Akhirnya update lagi~! Ah…saya jadi excited sendiri pas nulis chapter ini. Readers-tachi, maafkan saya jika telat lagi, tapi yang pasti saya sudah update~!

Halilintar: Berisik…

Author: Gimana, Hali? Kau juga senang bukan?

Halilintar: H-hah?! Ngapain aku senang? Yang ada aku malah pusing tau! Dan lagi, berhenti ngebacod disitu dan langsung saja bales review mereka, dasar Author hombreng!

Author: -_- Hali…kau benar-benar tidak bisa jujur pada dirimu sendiri ya…? *sigh* yosh, saatnya balas review~!

EruCute03

Hahaha~! Halilintar pasti bisa menyimpan kesabarannya untuk waktu yang lebih lama. Tapi kalo enggak yah…entah… *siul siul watados*. Baiklah, terima kasih reviewnya ya!

Willy0610
Gomen ne…laptop author sempat mengalami kerusakan sedikit jadi harus nginap di rumah senior selama seminggu buat nge-benarin laptop. Tapi sekarang udah update! Trims reviewnya ya~!

Annisa Arliyani Wijayanti
Apa yang dimaksud Ejo jo itu…yah, jawabannya ada di chapter ini jadi silahkan dibaca! Ngomong-ngomong, terima kasih atas reviewnya! ^^

Alyagupitanurmalitasari
Hohoho! Dengan bertambahnya penghuni rumahnya, jelas lah Halilintar bakalan pusing! XD maaf atas keterlambatannya, and thanks for review!

NaYu Namikaze Uzumaki
Maaf saya agak telat Nayu-san, tapi sekarang udah update jadi silahkan~! Hehehe…chapter sebelumnya memang saya ambil dari salah satu episode Umaru. Saya lupa kalo Gempa seharusnya punya peliharaan jadi sebelum lebih terlambat saya munculkan saja di chappy kemarin. ^^
Ngomong-ngomong, apa yang dimaksud Ejo jo itu…ha! Ada di chap ini. Dan soal kenapa mereka hidup terpisah…itu akan terjawab di chapter-chapter berikutnya. Ah…tenang aja, ortu mereka masih ada kok. Kalo penasaran, silahkan baca side story fanfiction ini yang bercerita tentang masa lalu Taufan dan Halilintar *promosi*.
Oke, terima kasih karena sudah mereview, Nayu-san!

Rampaging Snow
Saya juga nggak sabar pengen lihat reaksi mereka ketemu Blaze sama Ice. Oke, thanks for review! :D

Mahrani29
Yeah…Boboiboy twins yang lagi main sama hewan itu emang kawaii! XD
Maksud dari Ejo jo akan terjawab di chapter ini. Hehehe…agak aneh juga ya karena hanya Hali yang di anter pake mobil…
(Halilintar: *mendengus bangga* Itu karena aku anak baik dan normal…
Author: Hali plis…jangan OOC deh…)
Anyway, thanks for the review! ^^

Lily
Ah…saya senang kalo Lily-san merasa terhibur sama fict yang absurd ini…ehm, thanks udah review ya! :D

N Rani kudo
Hahaha…Halilintar emang bikin kasihan…tapi asik lho, nistain dia~ *lari menghindari hujan halilintar* maaf karena telat ya, terima kasih udah memberikan review ya~!

Mungkin beberapa alur di chapter ini udah bisa ditebak oleh readers…tapi saya tentu saja akan menyiapkan beberapa kejutan disini *gosok hidung* oke, langsung saja ya!

Enjoy~!

(2 minggu sebelum Gempa pergi ke turnamen RoadFight)

Rabu, 11.45.p.m.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak sedang melaju di tengah kegelapan malam. Meski waktu hampir menunjukkan tengah malam, Kuala Lumpur memang selalu tampak aktif dipenuhi dengan berbagai kendaraan bermotor serta pejalan kaki.

"Nah, kalian sudah siap?" Seorang pria berusia lanjut yang duduk di sebelah supir membuka pembicaraan setelah 15 menit hening semenjak meninggalkan bandara.

"Umm…entahlah…hoaaam…aku lelah…" Seorang anak laki-laki berjaket biru laut menjawab sekenanya sambil menguap.

"Ah…kau sudah ngantuk? Kalo begitu tidur saja," Anak lain yang memiliki paras serupa dengan yang pertama, tetapi memakai jaket tanpa lengan berwarna orange kemerahan bersuara.

"Kakak sendiri?" Bocah berjaket biru bertanya dengan suara serak karena terlalu lelah.

"Umm…tidak, aku masih bisa tahan sampai rumah," Jawab bocah berjaket orange tersebut dengan cengirannya.

"Ngomong-ngomong, Ibu…kita akan tinggal dengan kalian?" Tanya bocah serba orange-merah tadi setelah menyadari adiknya sudah tidak menjawab lagi karena sudah terlelap.

