnya melewati ruang panahan dengan berbagai alasan yang ia ciptakan sendiri.
"Bekas ini adalah bukti kalau aku selalu mencintaimu. Ini adalah luka yang kudapat ketika dengan tegas aku mendeklarasikan untuk memilih Hyuuga Hinata. Tiga anak panah tertancap disini.Perdarahan hebat, muntah darah, dan kalau bukan karena Kiba yang membawaku kerumah sakit mungkin aku sudah mati."
Nafasnya tercekat saat kalimat itu kembali terngiang di telinga. Hinata menatapi Suaminya dari kejauhan.
"Tidak peduli seberapa banyak pukulan yang kuarahkan ke wajah sialannya, dia akan tetap menerima semua perlakuanku asalkan aku tidak mengganggu, menyakiti dan memberitahumu tentang permainan bodohku. Dia terlalu takut kehilanganmu sampai rela menerima semua rasa sakit."
Hinata merasakan nyeri itu lagi. Naruto berkorban terlalu banyak.
"Setiap kali ku katakan padanya kalau aku akan menyakitimu, maka dengan bodohnya dia akan mengajukan diri dan siap untuk aku pukuli sampai babak belur."
Wanita itu meremas syal yang berada ditangannya tanpa sadar. Air matanya menetes.
"Bu, apa Ibu masih merasa sakit? Kalau iya, Ibu boleh mengadu padaku kapanpun Ibu mau. Ibu boleh menangis sejadi-jadinya sambil memelukku. Bahkan Ibu juga boleh memukulku kalau itu bisa membuat rasa sakitnya berkurang."
Puncak dari pertahanannya adalah ketika isi hati sang putra kembali muncul dalam ingatannya. Hinata membekap mulutnya dengan sangat kuat.
"Kenapa kalian berdua sama saja? Rela melakukan apapun demiku termasuk menyakiti diri sendiri."
Akhirnya Hinata mengerti dengan perasaan aneh dan rasa panas yang menjalari kedua permata miliknya. Adalah rasa syukur dan haru yang menuntut ingin dibebaskan dan diekspresikan oleh si pemilik hati.
Naruto membelalak kaget saat melihat keadaan Hinata yang sudah menangis. Ia segera menghampiri istrinya setelah memastikan bahwa pintu kamar sang anak tertutup rapat tanpa membuat kebisingan yang bisa mengganggu tidur Bolt dan Himawari.
"Hey, apa yang terjadi?"
Duduk di atas sofa, Naruto mendekati istrinya dengan perlahan. Tangannya mengusap lembut airmata yang mengalir di pipi Hinata.
"Apa yang terjadi hah? Kenapa menangis begini?"
Dia mulai panik. Takut kalau melakukan kesalahan lagi yang bisa membuat Hinata menjauh.
"Aku tidak apa-apa. Dimana Bolt dan Himawari?" Bibirnya bergetar. Wanita itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sudah tidur. Apa yang terjadi denganmu?"
"Tidak terjadi apapun. Semuanya baik-baik saja." Bohongnya sambil menatapi wajah sang suami. Airmatanya tidak mau berhenti.
Biru laut Naruto selalu memancarkan kasih sayang. Memang sudah begitu dan akan selalu begitu. Pandangan paling teduh dan paling nyaman adalah sorot mata milik suaminya.
"Kau tidak pintar berbohong, Hinata. Kau melamun sejak tadi. Beberapa kali Bolt dan Himawari memanggilmu, tapi kau justru memberikan tatapan kosong kepada mereka. Siang tadi saat kau meneleponku, aku juga tahu kalau kau sedang memikirkan sesuatu. Jangan membohongiku."
Ekspresi Naruto menunjukkan bahwa ia sedang menuntut penjelasan.
