08. Inevitable?


"Now, from one broken piece of tainted words, gazing at my own scar, I had doubts but I still remember the sensation of that back that does not hold hesitation. Without waiting for answer, the swiftness of your approval nod made me understand the space between our hearts." Orikasa Fumiko—ECHO

Ichigo terbangun karena suara burung-burung dan cahaya mentari yang masuk lewat balkon. Masih setengah tidur, dia membuka mata dan mengulet. Sesaat kemudian, dia baru menyadari bahwa dia masih berada di kamar Rukia. Seketika, dia langsung bangkit duduk dan melihat sekeliling.

Tempat tidurnya berantakan dengan selimut yang berantakan. Kemudian kimono merah Rukia juga tergantung di atas tirai. Dia pasti sudah ganti baju. Di atas meja di samping tempat tidur sudah terdapat susu dan sup miso. Dia sudah tertidur berapa lama, sampai Rukia bisa sempat ganti baju dan menyiapkan sarapan untuknya? Ichigo mengusap matanya yang masih mengantuk. Sudah jam berapa sekarang? Dia melihat ke arah balkon dan melihat matahari sudah tinggi. Dia bangkit berdiri dan dan menuju ke sarapannya di atas meja. Perutnya keroncongan mencium wangi sup miso di atas meja dan memutuskan untuk memakannya walaupun sudah agak dingin. Yah, itu salahnya sendiri karena bangun kesiangan.

Ichigo mulai memakan sarapannya sambil melihat-lihat ruangan Rukia. Ini sudah kedua kalinya dia ada disini—walaupun yang pertama kali dia tak bisa terlalu melihat detail ruangan ini karena pemiliknya menjadi fokus utamanya waktu itu. Kini, Rukia tak ada dan dia bisa dengan bebas melihat-lihat ruangan ini. Ruangan ini dua kali lebih lebar dari ruangannya dan seluruh temboknya terbuat dari beton. Pintunya terbuat dari kayu mahoni berwarna hitam dan nampak solid. Langit-langitnya tak terlalu tinggi, hampir sama dengan kamar lainnya. Di atas terdapat chandelier kecil yang dapat menggantung lima atau enam lilin. Nampaknya terbuat dari kuningan dan bukan dari emas betulan. Kemudian dia mengamati yang lainnya.

Di sebelah kiri ruangan ada sebuah fusumi yang menuju balkon lebar yang menghadap ke arah timur sehingga sinar mentari bisa masuk dengan leluasa. Di tengah-tengah ruangan ada tempat tidur tempat dia tadi tertidur. Untuk sang putri, kasur itu jelas terlalu besar. Tapi tentu saja Kaisar selalu ingin yang terbaik untuk putrinya. Kemudian di sudut kanan ruangan ada tirai tempat ganti baju dan di sebelahnya ada lemari cokelat terbuat dari kayu mahoni yang tidak ingin diintip oleh Ichigo—tapi dia yakin isinya pasti pakaian, dan entah apa lagi. Wajah Ichigo memerah membayangkan isi lemari itu dan dia menampar dirinya sendiri untuk berhenti berpikir. Kemudian dia di samping lemari itu. Ada sebuah meja yang lumayan lebar dan terdapat kertas-kertas ditumpuk disamping botol tinta. Nampaknya Rukia sendiri juga sibuk mengerjakan zuihitsu. Tunggu sebentar, di atas kertas itu nampaknya ada gambar. Tanpa berpindah tempat dari tempatnya duduk sekarang, Ichigo memincingkan mata untuk melihat lebih jelas lagi, dan dia bisa melihat gambar seekor kelinci yang digambar dengan asal-asalan sehingga nampak seperti gambar seorang anak umur lima tahun. Rukia yang menggambar ini? Ichigo geleng-geleng kepala dan melanjutkan melihat-lihat kamar itu lagi. Tembok di kamar itu dilapisi dengan karpet putih yang terbuat dari wol dan berpola bunga lili. Lantainya terbuat dari kayu juga. Dan di atas tempat tidur ada sebuah tempat untuk menggantung tirai yang bisa menutupi seluruh tempat tidur. Tapi tampaknya Rukia tak terlalu sering menggunakannya karena tempat gantungan itu berdebu.

Dia sudah hampir menyelesaikan makannya ketika pintu terbuka dengan sebuah deritan kecil. "Soal waktu saja kau bangun, tukang tidur." Sebuah suara familiar melayang hingga ke telinganya. Ichigo menoleh dan mendapati Rukia dengan rambut dikuncir kuda dan furisode merah jambu.

"Rukia." Ichigo menyebut namanya tanpa sadar.

Orang yang disebut mengerutkan alisnya dan dia maju ke arah Ichigo dengan cepat, dan tanpa peringatan, Rukia memukul kepala Ichigo. Ichigo memegangi tempat yang baru saja dipukul dengan kerasnya oleh Rukia sambil mengerang. "Kau... untuk apa itu!" seru Ichigo. "Kau bisa membuatku gegar otak, dasar pendek!"

Rukia mendengus, "seolah kau bisa gegar otak saja." Katanya pendek. "Kenapa kau tak muncul tadi malam, hah? Aku sudah menunggumu dan kau bilang kau akan pulang! Kenapa kau tak bangunkan aku, hah?" seru Rukia bertubi-tubi. Menyadari itu, Ichigo mempelajari satu lagi tentang gadis ini; jangan pernah membuat Kuchiki Rukia marah.

Ichigo segera menyadari kesalahannya dan dia mengangkat tangannya untuk melindungi diri ketika dia melihat Rukia mengangkat tangan seolah mau memukulnya. "Dengar! Dengar! Kau tidur dengan nyenyak waktu itu, mana mungkin aku bisa membangunkanmu? Aku nggak punya hobi membangunkan perempuan yang tidur dengan wajah bodoh." Katanya menjelaskan sekaligus menyindir.

Wajah Rukia memerah mendengar sindiran itu, tapi kemudian dia tersenyum. Rukia menurunkan tangannya dan meraih yukatanya untuk mengambil sebuah kertas tua berwarna kekuningan. "Wajah bodoh, katamu?" tanyanya. Dia membuka kertas tersebut dan wajah Ichigo memerah hebat. "Kalau wajahku nampak bodoh untukmu, kenapa kau menggambarku, Kurosaki?" tanya Rukia lagi dengan senyum licik.

Ichigo hampir kehilangan kata-kata ketika melihat gambar wajah Rukia yang sedang tidur yang tadi malam digambarnya. Tapi dia takkan kalah, "darimana kau dapatkan itu?" tanya Ichigo.

Rukia mengangkat bahu. "Kau menggenggamnya begitu saja dan karena penasaran, aku melihatnya." Katanya. "Tapi tak kusangka kau akan menggambarku, Kurosaki. Apa aku begitu menarik bagimu?" tanya Rukia dengan wajah licik yang membuat Ichigo semakin memerah dan tak bisa berkata-kata.