"Ibu harap sih begitu…tapi daripada kalian hanya akan kesepian karena Ayah dan Ibu tidak bisa selalu ada di rumah, Atok punya ide yang lebih bagus," Jawab sang Ibu sambil mengelus kepala salah satu anaknya yang tertidur lelap di sampingnya.

"Oh…kalo begitu apa itu, Tok?" Tanya bocah itu lagi dengan antusias.

"Kalian akan Atok antar ke Pulau Rintis," Tok Aba yang duduk di depan menjawab sambil membetulkan peci yang dikenakannya.

"Pulau Rintis?"

"Ya, Pulau Rintis. Dulu Atok tinggal di sana…tapi Atok terpaksa harus kembali ke sini karena sibuk," Jelas Tok Aba.

"Kalo begitu…dengan siapa kami akan tinggal?" Anak berjaket orange itu kini merapatkan posisi duduknya dengan adiknya-mungkin karena kedinginan.

"Kalian akan tinggal disana dengan Atok dulu untuk sementara," Jawab Tok Aba.

"Jadi kapan kita akan berangkat?" Tanya bocah itu kembali dengan nada antusias.

"Bagaimana kalo besok sore?" sang Ayah yang daritadi diam akhirnya mengeluarkan suara.

"Tentu saja! Aku tidak sabar melihat kampung halamannya Atok!" Seru anaknya yang duduk di sampingnya itu dengan ceria-sedikit mengingatkannya pada salah satu anak pertamanya yang kini juga sudah tinggal di Pulau Rintis.

"Baiklah, kalo begitu sampai rumah langsung istirahat ya," Ucap sang Ibu sambil tertawa kecil.

"Un! Tentu saja!" Anak keduanya yang memiliki paras sama persis dengan tiga anak pertamanya itu tersenyum lebar, lalu diiringi tawa dari seisi mobil-minus Ejo jo sang supir yang hanya tertawa kecil dan sang adik yang sudah tertidur nenyak.

~Twisted~

Halilintar berlari menyusuri koridor sekolah dengan tergesa-gesa, mengabaikan teguran Gopal dan juga sindiran Fang-yang biasanya akan diladeni oleh Halilintar dan berakhir dengan mereka berdua yang diseret ke ruang BK.

Halilintar membuka pintu kelasnya dengan kasar, berhasil mengalihkan perhatian seluruh kelas termasuk Yaya yang sedang sibuk menulis sesuatu di buku catatannya.

"Halilintar? Ada apa?" Tanya Yaya bingung melihat tingkah teman sekelasnya tersebut.

Halilintar memang dikenal gampang marah dan ringan tangan, tapi tidak biasanya dia akan membuka pintu kelas seheboh tadi. Yang ada malah jika Halilintar sudah memasuki kelas, maka tidak ada yang akan memperhatikannya-atau mungkin berusaha untuk tidak memperhatikannya.

"Yaya…k-kau pernah dengar tentang adanya murid pindahan ke sini?" Tanya Halilintar cepat setelah meletakkan tasnya di meja yang tepat di depan meja Yaya.

"Eh? Seingatku…terakhir kali adalah Taufan. Memangnya ada apa?" Tanya balik Yaya yang masih tidak mengerti dengan tingkah pemuda di depannya ini.

"Uh…baiklah, aku mengerti. Terima kasih," Halilintar berbalik dan berlari keluar kelas dengan gelisah, meninggalkan Yaya dengan wajah cengo karena semakin di buat bingung.

"H-halilintar…berterima kasih padaku…?" Sontak wajah Yaya langsung memerah karena ini adalah pertama kalinya Halilintar berterima kasih padanya.

Baiklah, Yaya fix salah fokus…

~Twisted~

"Huh…Kak Hali kenapa sih? Main tinggal begitu saja…" Desah seorang pemuda bertopi biru menyamping sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala.

"Mungkin…Kak Halilintar ada urusan?" Komentar pemuda berwajah serupa dengan topi hitam-kuning yang dikenakan terbalik.

"Urusan? Tidak biasanya dia akan mendadak begitu. Dan ingat tidak, tadi dia berteriak seperti tidak ada hari esok," Ucap pemuda bertopi biru yang bernama Taufan tersebut.

"Kak Halilintar juga kenapa bisa sampai di sekolah dengan cepat ya…ku pikir setelah dia berkata akan berangkat duluan, harusnya kita tidak akan tertinggal begitu jauh," Boboiboy Gempa menempatkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagu.

"Sudah lah…Kak Hali memang selalu sulit ditebak. Aku duluan ya," Taufan berlari duluan memasuki kelas II-B, meninggalkan Gempa yang hanya membalas dengan lambaian tangan, kemudian berjalan memasuki kelasnya sendiri.

