Nyaaaa, saya lupa sama fic ini*digampar.

Hiks, sepi yah disini XD

Karena itu kita langsung saja menikmati ceritanya :D

Hajimari-hajimari!

Chapter 9

Tujuan

Kunjungan ke Rukuso terasa amat cepat bagi Kurapika. tapi Ia sendiri tau bahwa tidak ada gunanya berlama-lama disana. Karena itulah sekarang ia berdiri disamping Kuroro Lucilfer sambil menatap matahari terbenam diatas sebuah kapal. Kuroro melirik gadis disebelahnya. Meskipun Kuroro tidak bisa melihat ekspresi sebenarnya, ia bisa merasakan bahwa gadis itu sangat tenang sekarang. Kurapika memang biasanya terlihat tenang. Tapi jika saat sekapal dengan beberapa anggota Ryodan dan dia masih setenang itu, itu baru berita besar. Bahkan Kuroro tidak bisa menemukan sedikitpun Bloodlust dari gadis disampingnya. Diperhatikan wajah gadis disampingnya yang nampak sedikit lebih tirus dari sebelumnya.

" Kurapika, kapan terakhir kali kau makan?" Tanya Kuroro. kurapika tak menoleh. Ia sibuk memperhatikan air laut berwarna sedikit jingga dibawahnya.

" Tadi siang." Jawab Kurapika pelan. Kuroro menghela nafas samar. Tadi siang versi Kurapika jelas bukan tadi siang yang sebenarnya. Gadis ini mulai memiliki daya ingat yang buruk. Kuroro menarik tangan Kurapika yang terasa sangat mungil ditangannya.

" Kuroro! kita mau kemana?" Protes Kurapika. Kuroro menoleh.

" Makan." Jawab Kuroro. Kurapika 'menatap heran' pada sosok hitam didepannya.

" Tapi kita baru saja makan siang bukan?"

" aku, iya. Kau belum." Kuroro berucap.

" Kuroro, kalau kau memang masih ingin makan, kau bisa makan sendiri bukan? Kalau kau memang ingin ditemani, kau bisa mengajak anggota-anggotamu itu." Ucap Kurapika.

" Dan membiarkanmu sendirian sedangkan mereka sepertinya akan dengan senang hati memutilasimu? Tidak." Jawab kuroro. Kurapika menghentikan langkahnya yang otomatis membuat Kuroro berhenti melangkah.

" Itu akan lebih mudah." Lirih Kurapika.

" Hah?" Kuroro tidak mendengar gumaman Kurapika.

" mm.. tidak penting." Jawab Kurapika. Kuroro menatap datar gadis pirang itu dan melanjutkan langkahnya.

" Berapa lama sampai kita tiba di Yorkshin?" Tanya Kurapika.

" Mungkin besok pagi." Jawab Kuroro singkat. Keduanya berjalan dalam diam. Kuroro membuka pintu menuju restoran dikapal itu. kemudian setelah menyuruh Kurapika duduk dikursi dekat jendela, Kuroro melambaikan tangan untuk memesan. Pelayan datang dan menjulurkan menu.

" Kau mau memilih atau kupilihkan?" Tanya Kuroro.

" Kuroro, aku sedang tak berniat makan. Sungguh!" Ucap Kurapika.

" Tidak. kau berada dikapal ini karena aku. Jadi setidaknya kau harus menurutiku sekarang." Tolak Kuroro. Kurapika menghela nafas lelah. Jadi sekarang dia bosnya?

" Kau saja yang pilihkan. Makanan apapun terserah." Jawab Kurapika akhirnya. " Toh aku tak akan menghabiskannya." Pikir Kurapika. Kuroro memesankan makanan untuk Kurapika. setelah berterimakasih kepada sang pelayan, Kuroro menoleh dan menatap Kurapika.

" Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Kuroro. Kurapika mengangkat bahunya.

" entahlah. Aku sedang berfikir apa kira-kira isi surat wasiat yang harus kutinggalkan dan bagaimana aku bisa memberikannya kepada teman-temanku." Jawab Kurapika. Kuroro tersenyum kecil.

" Tenang saja, anak buahku bisa mengantarkannya untukmu kalau kau mau." Jawab Kuroro.

" Jadi kau memang berniat membunuhku?" Tanya Kurapika.