Hinata menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
"Jangan membodohiku lebih dari ini. Sekali lagi aku tanya, apa yang terjadi denganmu? Tolong beritahu aku. Kalau ada masalah, kita cari jalan keluarnya bersama. Apa aku menyakitimu lagi? Kalau iya, kau boleh menghukumku sesuka hati. Asalkan jangan meninggalkanku. Aku tidak bisa tanpa kalian." Pria itu menangkupkan kedua tangannya pada wajah kecil Hinata. Dia ingin istrinya berkata jujur.
Jika masih ada persyaratan yang harus dirinya lakukan sebagai penebus dosa dimasa lalu karena sudah merahasiakan hal penting dari Hinata, maka ia akan tebus semua.
Semuanya, tanpa sisa.
"Aku menyakiti kalian." Hinata berteriak parau. Wanita itu lantas memeluk suaminya dengan sangat kuat.
Kenapa Naruto lemah terhadapnya? Kenapa Naruto yang harus mengemis untuk bisa bersamanya? Siapa yang lebih dulu mencintai dan siapa yang dicintai? Tidak adil kalau suaminya terus-terusan memohon padahal perjuangannya sendiri masih belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan Naruto.
Dia merasa bersalah. Juga merasa berdosa.
Dia hanya Hyuuga Hinata sebelum Naruto berikrar untuk selalu mencintainya dan mengikat hubungan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Jika bukan karena Naruto maka dirinya tidak akan pernah menjadi Uzumaki Hinata.
Dia hanya gadis biasa yang bahkan tidak populer sama sekali. Lalu bagaimana mungkin Naruto yang hebat dan memiliki segalanya rela mengorbankan banyak hal demi dirinya? Hinata hanya tidak ingin rasa cinta yang terlalu besar membuat Naruto harus terluka lagi. Pria itu sudah terlalu banyak menderita karenanya.
"Maaf dan Terimaksih karena selalu mencintaiku dan menahan banyak rasa sakit sejak dulu. Aku tidak akan ragu lagi. Aku percaya padamu sepenuhnya."
Pria itu tertegun, kemudian balas merengkuh tubuh kecil istrinya. Naruto mencium puncak kepala Hinata begitu lama dan dalam.
Dia ingin agar Hinata mengeluarkan segala hal yang mengganjal dihatinya.
"Aku sudah tahu semuanya. Sasuke sudah menceritakan kebenaran padaku"
"Sasuke?"
"Iya. Aku bertemu dengannya siang tadi. Aku sudah dengar tentang permainan konyol kalian. Aku sudah tahu banyak kebenaran, jadi Naruto-kun tidak boleh merasa bersalah dan menyakiti diri sendiri lagi."
Seulas senyum menyinggahi bibirnya. Sekarang semua beban sudah hilang.
Setiap masalah akan selesai dengan penyelesaian yang memang telah ditakdirkan. Yang paling susah adalah bertahan dikala badai datang dan memporak porandakan keteguhan hati. Selama ini Hinata hanya terfokus pada rasa sakit yang dirinya rasakan, tapi tidak pernah sedikitpun menyelami rasa sakit yang selalu dikunci rapat oleh Naruto. Andai dirinya bisa, maka ia akan ciptakan serpihan sihir yang dapat menutup luka menganga dihati suaminya.
Cukup lama Hinata menceritakan kejadian yang dia alami hari ini. Terkadang Naruto akan tersenyum kecut ketika mendengar bahwa Sasuke mengoloknya habis-habisan. Lalu setelahnya dia akan tersenyum tulus dan mengusap rambut sang istri untuk membuatnya tetap tenang. Pandangannya menatap jauh kedepan, tapi pelukannya tidak sedikitpun mengendur. Memeluk dan mencium Hinata adalah sumber ketenangan untuk batinnya.
Hinata adalah masa depannya dan keputusan itu sudah ia mantapkan sejak wanita itu berhasil merenggut seluruh kasih sayang yang ia miliki. Jangankan rasa sakit yang tidak seberapa, bahkan nyawa pun akan ia korbankan.