~Twisted~

Jam pelajaran pertama di kelas II-C adalah pelajaran bahasa Inggris. Tampak Miss Timmi, guru bahasa Inggris mereka sedang sibuk menerangkan sebuah pola kalimat British di papan tulis dan disimak dengan serius oleh 90 % murid di kelas tersebut.

Halilintar, salah satu dari 10 % murid yang malas memperhatikan menopang dagunya dengan tangan kanannya, dan iris mata yang sewarna dengan batang pohon tersebut fokus menatap keluar jendela, dengan pikiran yang terus melayang-layang memikirkan ucapan 'bodyguard'nya sebelum dirinya keluar dari mobil.

"Tch…apa maksud Ejo jo…? Dimana mereka sekarang…? Uh…bukan berarti juga aku mau cepat-cepat bertemu mereka sih…" Halilintar mendengus sebal sebelum mengarahkan tatapannya ke arah papan tulis.

Oh lihat, bahkan dalam batin pun Halilintar masih tetap Tsundere~ *lari menghindari hujan halilintar*.

~Twisted~

"Kak Hali!" Halilintar menoleh, dan kemudian menghela napas melihat kedua saudara kembarnya sedang berlari menemuinya dengan senyum sumringah-sebenarnya untuk yang itu hanya Taufan.

"Kak Halilintar…kami mencari kakak kemana-mana tau," Ucap Gempa setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan kakak tertuanya.

"Kenapa? Kalian ada maunya ya?" Sahut Halilintar sedatar dinding kamar author(?).

"Mou…Kak Halilintar, memangnya aku ini sejahat apa sih sampai hanya mau menemui kakakku tersayang jika ada maunya~" Ucap Gempa sambil bergelayut manja di lengan kakak sulungnya.

"Menjauh! Kau menjijikkan," Halilintar dengan kesal mencoba mendorong kepala adik keduanya dengan kasar, tapi tetap tidak berhasil membuat Gempa pindah.

"Ehm…Gempa, Kak Hali…aku tidak tau seperti apa hubungan kalian sebelum aku sampai ke Pulau Rintis…tapi sebaiknya hentikan," Bisik Taufan dengan kedua mata melirik ke arah segerombolan gadis-gadis yang sedang cekikikan mencurigakan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Oke…cukup!" Halilintar dengan tidak ber-prikemanusiaan langsung memutar lengan kanannya yang saat ini sedang dikuasai oleh Gempa. Dan putaran mendadak dari Halilintar itu sukses membuat Gempa terhuyung-meski tidak sampai terjatuh karena ditahan oleh Taufan.

"Kak Halilintar apaan sih!" Protes Gempa sambil memegangi kepalanya.

"Salah sendiri," Jawab Halilintar cuek kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti karena kedua adik kembarnya tersebut.

~Twisted~

"Kalian ini sebenarnya kenapa sih?" Ucap Halilintar ketus.

"Kak Hali yang kenapa, bukannya jam istirahat memang kami akan pergi menemui Kak Hali?" Balas Taufan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya yang di full-zip.

"Bukan urusan kalian," Jawab Halilintar masih dengan nada ketus, sedangkan kedua adiknya bertatapan dengan bingung, karena tiba-tiba saja mood kakak mereka ini jadi sangat down.

"Apa jangan-jangan Kak Hali lagi Pms ya…?" Taufan dengan cepat menggelengkan kepalanya ketika pikiran ngeresnya tiba-tiba datang menghampiri.

"O iya, Kak Taufan mau menemaniku ke game center ClockZone nanti sore?" Tanya Gempa setelah berhasil menemukan tempat duduk untuk mereka bertiga di kantin yang cukup ramai tersebut.

"Umm…boleh saja, aku juga tidak sibuk. Tapi…tidak biasanya kau mau mengajakku ke tempat bermainmu itu," Sahut Taufan.

"Yah…hanya ingin saja. Lagipula…setelah apa yang terjadi sebelumnya, aku tidak yakin BAZ masih mau bermain denganku…" Gumam Gempa dengan wajah ala jones(?).

"Hey…kau ternyata masih mempermasalahkannya ya?" Taufan sukses sweatdrop.

"BAZ?" Halilintar menatap kedua adiknya dengan alis berkerut tanda tidak mengerti.

"Ah…hanya teman baruku. Aku bertemu dengannya di turnamen RoadFighters tempo hari," Jelas Gempa.

"Nama macam apa itu?" Tanya Halilintar lagi.

"Emm…itu hanya code name nya, Kak Halilintar. Kakak tau kan, setiap gamer memiliki code name mereka masing-masing karena tidak baik memberitau kan nama asli kita pada gamer lain kecuali jika sudah berteman dekat," Jelas Gempa.