Tapi ngomong-ngomong soal gambar... Ichigo tersenyum licik seperti Rukia. Dia bangkit berdiri dan melangkah menuju ke meja Rukia. "Begitu? Maksudmu gambarku jelek, begitu? Aku menggambarmu karena aku pikir kau objek yang menarik untuk digambar." Kata Ichigo dengan tenang. "Lagipula, tak seperti kau, Rukia, aku cukup professional untuk membedakan yang mana gambar seorang yang ahli dan gambar anak umur lima tahun." Katanya sambil menunjukkan gambar kelinci yang ada di kertas yang ditumpuk di atas meja. Wajah Rukia memerah melihat gambar kelincinya yang ditunjuk oleh Ichigo.

"Kembalikan kertas itu!" seru Rukia dengan wajah merah.

Rukia melompat untuk meraih kertas yang dipegang Ichigo, tapi dengan mudah, Ichigo mengayunkan tangannya ke tempat yang tak bisa diraih oleh Rukia. "Hm, kurasa kau harus olahraga lebih keras lagi kalau kau mau kertasmu ini kembali, Rukia." Sindir Ichigo.

Sudah cukup! Rukia menendang kaki Ichigo dan Ichigo menjatuhkan kertasnya sambil memegangi lututnya. Dengan senyum kemenangan, Rukia meraih kertasnya di atas lantai kayu dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Itu pelajaran untukmu agar tidak mengejek orang lain, Kurosaki." Katanya dengan senyum kemenangan di bibirnya.

Ichigo mendesah. Dia sudah tahu siapa yang akan menang pada akhirnya. Dan dia sudah punya perasaan bahwa Rukia juga sudah tahu siapa yang akan menang jika mereka berdua berdebat. Ia mengusap-usap lututnya yang ditendang—cukup keras juga Rukia menendangnya tadi, pasti ini akan meninggalkan bekas. Ichigo mendesah, lalu bangkit dan menebas-nebaskan bajunya. Rukia tak berkata apa-apa dan berjalan ke arah sarapan Ichigo yang hampir habis isinya. Dia membereskan piring-piring dan mangkuk dan meletakkannya di atas nampan. Ichigo terbelalak dan menyadari sesuatu, "tunggu! Biar aku saja yang membereskannya—"

"Tak apa." Potong Rukia. Lalu dia menoleh pada Ichigo, "aku memang ingin melakukannya." Katanya pelan.

Ichigo tak berkata apa-apa dan dia membiarkan Rukia membereskan bekas makannya. Rasanya malu sekali—Rukia seorang putri, dan dia membiarkan seorang putri membereskan bekas makannya. Ichigo merasa seolah dia orang yang tak tahu diri. Dia segera berjalan pada Rukia dan mengangkat nampan. "Biar kubantu."

Rukia menatapnya lalu mengangkat bahu. Ia membiarkan Ichigo mengangkat nampannya sementara dia membersihkan mejanya. "Diluar dugaan, gambarmu bagus, Kurosaki." Kata Rukia.

"Ichigo." Kata Ichigo. "Sudah kubilang, panggil aku Ichigo."

Rukia menyadari kesalahannya dan dia tersenyum, "maaf. Kebiasaan."

"Kebiasaan?" tanya Ichigo. Dia mengangkat nampan yang penuh dengan sumpit dan piring dan menuju ke pintu diikuti oleh Rukia. "Kau biasa memanggil orang dengan nama belakang?" tanyanya.

Rukia tersenyum. "Itu suatu tata krama." Katanya. "Ayahku... selalu mengajarkan padaku bahwa tak sopan bila memanggil orang dengan nama depannya. Bahwa keluarga terhormat harus selalu memanggil orang dengan nama keluarganya. Itu... sudah diajarkan padaku sejak aku masih kecil." Katanya.

Ichigo menatap Rukia. "Itu..." dia berpikir sebentar untuk mencari kata yang tepat untuk merespon. "...menyebalkan." Katanya kemudian.

Rukia tertawa geli. "Kau orang yang berbeda, Ichigo." Kata Rukia. Kemudian hening yang nyaman diantara mereka berdua. "Dapurnya ada di belakang. Ikut aku." Ichigo pun melangkah mengikuti Rukia yang berada beberapa langkah di depannya dan menyusul menuju ke sampingnya.

Kemudian Rukia menyadari sesuatu. Ichigo berjalan di sampingnya dan dengan jarak yang sempit. Tahu-tahu jantungnya berdebar tak keruan dan dia merasakan wajahnya panas. Rukia mencoba menenangkan diri karena tak ada apapun yang terjadi dan mencoba untuk menghiraukan wajahnya yang panas. "Dapurnya ada di pintu situ." Kata Rukia. Ketika Ichigo berlalu, Rukia menghela napas lega. Kenapa bisa begini? Dia memegangi dadanya sendiri dan bertanya pada dirinya sendiri—kenapa jantungnya berdetak kencang begini? Ini kan cuma Ichigo.

"Hei, Rukia." Ichigo muncul dari dapur. Jantung Rukia mulai berdetak kencang lagi hanya dengan mendengar suaranya. "Apa kau tidak merasa bosan berada disini seharian?" tanyanya. Mendengar pertanyaan itu, Rukia menegakkan tubuhnya. "Hei, kau baik-baik saja?" tanya Ichigo; dan tahu-tahu dia merasakan kedua bahunya disentuh oleh tangan hangat Ichigo. "Rukia?" Rukia mendongak dan menatap wajah Ichigo yang sekarang nampak cemas. "Hei, kau sudah sarapan? Wajahmu merah begitu." Kata Ichigo. Rukia tak berkata apa-apa karena sekarang wajah Ichigo dekat sekali dengannya. Rukia merasa lumpuh. Ichigo mengangkat tangannya dan menyentuh dahi Rukia. "Tidak panas, kok. Kau baik-baik saja?" tanyanya sekali lagi.

Rukia menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja." Jawabnya. "Aku sudah sarapan, kok."

"Baiklah." Ichigo menegakkan tubuhnya. "Dengar. Aku punya rencana. Daripada menghabiskan waktu berada di istana sunyi ini, bagaimana kalau kau ikut aku keluar?" tanyanya.

Rukia mendongak cepat ketika mendengarnya. Apa dia tak salah dengar? "Apa kau mengajakku kencan, Ichigo?" tanyanya.

Mendengar itu, wajah Ichigo memerah. "Bu-bukan kencan, bodoh. Aku cuma menyarankan. Dan itu pun kalau kau menerima. Lagipula, aku cuma mengajakmu berjalan-jalan—dan kita tak punya hubungan apapun, jadi ini bukan kencan." Kata Ichigo buru-buru panjang-lebar.