Dimana lagi ia bisa mencari wanita sehebat Hinata? Yang selalu percaya, selalu mencintai, selalu memberi kasih sayang, selalu berkorban dan selalu memaafkan. Jika Naruto tidak bisa membalas semua ketulusan itu, maka ia gagal sebagai seorang pria.
Selalu ada hikmah dari setiap kejadian dan jika mengingat kebelakang, kalau bukan karena Sasuke mungkin dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Hinata. Dalam hati pria itu mengucapkan banyak terimakasih.
Sasuke benar-benar menjadi cahaya kali ini. Seburuk apapun sifatnya, dia tetaplah sahabat terbaik yang dirinya punya, sama seperti Kiba.
Mungkin permainan dan pengabdian bodohnya di masa lalu adalah bibit masalah yang terus tumbuh menjadi pohon yang besar. Tapi jika bukan tanpa itu, apa mungkin dia bisa bersama Hinata seperti sekarang?
Naruto bahkan tidak mampu membayangkan betapa hebatnya skenario yang Tuhan ciptakan untuk mereka berdua. Skenario terbaik yang diisi dengan tawa, tangis, benci, cinta, masalah, dan komplit dengan penyelesaiannya.
Naruto masih menatapi istrinya yang terus bercerita dengan linangan airmata.
Tangan kokohnya mengambil secarik kertas yang Hinata berikan.
Membukanya dengan perlahan, lalu mulai membaca dengan seksama.
Kata demi kata tersusun rapi merangkai kalimat dan menghasilkan makna.
Pria itu tak mampu menahan gejolak dalam dadanya ketika kata 'Ayah' dan 'Ibu' begitu mendominasi rangkaian yang tersusun disana. Dia merasa menjadi orang tua paling bahagia ketika tahu bahwa pusat kehidupan dari sang anak adalah mereka berdua.
Semua ketulusan tertuang dengan sempurna diatas secarik kertas yang membuat hatinya menghangat. Naruto membiarkan airmatanya mengalir. Tidak ada satu kata pun yang mungkin bisa mewakili perasaannya. Hanya ribuan terimakasih dan syukur kepada Tuhan untuk semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
*つないだ手*
Naruto dan Hinata membuka pintu kamar sepelan mungkin lalu mulai menatapi kedua malaikat kecil mereka dengan mata yang masih terlihat memerah. Untuk malam ini saja, mereka ingin mengganggu tidur keduanya.
"Bolt, Hima, hari ini boleh tidak kalau Ayah dan Ibu yang manja? Bolehkan kalau Ayah dan Ibu tidur dengan kalian berdua?"
"Ayah, kenapa membangunkan kami? Aaah, aku sangat lelah."
Wajah tampan putranya tampak lemas karena terlalu mengantuk
"Ayah sedang tidak bisa tidur."
"Ibu juga."
"Ayah sedang tidak bisa tidur? Kalau begitu kemarilah, akan Hima peluk dan gosok punggungnya sampai Ayah tidur."
Ini dia, malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuk mereka.
"Baiklah, Ibu boleh tidur disampingku. Aku akan usap dahi Ibu sampai Ibu bisa tidur juga."
"Hanya diusap dahinya saja? Ibu juga ingin dipeluk. Lihat itu, Ayah saja sudah dapat pelukan dari Hima. Masa Ibu cuma dapat usapan di dahi saja."
"Iya bu. Akan aku peluk."
Hinata menatapi wajah lelah putranya yang setengah sadar. Sebelah tangan ia gunakan untuk mengusap dahi sang Ibu, lalu yang satunya lagi mencoba untuk memeluknya.
"Bolt, maafkan Ibu. Ibu sudah menyakitimu. Ibu sudah menyakiti kalian berdua."
"Maafkan Ayah Juga. Gara-gara Ayah kalian jadi sempat berpisah." Sang Ayah yang sedang dipeluk Himawari juga ikut menyuarakan isi hatinya.