"Dan kau sudah memberitau namamu pada orang yang bernama BAZ itu?" Halilintar kembali bertanya-entah kenapa nada bicaranya kedengaran seperti tertarik dengan topic pembicaraan mereka kali ini.

"Yah…sebenarnya aku mau memberitaunya, tapi karena waktu itu Kak Taufan muncul mendadak, dia jadi kabur deh," Jawab Gempa sambil mendelik ke arah Taufan yang baru saja mau menikmati milkshake nya.

"Please, jangan membuatku terlihat seperti pihak yang bersalah disini…" Desah Taufan sweatdrop.

"O iya, code name ku sendiri adalah GMA, mungkin mudah ditebak bagi seseorang yang sudah kenal lama denganku," Ucap Gempa tanpa menggubris ucapan Taufan.

"Oh…" Halilintar kembali menopang dagunya dengan kedua iris mata yang menoleh ke arah lain, sebelum kedua iris berwarna hazelnya membulat sempurna, sepertinya dirinya baru saja mengingat sesuatu.

"Kurasa hal itu juga berlaku untuk BAZ…" Gumam Halilintar yang mendadak berdiri dari kursinya.

"Hah?" Taufan menggumam tidak mengerti dengan tingkah kakak kembarnya tersebut.

"Kak Halilintar, apa maksudmu?" Tanya Gempa bingung.

Tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya, Halilintar langsung berlari meninggalkan kedua adiknya yang hanya cengo menatap kepergian dirinya yang tiba-tiba tersebut.

"Serius deh, Kak Halilintar hari ini kenapa sih?" Tanya Gempa bingung.

"Mungkin benar…Kak Hali lagi Pms…" Gumam Taufan ngaco.

~Twisted~

Halilintar berlari dengan terburu-buru keluar menyusuri selasar sekolah sampai akhirnya tiba di depan gerbang sekolah. Tanpa mempedulikan teriakan penjaga sekolah, Halilintar berlari keluar dari halaman menuju jalan raya-tepatnya menuju sebuah mobil hitam yang terparkir manis tidak jauh dari sekolahnya.

Dengan kasar, Halilintar mencoba membuka pintu mobil yang terkunci tersebut, mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan terburu-buru, kemudian kembali berusaha membuka pintu.

"Wow, wow…tidak usah terburu-buru begitu, Halilintar…"

Kaca mobil depan terbuka, dan tampaklah Ejo jo yang sedang asik dengan ponselnya. Senyum bisnis masih setia terpampang di wajah maskulinnya.

"Tch! Kenapa kau masih disini?!" Bentak Halilintar.

"Nah…jika aku tidak ada disini, pasti kau akan sia-sia berlari menerobos keluar sekolah begitu," Jawab Ejo jo santai.

"Katakan padaku, apa maksudmu?! Mereka…mereka tidak ada di sekolah…" Ucap Halilintar dengan lebih tenang.

"Makanya kalo orang lagi ngomong jangan main kabur begitu dong. Siapa juga yang bilang kalo mereka sudah di sekolah? Saat ini Tok Aba sedang mengurusi berkas-berkas kepindahan mereka di sekolah kalian. Harusnya mereka sudah boleh sekolah hari ini…tapi siapa sangka mereka malah tidak masuk?" Jelas Ejo jo tanpa mengganti nada bicaranya.

"Hah...sepertinya aku sudah buang-buang waktu," Halilintar mendengus kesal kemudian berbalik, hendak berjalan kembali kesekolah sebelum dirinya kena masalah karena keluar dari sekolah tanpa izin.

"Kalian dengar itu? Bukan kah sudah aku bilang, kakak kalian sangat antusias menyambut kalian?"

Langkah Halilintar terhenti, mendengar ucapan Ejo jo-yang sengaja mengeraskan suaranya.

"Tunggu…apa?" Halilintar kembali berjalan mendekati mobil sedan tersebut.

"Aku sudah menyuruh mereka untuk turun…tapi mereka tidak mau sampai setidaknya salah satu dari kalian bertiga datang menjemput. Dan coba lihat, siapa yang datang untuk menemui mereka~?" Jelas Ejo jo dengan senyum makin lebar, membuat Halilintar hanya melongo di tempat.

"Jangan-jangan…" Wajah Halilintar berubah biru, sedangkan Ejo jo bersiul-siul santai kemudian menurunkan kaca mobil bagian belakang yang sejak tadi tertutup sehingga isi dari mobil bagian belakang tidak bisa terlihat dari luar.

"Nah…sekarang kakak kalian sudah disini. Sudah siap untuk hari pertama sekolah di Malaysia?" Tanya Ejo jo kembali dengan senyumnya, mengabaikan Halilintar yang masih membeku di tempat sebelum akhirnya menggertakkan giginya dengan kesal, namun kedua sudut bibirnya malah tertarik ke atas.