" Entahlah. Mungkin anak buahku sangat berniat." Kurapika mendengus. Dalam hati Kuroro bersyukur Machi, shalnark dan Bonolenov sedang tidak sibuk sehingga bisa menemuinya. Dia tidak ingin terpaksa mengajak Feitan, Phinks atau Nobunaga.

" Ne, Kuroro.." Panggil Kurapika. Kuroro menatap manik biru itu.

" Aku.. tidak sedang baik-baik saja, bukan?"

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Aku.. tidak sedang baik-baik saja, bukan?"

Kalimat sederhana itu membuat Kuroro terdiam. Jadi gadis ini tau? Kuroro menghela nafas pelan.

" Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Kuroro. Kurapika 'tersenyum'.

" Hanya memperhatikan kebiasaanku dan kebiasaanmu. Sesederhana itu." Jawab kurapika. Kuroro mengangkat alisnya. Kebiasaanya dan kurapika? apa itu berhubungan?

" Aku selalu tidak ingat apa yang terjadi ketika aku bangun tidur. Bahkan aku merasa kebingungan dengan waktu yang berjalan. Terkadang aku baru saja bangun dipagi hari lalu kemudian aku terbangun begitu saja di sore hari." Kurapika menopang dagunya. Matanya menatap hamparan lautan jingga.

" Dan kau.. kau selalu cerewet menanyakan apakah aku mengingat sesuatu atau kapan terakhir kali aku makan." Lanjut Kurapika. Kuroro tersenyum kecil saat mendengar kalimat ini. cerewet?

" Jadi, Kuroro Lucilfer, bisakah kau katakan apa yang sebenarnya terjadi denganku?" Pinta Kurapika. Kuroro menatap manik biru itu. meski tak berekspresi, Kuroro bisa melihat kesungguhan berkilat-kilat dimanik azure itu.

" aku akan mengatakannya kalau kau memakan makananmu sampai habis." Jawab Kuroro enteng. Dalam hati Kurapika ingin mendorong Kuroro sampai kelaut!

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Kurapika berdiri di dek kapal. Ia mencengkram pembatas besi yang dingin akibat udara malam. Malam itu cerah. Kurapika menatap bulan purnama yang bulat sempurna diatas sana. Bersinar paling terang diantara cahaya-cahaya kecil milik para bintang. Jika pemandangan itu diibaratkan dengan kehidupannya, yang manakah dirinya? Bulan itu? atau bintang-bintang kecil yang berkelap-kerlip?

" hh.." Kurapika menghela nafas. Tidak.. dia tidak akan memilih keduanya. Kalaupun ada dia mungkin hanya gumpalan awan yang tak nampak dimalam hari. Dia adalah manusia terkutuk. Bagaimana tidak? sejak kecil ibunya selalu mengajarkan arti memaafkan, arti perdamaian, tentang tidak baiknya perasaan mendendam, marah dan sebagainya. Karena itulah suku Kuruta mendapatkan mata merah untuk peringatan. Bahwa setiap emosipun bersinar dengan cara berbeda. Pernah suatu kali Kurapika pulang dalam keadaan marah besar karena ketua suku meledeknya tidak akan bisa melewati tes keluar desa. Ibu Kurapika langsung menariknya dan mengajaknya berdiri didepan cermin. Menunjukkan kepadanya bahwa merah karena kemarahan itu benar-benar merah yang buruk. Ia masih ingat warna itu. Kurapika 'tersenyum kecil'. Ia tak tau bagaimana ia akan berhadapan dengan ibunya jika dirinya dipenuhi dengan dendam seperti itu. Kurapika memeluk lengannya. Mencoba mengurangi rasa dingin ditubuhnya. Sore tadi ia sudah mendengar penuturan Kuroro. ya, seperti yang ia duga, ia benar-benar tidak baik-baik saja. Entahlah.. Kurapika bingung dengan penjelasan-penjelasan itu. yang pasti, dia tidak bisa dibilang beruntung karena penyakit itu. kemudian matanya menerawang. Dia sakit. Dia bersama Kuroro selama ini. Kuroro yang mencarikan mata merah untuknya. Apakah itu berarti.. Kuroro ingin membantunya untuk sembuh? Kurapika ingin tertawa. Ya, dia ingin menertawakan dirinya. Ia ingin mengejek dirinya sendiri. Musuh besarnya tengah membantunya sembuh! Apa yang sebenarnya terjadi? Kurapika mengeratkan pegangannya pada pembatas itu. kemudian ia merasa matanya memberat. Dan tanpa bisa ia cegah, ia terlelap tanpa memikirkan dimana dia terlelap.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

" Danchou sepertinya sedang sangat serius." Gumam Shalnark. Machi menatap danchounya datar.