"Ibu dan Ayah bilang apa sih? Malah kan aku yang sering membuat Ibu kerepotan, menjahili Hima, dan minta ini itu kepada Ayah." Bolt berbicara dengan mata yang hampir terpejam.
"Bolt, bisakah kau buka matamu sebentar saja?"
"Ibu, aku sangat mengantuk." Rengeknya manja.
"Sebentar saja sayang. Ibu sangat rindu denganmu."
"Baik. Tapi setelah itu biarkan aku tidur ya."
"Iya."
Biru laut putranya terbuka lebar dan Hinata lantas mengecup dalam dahi putranya.
"Apa kau menyayangi Ibu?"
"Tentu saja. Aku sayang semuanya. Ayah, Ibu dan Hima. Sudah kan bu? Aku ingin tidur."
Hinata tersenyum tulus saat mendapat jawaban jujur dari anaknya. Sementara Himawari terlihat lebih bisa menahan kantuk walau matanya juga sangat sayu.
"Ayah, Hima ingin makan mochi."
"Besok akan Ayah belikan yang banyak."
"Tapi Hima maunya kita pergi bersama dan lomba makan dengan kakak. Ayah kan pernah janji untuk berpetualang bersama lagi."
"Iya, sayang. Minggu ini kita akan pergi jalan-jalan ya."
"Asiiik~"
Naruto mengulurkan sebelah tangannya yang bebas untuk menggenggam tangan Hinata. Genggaman keduanya bagai perisai yang akan selalu melindungi kedua buah cinta mereka, Bolt dan Himawari. Tidak peduli sampai kapanpun, ikatan yang terjalin tidak akan pernah mereka akhiri.
*つないだ手*
Ibu~
Ayah~
Bagiku Ibu adalah dunia dan Ayah adalah isinya. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika dunia ada tanpa isinya – atau bagaimana isi bisa ada tanpa dunia. Ah, kenapa jadi membingungkan seperti ini ya? Hahaha dasar payah!
Aku suka pemandangan dirumah ketika pagi dan malam hari. Lebih tepatnya ketika kita semua berkumpul.
Aku suka melihat Ibu yang sedang mempersiapkan makanan di dapur sambil mengurus seluruh keperluan kami, suka melihat Ayah yang sibuk mengangkat telepon sambil kesulitan merapikan dasinya, dan suka melihat Himawari yang cerewet ingin disuapi.
Tidak ada keseruan lain dibanding saat kita semua berkumpul.
Ketika Ibu sakit aku merasa sakit, ketika Ayah sedih akupun merasa demikian, dan ketika Himawari berjuang untuk melewati masa kritis, rasanya seluruh tubuhku dihantam dengan batu yang berukuran sangat besar. Sakit sekali.
Kenapa bisa seperti itu bu?
Kenapa bisa seperti itu yah?
Kenapa ada perasaan semacam itu?
Apa itu yang disebut dengan ikatan?
Aku tidak terlalu mengerti, tapi yang pasti dadaku terasa sangat sesak jika kalian bersedih.
Aku sangat menyayangi Ibu, Ayah dan Himawari. Bahkan rasa sayangnya melebihi untuk diriku sendiri.
Himawari bilang kalau dia ingin manja selamanya dengan kita bertiga. Tentu saja sebagai seorang kakak aku akan menuruti permintaan adikku, tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Aku tidak akan memaafkan orang yang membuat Hima menangis, tapi kalau Hima menangis karena ulahku ya tidak apa-apa sih. Soalnya kan Hima memang cengeng. Hehehe
Bu, apa Ibu masih merasa sakit? Kalau iya, Ibu boleh mengadu padaku kapanpun Ibu mau. Ibu boleh menangis sejadi-jadinya sambil memelukku. Bahkan Ibu juga boleh memukulku kalau itu bisa membuat rasa sakitnya berkurang. Aku akan menghukum Ayah karena sudah membuat Ibu sedih. Aku akan menjewer telinga Ayah, lalu akan aku hapus semua dokumen penting dilaptop ayah, setelahnya aku juga akan mengunci Ayah digudang sampai dia berteriak minta maaf dan mengakui semua kesalahannya.