"Kau memang sialan, Ejo jo…"

~Twisted~

"Duh…Kak Hali kemana sih? Ini sudah lonceng masuk," Gumam Taufan bingung sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Kak Halilintar sih memang bukan murid teladan…tapi aku tidak pernah melihat Kak Halilintar bolos pelajaran," Sambung Gempa yang sama bingungnya dengan kakak keduanya tersebut.

"Hey, kalian berdua saudara kembarnya Halilintar kan?" Taufan dan Gempa menoleh, dan menemukan seorang pemuda-kira-kira seumuran dengan mereka-dengan surai hijau yang tidak biasa, dengan mata cokelat caramel yang mengingatkan Taufan pada milkshakenya yang sudah tandas masuk ke perutnya.

"Siapa…?" Gumam Taufan.

"Ah…Adu du. Ada apa?" Tanya Gempa.

Pemuda hijau yang bernama Adu du itu menggaruk tengkuknya sebelum kembali menatap Gempa, "Aku mencari kakak kalian. Hanya ingin memberitau bahwa latihan akan ditunda dulu sampai minggu depan karena pelatih ada urusan keluar kota," Jelas Adu du.

"Ah…kami mengerti. Akan kami sampaikan, karena Kak Halilintar juga menghilang entah kemana semenjak jam istirahat tadi," Jawab Gempa.

"Aku sebenarnya sempat melihat Halilintar, dia tampak terburu-buru menuju halaman sekolah. Aku mencoba untuk memanggilnya, tapi sepertinya dia tidak dengar," Jelas Adu du.

"Uh…begitu ya. Kami mengerti, terima kasih," Ucap Gempa sedikit sweatdrop dengan tingkah kakak pertamanya tersebut kemudian dirinya dan Taufan pun pamit menuju kelas.

"Gempa, tadi itu siapa?" Bisik Taufan.

"Oh…dia Adu du, kakak kelas kami. Dia juga merupakan ketua club karate yang diikuti oleh Kak Halilintar," Jelas Gempa.

"Oh…aku penasaran, kenapa rambutnya di cat aneh begitu," Komentar Taufan.

"Ah…bukan, itu rambut aslinya. Adu du itu bukan orang asli Negara ini," Jelas Gempa sambil berusaha untuk menahan tawanya.

"Oh…gitu ya. Ternyata sekolah ini lebih anti-mainstream dari yang aku bayangkan yah…" Gumam Taufan sambil tersenyum sweatdrop.

"Hey, itu…Kak Halilintar kan?" Ucap Gempa tiba-tiba.

Taufan memfokuskan penglihatannya, dan benar saja, Halilintar tampak sedang berada di depan kelas II-C. Tubuh Halilintar setengah membungkuk, dengan kedua tangan yang menumpu di kedua lututnya.

"Kak Halilintar darimana saja? Kenapa keringatan begitu?" Tanya Gempa setelah berhasil menghampiri kakak tertuanya yang tampak sangat kelelahan tersebut.

"Ah…bukan apa-apa. Kenapa kalian tidak masuk?" Tanya balik Halilintar setelah berhasil menetralkan jantungnya.

"Yang bertanya itu harusnya kami, Kak Hali," Sahut Taufan sweatdrop.

"O iya, tadi kami bertemu dengan Adu du. Katanya latihan karate akan dipending sampai minggu depan karena pelatih sedang ada urusan," Ucap Gempa.

"Begitu yah…baguslah…artinya aku lebih banyak waktu di rumah…" Desah Halilintar.

"Memangnya kenapa?" Tanya Taufan.

"Bukan apa-apa. O iya, Taufan," Halilintar menghela napasnya sebelum melanjutkan, "Terkejutnya jangan sampai berlebihan ya," Halilintar memasang senyum tipis (yang berhasil membuat Gempa dan Taufan merinding disko) sebelum akhirnya berjalan memasuki kelasnya yang agak gaduh karena guru memang belum masuk untuk mengajar.

"Apa maksudnya…?" Gumam Taufan sambil menggaruk tengkuknya bingung.

"Mungkin memang ada yang salah dengan Kak Halilintar," Ucap Gempa sambil mengangkat bahu kemudian berjalan memasuki kelas II-A, di susul Taufan yang juga ikut memasuki kelas II-B.

~Twisted~

"Taufan, kau darimana? Tadi Cikgu Papa mencarimu," Sambut seorang gadis Cina berkacamata begitu melihat salah satu dari kembar Boboiboy yang sudah berjalan menuju tempat duduknya.

"Cikgu Papa? Apa maunya? Aku bahkan tidak ingat pernah mengganggunya…" Gumam Taufan tak acuh.

"Sebenarnya bukan itu sih…" Ying agak bingung karena tidak biasanya kembaran Boboiboy yang paling ceria tersebut tampak lesu seperti belum makan selama lebih dari satu dekade.