" Danchou selalu serius, Shalnark." Machi mencoba mengingatkan. Shalnark menggelengkan kepalanya.

" Tapi tidak selalu berwajah seperti itu bukan?" Bantah Shalnark. Kemudian ketiga anggota Ryodan itu memperhatikan wajah danchounya.

" Kau fikir Kuruta itu melakukan sesuatu padanya? Kau tau, seperti rantai perjanjian lagi?" Tanya Shalnark. Pandangannya tetap kearah sang danchou.

" hmm.. entahlah shal. Tapi aku tidak menangkap hal yang seperti itu sejak kita bertemu dengan Kurapika. sepertinya keduanya baik-baik saja."

" Kecuali ekspresi menggelikan dari gadis itu, mungkin." Timpal Bonolenov. Ketiganya mengangguk setuju.

" Jadi, bagaimana dengan instingmu, Machi?" tanya Shalnark. Machi mengangkat bahunya. Dalam hati sebnarnya ia punya insting yang kuat tentang apa yang terjadi diantara danchounya dan Kurapika. Tapi ia tau jika ia mengatakannya sekarang, ia bisa saja merusak semuanya.

" Entahlah Shal. Biaran Danchou yang memutuskan. Sedikit tindakan dari kita bisa merusak sesuatu yang berharga itu. jadi berhentilah ikut campur dengan masalah ini. percayakan saja kepada Danchou." Jawab Machi.

" huh?" Shalnark menatap Machi dengan tatapan bingung.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Kuroro menatap halaman bukunya dengan tatapan yang tidak terfokus disana. Halaman itu tidak terbuka selama 30 menit terakhir. Matanya memang menatap dan diam dihalaman itu. namun apa yang ada dipikirannya bukanlah isi buku tersebut. Percakapannya dengan Kurapika masih terekam jelas diingatannya

" Nah, aku sudah menghabiskan makananku. Jadi, kurasa sekarang giliranmu bercerita." Kurapika meletakkan garpunya diataspiring dan menatap Kuroro. Kuroro tersenyum kecil.

" Jadi apa yang ingin kau tau, Kuruta?"

" Semuanya. Semua yang kau ketahui tentang sesuatu yang salah denganku." Jawab Kurapika. Kuroro menghela nafas.

" baiklah.. darimana harus kuceritakan? Hmm.." Kuroro nampak berfikir. Kemudian ia mulai bercerita. Tentang bagaimana dan sejak kapan Kurapika menjadi boneka hidup tanpa ekspresi, bagaimana Kurapika melupakan hal-hal sederhana seperti jam makannya setelah beberapa waktu berlalu, bagaimana Kurapika dengan seringnya tertidur secara tiba-tiba, dan bagaimana Kurapika akan bereaksi jika sesuatu itu benar-benar membuat emosinya berada dipuncaknya. Kurapika mendengarkan dengan tenang. Setidaknya itu yang Kuroro perkirakan. Menebak tanpa tau apa yang diekspresikan itu sulit bukan?

" Souk a… jadi, kau menyembunyikan hal ini dariku?" Tuduh Kurapika. Kuroro mengernyit samar.

" Tidak juga. Kau tidak bertanya. Jadi aku tidak menjawab." Kuroro membela diri.

"Hei, Kuroro Lucilfer.. kenapa kau menyelidiki itu semua? Maksudku, kau tak perlu repot-repot mencaritau cara menyembuhkanku, kau tau.. kita bukan.. teman." Kurapika 'tersenyum'. Kuroro menatap gadis pirang didepannya datar. Ia tidak tau bagaimana menjawab pertanyaan ini. dalam hati Kuroro mengeluh. Kenapa Kurapika selalu membuatnya kesulitan menjawab pertanyaan semacam itu?