Bu, terimakasih karena sudah menyayangiku dengan sepenuh hati. Mengusap dahiku ketika aku kesulitan tidur, membuat cemilan enak ketika sedang berlibur, merapikan tumpukan komik yang berserakan di lantai, sabar dengan sifat keras kepalaku, dan memelukku kalau aku sedang tidak enak badan. Walau aku sudah bilang kalau aku bukan anak kecil lagi, tapi Ibu akan tetap melakukannya dan bilang bahwa aku akan selalu menjadi Bolt kecil ibu.
Ibu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami.
Yah, apa Ayah sudah mengakui kesalahan Ayah kepada Ibu? Awas saja kalau Ayah tidak minta maaf dan berani membuat Ibu menangis lagi, aku akan menendang tulang kering ayah sampai Ayah menangis juga. Awas saja kalau Ayah masih tetap berteman dengan bibi Shion, aku akan meminjam suntik bibi Hanabi dan menusuk Ayah tanpa ampun.
Walau terkadang Ayah keras padaku, tapi aku tahu bahwa Ayah sangat menyayangiku. Terimakasih karena selalu mengajariku untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Mengacak rambutku, memberi hukuman setiap kali aku tidak disiplin, memarahiku kalau tidak bisa menjaga Himawari dengan baik, dan menuruti semua permintaanku.
Ayah adalah pelindung dan sosok yang sangat aku kagumi.
Saat Ayah dan Ibu bertengkar, aku merasa sangat sedih. Terkadang aku menangis sambil mengunci diri dikamar mandi. Aku ingin menemui Ayah yang sering memperhatikan kami dari kejauhan, tapi aku takut akan menyakiti dan membuat Ibu semakin sedih dengan sikapku itu. Aku tidak bisa melakukan apapun.
Ayah, Ibu, tolong jangan bertengkar lagi ya. Tolong jangan tinggal terpisah lagi. Aku dan Hima ingin tidur bersama, ingin tertawa bersama, ingin menceritakan pengalaman kami selama di sekolah dan ingin jalan-jalan bersama.
Aku sangat iri ketika melihat teman-teman ditemani oleh orang tua mereka saat pertandingan sepak bola waktu itu. Hanya aku saja yang seorang diri. Padahal aku sangat ingin memamerkan kemampuanku, tapi tidak bisa karena Ayah dan Ibu tidak datang.
Cukup aku saja yang merasakannya. Aku tidak ingin Himawari merasakan apa yang aku rasakan. Tolonglah datang kalau ada undangan untuk orang tua. Aku ingin kita seperti dulu lagi.
Aku ingin tumbuh dewasa dengan keluarga yang lengkap. Aku sangat menyayangi keluarga ini lebih dari siapapun. Bahkan jika terlahir kembali aku ingin terus dan terus berada dalam keluarga Uzumaki yang seperti ini. Ada Ibu yang penyayang, Ayah yang pekerja keras, dan Adik yang manja.
Maaf karena aku keras kepala. Maaf karena aku suka membangkang dan sering menyakiti hati Ibu dan Ayah dengan ucapanku. Maaf karena selalu saja merepotkan dan selalu bergantung pada kalian. Maaf karena aku belum bisa menjadi kakak yang baik untuk Himawari. Maaf karena aku selalu saja membuat semuanya khawatir. Maaf.
Yah,
Aku janji tidak akan jadi anak yang nakal.
Aku janji tidak akan menjahili Hima.
Ayah bilang aku harus menjadi anak yang disiplin.
Ayah bilang aku harus menjadi sosok yang kuat.
Ayah bilang aku harus tetap berdiri tegak.
Ayah bilang aku harus bisa menjadi pelindung Ibu dan Himawari jika suatu hari Ayah tidak ada.