Pintu kelas II-B terbuka dengan keras, membuat pandangan seluruh penghuni kelas-termasuk Taufan-tertuju ke arah pintu.

Dan panjang umur

Tampak Cikgu Papa sedang berdiri gagah di ambang pintu, jubah berkibar, dagu terangkat angkuh, wajah serius, dan entah kenapa juga tiba-tiba muncul backsound khas Papa Zola yang menggema di seluruh kelas.

Oke, itu sudah terlalu lebay

"Ada apa…Cikgu?" Ying memberanikan diri bertanya.

"Ah, apa Boboiboy Taufan sudah disini?" Tanya Cikgu Papa.

"Ada apa, Cikgu? Ada perlu sesuatu dengan ku?" Taufan dengan santai berjalan ke arah wali kelasnya.

"BENAR! PAPA SUDAH MENCARIMU SEJAK TADI, DASAR ANAK BANDEL! SEKARANG, PAPA AKAN MEMBERIKANMU MANDAT UNTUK MENJAGA PENGHUNI BARU KELAS INI! APA KAU MENGERTI?!"

Dengan segenap kekuatannya, Cikgu Papa berteriak dengan suara yang bahkan mengalahkan pengeras suara milik penjual es krim keliling langganan author(?).

"Iya,iya! Tapi kenapa harus aku?" Tanya Taufan yang bersyukur karena sempat menutup telinganya, karena kalo tidak, entah apa yang akan terjadi pada telinganya tersebut.

"Karena ini adalah perintah. Tapi jangan khawatir, karena kakakmu, Boboiboy Halilintar juga mendapatkan perintah yang sama," Jawab Cikgu Papa santai seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kenapa bisa pak tua nyentrik ini bisa diterima menjadi guru disini, sih?!" Batin Taufan jengkel.

"Jadi…dimana murid baru itu?" Tanya Taufan.

"Dia menunggu di luar. Katanya dia tidak mau masuk," Jelas Cikgu Papa.

"Dan kenapa dia tidak mau?" Tanya Taufan lagi.

"MANA PAPA TAU?! KENAPA TIDAK KAU YANG KELUAR DAN TANYA PADANYA SENDIRI DARIPADA HANYA MELONGO DISINI, HAH?!"

Sekali lagi Cikgu Papa berteriak gaje yang hampir membuat capslock Author jebol mendadak.

"Uh…iya,iya…aku pergi ah!" Taufan yang sudah mulai merasa kepalanya berdengung pun memutuskan untuk cepat-cepat keluar dari kelasnya sebelum telinganya benar-benar terkena congek mendadak.

~Twisted~

"Duh…Cikgu kenapa sih…kenapa juga harus aku yang bertanggung jawab? Aku juga belum sampai tiga bulan bersekolah disini…" Taufan menggerutu sebentar kemudian langkah kakinya terhenti ketika melihat seorang pemuda berjaket biru laut sedang menyandarkan tubuhnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.

Karena hoddie yang menutupi kepalanya, Taufan masih tidak bisa melihat jelas wajah dari pemuda yang sepertinya adalah murid baru dikelasnya tersebut.

"Emm…halo…?" Taufan dengan ragu berjalan mendekati pemuda yang tampaknya mencurigakan tersebut.

"Aku…Taufan, apa kau murid pindahan yang akan masuk ke kelas B?" Tanya Taufan hati-hati.

"Ah…" Pemuda berhoddie biru laut tersebut berpindah posisi menghadap Taufan, sehingga pemuda bertopi biru tua tersebut sudah bisa melihat jelas wajah dari murid pindahan yang menjadi tanggung jawabnya.

"…"

"..."

Taufan cengo, tidak tau mau berkata apa karena pemuda yang saat ini berdiri berhadapan dengannya memiliki wajah yang nyaris sama dengannya.

"Hwaaa! S-siapa kau?! J-jangan-jangan Doppleganger ya?!" Taufan dengan sigap langsung melompat 2 meter kebelakang dengan gaya ala kucing kesiram air.

"Hai, Kak Taufan. Mungkin ini pertama kalinya kakak bertemu denganku jadi seharusnya aku memperkenalkan diri kan?" Pemuda yang berwajah sama dengan Taufan namun tampak sedikit lebih muda tersebut bersuara dengan datarnya.

"H-hah?! Kau siapa sih sebenarnya? Seingatku…aku hanya punya dua saudara kembar…" Tanya Taufan masih belum berpindah dari posisinya.

"Ice,"

Satu kata yang keluar dari mulut pemuda itu, berhasil membuat Taufan melongo.

"Tunggu…apa?" Taufan merasa sepertinya teriakan 18 oktaf Cikgu Papa sudah mulai berefek pada telinganya.