" Aku melakukannya karena aku ingin." Jawabnya. Kurapika menegakkan punggungnya.

" Maaf?"

" Aku melakukannya karena aku ingin melakukannya, Kurapika Kuruta. Dan aku tak perlu alasan lain." Jawab Kuroro. keduanya terdiam sejenak.

" Kuroro.. kenapa kau mempersulit semuanya?" gumam Kurapika. cukup keras untuk didengar oleh Kuroro. Kuroro mengangkat alis ketika kalimat itu keluar dari mulut Kurapika. Kurapika mengangkat wajahnya kemudian menatap dalam ke manik hitam milik Kuroro.

" Kau membuat segala sesuatu menjadi rumit. Dari awal hubungan kita adalah musuh. Tak keluar dari sana sedikitpun. Dan dengan apa yang kau lakukan, itu membuat segalanya berubah." Kurapika terdiam sejenak.

" Bukankah akan lebih mudah jika kita tetap seperti dulu? Aku membencimu dan kau membenciku. Kita saling mengejar untuk membunuh satu sama lain. Aku sendiri dan kau bersama anggotamu. Bukankah akan lebih mudah untuk kalian? Juga untukku."

Kuroro akhirnya memilih menutup buku ditangannya. Percakapan tadi bukanlah percakapan wajar bagi Kuroro. maksudnya, semua perkataan Kurapikalah yang tidak wajar. Kenapa dia justru terlihat kecewa dengan apa yang dilakukan Kuroro? kenapa Kurapika justru membicarakan aksi kejar mengejar mereka selama ini menjadi sesuatu yang terdengar Kurapika hanya akan berakhir ditangan Ryodan. Bukan Kurapika yang akan mengakhiri ryodan seperti biasanya? Gadis itu benar-benar berbeda sekarang. Sejak peristiwa penyerangan tak terduga setelah mereka mencuri mata merah di mansion Vincent tempo hari.. sejak Kurapika mengatakan dan memohon agar Kuroro membunuhnya, semua menjadi sulit bagi Kuroro. jujur saja.. bagi Kuroro, Kurapika sudah bukan lagi seorang target. Selama perjalanan mereka, Kuroro hanya tahu satu hal. Kurapika adalah orang yang harus Kuroro lindungi. Kuroro mengusap wajahnya. Kuroro tidak bodoh. Dia tau pasti apa yang dia rasakan. Dan dia tau ini bisa membuat perpecahan kapan saja. Kuroro menghela nafas berat dan memutuskan mencari udara diluar ruangan. Ia berjalan kearah dek kapal dan melihat gadis yang mengacaukan pikirannya dari tadi Kurapika nampak menunduk. Entah apa yang dicari gadis itu di hamparan air laut dibawahnya. Kuroro baru saja akan memanggilnya saat matanya melebar secara tiba-tiba. Tubuh Kurapika nampak terkulai dan posisinya membuat tubuh mungil itu melewati pembatas.

BYUR

Dan Kuroro dengan segera berlari.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Dingin. Kurapika tidak tau apa itu.. apa yang menyentuh kulitnya. Ia hanya merasakan sesuatu: dingin. Ia merasa pasokan udara ditubuhnya menipis. Hey, apa dia akan mati? Tunggu, kenapa ia harus mati? Maksudnya, apa yang terjadi? Apa Kuroro membunuhnya? Atau salah satu anggotanya itu? tapi kenapa rasanya sedingin ini? ah, ia ingat.. bukankah ia tengah ada di dek kapal? Tapi Kurapika ingat dia memakai pakaian hangatnya. Apa cuaca memang sedang suka berubah seenaknya? Tapi Kurapika suka.. ini terasa menyenangkan. Sensasi dingin dan hening.. Kurapika tak ingin pergi.. Kurapika ingin tetap seperti ini..

Pika..

Tidak.. dia masih ingin ketenangan..

" Kurapika!"

Dan mata itu kembali terbuka.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Kuroro berlari mendekati pembatas dan tanpa berfikir dua kali, Kuroro melompat untuk menyusul tubuh Kurapika yang sudah tak terlihat.