Rukia tersenyum geli. Sekarang dia mengetahui satu hal lagi dari Ichigo; bila dia sedang gugup, maka dia akan selalu bicara melantur panjang-lebar. "Kau mengajakku kencan." Kata Rukia sekali lagi.

Ichigo mendesah dengan wajah memerah—dia tahu siapa yang akan menang pada akhirnya. "Baiklah. Aku mengajakmu kencan. Kau puas?" tanyanya tanpa menatap mata Rukia. Entah kenapa mata biru Rukia itu membuatnya—entah kenapa—ingin membungkuk dan memeluknya. Dengan segera, Ichigo membuang pikiran itu jauh-jauh sebelum dia berniat melakukannya.

"Baru kali ini ada seseorang yang mengajakku keluar istana." Kata Rukia.

Ichigo segera keluar dari mode gugupnya dan melebarkan matanya ketika mendengar kalimat itu. "Hah?" katanya bodoh. "Maksudmu, kau tak pernah keluar dari istana sebelumnya?" tanyanya.

Rukia mengangguk. "Aku hanya sering melihat keluar saja dan membayangkan bagaimana rasanya jadi rakyat biasa." Kata Rukia. "Untuk bisa bebas dan tidak jadi putri. Pasti menyenangkan." Katanya pelan.

Ichigo menatap Rukia yang menerawang dan menatap lantai. "Dengar. Jadi rakyat biasa bukannya semenyenangkan yang kau pikir." Kata Ichigo. "Kau akan jadi miskin dan untuk makan pun kau harus mempertaruhkan nyawa." Ichigo melangkah ke koridor. "Kau harusnya bersyukur bisa makan tanpa harus mencari—semua yang kau inginkan dan butuhkan sudah ada dan tersedia."

"Itu adalah hak seorang putri, Ichigo. Sama sepertimu. Kau membayar kebebasan sebagai rakyat dengan kesulitan, tapi kau memperoleh kebahagiaan." Kata Rukia sambil mengikuti Ichigo. "Aku membayar semua kesenangan itu dengan kebebasan dan kebahagiaan."

Ichigo mendesah. "Aku tak mau tahu tentang hal seperti ini," kata Ichigo. "Yang aku tahu, kita semua manusia—punya hak dan kewajiban."

Rukia tersenyum. "Kau benar."

"Jadi, hentikan omong kosongmu dan ayo, kita keluar!" seru Ichigo sambil meraih tangan Rukia dan lari ke halaman.

"Tunggu! Aku... bajuku... aku harus ganti—!" seru Rukia.

"Tak perlu. Kau sudah terlihat cantik dengan yukata itu." Kata Ichigo singkat. Dia tak menyadari kalau wajah Rukia sama merahnya dengan wajahnya ketika dia mengatakan hal itu.


"Jadi kau mau bekerja sebagai pengawal?" tanya Ise Nanao—asisten Ukitake-sensei.

Pria itu mengangguk. "Ya. Saya butuh pekerjaan ini." Katanya.

Nanao membetulkan letak kacamatanya, "pekerjaan ini membutuhkan seorang yang lihai dan berpengalaman dalam pertarungan. Apa kau sudah memenuhi kriteria tersebut?" tanyanya.

"Saya sudah pernah bekerja sebagai penjaga kuil, tapi gajinya tak mencukupi hidup keluarga saya." Jawab pria itu.

"Jadi karena itu kau beralih profesi?" tanya Nanao.

"Benar, nona."

Nanao menuliskan sesuatu pada kertasnya dan kemudian dia memberikan sebuah buku pada orang tersebut. "Silakan tulis nama, identitas, dan tanda tangan anda disini, dan setelah itu anda bisa menemui Ukitake-sama untuk penjelasan jabatan anda." Kata Nanao sambil menyerahkan bulu angsa yang digunakan sebagai pena. Pria itu mengambil bulu angsa yang diserahkan padanya, dan mulai menulis beberapa saat. Setelah selesai, pria itu membubuhi tanda tangan di tempat paling bawah, dan menyerahkan buku itu kembali pada Nanao. "Terima kasih, tuan... Aizen." Kata Nanao sambil membaca buku itu. "Anda bisa menemui Ukitake-sama lewat jalan tersebut." Nanao menunjukkan jalan di hadapannya.

"Terima kasih." Kata pria itu.

Setelah memincingkan matanya, Nanao memanggil kembali pria tersebut. "Anu, Tuan. Bisakah anda mengulang nama anda sekali lagi?" tanya Nanao. "Tulisan anda kurang jelas."

"Aizen." Katanya. "Aizen Sousuke."


"Ichigo, kau mau membawaku kemana?" tanya Rukia yang masih diseret oleh Ichigo. "Ini kan taman belakang istana."

"Sekali lihat juga sudah tahu, bodoh." Timpal Ichigo. "Aku cuma mau menjemput kudaku, setelah itu kita bisa keluar dari sini." Ichigo membuka kandang kuda yang terletak di taman belakang istana dan membuka gembok pintu kayu kandang tersebut. "Aku akan segera kembali."

Rukia memutar mata dan menunggu. Beberapa saat kemudian, Ichigo muncul dengan seekor kuda yang gagah di mata Rukia. Kuda hitam yang berkilau seperti batu obsidian dan bahkan lebih tinggi dari Ichigo. Ichigo mengelus leher kuda itu, dan kuda itu mendengus. Bahkan kuda itu nampak manja pada Ichigo.

"Ini kudamu?" tanya Rukia tak percaya.

"Benar. Bagaimana menurutmu?" tanya Ichigo dengan bangga.

"Kuda ini bahkan lebih gagah daripada kau!" kata Rukia sambil mengagumi kuda hitam itu.

Kedua bahu Ichigo merosot mendengar ironi bahwa kudanya bahkan lebih gagah daripada dirinya.

Rukia terkikik geli melihat Ichigo yang seperti patah semangat. "Hei, aku cuma bercanda!" katanya. "Kudamu ini cocok sekali dengan dirimu. Tapi... aku penasaran. Sebenarnya ada apa dengan kau dan warna hitam?" tanyanya. "Kupikir mestinya kau suka oranye karena warna rambutmu—tapi kenapa kau lebih suka warna yang kontras dengan rambutmu begitu?"

Ichigo menelengkan kepalanya sebentar lalu mengangkat bahu. "Entahlah." Kata Ichigo kemudian. "Entah kenapa warna keberuntunganku itu selalu hitam. Aku berhasil membuat pedang pertamaku dengan besi hitam. Dan aku terselamatkan dari longsor berkat yukata hitamku menyangkut di pohon. Selain itu, Zangetsu juga kuselamatkan ketika terjadi tanah longsor waktu aku masih kecil—dan kebetulan saja dia berwarna hitam pekat seperti ini." Katanya sambil mengangkat bahu. "Sudahlah, kenapa kau selalu tanya hal yang aneh-aneh, sih?" tanya Ichigo kesal lalu dia menarik tangan Rukia. "Naiklah." Katanya.