"Namaku Ice. Boboiboy Ice, adikmu yang hmm…setahun lebih muda darimu, ku rasa," Jelas pemuda berhoddie biru laut bernama Boboiboy Ice tersebut.

"Adik? Tapi orang tuaku tidak pernah bercerita tentang adik," Ucap Taufan mulai tenang.

"Aku tidak tau kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah bercerita. Tapi mereka sudah pernah bercerita pada kami tentang kalian bertiga," Jelas Ice.

"Aku penasaran kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah bercerita…tunggu dulu, apa maksudmu 'kami'?" Tanya Taufan lagi.

"Itu karena aku juga punya satu orang saudara kembar, Kak Taufan," Jelas Ice tanpa sedikit pun mengganti ekspresi wajahnya yang datar dan terkesan malas tersebut.

"Oke…aku mulai merasa takut. O iya, kalian sudah bertemu dengan Gempa dan Kak Hali?" Tanya Taufan untuk yang kesekian kalinya.

"Kami baru bertemu dengan Kak Halilintar, tapi Kak Gempa belum. Dan kakak kembarku juga ada disini, dia sekelas dengan Kak Halilintar," Jelas Ice.

"Baiklah…terima kasih karena sudah menjelaskan. B-bagaimana jika kau masuk dulu ke kelas? M-mungkin…kau akan mendapat sambutan yang cukup meriah nanti…tapi tak masalah kan?" Usul Taufan berusaha untuk kembali memasang senyumnya, teringat akan pertama kali dirinya masuk ke sekolah yang juga mendapat 'sambutan' yang cukup heboh.

"Un. Baiklah," Ucap Ice sambil mengangguk kecil kemudian berjalan mengikuti kakaknya yang saat ini pikirannya masih berlari kesana-kemari karena kejutan tak terduga yang dialaminya saat ini.

~Twisted~

Lonceng tanda pulang telah berbunyi, yang secara ajaib berhasil membangkitkan semangat para murid sekolah yang daritadi berusaha untuk tetap siuman karena pelajaran sekolah yang tipical membosankan bagi mereka.

Boboiboy Gempa merapikan barang-barangnya kemudian memasukkannya ke dalam tas. Sebenarnya Gempa juga merasa super mengantuk apalagi jam terakhir di kelasnya adalah pelajaran Ips yang selalu menjadi obat tidur yang pas bagi orang insomnia sekalipun.

Tapi karena Gempa harus menjaga image nya sebagai ketua OSIS dan murid teladan di sekolah, makanya Gempa dengan sempurna bisa berakting seolah-olah dirinya sama sekali tidak terpengaruh dengan cara mengajar gurunya yang bahkan jauh lebih membosan daripada menghitung domba.

"Hmm…aku masih penasaran dengan apa yang dimaksud Kak Halilintar tadi…apa Kak Taufan baik-baik saja…?" Gumam Gempa pada dirinya sendiri di tengah perjalanan mencari kedua saudara kembarnya-yang tidak ditemukannya di dalam kelas mereka.

~Twisted~

"Kak Halilintar? Apa itu kakak?" Gempa setengah berteriak begitu melihat seorang pemuda berjaket merah-hitam yang sedang duduk di salah satu bangku halaman sekolah.

"Oh, Gempa. Aku baru saja mau menelepon mu untuk kesini," Sapa Halilintar sambil menguap.

"Kakak sedang apa disini? Dan dimana Kak Taufan?" Tanya Gempa sambil mendudukkan dirinya disamping kakak tertuanya.

"Pergi berjalan-jalan sebentar," Jawab Halilintar sekenanya.

"Hah?" Gempa memiringkan kepalanya tidak mengerti.

"Yoshaaa! Aku menang!"

Suara teriakan yang berasal dari taman sekolah yang tak jauh dari tempat mereka duduk terdengar, membuat Gempa tidak jadi kembali bertanya apa yang dimaksud kakak tertuanya tersebut.

"Hahaha! Aku menang! Kalian berdua payah!" Seru seorang pemuda berjaket orange-kemerahan sambil melompat-lompat kegirangan.

"Hah…apa-apaan sih? Lagipula tidak ada yang memberitauku kalo kita sedang balapan kesini…" Desah Taufan sambil menyeka keringat di pelipisnya.

"Kak Blaze, tolong jangan ke-kanak-kanakkan deh," pemuda berhoddie biru laut, Boboiboy Ice berucap dengan datarnya.

"Hee? Kalian berdua nggak asik," Pemuda dengan hoddie bermotif mirip lava gunung berapi yang dipanggil Blaze hanya menggembungkan pipinya kemudian membuang muka.

"K-kak Halilintar…?"

"Iya,iya aku tau…akan aku jelaskan," Ucap Halilintar sambil memutar bola matanya karena reaksi dari adik bungsunya ini tepat sesuai dugaannya.