BYUR

Dingin. Lautan dimalam hari memang dingin. Tunggu.. Kurapika masih membuka matanya? Kuroro mengira Kurapika tertidur. Tapi.. Kurapika menatapnya tersenyum. Tunggu.. dia berekspresi. Apa itu artinya hal ini membuatnya bahagia. Apa itu artinya hal yang sangat ia inginkan sekarang adalah..

Kematian?

Tidak! itu bukan hal yang akan terjadi. Kuroro meraih tangan Kurapika dan menariknya kepermukaan. Ia bisa merasakan seutas benang di pakaiannya. Ia tersenyum kecil. Anak buahnya memang bergerak cepat. Kuroro menarik benang itu. dan kemudian, ia tertarik dan mendarat di atas kapal. Tempat Machi, Shalnark dan Bonolenov menunggu. Kuroro meletakkan Kurapika dan mulai memeriksa keadaannya.

" kalian, cari baju hangat, handuk, dan minuman hangat." Perintah Kuroro datar. Ketiganya mengangguk dan segera pergi mencari barang- barang tersebut. Kuroro menangkup wajah Kurapika. dingin. Kemudian ia segera melakukan CPR untuk Kurapika. Kuroro mengangkat sedikit wajah Kurapika dan memberikan nafasnya untuk Kurapika. mencoba sebisa mungkin agar kehidupan kembali kepada gadis didepannya. beberapa saat kemudian, Kurapika terbatuk dan memuntahkan air dari tubuhnya.

" Kurapika.." Panggil Kuroro. Kurapika nampak masih tak focus dengan sekitarnya.

" Kurapika!" Kali ini panggilan itu agak keras. Kurapika membuka mata sepenuhnya. Menatap sekelilingnya datar. Ia masih belum mencerna seutuhnya saat Kuroro menariknya dan memeluknya erat. Memberikan kehangatan pada tubuh Kurapika yang sudah cukup kedinginan.

" jangan sekali-kali kau berani melakukannya lagi!" suara Kuroro bergetar. Kurapika tak bisa menangkap apa yang sebenarnya dirasakan laki-laki itu. tapientah kenapa kurapika suka mendengarnya. Mendengar nada tak suka yang terselip disana membuat Kurapika menggigit bibirnya. Yang terjadi selanjutnya adalah, Kurapika mulai terisak dan menggenggam pakaian Kuroro erat.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Kurapika terbangun saat langit masih gelap. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian menyadari bahwa tangannya terasa hangat. Kurapika melirik kearah tangan kanannya dan memerah saat melihat apa yang terjadi. Kuroro disana. Tengah tertidur sambil menggenggam tangannya. Tunggu! Apa yang orang ini lakukan? Kurapika sudah akan mengeluarkan rantainya untuk membangunkan Kuroro saat laki-laki itu membuka matanya.

" ah, kau sudah bangun." Ucapnya. Kemudian laki-laki itu berdiri dan berjalan meninggalkannya. Melepaskan tautan tangannya. Kurapika menatap punggung Kuroro diam. Juga kecewa..

" Sou.. sebentar lagi kita sampai. Apa kau ingin membereskan barang-barangmu sendiri atau kusuruh Machi melakukannya untukmu?" Tanya Kuroro. Kurapika terdiam.

" Tidak. akan kulakukan sendiri." Jawabnya. Kuroro mengangguk mengerti. Kemudian ia berlalu dari hadapan Kurapika. Kurapika mengangkat tangannya yang sempat digenggam Kuroro. dan ia 'tersenyum' disana.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

Kurapika mengerjapkan matanya beberapa kali melihat sebuah masion didepannya. tunggu, Kuroro pasti bercanda kan? ini markas para Ryodan? Ia ingin tertawa. Selama ini Kurapika mengira para Ryodan akan berkumpul di bangunan tua tak terpakai dan usang. Penuh sarang laba-laba ( mungkin karena mereka suka laba-laba?) dan kusam.

" Kau.. tidak masalah jika harus menemui anggotaku bukan?" Tanya Kuroro. Kurapika menoleh.

" Tidak. bukan masalah besar." Jawabnya tenang. Kuroro tersenyum kecil dan melangkah didepannya. kemudian ia membukakan pintu dan mengisyaratkan agar Kurapika masuk kedalamnya. Kurapika masuk setelah mengucapkan permisi ( Ia tau itu adalah markas musuhnya, tapi dia adalah gadis penuh sopan santun.).