Rukia menatap sadel kuda Ichigo yang berada jauh tinggi di atas kepalanya. "Ah... Terlalu tinggi. Kau mau mengejekku, Ichigo?" kata Rukia dengan wajah memerah karena sadel itu terlalu tinggi baginya untuk diraih.

Ichigo meringis lalu mengangkat tubuh Rukia dengan pinggang dan pahanya sehingga dia terduduk di atas sadelnya. Rukia masih bingung dan memerah dengan apa yang dilakukan Ichigo ketika Ichigo juga ikut naik di belakangnya. Sekarang Rukia terperangkap di antara kedua lengan Ichigo dan dada Ichigo yang bidang dibelakang punggungnya. Muka Rukia memerah mengetahui posisi mereka sekarang.

"Kamu sudah pernah naik kuda kan?" tanya Ichigo—yang dekat sekali sehingga Rukia bisa merasakan hangat tubuhnya di punggungnya dan napas hangatnya di atas kepalanya. Dia terlalu dekat dan Rukia berharap Ichigo tak mendengar detak jantungnya.

"Ng—nggak. Aku... terlalu pendek buat naik kuda." Kata Rukia malu.

Dia bisa merasakan tubuh Ichigo bergetar dan dia juga bisa mendengar tawanya—tapi yang dirasakannya adalah perasaan ketika dia merasakan dan mendengar napasnya di punggungnya dan rasa hangat yang menenangkan. Kedua lengan yang berada di kanan kirinya—walaupun mereka menggenggam tali kekang—Rukia merasa aman berada di antara kedua lengan Ichigo yang kuat. Tanpa sadar, Rukia menyandarkan diri di dada Ichigo yang hangat. Ahh... perasaan apa ini? Kenapa terasa begitu benar?

"Tak apa, jangan khawatir, aku takkan menjatuhkanmu." Kata Ichigo. "Aku takkan membiarkanmu terjatuh." Wajah Rukia memerah mendengar kata-kata itu.

Ichigo menyentakkan tali kekang pelan, dan kuda Ichigo berjalan pelan-pelan. Gerakan tiba-tiba itu membuat Rukia mencengkram lengan Ichigo. "Hei, tenang saja." Kata Ichigo ketika merasakan gadis itu mencengkram lengannya. "Kuda ini jinak, kok. Dia takkan menjatuhkanmu. Dia cuma akan menjatuhkanku." Mendengar kelakar itu, Rukia tersenyum geli. "Sekarang, kita ke luar—ke Rukon."

"Rukon?" tanya Rukia.

"Kau belum pernah ke sana, kan?" tanya Ichigo. "Itu tempat yang menyenangkan. Setiap musim semi seperti sekarang, selalu ada harvest moon festival. Semua orang membawa hasil panen masing-masing dan mempersembahkannya pada Dewi Panen. Ada banyak permainan menarik, makanan yang enak-enak, dan tari-tarian tradisional yang pasti belum kau lihat." Kata Ichigo dengan semangat.

"Katamu itu tempat yang berbahaya?" kata Rukia masih tak yakin.

"Hei, kalau kau tak jauh-jauh dariku, takkan ada yang melukaimu. Dengar?" kata Ichigo lembut di telinga Rukia yang membuat Rukia bergidik. Kedekatan Ichigo telah melumpuhkannya, jadi Rukia hanya mengangguk.

Mereka sudah keluar dari kompleks istana sekarang, dan menuju ke gerbang keluar yang membatasi kompleks Seirei dengan Rukon.


"Ah, jadi kau prajurit yang direkomendasikan oleh Fujiwara-sama?" tanya Ukitake-sensei. "Siapa namamu?"

"Aizen Sousuke, Ukitake-sama." Katanya sambil membungkuk hormat.

"Semua orang disini memanggilku Ukitake-sensei. Jadi kau tak perlu terlalu formal." Kata Ukitake-sensei sambil mengibaskan tangannya. Kemudian dia mempelajari perkamen yang ada di atas mejanya. "Jadi kau pernah jadi prajurit juga?" tanyanya.

"Benar, sebelum Keluarga Fujiwara berkuasa, saya pernah diangkat menjadi prajurit penjaga keluarga." Kata Aizen.

"Lalu kenapa kau berhenti?" tanya Ukitake-sensei.

"Saya memutuskan untuk berhenti karena ibu saya sakit. Dan dengan modal kecil, saya hanya sanggup menjagi panjaga kuil. Tapi itu pun tak memuaskan. Untuk menjadi penjaga keluarga lagi di bawah Keluarga Fujiwara, mereka pasti akan menganggap saya pengkhianat. Karena itu, Fujiwara-sama yang mempercayai saya tak punya pilihan lain selain merekomendasikan saya sebagai prajurit istana—untuk mengabdikan diri pada negara. Saya sendiri menganggap ini adalah yang terbaik."

"Tak banyak orang yang menyadari ini," kata Ukitake-sensei. "Untuk mengabdikan diri pada negara. Itu adalah suatu hal yang sulit. Seperti mempercayai sesuatu yang tak ada." Katanya. "Tapi kurasa kau pantas diberi kesempatan, Aizen-kun. Aku akan menempatkanmu dalam divisi di bawah pengawasan Ichigo-kun."

Aizen mendongak cepat mendengar nama itu. "Maaf, siapa?"

"Kurosaki Ichigo. Kau tak tahu dia? Hampir semua orang di negara ini kenal dia setelah dia memenangkan sayembara yang kubuat." Kata Ukitake-sensei. "Dia adalah satu dari sedikit orang yang bisa kupercaya dan salah satu dari sedikit orang yang bisa kuandalkan pada saat sulit. Tingkahnya memang sama sekali tak mencerminkan ksatria pada umumnya, tapi dia memiliki jiwa yang besar dan hati yang baik. Dia juga salah satu dari sedikit orang yang kupercaya untuk menjaga sang putri. Mereka seperti tupai dan kura-kura tapi juga seperti anjing dan kucing. Bisa rukun, tapi seringkali bertengkar." Ukitake-sensei bercerita. "Ah, Aizen-kun. Kau akan bersenang-senang bila dalam pengawasan Ichigo-kun. Aku tahu dia pasti bisa menjagamu. Meskipun dia tak terlalu mementingkan peraturan, tapi dia selalu menjunjung tinggi nyawa dan persahabatan. Itulah yang sesungguhnya dibutuhkan dalam menjadi seorang ksatria sejati."

"Maaf, Ukitake-sensei. Tapi saya tak begitu mengerti kenapa saya harus ditempatkan dalam pengawasan Kurosaki Ichigo-sama?" tanya Aizen bingung. "Ini bukan karena anda tak mempercayai saya, bukan?"