~Twisted~

"Tunggu, jadi…kalian berdua adalah adikku?" Gempa menarik kesimpulan setelah mendengar penjelasan singkat Halilintar.

"Permisi? Maksudmu kami, kan?" Taufan membenarkan, tapi tidak digubris oleh keempat saudaranya yang lain.

"Begitulah, aku Blaze dan ini adik kembarku, Ice," Blaze memasang cengiran lebar sambil memperkenalkan dirinya serta saudara kembarnya.

"Hmm, betul,betul,betul…" Gumam Ice sambil menguap untuk yang kesekian kalinya.

"Oke…sekarang aku benar-benar terkejut," Ucap Gempa yang saking terkejutnya tidak tau mau berkomentar apa.

"Sudahlah, Kak Gempa. Lagipula, kita sudah bertemu kok," Ucap Blaze masih setia dengan cengirannya.

"Hah? Bertemu? Dimana?" Tanya Gempa bingung. Seingatnya, orang yang memiliki paras serupa yang pernah bertatap muka dengannya hanyalah Taufan dan Halilintar saja.

"Ternyata kau tidak ingat ya…" Blaze menghela napas sebelum kembali memasang cengiran yang lebih lebar, "Padahal aku mau berterima kasih karena sudah mengajariku bermain crane dan memberikanku cokelat…"

Iris mata Gempa langsung melebar mendengar penuturan adik (Gempa masih tidak percaya bahwa ternyata dirinya ternyata memiliki adik)nya tersebut.

"T-tunggu…jadi BAZ itu…kau…?" Tanya Gempa tak percaya.

"Yep, BlAZe. Senang bisa bertemu denganmu lagi, GMA~" Balas Blaze sambil tertawa kecil.

"Ternyata kau sudah tau yah…kenapa tidak bilang?" Desah Gempa.

"Karena…aku tidak mau membuat kakak terkejut. Ku pikir lebih baik aku membuat kakak terkejut di sekolah saja bersama Kak Halilin dan Kak Taufan," Jawab Blaze.

"Pffftt…Halilin…" Taufan berusaha keras untuk tidak mengeluarkan tawanya karena dirinya masih sayang nyawa.

"Oke…sekarang sudah cukup sore. Dan hoaamm..aku mengantuk…" Ice angkat bicara sambil mengucek-ngucek matanya yang setengah tertutup.

"Baiklah, baiklah…ayo kita pulang. Si Ejo jo sudah lumutan menunggu di depan," Tukas Halilintar sambil memutar bola matanya.

"Oki doki! Ayo balapan ke gerbang sekolah!" Setelah berteriak, Blaze langsung tancap gas menuju halaman sekolah.

"Hey! Kau melakukannya lagi!" Dan di susul dengan teriakan protes dari Taufan yang berusaha mengejar adik keduanya tersebut.

"Ayo, Ice…ku rasa kau tidak akan mampu berjalan sendiri," Gempa-yang mencoba berperan menjadi kakak yang baik, Gempa pun meraih pergelangan tangan Ice yang sudah setengah tertidur kemudian berjalan menyusul dua saudaranya yang sudah lebih dulu menuju gerbang sekolah.

"Oh…bagus sekali…sepertinya aku harus membeli obat sakit kepala mulai sekarang," Desah Halilintar sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya beranjak dari kursi taman karena dirinya ditinggal oleh keempat adiknya.

Dan begitulah, sepertinya hari-hari Halilintar yang dulunya hanya selalu ditemani adik Otaku nya yang pintar berakting tersebut kini sudah dipenuhi lebih banyak lagi masalah yang akan dihadapi di waktu berikutnya.

Dan itu berhasil membuat Halilintar menelan ludahnya, karena tidak yakin stok kesabarannya bisa bertahan selama itu.

T

B

C

YOSHAAA! Akhirnya Blaze dan Ice muncul! Saya senang bisa memunculkan kedua makhluk ini karena kalo hanya bertiga entah kenapa…terasa agak…mmm…kurang rame mungkin ya…

Halilintar: Bagus sekali… *Memutar bola mata*

Author: Hali-chan~! Sudah siap untuk tantangan di chapter berikutnya~? *wink!*

Halilintar: Kau menakutiku! Dan kau yakin aku benar-benar bisa baik-baik saja ditambah lagi kedua makhluk itu muncul?!

Author: Aww…pasti. Lagipula, mereka adik-adikmu. What could go wrong? *tertawa hambar*

Halilintar: Duh…sampai kapan aku akan di nistakan begini sih…? *mengurut pelipis*

Author: Oke…Halilintar mulai dramatis. Baiklah, readers-tachi~! Maafkan kemunculan Blaze dan Ice yang agak gaje ya, dan maaf juga karena updatenya telat lagi…itu karena lappy milik author mengalami kendala selama seminggu lebih *pundung* anyway, see you next time~!

Review Please~