" Wah..wah… ternyata tamu special kita ini benar-benar special." Sebuah suara terdengar dilantai dua. Kurapika menengadahkan kepalanya dan melihat Nobunaga berdiri disana. Kemudian dalam waktu 3 detik Kurapika bisa melihat Phinks dan Nobunaga berdiri didepannya. wajah mereka sudah bagaikan predator yang kelaparan dan melihat mangsanya.

" danchou, oleh-olehmu kali ini benar-benar menarik." Ucap Phinks. Dibelakang Kuroro, Machi memutar bola matanya. Sedangkan Shalnark berusaha menahan tawa dengan senyumannya. Bonolenov? Jangan tanyakan dia karena taka da yang tau bagaimana ekspresinya. Kuroro hanya menatap anak buahnya datar. Dalam hati dia ingin memindahkan anak buahnya itu ke tempat lain. Tapi pelayaran dadakan itu juga terjadi agar Kurapika bisa segera sembuh. Kuroro hanya memberitahu tentang Kurapika kepada Shalnark. Dan mempercayakan Shalnark untuk mengajak dua orang dari anggotanya untuk menemaninya dalam misi penjemputan.

" Nah, Danchou.. apa yang akan kita lakukan dengan kusari aru sialan ini?" Phinks sudah memutar lengannya. Kuroro meliriknya sekilas.

" Sou.. aku membutuhkan bantuan kalian."

" Dengan senang hati, Danchou. Kau ingin agar Kusari aru memasuki camp penyiksaan Feitan lebih dulu?" Tawar Phinks. Diatas sana, Feitan sudah akan bersiap mengasah payung kesayangannya.

" Tidak, aku akan membunuhnya, danchou!" Nobunaga meminta izin. Kuroro berjalan masuk diikuti oleh Kurapika. keduanya lantas duduk di sofa.

" danchou, apa yang.."

" Kalian berdua." Suara Kuroro terdengar tenang. Kedua makhluk itu menyeringai seram saat mendengar suara danchounya. Akhirnya.. mereka akan mendapat kesempatan untuk memutilasi kurapika!

" Tugas Kalian berdua adalah.." Phinks bahkan sudah menggunakan ren.

" Phinks, buatkan Kurapika teh. Nobunaga, carikan sarapan untuknya."

…..

…..

….

" Eh?" Hanya itu yang bisa mereka keluarkan dari mulut mereka. Kurapika 'mengangkat alisnya' heran. Teh? Mendapatkan suguhan teh dari genei ryodan? Mungkin Kurapika tak akan menyentuhnya. Teh beracun adalah minuman ideal untuk tamu yang merupakan musuh bebuyutan bukan?

" tentu saja tidak ada racun didalamnya." Kali ini suara kuroro terdengar menakutkan. Kurapika merasa ia ingin tertawa. Phinks dan Nobunaga masih membatu disana. Apa? Telinga mereka tidak terkena penyakit tuli mendadak atau tadi ada lalat yang tidak sengaja masuk kedalam telinga mereka?

" Apa yang kalian lakukan?" Tanya Kuroro.

" ah.. baik, danchou." Jawab keduanya. Ketika sudah tak ada orang disekitar mereka, Kurapika mulai bersuara.

" Jadi, kenapa aku harus ikut denganmu ke mansion ini. kau bukannya sengaja mengundangku untuk jamuan makan bukan?" Kuroro tersenyum kecil.

" Aku akan menjawabnya jika kau menghabiskan makananmu nanti." Jawabnya santai. Kurapika 'mengernyit'. Kalimat yang sama. Sayangnya kali ini taka da laut. Kurapika jadi ingin menghancurkan bangunan itu. keduanya duduk dalam diam. Kuroro mengambil sebuah buku di meja kecil sebelah sofanya dan mulai membacanya. Sedang kurapika hanya duduk diam sambil mengamati interior bangunan itu. ( dan mencari-cari apapun yang berlambang laba-laba). Beberapa menit kemudian Phinks datang sambil membawa nampan berisi dua cangkir yang mengepul. Ia meletakkannya dimeja. Kurapika memperhatikan Phinks yang meletakkan cangkir miliknya dengan wajah menahan amarah. Kurapika ingin tertawa. Tapi tidak.. Kurapika hanya 'tersenyum' dan mengucapkan apa yang tidak seharusnya ia ucapkan.