"Bukan, bukan. Tentu saja, bukan. Jangan salah paham, Aizen-kun. Aku menempatkanmu dalam pengawasan Ichigo-kun agar dia bisa lebih menjalani latihan lapangan—dia harus lebih menimba pengalaman. Dia belum pernah terjun ke lapangan sebelumnya—walaupun aku tahu dia sangat kuat. Karena kuat itulah, aku ingin dia lebih mengerti tentang tanggung jawab yang akan diserahkan padanya dalam pekerjaan ini. Kalau kau tidak bertemu dan mengenal Ichigo-kun secara langsung, kau takkan mengetahui hal seperti ini. Aku mengenalnya secara pribadi—dan dia adalah orang yang luar biasa. Kau takkan bertemu dengan pria seperti itu dalam dinasti apapun—percayalah.

"Dia liar seperti macan, bebas seperti bangau, tapi ramah seperti anak anjing. Dan nampaknya keberadaan sang putri di hidupnya membuatnya menjadi semakin liar. Macan, bangau dan anak anjing dalam dirinya bergejolak seperti gila bila dia berada di dekat sang putri. Tapi aku tahu dia takkan melukainya dan dia akan melakukan apapun untuk melindunginya. Sama seperti dia pasti akan melakukan apapun untuk melindungi anak buahnya—yaitu kau."

"Darimana anda tahu semua ini, Ukitake-sama?" tanya Aizen dengan kagum.

"Aku selalu bermeditasi setiap pagi dan sebelum tidur—aku peka terhadap hal-hal semacam ini." Kata Ukitake-sensei. "Walaupun tubuhku tak lama lagi mungkin akan menyerah. Tapi bila itu terjadi, aku bisa menyerahkan semua pekerjaanku dan sang putri di tangan Ichigo-kun bila dia sudah siap. Dan aku yakin tak lama lagi, beruang dan macan dalam dirinya akan jinak terhadap sang putri."

Aizen Sousuke menatap Ukitake-sensei tak percaya. Pekerjaan ini secara tak langsung akan jadi sulit.


Semua wanita memakai pakaian terbaik mereka dan memikul bakul berisi hasil panen terbaik mereka ke sawah. Para pria memakai pakaian berburu mereka dan menuntun hasil ternak terbaik mereka ke sawah. Layangan dan burung-burung merpati mengisi langit biru di bawah sinar hangat mentari. Musik yang dimainkan oleh sekelompok pemain musik jalanan dengan menggunakan kendang, seruling bambu, harpa dan alat seperti gitar, namun lebih kecil. Musiknya bertalu-talu, melompat-lompat, cepat, meriah dan gembira sehingga anak-anak bahkan menari-nari mengikuti irama. Tak ada yang bersedih atau menangis. Semua orang tersenyum dan tertawa-tawa bahkan pada orang yang tak mereka kenal. Begitu semarak dan hidup.

Ini adalah suasana di kompleks Rukon di saat Harvest Moon festival. Rukia mengamati semua kesemarakan dan kemeriahan yang seumur hidup tak pernah dilihatnya dalam sebuah pesta. Pesta yang dihadirinya selalu kelabu dan tak ada kesan semarak. Tapi tempat ini? Lihatlah semua warna-warni layangan yang menghiasi langit biru dan burung-burung merpati aneka warna yang berterbangan. Adakah dekorasi yang lebih indah dari ini? Lihat semua anak-anak yang menari sesuai irama pemusik jalanan dan lihatlah para pasangan tua-muda yang juga ikut melompat dan bergoyang mengikuti ketukan. Adakah wajah yang terlihat lebih bahagia dari ini? Bahkan wajah Rukia pun seumur hidup tak pernah tersenyum selebar mereka.

Lihatlah sawah yang terbentang berhektar-hektar dan menguning beribu-ribu kilometer. Lihatlah bagaimana orang-orang dengan sukacita mengumpulkan panen padi mereka dan menggilingnya ke dalam gilingan untuk memisahkan biji padi dengan tangkainya. Lihatlah bagaimana anak-anak berkejaran dengan riang melewati ladang rumput apit-apit setinggi dada. Lihatlah senyum sukacita mereka dan dengarlah nada-nada yang tak ternyanyikan lewat tawa mereka, kicauan burung, kepakan sayap, bisikan angin dan gemerisik dedaunan. Inikah hidup yang sesungguhnya?

"Kau begitu beruntung, Ichigo." Gumam Rukia. "Kau tumbuh di lingkungan yang penuh kegembiraan." Tanpa disadarinya, dia bersandar pada Ichigo dan dia bisa merasakan Ichigo meletakkan dagunya di atas kepalanya. Merasakan dadanya yang naik-turun saat dia bernapas.

"Ayo, turun." Kata Ichigo. "Tak ada gunanya melihat dari kuda saja."

Maka, Ichigo pun turun, diikuti oleh Rukia yang tadinya terlalu takut untuk turun karena kudanya terlalu tinggi. Tapi kemudian Ichigo tersenyum dan berkata dengan yakin, "aku takkan membiarkanmu terjatuh." Dengan empat kata itu, Rukia memasrahkan diri padanya dan melompat ke pelukan Ichigo yang menunggu. Wajah Rukia memerah merasakan kedua lengan kuat Ichigo melingkarinya dengan aman.

Setelah aman berada di atas kakinya, Rukia melihat sekelilingnya dan tak terasa, energi sukacita itu pun ikut mengalir ke dalam dirinya. Dia tersenyum dan tanpa sadar ikut bergerak seiring irama musik. Dia menoleh pada Ichigo yang masih sibuk mengikat kudanya di pohon terdekat. Setelah dilihatnya Ichigo selesai, Rukia segera menarik tangannya dan membawanya ke dekat para pemusik jalanan itu. "Ayo, menari!" kata Rukia riang. Ichigo tanpa terasa ikut tersenyum dan melakukan apa yang dia minta.

Ichigo menarik tangan Rukia dan membawanya berputar mengelilinginya. Rukia hanya tertawa saja melihat bagaimana pria itu bisa menggerakkannya dengan begitu mudah. Kemudian Ichigo sendiri berputar mengelilinginya sambil bertepuk tangan. Rukia berputar dengan menggunakan tangan Ichigo sebagai pusatnya dan dia membenamkan dirinya lebih dekat lagi pada Ichigo. Wajahnya panas ketika merasakan lengan Ichigo yang kuat melingkari pinggangnya dan mengangkatnya beberapa senti lebih tinggi. Rukia berseru sambil tertawa-tawa pada Ichigo untuk menurunkannya kembali. Ketika dia melihat wajah Ichigo, dia merasakan sesuatu yang aneh di perutnya. Perutnya serasa naik ke dadanya ketika melihat Ichigo tersenyum dan tertawa gembira. Memang alisnya masih mengkerut seperti biasa, tapi saat dia tersenyum, alisnya takkan terlalu mengkerut lagi. Tapi rasanya, Ichigo hanya tersenyum saat dia bersamanya.