Aku tidak akan melupakan semua perintah Ayah. Aku akan menjaga semuanya, seperti Ayah yang selalu menjaga dan melindungi kami.
Bu,
Aku akan selalu menyayangi Ibu.
Aku akan membanggakan Ibu suatu hari nanti.
Aku akan menjadi anak yang penurut untuk Ibu.
Aku akan selalu berada disisi Ibu.
Tolong jangan putuskan ikatannya. Aku ingin kita terus bersama selamanya.
Jika aku bisa berbicara langsung dengan Tuhan, aku akan bilang bahwa aku sangat bahagia karena memiliki Ayah, Ibu dan juga Himawari. Aku akan bilang kepada Tuhan untuk selalu memberikan kesehatan untuk kita semua, memberi kehangatan dan kebahagian untuk selalu berkumpul bersama. Aku akan ucapkan terimakasih kepada Tuhan karena telah menjadikanku sebagai Uzumaki Bolt.
Ayah, Ibu, terimakasih untuk semuanya.
Aku menyayangi kalian.
.
.
.
The End
Medan, 29th December 2014 – 25th August 2017 / 21:35
つないだ手/9 Chapter /liekichi-chan
Hallo minna-san~ Apa kabar? Semoga kalian semua dalam keadaan sehat ya ^^
Terimakasih karena selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Terimakasih juga untuk dukungan, kritik, saran, review, fav (author & story), follow (author & story), serta PM yang kalian tujukan untuk saya. And actually, I'm nothing without you.
Setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda tentang hikmah dibalik sebuah cerita. Banyak pesan yang saya selipkan pada cerita ini, dan semoga pesan-pesan itu bisa mencapai hati semua orang yang sudah membaca.
Saya bukanlah Author yang produktif dalam membuat fiksi. Bukan juga tipikal yang handal merangkai diksi. Tapi saya punya misi untuk membuat cerita yang selalu nyangkut di hati. Sedikit tapi membekas, sederhana tapi mendalam.
Itu adalah motto saya setiap kali ingin membuat cerita. And I wish my story could reach you, guys.
つないだ手 (Tsunaida Te) – Holding Hand ; Joined Hand ; Bergandengan Tangan ; Berpegangan Tangan (Inilah judul dari fiksi saya. Maaf buat yang kemarin-kemarin udah nanya tapi belum sempat saya jawab. Saya memang berniat memberitahukan judulnya di chapter akhir.)
By the way, 2009 - 2017 (Kurang lebih 8 tahun saya udah join disini dan hanya punya belasan story. Betapa tidak produktifnya saya ini :p Hahah Gomen ne~)
Sekarang, saya rasa sudah saatnya untuk pamitan dengan kalian semua.
Terimakasih untuk bimbingannya.
Terimakasih karena sudah mengajari saya cara menulis yang baik.
Terimakasih karena selalu menjadi penyemangat.
Terimakasih untuk julukan 'Author Kejam' nya :p
Terimakasih karena sudah menjadi bagian dari hidup saya.
Sejak awal gabung hingga detik ini, pen name 'liekichi-chan' dan avatarnya tidak pernah saya rubah sedikitpun. Karena bagi saya nama itu adalah identitas, begitu juga dengan avatar yang tertera disana.
つないだ手 (Tsunaida Te) adalah karya terakhir saya di dunia per-fanfiksi-an. Maaf karena tidak bisa melanjutkan perjuangan. Semoga regenerasi author-author yang baru bisa tetap menjaga keberlangsungan situs ini.
Kalau boleh, kalian tetaplah bergandengan tangan untuk membuat situs ini tetap ada. Supaya apa yang saya cita-citakan – seperti yang tertulis dalam A/N Fic 'I'm Happy With You' bisa menjadi kenyataan ^^
Tolong simpanlah di dalam hati kalian. Biarkan dia tetap hidup disana.
Saya pamit ya teman-teman.
Maaf dan terimakasih untuk semuanya.
Senang mengenal kalian :)
-Lichan-