" Terimakasih, Phinks-san." Ucapnya. Phinks mengerjapkan matanya. Ok, Kurapika memang tak berekspresi. Tapi ia bisa mendengar ketulusan disuaranya.

" a..um." Jawab Phinks kemudian dengan cepat ia meninggalkan tempat itu. Kuroro mengangkat alisnya.

" Kau memberinya kalimat semacam itu?" Tanyanya. Kurapika menoleh.

" Ya. Ada yang salah?" Kurapika meraih gelasnya dan memperhatikannya. Apa ini minuman yang aman? Kuroro meraih gelasnya dan dengan cepat menukar gelasnya dengan gelas Kurapika. Kurapika 'menatap' Kuroro heran.

" Setidaknya anak buahku tak akan meracuni gelas untukku. Minumlah." Kuroro menjawab keheranan Kurapika.

" um. Terimakasih." Jawab Kurapika. Kuroro menghentikan acara meminum tehnya.

" Apa?" Tanya Kurapika bingung.

" Kau mengucapkannya lagi." Kurapika tertawa.

" Hei, aku selalu mengucapkannya kepada siapapun yang membantuku atau menghidangkan sesuatu untukku, Kuroro." Kuroro mengangkat bahunya.

" Tapi itu hal luar biasa jika berhubungan dengan ryodan." Jawabnya. Kurapika 'tersenyum'.

" Entahlah. Kali ini mungkin aku akan menahan diriku." Jawabnya. Keduanya terdiam. Beberapa menit berlalu. Nobunaga datang dengan sarapan yang ia dapatkan entah darimana.

" nah, aku sudah menghabiskan sarapanku dan sekarang giliranmu. Katakana apa maumu." Suara Kurapika terdengar tegas. Kuroro menatap gadis itu dan menghela nafas. Ia bangkit dari duduknya.

" Ikut aku." Perintahnya. Kurapika mengerjapkan matanya dan bangkit. Kemudian ia berjalan dibelakang Kuroro. keduanya menyusuri lorong dengan berbagai lukisan didindingnya. Sampai akhirnya lorong itu berujung pada satu pintu. Kuroro membuka pintu itu. Kemudian ia mempersilahkan Kurapika masuk keruangan itu. Kurapika memasuki ruangan itu dan menelusuri sekitarnya. Ruang baca? Kemudian ia merasa pandangannya menggelap. Kuroro mematikan lampu ruangan itu.

" Kuroro, apa yang kau lakukan?" tanya Kurapika.

" Ikut aku." Lagi-lagi Kuroro menjawab seperti itu. Kurapika mendengus kesal. Kuroro berjalan menyusuri ruangan itu. Kurapika bisa melihat seberkas cahaya kemerahan didepan sana. Kemudian matanya melbar. Kuroro bisa mendengar Kurapika terkesiap dengan apa yang dilihatnya. Disana, berjejer tabung-tabung berisi mata merah. Kurapika tak bisa berkata-kata. Matanya memerah.

" Maafkan aku, Kurapika." Bisik Kuroro. Kurapika menoleh dan menemukan wajah Kuroro. Kuroro menatapnya dalam.

" Maafkan aku. Aku tau ini tak akan cukup. Tapi aku benar-benar mengharapkan kau bisa memaafkanku." Ucap Kuroro. kurapika terdiam. Memaafkannya? Kurapika bergetar.

" Kuroro.. permintaan maaf tak akan merubah segalanya. Permintaan maaf hanya akan membuatmu merasa lebih baik.. bukan aku." Kuroro mendengarkan gadis itu dengan seksama.

" Aku tau." Hanya itu yang bisa ia berikan sebagai jawaban. Kemudian Kuroro bisa melihat Kurapika mengeluarkan air mata disudut matanya.

" aku tau, mungkin aku akan dikutuk oleh mereka semua." Kurapika menatap kumpulan mata merah itu sejenak sebelum kembali menatap Kuroro. " Tapi aku juga tak bisa hidup seperti ini, kuroro. aku merasa dendam kepada kalian ini salah. Maksudku, akupun taka da disana saat itu. akupun tak bisa melindungi mereka. Memberikan rasa marahku hanya pada kalian jelas salah. Lantas apa bedanya aku dengan kalian? Kalian memang membunuh mereka. Tapi akupun membiarkan mereka terbunuh." Kuroro menyelipkan tangannya diwajah Kurapika. mengangkat wajah menunduk itu agar ia bisa melihatnya lebih jelas.