Rukia tertawa-tawa sampai kehabisan napas setelah Ichigo tahu-tahu menari sendiri dengan gayanya yang sok cool, berdiri di atas satu tangan, melakukan salto, berputar dan menggerakkan kakinya ke kanan dan kiri. Menakjubkan, tapi juga lucu. Ichigo terengah-engah sendiri setelah melakukan break dance itu. Rukia sendiri tertawa-tawa melihat Ichigo yang duduk di batu tersengal-sengal tapi dengan senyum puas di wajahnya. "Bagaimana menurutmu?" tanya Ichigo dengan sok.

Rukia tertawa lagi, "menakjubkan, tapi lucu sekali melihatmu seperti itu. Aku tak tahu kau bisa melakukan hal-hal seperti itu." Kata Rukia sambil tersenyum. "Seperti berdiri di atas satu tangan. Itu menakjubkan!"

Ichigo tersenyum lalu dia berdiri dan meraih tangan Rukia, "itu semua gara-gara kau, mengajakku menari. Padahal aku harusnya menyimpan tenagaku. Sekarang aku jadi lapar." Katanya dengan alis mengkerut lagi. Rukia menurut saja dan berjalan ke arah yang diajak Ichigo. Meskipun digeret kesana-kemari pun, kalau bersama Ichigo, hatinya selalu merasa senang—serasa di rumah. "Ayo, makan ramen!" ajak Ichigo. Rukia tertawa.


"Oh, suatu kehormatan bertemu dengan anda, Taira-sama." Kyouraku Shunsui yang ditemani oleh Ukitake-sensei menjabat tangan Taira Kaoru.

"Tidak, tidak. Sayalah yang merasa terhormat bertemu dengan para penasihat Kaisar." Taira Kaoru tersenyum tipis dan sopan. "Saya harap kedatangan saya kesini tidak mengganggu."

"Oh, tidak. Sama sekali tidak. Kuchiki Byakuya-sama sedang pergi ke negara tetangga dan Hime-sama juga sedang bersenang-senang." Kata Ukitake dengan senyum penuh arti. "Tempat ini sudah kosong."

Taira Kaoru tersenyum sopan, "Begitu, ya? Untunglah Hime-sama juga sedang pergi. Lebih baik kita bicara di dalam saja."

"Tentu. Silakan masuk." Kata Kyouraku mempersilakan.

Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berada dalam ruang pertemuan. Ukitake duduk di mejanya sedangkan Kyouraku bersandar di balkon terbuka di ruangan tersebut, sementara Taira duduk di kursi tamu yang empuk sambil mengamati pelayan yang menuangkan teh hijau untuknya. Setelah menyeruput sedikit, Taira mendongak pada kedua senpai di hadapannya. "Kedatangan saya kemari adalah untuk mempertimbangkan sesuatu kepada anda, tuan-tuan." Dia meletakkan tehnya. "Saya, sebagai kepala keluarga Taira, telah melihat bahwa kekuatan diktator keluarga Fujiwara sudah mulai menguat. Kalau anda dan Kaisar tidak berhati-hati, bisa-bisa kekuatan keluarga Fujiwara menjalar ke istana."

Kyouraku dan Ukitake berpandangan. "Kami tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah Fujiwara, Taira-sama. Dia bahkan sudah memberikan prajurit rekomendasi untuk ditugaskan di istana. Fujiwara, sebagai keluarga yang paling kuat ekonominya, kami tidak bisa mencegah."

"Saya takut juga begitu," kata Taira. "Kalau tidak dicegah, biar saya yang mencoba mengobati." Katanya kemudian.

"Apa maksud anda?" tanya Ukitake.

Taira mendongak. "Kita biarkan dulu kekuatan Fujiwara menjalar sampai istana, dan setelah kekuatan itu melemah, kita akan menyerang keluarga Fujiwara."

Kyouraku tercengang mendengar rencana vulgar tersebut. "Itukah rencana yang anda maksud?" tanyanya dengan mencoba untuk tidak mendengus. "Memang Kaisar bisa melakukan itu, tapi kami hanya penasihat—kami tak mungkin bisa langsung menyerang tanpa alasan yang jelas." Kata Kyouraku.

"Karena itulah, saya datang kesini." Kata Taira yang membuat Kyouraku dan Ukitake menatapnya. "Saya, sebagai kepala keluarga Taira, datang untuk meminta ijin untuk membuat kelompok militer kami sendiri."

Kata-kata itu membuat Ukitake dan Kyouraku terbelalak. "Apa? Anda? Membuat kelompok militer? Disini sudah ada kelompok militer yang paling kuat dan itu adalah militer milik keluarga Minamoto." Kata Ukitake. "Genji Minamoto sudah menjalar sampai ke Istana. Minamoto Yoshimaru-sama telah merekomendasikan pasukannya yang paling kuat sebagai pasukan istana dan beliau bahkan telah menawarkan untuk menyerahkan seluruh samurainya kepada istana—dan kami sedang mempertimbangkan tawaran tersebut. Sebagai kepala keluarga bangsawan yang terkemuka, seharusnya anda sudah mengetahui hal ini. Bila ada satu lagi keluarga pemegang pasukan militer dalam kerajaan ini, saya takut akan terjadi perang dalam kerajaan."

"Saya tidak berniat untuk berperang melawan keluarga Minamoto, Ukitake-sama." Kata Taira. "Sebagai kepala keluarga bangsawan yang terkemuka, adalah suatu tugas saya untuk melindungi keluarga saya untuk tetap eksis." Kata Taira. Kemudian dia mendongak. "Mungkin anda tidak tahu, tapi keluarga Minamoto sudah mengancam saya agar jangan dekat-dekat dengan Keluarga Kerajaan Kuchiki—kalau tidak, mereka akan membunuh anak-anak saya. Sebagai keluarga bangsawan yang terhormat, tentu tidak etis bagi keluarga Minamoto untuk mengancam keluarga bangsawan lain."

"Apakah anda berniat membalas dendam?" tanya Kyouraku.

"Bukan. Bukan membalas dendam." Kata Taira cepat. "Saya justru berniat untuk melindungi keluarga saya dan keluarga Kerajaan. Mungkin anda merasa aneh mendengar bahwa ada keluarga bangsawan yang peduli terhadap kelangsungan keluarga bangsawan, tapi percayalah, menurut saya, keluarga Minamoto dan keluarga Fujiwara mungkin bersekongkol untuk menjatuhkan Kaisar. Untuk melakukan kudeta terhadap Kaisar Kuchiki-sama." Katanya.