" Kau bodoh. Kau dan pemikiranmu selalu tidak logis, Kurapika." Kurapika mengerjapkan matanya. Menyebabkan beberapa butir air mata mengalir disana.

" Kau dan kami jelas berbeda. Dan ini bukan salahmu." Kuroro berbisik. Kurapika menggigit bibirnya.

" Kau tidak tau Kuroro.. aku melakukan dosa besar lainnya untuk mereka.. aku.." Kurapika tak bisa berkata-kata lagi. Wajahnya sudah terkubur di dada Kuroro. Kuroro tidak merasakan adanya perlawanan dari kurapika. Kuroro menjauhkan wajah Kurapika dan menatap wajah tenang yang tengah tertidur itu. kuroro tersenyum. Ia yakin rencananya akan berhasil. Setidaknya pasti perasaan gadis itu jadi lebih ringan sekarang. Ia juga sudah meminta maaf. Mata merah sudah ada didepan mata. Kuroro meraih ponsel di saku bajunya.

" ah, shalnark? Apa kau sudah menghubungi mereka?"

" Um. Mereka akan tiba tiga jam lagi."

" Kurasa kau harus menjemput mereka."

" eh? Kurasa. tapi aku tak yakin mereka mau, danchou. Apalagi si kecil berambut putih itu. dia sangat cerdas."

" hmm.. Killua zoldyck? Ya, dia akan sangat waspada pastinya. Tapi si kecil satunya pasti akan mau jika kau mengatakan bahwa Kurapika sudah menunggu mereka." Diseberang sana, Shalnark menghela nafas.

" Baiklah, danchou. Akan kucoba."

" Um. Berangkatlah." Perintahnya sebelum akhirnya ia memutuskan panggilannya. Kuroro menatap Kurapika yang terkulai dilengannya.

" Dan kau harus tau, saat aku sembuh, aku benar-benar tak mengingat apapun dari masa-masa saat aku mengidap penyakit itu."

Perkataan Mary dari Slyph terngiang. Ya, jika rencananya berhasil.. kurapika tidak akan mengingat ini semua. Kurapika tak akan mengingat semua hal saat perjalanan mereka selama ini. termasuk tentang permintaan maafnya tadi. Kuroro tersenyum. Takdir memang aneh bukan? Saat sesuatu mulai membaik seperti ini, justru akan menghilang begitu saja. Kuroro memeluk tubuh itu erat. Kemudian dengan sangat hati-hati ia meletakkan Kurapika disalah satu sofa ruangan itu. Kuroro menatap wajah itu dan tersenyum disana. Kemudian ia mendekatkan wajahnya dan menyentuh bibir Kurapika dengan bibirnya.

"Sayonara." Bisiknya.

99999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999999

-TBC

Hiyaaaa ampuni hambaaaa

Saya baru melanjutkan fic nista ini. Dan kenapa pula jadinya gini ya XD

Terror bird-san: iya dia kagak ingat dengan apa yang terjadi. Padahal author udah nulis capek-capek (?). terimakasih sudah mampir

Istiara Bukian: hiyaaa maafkan author.. baru update hiks..terimakasih sudah mampir

Macherry-san: fufufufu saya sudah bikin papa phinks suguhin the. Danchou kita ini memang hebat bukan XD. Terimakasih sudah mampir dan saya sudah bayar hutang XD

Gochi-san: sama!sama! meskipun saya ga tau bumbu apa yang kurang XD. Terimaksih sudah mampir ^^

VermieHans: kalo aselinya dia cowok. Tapi dicerita ini dia cowok jadi-jadian XD. Aduh dibombardir review.. iya ya? Ntar shalnark kehilangan lapak XD. terimakasih banyak sudah mampir ^^/

Dan untuk kalian yang masih setiap padaku (?) terimakasih banyaaak I love you.. para tukang tagih, para pembaca, followers dan favoriters (?), juga reviewers.. terimakasih..

Jaa!