Mendengar itu, Kyouraku terdiam sejenak dan menatap Taira dengan pandangan menyelidik. "Itu adalah suatu tuduhan yang serius, Taira-sama." Kata Kyouraku dengan tenang. "Apakah anda memiliki bukti?"

"Tidak." Jawab Taira jujur. "Saya mengatakan ini bukan untuk menakuti-nakuti, tapi untuk kebaikan anda juga, tuan-tuan." Katanya. "Saya takut akan terjadi perang bila hal ini tidak diantisipasi."

Ruangan itu hening sesaat dan Ukitake nampaknya sedang berpikir. Kyouraku menarik napas, "Taira-sama, saya rasa hal itu—"

"Hal itu perlu diantisipasi, Taira-sama." Ukitake memotong apapun yang akan dikatakan oleh Kyouraku. "Terima kasih atas peringatan anda. Bila perang terjadi saat Kaisar tidak disini, itu akan menjadi hal yang buruk. Kami akan berjaga-jaga dan melakukan apapun yang kami bisa untuk menahan pengaruh keluarga Fujiwara terhadap Istana. Tapi saya berharap kata-kata anda tidak terjadi. Tapi harap anda ketahui bahwa membuat kelompok militer sendiri pun juga takkan mencegah terjadinya perang."

"Ukitake-sama," Kata Taira. "Saya sudah mengatakan bahwa saya membuat kelompok militer hanyalah untuk melindungi keluarga saya dan keluarga kerajaan. Mungkin semua yang tadi saya katakan hanyalah teori dan tidak ada bukti, tapi bagaimana bila hal itu benar?" tanyanya. "Bagaimana jika keluarga Fujiwara dan keluarga Minamoto bersekongkol untuk menggulingkan Kaisar? Bagaimana bila mereka mengambil alih pemerintahan secara tidak langsung?" tanyanya. "Begini saja, apakah anda bersedia menerima konsekuensi dari 'cara damai' anda—yaitu tidak berbuat apa-apa—dan kemudian Kaisar digulingkan? Mungkin lebih buruk lagi, siapa tahu mereka akan membunuh Kuchiki Hime-sama."

Kyouraku mengkerutkan alis ketika mendengarnya. "Taira-sama, saya harap anda berhati-hati dalam berbicara di depan penasihat Kaisar." Katanya dengan sinis.

"Saya berbicara serius, Kyouraku-sama." Kata Taira. "Saya tidak menakut-nakuti, tapi bayangkan saja apa yang akan terjadi bila anda terus berkata 'tak ada yang bisa kalian lakukan'. Keluarga Fujiwara akan semakin gencar melakukan serangan politik ke dalam istana. Salah-salah, kerajaan ini bisa hancur."

Ukitake mendesah. "Anda nampak sangat cemas dengan kenyataan tersebut."

"Siapa yang tidak akan cemas?" Taira balik bertanya.

Ukitake mendesah dan akhirnya beliau mengangguk setuju. "Baiklah, anda mendapatkan izin untuk membangun kelompok militer sendiri. Tapi anda harus membuat surat persetujuan, surat peraturan dan disertai tanda tangan seluruh anggota keluarga dan tanda tangan seluruh penasihat istana—termasuk saya dan Kyouraku. Tanpa membuat surat persetujuan itu, anda tidak diperbolehkan membuat kelompok apapun—bahkan kelompok ternak. Apakah saya bisa dimengerti?" tanyanya.

Taira tersenyum puas. "Jelas sekali." Katanya. Kemudian dia bangkit berdiri dan membungkuk pada keduanya. "Terima kasih, tuan-tuan. Suatu kehormatan untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan anda. Saya rasa harus pergi sekarang, karena urusan saya sudah selesai." Setelah membungkuk untuk yang terakhir kalinya, Taira berjalan ke arah pintu dan menghilang di baliknya.

"Ukitake," kata Kyouraku setelah yakin Taira sudah pergi. "Apa kau benar-benar percaya pada apa yang dikatakannya?" tanyanya.

Ukitake tersenyum. "Tentu saja tidak, Kyouraku. Menurutmu kenapa aku mengatakan bahwa dia harus membuat surat persetujuan?" tanyanya. "Tapi biarpun yang dikatakannya itu adalah bohong, kita tetap tidak bisa menganggap remeh. Kita juga sudah tahu bahwa kekuatan keluarga Fujiwara sudah hampir menjalar ke istana dan tak ada yang bisa kita lakukan. Bila kita membesarkan Taira dan Minamoto bersamaan, mungkin saja mereka bisa menjadi kekuatan tempur yang kuat bagi kerajaan untuk melawan Fujiwara. Tapi walau begitu, Genji sudah lama berada dalam naungan kerajaan, sedangkan kita baru saja mengenal Taira. Selain itu, kita tahu bahwa Minamoto tak pernah akur dengan Taira. Siapa tahu persaingan mereka justru malah menguntungkan kerajaan dan melemahkan Fujiwara." Jelasnya.

"Jadi maksudmu, kau berniat membesarkan mereka—Taira dan Minamoto—untuk saling berkubu dan saling berperang untuk melemahkan Fujiwara?" tanya Kyouraku. "Apa hubungannya mereka dengan Fujiwara? Lama-kelamaan aku jadi tak mengerti dengan jalan pikiranmu."

"Salah satu dari mereka pasti bersekutu dengan Fujiwara—entah itu Minamoto atau Taira. Karena keluarga Fujiwara adalah keluarga terkuat, jadi tak heran kalau keluarga bangsawan akan bernaung di bawah ekonominya. Jika mereka berperang, tentu salah satunya akan menghancurkan keadaan ekonomi keluarga Fujiwara. Mereka pasti takkan mengganggu istana lagi." Kata Ukitake. "Tentu saja salah satunya akan kita bantu."

"Bagaimana caranya? Kau kan tahu kalau Fujiwara memiliki kekayaan lebih banyak dari kita." Kata Kyouraku.

Ukitake mendesah. "Aku juga sedang memikirkan itu."


Ini adalah salah satu dari berbagai waktu-waktu menyenangkan yang ingin dihentikan oleh Ichigo; duduk di bawah pohon sambil melihat orang-orang yang menari-nari menyambut dewi panen saat semua sesajen dibakar dan sisanya dibagi-bagikan kepada satu dan yang lain di bawah langit senja. Orang-orang tua, muda dan anak-anak makan dan menari. Sawah masih banyak yang belum sempat dipanen sehingga masih nampak kuning di bawah sinar mentari senja.

Ichigo menatap pemandangan indah di depannya, tapi sebenarnya tak terlalu tertarik melihat pemandangan itu. Dia lebih tertarik merasakan hangat tubuh gadis disampingnya dengan kepala yang berada di atas bahunya dan di bawah kepalanya sendiri dan merasakan bagaimana Rukia bernapas. Tangan Ichigo tergoda untuk meraih pinggang Rukia dan menariknya lebih dekat lagi, tapi bagi mereka, persahabatan mereka belum sampai situ. Ichigo berusaha keras untuk menahan tangannya agar tidak melingkari pinggang Rukia, atau bahu Rukia, atau... apapun yang menyangkut gadis ini.

"Ichigo," Ichigo membuka mata saat mendengar namanya disebut oleh Rukia. Suaranya entah kenapa membuat Ichigo tersenyum.

"Ah?" balas Ichigo.

"Terima kasih."

Ichigo membuka mata dan mengangkat kepala untuk menatapnya. "Untuk apa?" tanyanya bingung.

Rukia mengangkat kepala dan menatapnya dengan mata berbinar-binar. "Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini. Bahkan ketika ibuku masih ada pun, kupikir aku tidak pernah bersenang-senang seperti ini sebelumnya." Katanya. Lalu dia bersandar di tubuh Ichigo. "Sebelumnya, aku tidak pernah makan ramen, dan aku juga tak pernah berdansa dengan cara seperti itu." Rukia tersenyum. "Dan terima kasih untuk ikat rambutnya. Cantik sekali." Rukia mendongak pada Ichigo sambil tersenyum. Ichigo tersenyum balik dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencium dahinya. "Dan waktu kau mengajakku ke bukit itu, itu pemandangan terindah yang pernah kulihat." Katanya. "Pemandangan ini pun juga indah. Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu, Ichigo." Kata Rukia sambil meletakkan kepalanya kembali ke bahu Ichigo.

Ichigo tak tahan lagi. Dia menarik pinggang Rukia dan menariknya lebih dekat lagi padanya. Dia meletakkan hidungnya di atas rambut Rukia dan dia bisa mencium wangi mawar musim dingin dan anggrek. "Sama-sama," katanya pelan di telinga Rukia hingga gadis itu bergidik. "Aku tak menyangka aku bisa berbuat sejauh ini. Maksudku, aku memang sering mengajak adikku jalan-jalan dan melihat festival. Tapi baru kali ini aku membawa seseorang ke tempat pribadiku." Katanya.

"Tempat pribadi? Maksudmu diatas bukit tadi?" tanya Rukia.

"Yep." Ichigo menutup mata tanpa mengubah posisi mereka; duduk bersandar di sebuah pohon, sementara kepala Rukia ada di atas bahu Ichigo, Ichigo meletakkan kepalanya ke atas kepala Rukia, dan tangan Ichigo melingkari pinggang Rukia. "Aku sering pergi ke sana kalau sedang sedih atau kesepian. Pemandangan dari atas sana dan anginnya selalu membuatku terhibur dan aku selalu merasa lebih baik setelah pergi ke sana."

"Ah, begitu, ya?" kata Rukia. "Kenapa tak kau ceritakan tadi?" tanyanya.

"Aku sedang sibuk melihat sesuatu yang membuatku lebih bahagia daripada pemandangan disitu." Kata Ichigo asal.

"Oh, ya?" Rukia tersenyum geli. "Apa itu?"

"Kau."

Rukia terdiam. Wajahnya terasa panas. Dia berusaha tak mendongak dan menatap Ichigo—walaupun dia ingin tahu bagaimana wajahnya ketika mengatakan itu—karena dia tahu Ichigo pasti sedang menatapnya. Ichigo benar-benar orang yang berbeda; mengatakan itu tanpa merasa malu atau aneh dan dengan mantap dan yakin. Kurosaki Ichigo benar-benar pria yang selalu bisa membuatnya berdebar kapanpun dia berada di dekatnya. Tanpa dirasakannya sendiri, Rukia tersenyum dan dia membenamkan diri ke leher Ichigo lebih dalam. "Terima kasih," katanya singkat—karena dia tak tahu apa lagi yang harus diucapkan.

"Hn," Ichigo tersenyum dan mengusap rambut dan kepala Rukia yang wangi mawar. Dia mencoba berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencium puncak kepala Rukia. "Sama-sama."


Author's Note:

Saya mengerjakan fic ini sambil terkantuk-kantuk karena sudah hampir jam dua belas malam—dan saya juga nyambi ngerjain I Love My Shinigami. Besok saya bakalan hiatus lagi. Bukannya karena saya malas—saya lebih malas lagi mengerjakan soal2 akuntansi dan soal2 matematika. Tapi saya tidak mau mengulangi kesalahan yang saya buat tahun lalu yang membuat saya tidak naik kelas. Jadi saya harus lebih mengutamakan sekolah. Bagi kalian yang kesulitan membayangkan wajah/perawakan Minamoto Yoshimaru dan Minamoto Mirai, silakan membayangkan Jack Vessalius dan Alice. Karena sambil membuat fic ini, saya juga sambil baca2 Pandora Hearts gituh. Dan aku emang sengaja buat Yoshimaru mirip2 gitu sama Jack Vessalius. Mirai itu tampang sama rambutnya sama kayak Alice, tapi pakenya yukata. Bayangin sendiri ajalah, ya?

jawaban dari pertanyaan Vita XC Tari:

1. apakah nanti ada peperangannya? yap, nanti ada peperangannya (Perang Heiji dan Hougen), tapi masih lama.

2. kapan kaisar byakuya pulang? Byakuya pulang dua bulan lagi, jadi masih tersisa kira-kira lima minggu (Dalam alur cerita ini) bagi Ichigo untuk pedekate dengan Rukia. (ketawa2 gaje)

3. kalau gak salah chapter 8 gak ada disclaimer? Aiyayayai... saia selalu lupa menulis disclaimer setiap awal chapter dan saia selalu menulis disclaimer di halaman atas prolog. silakan dilihat kembali di prolog di bawah judulnya. kalo emang gak ada ya... my bad.

4. kata pembuka yg bahasa inggris ito apa mempunyai arti tersendiri? arti tersendiri? sama sekali enggak. itu cuman kayak opening song gituh. dan aku selalu nyari lirik lagu yang keliatannya pas untuk momen tersendiri yang akan muncul dalam setiap chapter.

5. apakah ni ceritanya akan panjang? Ini cerita akan sangaaaaat panjang. jadi bagi kalian yang bosenan, mungkin gak bakalan betah ngikutin. selain itu, karena intrik dalam cerita ini cukup berat (karena mencakup permasalahan politik dan perebutan kekuasaan) akan selalu ada OC yang muncul supaya klop sama sejarah Jepangnya sendiri (ini cerita di jaman Heian). jadi maaf bagi sebagian orang yang merasa chapter berikut ini ngebosenin dan nggak seru.

Okeh, sekian dulu. daripada curhat ato pidato, mending langsung aja lah. Bagi kalian yang cukup baik hati dan merasa fic ini bagus, click the blue button below and review, please. Don't like, don't read, don't review—please.